The Promised Neverland © Kaiu Shirai. Ilustrasi © Posuka Demizu. Penulis tidak mengambil keuntungan finansial apapun dari karya transformatif ini
The Death of The Fireflies © aria-cheros (arianadez dan psycheros)
[Bab 5]
.
.
"Kita harus segera menemukan mereka."
James melontarkan pernyataan itu, terdengar tegas seakan ada sebuah katapel besi di dalam mulutnya yang melemparkan setiap silabel kuat-kuat. Tidak ada waktu untuk panik. Tidak ada waktu untuk memikirkan kemungkinan terburuk. Mereka harus fokus.
"Mari kita pikirkan. Ke mana kira-kira mereka pergi? Mungkinkah mereka hanya menyelinap ke rumah Ray atau Emma?"
Walaupun prospek itu juga tidak terlalu menyenangkan, James berharap hanya itulah yang terjadi. Jika Norman sekadar berkunjung ke rumah salah satu temannya, James tinggal turun ke desa untuk menjemputnya. Setidaknya tidak ada bahaya mengintai putranya di rumah para petani itu.
Lebih baik Norman pergi ke desa, daripada ….
"Tidak, Sir. Saya sudah menghubungi aliansi kita di desa. Dia mengunjungi rumah Ray dan Emma untuk mengecek keadaan. Nihil. Ibu Ray dan kakak Emma mengira mereka masih bermain di rumah keluarga Ratri," Cislo melapor sambil menggelengkan kepala.
Hanya latihan menahan diri dan mengatur roman muka selama puluhan tahun yang membantu James tetap terlihat tenang. Perutnya mendadak dingin oleh rasa takut, jantungnya seakan jatuh ke perut. "Baklah. Tapi tetap perintahkan aliansi kita untuk berpatroli di sekeliling desa. Ada berapa yang sedang standby saat ini?"
"Lima orang, Sir. Saya akan segera menghubungi mereka." Dengan kalimat itu, Cislo membungkuk undur diri untuk mengontak para aliansi dari radio di Ruang Kendali.
James mengedarkan pandangan kepada anggota yang lain. "Bagaimana dengan kalian, ada sesuatu yang mungkin bisa dijadikan petunjuk? Gelagat aneh Norman belakangan ini, mungkin?"
Barbara hanya diam, wajahnya melipat dalam, mati-matian menahan amarah. Sebagai koki keluarga yang sangat memanjakan Norman, pelayan yang paling sering menghabiskan waktu bersama Norman, perempuan itu pastilah dongkol sekali mendapati tuan kecil kesayangannya diculik oleh dua bocah lain. Zazie, pengawal setia James, pun hanya bersandar di bahu sofa dengan dua tangan terlibat di depan dada, mata merahnya menelisik sekeliling ruangan seakan mencari sidik jari tersembunyi.
Tiba-tiba Vincent angkat bicara. "Kunang-kunang."
Ketiga orang lain di ruangan itu menoleh menatapnya dengan terkejut. "Maaf?"
"Ah, ini mungkin bukan info yang relevan, tapi beberapa hari yang lalu Tuan Muda bertanya tentang kunang-kunang," Vincent menjelaskan, "Lebih tepatnya, Tuan Muda bertanya apakah sekarang kunang-kunang sudah mulai menetas."
"Kunang-kunang?" James bergumam, meletakkan emari di bawah dagunya. "Kenapa Norman ingin tahu tentang—"
Kemudian, seakan sebuah steker yang telah lama terlepas dan tersembunyi di lantai berdebu dicolokkan kembali ke kontak; segalanya menjadi terang di benak mereka. Barbara memekik, menutup mulut ngeri. Zazie menegakkan badan, menggeram. Vincent nyaris menyerapah pelan, sebelum menahan diri dan memotong katanya di tengah-tengah.
James menggenggam tangannya kuat-kuat agar berhenti gemetar. "Ayshe."
Padang kunang-kunang di tepi sungai, jauh di dalam hutan.
"Dia pergi ke sana. Anakku mengunjungi tempat itu lagi," James berkata, suaranya tertahan. Kembali kilasan memori itu menerjangnya, kini lebih kuat dan tak terbendung seolah pintu-pintu penahan telah hancur digulung bah. Norman dan Ayshe, menghilang dalam kegelapan malam. Norman dan Ayshe, saling berpelukan di tengah padang rumput, kunang-kunang berpendar di sekeliling mereka seperti cahaya surgawi. Seperti malaikat penjemput yang akan membawa mereka jauh tak kembali. Suara tangis dan jerit. Raungan memekakkan.
Musim panas adalah waktu paling sibuk bagi orang-orang seperti James. Mereka jauh lebih buas pada musim seperti ini. Lebih gesit. Lebih lapar.
Dari semua tempat, hutan adalah tempat terburuk untuk dikunjungi anak-anak pada saat ini.
"Sir?"
Suara Barbara menarik James kembali ke ruang kerjanya. Ia menatap wajah timnya satu persatu, menangkap di mata mereka kebulatan tekad yang sama.
Jam bandul di samping pintu berdentang. Langit masih biru cerah seakan ingin menipu penghuni bumi, tapi jarum-jarum waktu tak pernah berbohong. Pukul tiga sore. Mereka tidak punya banyak waktu.
James menarik napas dalam-dalam, mengeluarkannya perlahan. Tidak ada waktu untuk panik. Tidak ada waktu untuk memikirkan kemungkinan terburuk. Fokus. Ia pernah melalui ini sekali. Ia harus bisa melaluinya lagi.
"Barbara," James memulai, suaranya dingin tanpa emosi.
Perempuan itu menegakkan punggung, seorang prajurit berani mati. "Sir."
"Pergilah ke pondok Tuan Sonju. Kita memerlukan bantuan dari anjing-anjing pelacaknya. Zazie, kau susul Cislo. Harusnya dia sudah selesai mengontak para aliansi. Sampaikan informasi terbaru ini pada semua aliansi; lalu siapkan senjata dan properti untuk kita semua. Vincent, bantu aku memetakan rute."
"Siap, laksanakan, Sir!"
Apapun yang terjadi, bagaimanapun caranya, James tidak akan membiarkan takdir merenggut Norman darinya untuk kedua kalinya.
.
.
.
Pepohonan di sekitar mereka semakin rapat. Di satu sisi ini pertanda bagus—artinya mereka sudah lebih dekat dengan sumber air. Di sisi lain, akar-akar gemuk berbonggol yang mencuat dari tanah hitam basah dan perdu-perdu berduri setinggi dada membuat perjalanan semakin menantang. Emma tak sengaja menggores sikunya pada duri rumpun murbei. Lutut Ray sedikit bonyok, oleh-oleh dari jatuh terjerembabnya gara-gara tersandung akar yang tersembunyi di balik rontokan daun. Hanya Norman yang masih bersih tanpa lecet, hanya pakaiannya saja yang kotor setelah tiarap tadi. Emma memuji kehati-hatiannya. Norman tersipu malu, menampik bahwa berkat bantuan Emma dan Ray yang selalu menggandengnya di medan sulitlah Norman masih utuh sampai detik ini.
"Coba Mama 'Bella ikut ekspedisi ini. Dia pasti bisa menemukan padang itu tanpa melihat peta," Emma menyeletuk sembari menginjak-injak sebuah perdu sampai rata dengan tanah agar Norman bisa lewat.
Norman menoleh, mengangkat alis. "Oh, ya? Mama-mu hafal hutan ini, ya?"
Ray mencibir, terlihat tidak terlalu peduli. Ia mengorek-korek lumut di sebuah batang pohon dengan ranting yang dipungutnya dari tanah. "Yeah. Mama hafal banyak lanskap hutan. Sebelum menikah dengan Papa, ia bergabung dengan Pecinta Alam. Yah, sekarang pun masih, sih. Sekali jadi anggota Pecinta Alam, kau anggota selamanya. Begitu kata Mama."
"Benar, Mama Isabella keren sekali!" Emma menyahut, "Di rumah Ray, ada banyaaaak foto-foto Mama 'Bella. Ada foto mendaki gunung, main ski, kemah di hutan …."
"Wow," Norman menimpali, benar-benar tertarik. "Mama-mu sudah pernah mendaki gunung apa saja?"
"Ack, banyak. Aku tidak hafal."
"Mama 'Bella bahkan pernah mendaki Gunung Elbrus! Kau tahu? Itu gunung tertinggi di Eropa!"
Mata Emma berbinar-binar kedua tangannya mengepal saking semangatnya bercerita. Betapa manisnya. Padahal perempuan dalam ceritanya itu sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya, tapi Emma membusungkan dada penuh rasa bangga. Semangat menggebu-gebu yang hanya muncul saat membicarakan orang-orang kesayanganmu.
"Apa kau akan bergabung dengan Pecinta Alam juga, Ray?" Norman tersenyum lembut, berusaha menarik Ray dalam percakapan.
Padahal setelah peristiwa babi hutan itu mereka sudah sempat berbaikan, tapi semakin jauh tersasar suasana hati Ray kembali menjadi suram. Mungkin dia sedang merasa bersalah karena mereka tersesat, atau mungkin ia sedang menyesali kesediaannya mengikuti ekspedisi Norman.
Apapun itu, Norman benar-benar tidak mau berselisih paham berkepanjangan dengan Ray. Ia ingin mereka tertawa-tawa lagi, saling menyemangati lagi, seperti tadi saat bertemu babi hutan. Tapi, memangnya mereka harus menghadapi bahaya bersama-sama dulu baru bisa berteman baik? Dulu anjing-anjing ganas milik Sonju, tadi babi hutan, nanti apa lagi? Tak bisakah mereka akur tanpa harus mempertaruhkan nyawa?
Ray mengedikkan bahu. "Mungkin. Aku belum terlalu memikirkannya. Aku suka jelajah alam, tapi aku juga suka seni, seperti Papa. Akan sulit untuk melakukan keduanya bersamaan."
"Ah, tidak juga. Banyak seniman yang juga pendaki gunung atau penyelam handal. Kalau Ray, pasti bisa."
"Heh, bisa saja kau," Ray memerotkan bibir pura-pura tak peduli, tapi Norman dan Emma toh menangkap sedikit senyum di sudutnya. Emma mulai meledeknya dan mereka pun mulai saling adu mulut, seperti biasa.
Tapi, meski Norman sungguh-sungguh mengagumi Mama Ray, dalam hati ia masih jauh lebih bangga pada James. Mama Ray boleh anggota kehormatan Pecinta Alam, boleh mendaki gunung tertinggi di Eropa. Tapi, beliau tidak pernah mempertaruhkan nyawa menghadapi monster demi melindungi kota.
Tidak, Norman tidak sedang berhalusinasi gara-gara kepanasan. Memang itulah pekerjaan James dan timnya.
Sebagai anak yang hobi membaca, Ray tentu mengetahui mitos tentang orbis alius—dunia-dunia lain. Bahkan Emma, yang hanya menyukai buku-buku non fiksi, barangkali juga paham betapa kisah-kisah tentang dunia lain itu telah mengakar di budaya manusia sejak jaman kuno. Vyraj dan Nav dari mitologi Slovakia, dunia para dewa dalam kepercayaan bangsa Kelt, dan para dewa yang bersemayam di Gunung Olimpus di mitologi Yunani dan Romawi. Semenjak masa purba, manusia telah merangkai epos tentang eksistensi lain itu seakan pengetahuan tentangnya memang telah mengakar di bawah alam sadar mereka.
Namun, jika Norman berkata bahwa dunia-dunia itu memang nyata, Ray dan Emma—dan sebagian besar penduduk bumi—tentu tidak akan percaya.
Bukan tanpa alasan. Pengetahuan tentang keberadaan dunia-dunia itu memang hanya diwariskan kepada sebagian kecil orang. Ada orang-orang beruntung—atau sial, tergantung bagaimana sudut pandangmu—yang terlahir untuk melihat ke balik tabir pembatas. Ada orang-orang yang menghabiskan hidup mereka mempelajari naskah-naskah kuno, mencari celah untuk memahami dunia di seberang eksistensinya sendiri. Lalu ada orang-orang seperti Keluarga Ratri, yang terikat sumpah untuk menjaga gerbang-gerbang antar dimensi.
Tidak semua makhluk dari dimensi-dimensi itu setara dengan makhluk dunia ini, demikian yang dipahami Norman. Ada dimensi yang ditinggali oleh sosok-sosok mahadewi, terlalu indah lagi agung untuk dipandang mata manusia fana. Ada dimensi dengan langit keemasan, di mana penghuninya tak pernah merasakan lapar dan haus, tak pernah ingin berbuat jahat. Hanya kebahagiaan dan kedamaian abadi hingga masa penghabisan.
Lalu, ada dimensi yang penuh sesak oleh makhluk-makhluk busuk pemangsa manusia.
Legenda-legenda menggambarkan mereka sebagai makhluk buruk rupa, buas, tak berakal; hanya dikendalikan oleh nafsu dan rasa lapar. Yokai, Wendigo, Kelpie … nama mereka berbeda-beda di seluruh budaya tapi semuanya tak wajar. James dan rekan-rekan seperjuangannya menyebut mereka demon—monster-monster yang merobek tabir pembatas untuk berburu di dunia manusia, dunia yang penuh daging lembut, lezat, lagi tak berdaya.
"Jangan masuk ke hutan. Di sanalah mereka senang bersembunyi."
"Anak kecil jangan pergi bermain di malam hari. Kalau diculik monster, kau tak akan pernah pulang lagi."
"Ini demi kebaikanmu sendiri, Norman. Kau mengerti, kan?"
Suara keresak dari atas pohon membuat Norman terpekik kaget. Emma dan Ray ikut terlonjak, lebih karena terkejut mendengar pekikan Norman daripada takut sungguhan. Sekelompok burung pipit gemuk bulat terbang meninggalkan satu ranting untuk hinggap di ranting lain, formasi mereka seperti proyektil kecil yang berisik.
Emma tertawa gugup sambil menepuk bahu Norman. "Duh, bikin kaget saja. Kau takut akan ada babi hutan lagi, ya?"
Norman memaksakan senyum, bibirnya berkedut sedikit. "Ye—yeah." Salah. Yang kutakutkan jauh lebih mengerikan daripada segerombol babi hutan kelaparan. Sesuatu yang hanya dapat kau lihat dalam mimpi-mimpi paling buruk.
Menelengkan kepala sambil mengerutkan alis, Emma menukas. "Bohong. Bibirmu berkedut kalau sedang bohong, Norman. Apa yang kau takutkan?"
"Umm …," Norman memalingkan wajah, berusaha menghindari tatapan menyelidik Emma. Tapi sial—ia justru tak sengaja bertemu mata dengan Ray, yang mengawasinya dengan mata berkilat waspada. Norman menggenggam tangan, berusaha agar tidak gemetar. "Aku—takut akan ada sesuatu yang lebih menakutkan dari babi hutan."
Tidak bohong, kan?
"Harusnya kau bilang dari tadi kalau takut, agar kita tidak perlu jauh-jauh kemari," gumam Ray. Emma mencubit lengannya. "Aduh!"
"Jangan mulai lagi. Kita 'kan setuju melakukan ini bersama. Kita hadapi semuanya bersama-sama," tegur Emma. "Norman, tenang saja. Di hutan ini tidak ada beruang atau serigala. Paling hanya babi hutan atau rusa. Asalkan kita tidak mengganggu mereka, mereka juga tidak akan mengganggu kita."
Sebagai emfasis, Emma menggenggam kedua tangan Norman erat-erat. Tangan Emma begitu hangat, melingkupi jemari Norman yang dingin sebagai pelindung. "Tidak ada yang perlu ditakutkan. Kita akan baik-baik saja. Percayalah padaku."
Emma benar. Tidak ada yang perlu ditakutkan. James dan rekan-rekannya telah bekerja dengan sangat baik selama ini, bukan? Emma, Ray, dan anak-anak desa lainnya sering bermain di hutan dan mereka baik-baik saja. Lagipula, monster-monster itu tidak datang setiap saat. Mereka harus berusaha untuk menembus pembatas dimensi. Dan kalaupun berhasil menembusnya, mereka hanya berburu di waktu malam. jika mereka tiba di padang sebelum matahari terbenam, segalanya akan baik-baik saja.
"Aku percaya, Emma."
Benar begitu, bukan?
.
.
.
Saat usianya tujuh tahun, Ray pernah mematahkan tulang lengan kirinya.
Waktu itu pertengahan musim gugur. Angin berembus cukup kencang, tapi arusnya tenang dan hawanya sejuk. Momen yang sangat tepat untuk bermain layang-layang. Ray dan kawan-kawannya tak bisa duduk anteng di kelas, gelisah ingin cepat pulang dan beradu layang-layang di lapangan bola belakang kantor kepala desa.
Kebetulan Ray punya layang-layang baru. Ayahnya, Leslie, membuatnya sendiri dari kertas krep berkilauan yang dibelinya di kota.
Leslie seorang seniman, dulu ia pernah sekolah di institut seni, maka layangan buatannya pun bukan main-main. Alih-alih berbentuk bangun datar dua dimensi seperti layang-layang atau belah ketupat, Leslie melengkungkan dan menyusun bambu-bambu tipis sedemikian rupa sehingga membentuk kerangka tiga dimensi dengan rongga di tengah-tengah. Kerangka itu kemudian dibalut dengan kertas aneka warna, hingga ketika Ray bangun tidur kemarin pagi, ia disambut oleh sebuah layang-layang berbentuk pesawat terbang sebesar setengah meja makan.
Jantung Ray berdebar oleh antisipasi. Layang-layangnya tentu paling bagus seseantero desa. Ia tidak sabar memamerkannya kepada semua orang!
Dan benar saja, semua anak mengerumuni Ray begitu ia datang dengan layang-layang pesawatnya. Don memohon-mohon agar diizinkan menerbangkannya. Nat tidak bisa berhenti mengelus-elus permukaan kertas krepnya yang berwarna perak dan biru berkilauan.
"Oke, kita gantian. Aku dan Emma akan memainkannya terlebih dahulu, baru kalian." Semua anak mengangguk berterima kasih. Ray merasa sangat bangga.
Tapi ternyata mengendalikan layang-layang sebesar dan serumit itu membutuhkan tenaga ekstra. Untuk sekadar menerbangkannya saja susah sekali, Ray harus berlari sepanjang lapangan untuk memperoleh momentum, itupun harus diulang empat kali baru berhasil. Leslie telah menggunakan senar gelasan agar tidak mudah putus, tapi tetap saja senar itu menegang berbahaya seiring melambungnya layangan.
"Jangan tinggi-tinggi, Ray! Kalau kena angin kencang bisa lepas!" Emma berteriak dari seberang lapangan, meletakkan kedua tangan di sisi-sisi mulut seperti corong.
Ray mengangguk. Ia mulai menggulung senar agar layang-layang itu mendekat. Namun angin mendadak menghembus dari arah samping, memorak-porandakan semua layang-layang di lapangan. Anak-anak lain memekik panik ketika layangan mereka saling bertabrakan. Beberapa putus. Layang-layang Ray tetap terbang dengan gagah—terlalu gagah, malah. Seperti pesawat sungguhan, ia terbang bebas ke arah perengan sembari menyeret Ray yang masih memegangi senarnya dengan putus asa.
"Ray, lepaskan saja! Bahaya!" pekik anak-anak panik.
Sebagian diri Ray, yang berkiblat pada akal sehat, menyuruhnya untuk menuruti seruan teman-temannya. Namun sebagian lain, bagian yang masih terkesima pada layang-layang berbentuk pesawat sebesar setengah meja makan, memberinya bayangan ekspresi Leslie yang kecewa.
Tidak. Kalau aku kehilangan layang-layang ini, Papa akan sedih.
Demikianlah akhirnya Ray berusaha mati-matian untuk mengendalikan layang-layang itu. Saking konsentrasinya, ia tidak memperhatikan bahwa tanah datar lapangan telah habis, dan mendadak kakinya menjejak udara ketika ia tiba di perengan.
Hal terakhir yang dirasakan Ray adalah jatuh berguling-guling, langit dan tanah silih berganti menyergapnya seperti komidi putar. Kulitnya perih terjerat senar, rasa takut menjeratnya saat membayangkan senar itu akan mencekiknya atau menggores matanya sampai buta. Sayup-sayup, didengarnya teriakan Emma.
Begitu sadar, Ray telah berbaring di ranjang Rumah Sakit. Isabella menatapnya garang. Sambil merasakan pegal di sekujur tubuh dan nyeri tak tertahankan di lengan kirinya, Ray harus mendengarkan omelan tak berujung mamanya.
"Lihat ini, Ray. Semua ini terjadi karena kau tidak berpikir panjang!"
Kata-kata itu berdering di telinga Ray sekarang. Ia berjalan di belakang Norman, mengawasi punggung bocah itu seperti sipir mengawasi tahanan. Setiap kali Norman celingukan, ekspresi cemas kentara sekali di wajah yang biasanya begitu sulit dibaca, Ray jadi bertanya-tanya apakah keputusan mereka tepat. Apakah mendukung Norman dalam ekspedisi ini merupakan tindak gegabah, atau seperti istilah Isabella, dilakukan tanpa pikir panjang.
Oke, awalnya Ray memang sangat bersemangat melakukan perjalanan ini. Bagaimana tidak? Ia akan melihat kerajaan kunang-kunang bersama Emma, sahabatnya, dan Norman, teman baru yang mulai ia sayangi. Selain itu, ia ingin menjadikan ini semacam hadiah pertemanan bagi Norman. Sebuah janji dalam aksi, sebuah pernyataan bahwa Ray akan selalu bersama Norman baik dalam susah maupun senang.
Tapi entah kenapa, kini Ray merasa Norman justru memanfaatkan kenaifannya.
Perasaan ini timbul-tenggelam dalam hatinya semenjak mereka menyelam makin dalam ke kerimbunan hutan. Kadang-kadang rasa curiganya begitu kuat, hingga ia menolak mengikuti usulan Norman—seperti saat ia mengajak lewat jalan pintas. Tapi di saat berikutnya, saat ia melihat begitu tulus Norman tampaknya, Ray jadi merasa bersalah dan ingin percaya padanya sekali lagi. Berkali-kali ia ingin menyudahi perjalanan, berkali-kali ia gatal ingin menghentikan semuanya dengan tegas, tapi setiap melihat senyum Norman, tekadnya luntur.
Dan sekarang sudah terlalu terlambat untuk kembali.
Ray merutuki diri sendiri. Kenapa ia begitu mudahnya terlena? Bukankah sejak semula, Norman memang sulit dipercaya? Tidak seperti anak-anak desa lain yang polos lagi terbuka, Norman terlalu misterius dan banyak menyimpan rahasia. Sebagai perbandingan, Ray tahu semua nama orangtua teman-teman sekelasnya dan di mana mereka bekerja. Ray bahkan sering membantu di ladang keluarga mereka dan pernah mengunjungi kantor ayah salah satu teman di kota. Tapi Norman? Jangankan menceritakan nama depan dan profesi ayahnya. Memberitahukan nama tengahnya sendiri kepada Emma dan Ray pun ia enggan.
Sekarang Norman membawa mereka bertiga jauh ke dalam hutan, di mana berteriak minta pertolongan pun akan sia-sia. Saat bercerita tentang teman masa lalunya, mata Norman begitu sedih. Suaranya lirih dan senyumnya surut. Saat memandang jauh ke puncak pepohonan di luar pagar rumahnya, ia tampak begitu merindu. Teman mana yang tega melihatnya begitu? Akan tetapi, semakin dipikir-pikir, Ray semakin curiga. Mungkinkah semua kisah dan kesedihan itu hanya akal bulusnya saja? Orang yang pandai menjaga rahasia juga pandai berpura-pura, bukan?
Kembali Ray teringat desas-desus tentang mansion Ratri yang beredar di antara penggosip desa. Mansion besar itu adalah markas para mafia. Mansion di tengah hutan itu dimanfaatkan sebagai gudang narkoba. Betapapun konyolnya itu terdengar. Bukankah gosip biasanya berakar dari sesuatu yang nyata? Terlebih karena Mr Ratri masih terlalu misterius identitasnya!
"Oke, memang kenapa kalau Mr Ratri seorang bos mafia?" Emma menyanggah ketika Ray berusaha mengajaknya berdiskusi dalam bisikan, sementara Norman sedang sibuk membaca kompas. "Yang penting Norman 'kan bukan. Dia cuma anak-anak seperti kita."
"Kau pikir anak-anak tidak bisa berkomplot dengan pelaku kejahatan?" desis Ray.
"Kau pikir Norman jahat?" Balas Emma, menantang.
Ray menggertakkan gigi. Di belakang Emma, Norman nampak sangat serius mengamati kompas dan mencocokkannya dengan arah matahari. Alisnya bertaut, seakan ia benar-benar khawatir mereka tersesat. Seakan ia benar-benar memikirkan keselamatan Ray dan Emma.
"Dengar. Kau lihat perbekalan yang dibawa Norman? Banyak sekali! Dia juga membawa alat-alat macam senter, tali temali, dan pisau lipat. Buat apa coba?"
Emma mengangkat bahu. "Ini 'kan perjalanan pertamanya. Wajar kalau dia mempersiapkan segala hal."
"Atau mungkin Norman tidak tahu apa yang ia lakukan. Ayahnya mungkin menjebaknya untuk—"
"Oh ayolah, Ray. Norman tidak sebodoh itu," Emma memotong, memutar bola mata. Kemudian ekspresinya melembut dan ia menepuk pundak Ray hangat. "Hei. Jangan berburuk sangka pada teman sendiri. Norman hanya ingin melihat kunang-kunang. Dia agak gugup karena tidak pernah masuk hutan sebelumnya. Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Percayalah pada Norman."
"Teman-teman, kurasa aku sudah menemukan arah yang be—ng? Kalian sedang apa?" Norman mendekat, menelengkan kepala ingin tahu.
Emma buru-buru menghampirinya dengan senyum lebar yang tulus. "Bukan apa-apa. Jadi, arah mana yang benar?"
Ray merengut. Emma memang selalu berusaha melihat sisi terbaik semua orang. Itu adalah kualitas diri terbaiknya. Tapi di saat bersamaan, keengganannya untuk melihat sisi lain membuatnya sulit memahami kemungkinan terburuk: bahwa mungkin saja Ray dan Emma saat ini sedang diculik, dengan Norman sebagai "gembala" yang menggiring mereka ke tempat penyanderaan.
Ray sudah terlalu banyak membaca berita kriminal untuk memahami bahwa trik-trik semacam itu sering digunakan oleh penjahat. Dengan menggunakan sesama anak kecil sebagai umpan, para korban akan lebih mudah lengah. Hipotesis ini masuk akal. Kemungkinan besar, barang bawaan Norman yang di luar kewajaran itu bukanlah untuk kepentingan mereka bertiga, melainkan ransum bagi para penculik.
Tapi untuk apa orang-orang ini ingin menculik mereka? Keluarga mereka bukan orang kaya, juga bukan orang berpengaruh. Apakah keluarga Ratri berniat merebut paksa tanah keluarga mereka untuk dijadikan kebun opium? Tidak, rasanya tidak masuk akal juga. Masa bikin kebun opium di tengah-tengah desa? Tapi mungkin saja sih, kan supaya tidak mencurigakan ...
Ray terus menganalisis segala hipotesis yang mungkin, memperlambat langkah agar dapat mengamati Norman lebih lekat. Di depan, Emma melihat sesuatu yang menarik dan menunjuknya dengan penuh semangat. Norman menjajarinya, mengungkapkan kekaguman dengan nada kelewat manis, dan Emma menanggapi dengan riang gembira. Hanya Ray yang menyadari bagaimana mata Norman sesekali melihat ke sekitar, roman mukanya tampak cemas selama sepersekian detik, lalu kembali ke topeng kalemnya saat Emma menoleh.
Ray mengerutkan kening. Kenapa Norman begitu gelisah? Benarkah ia takut akan ada babi hutan lagi? Ataukah kegelisahannya timbul dari sesuatu yang lain?
.
.
.
Sungai.
Norman mengerjap-ngerjapkan mata, hampir tidak mempercayai pemandangan di hadapannya. Setelah lebih dari tiga jam berjibaku menembus hutan, akhirnya mereka berhasil keluar ke daerah lapang. Langit mulai berwarna keruh susu, tanda sore mulai menjelang. Udara di sekitar berbau harum basah, membawa aroma air dari sungai selebar empat depa orang dewasa yang membentang gilang gemilang.
"Aaaaah, akhirnya kita sampai di sunga juga! Yaaaaay!" pekik Emma, berlari penuh semangat seperti anak anjing dilepaskan di taman. Norman hampir bisa membayangkan buntutnya, menggoyang ke sana kemari dengan liar. Tanpa menghentikan langkah, Emma melucuti sepatu, kaos kaki, dan ranselnya sebelum meloncat ke dalam pinggiran dangkal. "Aaaaah segaaar!"
"Oi, hati-hati. Kalau semua ini hanyut bagaimana?" tegur Ray, memungut barang-barang Emma yang berceceran, meletakkan mereka dengan rapi di atas bebatuan, lalu mencopoti sepatu dan ranselnya sendiri. Norman duduk di samping Ray, mengikuti teladannya.
"Emma selalu penuh semangat, ya," Norman membuka pembicaraan, mengarahkan pandang kepada Emma yang sedang meloncat-loncat di dalam air sambil bernyanyi-nyanyi kecil.
"Dia memang mudah dibuat senang dengan hal-hal sederhana," gumam Ray. Norman mau tidak mau menyadari bagaimana Ray tampaknya sengaja tidak mau bertemu mata dengannya. "Tapi, biarpun kelihatannya polos, Emma tidak naif, apalagi bodoh. Aku juga tidak."
Norman mengerjap. "Tentu saja, Ray. Kalian berdua sangat pintar dan tangkas. Tanpa kalian, aku tidak akan sampai sejauh ini, 'kan?"
Ray mengerutkan alis. Ia tampaknya hendak mengatakan sesuatu, tapi Emma keburu memanggil mereka berdua.
"Ayo cepat ke sini, jangan berlama-lama. Setelah ini kita masih harus melanjutkan perjalanan!" serunya, mencipratkan air ke arah Ray dan Norman. Ray memekik jengkel, berlari ke dalam air sambil menendang-nendangkan kakinya agar membasahi Emma. Anak perempuan itu tertawa-tawa.
Norman menyusul, memasuki air sungai dengan hati-hati agar pakaiannya tidak basah (bisa gawat kalau dia sampai pilek). Emma dan Ray nampaknya memahami kehati-hatian itu, sebab mereka hanya memerciki Norman dengan kebatan tangan alih-alih melemparinya setangkup air seperti yang mereka lakukan pada satu sama lain.
Emma dan Ray asyik berkejar-kejaran, saling menyerang dan balas dendam. Norman tertawa-tawa menyaksikan mereka, sebelum menyadari bahwa kedua bocah itu bercanda dengan akrab tanpa memedulikannya lagi.
Tentu saja. Emma dan Ray telah menjadi karib jauh sebelum mereka bertemu Norman. Tentu saja mereka memiliki permainan-permainan mereka sendiri, yang tidak dapat diikuti Norman betapapun ia berusaha. Belum waktunya. Norman belum pantas menjadi sahabat mereka.
Menghela napas, Norman pun mentas dari sungai dan mendudukkan diri di samping tumpukan barang-barang mereka. Ia melipat kaki dan meletakkan dagunya di kedua lutut. Emma dan Ray masih saling berkejaran, kadang melintas di depannya, gelak tawa mereka menggema di lembah sunyi. Sepasang sahabat yang begitu kompak, mengingatkan Norman kembali pada seorang anak perempuan yang hilang.
.
.
.
"Aysheee aku takut …."
Norman mencebikkan bibir, hampir menangis. Ia setengah berjongkok di atas batu kali licin, tidak berani mengikuti Ayshe untuk mencebur ke dalam sungai tapi juga terlalu takut untuk merangkak mundur. Suara rengekan mulai keluar dari tenggorokkannya tanpa tertahan.
Ayshe mengembuskan napas tak sabar dari mulutnya. "Ya ampun, Norman. Sungainya dangkal, kok. Lihat, tidak sampai selutut!"
Gadis kecil itu mengangkat roknya, menunjukkan air yang hanya mencapai batas tempurung lututnya.
"Tapi batu ini tinggi sekali!"
"Tidak tinggi, Norman. Itu hanya perasaanmu saja, karena kau masih di atasnya. Percaya deh, paling batu ini hanya setinggi meja makanmu!"
Norman mengerutkan kening, masih ragu-ragu. Bagaimana jika ia terpeleset saat melompat? Bagaimana jika kakinya terkilir? Bagaimana jika ada bagian dalam di dasar sungai itu, dan Norman melompat persis ke dalamnya?
Anak laki-laki itu semakin mengkeret seiring dengan kemungkinan-kemungkinan mengerikan yang berkecamuk di dalam kepalanya. Biji air mata mulai terbit di ujung mata, tenggorokannya mulai terasa sakit seakan ada bola mengganjal di dalamnya.
"Hei, kok malah nangis segala, sih?" Ayshe menegur, yang membuat tangis Norman akhirnya pecah sungguhan.
"Ha—habis, aku takut! Ayshe 'kan pemberani, jadi Ayshe tidak mengerti," Norman tersedu. Ia ingin mengusap wajahnya, tapi takut jika mengangkat tangan dari batu ia akan terjungkal. Ia terisak-isak, bola ingus meletup di depan lubang hidungnya.
Menghela napas, Ayshe pun berjalan ke samping batu kali itu. ia membentangkan kedua lengan lebar-lebar. "Ayo sini. Melompatlah ke arahku. Aku akan menangkapmu."
"E—eh!?"
"Kau takut terpeleset, kan? Tenang saja. Aku akan menangkap dan memegangimu."
"Ta—tapi, memang Ayshe kuat menggendongku?"
Gadis kecil itu memutar bola mata. "'Kan cuma sebentar saja. Lagi pula, menggendong di dalam air 'kan bakal terasa lebih ringan. Tidak masalah."
Norman menggigit bibir. Ingus meleler dari hidung ke mulutnya, terasa sedikit asin.
"Ayo, Norman. Kau percaya padaku, 'kan?"
"Umm …."
"Kuhitung sampai tiga, ya. Loncat saat aku bilang tiga—satu, dua, tiga!"
Norman memejamkan mata sembari memanuver tubuhnya ke depan. Sejenak ia merasakan tubuhnya melayang, kemudian mendarat dengan bunyi jebur keras. Dingin air membuatnya terkejut, ia megap dan nyaris terpeleset, tapi Ayshe mendekapnya erat-erat.
"Whoops. Nah, kan. Tidak terjadi apa-apa, 'kan?"
Norman membuka mata. Ia menoleh pada Ayshe nyengir kepadanya, menunjukkan celah di antara gigi susunya yang baru saja tanggal. Norman tersenyum gugup, masih agak berdebar-debar merasakan aliran alir yang menggelitik pahanya, tapi Ayshe memeganginya begitu erat hingga Norman berangsur-angsur merasa tenang.
"Ih, mukamu jelek sekali. Banyak ingusnya. Cuci muka dulu, nih!"
Sambil berkata demikian, Ayshe mencipratkan segenggam air sungai ke wajah Norman. Bocah laki-laki itu terkesiap, gelagapan; tapi Ayshe justru terkikik girang. Gelak cerianya menggetarkan udara di sekeliling Norman, dan tanpa terasa anak laki-laki itu ikut tersenyum.
"Ayshe, rasakan pembalasanku!"
Norman balas menciprati muka sahabatnya. Ayshe memekik, hendak membalas Norman lagi, tapi bocah itu sudah keburu menyingkir. Mereka berkejaran di sepanjang pinggiran sungai, kaki mereka berdebam-debam melawan air. Suara tawa mereka bergema di antara nyanyian tongeret. Langit biru tergelar luas di atas kepala seperti hari yang abadi.[]
.
.
{tbc}
