The Promised Neverland © Kaiu Shirai. Ilustrasi © Posuka Demizu. Penulis tidak mengambil keuntungan finansial apapun dari karya transformatif ini

The Death of The Fireflies © aria-cheros (arianadez dan psycheros)

[Bab 4]

.

.

Sewaktu mereka berdua masih kecil, Ray pernah membacakan Emma sebuah cerita tentang seorang pangeran di puri tersembunyi.

"Tersebutlah seorang pangeran dari kerajaan langit antah berantah. Ia gagah bagai sayap naga dan berhati semurni tanah pada hari pertama ke bumi. Ke manapun pergi ia selalu amat dicintai, sonet-sonet diciptakan untuk mengagungkannya dan patung-patung terindah dipahat sambil mengenang sosoknya.

Tapi pada saat yang sama, ia juga amat dibenci. Hati-hati pencemburu tidak mampu menerima keberadaan suci sang pangeran. Mereka pun melontarkan kutukan demi kutukan pada setiap langkahnya agar ia terjerembab ke dalam kenistaan.

Kutukan itu berhasil. Perlahan, wajah tampan bersinar sang pangeran meleleh buruk rupa. Punggung tegapnya membongkok, rambut pirangnya tumbuh liar seperti belukar hingga ular-ular bersarang di dalamnya. Rakyat tak lagi menanti-nanti gelegar merdu sabdanya, sebab suaranya pun telah berubah parau seperti gerat pisau pada daging. Segala cinta baginya lenyap sudah, tinggal tersisa rasa jijik, takut, dan kesedihan mendalam atas sirnanya suatu keindahan.

Patah hati dan—terutama—tak ingin menyiksa rakyat tercintanya dengan keburukan (sebab meski wujudnya telah membusuk, sang pangeran tetaplah berhati lembut); pangeran pun memutuskan untuk meninggalkan kerajaan. Bersama seekor anjing, burung, dan kuda putih setianya, sang pangeran berkelana ke tanah jauh hingga akhirnya ia menemukan sebuah puri di tengah danau, di dalam hutan peri tak terjamah.

Dan di situlah sang pangeran membangun kerajaan barunya. Alih-alih manusia, kini sang pangeran dicintai oleh makhluk-makhluk hutan yang buta terhadap wajah buruk tapi melihat cahaya hati. Keluarga buaya pemangsa manusia mengizinkan sang pangeran menginjak punggung mereka setiap kali ia perlu menyeberang danau. Kawanan laba-laba menjalinkan jaring-jaring paling lembut, melindungi puri dari angin dingin dan melelapkan tidur sang pangeran di peraduan. Burung-burung pengicau paling merdu menyanyi baginya sepanjang hari, agar sang pangeran dapat terus menikmati lagu meski suaranya parau tak tertolong.

Sepanjang sisa hidupnya, sang pangeran tak lagi meninggalkan puri. Ia telah menemukan rumah di mana ia sungguh-sungguh dicintai."

Ray sangat menyukai dongeng-dongeng fantasi semacam itu (meskipun ia akan bersikap defensif jika kau mengonfrontasinya). Emma? Yah, bukannya tidak suka, sih. Tapi dibanding dongeng, Emma lebih menyukai jurnal ekspedisi atau biografi ilmuwan-ilmuwan sinting. Kau tahu, cerita-cerita ajaib tapi sungguh-sungguh terjadi.

Seperti peristiwa yang sedang mereka alami saat ini.

Jika tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri, Emma tidak akan percaya bahwa di dalam mansion bobrok itu tersembunyi sebuah kediaman megah. Lebih-lebih lagi karena pintu masuknya begitu tersembunyi: di balik sulur-sulur tanaman rambat, tak akan ditemukan kecuali oleh orang yang sudah tahu. Benar-benar seperti dalam dongeng!

"Selamat datang di rumahku," Norman tersenyum malu-malu, mengedarkan tangannya. "Maaf masuknya agak merepotkan. Kami tidak punya pintu depan."

Kesan pertama Emma adalah bahwa tempat itu terlihat seperti gua mewah. Dibangun di dalam dinding bangunan lain, rumah itu tidak memiliki jendela. Seluruh tembok dilapisi oleh karpet beledu halus berwarna marun dan dihiasi beragam dekorasi antik, seperti lorong-lorong kerajaan. Sebagai gantinya, atap rumah itu terbuat dari kubah kaca tinggi, membiarkan cahaya matahari masuk dari atas seperti cahaya surga. Emma menengadah mengamatinya. Pada tepi kubah itu terukir lukisan-lukisan mengerikan tapi indah, tentang pertempuran sekelompok orang berjubah dan monster-monster berwujud aneh, membuat Emma merinding entah oleh rasa takut atau takjub.

"Wow," kata Ray dalam nada datar khasnya, matanya mengedar impasif. Sulit untuk menebak apakah dia sungguh-sungguh ber-wow atau hanya sarkas belaka. "Jangan bilang kau juga punya kamar-kamar rahasia untuk menyiksa orang."

Sepertinya hanya sarkas.

Norman tertawa renyah. "Kalau pun ada kamar seperti itu, aku belum tahu. Kuharap kau tidak perlu mengunjunginya lebih dulu, Ray."

Ray merengut. Emma memutuskan bahwa ia menyukai Norman—Emma menyukai siapa pun yang bisa menggoda Ray dengan cerdas.

"Tuan Muda?"

Dari pojok remang-remang ruangan, mendekatlah suatu sosok tinggi besar. Emma menahan diri untuk tidak mundur selangkah ketika sosok itu memasuki cahaya: seorang pria berwajah serius dengan bekas-bekas luka besar di kepala botaknya, seolah ia pernah dicaplok buaya tapi berhasil kabur di saat-saat terakhir. Pria itu menatap Ray dan Emma dengan pandangan menilai dari balik kacamata berkilau, sebelum membungkuk sedikit untuk berbicara pada Norman.

"Tuan Muda tampaknya kedatangan tamu," katanya dalam nada resmi.

Norman mengangguk berwibawa, kentara sekali telah terbiasa dengan interaksi ini. "Benar, Vincent. Ini Emma dan Ray, dari desa di bawah bukit."

"Senang bertemu dengan Anda, Sir!" Emma menyahut sembari memberikan senyum terbaiknya. Mr Vincent tersenyum tipis, dingin.

"Saya tidak ingat Tuan Muda ada janji dengan ... Tuan Ray dan Nona Emma hari ini."

Apakah Mr Vincent sedang mengusir mereka secara halus, ataukah dia sedang merasa bersalah karena tidak mengetahui agenda tuan mudanya? Emma melirik Ray untuk mencari jawaban, tapi sahabatnya itu sedang mengawasi Norman dan Mr Vincent lekat-lekat.

"Memang tidak. Ray dan Emma sedang berjalan-jalan di depan rumah ketika pasukan anjing penjaga mengejar mereka," Norman tersenyum manis, "Emma dan Ray jatuh dan terluka, jadi aku mengundang mereka ke sini untuk mengobati luka mereka."

Norman menunjuk pada lutut Emma, darahnya sudah meleler sampai kaos kaki; dan siku Ray, lecet parah di balik sobekan sweater. Kemudian, begitu tiba-tiba hingga Emma mengerjap kaget, Norman mengganti wajah wibawanya dengan ekspresi anak kecil manja malu-malu, dengan alis mengerut manis dan kepala meneleng seperti anak burung hantu. "Tidak apa-apa, 'kan, Vincent?"

Tampaknya Mr Vincent juga agak terkesiap dengan serangan mendadak itu. Ia berdehem, mengalihkan pandang pada Ray dan Emma sekali lagi (memeriksa dengan jeli seolah ingin meyakinkan dua bocah desa ini tidak membawa pisau atau apa), kemudian mengangguk singkat.

"Tentu saja, Tuan Muda. Apakah ada yang perlu saya siapkan untuk ... ah, mengobati Tuan Ray dan Nona Emma?"

Norman tersenyum ceria. "Tidak perlu, Vincent. Terima kasih. Kami bertiga akan langsung ke kamarku. Aku punya kotak P3K di kamar." Lalu, mengedikkan kepala pada Ray dan Emma. "Ayo, lewat sini."

Norman melangkah menuju koridor di sebelah kiri mereka. Tak punya pilihan lain, Ray dan Emma mengekori Norman. Setelah beberapa langkah Emma menoleh ke belakang, tapi Mr Vincent sudah lenyap dari pandangan.

Sama seperti ruang depan, dinding kamar Norman pun tidak berjendela. Sebagai gantinya, jendela dipasang pada salah satu sisi langit-langit seperti rumah kaca. Kali ini, lukisan pada permukaan kacanya adalah peta dunia, sehingga memberi perasaan bahwa mereka bertiga adalah manusia duyung bawah laut, menatap daratan di atas kepala mereka dengan rasa ingin tahu yang membuih.

"Ayo, duduk sini." Norman mendorong mereka berdua ke kursi empuk putih tulang dekat meja teh.

Yang mengejutkan, Norman memenuhi janji merawat luka mereka dengan sungguh-sungguh. Sebagai anak desa, Emma dan Ray telah terbiasa dengan lecet dan belur. Tersandung saat berkejaran di pematang, terperosok di emperan landai belakang sekolah, atau tergelincir saat balapan memanjat pohon—mereka berdua terbiasa mengalaminya. Obat mereka semena-mena ludah sendiri, ditambah gosokan daun penghenti darah kalau ada. Bagi Emma, mengoreki gatal pada kerak luka adalah hobi mengasyikkan.

Norman memperlakukan cedera mereka seperti luka tembak: dibersihkan dengan alkohol, ditetesi antiseptik, dibungkus kain kasa sebelum ditutup plester bergambar hewan. Emma mendapat firasat bahwa Dina, tunangan abangnya, malah bakal ribut melihat perban itu. Dikiranya Emma habis terserempet mobil atau apa.

"Ray, pakailah bajuku dulu. Biar kubetulkan sweatermu."

Norman memberi Ray kemeja putih dengan hiasan renda di dada. Pipi Ray sedikit bersemu.

"Tidak usah," gumam Ray, mengerutkan dahi.

Norman menelengkan kepala. "Apa ibumu nanti tidak marah? Begini-begini aku bisa merajut sedikit. Lubangnya tidak terlalu besar, sebentar juga selesai."

Ray menghela napas pasrah.

Beberapa menit kemudian, Emma dan Ray hanya terpaku menyaksikan Norman yang sigap memegang sweater Ray di tangan kiri dan jarum rajut di tangan kanan. Dari cara Norman menggerakan benang dan jarumnya seolah ia telah biasa melakukan hal tersebut. Mau idak mau Emma terkagum.

"Wow. Dari mana kau belajar merajut begitu?"

Emma duduk di karpet di bawah kursi Norman, mengawasi anak laki-laki itu menutup lubang di siku sweater Ray dengan terampil.

Norman tersenyum rendah hati. "Aku punya banyak waktu luang, jadi aku belajar sendiri."

"Mengobati luka begini juga belajar sendiri?" Ray menunjuk balutan rapi pada sikunya.

"Oh, tidak. Menjahit dan mengobati luka aku belajar dari ayah."

"Kau bisa menjahit luka?" tanya Emma antusias.

Norman mengangkat bahu. "Keahlian itu berguna. Kau tidak akan tahu kapan akan ditikam atau ditembak."

Emma meringis. Ia tahu kapan akan ditikam atau ditembak: tidak akan pernah. Emma bangga menyatakan bahwa ia tidak punya musuh seganas itu.

"Seram amat. Memang ayahmu melakukan apa sampai ada kemungkinan ditikam atau ditembak?"

Ray bertanya sangat kasual, seolah hanya menanyakan makanan kesukaan atau warna favorit Norman (melihat warna barang dan pakaian Norman, Emma punya tebakan kuat untuk ini). Namun, sudah mengenal Ray praktis sebelum lepas dari popok, Emma tahu Ray sedang memasuki mode detektif. Anak itu akan mengumpulkan bukti-bukti dan menyusun suatu kesimpulan di dalam kepalanya.

Norman membuat semacam simpul rumit pada rajutannya untuk menyatukan untaian benang-benang, ber-hmmm pelan. "Ayahku bekerja sama dengan banyak pihak untuk menjaga kepentingan umum."

"Pihak mana saja? Kepentingan umum seperti apa maksudnya?"

"Banyak," Norman mengangkat bahu, tersenyum. "Mungkin juga bekerja sama dengan ayahmu. Mungkin juga kepentingan desamu. Kita tidak tahu, 'kan? Itu urusan orang dewasa."

"Hmph." Ray mendengkus.

Emma jadi teringat sesuatu. "Bicara soal ayah, kau tahu tidak? Papa Ray pernah menolong Mr Zazie."

Norman mengedip. "Kalian kenal Zazie?"

"Tahun lalu mobil pikap Mr Zazie mogok di depan rumahku." Ray bersidekap. "Dia meminjam sepeda papaku untuk mengambil perkakasnya."

"Oh, jadi itu keluargamu!" Norman berseru senang, tertawa. "Zazie bercerita kepada kami tentang keluarga baik hati yang menolongnya. Ah, dia bilang mereka punya anak seumuranku. Itu pasti kau, Ray." Mata Norman melembut. "Terima kasih atas bantuan kalian. Zazie sangat menyukai kalian, kau tahu."

"Kami tidak membantu banyak, kok," Ray mengedik, mendadak salah tingkah. Diam-diam ia memutuskan, jika Mr Zazie lewat depan rumah dan menglakson di akhir minggu nanti, Ray akan melambai dan tersenyum kepadanya.

"Kau tahu, anak-anak di sekolah kami mengira Mr Zazie seorang vampir," Emma melanjutkan tanpa basa-basi, seperti biasa. "Jadi kami berdua datang ke sini untuk membuktikannya."

"Zazie bukan vampir," jawab Norman lugas. Ia membuat simpul terakhir dengan jarum rajutnya, membalik sweater Ray, dan menunjukkannya pada si empunya dengan senyum cerah. "Lihat, sudah jadi. Tidak kelihatan bekasnya, 'kan?"

Emma dan Ray ikut tersenyum senang melihatnya.

.

.

"Iya—eh, maksudku, yah, begitulah." Norman nyengir sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal, terbata-bata karena malu. Angin berembus dari arah kanan, meraba tengkuk, lembut sekali. Bahkan dalam cuaca yang sangat bagus ini, sulit untuk tidak merasa bahagia. Ray dan Emma pun tampaknya tidak mempermasalahkan peluh yang membasahi leher dan pelipis mereka.

Norman berusaha menyamakan langkah kakinya agar seirama dengan dua temannya tersebut. "Aku memang pernah belajar berenang, dulu, dulu sekali, dan kuakui itu sangat sulit. Waktu itu aku masih tujuh tahun. Aku baru saja selesai membaca dongeng "Petualangan Pangeran Bongzhu di Danau Lunalus" dan aku sangat penasaran bagaimana rasanya berenang.

Di situ diceritakan kalau Pangeran Bongzhu berani berenang menantang maut di danau es demi menyelamatkan teman-temannya. Sebenarnya aku ingin pergi ke kolam renang sungguhan. Kalian tahu? Kolam renang yang ada di kota. Tapi sudah pasti ayahku tidak mengizinkanku, 'kan? Jadi begitulah. Ayah kemudian membuatkan kolam renang sederhana di belakang rumah."

Dalam hati Norman memotong ceritanya. Akan sangat memalukan jika ia berkisah bahwa pada saat ia meminta pergi ke kolam renang di kota kepada ayahnya sambil merengek. Tapi faktanya Norman tidak berbohong. Ia hanya mengedit kata-katanya.

Emma semakin tertarik. "Dan bagaimana selanjutnya? Kau bisa berenang?"

"Aku memang berlatih, sih. Rasanya menyenangkan, tapi kemudian hanya bertahan sampai seminggu. Oh, bukan karena bosan," ucap Norman cepat ketika menyadari wajah Ray yang seperti ingin bertanya. "Awalnya aku merasa berani dan yakin kalau aku pasti bisa. Aku sudah belajar banyak tentang cara bernapas di dalam air, juga cara menggerakkan tangan dan kaki. Tapi entah karena apa, di hari keenam, saat aku mencoba berenang sendiri tanpa bantuan ayahku, aku membayangkan hal-hal yang—membayangkan beberapa kejadian buruk. Lalu tiba-tiba saja aku hampir tenggelam."

Norman menjeda ceritanya. Sebenarnya saat itu ia membayangkan wajah ibunya yang berdarah-darah (mimpi terburuk dari tidurnya semalam. Tahulah, ia gemar bermimpi soal macam-macam jika menyangkut ibunya, dan dalam mimpinya itu ia tidak selalu melihat ibunya berada dalam taman dengan cahaya lembut yang membahagiakan), tapi Norman merasa ia tidak perlu menceritakannya kepada Ray dan Emma.

Norman menarik napas panjang dan mendongak memandangi indahnya langit yang sebagian besar tertutupi pohon—langit yang mungkin saja sebiru warna bola matanya. Seperti melihat laut dengan angsa anggun yang berenang, tampak mengambang di atas kepala. "Ah, rasanya tidak menyenangkan. Tenggelam itu. Kau akan merasa panik dan mulai memikirkan hal-hal mengerikan. Dadamu terasa sesak dan jika kau mencoba menarik napas ke permukaan, berharap menghirup udara, paru-parumu akan semakin sakit."

"Kurasa aku bisa mengerti bagaimana rasanya." Emma menautkan jemarinya di dada.

Norman tersenyum kepada Ray dan Emma yang berjalan di kanan-kirinya. "Karena itulah, menurutku kalian sangat luar biasa bisa belajar berenang sendiri tanpa perlu diajari."

"Yah—itu bukan apa-apa, sih." Ekspresi Ray sulit dijelaskan. "Pada dasarnya, karena aku dan Emma sudah sering ke sungai menonton anak lain mandi, kami jadi berpikir untuk meniru mereka. Maksudku, kami akhirnya tergoda menceburkan diri ke sungai dan ikut mandi karena kami melihat itu menyenangkan."

"Dan meskipun setelah pulang kami tentu saja dimarahi," sambung Emma. "Jadi itu bukan hal yang terlalu hebat sebenarnya."

Ray menyeringai. "Selain itu, berenang adalah keahlian yang harus kaukuasai kalau kau ingin menjadi anak pembuat onar. Seperti anak ini."

Ray menyentil pelipis Emma dengan jari tengahnya.

"Aww!" Emma gagal menghindar. Ia menggosok pelipisnya. "Tanganmu yang jail itu tidak bisa berhenti kenapa, sih, Ray?"

Ray hanya melambaikan tangan tidak peduli, mengakhiri pembicaraan mereka tentang dunia renang.

Sebenarnya, percakapan mereka kali ini adalah siasat Norman untuk mengembalikan keadaan yang tadinya memanas. Beberapa jam yang lalu mereka sempat membahas penyelam skuba dan tidak ada salahnya Norman menyinggung tentang aktivitas air; berenang. Norman merasa ia harus melakukan percakapan semacam ini untuk membuat atmosfir perjalanan mereka bertiga menjadi menyenangkan. Tadi ia dan Ray sudah berdebat untuk hal-hal yang tidak perlu. Ray memang jeli dan mudah curiga. Tidak seharusnya Norman terpancing dan melibatkan emosinya. Tapi, ya sudahlah. Lagipula, sekarang mereka sudah kembali tertawa bersama.

Mereka bertiga terus berjalan sambil sesekali mengomentari burung-burung atau pepohonan yang memiliki ukuran besar dan tinggi. Ray dan Norman berlomba melakukan klasifikasi determinan terhadap lumut aneh dan bunga yang tidak mereka ketahui namanya. Emma hanya mendengarkan mereka sembari menimpali dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terlalu berhubungan karena topik itu di luar kesanggupan nalarnya, tapi ia tetap bersemangat memberi tanggapan jika ditanya.

Norman tergerak untuk mengambil kompas di saku bajunya dan kemudian mengeceknya. Dahinya berkerut resah begitu menyadari arah kompas yang tidak sesuai dengan arah yang tadinya mereka ambil. Ia pun berhenti melangkah.

Melihat Norman yang berhenti tiba-tiba, Emma ikut berhenti. "Ada apa, Norman?"

"Eh, bukan apa-apa." Norman mendesah. "Hanya aneh saja."

Ray memandangi kompas. "Apanya yang aneh?"

"Aku hanya bingung, kenapa kita belum juga sampai di tempat peristirahatan?"

"Apa maksudmu 'tempat peristirahatan'?" Ray memberengut. "Coba jelaskan."

Norman mengangguk tegas. "Aku sangat ingat, aku dan Ayshe pernah berhenti di tempat peristirahatan, di dekat sungai kecil. Sungai yang arusnya satu jalur dengan aliran sungai yang menuju lokasi sarang kunang-kunang berada. Aku merasa kita sudah berjalan cukup lama. Seharusnya sudah sampai."

"Tapi saat ini kita masih berada di dalam hutan, Norman. Kau lupa kalau kita sedang mengambil jalan pintas, jadi tidak mungkin akan melewati tempat peristirahatan itu, 'kan?"

"Oh, iya. Itu benar, tapi—" Norman menggigit bibir, menyalahkan pertanyaannya yang rancu dan tidak detail. Bukan itu maksudnya yang sebenarnya. Sulit untuk tidak membagi kemungkinan yang dipikirkannya saat ini. Ia membuka peta dan berhati-hati menatap kedua temannya, setengah takut setengah cemas. "Coba kalian lihat. Kita tadi mengambil jalan pintas yang tepat lurus ke arah barat agar bisa cepat sampai ke sungai tempat kunang-kunang berada. Tapi berdasarkan peta, jika kita tetap berada pada jalan pintas yang kita ambil, semestinya kita pasti bertemu dengan peristirahatan itu, 'kan? Lihat, jalan itu beririsan, teman-teman."

Ray mengerucutkan bibirnya. "Aku paham maksudmu, Norman. Tapi kita bisa saja hanya melenceng sedikit."

"Sekarang lihat kompas ini baik-baik. Ini bukan lagi melenceng sedikit. Ini sudah melenceng sangat jauh."

"Lalu kenapa?" Ray seakan kembali lagi kepada sikap defensif seperti sebelumnya. "Jangan berbelit-belit, Norman. Katakan saja langsung."

"Aku berpikir mungkin saja saat ini kita tersesat."

"Kenapa bisa begitu?" tuntut Ray.

"Kita tadi mengambil jalan pintas yang belum pernah kita lalui, 'kan? Dan inilah akhirnya. Kita jadi tersesat."

"Jadi kau menyalahkan usulanku, begitukah, Norman?"

"Bu-bukan begitu, Ray." Norman tidak menyukai tatapan tajam dari Ray, seakan dirinya sedang melihat naga yang mulai terbangun dari tidur belalang. "Aku hanya mengatakan mungkin saja."

"Tapi pada konteks berpikir seperti itu, kau seperti sedang menuduhku membawa perjalanan kita menuju bahaya. Kau meragukan ideku, Norman."

Jangan lagi, batin Norman kalut. Jangan lagi terjadi perdebatan di sini, kumohon. Norman menyalahkan dirinya sendiri karena bodoh membaca suasana. Ia kira karena mereka sudah tertawa tadi maka mereka baik-baik saja. Tapi nyatanya sekarang? Dada Norman berdetak kencang menyadari kesalahannya ini.

"Ray, jangan memojokkan Norman begitu."

Dua anak lelaki itu terkesiap. Mereka menoleh pada anggota ketiga, Emma, yang kini bersidekap dengan kerut kesal di dahi dan bibir sedikit manyun. Duh, gawat. Apa mereka membuat Emma marah?

"Maaf aku harus mengatakan ini. Sebenarnya, sewaktu Ray membuat usulan tadi, tentang melewati jalan pintas, aku tidak terlalu setuju dengan usulanmu."

Norman dan Ray terbeliak. Lalu, hampir bersahut-sahutan, mereka menanggapi.

"Em, apa-apaan sih! Kenapa tiba-tiba—"

"Kenapa kau tidak bilang dari tadi, Emma? Kalau tadi kau di pihakku, kita menang suara!"

"Oi, apa maksudmu menang suara? Asal kau ingat saja, Norman, kau tadi setuju untuk lewat jalan pintas ini!"

"Karena kupikir Ray dan Emma lebih ingin lewat jalan pintas!"

"Sudah, jangan ribut!" Bentak Emma tegas. Dua anak lelaki langsung terdiam. Emma jarang marah, sehingga kalau dia serius begini rasanya jadi lebih mengerikan.

Emma menghela napas. "Maaf. Aku juga salah tidak mengutarakan pendapatku sejak awal," kesahnya, mengerutkan dahi dalam-dalam. "Ide Ray memang bagus, tapi tidak melihat dari sisi keselamatan dengan lebih teliti. Mengandalkan kompas sebagai penunjuk arah tidak salah, tapi masih ada kekurangannya. Misalnya, bagaimana jika kompasnya tiba-tiba tidak berfungsi? Bagaimana kita akan melanjutkan perjalanannya?"

"Lantas, kenapa kau tidak urun pendapat tadi?" Ray kesal tapi juga kagum dengan pendapat Emma. Kadang-kadang anak perempuan itu bisa berpikir lurus juga.

Anak perempuan itu mengangkat bahu. "Selama ini, saat kita bermain bersama, Ray selalu memberi ide bagaimana agar permainan kita tidak membosankan. Idemu selalu tepat sasaran. Jadi saat aku tadi sempat meragukan usulanmu, aku mengabaikannya saja. Lagipula, tadi Norman akhirnya setuju mengambil jalan pintas." Emma tersenyum, meraih tangan kedua temannya dan menggengamnya erat-erat. "Aku percaya pada Norman dan Ray."

Norman dan Ray saling lirik, kehabisan kata-kata. Benar juga. Sepanjang perjalanan ini, Emma tidak banyak protes. Kemana pun Ray dan Norman pergi, ia setia mengikuti, bahkan rela berjalan paling depan menantang bahaya. Ia selalu ceria, mengajak mereka bernyanyi bersama, dan tidak kehilangan antusiasme meskipun perjalanan ini bukan untuknya.

Harusnya mereka lebih meneladani Emma.

"Maaf, Emma," gumam Norman, merasa malu dan bersalah. "Aku terbawa emosi. Harusnya aku tidak—"

Whusss.

Embusan angin menerpa leher dan punggung Norman, memberi rasa dingin yang nyaman namun juga sarat akan aroma keganjilan, membuatnya terpaksa menghentikan kata-kata.

"Norman?" panggil Emma lirih sembari mengguncang bahu Norman, yang kemudian ditanggapi Norman dengan gerakan jari telunjuk menyentuh bibir, menyuruh diam.

"Apa yang sedang—"

Bahkan Ray juga mendadak tak menyuara.

Mereka bertiga saling memandang cemas, bertukar tatapan penuh tanya, kemudian memandang ke sekeliling yang sekonyong-konyong terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Di kejauhan, di balik rimbunnya semak-semak dan dedaunan, serta rapatnya batang pohon tinggi besar, sekitar dua puluh lima meter dari posisi mereka berhenti, ada sesuatu yang bergerak-gerak. Awalnya mereka mengira gerakan itu terjadi karena tiupan angin yang sama dengan angin yang juga menerpa mereka. Namun, ketika angin berhenti dan semak-semak itu terus berguncang, mereka bertiga tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Mereka terdiam, menunggu kepada arah yang sama. Jantung mereka seakan berhenti memompa udara. Tubuh mereka gemetaran tak terkendali.

Seekor babi hutan berwarna hitam kecokelatan baru saja keluar dari persembunyiannya. Babi itu menoleh, memamerkan kilatan bola mata penuh amarah serta taring buas yang mencuat di kanan-kiri mulutnya, mengamati dahan-dahan perdu berbatang tipis rendah, mendengus tak sabar. Akan tetapi, Norman tentulah menyadari, tinggal menunggu waktu bagi babi itu untuk melihat keberadaan mereka.

.

.

Emma tidak tahu terlalu banyak tentang perasaan kesepian.

Banyak orang mengira sebaliknya. Menjadi yatim piatu di usia sangat muda, orang-orang berasumsi bahwa Emma kekurangan kasih sayang. Yang terjadi tidak demikian. Emma punya Yuugo, abang yang—biar pun suka galak dan iseng bukan main—sangat menyayangi dan memperhatikannya. Emma juga punya Dina, tunangan Yuugo yang cantik dan baik seperti bidadari yang selalu membantu Emma memilih rok-rok lucu untuk ke sekolah, juga mencukur rambut Emma dan Yuugo kalau sudah mulai liar. Emma punya Damdin, anak anjing imut yang dipungutnya dari kardus dekat sekolah. Emma juga punya Ray, Don, Gilda, dan teman-teman di desa yang selalu menyambutnya dengan senyuman dan menjenguknya ketika sakit.

Jadi, tidak. Emma memang tidak punya ayah dan ibu, tapi ayah dan ibunya akan lega di surga melihat Emma tidak kekurangan cinta.

Akan tetapi, saat melihat Norman, dada Emma seperti dicengkeram kesendirian menyesakkan. Bukan kesendiriannya, melainkan kesendirian Norman yang tercipta dari kehidupan terisolirnya di balik dinding. Emma teringat pada hiasan bola salju kaca miliknya, hadiah ulang tahun keenam. Dalam bola salju itu, duduklah seekor burung hantu kaca. Emma kecil menghabiskan berjam-jam berbicara dengannya dan membawa bola salju itu tidur sebab Emma yakin sang burung kesepian.

Norman dan burung hantu itu memiliki mata yang sama. Biru kristal berkilauan, dengan sihir yang membuatmu ingin terus menatapnya. Jika kau melihatnya dari satu sisi ia akan tampak berbinar-binar seperti penuh kebahagiaan, tapi jika kau mengamatinya lebih dalam kau akan menemukan—dengan hentakan sedih di perutmu—bahwa mata itu kosong belaka, dengan rasa sepi dan sendiri menggaung di dalam kepala.

Emma melihat koridor-koridor berliku kedap suara di sekelilingnya, tembok-tembok tanpa jendela, pintu-pintu besar menuju ruang-ruang gelap misterius; dan mendadak diserbu perasaan ingin menangis membayangkan Norman bermain-main di sana sendirian.

"Ayo balapan lari lagi! Sampai patung di bawah tangga itu!"

Norman nyengir lebar, menunjuk ke ujung koridor panjang di mana, di bawah tangga, patung seorang dewi dengan mata tertutup perisai bertengger anggun. Pipi Norman merah merekah, napasnya terengah payah, dan rambut pirang rapinya menempel ke dahi dengan berantakan. Mereka sudah lomba lari keliling rumah selama satu jam terakhir dan dia selalu kalah, tapi semangatnya masih sangat berapi-api.

Emma mungkin juga akan seperti itu kalau seumur hidup tak punya teman dan tiba-tiba kedatangan tamu seumuran.

"Oke, siapa takut!" Emma menuruti, mengambil ancang-ancang.

Mata Norman semakin bercahaya, jika itu mungkin; seolah Emma bersedia mengikuti permainannya saja sudah membuatnya gembira setengah mati. Ray berkacak pinggang, berdecak bosan, tapi toh tetap memposisikan diri siap bersaing.

"Ini yang terakhir," gerutu Ray, menyibakkan poni agar bisa melihat lebih jelas. "Setelah ini, ayo kita ganti permainan. Aku bosan."

Norman tersenyum mengiyakan. Tapi Ray dan Emma sama-sama tahu, bahwa seandainya pun setelah ini Norman mengingkari janjinya dan mengajak mereka berlari keliling rumah lagi sampai pusing tujuh keliling, mereka berdua akan menurutinya.

Itulah yang mereka bertiga lakukan setelah kegiatan mengobati luka dan merajut selesai. Norman mengajak Ray dan Emma bermain lomba lari. Berlanjut dengan bermain catur. Tapi setelah empat ronde—hasilnya seri—Ray mulai bosan. Ray memang anak yang seperti itu; ia tidak bisa menyukai permainan atau kegiatan tertentu dalam waktu lama. Kecuali membaca. Ini lain cerita.

Dan berterima kasihlah Norman kepada ayahnya yang sudah mengajarinya untuk menyukai bacaan sejak ia masih berumur empat tahun. Begitu Norman menawarkan, apakah Ray dan Emma suka membaca cerita, dua anak itu—terutama Ray—segera mengangguk penuh semangat dengan mata yang berbinar.

"Waaaah! Ray, ini seperti adegan dalam film Beauty and the Beast! Kau tahu, waktu Beast menghadiahi Belle perpustakaan dengan rak buku tinggi mencapai langit-langit?"

"Semua orang juga tahu adegan itu," Ray menjawab sok kalem, padahal Emma tahu Ray si kutu buku sudah gatal sekali ingin berlarian di antara rak-rak sambil mengelus setiap punggung buku, tertawa bagai Raja Midas dalam kubangan emas.

Norman membawa mereka ke perpustakaan keluarga, dan—sesuai dugaan Emma ketika mendengar bahwa Norman punya perpustakaan—tempat itu sangat spektakuler. Terletak dalam ruang melingkar, seluruh dinding ruangan itu tertutup oleh rak buku berwarna putih gading, nyaris menyatu dengan tangga marmer di tengah-tengah dan karpet bulu putih bermotif gajah. Tidak ada jendela maupun atap berkaca di sini, hanya lampu chandelier megah, mengeluarkan cahaya putih membutakan.

Di puncak tangga, sebuah lukisan cat minyak terpajang di antara dua guci raksasa. Emma dan Ray mendongak, menyerapi setiap detail dengan kagum.

"Kau mirip ayahmu," komentar Ray, menelengkan kepala.

Norman dalam lukisan menatapnya dengan mata biru besar, duduk di atas pangkuan seorang pria berambut sama perak dan mata sama biru. Mereka mengenakan jas putih senada, tampil mencolok di kanvas dengan latar belakang beledu marun. Wajah ayah Norman begitu teduh dan Norman tampak bahagia dalam pangkuannya.

"Banyak yang bilang begitu," Norman bergumam malu-malu, menunduk menyembunyikan senyum. Emma mendapati hal itu sangat manis, bagaimana Norman jelas-jelas mengagumi ayahnya. Mirip Ray saat membangga-banggakan tentang kehebatan mamanya mendaki gunung atau kepiawaian papanya bermain musik.

Norman, sama seperti Ray, mengoleksi novel-novel fantasi. Atau lebih tepatnya, ayah Norman mengoleksi novel-novel fantasi, dan ia senang membacakannya untuk Norman sebelum tidur. Ray sampai ternganga melihat satu sisi tembok khusus untuk genre itu. Ia bahkan menjerit ketika menemukan sebuah buku langka.

"Petualangan Ugo di Pulau Dasar Laut!" Ray sampai mendengking, memegang buku bersampul ungu dengan gambar seorang pemuda memerangi monster ular itu dengan penuh ketakziman, seakan sedang menyentuh benda suci. "Bagaimana kau bisa punya volume ini?"

Melihat wajah kebingungan Emma (bukannya Ray juga punya serial Ugo sampai satu kardus?), Norman berbaik hati menjelaskan. "Volume ini dilarang beredar di negara kita karena konten sensitif." Norman meringis bersimpati pada Ray yang mendengkus keras, kentara sekali masih tersinggung dengan pelarangan itu. "Tapi ayahku kenal beberapa orang. Ayah mengurus izin khusus agar buku ini dapat dicetak, satu eksemplar saja, sebagai konsumsi pribadi."

"Wow, asyik banget," Ray menyeletuk, setengah iri setengah kagum.

Norman menepuk tangan Ray, tersenyum. "Kau pinjam saja dulu," katanya ringan, seolah hanya menawarkan kue karamel. "Kau bisa mengembalikannya waktu main ke sini lagi."

Ray terdiam, tapi Emma bisa mendengar pikiran sahabatnya keras dan jelas seakan Ray berteriak di telinganya: Ray tidak yakin akan mampir ke sini lagi.

Dan sejujurnya—malu ia mengakui ini—Emma pun tidak.

Bukan karena Norman. Seandainya bisa, Emma malah ingin membawa Norman ke desa dan memperkenalkannya kepada semua orang. Norman yang baik, pandai, manis, dan selalu tersenyum meskipun barangkali ia sedang sedih. Emma tidak ingin meninggalkannya sendirian.

Namun, pada saat bersamaan, ada sesuatu di mansion ini yang membuat Emma tidak terlalu ingin kembali. Mungkin udaranya yang harum tapi lawas, tidak pernah berganti. Mungkin patung-patung marmer dengan wajah tersembunyi di balik topeng perisai. Mungkin jendela-jendela di atas atap, indah tapi menjungkirbalikkan konsep nalar wajar. Atau mungkin tatapan penuh selidik pelayan-pelayan Norman.

Emma merasa—tidak—Emma tahu bahwa meskipun Norman menyambut mereka dengan tangan terbuka, tapi rumah ini tidak.

Norman berdeham canggung. "Ka—kalau kau mau, tentu saja." Ia melepaskan tangan Ray dan menyembunyikan kedua tangan di balik punggung. Ujung telinganya memerah, tapi ia tetap berusaha tampak bermartabat. "Atau, kau bisa membacakannya untuk kami?"

"Eh?"

Norman mengedik ke ujung ruangan, di mana terdapat semacam pojok membaca dengan bantal lantai raksasa dan bantal-bantal mungil. "Kau pintar mendongeng 'kan, Ray?"

.

.

Menurut Norman, babi hutan yang ada di hadapan mereka adalah binatang yang sangat jelek. Warnanya memang hitam bercampur cokelat, tetapi lebih seperti warna kayu yang dibakar dan menjadi arang. Atau mirip penampakan ketela busuk. Demikian pula bulu pada badan dan keempat kakinya yang juga berwarna senada. Dengan panjang tubuhnya yang mencapai satu setengah meter, babi itu bisa dikategorikan sebagai babi hutan raksasa.

Secara sekilas terlihat seperti binatang berbalut kulit sebab bulunya terbilang pendek. Ekornya yang kecil tapi panjang mengibas mengancam. Bagian paling mengerikan tentu saja wajahnya. Dengan taring gelap dan panjang yang tumbuh mencuat dari gigi taring atas dan bawahnya, manik matanya yang cokelat bulat menantang, dan jangan lupa, ugh, dua lubang hidung besarnya yang mengendus tanah dengan beringas tampak menjijikkan.

Inilah saatnya, Norman mencelos. Inilah saat di mana ia mengingat perkiraannya. Pada awal memulai perjalanan, ia sempat memperhitungkan akan bertemu dengan satu-dua binatang liar di dalam hutan. Dan siapa sangka, kini perhitungannya ternyata menjadi kenyataan. Norman membenci prediksinya yang akurat.

Tanpa mereka sadari, tubuh mereka bertiga sudah merapat dengan sendirinya. Norman memegangi tali tas yang memberati bahunya dengan lebih erat. Instingnya berkata bahwa mereka sedang terjebak dalam situasi berbahaya, tetapi tidak sampai kepada mempertaruhkan hidup-mati.

"Ba-babi hutan," sengal Emma. Ia berkata dengan suara bisikan.

"Aku juga tahu, Em."

Norman melihat kaki Ray yang menegang bersiaga, seperti siap berlari kapan saja jika diberi aba-aba. Bohong jika Norman tidak merasa takut dan ia tahu jika kedua temannya pasti juga merasakan hal yang sama. Saat ini saja kakinya seperti tidak menapak. Tangannya bagai mengerut. Ujung jemarinya disusupi tremor sedingin es. Namun, menyadari bahwa di dekatnya ada Ray dan Emma, ketakutan Norman berubah menjadi kegigihan. Ia selangkah lebih berani.

Dilihat dari jumlah, babi hutan itu jelas kalah. Tiga lawan satu. Akan tetapi, jika dihadapkan dengan kekuatan, ini lain masalah. Norman mulai bertanya-tanya; apakah kedatangan babi hutan ini adalah awal dimulainya petaka dalam perjalanan mereka.

"Jangan berpencar."

Itu adalah kalimat pertama yang Norman ucapkan. Setenang dan seyakin mungkin. Tangannya bergerak memegang tangan Ray dan Emma—mereka bertiga bergandengan. Norman sudah pernah mengalami kejadian berbahaya, maka sudah tentu, ini bukan pertama kalinya ia merasa panik. Belajar dari pengalaman, Norman memiliki pengendalian diri yang sangat baik untuk tidak menunjukkan sedikit pun kecemasan.

"Kau benar, Norman." Ray sedikit mengendurkan otot-otot kakinya. "Kita harus tetap bersama. Itu masuk akal."

Entah prasangka apa yang Ray miliki kepada Norman atau sejauh mana anak itu mulai menaruh benih kecurigaan, Norman tidak ingin mengulik atau terlampau memikirkannya. Sekarang mereka memiliki babi hutan yang harus diurus terlebih dahulu.

Dari ekor mata Norman, ia bisa melihat babi hutan itu berjalan ke arah mereka (meski belum melihat keberadaan mereka). Dalam sepersekian detik yang sangat mengganggu, bisa Norman rasakan babi hutan itu menggerus keteguhan keberaniannya sedikit demi sedikit seperti halnya air yang menggerus batu karang.

"Kita bisa pergi diam-diam, teman-teman. Kita tidak mempunyai urusan apapun dengan babi itu. Jadi sebelum babi itu melihat kita, sebaiknya kita segera pergi. Tapi jangan berlari."

Dalam kepala Norman, ia membayangkan mereka berjalan berjingkat di antara dedaunan dan ranting kering sambil mengawasi babi hutan tadi. Ia mengkhawatirkan bunyi grasak-grusuk seandainya mereka melakukan rencana itu. Norman tidak tahu apakah pendengaran babi hutan sensitif terhadap suara atau tidak. Selama ini ia banyak belajar tentang binatang-binatang besar: singa, gajah, harimau, banteng, zebra, jerapah—tapi babi hutan sedikit pun tak pernah terpikirkan olehnya untuk dipelajari. Lagipula, siapa, sih, yang betah berlama-lama memandangi gambar binatang jelek semacam itu?

Emma meremas jemari Norman yang licin karena keringat. "Atau kita bisa saja diam di sini, bersembunyi di antara semak-semak dengan bertiarap. Aku yakin tubuh kita bertiga cukup kecil untuk menyusup di antara semak-semak itu dan membuat tubuh kita tidak kelihatan."

Norman menoleh mengamati Emma. Anak perempuan itu tak bisa menyembunyikan ketakutan dan kegugupannya. Tapi Norman bisa melihat giginya yang menggertak, menolak mundur, seolah tidak ingin termakan oleh perasaan kalut.

Tangan kiri Emma sibuk meluruskan pakaian, sementara matanya jelalatan memandangi pepohonan di sekeliling mereka. Dalam situasi ini, hebat sekali rasanya melihat anak perempuan itu tiba-tiba tersenyum—senyum seperti yang pernah dikembangkannya saat memberi usul memakai permen karet untuk mengelabuhi gerbang sensor. "Atau memanjat pohon. Itu ide yang cukup bagus agar kita tetap tidak terlihat, 'kan?"

Jika ini adalah waktu di mana mereka bisa bermain dan bercanda, mungkin Norman akan menjitak pelipis Emma seperti yang Ray lakukan tadi sebab, bisa-bisanya anak itu masih bisa begitu percaya diri. Kenyataannya, yang Norman rasakan hanyalah rasa bersalah.

"Emma, kau melupakan sesuatu." Norman jadi meringis, malu-malu membeberkan fakta yang seharusnya tidak diabaikan. "Aku ini tidak bisa memanjat."

Sekonyong-konyong, bibir Emma segera terkatup rapat. Ia menggerayang menyadari kesalahannya tapi lekas tersenyum kembali. "Maafkan aku, Norman. Aku benar-benar lupa. Eh, kalau begitu, ideku sama sekali bukan ide yang—"

"Babi hutan itu semakin dekat!" Ray menggeram dengan suara lirih. Genggaman tangannya pada Norman merenggang meski tidak dilepaskan. "Kurasa kita bisa menggabungkan kedua ide itu walaupun aku tidak setuju seratus persen. Kalian berdua melupakan bagian yang paling penting. Membuat diri kita tetap tidak kelihatan memang pilihan yang bagus, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya saat babi itu sudah pergi. Kalian tidak sadar jika babi itu sedang berjalan melewati jalur yang kita pilih. Sekarang, dengarkan aku. Kita harus mengambil keputusan yang cepat. Norman, bersembunyilah di antara semak-semak itu." Telunjuknya terarah ke kiri. "Jangan sampai terlihat."

"Tapi bagaimana dengan kalian?"

Ray nyengir sembari melempar pandang kepada Emma. "Aku sudah memikirkan hal ini sejak menit pertama kita melihat babi itu. Aku dan Emma akan memanjat pohon untuk mengalihkan perhatiannya. Kami akan mengubah rute babi itu agar kita tidak perlu berjumpa lagi dengannya nanti."

Genggaman dari tangan Emma semakin erat. "Serahkan saja urusan babi tolol itu kepada kami, Norman."

Norman tidak mengerti mengapa ia hanya mengangguk setelah Ray memberi perintah tersebut. Tanpa mengeluarkan sedikit pun bantahan. Tadinya ia ingin meragukan usulan apapun yang akan Ray ucapkan, sebab, secara samar-samar, dalam perasaan yang kotor, jauh di dalam lubuk hati Norman, ia masih menaruh jengkel kepada Ray karena idenya tentang mengambil jalan pintas—yang membuat mereka berakhir seperti ini.

Anehnya, yang Norman tahu, ia merasakan desakan tulus dan tekanan penuh persahabatan saat Ray mengatakannya. Kejengkelan itu sirna tak berbekas. Seakan-akan, Norman sudah mempercayakan pengambilan keputusan di tangan Ray sejak awal. Malah, kata-kata dari Emma mendukung kepercayaan itu. Dan Norman terkejut bahwa ia tidak menyesalinya. Memercayai Ray sama sekali bukan pilihan yang buruk.

Setelah Ray memberi aba-aba, Norman melepaskan genggaman tangannya dari Ray dan Emma, kemudian berjalan mundur sepelan mungkin, berusaha tidak membuat suara berisik. Ia tinggal mengempaskan tubuhnya di antara semak-semak hijau, mengamati apa yang akan dilakukan kedua temannya selanjutnya dari kejauhan.

Emma beraksi terlebih dahulu, disusul Ray yang memanjat di pohon lain. Kedua anak itu sangat lincah memanjat batang pohon seperti seekor tupai yang bersemangat mengejar buah-buahan. Norman mengagumi kelincahan mereka. Ia sendiri belum pernah mencoba memanjat (Vincent dan Zazie-lah yang selalu memetikkan Norman buah), tapi ia tahu memanjat itu lumayan sulit. Kau harus tahu di mana menempatkan posisi tangan dan kaki, keseimbangan, dan memperkirakan seberapa licin batang pohon yang kaupanjat.

Setelah Ray memosisikan tubuhnya pada dahan yang stabil, tangannya berhitung satu-dua-tiga—yang ditujukan kepada Emma. Kemudian, Emma melemparkan batu berukuran sekepalan dari dalam kantong kresek sekuat tenaga (sebab tidak mungkin membawa batu itu dengan tangan kosong sebab ia harus memanjat). Karena jalur yang mereka pilih untuk mengambil jalan pintas adalah arah barat tapi menurut kompas saat ini mereka melenceng ke arah barat daya, maka batu itu pun Emma lemparkan ke arah timur laut. Perhitungan dari Ray sungguh keterlaluan cerdasnya.

Mungkin tadi Ray pun juga menyadari kesalahannya meskipun ia tidak mau mengakui jalan pintas yang mereka ambil melenceng. Norman berterima kasih karena Ray tidak mementingkan ego dalam mengambil keputusan.

Setelah Emma melemparkan batu-batu sampai habis, giliran Ray yang ikut melempar. Ini adalah strategi untuk memperkuat asal suara kegaduhan. Mujurlah, babi hutan itu tergoda dengan suara ribut yang Ray dan Emma buat. Kepala hitamnya menoleh. Hidungnya mengendus-ngendus tanah dan udara.

Sunyi sesaat dan babi hutan itu sudah memantapkan niatnya untuk mengejar sumber suara gaduh tadi. Ia memelesat, berlari sejauh-jauhnya. Seharusnya, jika babi hutan itu bisa berpikir sedikit, maka yang harusnya ia buru bukanlah suara gaduhnya, tetapi memperkirakan darimana suara gaduh itu berasal. Seharusnya babi itu berpikir bahwa ini hanyalah jebakan. Norman tersenyum lega. Inilah perbedaan antara binatang dengan manusia. Sehebat apapun binatang itu, akal manusia tetaplah senjata yang lebih hebat.

Namun, senyum Norman memudar perlahan-lahan. Gelombang aneh menerpa dadanya selagi ia berbaring tengkurap. Rasanya seolah ada sejuring es yang menancap di jantungnya. Berdenyut-denyut, begitu perih, membuat ngilu hingga menembus belulang.

Bukan. Bukan Ray yang salah karena memberi ide mengambil jalan pintas.

Dalam kerangka berpikir bagaimana pun, Norman-lah yang bersalah di sini. Kalau saja ia tidak menyeret Ray dan Emma ke dalam perjalanan yang berbahaya ini, atau jika ditarik ke akar, ke dalam persahabatan yang penuh kebohongan, maka mereka tidak harus mengalami kejadian penuh petaka seperti ini.

Ray dan Emma turun dari pohon. Norman cepat-cepat berdiri dan berkumpul dengan mereka. Melihat wajah kedua temannya tampak berseri-seri, pemikiran negatif itu minggat dengan sendirinya.

"Tadi itu memang menegangkan, tapi juga menyenangkan." Emma tertawa gembira.

"Dasar, Emma bodoh." Ray mendengkus tapi ia ikut tertawa. "Bukan petualangan namanya kalau tidak diselingi ketegangan, sih. Di buku-buku cerita atau di film juga begitu, 'kan? Tokoh utama selalu mendapat adegan yang berbahaya."

"Jadi kita ini ibaratnya tokoh utama menurutmu, Ray?"

"Yah, bisa dibilang begitu. Kita bertiga adalah tokoh utama dalam cerita persahabatan."

Norman hanya tersenyum lega melihat dua anak itu kembali dengan aman. "Untunglah kita bisa selamat. Terima kasih atas kerja samanya, Ray, Emma."

Ray mengacak rambut Norman. "Kau juga, Norman."

Terima kasih karena tidak bersikap egois, Ray, Norman berkaca-kaca dalam hati.

Tak ada lagi perasaan benci. Norman telah mengampuni kejengkelannya kepada Ray. "Kita lanjutkan perjalanan sesuai kompas? Barat daya?"

"Tentu saja." Ray menggaruk rambutnya, menggerayang malu. "Kupikir walaupun jalan ini melenceng dari jalan pintas yang awal, tetap saja rute ini lebih dekat daripada rute biasa yang harus melewati jalan melengkung dan berbelok-belok."

Mereka bertiga berhasil mengubah ketegangan menjadi tawa melebur. Dengan perasaan lebih hidup, mereka pun setuju melanjutkan perjalanan tanpa beristirahat.

Benar-benar. Sepertinya kata-kata Ray tadi memang benar. Bukan petualangan namanya jika tidak diselingi dengan ketegangan. Dan, (Norman menambahkan bagian ini setelah mereka melangkah bersama-sama) bukan persahabatan yang akan lengket namanya jika tidak diuji dengan perbedaan pendapat.

.

.

"Ugo mendorong terbuka pintu kapal selamnya, menghirup napas kebebasan dalam-dalam.

Terhampar di hadapannya suatu pemandangan tak pernah terbayang sebelumnya oleh manusia. Pepohonan, gemuk dan tua, tumbuh menjulang menutup langit. Di kaki pepohonan, rerumput serupa anemon membuka-tutup mulut bercahaya mereka, seakan tengah melahirkan kunang-kunang. Di kejauhan, tampak tebing-tebing curam, terbentuk oleh tanah berwarna biru muda serupa bubuk-bubuk kristal. Aroma manis air paling murni menebar di udara. Suara makhluk-makhluk hutan bergema, mirip kicau burung dan auman sayup beruang lapar, tapi Ugo tahu itu bukanlah burung maupun beruang yang pernah ia hadapi pada perjalanan-perjalanan sebelumnya.

"Peta! Aku butuh peta!"

Ugo masuk kembali ke kapal selam mininya dan mengobrak-abrik setiap lemari, mencari gulungan perkamen rapuh menguning itu. Benda malang itu rupanya jatuh terselip di antara kaleng-kaleng ikan cod, sedikit robek di ujung, tapi Ugo masih dapat membaca cukup jelas. Gambar sebuah pulau berbentuk bintang, kering tanpa lautan, dengan berbagai legenda dan nama-nama asing.

"Zamrud Lautan," Ugo membaca keras-keras, membentangkan petanya. "Oh, astaga! Aku tidak tahu kau sungguh-sungguh nyata!"

Sesuai dengan namanya, secara keseluruhan, Zamrud Lautan, pulau yang baru ditemukannya itu memiliki warna hijau dan biru yang mendominasi. Warna yang menyejukkan mata. Ugo sampai harus mengucek matanya berkali-kali, membandingkan gambar di peta dan pemandangan di hadapannya sekali lagi, upaya untuk memastikan. Ugo tersenyum sebab perjalanan panjang nan melelahkannya kini terbayar tuntas."

Ray berdeham, membasahi tenggorokannya. Novel di pangkuannya menunjukkan ilustrasi berwarna dua halaman: sebuah kapal selam keemasan berbentuk ikan prasejarah dan hutan asing penuh pepohonan raksasa. Ugo, sang tokoh titular dengan celana lorek kesayangannya, berdiri di kepala kapal selam, berkacak pinggang menatap dunia baru dan petualangan di setiap sudutnya.

"Wow," Emma berbisik, mengelus halaman mengkilat itu penuh kekaguman. "Menurutmu, apa Ugo akan berhasil menemukan harta karun di pulau Zamrud Lautan yang hilang?"

"Mungkin. Tapi dia juga perlu mewaspadai Tuan Irtar dan antek-anteknya. Mereka pasti ingin merebut harta itu untuk sumber daya mereka sendiri," Ray berteori, menyebutkan nama nemesis Ugo sejak volume pertama.

"Tapi Tuan Irtar 'kan tidak ikut campur sejauh ini?" Emma mengingat-ingat bab-bab sebelumnya, di mana yang dilakukan Ugo hanyalah memenangkan peta pulau misterius dalam sebuah judi aneh di rumah makan tua, memperbaiki kapal selam antik peninggalan kakeknya, mencoba peruntungan menjelajah laut karena penasaran, kabur ke dalam celah bawah laut saat dikejar oleh cumi-cumi raksasa, kemudian, di akhir bab delapan, mendapati dirinya telah tiba di Zamrud Lautan, pulau bergelimang harta yang telah lama lenyap ditelan bencana tak terkisahkan.

Ray, lebih berpengalaman dengan plot serial Ugo, menggeleng. "Ingat kakek tua berjenggot perak di rumah makan? Bisa jadi dia adalah Tuan Irtar dalam samaran. Bukan pertama kalinya dia melakukan penyamaran untuk mengecoh Ugo."

"Tapi kakek tua itu baik! Dia menraktir Ugo makan malam dan mendongenginya kisah Zamrud Lautan!" Inilah yang membikin Emma agak sulit menghayati fiksi. Ia tidak sampai hati mencurigai tokoh-tokoh menarik di dalamnya sampai mereka terbukti memang jahat. "Bagaimana menurutmu, Norman? Apa menurutmu motif kakek tua itu?"

Ray menoleh pada Norman yang bersandar di bahunya dan mendapati bocah itu telah tertidur. Pantas, dari tadi diam saja.

"Ssst!" Ray meletakkan telunjuk di depan bibir. Emma mengintip kepada Norman dan menutup mulutnya.

"Uuuh! Imut banget! Ray, lihat!" Emma memekik dalam bisikan, tampak gemas ingin mencubit pipi Norman. Ray memelototinya.

"Jangan dibangunkan. Kasihan, sepertinya dia kecapaian."

"Haruskah kita memberitahu seseorang?"

Saat mereka berdua sedang kasak-kusuk, pintu perpustakaan terbuka. Mr Vincent masuk membawa selimut, seolah ia telah sedari tadi menguping di depan perpustakaan dan tahu bahwa kini waktunya tampil. Ia membungkus Norman dalam selimut seperti bayi lalu menggendongnya. Emma dan Ray berdiri canggung, tak tahu harus berbuat apa.

"Tuan dan Nona, sekarang sudah sore," Mr Vincent berkata dalam nada formalnya yang membuat rikuh."Ada baiknya kalian pulang sebelum gelap."

Ray dan Emma mengangguk cepat, mengikuti Mr Vincent keluar ruangan, buku Ugo tergeletak terlupakan di samping bantal.

.

.

James merasa gembira sejak ia bangun tidur. Ia mencanangkan dalam hati bahwa hari ini adalah hari biasa yang lain. Hari normal yang akan dilaluinya sebagai seorang lelaki dewasa dan juga ayah.

Maksudnya begini. Tidak setiap hari James bisa tidur di rumahnya sendiri. Jika beban pekerjaan menuntut waktu lama untuk diselesaikan, maka bisa dipastikan ia akan menyewa penginapan untuk bermalam sementara bersama timnya. Tidak ada kesempatan bertemu dengan putranya selama berhari-hari. Bisa juga selama beberapa minggu. Sehingga saat-saat berada di rumah adalah saat yang membahagiakan.

James akan menghabiskan waktu sarapan berdua bersama Norman. Mereka akan bertukar cerita, tentang apa yang telah mereka lakukan pada hari kemarin, sambil sesekali bercanda. Norman akan bertanya, apakah pekerjaan James baik-baik saja dan apakah seluruh tim ayahnya pulang dengan selamat. Sedangkan James lebih sering menanyakan topik ringan semacam, permainan apa yang yang dilakukan putranya pada hari itu atau menu makanan apa yang Norman pilih.

Kemudian, mereka berdua kembali melanjutkan aktivitas masing-masing, dengan James yang mengawasi Norman dari jauh. Kadang-kadang, jika James tidak perlu mengurus pekerjaan di ruang kerjanya, ia akan memilih bermain bersama Norman (meskipun akhir-akhir ini sangat jarang terjadi sebab tak ada ruang bernapas bagi James untuk beristirahat dari pekerjaannya). Sisa hari akan ditutup dengan James yang membacakan Norman cerita sebelum tidur.

Betapa indahnya hari yang normal.

Atau demikianlah yang semula dipikirkan James. Sama sekali tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa hari yang normal akan berubah menjadi hari penuh kecemasan. Ini karena James sangat-sangat menjaga Norman.

Sekarang, James berdiri dengan gelisah di depan meja kerjanya. Engganlah ia duduk sebab ia tengah menunggu para pelayannya berkumpul. Zazie dan Cislo, dua pelayan yang datang paling terakhir, segera berjajar dengan pelayan lainnya. Pada hari-hari biasa, wajah mereka akan sarat dengan ketegasan dan keberanian. Namun, lihatlah, kini mereka hanya menunduk dengan berbagai level rasa bersalah pada raut wajah mereka.

Dan James tentulah mengerti apa yang telah terjadi.

"Jadi Norman dan teman-temannya memang tidak ada di mansion, ya?"

Kasak-kusuk dimulai dalam dengung lirih, yang kemudian diakhiri oleh Vincent yang memutuskan untuk angkat bicara, "Maafkan kami, Tuan. Kami sudah mencari Norman ke seluruh ruangan dan tempat-tempat rahasia, juga kebun dan halaman belakang, tetapi Tuan Muda tidak ada di mansion, Tuan."

James hanya mampu menghela napas. Berat dan letih. Ia ingat betul, pagi tadi semuanya masih berjalan sesuai bayangannya. Sesudah sarapan, dua teman Norman, Ray dan Emma, datang berkunjung pada jam cemilan pagi (ini adalah tradisi dalam keluarga Ratri, memakan cemilan setelah sarapan). James ingat bagaimana dua anak desa itu sempat menyapanya dengan senyum ceria yang menggemaskan; bagaimana ia menyaksikan ketiga bocah itu berlarian ke halaman sebelum ia sendiri masuk ke ruang kerjanya.

James berpikir, mereka pastilah sudah memiliki agenda akan memulai permainan seperti apa. Tidak perlulah ia sampai mengusik mereka. Anak-anak memiliki dunia mereka sendiri yang tidak bisa dipahami orang dewasa. Lagipula, melihat Norman yang berlari penuh semangat, tanpa memedulikan fisiknya sendiri yang memiliki batasan, dengan senyum paling lebar dan suara tawa menggelitik (hal yang sesungguhnya jarang terjadi)—siapa pun yang melihat pemandangan seperti itu pasti setuju untuk membiarkan mereka.

Lalu, tepat sebelum jam makan siang, Barbara berlari panik ke ruangan James dan mengabarkan bahwa Norman beserta teman-temannya tidak ada di halaman lagi. Tahu-tahu, berikutnya James sudah mengumpulkan semua pelayannya untuk meminta konfirmasi.

Walaupun berusaha tetap tenang di hadapan bawahannya, James sekonyong-konyong disergap oleh kecemasan yang mendesak. Dadanya dibekap oleh kepanikan dan perutnya bagai terpuntir. Terakhir kali ia merasa cemas seperti ini adalah ketika—

James menggelengkan kepala berulang, mengusir ingatan itu dari benaknya. Ah, kejadian itu sudah lama sekali memang, tetapi kengerian yang ditimbulkannya tetap terasa hingga sekarang.

Lebih dari siapa pun, James mengerti jika ia bukanlah sosok ayah yang sempurna. Ia tidak bisa selalu berada di sisi Norman setiap saat. Padahal kenyataan yang mereka ketahui tentang dunia ini tidaklah sama dengan kenyataan yang diketahui penduduk desa. Hal inilah yang mendorongnya untuk memberi pengawasan sangat ketat di mansion. Bukan berarti James ingin mengekang kebebasan putranya. Apa pun yang terjadi, selama Norman berada di lingkungan mansion, Norman akan aman.

Akan tetapi, siapa yang tahu kapankah daun yang tua akan gugur? Siapa yang tahu apa yang sejatinya tersembunyi dalam hati seorang anak?

Sekali lagi, James ingin menyalahkan ketidakbecusannya menjaga putra semata wayangnya. Tapi ia tahu ia sudah terlambat. Sangat terlambat untuk merasa menyesal.

Diiringi dengan keteguhan, James memberi perintah kepada semua pelayannya. Soal penyesalan bisa dipikirkan nanti. Untuk saat ini, James hanya ingin membawa Norman ke dalam pelukannya lagi.

.

.

Udara sore musim gugur menerpa wajah mereka, terasa manis dan segar setelah seharian di dalam ruangan. Emma dan Ray menghirup napas dalam-dalam, mengerjapkan mata menyesuaikan pandangan. Langit telah mulai kelabu, bayang-bayang telah turun di sela pepohonan seperti masa baru. Jika tidak cepat-cepat pulang, mereka akan kesulitan menuruni bukit.

Ketika Emma dan Ray mengambil sepeda di garasi (Emma hampir saja menggores mobil ayah Norman karena meleng), mereka mendengar seseorang memanggil. Menoleh, keduanya melihat Norman berlari menyongsong mereka, telah memakai piyama.

"Kalian mau pulang?" Anak itu bertanya terengah, matanya memancarkan ketidakrelaan. Emma merasakan perutnya seperti ditonjok.

"Um, ya. Sudah sore," Ray menjawab konyol, menunjuk langit seakan perlu penjelasan lagi. "Orang rumah akan khawatir."

Norman tampak berjuang menahan tangis. Tapi kemudian ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan memberi mereka senyuman terbaiknya. Senyum cerah yang membuat Emma dan Ray sedikit pusing saking cepatnya jantung mereka berdebar.

Lalu Norman merengkuh mereka dalam pelukan.

"Terima kasih sudah menemaniku hari ini," bisik Norman tulus, mendekap erat-erat. "Aku sangat bahagia. Hari ini sangat menyenangkan. Ini hari terbaik sepanjang hidupku." Ia terisak sedikit.

Emma balas memeluknya erat, meresapi hangat tubuh Norman di dadanya. "Kami juga sangat senang! Jangan sedih, Norman."

Jangan menangis, karena kau membuatku bersedih juga, Norman, batin Emma.

"Yeah," Ray menggumam pelan, mengelus rambut Norman. "Tidak usah menangis. Nanti kita main bersama lagi."

Norman melepas pelukannya, menatap Ray dengan mata besar. "Sungguh?"

Ray tertawa kecil, mengusap air mata Norman dengan punggung sweaternya. "Mmm. Kau tunggu saja. Teman-temanmu ini pasti datang mengganggumu lagi."

Pipi Norman memerah. "Kita teman sekarang?"

Emma tertawa dan mencium gemas pipinya. "Tentu saja! Kita bertiga teman baik. Iya 'kan, Ray?"

Ray menjawab dengan anggukan mantap.

.

.

Norman mengantar kepulangan Ray dan Emma sampai pinggir jembatan, berjinjit agar dapat melihat mereka sejauh mungkin. Norman rupanya tidak memakai alas kaki. Tentu ia begitu terburu-buru berlari dari kamar, tak mau kehilangan kesempatan melambai pada kawan-kawan barunya.

Setelah pertemuan pertama itu, Ray dan Emma semakin sering mengunjungi Norman. Ia tidak ingin tahu—atau berpura-pura tidak tahu—apakah dua temannya itu pernah merasakan keanehan saat berada di dalam mansion, atau bilakah mereka mencurigai pekerjaan ayahnya yang hingga kini tetap ia rahasiakan. Norman membuang segala prasangka. Asal Ray dan Emma rutin mengunjunginya dan tidak bertanya hal-hal ganjil, ia merasa tidak ada yang perlu dicemaskan.

Di saat Norman terbuai dalam kesendirian, tidak terpungkiri jika ia merasa sangat bahagia jika dua anak itu tiba-tiba muncul. Dan tidak peduli dengan rasa lelah atau mungkin saja Norman akan jatuh sakit setelah seharian bermain bersama Ray dan Emma, Norman sangat menikmati kebersamaan mereka.

Akan tetapi, di atas rasa bahagia dan gairah itu, terkadang Norman merasa bersalah karena telah melibatkan Ray dan Emma ke dalam kehidupannya yang seharusnya terisolasi. Namun (sekali lagi ia membuat pembenaran), karena ia melihat Ray dan Emma yang menikmati waktu bersama, jadilah Norman tetap berpikir positif.

Norman berpikir, tidak apa-apa 'kan, walau mereka bertemu dan bermain dengan cara seperti ini? Mereka bertiga tetap sahabat, 'kan?

.

.

{tbc}