The Promised Neverland © Kaiu Shirai. Ilustrasi © Posuka Demizu. Penulis tidak mengambil keuntungan finansial apa pun dari karya transformatif ini

The Death of The Fireflies © aria-cheros (arianadez dan psycheros)

[Bab 2]

.

.

Seperti yang sudah Norman duga, Barbara tidak memercayai ceritanya. Itu sudah jelas. Tapi justru itu yang Norman tunggu-tunggu dari rencananya.

Walau sehari-hari ramah dan baik kepada Norman, tapi Barbara cukup tegas dan tidak mudah dikelabuhi. Tidak seperti pelayan lain yang memanggil Norman dengan sebutan 'Tuan Muda', Barbara lebih suka menyebut Norman dengan namanya langsung, seperti ayahnya yang juga memanggilnya begitu. Dan sejujurnya Norman lebih menyukai nama panggilan ini.

Tapi saat ini Barbara sedang tidak mudah untuk diajak kompromi. Norman sedang bercerita tentang kejadian aneh yang menimpanya kemarin dan perempuan itu tidak memberi respon yang antusias.

Barbara menuang teh dari teko besar di trolinya ke cangkir Norman dengan sikap tenang. Ia hanya menggeleng berulang setelah Norman selesai bercerita. "Ngawur. Tidak mungkin ada hantu di rumah ini, Norman."

Norman tidak ambil pusing. Ia berhenti menyantap oats-nya dan menatap Barbara dengan wajah paling serius yang bisa ia buat. "Aku benar-benar melihatnya, Barbara. Dan aku tidak berbohong," tambahnya cepat.

Dahi Barbara berkerut dan dalam usahanya mengamati Norman (mungkin menimbang kebenaran akan kata-katanya), ia akhirnya hanya dapat menarik napas panjang. Barbara tidak memberi tanggapan, malah membereskan peralatan tehnya. Norman tidak ingin kesempatan ini hilang.

"Awalnya aku juga tidak percaya. Pasti aku terlalu banyak berimajinasi, begitu pikirku. Tapi kemarin aku melihatnya lagi." Norman menunduk, memperlihatkan raut sedih. "Sebenarnya aku tidak ingin menceritakan ini kepadamu, tapi sekarang mainan kesukaanku hilang. Padahal aku ingin sekali memainkannya lagi."

Kalau Norman sudah memasang tampang memelas begini, mau tidak mau Barbara jadi tidak tega. Bagaimana pun juga, Barbara sangat menyayangi Norman. Ia paham, Norman hanyalah anak lelaki menggemaskan yang sering kesepian karena ditinggal ayahnya bekerja. Mungkin saja Norman mengarang cerita tadi untuk menarik perhatiannya. Sejenak Barbara merasa bersalah karena kerap bersikap keras kepada Norman, meski demi kebaikan Norman sendiri.

Boleh saja Barbara menduga Norman berbohong, tapi ia tidak mau melihat Norman terlalu lama bersedih. Jadilah ia mengurut dada dan bersabar meladeni cerita Norman.

"Dan di mana persisnya kau melihat hantu itu?"

"Di dekat loteng di belakang rumah."

"Tapi apa yang kaulakukan di sana, Norman?"

"Kemarin aku sedang bermain mobil-mobilan di tangga, kemudian mainanku jatuh di dekat loteng rumah. Saat aku mengambilnya, aku melihat hantu biru itu. Aku langsung kabur dan tidak berani mengambil mainanku sampai sekarang. Hantu itu sangat menakutkan."

"Hantu biru?" Barbara sampai menaikkan alisnya mendengar satu kata asing ini.

"Iya. Kunamai begitu karena gaun hantu itu tampak berpendar kebiruan. Yang paling menakutkan adalah wajahnya." Norman bergidik ngeri. "Satu matanya hancur dan giginya panjang, seperti vampir." Ia melanjutkan lagi suapan pada oats-nya setelah Barbara memaksa, tapi tidak dengan penuh kenikmatan. Seolah topik hantu membuat selera sarapannya hilang.

Tentu saja Barbara menyadari perubahan suasana hati Norman. "Baiklah. Kau hanya mau mainanmu kembali, 'kan?"

Norman mengangguk. Dan menunggu.

"Akan kuambilkan kalau begitu."

"Serius, Barbara?"

Barbara hanya mengedipkan mata. Norman bersorak dalam hati. Barbara kemudian mendorong trolinya kembali ke dapur, meninggalkan Norman sendirian di ruang makan, menghabiskan sarapan. Ia memandangi punggung Barbara yang menjauh dengan rasa tak percaya. Mujur benar dirinya hari ini.

Sudah lama Norman tidak merasakan gairah yang sebegini besar dalam merencanakan sesuatu. Tidak seperti dulu, ketika ia meminta kepada ayahnya untuk diizinkan pergi ke luar dan harus merengek, harus memohon keras-keras. Kali ini ia melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Dengan penuh perhitungan dan siasat. Dengan mengerahkan semua kecerdikannya. Dan tanpa harus merengek lagi.

Norman harus berterima kasih kepada buku "Mencari Harta Karun di Hutan Terlarang". Buku cerita itu telah memberinya ide tentang hantu biru dan juga vampir. Semua idenya sebenarnya terinspirasi dari cerita itu.

Norman tertawa dalam hati. Sekali-kali, berbohong ternyata menyenangkan.

Tujuan Norman yang sesungguhnya adalah agar ia dapat menyelusup ke balik tanaman pagar. Benar. Norman ingin mengintip lagi—sedikit saja—dunia luar. Bahkan jika harus berbohong, ia rela melakukannya.

Walaupun James sudah pernah memarahinya habis-habisan, tapi Norman adalah anak yang keras kepala. Kalau ia sudah penasaran tentang sesuatu, ia tidak akan mau berhenti sampai rasa penasarannya mendapat jawaban yang memuaskan.

Semua ini salah Ayshe, Norman menggerutu dalam batin, sambil menghabiskan oats dan tehnya cepat-cepat. Jika Norman sudah menghabiskan semua sarapannya, Barbara tidak akan mencarinya di taman untuk mengomel panjang pendek.

Kalau saja dulu Ayshe tidak melempar bolanya terlalu keras sampai keluar pagar, mungkin Norman tidak perlu mengambilnya, yang akhirnya membuatnya melihat sepetak pemandangan indah itu. Dan Norman juga tidak perlu sepenasaran sekarang. Namun, semuanya sudah telanjur.

Norman meluncur menuju celah di antara tanaman pagar yang ia temukan bersama Ayshe seminggu yang lalu. Ia menghela napas lega. Celah berbentuk lingkaran itu masih belum berubah. Norman kembali mengintip dan perasaan kagum membuatnya berdecak. Bahkan hanya melihat pohon pinus-nya saja ia sudah segembira ini. Tidak dapat terlukiskan bagaimana jika ia sudah mencapai jembatannya!

Norman berbaring telungkup, lalu merayap melewati celah itu. Daun dan ranting kering patah terlindas beban tubuhnya. Norman mengabaikan bunyi kemerisik dari dedaunan di sekitarnya dan fokus dengan cahaya di ujung celah. Lengannya terasa pegal karena terlalu lama ia gunakan sebagai tumpuan saat merayap, tapi ia tidak berhenti.

Sedikit lagi.

Citra jembatan itu semakin jelas. Ketika Norman berhasil menembus ujung celah dan kepalanya menyembul dari balik rimbunan daun, ia seperti melihat surga, walaupun ia hanya pernah melihat surga dari deskripsi di buku cerita.

Menurut cerita, surga adalah tempat maha luas, maha indah, penuh pepohonan besar nan rindang. Buah-buahnya ranum, tumbuh begitu rendah hingga kau tidak perlu berjinjit untuk memetiknya. Bunga-bunganya semerbak sepanjang musim, mengangguk-angguk ditiup angin dengan latar langit biru tanpa batas.

Norman seakan tersihir. Demikianlah pemandangan di depan matanya sekarang; pepohonan tinggi hijau, udara beraroma embun segar, hamparan anyelir merah jambu seperti permadani. Dan yang terbaik di atas segalanya: langit luas berwarna biru yang bersih dari jejak awan. Sangat biru. Mungkin lebih biru daripada warna bola mata Norman sendiri.

Norman terkikik girang mengingat Barbara yang pasti sedang kebingungan mencarinya. Masa bodoh. Ia juga mengabaikan kaosnya yang berlepotan lumpur. Semalam memang gerimis dan itu sudah cukup membuat tanah menjadi becek.

Norman berlari kecil menuju jembatan. Ia kemudian berdiri di ujungnya dan memeriksa; apakah jembatan dari tua ini cukup kokoh. Meskipun terbilang pendek, jembatan ini cukup menakutkan ternyata.

Melongokkan kepala untuk memandang apa yang ada di bawah jembatan, Norman melihat aliran air berkericik menabrak kerikil di tepian. Permukaannya berkilauan tertimpa sinar matahari, seperti benih-benih kristal. Di tepian sungai, terdapat tanaman merambat berbunga ungu yang tidak Norman ketahui jenisnya. Sungguh eksotis.

"Sungai kecil," gumamnya tanpa sadar, masih setengah takjub dengan kebebasan pertamanya ini. Kakinya gemetar, tapi bukan karena takut, melainkan sebab terlalu senang.

Norman melangkah dengan hati-hati melewati jembatan. Ia berpegangan pada langkan karena khawatir jembatan itu akan runtuh, tapi ia tidak gentar. Tekad dan penasaran mengalahkan ketakutannya. Ia membayangkan betapa ajaibnya jika ia bisa mencapai seberang. Pasti di sana ada pemandangan yang lebih menakjubkan lagi.

Ayo, sedikit lagi.

Norman terus melangkah, sedikit demi sedikit, melangkah lagi—

"Berhenti, Norman!"

Tengkuk Norman merinding manakala ia mendengar suara panggilan itu dari belakangnya.

Gawat. Benar-benar gawat. Satu bulir keringat menuruni dagunya. Tadi itu suara ayahnya!

Norman hanya dapat membatu di tempat. Segenap keberaniannya, rasa penasarannya, sikap kepala batunya, semuanya lenyap tak tersisa. Ia sungguh tidak berani membalikkan badan dan menghadapi masalah besar yang tengah menantinya di belakang sana. Ia tidak memperhitungkan kepulangan ayahnya yang tiba-tiba. Ini di luar skenarionya.

Dua jam berikutnya, Norman terpaksa duduk manis di ruang kerja James, mendengarkan ceramah ayahnya itu sambil terkantuk-kantuk. Tentu saja, ini sudah masuk jam tidur siang. Barbara juga sempat terkena semburan amarah karena tidak pandai menjaga Norman, tapi tidak terlalu lama. Norman menyadari jika dunia memang tidak pernah adil bagi anak sepertinya.

Ketika akhirnya James selesai menasehatinya, Norman tidak membantah perintah dari beliau yang menyuruhnya untuk lekas tidur. Norman menguap panjang. Sebelum ia merebahkan tubuhnya, ia menatap jendela kaca berbentuk peta dunia di langit-langit. Ia melihat beberapa ekor merpati sedang hinggap di atap, tampak mematuki sesuatu. Mungkin serangga atau biji-bijian kecil yang jatuh dari pohon. Beberapa merpati lain tengah terbang rendah, seperti sedang berkejaran.

Sekilas, Norman terpancang untuk mengamati pemandangan itu lebih lama. Merpati yang terbang itu seperti mengingatkannya tentang sesuatu. Sebuah kenangan yang lama terlupa. Norman berusaha keras mengais ingatan itu di antara kepingan pecahan kenangannya, tapi ia tetap tidak bisa mengingat dengan jelas.

Kelelahan, Norman memutuskan untuk berhenti mengingat semua itu dan mulai memejamkan mata.

Beberapa ekor merpati berdekut-dekut saat melongok ke jendela di bawah kaki mereka, sebelum terbang menuju pucuk pohon, saling mengejar. Mungkin merpati itu sempat melihat Norman yang lupa menyelimuti tubuhnya.

.

.

Saat Norman mengingat Ayshe dan ketidaktahuannya akan keadaan sahabat kecilnya itu, ia malah memikirkan pertemuan terakhirnya dengan Ray dan Emma. Ia mengingat lagi kunang-kunang bercahaya, yang dulu pernah dilihatnya di dalam hutan dan bagaimana tawaran dari mereka berdua membuat Norman senewen selama dua hari ini. Tawaran dari mereka sungguh menggoda.

Kini Norman sedang duduk termenung di beranda rumah besarnya, bersama setumpuk buku yang diambilnya dari perpustakaan, menunggu untuk dibaca. Tadi Norman memang berniat membawanya ke sini agar mendapat suasana berbeda, tapi sekarang ia bahkan tidak berminat menyentuhnya. Ia bukanlah si kutu buku Ray yang selalu membawa-bawa buku ke manapun ia pergi. Norman mungkin sangat suka membaca, tapi ia tidak 'segila' Ray.

Tanpa bisa dikendalikan, benak Norman kembali terlena pada mimpinya semalam. Lagi-lagi mimpi tentang Ayshe, yang terasa nyata dan entah mengapa sulit dilupakan.

Norman bermimpi berlari mengejar kunang-kunang di sebuah padang rumput tepi sungai, tapi ia akhirnya terpeleset dan jatuh. Kunang-kunang yang dikejarnya menghilang. Norman ingat dirinya menangis keras di dalam mimpi itu. Untunglah Ayshe segera datang dan menarik tangannya, mengajaknya mencari kunang-kunang bersama.

Ketika Norman terbangun, ia yakin ia masih menggenggam tangan Ayshe.

Mimpi yang tidak menyenangkan.

Seperti biasa, sesudah bangun tidur, Norman mandi dan ganti baju. Lalu ia sarapan sendirian, sebab ayahnya belum pulang. Sebenarnya ia tidak benar-benar sendirian. Ada Barbara menemaninya, tapi pelayan itu terus merecoki Norman untuk menghabiskan oats-nya tanpa sisa sampai-sampai Norman berharap ditinggal sendiri saja.

Seandainya ini adalah hari biasa, usai sarapan Norman akan bergegas menyiapkan buku pelajaran dan menunggu guru privatnya. Memang demikianlah cara Norman belajar. Alih-alih mendaftarkan Norman ke sekolah umum dan mengambil resiko Norman meninggalkan mansion, untuk masalah pendidikan James memercayakan anak semata wayangnya itu kepada beberapa guru pribadi. Sekolah di rumah.

Semula Norman mengira jika ia akan mati bosan, tapi guru-gurunya ternyata cukup menyenangkan. Mereka ramah dan selalu bisa memberi jawaban yang memuaskan. Apalagi jika sudah tiba jadwal pelajaran musik, Norman selalu tidak sabar ingin segera bertemu Miss Musica. Beliau adalah guru yang sangat Norman kagumi. Miss Musica sangat lihai memainkan bermacam-macam alat musik dan Norman giat belajar musik dengan serius supaya bisa sepiawai beliau.

Ray dan Emma bersekolah di sekolah umum. Mereka berdua sering bercerita (dengan menggebu-gebu, terutama Emma) kepada Norman tentang keseharian mereka di sekolah. Lucu sekali mendengar bagaimana Ray mengeluhkan nilai olahraganya yang selalu berada di bawah Emma dan bagaimana Emma akan mengangkat dagunya tinggi-tinggi, lalu menasehati Ray untuk lebih banyak berlatih. Mereka selalu meributkan siapa yang paling cepat di antara mereka berdua saat berlari.

Kadang-kadang, saat Norman memiliki janji bertemu dengan mereka, Ray dan Emma membawa beberapa buku pelajaran dari sekolah. Dengan cara inilah mereka belajar bersama, saling mendiskusikan soal dan bermacam-macam permasalahan, di bawah pohon elm yang rindang, di halaman mansion keluarga Ratri.

Di kelas Ray dan Emma, ada dua puluh lima anak lain yang belajar bersama. Norman merinding membayangkan bagaimana rasanya jika ia dikelilingi oleh kedua puluh lima anak-anak itu, bagaimana rasanya belajar dan bermain bersama mereka setiap hari. Pasti rasanya menyenangkan.

Pada titik ini, Norman mengakui, ia kadang merasa iri dengan kehidupan 'normal' kedua temannya.

Namun, Norman bukanlah anak yang mudah larut dengan perasaan semacam itu. Ia sadar dirinya siapa dan mereka siapa. Benar jika Norman cemburu dengan kebebasan mereka, tapi itu tidak membuatnya bersikap buruk pada mereka. Sejak kecil, James sudah melatih Norman agar tidak hilang kendali menghadapi perasaannya sendiri.

Seekor burung pipit hinggap di ujung meja. Norman mengawasi makhluk kecil itu meloncat-loncat ingin tahu. Hati-hati, Norman mencuil croissant di lapiknya dan meremasnya menjadi remah-remah yang ia taburkan di permukaan meja. Burung pipit itu melahapnya sambil bercicit-cicit riang, kemudian terbang untuk hinggap di tepi atap.

Norman menengadah. Matahari bersinar begitu terik. Tidak ada pelajaran ataupun guru privat hari ini. Libur musim panas telah dimulai, bahkan bagi anak yang sekolah di rumah.

Emma dan Ray berjanji akan menghabiskan liburan di kediaman Ratri, tapi keadaan kadang berkata lain. Kemarin, Emma bilang bahwa kakak iparnya mengajaknya ke pasar untuk membeli baju baru. Sementara Ray, dengan wajah malas, berkata bahwa ia harus membantu ayahnya ke ladang. Jadilah hari ini Norman tidak bersemangat. Tidak disangka-sangka, liburan musim panas jadi sangat membosankan tanpa seorang teman untuk berbagi.

Keempat pelayannya saat ini pasti sedang sibuk. Cislo merawat kebun atau mengawasi keadaan sekitar lewat Ruang Kendali. Barbara bergelut menyiapkan makanan di dapur, Zazie pergi mendampingi Ayah. Vincent tengah mengawasi satu tim pramujasa yang mereka sewa secara berkala untuk membersihkan rumah.

Sementara Norman hanya diam terpaku. Biasanya ia senang-senang saja membantu meringankan pekerjaan mereka di saat Ray dan Emma tidak mengunjunginya, walaupun mereka bilang Norman tidak perlu melakukannya. Misalnya membantu Cislo menyiram kubis, mengintil Vincent mengecek hasil kerja para pramujasa, atau bahkan membantu Barbara mengaduk adonan kue—tapi hari ini lain.

Norman hanya ingin menikmati kesendiriannya.

Agak menyedihkan sebenarnya, tidak bisa melakukan hal-hal yang biasa dilakukan anak-anak pada umumnya. Anak seusianya seharusnya sedang bermain dengan gembira bersama anak-anak lain di luar sana. Tertawa ketika mendapat nilai memuaskan dan menangis ketika terjatuh. Tapi Norman tidak bisa merasakan semua itu. Norman bahkan tidak bisa bertemu ayahnya sendiri setiap hari, betapapun rindunya ia pada James.

Kadangkala Norman berharap ayahnya bekerja sebagai petani. Setidaknya, dengan begitu Norman masih bisa membantu ayahnya membawakan kayu bakar. Dalam perjalanan pulang dari hutan, mereka akan saling berbagi cerita tentang serangga atau tanaman ladang. Atau, mungkin bagus juga jika ayahnya seorang nelayan. Mereka berdua akan melayarkan perahu setiap malam, membuang jala di tengah laut mencari ikan-ikan mengantuk. Atau bisa juga guru. Norman akan senang jika ayahnya sendiri yang mengajarinya Matematika.

Norman menggelengkan kepala, mengusir pikiran konyol itu dari benaknya. Norman sangat paham, bahwa ada beberapa kenyataan di dunia ini yang tidak bisa diubah. Daripada pusing-pusing memikirkannya, lebih baik Norman memikirkan hal lain. Rencana bermain dengan Ray dan Emma, misalnya. Mereka berjanji akan berkunjung lagi besok. Hm, main apa enaknya, ya?

Sekonyong-konyong, tatkala Norman melamun memandangi sampul salah satu buku cerita pada meja, sebuah ide hebat melintas di pikirannya.

Hei, kenapa kami tidak melakukannya saja?

Benak Norman seakan mendentingkan lonceng.

Bagaimana seandainya kami benar-benar melakukan perjalanan mencari kunang-kunang itu?

Napas Norman memburu. Punggungnya menegak. Ia berlari tergesa-gesa ke dalam kamarnya, membongkar lemarinya, lalu mengambil sebuah buku gambar berukuran besar. Norman membuka buku gambar tersebut. Selembar kertasnya yang masing kosong ia sobek. Dan Norman pun mulai menggambar.

Benar. Norman berencana membuat peta perjalanan ke dalam hutan!

Masih setengah takjub dengan idenya sendiri, jemari kurus Norman sudah lincah menari di atas lembar buku gambar kosong. Ia berusaha mengingat rute di dalam hutan dan perkiraan di mana lokasi padang kunang-kunang tersebut berada. Cukup sulit ternyata, sebab ia hanya mengandalkan ingatan. Bisa saja Norman salah menggambar atau salah arah. Tapi ia mengusir keraguan demi keraguan dan meyakinkan dirinya bahwa gambarannya sudah betul. Dengan begini ia memiliki langkah awal yang meyakinkan.

Dua jam menggambar tanpa henti, tangan Norman mulai pegal, tapi peta itu hampir selesai. Tinggal menambahkan beberapa gambar detail dan nama-nama tempat yang akan dilewati nantinya.

Norman meletakkan pensilnya. Telapak tangannya sampai berkeringat karena terlalu lama memegang pensil. Tapi Norman tersenyum. Ia puas dengan hasil gambarnya. Tidak sia-sia ia menghabiskan waktu berjam-jam di setiap minggunya dengan berlatih menggambar bersama Mr Smee selama ini.

Norman menyandarkan punggungnya pada kursi dan mendongak. Tatapannya menerawang.

Meskipun demikian, Norman masih tidak yakin apakah ia akan serius melakukan perjalanan itu. Rasa takut mencekam dadanya, mengetahui 'sesuatu' yang ada di luar sana, hal-hal yang tidak diketahui oleh Emma dan Ray.

.

.

Bulan sabit. Norman paling menyukai bentuk bulan ini. Ia rela mengurangi jam tidurnya jika sudah terpikat memandanginya. Norman bisa saja duduk di pinggir ranjangnya dan menatap sinar putih karismatik itu sampai fajar muncul—kalau saja ia tidak mendapat gangguan.

Pernah suatu hari, Barbara memergoki Norman yang masih terjaga pada tengah malam. Norman mengelak dengan berkata jika ia tidak bisa tidur. Tapi Barbara sepertinya tahu jika Norman sejatinya sengaja tidak tidur.

Tanpa ragu, Barbara masuk kamar dan duduk di sebelah Norman. Ia mengikuti tatapan Norman yang masih menerawangi rembulan tadi. "Kau menyukainya, ya?"

Norman, yang panas-dingin karena ketahuan, hanya dapat mengangguk pasrah.

"Tapi kenapa bulat sabit, Norman? Kurasa bulan purnama lebih indah. Lingkaran adalah bentuk yang paling sempurna, 'kan?"

Tak disangka, Norman tersenyum. "Memang benar. Bulan purnama sangatlah indah. Tapi aku pernah membaca di sebuah buku. Ada yang bilang begini, 'jika setelah sesuatu mencapai kesempurnaan, pasti akan tampak kekurangannya'." Tatapan Norman menjadi lembut. "Bulan purnama itu indah dan sempurna, tapi justru karena kecemerlangannya dan kesempurnaannya, bintang-bintang kecil yang ada di sekelilingnya menjadi tidak begitu tampak. Berbeda dengan bulan sabit. Bulan sabit memang tidak sempurna. Hanya berbentuk lengkungan segaris saja, tapi justru di situ letak keindahannya. Bulan sabit membuat bintang-bintang di sekitarnya dapat terlihat. Bulan sabit dan bintang-bintang yang jelas terlihat tadi akan membuat formasi langit menjadi sempurna."

Barbara sampai terperangah. Ia akui jika Norman lebih pintar dan dewasa daripada anak sepantarannya, tapi ia tidak pernah tahu jika anak itu bisa menjadi sebijaksana ini.

Barbara tersenyum menggoda. "Jadi menurutmu bulan purnama itu egois? Begitukah, Norman?"

"Eh—itu … yah, begitulah."

Namun, sekarang malam sedang hujan. Dan bulan sabit tidak ada, tapi Norman juga tidak mau tidur. Ia sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyelinap ke kamar ayahnya. Hampir dua minggu lamanya mereka tidak bertemu karena pekerjaan ayahnya. Walaupun Norman sendirilah yang menyambut kepulangan sang ayah saat senja tadi, ia tidak bisa membohongi perasaannya jika ia masih merindukan ayahnya.

Vincent boleh saja melarang Norman tidur larut, tapi siapa yang bisa mencegah jika anak itu sudah keras kepala?

Norman berjalan berjingkat menuju kamar James, berusaha tidak menimbulkan suara. Ia tidak mau ditangkap Zazie yang selalu sigap mengawasi keadaan rumah atau pun Barbara yang hobi memergokinya. Rencana Norman bisa rusak kalau ia sampai ketahuan.

Pelan dan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi decit, Norman membuka pintu kamar ayahnya. Tepat perkiraannya, pintu itu tidak dikunci.

Kamar ayahnya yang luas gelap total. Norman masih bisa melihat siluet ayahnya yang sedang terbaring di ranjang, tapi selebihnya ia hanya mampu menatap kegelapan. Biarpun begitu, Norman melangkah dengan percaya diri, tanpa ragu akan menabrak. Ia cukup sering tidur di kamar ini saat ayahnya tidak ada, jadi ia hapal posisi benda-benda di kamar tersebut (meskipun ia .harus menerima omelan panjang dari Barbara setelahnya).

"Kau tidak perlu menjadi kucing untuk bisa bersembunyi dari tikus, Norman."

Mata Norman melebar sesaat. "Ayah! Ternyata kau belum tidur!"

Tanpa sungkan, Norman memanjat ke sisi ranjang dengan gesit lalu menghambur ke dalam pelukan sang ayah. Aroma James sangat wangi, seumpama harum yang tercium dari kepulan teh yang bercampur dengan bunga melati. Norman merasakan tangan ayahnya yang besar mengacak rambutnya dan ia sama sekali tidak keberatan.

"Ayah … apa Ayah baik-baik saja?"

Pertanyaan bodoh. Bahkan saat menanyakannya, Norman tahu pertanyaan itu tidak berguna.

James tidak terburu menjawab, malah tersenyum lebar. Dan ini membuat Norman tidak tahan untuk tidak memeluk ayahnya lagi. Dadanya sesak karena rasa cemas yang membuncah. Melihat perban yang kini meliliti paha sang ayah membuat Norman terbayang-bayang akan kejadian buruk yang bisa saja menimpa ayahnya. Norman mempererat pelukannya, bersamaan dengan air mata yang mengalir jujur di pipinya. Ia takut. Ia sangat takut.

Norman sangat takut jika suatu hari nanti, ayahnya pulang dengan keadaan tidak bernyawa.

Tenggorokan Norman tercekat. Ia menggigit bibirnya agar air mata itu tidak berubah menjadi isakan yang bersuara.

Tangan sang ayah mengusap kepala Norman dengan kelembutan yang menenangkan, seakan tahu jika putranya sedang merasa ketakutan. "Jangan khawatir. Aku baik-baik saja."

Tapi Norman tetap menyembunyikan wajahnya di balik dada James.

"Ini bukan pertama kalinya kau melihatku seperti ini, Norman. Tenang saja, aku akan segera sembuh."

Norman menarik diri dari dekapan sang ayah. Ia mengusir jejak air mata di pipinya dengan usapan punggung tangannya. "Tapi aku tidak suka melihat Ayah dan teman-teman Ayah pulang dalam keadaan terluka," ucapnya dengan nada kering.

Mau tidak mau, Norman kembali mengingat hari-hari tidak tenangnya menunggu di rumah, hanya berdua dengan Vincent. Sudah dua tahun yang lalu memang, tapi kejadian itu masih segar dalam ingatannya seperti terjadi kemarin.

Norman sedang berada di ruang tamu. Ia berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Meskipun Vincent sudah berulang kali menyuruhnya duduk dan tenang, tapi Norman tidak bisa menurut.

"Bagaimana aku bisa tenang, Vincent?"

Itu memang benar. Tidak mungkin Norman bisa duduk-duduk santai sementara ayahnya sedang berjuang mati-matian di luar sana. Ia bukan Vincent yang bisa dengan mudahnya mengendalikan emosi.

Kemudian, James dan rekan setimnya pulang. Keadaan mereka cukup parah. James, biasanya selalu tampil perlente, tampak sangat kotor dan wajahnya babak belur. Ia memapah Cislo yang kakinya seperti hampir putus. Perut Barbara seperti berlubang, air mukanya begitu pucat dalam gendongan Zazie yang terlihat kelelahan setengah mati. Betapa takutnya Norman harus menyaksikan semua kengerian ini.

Lebih menakutkan lagi karena Norman harus membantu Vincent mengobati luka-luka mereka. Ini bukan yang pertama kali, tentu saja. Norman hampir selalu menjadi dokter kecil dalam keadaan seperti ini. Tapi tetap saja ia merasa mual. Makan malamnya hampir keluar lagi. Ia harus mengepalkan tangan berkali-kali agar berhenti gemetar dan bisa mulai menjahit luka.

Sesungguhnya, selain menjadi pelayan di mansion, Cislo, Barbara, Zazie, serta Vincent adalah orang-orang tangguh dan kuat yang sengaja direkrut oleh James untuk bergabung dalam timnya. Mereka memang menjadi pelayan saat berada di mansion, tapi mereka juga menguasai berbagai macam senjata dan ilmu berkelahi. Jika pada tanggal tertentu James mengumumkan untuk pergi keluar bersama mereka dengan membawa berbagai senjata, maka di sinilah pekerjaan 'berbahaya' mereka dimulai. Pekerjaan James yang sebenarnya sebagai seorang Ratri, yang barangkali kelak akan diwariskan kepada Norman.

Dengan perasaan gamang, lebih dari siapa pun, Norman sangat mengetahuinya.

Norman selalu bertanya-tanya; apakah Ayshe juga merasakan kepedihan seperti ini saat ayahnya terluka? Sebelumnya Norman berpikir, bagaimanapun juga, ia dan Ayshe hanyalah anak-anak. Ini bukan dunia di mana segalanya terlihat normal. Namun, karena sejak lahir ia dan Ayshe sudah terlibat, maka mereka berdua sama-sama tidak memiliki pilihan selain menerimanya. Ini adalah takdir.

Ah, seandainya Ayshe ada bersamanya saat Norman menunggu kepulangan ayahnya di mansion, mungkin kesedihan ini lebih dapat ia tahan.

James mencium puncak kepala Norman dengan gemas, membuatnya mengerjap. Serta-merta, semua ingatan buruk itu memudar. Mata ayahnya yang awas memandangi Norman, seakan sedang menebak apa kiranya yang tengah berkecamuk dalam pikiran putranya. Dan seperti biasa, tebakan sang ayah selalu tepat.

"Aku tahu apa yang kaupikirkan, Norman. Dan kau seharusnya juga menyadarinya dan memahaminya. Kita memang tidak memiliki pilihan. Karena jika bukan kita, lalu siapa lagi?"

Norman memalingkan wajah. Tatapan kasih dari sang ayah entah mengapa terasa menusuk. "Tapi sebenarnya masih ada pilihan lain, Ayah."

"Itu tidak mungkin, Norman. Hanya kitalah yang tahu bagaimana caranya. Kita harus melindungi semua orang."

"Ayah bisa mengajari semua orang bagaimana cara membela diri."

Yang tak disangka, James malah tertawa. "Argumenmu boleh juga, tapi tidak semudah kedengarannya. Tidak semudah membalik tangan. Untuk saat ini, Ayah pikir apa yang kita lakukan sudah benar, Norman."

James tidak memberi penjelasan lebih lanjut. Pikiran Norman bagai terpecah-pecah. Sulit menyatukan kepingan kata-kata ayahnya dan melawannya dengan pendapat yang lebih jenius. Ia menatap ayahnya dengan pandangan bingung.

"Sekarang aku percaya apa yang Barbara katakan pada waktu itu. Kau memang anak yang luar biasa, Norman."

Norman tidak tertarik dengan sanjungan dari James. Benaknya justru memikirkan hal lain. "Ayah, tadi kenapa Ayah menyebutku seperti kucing yang bersembunyi dari tikus? Kucing hanya akan takut kepada anjing. Kucing tidak pernah takut kepada tikus, kan?"

"Jika kau memakai sudut pandang umum, maka kucing hanya takut kepada anjing. Tapi jika kau membuka sedikit saja pemahamanmu kepada dunia yang luas ini, maka kemungkinannya selalu ada. Kucing juga bisa takut kepada tikus, Norman."

"Bagaimana bisa begitu, Ayah? Tubuh tikus lebih kecil daripada kucing. Sudah pasti tikus akan kalah jika kucing mengejarnya dan menerkamnya."

"Tapi bagaimana jika tikus itu bergerak lebih cepat daripada kucing? Apakah kucing itu akan mengejarnya atau malah akan membiarkannya pergi?"

"Eh?"

Jari telunjuk James teracung. "Itu kemungkinan pertama. Lalu bagaimana jika tikus yang dikejar kucing itu ternyata berjumlah banyak? Bagaimana jika yang terjadi kemudian adalah gerombolan tikus yang mengejar kucingnya? Apakah si kucing masih tetap tidak takut?"

Norman hanya melongo. "Aku tidak paham maksud, Ayah."

Jari telunjuk dan jari tengah James membentuk tanda V. "Itu kemungkinan kedua. Dan bagaimana jika tikus tadi sudah memiliki rencana dari awal dengan membuat jebakan untuk menangkap si kucing sehingga ia membiarkan dirinya diburu? Apakah tikus bisa menang melawan kucing?"

"Aku tidak tahu, Ayah."

Tiga jari James terangkat rapat. "Itu kemungkinan ketiga. Selalu ada pilihan di setiap keadaan. Betapa pun besarnya ukuran atau kekuatan, makhluk yang kecil bisa mengalahkan makhluk yang besar. Asalkan mereka mau berpikir."

Tapi Norman benar-benar tidak mengerti apa maksud ayahnya atau ke arah manakah pembicaraan ini sebenarnya. Mungkin karena Norman sudah kelelahan berpikir, ia mulai mengantuk.

"Tidurlah di sini bersamaku, Nak."

Menuruti ucapan sang ayah, Norman membaringkan tubuhnya di samping James. Perlahan-lahan, perasaan Norman membaik. Kehangatan dari tubuh sang ayah menjalar hingga suhu tubuh mereka terasa sama, membuat kecemasannya surut.

Sambil tetap terbaring dalam pelukan James, Norman mengintip melalui bahu sang ayah ke luar jendela, ke pucuk-pucuk pinus yang berdiri dalam gelap seumpama tombak penjaga. Terkadang pohon itu tampak berpendar karena cahaya hijau dari kunang-kunang. Tapi terkadang, Norman yakin jika ia mendengar suara lolongan asing di kejauhan.

.

.

"Jadi ini—" Norman membuka lipatan kertas yang tadi dibawanya dan menunjukkan dengan bangga hasil gambarnya sendiri kepada Ray dan Emma, "—yang kulakukan kemarin."

"Waaah!" Emma sampai tidak berkedip memandanginya. Jemarinya sudah sibuk menelusuri beberapa rute. "Gambarmu bagus sekali, Norman. Aku tidak pernah tahu jika selama ini kau pintar menggambar. Kukira kau hanya belajar pelajaran formal seperti Matematika dan Bahasa."

Ray, yang tidak mau ketinggalan, merebut kertas tadi tanpa permisi, lalu memandanginya hanya untuk dirinya sendiri. Ia menyikut bahu Norman dan menyeringai. "Benar-benar berbentuk peta, Norman. Kerjamu sangat bagus."

Norman jadi nyengir mendengar pujian itu.

"Ray!" Emma melotot marah karena Ray mengganggunya. "Aku masih ingin lihat, tahu! Sini, kembalikan!"

"Sebentar dulu."

"Kembalikan, Ray!"

Norman merasa jika ia harus melakukan sesuatu. Ia bersidekap dan memberi tatapan sedingin mungkin kepada mereka berdua. "Teman-Teman, jangan bertengkar, oke?"

Ray dan Emma berhenti saling rebut. Mereka memandangi Norman dengan ngeri sebab wajah Norman sedikit menyeramkan (yang mengingatkan mereka kepada ayah Norman saat menegur mereka). Ternyata Norman bisa menjadi menakutkan kalau ia memang berniat.

"Maaf, sudah kebiasaan," Emma bersuara lebih dulu setelah menelan ludah.

"Maaf," Ray menggaruk rambutnya. "Jangan marahi kami, ya?"

"Kami berjanji tidak akan bertengkar lagi, Norman."

"Kalau bisa," tambah Ray.

Norman mengganti tatapan dinginnya dengan senyum sederhana. Lebih dari siapa pun, sesungguhnya ia sangat memahami apa yang terjadi di antara mereka. Ia tidak merasa cemas. Ray dan Emma bukannya tidak akur. Bersaing sepertinya memang hobi mereka.

Norman mengembuskan napas panjang. "Sudahlah. Daripada kalian bertengkar, bagaimana kalau kalian mendengarkan ceritaku?"

Cara ini rupanya berhasil, sebab perhatian Ray dan Emma beralih kepada Norman. Permusuhan mereka terhenti untuk sementara.

Norman memosisikan dirinya bersila di atas rerumputan hijau pendek yang menutupi seluruh permukaan tanah. Ray dan Emma mengikuti teladannya dengan bersila di sisi kanan-kirinya. Norman mengambil peta dan membentangkannya di antara mereka bertiga.

"Kalau begini, semua bisa melihat, 'kan?"

Ray dan Emma mengangguk bersamaan. Mereka memandangi peta tersebut dengan saksama. Siulan angin menggoyangkan rambut mereka serta menjatuhkan beberapa daun yang sudah tua dari pohon besar di dekat mereka.

"Jadi apa yang ingin kauceritakan tadi, Norman?" Ray sudah tidak bisa menutupi rasa penasarannya. Norman baru ingat kalau anak itu sangat menyukai berbagai cerita.

"Aku ingin bercerita tentang seorang teman lamaku." Norman tercenung pada peta walaupun fokusnya tidak sepenuhnya ada di sana. "Sebelum aku bertemu dan berteman dengan kalian, sebelumnya aku sudah memiliki teman. Bisa dibilang kalau dia adalah teman pertamaku."

"Teman pertamamu?" tanya Emma. "Siapa dia, Norman?"

Tatapan Norman menjadi menerawang. "Namanya Ayshe. Usianya sepantaran denganku. Meskipun begitu, sifatnya sangat berbeda denganku. Ayshe sangat pintar dan pemberani. Dia anak yang kuat dan menyenangkan. Yah, meskipun kadang-kadang dia juga suka usil." Norman tertawa kecil. "Warna rambut Ayshe sama seperti warna rambutku. Yang paling kuingat dari Ayshe, dia selalu memakai sandal dengan hiasan bunga matahari. Dan dia juga jarang tersenyum. Wajahnya kecil sebenarnya, tapi jangan terkecoh karena Ayshe bisa sangat menyebalkan. Dulu dia sering menggodaku, sih." Ia terkikik malu.

"Lalu bagaimana kau bisa berteman dengannya? Bagaimana kalian bisa berkenalan? Bukankah kau tidak pernah keluar rumah?" Ray memberondong Norman dengan banyak pertanyaan.

"Itu karena pekerjaan ayahku dan ayah Ayshe sama. Ayshe sering dititipkan ayahnya di rumahku, jadi kami sering bertemu. Sebenarnya sangat sulit mendekatinya karena Ayshe sangat tertutup. Tapi pada suatu hari, kami banyak berbincang. Kami juga melakukan banyak hal bersama, lalu kami akhirnya berteman."

"Tapi sekarang Ayshe ke mana, Norman?"

Pertanyaan dari Emma barusan seakan menyentil Norman. Serta-merta, ia hanya mengangkat bahu dan menjawab dengan nada sedih, "Aku tidak tahu. Aku tidak terlalu ingat. Ayshe dan ayahnya tiba-tiba berhenti datang ke rumahku. Aku menduga kalau mereka pindah ke luar kota. Mungkin ayah Ayshe memutuskan untuk pensiun."

"Dan tepatnya pensiun dari apa?" Ray menatap penuh curiga.

"Eh—um, pensiun dari pekerjaannya."

"Kau tidak bertanya kepada ayahmu ke mana perginya mereka, Norman?" tanya Emma.

"Aku pernah menanyakannya, tapi raut wajah Ayah berubah menjadi tidak menyenangkan. Jadi aku tidak berani menanyakannya lagi."

"Sepertinya aku bisa mengerti," gumam Emma.

"Selain itu, sebenarnya apa pekerjaan ayahmu, Norman?" tanya Ray tak sabar.

Norman tersenyum lebih dulu. Ia sudah lama tahu jika Ray begitu penasaran dengan pekerjaan ayahnya dan sedikit-banyak menduga kalau keluarganya, Ratri, adalah keluarga mafia. Jika Emma penuh dengan ucapan-ucapan polos, maka ucapan Ray selalu penuh dengan teori. Mungkin itu karena kebiasaannya membaca bermacam-macam buku, sehingga ia sering berimajinasi.

"Hampir sama seperti Ayshe, ayahku sebenarnya orang yang tertutup. Aku tidak tahu terlalu jelas, atau jika aku tahu sedikit, mungkin aku tidak bisa menjelaskannya dengan baik apa yang sebenarnya ayahku lakukan. Tapi aku tahu kalau pekerjaan ayahku sama berharganya dengan pekerjaan ayahmu, Ray."

"Aku tidak bermaksud memintamu membandingkan pekerjaan ayahmu dengan ayahku, tapi apa kau tidak penasaran ya, Norman?"

"Bukannya aku tidak penasaran, tapi kalau aku tahu ayahku sehat dan baik-baik saja, itu sudah cukup bagiku. Aku tidak mau mengorek terlalu jauh. Kita tidak tahu bagaimana dunia orang dewasa dan segala pernak-pernik urusan mereka yang rumit, 'kan?"

"Kau memang benar, sih. Tapi—"

"Apa pun pekerjaan ayahku, aku rasa Ayah selalu berusaha melakukan yang terbaik."

Kening Ray berkerut dan Norman tahu jika itu bukan jawaban yang Ray inginkan. Meskipun Ray masih tidak puas dengan jawaban ambigu dari Norman, tapi ia tidak melanjutkan perdebatannya setelah ia melihat mata Emma yang berbinar saat memandangi Norman.

Ray sampai menepuk bahunya. "Kau ini kenapa, Emma?"

"Norman, kau ini selalu rendah hati, ya?" kata Emma lirih. "Ucapanmu semakin lama semakin mirip saat abangku menceramahiku, tahu."

"Eh? Jadi maksudmu aku ini sudah tua, Emma?"

Emma terkikik. "Begitulah."

Norman menatap Ray yang kebingungan dan ikut tertawa. "Sudahlah, Ray. Tidak perlu dibahas terlalu panjang. Bukankah sekarang kita memiliki tugas yang lebih penting daripada mengurusi pekerjaan ayahku, 'kan?"

Ray jelas merasa tersindir. "Kau memang benar."

Norman kembali fokus kepada peta buatannya. Ia menunjuk sebuah gambar mengular yang diberi warna biru, yang terletak di tepi paling kiri dari peta. "Lihat. Padang rumput tempatku dulu pernah melihat banyak kunang-kunang itu ada di tepian sungai ini. Sungai ini ada di dalam hutan. Aku sangat ingin ke sana untuk bisa mengenang masa laluku bersama Ayshe dan aku juga ingin menangkap beberapa kunang-kunang. Skenarioku, aku ingin melepas mereka di halaman ini. Ada kolam di dekat petak bunga matahari itu," Norman menunjuk ke arah selatan taman, di mana berpetak-petak bunga matahari tersenyum mengadap mentari. "Aku berharap kunang-kunang itu akan membuat sarang di sana dan menetaskan larva baru tahun depan. Tapi tentu saja aku tidak bisa pergi ke sana sendiri. Harus ada temannya."

"Jangan khawatir, Norman," ucap Emma dengan sungguh-sungguh. "Ada kami di sini yang akan selalu menemanimu."

Norman sedikit gugup. "Um—kalau kalian tidak mau menempuh perjalanan itu, kalian bisa membatalkannya, kok. Aku tidak mau memaksa kalian melakukan sesuatu yang—"

"Kau ini, apa yang kaubicarakan, Norman? Tentu saja kami mau melakukannya bersamamu!"

Ada sebagian kecil dari diri Norman yang berharap bahwa Ray dan Emma menolak ajakannya. Semata-mata untuk mempertimbangkan rasa rakutnya. "Eh, anu, tapi apa kalian tidak merasa takut jika—"

Tanpa ragu, Emma merangkul punggung Norman, membuat kata-katanya terputus sebab terkejut.

"Kenapa kau baru bilang sekarang, Norman? Jika itu memang impianmu sejak dulu, tentu saja aku dan Ray akan membantumu untuk mewujudkannya!" Emma memamerkan senyum lebarnya, hingga giginya terlihat.

Ray membalas dengan anggukan penuh semangat. Tatapannya tampak menantang. "Selain itu, kami ini tidaklah sepenakut seperti dugaanmu, Norman."

Pada detik inilah, seluruh keraguan dalam diri Norman lenyap tak berbakas. Tergantikan oleh euforia yang disuntikkan Ray dan Emma dengan antusias.

Mata Norman menajam. "Kalau begitu, besok kita bisa berangkat bersama, Teman-Teman!"

.

.

Malam harinya, Norman mulai mengemasi perlengkapannya untuk ekspeisi. Ia sudah memasukkan peralatan pokok, peralatan yang sama dengan yang ia intruksikan kepada Ray dan Emma untuk dibawa, tapi kini ia menambahkan beberapa alat lain. Tidak ada niatan apa pun. Hanya untuk berjaga-jaga. Ia lebih merasa damai saat membawa alat-alat itu biar pun tasnya akan bertambah gendut.

Norman sedang menimbang berat tasnya ketika, tiba-tiba saja, suara lolongan dari dalam hutan terdengar. Ia terkejut dan melupakan tasnya. Bulu romanya berdiri.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Norman berulang kali merapal mantra tersebut di dalam hati. Ia meyakinkan dirinya sekali lagi bahwa tidak akan ada masalah yang muncul dalam perjalanan itu nanti. Lagipula, mereka hanya akan pergi pagi hari. Maksimal sore sudah kembali ke mansion lagi.

Selain itu, 'makhluk-makhluk' itu hanya muncul setelah malam turun, 'kan?

.

.

"Itu berbahaya, Norman."

"Aku tahu, Ayah."

"Mau itu pagi atau siang, tetap saja berbahaya jika anak-anak sepertimu berada di dalam hutan. Apalagi jika malam hari. Itu semakin berbahaya. Kau tahu alasannya, 'kan?"

"Iya."

"Kau harus lebih berhati-hati mulai dari sekarang. Kendalikan rasa penasaranmu. Kalau kau ceroboh dan tidak berpikir dengan bijak, rasa penasaran bisa membunuhmu."

"Aku berjanji tidak akan keluar dari rumah ini lagi, Ayah."

"Jangan hanya berjanji, Norman, tapi tepatilah janjimu. Janji bukanlah barang yang bisa kaumainkan dengan mudahnya."

"Aku tidak pernah mengingkari janji, Ayah. Justru aku benci jika ada orang lain yang tidak menepati janji."

"Apa maksudmu, Norman?"

"Itu—ah, bukan apa-apa."

"Norman, Ayah tidak mengajarimu menjadi pembohong, apalagi pembangkang."

"..."

"Baiklah. Tidak masalah jika kau ingin menyimpan rahasiamu sendiri. Sepertinya kau sudah menyadari kesalahanmu hari ini. Jangan kauulangi lagi. Kau mengerti, Norman?"

"Iya, Ayah."

"Sekarang pergilah tidur."

.

.

{tbc}