The Promised Neverland © Kaiu Shirai. Ilustrasi © Posuka Demizu. Penulis tidak mengambil keuntungan finansial apapun dari karya transformatif ini
The Death of The Fireflies © aria-cheros (arianadez dan psycheros)
[Bab 1]
.
.
Hal pertama yang selalu dilakukan Norman setelah bangun tidur adalah mencari bantalnya.
Meskipun sehari-hari ia anak yang tidak banyak tingkah, tidur Norman usil luar biasa. Setiap malam ia berangkat tidur dengan tubuh terlipat rapi di bawah selimut, piyama hangat licin habis disetrika, dan bantal empuk tepat di bawah kepala. Tapi saat terbangun selimutnya pasti sudah tersingkap entah ke mana, piyamanya menggulung kusut, dan wajahnya menempel langsung ke seprai kasur hingga timbul jejak-jejak keliman kain di pipinya.
Norman menghela napas jengkel sembari meraih bantal yang pagi ini jatuh ke kolong ranjang. Padahal usianya sudah hampir dua belas tahun. Harusnya ia bisa tidur lebih anteng.
Sambil menepuk-nepuk sisi bantal agar kembali mengembang, Norman duduk bersandar ke kepala ranjang. Jam meja antik berbentuk istana Rusia dalam bola kaca di nakasnya menunjukkan pukul setengah enam pagi. Terlalu dini untuk turun sarapan, tapi terlalu siang untuk kembali lelap.
Di balik atap kaca berbentuk peta dunia, sumber cahaya luar bagi kamar Norman yang tak berjendela, langit masih biru keunguan. Masih beberapa jam sebelum terik musim panas mengubah warna sejuk itu menjadi biru muda cerah, sekaligus menerangi kamar Norman dengan cahaya putih berkilauan bagaikan sinar matahari menembus permukaan air.
Ah, musim panas. Tak terasa ia akhirnya tiba lagi. Ini akan menjadi musim panas kelima semenjak Ayshe pergi, dan Norman belum juga mendengar kabar dari sahabat lamanya itu seolah Ayshe memang sengaja lenyap menembus kerak bumi.
Mengedarkan pandang ke sekeliling kamarnya, masih saja terlalu besar untuk dihuni sendirian meskipun Norman sudah hampir remaja, mata bocah itu mendarat pada sebuah stoples berukuran sedang yang berdiri tegak di deret atas rak buku, tabah dihimpit buku-buku sambil terus mengoleksi debu.
Norman bergeser turun dari ranjang, menggeret kursi belajar ke samping rak (satu lagi yang menjengkelkan: usianya hampir dua belas, tapi Norman masih saja semungil anak sekolah dasar!), dan dengan hati-hati menurunkan stoples itu dari tempatnya mati suri bertahun-tahun.
Tabung kaca itu masih sama seperti terakhir kali Norman menggunakannya. Diameter sepuluh senti, tinggi dua puluh lima, dengan dinding kaca tebal yang berbunyi tumpul jika diketuk, serta tutup metal ringan kekuningan. Batu-batu sungai berukuran kecil, berpermukaan halus, dengan bermacam-macam warna, memenuhi dasar stoples itu seperti tepi sungai buatan, dengan sedikit pasir untuk mempernyata suasana. Dulu Norman juga mengisinya dengan rumput-rumput segar, tapi kini rerumputan itu telah mengering dan menggumpal di dasar seperti sarang burung yang telah ditinggalkan.
Ditinggalkan, sebagaimana Norman ditinggalkan Ayshe.
Jarum detik berdetak keras di kamar sunyi. Jarum menit bergeser ke menit selanjutnya. Pukul enam lebih lima. Norman duduk bersila di bawah atap kaca, membiarkan cahaya lembut mentari pagi membentuk pola-pola di permukaan kulitnya sementara pikirannya mengawang menyusuri jejak nostalgia.
Saat mengenang Ayshe, Norman pertama-tama akan pada teringat bulu matanya. Bulu mata tebal putih seperti bulu halus pada sayap ngengat, tampak kontras pada kulitnya yang sewarna kayu berpelitur. Kemudian Norman merekonstruksi wajahnya, telah mengabur dimakan waktu kecuali pada bagian-bagian paling menonjol: dagu runcing dan bibir kecil pelit senyum, mata kelabu, kepang keperakan menutupi separuh wajah.
Norman berusaha mengingat detail kepangan itu tapi tak pernah bisa. Lalu, setelah otaknya kelelahan mengeduk memori yang tak lagi ada, dengan terburu-buru ia pun menyusun sosok Ayshe seutuhnya: seorang bocah enam tahun dalam gaun putih tanpa lengan dan sandal tali dengan hiasan bunga matahari. Tak ada detail lain. Norman bahkan tidak lagi ingat bagaimana suaranya.
"Norman."
Namun Norman masih ingat bagaimana cara gadis kecil itu menyebut namanya. Atau mungkin itu bukan ingatan, melainkan mimpi yang tercampur dengan kenyataan. Sebab Ayshe begitu sering menghampiri Norman dalam mimpi-mimpi belakangan, memanggil nama Norman seakan memastikan ia belum lupa, terutama setelah Norman mulai akrab dengan Ray dan Emma.
Apa, Ayshe? Apakah ini pertanda kau cemburu pada teman-teman baruku? Ataukah ini hanya karena aku merindukanmu, sahabat lamaku yang tak tergantikan oleh teman-teman baru?
Norman memeluk stoples kaca dalam pangkuannya erat-erat. Stoples itu pernah menjadi rumah bagi kunang-kunang hasil tangkapan Ayshe, kunang-kunang yang mereka dijanjikan mereka berdua akan dirawat bersama.
Kecuali bahwa mereka tidak pernah sempat memelihara kunang-kunang itu berdua. Tiba-tiba saja Ayshe dan ayahnya harus pergi entah ke mana, tanpa janji kelingking untuk saling bersua dan alamat surat untuk bertukar cerita. Tinggal Norman harap-harap cemas menunggu surat dari Ayshe, musim demi musim, usia demi usia; tapi anak perempuan itu tak pernah menulis. Mungkin Ayshe tidak suka menulis. Mungkin Ayshe juga tidak tahu alamat Norman.
Mungkin, sama seperti Norman, Ayshe akhirnya menemukan teman baru.
Ketukan lembut di pintu menjagakan Norman dari lamunan. Ia bangkit cepat-cepat, merapikan rambut bangun tidurnya yang semrawut seperti habis dijilat sapi, dan meraih jubah tidur dari sampiran mantel untuk menutupi piyama kucelnya. Setelah yakin penampilannya kurang lebih layak, ia berdeham.
"Masuk."
Sebagaimana setiap pagi, Vincent sang butler keluarga menyusup dari celah pintu terbuka, telah rapi dalam jas hitam dan dasi sempurna.
"Selamat pagi, Tuan Muda. Sarapan sudah siap. Tuan Besar akan bergabung dengan Tuan Muda pagi ini." Pria botak berkacamata itu menyampaikan hormat dengan satu tangan di dada.
Ah, jadi Ayah sudah pulang.
Sekonyong-konyong perut Norman terasa geli-geli ringan, membuatnya tersenyum kecil. Apapun masalah Norman, kepulangan sang ayah selalu mencerahkan hatinya. Ayahnya memiliki sihir seperti itu.
"Terima kasih, Vincent. Aku akan segera turun."
Vincent mengangguk paham dan menutup pintu. Jam meja berdetik, kubah-kubah istana Rusia dalam bola kaca berwarna-warni seperti permen. Pukul setengah tujuh. Norman bergegas ke kamar mandi, mencuci muka; sejenak melupakan mimpi masa kecil dan sahabat yang hilang dalam ketergesaaan untuk bertemu dengan ayahnya.
.
.
Aroma manis selai jeruk, roti, dan mentega menyambut Norman saat memasuki ruang makan. Ruang itu adalah satu dari sedikit spasi terbuka di kediaman reklusif keluarga Ratri; dengan pintu-pintu kaca besar yang selalu dijemblang untuk memasukkan angin segar dari taman dan gorden putih tipis melambai-lambai seperti selendang bidadari.
Tentu saja, karena begitu terang lagi sejuk, ruangan itu menjadi ruang kedua favorit Norman setelah perpustakaan, di mana Ayah kerap membacakannya dongeng sambil memangkunya. Tapi pagi ini ruang makan menjadi lebih-lebih istimewa sebab orang kesayangan Norman itu telah duduk di salah satu kursi mahoni, menunggu kehadiran Norman sembari membaca koran.
"Ayah!"
"Norman."
James Ratri melipat kembali koran paginya demi membentangkan lengan menyambut sang putra. Norman berlari dari ambang pintu, langsung merangsek ke dalam dekapan sang ayah, mendadak senang tubuhnya masih cukup mungil untuk bersikap demikian. Harum parfum James melingkupinya, campuran segar sitrus dan hangat kesturi.
"Ayah, aku kangen," gumam Norman, meremas kemeja putih sang ayah dalam genggaman. Bocah itu mengulum senyum. Tepat benar ia memilih setelan pelaut putih dengan pita biru di dada. James juga mengenakan setelan serba putih dengan rompi biru muda, sehingga mereka berdua tampil kompak sebagaimana ayah-anak seharusnya.
"Hmm, cukup lama kita tidak bertemu, ya?" James mengecup dahi Norman lalu menyentil hidungnya hingga bocah itu mengerjap geli. "Dua minggu, eh? Dan kau sepertinya bertambah tinggi saja."
"Dua minggu lebih tiga hari, Ayah. Dan aku cuma bertambah tinggi setengah senti," Norman mengungkapkan yang terakhir sambil tertawa, melawan fakta bahwa dirinya terus menerus mengukur tingginya tiap hari, bahkan mempertanyakan ketepatan skala alat pengukurnya.
James tersenyum lembut, mencubit pipinya. "Jangan khawatir. Nanti kau juga akan mengalami lonjakan pertumbuhan. Semua ada waktunya. Dulu, sampai usia tiga belas, Ayah lebih pendek dari pamanmu."
"Sungguh?"
"Mmm. Kemudian Ayah menyalipnya setelah ulangtahun kelima belas. Ayah bertambah tinggi delapan belas senti dalam satu libur musim panas! Oh, nenekmu sampai sangat marah. Ia menyuruh Ayah berhenti tumbuh sebelum berubah menjadi jerapah."
Membayangkan James berubah menjadi jerapah, lehernya memanjang dari kerah bertajinnya, terus dan terus sampai menembus langit-langit, lalu nyengir nakal pada Nenek yang mengomel karena harus menjahitkannya baju baru lagi; membuat Norman tergelak-gelak.
"Ayah bisa saja."
"Nenekmu yang bisa saja," James membalas, matanya berkilau jahil. "Tapi kalau Ayah, sih, tidak keberatan kalau tumbuh setinggi jerapah. Ayah jadi bisa mengawasi seluruh kota dengan mudah, kan?"
Norman tersenyum. "Mmm. Pekerjaan Ayah tentu akan jauh lebih mudah." Dan Ayah tidak perlu terlalu sering meninggalkan rumah.
Barbara datang mendorong kereta berisi set peralatan minum teh. Norman, mendudukkan diri di kursi sebelah kanan ayahnya, seperti biasa, dan mengambil sepotong roti fermentasi beroles mentega ke piringnya. Barbara menuang English Breakfast ke cangkir James.
Kericik lembut air panas menerpa dasar cangkir mengundang rasa damai, aroma lembut teh bercampur perasan jeruk nipis menggelitik hidung. Norman tersenyum. Pada saat-saat seperti ini, rumahnya sungguh-sungguh terasa seperti rumah.
Sarapan berlangsung harmonis. Norman dan James saling bertukar cerita remeh. Seringkali mereka bergurau sampai terkekeh-kekeh.
"Bangun tidur tadi, bantalku sudah tidak ada di atas kasur. Ternyata jatuh ke kolong. Tidurku memang usil sekali."
"Oh ya? Pasti kamu mendapatkannya dari Ayah. Tidur Ayah dulu juga sangat usil. Saking usilnya, pernah Ayah bangun dan kasur Ayah sudah hilang!"
Norman tampak terkejut. "Eh, bagaimana bisa, Yah?"
"Ayah juga kaget. Tapi setelah Ayah cari-cari, ternyata kasurnya ada di bawah seprai."
Norman terbengong selama satu detik sebelum tertawa setengah jengkel setengah geli. "Ayaaaaaah! Ada-ada saja!"
Biasanya Norman tidak terlalu suka sarapan. Tidak seperti Emma dan Ray, yang—menurut cerita mereka—sarapan dengan menu-menu luar biasa seperti sereal "Froot Loops" (Norman pernah meminta Zazie membelinya saat belanja mingguan, yang berakhir dengan ledakan amarah Barbara saat mengetahui kandungan gula di dalam setiap takaran sajinya), Norman sarapan dengan menu sehat membosankan. Roti mentega. Oats dengan taburan kismis. Selai buah-buahan buatan sendiri. Menyantap sarapan seperti itu sendirian, kadang Norman merasa begitu kesepian.
Tapi saat ayahnya di rumah, bahkan oats hambar pun terasa lezat di lidah. Mungkin karena James membawa sejuta cerita yang menerbangkan imajinasi Norman berkeliling dunia. Mungkin karena James sering mengusap rambut Norman, mencubit pipinya, menciuminya hingga Norman merasa begitu berharga. Atau mungkin sesederhana bahwa sihir meja makan adalah menikmati hidangan bersama orang kesayanganmu, seperti kata Ray dan Emma.
Dan bicara soal mereka berdua ….
"Ayah, hari ini Emma dan Ray akan datang berkunjung," Norman melapor, sebelum James menegur Vincent karena membiarkan kawan-kawan Norman bertandang tanpa izin. "Boleh, 'kan, Yah?"
"Hm? Tentu saja boleh. Kenapa tidak?"
James hanya pernah bertemu Emma dan Ray dua kali. Pertama saat mereka menjenguk Norman yang sakit flu gara-gara kecapaian bermain seharian, ketika mereka baru saja saling berteman. Kedua saat perayaan Natal, setelah James menolak mentah-mentah permohonan Norman untuk bisa merayakannya di gereja desa bersama Ray, Emma, dan kawan-kawan mereka. Sebagai gantinya, James mengundang Ray dan Emma ke pesta pribadi di kediaman Ratri, lalu memberi masing-masing sebuah buku langka sebagai hadiah.
(Memang begitulah James—satu-satunya hadiah yang ia tahu adalah buku).
"Ayahmu baik sekali," ungkap Ray saat itu, mendekap erat-erat kado Natal-nya. James menghadiahinya buku serial Petualangan Ugo edisi bertanda tangan asli penulis, yang bagi Ray si kutu buku barangkali sama berharganya dengan berlian sebesar bola mata. "Yeah, meskipun kadang-kadang galak juga, sih."
Norman mengerjap. "Apa maksudmu, 'galak'?"
Emma menyikut Ray keras-keras. Mata Ray membulat panik seakan sadar telah mengucap hal tabu. Mereka berdua saling lirik, tampak sangat salah tingkah. Ray menggaruk belakang telinganya, kebiasaannya saat sedang merasa canggung.
"Um, tidak. Bukan apa-apa, kok," Ray menjawab buru-buru.
"Ray cuma asal ceplos saja, Norman. Ayahmu baik sekali, kok," Emma menambahkan. Ia mempertunjukkan sebuah buku tebal dengan sampul bertinta emas dan glitter ungu mewah. "Nih, mana ada ayah teman lain yang menghadiahiku Ensiklopedia Perempuan Terhebat Sepanjang Masa sekeren ini?"
Tapi Norman terlanjur tidak percaya. Ia terus menekan kedua temannya, hingga akhirnya bocah-bocah itu mengakui, dengan detail memalukan, bagaimana James mengundang mereka secara pribadi ke ruang kerjanya untuk ditegur—bahasa halus untuk dimarahi—karena telah membuat Norman:
(1) Sakit,
(2) Ingin keluar rumah walau James jelas-jelas melarangnya.
Norman merasa sangat malu sampai air matanya menetes. Untunglah Emma dan Ray memahami James, barangkali lebih daripada Norman yang saat itu rasanya sangat ingin berteriak kepada ayahnya untuk berhenti memperlakukannya seperti bayi.
"Hei, jangan diambil hati. Kami juga salah, kok; tidak mengindahkan peraturan di rumahmu. Semua keluarga mempunyai peraturannya sendiri-sendiri, dan kami harusnya menghargai itu," Ray mengelus-elus punggung Norman, "Seperti di rumahku juga. Emma akrab dengan amaku, tapi kalau sampai Emma berani mengajakku bolos, Mama pasti akan menjewer Emma sampai kupingnya memanjang seperti elf."
"Dan menjewer abangku juga!" Emma menyambung penuh semangat, seolah prospek Yuugo, abang sekaligus walinya, dijewer oleh Mama Ray adalah sesuatu yang patut ditunggu-tunggu.
"Dan menjewer abang Emma juga," Ray mengangguk setuju. Norman tertawa sambil terisak. Emma dan Ray memeluknya.
"Ayahmu melakukan itu karena dia sayang padamu," Emma berbisik, mengeratkan dekapan. "Dia tidak ingin terjadi hal buruk padamu. Benar begitu, bukan?"
Norman mengangguk, tak menemukan kata-kata untuk menyanggah sebaliknya.
Meskipun demikian, setelah peristiwa itu Norman berusaha mengatur waktu agar teman-temannya tidak perlu bertemu ayahnya lagi. James memang lembut dan penyayang, tapi ia bisa jadi sangar kalau dilawan. Emma dan Ray memang supel dan manis, tapi mereka tentu rikuh kalau bertemu lagi dengan James.
"Um, Ayah tidak akan menegur mereka di belakangku lagi, 'kan?" Norman bertanya hati-hati, "Kalau mau marah, marahi aku juga, Yah. Karena aku juga pasti ikut bersalah."
Mata James menghangat. Diusapnya rambut Norman, dipijat-pijatnya kulit kepala bocah itu lembut sampai Norman memejamkan mata, ingin bergelung dalam pangkuan ayahnya. "Ayah bukannya suka marah-marah, Norman. Ayah tidak akan marah kalau kalian tidak melanggar peraturan."
"Mmm."
"Peraturan itu Ayah buat untuk melindungimu. Melindungi kalian. Kamu tahu, 'kan?"
"Mmm."
"Kalian boleh bermain sepuas-puasnya. Berlarian di koridor sebebas-bebasnya. Hei, bahkan kalian boleh menggunting gambar dari buku-buku kalau mau—"
"Aku yang tidak mau, Ayah. Itu sangat tidak berbudaya." Norman cemberut, melipat kedua tangan di depan dada.
James terkekeh dan mencium dahinya. "Kau paham maksud Ayah. Kau boleh melakukan apa saja. Hanya ada dua peraturan—"
"Jaga kesehatanku, dan jangan pergi keluar rumah."
"Nah, ini baru putraku."
James menarik kedua pipi Norman dan menguyel-uyelnya gemas seperti kue mochi. Norman mengeluarkan suara komplain, walaupun sambil tertawa.
Ya, tentu saja Norman tahu bahwa James begitu menyayanginya. Tentu saja Norman tahu bahwa kasih sayang itu murni lagi nyata, bahwa sikap protektif James bukan sekadar obsesi tanpa landas logika. Norman sangat mengerti. James membangun rumah bagai istana ini untuk Norman seorang, mengabulkan padanya segala permintaan agar ia bahagia meski tidak melihat dunia luar.
Lebih dari siapapun, Norman memahami.
Hanya saja, jauh dalam lubuk hati, Norman masih bermimpi dapat terbebas dari sangkar emas ini barang hanya sekali.
.
.
"Aku akan lempar bolanya sekarang, oke?"
"Oke!"
"Siap-siap, ya. Perhatikan baik-baik, jangan malah kena mukamu lagi!"
"Aku tahuuu, Ayshe. Cepat lempar saja!"
Ayshe melemparkan bola merah jambunya ke udara lalu memukulnya keras-keras. Benda plastik itu melesat cepat ke arah Norman, terlalu cepat dari perkiraan. Masih trauma gara-gara mimisan setelah terhantam bola hari sebelumnya, bocah lelaki itu refleks menghindar sambil melindungi kepala.
"Uwaah!"
Bola itu terus meluncur sebelum akhirnya menabrak tanaman pagar tinggi di tepian halaman, kemudian menghilang di balik hijau dedaunan. Ayshe cemberut, berkacak pinggang.
"Aduh, Norman. Kau ini bagaimana, sih?"
"Ma—maaf!" Norman mengangkat kepala, mata berkaca-kaca dan bibir bergetar. Norman memang tidak jago permainan fisik seperti ini. "Jangan marah, Aysheee!"
Ayshe mendengkus arogan seperti putri kecil manja, tapi toh menghampiri sahabatnya dan menggandengnya berdiri. "Aku tidak marah. Ayo, temani aku ambil bolanya."
Bergandengan tangan, kedua anak itu berjalan melintasi halaman yang terasa bagai separuh dunia bagi kaki-kaki pendek mereka. Rumput Jepang berkerisik di bawah sepatu, ujung-ujung runcing daunnya menusuk-nusuk mata kaki. Di tengah perjalanan, Norman sempat berhenti di bak bunga, memetik setangkai aster kuning yang mekar penuh dan memasangkannya ke telinga Ayshe.
"Mirip sandalmu, 'kan?" Norman menunjuk hiasan bunga di sandal Ayshe, "sekarang penampilanmu jadi makin serasi."
Gadis cilik itu merengut. "Beda, tahuuu. Ini bunga aster. Yang di sandalku ini bunga matahari."
"O—oh …."
"Tapi tidak apa-apa, warnanya sama-sama kuning." Ayshe mengibaskan tangan sebelum Norman menangis lagi. Ia berjongkok, memetik bunga corn dengan mahkota biru lebat lalu gantian menyelipkannya ke rambut Norman, tepat di jepit rambut yang menahan keriwilnya. "Ini untukmu. Serasi dengan matamu, 'kan?"
Mereka berdua cekikikan.
Bola Ayshe rupanya menggelinding ke area rerumputan lembab, terlalu tersembunyi di bawah lebat tanaman pagar hingga tak pernah terkena sinar matahari. Ayshe mengernyit jijik melihat bolanya berlumur lumpur dan rumput busuk. Teringat ajaran ayahnya untuk menjadi seorang gentleman, Norman menawarkan diri untuk merayap mengambilnya, berusaha tidak mengernyit atau membayangkan omelan Barbara ketika rumput busuk dingin membasahi kaus putihnya.
Susah payah, dengan bantuan ranting pohon, Norman akhirnya berhasil meraih bola itu. Namun, sesuatu segera mencuri perhatiannya, sesuatu yang membuatnya lupa akan bola, Ayshe, bahkan lumpur yang menodai bajunya.
"Norman, ada apa?" Ayshe bertanya cemas, berjongkok di sisinya.
"Ayshe, lihat."
Norman bergeser sedikit agar Ayshe dapat mengintip apa yang ditemukannya: sebuah celah di antara rungkut daun tanaman pagar, berbentuk lingkaran seukuran anak kecil. Dari celah itu, Norman dapat melihat sedikit dunia luar: pohon pinus yang selama ini hanya terlihat pucuknya saja, jalan bertegel yang barangkali mengelilingi kediamannya, dan bahkan, jika Norman menjulurkan kepala sedikit, susunan bata yang tampaknya adalah permulaan dari sebuah jembatan.
Norman merayap makin dalam, mendekati celah itu seperti terhipnotis, tapi Ayshe mencengkeram kakinya.
"Normn, kau tidak boleh keluar," desis Ayshe memperingatkan.
"Aku tidak keluar, kok. Cuma mau mengintip sedikit."
"Bohong. Bibirmu berkedut kalau sedang bohong, tahu."
Norman refleks mengusap bibir, sebelum menyadari bahwa itu adalah trik Ayshe untuk menjebaknya. Ia merengut. "Tidak apa-apa, 'kan? Cuma sebentar saja."
"Ayahmu bilang tidak ya tidak. Kau mau jadi anak bandel yang melawan orangtua?"
Rasa kesal sekonyong-konyong membludak dari dada Norman.
"Sedikit saja, Ayshe, memang kenapa sih?" Norman bersungut-sungut, "Kau sih enak, sudah pernah keluar dari rumah ini. Aku belum pernah sama sekali. Aku juga ingin tahu ada apa di luar sana!"
"Nanti ayahmu marah."
"Tidak akan ketahuan, kok. Makanya kau diam saja!"
Mengibas lepas kakinya dari cengkeraman Ayshe, Norman merayap cepat menuju celah itu. Daun dan ranting di sekelilingnya berkeresak berisik, tapi Norman hampir tidak mendengar mereka di antara degup jantungnya sendiri.
Sedikit lagi. Satu tangan Norman telah menapak jalan bertegel, sikunya tergesek perih pada permukan kasarnya. Sedikit lagi. Norman menyeret tubuhnya, kepalanya keluar dari rimbunan daun. Udara dunia luar, begitu segar dan baru, menerpa wajahnya seperti hujan pertama di awal tahun. Sedikit lagi—
Suara gonggongan beringas melonjakkan jantung Norman ke tenggorokan. Norman menoleh ke arah sumber suara, tubuhnya nyaris lemas seketika melihat segerombolan anjing hitam ganas berlari menujunya, gigi mereka tajam berkilauan bahkan dari jarak cukup jauh. Panik, Norman berusaha mundur kembali ke halaman aman di balik pagar, mengerahkan seluruh kemampuan tubuhnya untuk bergerak—
"Oww!"
-dan tak sengaja ia menendang wajah Ayshe yang masih membungkuk di sampingnya. Keras. Gadis kecil itu jatuh terduduk, tersedu-sedu, memegangi bibir atasnya yang berdarah.
Sore itu James memarahi Norman habis-habisan. Bukan saja Norman nyaris melanggar peraturan, tapi ia juga melukai Ayshe. Norman hanya bisa menangis menggerung-gerung, berguling-guling di lantai, mengamuk hebat selayaknya seorang bocah menanggapi peraturan yang memangkas kebebasannya.
"Ini semua demi kebaikanmu, Norman. Dengarkan kata Ayah."
"Tidak mau! Aku tidak suka! Aku benci Ayah! Ayah tidak sayang Norman! Ayah jahat! Ayah jahat!"
.
.
"Oi, Norman!"
Norman mengerjap kaget, menoleh pada Ray yang barusan mengguncang bahunya. "E—eh? Ada apa?"
Ray, kening sudah menekuk berlapis-lapis seperti tumpukan panekuk, mendengkus tak sabar. Entah sejak kapan ia telah berhenti membaca Serial Petualangan Ugo terbarunya. Kini buku itu tergeletak terlupakan di rerumputan, sementara si empunya duduk bersila mengawasi Norman seolah Norman adalah spesies serangga terbaru. "Akhirnya sadar juga. Dari tadi kau bengong terus sambil menatap ke arah hutan, tahu."
"Ma—masa?" Pipi Norman memerah, agak malu ketahuan melamun. Ia membetulkan posisinya bersandar pada pohon elm seolah itu akan menyelamatkan harga dirinya.
"Yeah. Sambil sedikit-sedikit mendesah panjang seperti putri malang dalam kesulitan. Kupanggil sampai lima kali tidak menyahut."
"Masa, sih? Tidak begitu, ah!" Pipi Norman makin merona sampai menjalar ke kuping.
"Serius! Aku sampai khawatir kau kena serangan panas atau apa."
"Eh, apa? Siapa yang kena serangan panas?" Tiba-tiba saja Emma menimbrung, menggelayut dengan kepala di bawah dari dahan pohon.
Ray menimpuk dahi gadis kecil itu dengan ujung buku, "Turun! Gelayutan seperti itu bahaya, tahu. Kalau jatuh nanti kau tambah bego," tegurnya, kerutan di dahinya semakin dalam.
Emma cemberut, tapi dia toh menuruti perintah sahabatnya. Dengan satu gerakan lincah macam anak kucing, ia mengayunkan tubuh lalu mendarat ringan di samping Norman lalu meletakkan punggung tangannya di dahi bocah lelaki itu. "Kau kepanasan, Norman? Apa kita perlu kembali ke rumah?"
Norman terkekeh kecil. Belum genap setahun mengenal Norman, Emma dan Ray sudah mengadaptasi sikap khawatir berlebihan ayahnya dan para pelayan. "Tidak kok, Emma. Aku baik-baik saja. Sini, duduklah."
Norman bergeser untuk memberi Emma tempat duduk, tapi gadis kecil itu malah dengan santainya merebahkan diri di pangkuan Norman. Belum terbiasa dengan bahasa pertemanan Emma yang sangat mengandalkan kontak fisik, Norman sebenarnya sedikit jengah. Namun ia berusaha menyesuaikan diri. Dibelainya rambut jingga terang Emma, disisirnya poni untuk mengekspos dahinya.
"Lantas, kalian tadi ngobrol apa?" Emma masih saja penasaran.
Ray mengangkat bahu. "Bukan apa-apa. Norman tadi bengong, jadi aku berusaha menyadarkannya."
Emma menatap Norman dalam-dalam. Bayang-bayang dedaunan jatuh ke wajah manisnya, membentuk bercak-bercak seperti kamuflase pasukan tentara khusus. "Kenapa bengong? Apa yang sedang kau pikirkan?"
Norman tertawa canggung. "Aku tidak memikirkan apa-apa, Emma."
"Bohong! Bibirmu berkedut kalau sedang berbohong, tahu," Emma menukas, dan untuk sekilas yang mengejutkan, Norman seolah kembali ke masa lalu, mendengar kata-kata yang sama dari seorang gadis kecil bersandal bunga matahari. "Ayo dong, Norman. Cerita. Ada apa, sih?"
Norman menghela napas. Ray beringsut duduk di sampingnya hingga bahu mereka saling bersentuhan. Di langit, matahari sejenak terhalang awan putih tebal berarak, menimbulkan bayang-bayang sejuk tipis di seluruh halaman.
"Yah, aku cuma sedang memikirkan keinginan konyol," gumam Norman, mengusap hidung.
Emma menelengkan kepala. "Keinginan konyol?"
"Yeah." Norman menjatuhkan pandangan ke pucuk-pucuk pinus di balik pagar tanaman, mengawasi mereka bergoyang lembut ditiup angin. "Biasalah. Aku ingin pergi ke luar rumah."
"Oh."
Sejenak, Emma dan Ray terdiam. Meski tak pernah mendapatkan penjelasan gamblang, mereka tahu bahwa larangan itu adalah topik sensitif. Dulu, sebelum akrab, Ray dengan agresif berusaha mengorek keterangan tentang alasan pemingitan Norman. Tapi seiring elakan-elakan halus teman barunya, Ray sadar ia barangkali telah melanggar ranah privasi. Tanpa aba-aba, timbullah kesepakatan tak tertulis untuk menghindari topik itu, dan mereka pun berpura-pura bahwa aturan itu tidak ada.
Bahwa mereka bermain di dalam batas pagar kediaman Ratri karena ingin, bukan terpaksa.
Norman terkikik pelan, berusaha mencairkan suasana. "Jangan tegang begitu. Aku sering punya keinginan seperti itu. Bukan masalah besar. Nanti juga hilang sendiri."
Tapi Emma dan Ray justru menatapnya dengan mata makin sedih. Emma menyelusupkan wajahnya ke perut Norman, sementara Ray menyandarkan kepala ke bahunya. Norman mendengkus geli merasakan rambut mereka berdua.
"Kau benar-benar tidak pernah keluar rumah, ya?" Suara Ray begitu rendah, seakan ia menggumamkan pertanyaan untuk dirinya sendiri. Norman meletakkan pipi di atas kepala temannya itu.
"Tidak juga. Aku pernah keluar sekali, di musim panas seperti ini. Waktu umurku enam tahun."
"Oh ya? Ke mana? Lihat jerapah di kebun binatang?" Emma bertanya, matanya berkilauan.
Ray memutar bola mata. "Itu sih kamu. Setiap akhir musim panas kau selalu menulis cerita liburan tentang menonton jerapah."
"Daripada menulis cerita tentang membantu Papa Leslie menanam kubis!"
"Setidaknya aku melakukan kegiatan bermanfaat!"
Emma menjulurkan lidah. Norman menertawakan debat tidak bermutu kedua temannya, telah lama menerima kenyataan bahwa ia tidak sepandai mereka dalam bersilat lidah.
"Bukan jerapah, Emma, walaupun memang aku pergi melihat binatang," Norman melanjutkan, memanggil kembali kenangan yang hampir hilang. "Aku pergi melihat kunang-kunang. Tempatnya tidak terlalu jauh, sebenarnya. Di dalam hutan ini, ada sebuah padang rumput kecil di tepi sungai. Air sungai di daerah itu cukup tenang, sehingga kunang-kunang banyak bertelur di sana. Saat cuaca mulai menghangat, mereka tumbuh dewasa dan memenuhi padang rumput itu seperti anak-anak bintang."
Norman memejamkan mata. Dalam gelap di balik kelopaknya ia melihat bintik-bintik cahaya fosfen, beterbangan ringan seperti debu. Jika berusaha cukup keras, Norman dapat berpura-pura berkas cahaya dari stimulasi elektrik retina itu adalah kunang-kunang dan Norman sedang berdiri di padang rumput ajaib itu lagi, berenang dalam lautan bintang.
Ray menyikut lengan Norman lembut. "Hei, Norman."
"Hmm?"
"Apa kau ingin mengunjungi padang rumput itu lagi?"
Membuka mata, Norman mendapati tatapan penuh tekad kedua temannya. Norman tahu apa yang akan mereka katakan bahkan sebelum terucap, seakan mata mereka adalah pintu masuk untuk menyelam ke dalam benak.
Ray mengatupkan kedua tangan membentuk corong dan berbisik ke telinga Norman seperti menyampaikan rahasia penting, "Kalau kau mau, kami siap menyelundupkanmu."
"Kalau ketahuan, kita dimarahi bersama-sama! Tidak usah takut!" Emma menyahut, matanya berkilat penuh tekad.
Norman hanya tertawa.
Awan berarak pergi, mengembalikan terang matahari pada rerumputan. Bayang-bayang di bawah pohon semakin pekat, seperti tumpahan tinta kelabu di tengah-tengah hijau segar. Di suatu tempat di kejauhan seekor elang bersiul melengking, barangkali mencari mangsa; dan di luar pagar tanaman yang mengurung Norman dalam rumah bagai istana, anjing-anjing penjaga hitam besar membaung riang menikmati hari mereka.
.
.
{tbc}
