The Promised Neverland © Kaiu Shirai. Ilustrasi © Posuka Demizu. Penulis tidak mengambil keuntungan finansial apa pun dari karya transformatif ini
The Death of The Fireflies © aria-cheros (arianadez dan psycheros)
[Bab 3]
.
.
Tantangan terbesar dalam melakukan ekspedisi ini adalah mengeluarkan Norman dari mansion tanpa ketahuan.
Demi menjaga Norman, mansion keluarga Ratri dilengkapi berlapis-lapis sistem pengaman. Selain para pelayan yang telah terlatih untuk mengawasi Norman diam-diam, James juga memasang jaringan kamera pengintai, gerbang otomatis, dan—jika mereka cukup beruntung bisa lolos dari semua itu—pasukan anjing penjaga sebagai garda terakhir.
Norman telah menghapalkan posisi kamera pengintai di sekeliling rumah dan jangkauan rekam mereka. Tidak akan ada celah untuk menyelinap seandainya Emma, Ray, dan Norman adalah orang dewasa, tapi dengan tubuh mungil anak-anak, mereka bisa memperoleh sedikit ruang gerak di titik buta kamera dengan cara berjalan melipir pada pagar tanaman di depan gerbang utama.
Gerbang utama adalah sepasang pintu teralis tinggi dengan sistem kunci otomatis yang hanya dapat dibuka dengan memasukkan kode dari Ruang Kendali—sebuah ruang di menara utara mansion di mana Cislo mengawasi kondisi sekitar melalui belasan televisi. Cukup sulit mencari siasat agar gerbang itu terbuka tanpa sepengetahuan Cislo. Bukan saja Cislo hampir selalu berjaga di Ruang Kendali, kecuali pada hari-hari tertentu di mana ia harus merawat kebun, sementara tugas kendalinya digantikan oleh Vincent yang jauh lebih teliti. Norman juga tidak pernah tahu kode rahasia pintu yang secara berkala selalu diganti.
"Gerbang itu akan kembali terkunci jika kedua sensor di masing-masing pintu saling bergesekan, bukan? Bagaimana kalau kita menyelipkan sesuatu di antara kedua pintu itu untuk mencegah sensornya bersentuhan?"
Emma mengusulkan ide gila tapi brilian itu dengan nada seringan mengajak jajan es loli. Mereka bertiga duduk bersila di ranjang Norman, kasak-kusuk mendiskusikan tahap terakhir rencana ini sebelum eksekusi. Peta yang sudah terfiksasi dan denah lengkap mansion bertebaran di atas seprai bersama spidol warna, pensil, dan penggaris.
Ray melemparkan pandangan setengah tertarik, setengah meremehkan. Agaknya ia sudah amat terbiasa mendengarkan gagasan-gagasan Emma untuk tahu bahwa separuh buah pikiran anak perempuan itu memang patut dipertimbangkan, sementara separuh yang lain lebih baik diabaikan demi keberlangsungan hidup panjang. Dan demi memutuskan ide kali ini termasuk golongan mana, perlu disimak lebih lanjut.
"Yeah? Dan benda apa yang cukup tipis untuk bisa diselipkan di antara dua pintu tanpa ketahuan, tapi cukup tebal untuk menghalangi sensor?" Ray bertanya menguji.
Norman mengangguk, ikut penasaran. Bukannya Norman tidak pernah mencoba cara semacam itu. Dulu ia pernah mengganjal pintu gerbang memakai batu, tapi langsung ketahuan Cislo dari kamera pengintai. Ujung-ujungnya, seperti biasa, Norman pun dimarahi Ayah.
Emma tersenyum nakal seperti anak rubah. Penuh gaya macam pesulap bersiap memunculkan trik terbesarnya, ia merogoh saku dada celana monyetnya dan mengeluarkan sebungkus—
"Permen karet!"
Ray mengangkat satu alis, ekspresinya lempeng. Norman menelengkan kepala seperti anak burung hantu kebingungan.
"Aku menonton di film laga-nya Yuugo seminggu yang lalu—"
"Ugh, Emmaaa ... kau ini tidak me—"
"Ray, dengarkan dulu! Aku tahu memang agak bodoh memakai film sebagai acuan—"
"Bukan cuma agak bodoh, sih."
"—tapi tidak ada salahnya mencoba!" Emma tersenyum penuh tekad seolah tidak ada interupsi. "Kalau gagal, kita pikirkan cara lain. Kalau berhasil, kita untung besar. Permen karet mudah didapat, tidak mencurigakan, dan cukup kecil untuk ditempelkan di salah satu sensor tanpa ketahuan. Ini media yang ideal."
Ray dan Norman berpandangan.
"Yah, kalau gagal, kalian bisa bilang iseng saja menempelkan permen karet itu. Kurasa Ayah akan maklum." Norman mengangkat bahu. "Namanya juga anak-anak. Kita suka iseng dan penasaran akan banyak hal, 'kan?"
Norman menggambar lingkaran merah pada denah gerbang utama dan menulis "PERMEN KARET" beserta hari dan perkiraan jam kedatangan Ray dan Emma.
Tantangan selanjutnya adalah para anjing penjaga. James mempekerjakan seorang pria bongsor bertampang muram beserta lima ekor anjing Dobermann-nya untuk berpatroli di sekeliling mansion. Norman tidak tahu banyak tentang pria itu, kecuali bahwa James memanggilnya Mr Sonju dan ia tidak ramah pada anak-anak.
Masih jelas dalam ingatan Norman satu-satunya pertemuan langsungnya dengan Mr Sonju. Kejadiannya setelah kunjungan Ray dan Emma pertama kali. Setelah Norman bercerita bahwa anjing-anjing Dobermann itu hampir saja mengganyang kedua teman barunya, James mengajak Norman mengunjungi Mr Sonju di rumahnya, sebuah gubuk mungil berdinding batu bulat di dekat kebun labu belakang mansion.
"Mulai hari ini, Norman akan sering kedatangan dua orang teman. Ray dan Emma, anak desa bawah bukit. Tuan tidak perlu mengerahkan anjing-anjing Tuan untuk menyerang mereka," James menyampaikan halus.
Mr Sonju menggeram pelan. Anjing-anjing Dobermann-nya, sedang tidur santai di bawah meja, langsung bangkit waspada dengan telinga terangkat. Norman bersembunyi di belakang punggung ayahnya.
"Anjing berbeda dengan manusia, Tuan Ratri. Sulit kalau harus menghapalkan pengecualian-pengecualian seperti itu. Saya tidak bisa janji mereka akan selalu menghindari anak-anak itu. Lagipula," Mr Sonju menatap Norman, mata gelapnya menusuk dingin. Norman menyadari ada tiga guratan putih melintang di muka pria itu, seperti bekas cakaran beruang. "Bukankah lebih aman jika Tuan Kecil tidak bergaul dengan anak-anak desa?"
Norman menelan ludah, mengeratkan cengkeraman ke mantel James, tapi tetap menatap Mr Sonju dengan berani.
"Bersosialisasi dengan anak seumuran akan baik untuknya. Saya percaya Mr Sonju mengerti," James menepuk kepala Norman, masih tersenyum pada lawan bicaranya.
Mr Sonju merengut. Untuk sesaat tampaknya ia sedang menimbang-nimbang untuk mengusir Norman dan James atau memerintahkan piaraannya untuk menyerang mereka, tapi akhirnya ia hanya menggerutu sembari menggelengkan kepala.
"Baiklah. Hanya dua bocah. Beri aku saputangan milik mereka agar anjing-anjingku bisa menghapalkan aromanya. Tapi—" Mr Sonju mengacungkan satu jari kurus panjang berbonggol-bonggol, "—aku tidak janji akan berhasil seratus persen. Kalau anak-anak itu bertindak di luar kewajaran, kami akan tetap menanganinya dengan … prosedur yang seharusnya." Ia menekankan kalimat terakhir seperti serigala menggeram mengancam musuh.
Pertemuan itu amat mengintimidasi hingga Norman masih merinding jika mengingatnya. Ia selalu mewanti-wanti Ray dan Emma untuk berhati-hati, tidak gegabah atau berbuat aneh agar pasukan anjing Dobermann Mr Sonju tidak curiga.
"Tapi, kalau mereka melihatku keluar gerbang atau mencium aromaku, sudah pasti mereka akan datang mengejar," Norman berujar cemas, memutar-mutar spidol di antara jemarinya.
Ray dan Emma saling lirik. Kemudian ekspresi mereka merekah dalam cengir nakal identik.
"Kalau soal itu, kami sudah punya ide!"
Mereka menjelaskan saling bersahut-sahutan tentang rencana meminjami Norman pakaian untuk mengelabui indera penciuman para Dobermann. Kebetulan mereka bertiga punya kaos dan celana kargo kembar, hadiah Natal dari Isabella. Norman akan memakai kaos dan celana Ray yang diselundupkan dalam tas ransel.
"Tapi, walaupun sudah memakai bajumu, aku tetap punya aroma khas," Norman memperingatkan. Akan konyol sekali jika mereka tertangkap setelah Norman bersusah-susah ganti pakaian.
Namun, tampaknya kedua temannya juga sudah memikirkan itu, sebab mereka melemparkan tatapan geli penuh rahasia, seakan sudah memecahkan suatu misteri besar sementara Norman masih meraba-raba.
"Kami tahu. Itulah sebabnya kami mencatat jadwal patroli anjing-anjing Mr Sonju," Ray mengumumkan bangga, mengeluarkan secarik kertas panjang seperti nota belanja dari sakunya. Dalam kertas itu tercatat nama-nama hari, jam, dan posisi para anjing penjaga saat Ray dan Emma tiba di gerbang utama.
"Mr Sonju tentu sangat disiplin," sambung Emma cepat. "Dia selalu berpatroli di waktu yang sama, tidak pernah terlambat atau terlalu cepat. Setiap kali aku dan Ray tiba pada pukul sepuluh pagi, Mr Sonju pasti muncul di belokan sebelah barat mansion, baru menyelesaikan putaran patroli."
"Dan jika kami datang pukul setengah sebelas, Mr Sonju tak pernah keliahatan. Kemungkinan ia sedang berpatroli di bagian belakang mansion."
"Tapi, kalau kami datang pukul sebelas, Mr Sonju sudah berbelok lagi di sebelah barat!"
"Hm, jadi Mr Sonju membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mengitari mansion," Norman menarik kesimpulan, mengetuk-ketuk dagu dengan ujung spidol. Ray dan Emma mengangguk bersemangat.
"Artinya, jika kita meninggalkan mansion saat Mr Sonju sedang berpatroli di belakang …." Norman menggambar rute patroli Mr Sonju dengan spidol biru, kemudian menggambar tiga manusia lidi saling bergandengan, menyusup keluar lewat pintu depan. Di bawah tiga figur itu, Norman menulis: 10.30 – 10. 40 AM. Mereka bertiga nyengir puas.
"Kemungkinan kita tidak akan tertangkap!"
.
.
Di luar dugaan, penyelundupan Norman berjalan mulus.
Supaya tidak mencurigakan, Norman harus berganti pakaian di taman, di balik rimbun rerumputan. Agak canggung juga sebenarnya, apalagi di sana ada Emma (dua bocah itu berjaga-jaga di sisi lain, memastikan James dan para pelayan tidak mengintip-intip). Tapi hei, sebuah petualangan membutuhkan keberanian lebih, bukan?
Selanjutnya, Norman mengambil ransel yang sudah ia sembunyikan di dalam lubang pohon. Meski sudah berusaha memadatkan barang bawaan seefektif mungkin, ransel Norman tetap lebih besar dari milik kedua temannya, yang hanya membawa ransel jalan-jalan. Proses penyelundupan ransel itu dari kamar ke taman pun cukup menegangkan, terlebih Norman harus melakukannya sendirian. Ia mengendap-endap di malam buta, tanpa senter, keluar dari pintu kaca ruang makan, lalu menyumpalkan ransel gembung itu ke lubang di bawah akar pohon.
"Kelihatannya berat. Biar aku saja yang membawanya!" Emma sigap melepaskan ranselnya sendiri lalu menawarkannya pada Norman, tapi bocah lelaki itu menggeleng.
"Terima kasih, tapi tidak perlu. Aku bisa membawanya sendiri," kata Norman, yang kemudian memeluk ranselnya.
Emma mengerutkan kening. "Kau yakin?"
Sejujurnya tidak. Dalam pangkuan saja ransel itu sudah terasa berat. Norman tidak dapat membayangkan bagaimana capeknya harus menggendongnya sambil berlari. Tapi, meminta Emma untuk menggendongkan beban ini untuknya ...
"Kita bagi-bagi saja isinya," Ray berkata cepat, habis sabar. Cekatan, ia membongkar kembali ransel Norman dan membagi-bagi isinya merata.
"Ya ampun, Norman. Bawaanmu banyak sekali. Kau kira kita mau kemping?" Ray menyeletuk, memutar bola mata. "Masa sampai membawa—apa ini—pisau lipat!? Buat apa?"
Norman mengangkat bahu, salah tingkah. "Jaga-jaga saja, 'kan?"
Gara-gara rusuh membagi ulang beban, jam telah menunjukkan pukul setengah sebelas ketika mereka selesai mengemasi ransel. Waktu semakin sempit. Berkedok main kejar-kejaran, mereka bertiga bergegas meninggalkan halaman samping ke area depan, pura-pura berteriak dan tertawa-tawa padahal jantung mereka sudah jumpalitan.
"Tadi permen karetnya benar-benar sudah menempel, kan?" bisik Ray tegang ketika mereka mendekati pintu gerbang. Pintu besi hitam itu sudah kelihatan mengintimidasi di hari biasa, tapi kini ia terlihat seperti gerbang neraka.
Emma mengangguk, meski sambil menelan ludah takut-takut. "Uh-huh. Sudah. Um, semestinya sih, sudah."
"Emmaaaa!" Ray berteriak jengkel dengan suara lirih.
"Sush! Ayo, kita coba saja!"
Berdebar-debar, mereka mendorong pintu teralis itu. Norman menyipitkan mata, tidak berani banyak berharap. Ray merapalkan doa dalam bisikan.
"Oh!" bisik Emma gembira, ketika pintu mengayun terbuka dengan lancar. Ia nyengir penuh kemenangan pada Ray dan Norman, yang membalasnya dengan putaran bola mata (Ray) dan acungan jempol apresiatif (Norman).
Setelah memastikan pasukan anjing belum mencapai sekitar gerbang, mereka melipir dengan punggung menempel rapat pada pagar tanaman menuju ke daerah perbatasan antara area mansion dan hutan. Norman berjengit setiap kali daun tanaman pagar bergesekan dengan ranselnya, menimbulkan suara kerisik tajam.
Semoga anjing-anjing itu tidak dengar, semoga anjing-anjing itu tidak dengar; doanya dalam hati.
Setelah rasanya berjam-jam, mereka akhirnya tiba di penghujung pagar. Tepian hutan hanya berjarak lima sampai enam meter dari tempat mereka berdiri, terpisah hanya oleh jalan tegel jalur patroli, tapi rasanya sejauh penghujung bumi.
Emma mengambil ancang-ancang memimpin sementara Ray memposisikan diri di belakang Norman. "Kalian siap? Dalam hitungan ketiga kita lari ke hutan."
Norman mengangguk, menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya lewat mulut. Jantungnya berdegup cepat, tangannya mulai berkeringat. Ia sudah memakai sepatu ekstra nyaman dan berlatih lari-lari di sepanjang kordior demi momen ini.
"Satu, dua ... tiga!"
Sekarang, atau tidak sama sekali.
Norman memacu kaki-kaki kurusnya secepat mungkin. Sepatunya berdebam ringan di atas tegel dan ia sempat terpeleset sedikit, tapi berhasil menemukan keseimbangan sebelum terlambat. Ia memokuskan pandangan pada Emma yang kini telah berhasil melompati perdu pendek di pinggir hutan.
"Cepat!"
Mengerahkan seluruh kemampuan, Norman berlari. Jalan tegel berhasil diseberangi. Perdu berhasil dilompati. Pohon-pohon berlalu di kanan kirinya dalam kilasan kabur. Sesekali Norman mendengar keretak di antara semak, barangkali tikus atau bajing tanah yang ketakutan. Ia tak peduli. Pandangannya lurus ke depan, pada rambut jingga Emma yang hilang-timbul di antara pepohonan pinus seperti lentera penunjuk jalan.
Otot-otot panas bagai tersulut api, pipi merah akibat pembakaran kalori. Norman tidak berhenti. Di belakang ia mendengar Ray, debam langkah dan napasnya mendorong Norman untuk terus maju. Keringat mengalir di pelipis. Ransel menggesek bahu dan punggung. Mereka berlari, seolah anjing-anjing Mr Sonju mengejar mereka dengan ganas. Mereka berlari seolah tidak ada esok hari.
Lari paling berat yang pernah dilakukan Norman seumur hidupnya.
Tepat pada saat Norman yakin dirinya akan pingsan, pandangannya mulai memburam entah oleh keringat atau kelelahan. Mereka tiba di sebuah tanah lapang di atas bukit. Emma memanjat ke atas batu besar seperti seorang kesatria setelah memenangkan peperangan sambil tersenyum berpuas diri.
"Kurasa sudah cukup aman! Kita bisa mulai jalan kaki dari sini!" seru Emma ceria, sama sekali tak tampak kelelahan.
Norman hanya mengangguk, terlalu tersengal-sengal untuk bicara. Ray memapahnya ke pohon terdekat lalu membukakan botol minumnya. Norman menenggak jus jeruknya cepat-cepat, memejamkan mata menikmati dingin cairan itu melewati tenggorokan.
"'Makasih," desah Norman, mengelap keringat.
"Kau tidak apa-apa?" Emma meloncat turun dari batu untuk berlutut di samping mereka berdua, menatap Norman dengan cemas. "Sori. Tadi larinya terlalu cepat, ya?"
Norman menggeleng. "Tidak apa-apa, Emma. Kita memang harus cepat, sebelum orang di rumah menyadari kepergian kita," cengir Norman menghibur. "Lagipula, olahraga seperti ini bagus untukku. Biar aku cepat bertambah tinggi!"
Emma terkikik. Angin berembus dari suatu tempat di dalam hutan, mengusik pepohonan, membelai tengkuk yang kepanasan. Norman menyandarkan kepala ke pohon sambil menghirup napas dalam-dalam, masih menikmati kesejukan.
"Hei, Norman. Coba lihat itu."
Norman mengikuti telunjuk Ray yang mengacung ke suatu tempat di seberang bukit. Di antara hijau segar pinus, memisahkan diri dari hamparan pedesaan di bawahnya, adalah sebuah mansion dengan atap bata semerah rubi. Ia tampak begitu sendirian, sebuah bangunan besar di antara pepohonan, terasing dari dunia luar.
"Dia kelihatan sangat kesepian," gumam Norman, menelengkan kepala. Sepi dan kosong, seperti Norman selama ini. Seperti Norman jika Ray dan Emma tak pernah menemukannya.
Seakan mendengar isi hatinya, Ray dan Emma segera meraih tangan Norman. Meski masih kecil, tangan mereka kuat dan genggaman mereka mantap. Dalam gandengan mereka berdua, Norman merasa aman.
"Sejauh apapun kau tinggal, kami akan tetap menjemputmu. Kami tidak akan membiarkanmu sendirian."
Norman menunduk, tersenyum malu-malu. Perut dan dadanya terasa hangat, tapi bukan karena gerah musim panas. Rasa rawan itu, rasa yang membuatnya ingin terisak itu, hadir dalam kehangatan serupa ketika ia masih memiliki Ayshe.
Rasa rawan itu adalah rasa haru yang lahir dari keberadaan seorang kawan.
.
.
"Kalian tahu? Rumpun cicuta disebut sebagai tanaman paling mematikan di Amerika Utara karena seluruh bagiannya mengandung racun."
Emma, baru saja kembali dari bersusah payah memetik segenggam bunga cicuta putih di sebuah tebing rendah, memekik ngeri dan melemparkan bunga-bunga brebentuk payung itu ke tanah. Ia mengelapkan tangan ke kaos sambil melempari Ray tatapan jengkel.
"Kok tidak bilang dari tadi, sih?" Emma dongkol, memanyunkan bibir.
Ray mengangkat bahu. "Habis, kau kelihatannya serius sekali memanjat tebing itu. Aku tidak enak hati menghancurkan kesenanganmu."
"Terus bagaimana, dong? Aku sudah terlanjur memegang mereka!"
"Ya, kita lihat saja." Ray memasang wajah serius. "Kalau dalam lima belas menit kau mulai sakit perut, kejang-kejang, dan mulutmu mulai berbusa—"
"Raaaay!" Emma berbalik kepada Norman, matanya memelas. "Norman, bagaimana ini?"
Norman tertawa kecil, separuh kasihan separuh geli. Diambilnya tisu basah dengan alkohol pembersih dari saku samping tas untuk mengelap tangan Emma. "Jangan khawatir. Tanaman cicuta memang beracun, tapi hanya kalau kita memakannya. Kalau hanya dipegang saja, aman."
Emma melongo. Kemudian ekspresinya berubah komikal dan ia menerjang Ray untuk menabokinya. "Ray jahaaat!"
Bocah lelaki itu hanya terpingkal-pingkal.
Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri hutan. Meskipun bagi anak kecil hutan itu sudah dalam dan jauh dari pemukiman, tentunya ini masih merupakan area hutan luar bagi orang dewasa. Terbukti, masih ada jalan setapak berkelok di antara pepohonan seperti ular raksasa, tanahnya yang cokelat gundul menunjukkan bahwa ia cukup sering dilalui. Mungkin, Norman menduga dalam hati, James dan para pelayan juga selalu melalui jalan ini dalam patroli rutin mereka.
Jantung Norman berdesir setiap kali teringat James dan para pelayan. Sudahkah mereka menyadari kepergian Norman? Apakah mereka tahu ke mana ia akan pergi? Membayangkan apa yang akan dilakukan James jika mengetahui bahwa Ray dan Emma telah mendukung aksi nakalnya membuat Norman cemas. Mengingat hal-hal mengerikan yang diceritakan James tentang dunia luar membuatnya mulas. Bagaimana jika perjalanan ini memang berbahaya? Bagaimana jika—
"… menurutmu, Norman?"
Ray dan Emma menatapnya penuh ekspektasi, menanti jawaban. Pipi Norman memerah. Ah, padahal mereka sedang melakukan penjelajahan bertiga, kenapa Norman malah melamun sendirian?
"Eh, maaf, aku tidak dengar. Kau tanya apa barusan, Ray?"
"Duh, Norman. Di hutan jangan melamun, kalau kau diculik peri bagaimana?" Emma mencubit pipinya gemas. Norman meringis salah tingkah.
"Maaf, Emma."
"Wajar saja dia melamun. Bosan mendengar ocehanmu yang aneh-aneh, sih," Ray menyeletuk. Emma menjulurkan lidah. "Masa, tadi Emma bertanya kenapa penyelam skuba tidak tenggelam!"
"Itu 'kan pertanyaan masuk akal!"
"Mana mungkin tenggelam, mereka 'kan membawa tangki oksigen, dan sudah pasti bisa berenang," Ray mendengkus.
"Kau pernah mencoba mengangkat tangki oksigen, belum? Aku pernah. Berat, tahu. Bayangkan kau membawa benda seberat itu ke dalam air. Pasti akan membuatmu tenggelam ke dasar laut."
"Tapi buktinya tidak, tuh."
"Nah, kenapa bisa?"
"Mungkin aku bisa sedikit menjelaskan," Norman melerai, sementara Ray dan Emma mulai menarik-narik lengan Norman ke sisi masing-masing seolah berharap ia memihak salah satunya. "Pada dasarnya, sebagian besar manusia sulit untuk tenggelam. Secara natural, tubuh kita akan mengapung jika masuk ke air."
"Masa, sih?" Ray terdengar tidak yakin. "Lalu kenapa ada orang tenggelam?"
"Banyak alasan. Mereka panik dan bergerak liar di dalam air, yang justru membuat mereka tidak bisa mengapung; air tempat mereka tenggelam cukup berarus; atau mereka cedera dan pingsan sehingga tidak sengaja menghirup air."
"Lalu, bagaimana dengan para penyelam skuba, Norman?" tanya Emma.
"Massa jenis air laut lebih besar daripada tubuh manusia, jadi kita lebih mudah mengapung di air laut. Karena itulah, penyelam skuba tidak akan tenggelam ke dasar laut hanya karena membawa tangki oksigen. Bahkan, mereka masih harus memakai sabuk pemberat tambahan untuk bisa mencapai kedalaman tertentu."
Ray dan Emma berpandangan, saling setuju tanpa kata-kata bahwa tindakan semacam itu terdengar sangat berbahaya.
"Tapi, bagaimana kalau tiba-tiba di dalam laut ada bahaya?" Ray belum puas. "Bukankah penyelam harus segera naik? Pemberat itu akan menyulitkan mereka berenang ke permukaan, bukan?"
"Benar. Itulah sebabnya penyelam skuba bukan orang sembarangan. Kita harus lulus ujian dan memperoleh sertifikat dulu sebelum diizinkan menyelam. Bagian dari tesnya adalah cara-cara mengatasi kepanikan dan menyelamatkan diri di situasi darurat. Selain itu—" Norman mengeratkan gandengannya pada kedua temannya, tersenyum, "—penyelam profesional sekalipun tidak disarankan untuk menyelam sendirian. Mereka harus pergi bersama teman. Istilahnya—"
"Buddy system," Ray dan Emma menjawab serentak, lalu tertawa dan saling menjitak kepala. Itu adalah tradisi mereka jika mengucapkan suatu hal berbarengan. Dengan tingkat kekompakan mereka, Norman hanya berharap kedua bocah itu tidak gegar otak suatu hari nanti.
"Seperti kita sekarang, 'kan?" Emma menggelayut di lengan Norman.
"Yeah. Kita akan melakukan ini bersama-sama. Kalau nanti dimarahi, kita bakal dimarahi bersama." Ray nyengir jail.
Mau tak mau Norman membalas cengirannya. Jantung Norman masih berdegup kencang, tulang punggungnya masih tegang seakan di belakang mereka ada sesuatu membuntuti, tapi setidaknya ada Ray dan Emma di sini. Norman masih takut dan cemas, tapi lebih kuat dari dua perasaan itu adalah rasa antusias. Antusias mencari jawaban untuk semua pertanyaan Emma. Antusias mendengarkan Ray dan secara lembut memamerkan pengetahuannya tentang alam.
Antusias menikmati kebebasan yang baru saja ia menangkan.
.
.
Ray dan Emma bagaikan menemukan pangeran peri kesepian. Demikianlah Emma kerap mengibaratkan pertemuan pertama mereka.
Norman tidak menyanggah. Sebelum kehadiran kedua teman barunya, Norman mungkin memang terkurung dalam sihir peri. Terjerat seperti mangsa tak berdaya di sarang laba-laba dalam koridor-koridor panjang suram tanpa akhir, patung-patung marmer berwajah beku, dan sosok-sosok yang berpesta pora dalam lukisan tapi tidak pernah mengundang Norman.
Dalam dunia di balik tembok, Norman merasa sebagai satu-satunya penghuni. Padahal, meski di beberapa kesempatan seluruh tim memang harus berangkat mendampingi James dan mempercayakan rumah besar itu kepada Norman seorang, sesungguhnya ia jarang benar-benar sendirian. Selama bertugas, James kerap hanya ditemani Zazie, bodyguard kepercayaannya. Guru-guru privatnya datang silih berganti, lima jam dalam sehari. Barbara, Cislo, Vincent, bahkan Mr Sonju dan pasukan Dobermann-nya tetap tinggal di mansion menjaga Norman.
Tapi bermain dengan mereka berbeda dengan bermain bersama anak seumuran. Barbara pandai memasak dan selalu menemaninya minum teh, tapi ia terlalu bawel dan tidak pandai mendongeng. Cislo selalu mengajaknya berkebun jika jadwalnya telah tiba, tapi ia tidak pernah membiarkan Norman melakukan tugas berkebun sungguhan. Vincent, butler sekaligus penasehat kesayangan James, sangat suka membaca buku; tapi sebagai tangan kanan kepala keluarga Ratri tugas utamanya adalah memastikan segala hal di mansion berlangsung baik, bukan membacakan buku cerita untuk Norman.
Mr Sonju? Ah, jangan ditanya lagi. Semakin jarang Norman dan Mr Sonju bertemu, semakin baik bagi mereka berdua.
Di mansion tua itu waktu seakan tertahan di langit-langit. Norman sulit menebak siang atau pun malam atau apakah waktu sungguh-sungguh berputar. Setiap hari adalah adalah produk cetakan identik, bergulir lambat dalam aktivitas serupa: bangun di jam yang sama, sarapan dengan menu itu-itu saja, sekolah, bermain piano atau biola bersama Miss Musica di ruang dansa tanpa pesta.
Sebuah kehidupan panjang berulang-ulang, seperti gerakan mekanis pada boneka di kotak musik. Tak peduli betapa banyak pun variasi gerakan diciptakan untuknya, pada akhirnya si boneka akan kembali melakukan gerakan yang telah ditentukan. Tak peduli berapa kilometer pun jam digital Norman menghitung langkahnya, ia hanya menjejaki tempat-tempat di balik pagar tanaman tinggi menjulang.
Sebuah kebebasan semu.
Norman bukannya sedih menjalani hidup seperti ini. Selama tidak membutuhkan perjalanan ke luar mansion, semua permintaannya dituruti. Setiap hari, para pelayan selalu berhasil membuatnya tertawa. Ia senang belajar bersama para guru dan berduet bersama Miss Musica. Tapi jika menilik lebih dalam, ia mungkin juga tidak benar-benar bahagia.
Di malam hari, berbaring nyalang memandang atap kaca berbentuk peta dunia, Norman bertanya-tanya bagaimana jadinya jika satu saja komponen dalam mekanisme ini berubah. Jika ibunya masih hidup, misalnya. Ibu, sosok yang hanya dikenal Norman dari sebuah lukisan di kamar pribadi James, adalah seorang perempuan jelita bermata lembut. Ia adalah seorang martir, mengorbankan nyawa demi melahirkan Norman ke dunia.
Apakah Ibu tahu bahwa aku tidak pernah benar-benar melihat dunia? Bagaimana perasaan Ibu di surga melihatku dikurung seperti ini—marahkah ia kepada Ayah?
Membayangkan Ibu, dengan cincin cahaya malaikat di atas kepala dan sayap keperakan membentang dari ujung selatan sampai utara, bersidekap sembari menceramahi James; membuat Norman cekikikan dalam gelap.
Benar, Bu. Hukum saja Ayah! Marahi dia sampai kapok dan mengizinkan aku keluar rumah!
Sebab bagaimana pun juga, mematuhi aturan James setiap saat benar-benar menguras kesabaran. Norman juga ingin menghirup udara segar, bukan udara ruangan yang meski harum parfum tapi terasa pengap (Norman sudah lama curiga ia sakit-sakitan karena terlalu banyak menghirup udara tua). Norman ingin bermain kejar-kejaran bersama teman seumuran, bukan dengan Cislo dan timnya yang selalu mengalah karena mengira itulah satu-satunya cara menyenangkan Norman. Norman ingin melepaskan diri dari kutukan peri. Norman ingin punya teman lagi. Norman ingin, Norman ingin—
"Ayah, boleh aku mengunjungi anak-anak di desa? Sebentar saja, Yah. Cislo atau Barbara akan menemaniku."
"Aku tidak minta kado apa-apa untuk ulangtahun, Yah. Cukup jalan-jalan keluar saja bersama Ayah. Boleh, ya?"
"Cuma keluar gerbang saja apa bahayanya, sih!? Kenapa Ayah mengurung Norman seperti ini!?"
"Kautahu kenapa, Norman. Ini semua demi kebaikanmu."
Kadang Norman hanya mengangguk dan menyerah. Kadang ia menangis, menjerit, dan marah-marah. Kadang Norman berharap James mengajak semua pelayan pergi dan tak pernah kembali, agar tak ada lagi penjaga dan Norman bisa melarikan diri.
Namun, segera setelah mengharapkan itu, rasa bersalah menguasainya. Betapa hinanya, mendoakan bencana bagi orang lain—bagi ayahnya sendiri!—hanya agar ia dapat bermain di luar rumah. Rasa bersalah itu menggulung Norman tanpa ampun, hingga ia pun diam-diam menebus dosa dengan bersikap ekstra manis pada para pelayan maupun James. Pada saat-saat seperti itu semua orang memujinya sebagai anak paling anteng dan penurut; tapi dalam hati Norman justru merasa sedang menjadi anak paling nakal.
Demikianlah kutukan menjadi Norman Ratri, hidup bergelimang kemewahan tapi tak pernah sungguh-sungguh menikmati kehidupan.
Sampai kemudian, tanpa terduga, Ray dan Emma melemparkan diri ke dalam dunianya. Sepasang petualang bersenjata palu yang memecahkan kubah sihir mansion tua di atas bukit.
Norman mengingat jelas hari itu, telah menyimpannya dalam kotak memori istimewa berhias pita biru. Malam sebelumnya, Norman sempat bermimpi tentang Ibu. Ibu selalu hadir pada titik-titik terparah kesendirian Norman. Ketika bocah lelaki itu menimbang-nimbang harga yang lebih pantas untuk sebuah kebebasan, antara kematian ayahnya atau kematiannya sendiri. Ketika bocah itu mulai berpikir mati pun tak mengapa asalkan sempat melihat dunia luar sekali lagi.
Ditingkahi cahaya lembut bulan purnama, Ibu turun dari peraduannya di surga, menembus atap kaca peta dunia. Gaun biru tipisnya melambai gemulai bagai kelopak bunga di dalam air. Matanya hangat, senyumnya membuat Norman merinding senang. Jemari Ibu menyisir rambut Norman seperti memanen benih-benih rumput. Senandungnya bergema di tengah malam ditemani burung hantu berdekut-dekut.
Saat terjaga dari mimpi, posisi tidur Norman telah melintang empat puluh lima derajat di atas kasur, kepalanya menggantung di sisi ranjang, rambutnya jabrik seperti nanas. Ada jejak-jejak air mata di pelipisnya.
Setiap kali memimpikan Ibu, Norman selalu menangis.
Barangkali Ibu diam-diam membimbingnya atau barangkali kebetulan belaka; pagi itu Norman memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi seluruh taman mansion. Biasanya Norman enggan menjamah taman area depan. Gerbang utama yang berdiri angkuh membatasi jarak pandangnya menegaskan kepada Norman betapa ia di sini hanyalah tawanan. Norman benci gerbang utama itu, juga taman depannya yang dipenuhi semak viburnum berbuah biru.
Tapi hari itu adalah hari yang janggal. Norman pergi mengunjungi semak-semak di taman depan, menggodai buah beri mereka yang mulai ranum kebiruan, tanpa rasa benci ataupun enggan. Barangkali hanya kebetulan. Barangkali memang takdir.
"Heeeii! Kau yang di sana! Tolong kami!"
Norman terlonjak kaget sampai tak sengaja meremas penyek sebutir beri. Ia menoleh begitu cepat ke sumber suara hingga lehernya pegal, mulutnya menganga tak percaya menanggapi pemandangan yang menyambutnya.
Sepasang bocah, satu berambut jingga seperti jeruk, satu berponi hitam panjang seperti sayap gagak. Mereka berteriak-teriak memanggilnya dari balik jeruji gerbang, mata membulat panik, tangan menggapai-gapai. Suara anjing-anjing pejaga bergema di balik punggung keduanya, siap mengganyang daging manapun yang pertama kali tersentuh gigi-gigi tajam mereka.
"Jangan hanya diam saja! Lakukan sesuatu, dasar bodoh!"
Kaki Norman telah membawanya melesat menuju gerbang sebelum otaknya memproses apa yang sedang terjadi. Ia berteriak memerintahkan Cislo untuk membuka akses, tahu Cislo akan dengar entah bagaimana caranya. James telah membuat sistem di penjara indah ini sedemikian rupa agar Norman dapat meminta pertolongan setiap saat jika muncul bahaya tak terduga.
"Aaaargh! Cepat, cepat! Buka pintunya cepaaat!"
Pintu mengayun terbuka. Norman menarik lengan kedua bocah itu tepat ketika salah satu anjing menerkam. Namun ternyata mereka jauh lebih berat daripada perkiraan, sehingga Norman kehilangan keseimbangan dan jatuh terlentang, tubuh lembeknya tertindih dua tubuh lain yang lebih keras darinya. Samar-samar Norman merasakan sikunya terluka, tergesek permukaan tegel kasar.
"Sonju! Kendalikan anjing-anjingmu!"
Bentakan berang Cislo terdengar dari mulut salah satu gargoyle di sisi-sisi gerbang. Anjing-anjing penjaga masih menyalak dengan binalnya, kaki-kaki mereka meranggeh-ranggeh marah melewati celah-celah pintu yang kembali menutup. Norman berbaring tak bergerak, matanya nanar menatap langit kelabu musim gugur, kepalanya masih sibuk mencerna peristiwa beberapa detik itu.
"Hei, kau tidak apa-apa?"
Dua siluet memasuki area pandangnya. Satu rambut hitam, satu rambut jingga. Dua pasang mata, hijaunya hampir senada. Mereka menunduk menatap Norman dengan wajah cemas luar biasa, seakan khawatir kepala Norman cedera.
"Halo," sapa Norman, kedua tangan masih telentang tak bergerak. Anak-anak itu mengerjap, lalu saling pandang. Itulah kali pertama Norman menyaksikan kekompakan keduanya. "Namaku Norman. Boleh aku tahu nama kalian?"
.
.
Norman mengelap leleran keringat di pelipisnya dengan sapu tangan.
Sudah dua jam lebih mereka berjalan. Jalan setapak gundul telah mulai menghilang, digantikan jalan sempit yang hampir hilang dimakan semak-semak. Pohon-pohon semakin lebat dan tinggi, naungan mereka memberikan perlindungan dari panas matahari tapi juga menyebabkan udara pengap seperti kamar sauna. Emma masih memimpin di depan, sesekali menyibakkan rumput tinggi untuk memberi jalan bagi Norman, sementara Ray masih di belakang, seperti pengawal menjaga dari bahaya.
Norman menyipitkan mata melihat langit di antara rimbun dedaunan. Matahari sudah sedikit menggelincir dari puncak. Sudah waktunya makan siang.
"Bagaimana kalau kita istirahat dulu sejenak?"
Emma, sudah setengah jalan memanjat gundukan tanah setinggi dada, langsung menoleh dan memekik gembira.
"Yay! Pas sekali, aku sudah lapar!"
Mereka memilih sebuah tanah datar di bawah pohon pinus. Norman membuka kotak bekal dan membagikan jajan batangan yang kelihatannya seperti padatan kedelai berbalut cokelat.
"Mmm! Makanan apa ini?" tanya Emma mengunyah lahap. Belum sampai lima menit, jajannya tinggal setengah batang.
"Ini protein bar. Terbuat dari sumber protein seperti kacang-kacangan yang dipadatkan. Biarpun kecil, makanan ini mengandung banyak kalori sehingga membuat cepat kenyang. Benar, 'kan?" Ray menatap Norman untuk konfirmasi.
Norman mengangguk. "Makanan yang sangat tepat untuk ekspedisi, 'kan? Mengenyangkan dan tidak makan tempat!"
"Tapi dari mana kau mendapatkan protein bar ini?" Ray membaca label pada bungkusnya. "Di sini tertulis, 'Konsumsi Angkatan Udara. Tidak Untuk Diperjualbelikan'."
Emma ikut membaca bungkusnya. "Wah, iya. Ini termasuk ransum tentara. Orang biasa harusnya tidak bisa mendapatkannya, benar?"
Tertawa salah tingkah, Norman menjelaskan. "Benar. Kebetulan Ayah punya kenalan di militer, jadi kami terkadang mendapatkan kiriman ransum juga."
"Hmm," Ray mengerutkan alis sangsi. "Aku tidak tahu kita bisa mendapat ransum tentara hanya karena punya kenalan. Pamanku di Angkatan Darat, tapi dia tidak pernah mengirimiku makanan seperti ini."
Harusnya aku membawa protein bar komersil saja, batin Norman. Barbara selalu menyetok berbagai merk protein bar di inventori dapur mereka, dari yang komersil dan dijual di pasar swalayan sampai produksi khusus untuk kalangan tertentu seperti ini. Norman memilih ransum militer karena gizinya lebih seimbang, tapi sekarang ia melihat kenapa hal itu bisa membawa masalah.
Meskipun sudah berteman cukup lama, Ray belum menaruh kepercayaan penuh kepada Norman. Memberinya makanan dari sumber mencurigakan akan membuat Ray waspada.
"Mungkin ada perbedaan kebijakan di Angkatan Udara dan Angkatan Darat," Norman mengangkat bahu, tertawa canggung. "Ah, pakai ini saja, Emma," Norman mengalihkan topik, meminjamkan sapu tangan pada Emma yang mengelapkan tangannya ke celana.
"Terima kasih. Protein bar-nya enak sekali. Masih ada lagi, tidak?" Emma bertanya malu-malu.
Ray memutar bola mata. "Dasar rakus."
"Enak saja, bukan rakus! Aku 'kan sedang dalam masa pertumbuhan, wajar dong kalau makanku banyak!"
"Aku juga sedang tumbuh, tapi tidak makan sebanyak itu."
"Ha, lihat saja, kalau kau kuntet baru tahu rasa."
"Masih ada satu kok, Emma. Ini," Norman memberinya sebatang protein bar baru, yang diterima anak perempuan itu dengan riang. "Jangan khawatir, aku membawa bekal cukup, siapa tahu perjalanan kita sampai malam."
"Tunggu. Sampai malam?" Ray mengulang tajam. Norman menahan diri untuk tidak berjengit. "Kaubilang tempat kunang-kunang ini tidak terlalu jauh. Kenapa harus sampai malam?"
"Memang tidak jauh. Kita sudah separuh jalan," Norman berusaha agar suaranya terdengar kalem, "Tapi jaga-jaga saja. Lagipula, kalau pun sudah sampai, kita harus menunggu sore untuk melihat kunang-kunang, 'kan? Tidak mungkin mereka keluar saat masih terang!"
"Iya, Ray ini bagaimana, sih?" Emma terkikik.
Ray tampak tak terkesan. "Coba kaulihat lagi petanya, Norman."
Norman meraih gulungan peta dari saku ranselnya dan menggelarnya di tengah mereka bertiga. Ia telah menandai jalur yang telah mereka tempuh dengan spidol merah. "Lihat? Kita tinggal mengikuti jalan setapak mengitari bukit ini, dan sampailah. Kuperkirakan kita akan tiba pada pukul lima sore, tepat saat kunang-kunang mulai muncul."
Ada rasa kesal di dada Norman ketika Ray mengamati peta itu dengan kritis seolah tidak pernah melihatnya sebelumnya. "Tunggu. Padang rumput itu ada di pinggir sungai, kan? Dan sungai ada di bawah kita." Ray menunjuk garis biru berliuk di bawah jalur pilihan mereka. "Daripada mengitari bukit, kenapa tidak menyusur pinggir sungai saja? Kita akan tiba lebih cepat."
"Karena untuk mencapai sungai, kita harus menembus hutan," Norman mengetukkan telunjuknya pada spasi berwarna hijau di tengah peta, lengkap dengan gambar beberapa pohon pinus untuk mewakili hutan. "Tidak ada jalan di hutan ini. Kita bisa tersesat."
"Kita punya kompas," Ray berkeras, "Dan kalau berangkat sekarang, kita bisa menentukan arah dengan melihat arah matahari."
"Matahari yang mana, Ray? Apa kau tidak lihat hutan ini lebat sekali? Kita beruntung kalau bisa melihat langit tanpa halangan."
"Kalau begitu, pakai kompas."
"Kompas bisa berhenti berfungsi di dalam hutan. Kau tidak tahu, ya?"
"Dan hewan-hewan buas bakal keluar di malam hari. Kita bisa celaka kalau masih di jalan saat gelap. Kau tidak tahu?"
Mereka saling melotot. Alis Ray bertaut dalam, wajahnya terlihat benar-benar galak, tidak seperti saat ia pura-pura marah pada Emma. Norman merasakan pipi dan kupingnya memanas. Ia menggenggam tangan kuat-kuat untuk menahan cercaan yang sudah di ujung lidah.
"Hei, sudah. Jangan berantem begitu," Emma menengahi, menjentikkan tangan di depan Ray dan Norman seakan menyadarkan mereka dari sihir jahat. "Ayo kita rundingkan bersama. Tidak perlu pakai emosi."
"Emma, sudah jelas mengikuti jalan setapak adalah pilihan terbaik. Lebih aman," Norman berargumen, "Memang jadi lebih jauh, tapi kita tidak mungkin tersesat. Dan kalau pun terjadi apa-apa, orang-orang juga lebih mudah menemukan kita. Buku panduan penjelajahan hutan manapun akan bilang bahwa mengikuti jalan setapak adalah pilihan yang benar."
"Dasarmu cuma buku saja, sih. Kau 'kan tidak pernah main keluar rumah," sahut Ray pedas, langsung menusuk hati. "Em, kau paham, 'kan? Hutan ini toh tidak terlalu luas, dan jalannya turun ke sungai. Mana mungkin kita tersesat? Tinggal jalan lurus menuruni tebing saja, kok."
"Kau tidak tahu bahaya apa yang ada di hutan itu, Ray," sahut Norman tajam.
"Oh, memangnya kau tahu?"
"Teman-teman!" Emma meninggikan suara untuk memotong debat mereka. "Kita pikirkan dengan objektif, jangan malah bertengkar begini. Semakin lama kita bertengkar, hari semakin gelap. Kalian mau kita terjebak di sini terus?"
Ray dan Norman saling lirik, lalu menggeleng perlahan.
"Bagus. Nah, mari kita pertimbangkan pilihan kita. Pertama, jalan setapak. Keuntungan dari jalan setapak adalah lebih aman. Norman juga sudah memperkirakan waktu perjalanan. Kalau tidak ada halangan, kita memang bisa tiba sebelum gelap. Kalau tidak ada halangan," Emma menekankan kalimat itu sambil mengacungkan jari, mencegah Ray protes.
"Emma, ini jalur penelusuran resmi. Orang-orang yang menjelajah hutan atau mendaki gunung selalu melaluinya. Kalaupun ada halangan, tidak mungkin lebih besar daripada kalau kita menembus hutan sendirian," Norman menjelaskan habis sabar.
"Yah, mungkin tidak ada halangan dari luar. Tapi bagaimana kalau halangannya datang dari kita sendiri?"
"Maksudmu?"
"Kita 'kan tidak terbiasa berjalan sejauh ini. Kalau kita kecapaian di jalan atau cedera, bagaimana?"
Rasanya seakan Emma baru saja menampar Norman. Emma memang menggunakan kata "kita", tapi Norman tahu kata-katanya itu hanya merujuk pada dirinya. Norman, si anak rumahan yang tidak pernah berhadapan dengan alam liar. Norman, si bocah ringkih sakit-sakitan yang bisa demam gara-gara kecapekan.
"Nah. Berarti lebih cepat sampai lebih baik, 'kan?" Ray menyahut penuh kemenangan.
"Jangan senang dulu. Menembus hutan juga berbahaya. Selain tersesat, kita juga bisa cedera lebih parah."
"Ya hati-hati dong jalannya. Omonganmu seperti orang yang tidak terbiasa main di hutan saja," Ray menyindir, menohok Norman untuk kedua kalinya.
Norman menatap kedua temannya. Tiba-tiba saja ia ingin menangis. Meskipun Emma benar-benar mengajak mereka berdiskusi, meskipun ia tidak menyebut-nyebut kelemahan Norman secara langsung, Norman merasa anak perempuan itu mulai meragukannya.
Norman bisa memahami jika Ray yang curiga—watak bocah lelaki itu memang skeptis, bahkan terhadap Emma. Tapi kalau Emma juga mulai ragu, kalau Ray dan Emma menganggap Norman terlalu lemah dan meninggalkannya seperti Ayshe—
Tidak. Norman tidak bisa membiarkan itu terjadi!
"Um," Norman angkat suara, mendadak merasa jauh lebih muda daripada kedua temannya. "Setelah kupiir-pikir lagi, kurasa Ray ada benarnya."
Emma menatapnya heran. "Eh? Kenapa tiba-tiba kau berubah pikiran?"
"Yah. Aku tidak mempertimbangkan bahwa lanskap tebing ini menurun ke sungai, jadi aku khawatir kita akan hilang arah. Tapi benar kata Ray. Kalau kita mengikuti tanah yang menurun, kita akan tiba di sungai tanpa masalah."
"Akhirnya kau paham juga," Ray mendengkus, "Lagipula, bagus kalau kita cepat sampai. Kita bisa cepat beristirahat."
Norman mengangguk, berpura-pura kembali bersemangat meski dadanya masih terasa berat. "Benar. Kalau istirahat cukup, aku tidak akan sakit."
Aku tidak ingin kalian menganggapku lemah. Aku ingin kalian percaya padaku, sebagaimana aku juga belajar mempercayai kalian.
Emma menatap mereka berdua bergantian. Nampaknya ia ingin mengatakan sesuatu, tapi urung. Alih-alih, ia meraih ranselnya yang dikaitkan di sebuah batang pohon dan mengangguk.
"Baiklah, kalau memang sudah diputuskan. Ayo kita jalan lagi, jangan buang-buang waktu!"
.
.
"Sejak kapan kau tinggal di sini?"
Ray menginterogasi Norman seraya mengambil bidak catur putih dari papan, meletakkannya di dalam laci bersama dengan bidak-bidak kalah lain. Mata Norman berkilauan, menahan tawa. Sebagaimana Ray menikmati membombardir Norman dengan pertanyaan, Norman juga menikmati memberikan jawaban sesamar mungkin, menguji sejauh mana ia bisa membuat Ray frustrasi.
"Sejak kecil," Norman menjawab ringan, dan ia bisa melihat Ray merutuki diri sendiri karena tidak mengajukan pertanyaan spesifik seperti, sejak tahun berapa kau tinggal di sini? Norman menggerakkan menterinya diagonal di kotak-kotak hitam, mengancam posisi benteng Ray. "Bagaimana dengan kalian—asli penduduk desa atau pendatang?"
Ray merengut, menggeser bentengnya ke tempat aman. "Asli. Kau sendiri, sebelumnya tinggal di mana?"
Mereka telah berdansa dalam permainan tanya-jawab ini selama satu jam. Papan catur yang semula penuh kini tinggal dihuni beberapa bidak terkuat: satu menteri, satu benteng, ratu, raja, dan tiga pion milik Norman; dua menteri, satu benteng, satu kuda, raja, dan lima pion milik Ray.
Emma menonton permainan mereka sembari memangku setoples kue, mengunyah dengan lahap sembari menyuapi Norman dan Ray bergantian.
"Saat masih bayi, aku pernah tinggal di London. Tidak ingat sama sekali, tentu saja. Sepanjang ingatanku, aku sudah tinggal di sini."
Norman menggerakkan ratunya untuk mengincar kuda Ray, tapi Ray keburu sadar dan balik mengerahkan kudanya untuk mengancam salah satu pion sekaligus benteng Norman. Tak punya pilihan lain, Norman menggeser menyelamatkan benteng dengan menumbalkan pionnya.
"Apa warna favoritmu, Norman?"
Sebelum Ray sempat mengajukan pertanyaan, Emma menyahut duluan. Ray melirik Emma kesal, tapi anak perempuan itu hanya tersenyum pura-pura polos.
"Apa? Pertanyaanmu tidak seru, Ray. Masa kau tanya-tanya tentang rumah Norman terus? Siapa saja penghuni di sini? Apa kau pernah keluar dari mansion ini? Berapa jumlah ruangan di mansion ini? Kau ini mau kenalan sama Norman atau sama rumahnya?"
Ray menjulurkan lidah sementara Norman terkikik kecil.
Norman ber-hmmm pelan sebelum menjawab, "Kurasa aku suka warna hijau."
"Kau rasa?"
"Tergantung warna hijaunya. Aku suka hijau rumput, dan hijau teh, dan hijau hutan di musim semi; tapi warna hijau juga bisa ... tidak menyenangkan untuk dilihat, kan?"
"Oh ya, seperti ingus!"
"Ugh, Emma!"
"Apa? 'Kan aku benar?" Emma gantian menjulurkan lidah pada Ray, yang membalasnya dengan putaran bola mata.
"Kupikir kau suka warna putih," Ray menggestur pada seluruh pakaian Norman dan pilihan bidaknya. Norman menggeleng.
"Pakaian ini pilihan ayahku, agar semua orang langsung tahu seandainya aku—er, seandainya pakaianku kotor."
"Ayahmu protektif sekali, ya," Ray berkomentar, nadanya mengandung pertanyaan tak terucap: apa yang membuatnya begitu menjagamu?
Sebelumnya, Emma telah bercerita penuh kelakar bagaimana orang-orang desa mengira mansion Ratri adalah markas besar mafia. Norman ikut tertawa, meyakinkan bahwa mansion ini bukan tempat semacam itu, tapi dari mata Ray yang berkilau waspada Norman tahu ia belum berhasil meyakinkannya. Mana ada penjahat mau mengaku, begitu barangkali pikirnya. Semua pertanyaan yang diajukannya sepanjang permainan ini, Norman tahu, adalah upayanya untuk menginterogasi.
Norman tidak tersinggung. Justru sebaliknya—ia mengagumi kewaspadaan Ray, juga bagaimana bocah lelaki itu sangat melindungi Emma. Sedari tadi Ray selalu menarik tangan Emma jika anak perempuan itu meleng melihat lukisan, juga menyuruhnya duduk di samping Ray alih-alih Norman.
Sungguh teman yang baik.
"Sejak kecil aku sakit-sakitan, jadi Ayah sangat menjagaku," Norman memberikan alasan bijak. Digesernya benteng sepanjang kolom terluar papan catur hingga ia mencapai kotak putih paling pojok, di mana ia berhadapan langsung dengan sang raja. "Skak mat. Maaf, Ray."
Bocah berambut hitam itu menggerundel. Emma tertawa, mengolok-olok Ray yang tidak mampu menebak strategi Norman. Ray menjitak anak perempuan itu. Ray tidak benar-benar marah sebab ia tahu Emma hanya bercanda, Emma tidak menangis kesakitan sebab ia tahu jitakan Ray hanya main-main.
Norman berpikir betapa menyenangkannya jika ia bisa menjadi teman terpercaya Ray dan Emma, sebagaimana mereka saling percaya satu sama lain.
.
.
{tbc}
