The Promised Neverland © Kaiu Shirai. Ilustrasi © Posuka Demizu. Penulis tidak mengambil keuntungan finansial apapun dari karya transformatif ini
The Death of The Fireflies © aria-cheros (arianadez dan psycheros)
[Bab 6]
.
.
Pagi itu adalah awal musim panas yang lembab. Tanah belum sempurna kering dari desah gerimis, seakan masih terlalu dini untuk menyebut hujan berakhir. Cuaca memang sebegini mudah berubah, tapi pada kenyataannya tidak ada penghuni manor keluarga Ratri yang peduli atau memikirkan keanehan ini. Kecuali Norman, tentu saja. Baginya, cuaca ibarat tumpukan kartu domino yang membentuk rumah. Sedikit saja kartu itu disentuh, maka runtuhlah rumah tersebut. Sama seperti cuaca yang dapat memengaruhi suasana hati.
Habis bangun tidur, tanpa mencuci muka, anak itu sudah membuka pintu lebar-lebar dan berlarian ke depan rumah. Katanya, ia ingin menjadi orang pertama yang mengumumkan bahwa hari ini adalah hari dimulainya musim panas. Norman bersemangat mengitari halaman sebelum kemudian mendongak menatap langit di mana matahari tak tampak, bersembunyi di balik gumpalan awan abu-abu. Barulah ia sadar jika tanah yang diiinjak oleh kaki telanjangnya basah.
Mengetahui Norman yang keluar rumah tanpa memakai alas kaki, Barbara memarahinya, menyuruhnya untuk masuk dan lekas mandi. Norman menggerutu sebal. Sepanjang ingatannya, perempuan itu memang selalu keras tak peduli pembelaan yang ia ujarkan.
Norman menuruti perintah Barbara, tapi ia murung setelahnya. Gairahnya ingin bermain di luar hilang. Padahal semalam ia sudah susah payah membujuk Cislo agar mau mengajarinya bagaimana cara menendang bola yang benar. Cislo bahkan berjanji akan membuatkan gawang dan garis lapangan. Sekarang Norman tidak lagi berminat. Sebagai ganti agar Norman tidak terus cemberut, Barbara bilang akan membuatkan Norman menu sarapan yang enak.
"Memang lebih baik kalau hari ini kau tidak keluyuran dan bermain di dalam rumah," kata Barbara sambil menuang susu ke gelas.
Norman yang duduk menanti sarapan menjadi penasaran. "Memangnya ada apa dengan hari ini?"
"Ayahmu belum memberi tahumu, ya?" Barbara mengambil dua roti tawar dari panggangan dan memasukkan berbagai isian sayur dan daging. "Hari ini kita akan kedatangan tamu."
"Tamu?"
"Betul, tamu. Coba bayangkan kalau tamu itu datang dan melihat pakaianmu kotor gara-gara kau bermain di luar. Ayahmu pasti akan marah, Norman."
"Memangnya siapa tamu itu, Barbara? Apa itu orang spesial?"
Barbara tersenyum. "Mmm, bisa jadi." Ia menumpuk isian dengan roti tawar di atasnya dan meletakkannya pada piring di depan Norman. "Nah, selamat makan. Jangan ada sisa, oke?"
Norman mengangguk senang. Menu sarapannya sungguh menggirukan. Lupakan oats dan teh hangat. Norman hendak mencomot roti itu, tapi urung sebab ia teringat dengan sesuatu.
"Jadi nanti aku harus memakai baju yang bagaimana, Barbara?"
"Pakaian biasanya. Yang penting rapi dan sopan, itu saja."
"Kira-kira jam berapa tamu itu datang?"
"Sudah jangan cerewet. Makan dulu sarapanmu."
Setengah jengkel, Norman pun melahap rotinya. Norman belum pernah bertemu dengan banyak orang secara langsung. Ia tahu jika ada bermacam-macam manusia di dunia, yang ia tahu dari buku-buku yang dibacanya atau film yang pernah ditontonnya; yang berkulit putih dan hitam, berwatak lembut dan keras, atau yang berwajah ramah dan menakutkan. Mungkin karena ayahnya adalah orang baik dan tamu itu adalah teman ayahnya, pastilah tamu itu juga baik seperti ayahnya.
Dengan pikiran itu, Norman tidak lagi merasa sedih. Selesai sarapan, ia segera masuk kamar, lalu membuka lemari untuk memilih pakaian yang menurutnya paling pantas dipakai.
James mendadak muncul tanpa mengetuk pintu. James tersenyum melihat Norman yang tampak bersemangat ingin bertemu orang baru. James jugalah yang membantu Norman memilih baju.
Meskipun begitu, Norman masih tetaplah anak kecil yang mudah penasaran. Ketika ia mematut penampilannya di depan cermin, Norman bertanya, "Siapa sih tamu Ayah sebenarnya?"
Tapi James tak mau memberi tahu. James bilang kalau Norman pasti akan senang melihat tamunya nanti. Anggap saja kejutan.
Pada pukul setengah sembilan, tamu yang dinanti itu pun datang. Norman mengetahuinya dari raungan derum mobil gunung yang begitu asing. James menyuruh Norman untuk bersiap dan bersikap sopan kepada tamu itu nantinya.
Ketika terdengar bunyi bel berdering, James sendirilah yang membukakan pintu, sementara Norman berdiri menyambut di sebelahnya.
James tersenyum lebar kepada lelaki di hadapannya. "Selamat datang, Travers."
"Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu."
"Bagaimana perjalanannya?"
"Untunglah mobilku cukup tangguh untuk mencapai tempat ini." Lelaki itu lantas terkekeh.
Norman menatap si tamu yang berjabat tangan dengan ayahnya. Ia terbelalak. Instingnya menyuruhnya untuk beringsut mundur, mencari titik aman. Lelaki itu terlihat tinggi besar, dengan rambut cokelat yang acak-acakan. Mantel biru tua yang ia kenakan basah. Sepasang mata legam dari balik lensa kacamatanya kemudian menangkap kehadiran Norman.
"Ini pasti putramu. Benar 'kan, James?"
Norman semakin mengkeret di balik badan James. Tamu itu di luar bayangannya. Tadinya Norman pikir akan bertemu dengan sosok orang seperti ayahnya, yang berwajah teduh dan lembut, tapi tamu tersebut lebih tampak seperti lelaki berandalan. Seperti penjahat berbadan besar dalam buku cerita yang sering Norman baca. Atau seperti pemeras yang bermata licik. Atau mungkin seperti pimpinan organisasi terlarang.
Seperti … beruang.
"Norman, kau tidak mau berjabat tangan?"
Norman mengerjapkan mata. Ia tidak menyadari tangan besar yang terulur kepadanya karena sibuk berpikir.
"Namanya Norman. Umurnya baru enam tahun." James memperkenalkan sembari tertawa kecil. "Maaf, Travers. Dia memang seperti ini saat bertemu dengan orang baru. Ayo Norman, kau harus jabat tangan dulu."
Membuang segala kegugupan dan ketakutan, Norman membalas uluran tangan lelaki itu. Rasanya seperti menggenggam kayu besar. Keras dan tak ramah.
"Norman," ucap Norman setelah menelan ludah.
"Nama yang bagus. Kau bisa memanggilku Paman Travers. Bisa juga Profesor Travers."
"Kau selalu saja tidak mau ketinggalan menyombongkan dirimu." James berdecak sebal, tapi hanya bercanda. "Norman, Travers adalah seorang ilmuwan Biologi yang sangat pintar. Kau pasti bisa banyak belajar darinya nanti."
Norman sendiri tidak yakin akan akrab dengan lelaki ini. Sekonyong-konyong, perhatian Norman beralih kepada seorang anak perempuan yang berdiri di samping Travers. Ia terkejut bukan main. Sedari tadi ia tidak terlalu memperhatikannya karena terpaku dengan penampilan Travers.
"Dan ini pasti Ayshe," ucap James riang, menatap sosok anak perempuan berwajah masam dengan lebit cermat. "Kau benar, Travers. Mereka memang seumuran. Mereka pasti bisa saling berteman."
Saat Norman menatapnya, anak perempuan itu tanpa ragu balik menatap. Dan sama sekali tidak tersenyum. Bibirnya berkedut seakan hendak mengatakan sesuatu tapi ia tetap diam. Separuh wajahnya yang tersembunyi di balik rambut putih peraknya membuat Norman terintimidasi. Bando berwarna senada yang ia pakai sama sekali tidak membantu. Nyali Norman menciut untuk sekadar menyapa.
Pada detik itu, keduanya tidak menyadari bahwa pertemuan pertama yang canggung ini akan membawa mereka kepada sebuah pertemanan yang hangat, diwarnai petualangan. Musim panas yang dimulai dengan hari yang basah, akan berakhir dengan hari yang basah pula.
.
.
.
Matahari perlahan menggelincir turun, menelan hutan ke dalam cahaya semburat oranye-kemerahan. Tanpa perlu ditunggu, pepohonan tinggi besar yang membentuk kanopi mulai memunculkan bayangan. Beberapa ekor burung terbang melintas di atas rombongan James dan para pelayan, kembali ke sarang masing-masing yang terletak di pucuk ataupun lekukan ranting pohon, sambil membawa makanan di paruhnya untuk kemudian diberikan kepada anak-anaknya yang berceruit tak sabar.
Sudah setengah jam lamanya mereka memasuki hutan dengan membawa perlengkapan gear hunter lengkap. Semula mereka cukup tenang menyusuri jalan setapak yang cukup mudah dilalui. Jejak Norman dan teman-temannya nyatanya terbukti telah melalui wilayah ini. Namun, jejak itu kemudian berangsur menghilang. James sempat cemas. Ia menduga bahwa anak-anak itu memilih melakukan perjalanan melewati jalan pintas agar cepat sampai di tujuan. Untunglah James sudah terbiasa dengan pencarian jejak dalam kegelapan. Bisa dibilang, menjelajah hutan adalah pekerjaannya sehari-hari.
Barbara-lah yang menemukan jejak anak-anak itu lagi yang sejenak sebelumnya menghilang. Jejak yang membelok dari jalan setapak, menuju hutan yang lebih hijau dan rimbun. Jejak itu terlihat semakin jelas pada bekas rumput yang diinjak. James menjadi lebih tenang, tapi ia tetap waspada. Sejak tadi ia hanya mengandalkan instingnya, meyakinkan dirinya sendiri bahwa anak-anak itu masih belum jauh bermain, masih dalam jangkauannya. Ia berharap dapat segera bertemu dengan mereka sebelum petang.
Perasaan tak nyaman menyergap James. Ia buru-buru mengeluarkan alat pendeteksi dari kantong bajunya. Ia mengecek dan melihat adanya aktivitas elektromagnetik kuat di sebuah titik di jantung hutan. Titik merah itu terus berkedip-kedip. James sampai harus melambatkan langkahnya untuk melihat posisi itu lebih jelas.
Dahinya berkerut. Gelombang elektromagnetik yang tidak wajar sudah biasa terjadi dan tidak terlalu mengejutkan sebenarnya. Tidaklah se-anomali seperti yang dipikirkan kebanyakan orang. Tapi terkadang, tanda itu juga berarti terdapat makhluk dari dunia demon yang berhasil 'merobek' dimensi dan menembus dunia manusia.
Jantung James seakan terkoyak sejuring es. Dingin yang merayapi punggung dan tengkuknya membuat gelombang keresahan itu kembali menerpa. Kalau tanda itu sudah muncul, itu artinya ….
James menyuruh rombongannya untuk cepat bergerak. Ia sendiri mengubah langkahnya menjadi berlari. Setiap bunyi akibat gesekan sepatu boots-nya dengan tanah bagai sembilu yang menyayat kulit. Kali ini James sungguh-sungguh merasa takut.
Langit mulai berubah warna menjadi jingga. Petang melipat senja, mengubahnya menjadi langit gulita. Dan semakin gelap langit itu, James sadar aktivitas demon akan semakin meningkat. Harapan terakhirnya adalah semoga ia tidak terlambat untuk yang kedua kali.
.
.
.
"Tapi tetap saja, saat pertama kali aku melihatmu, kau sangat menakutkan, Ayshe. Sama seperti ayahmu."
"Jadi ayahku juga menakutimu, Norman?"
"Bukan bermaksud menyinggung, ya," Norman meringis. "Tapi Paman Travers memang mirip beruang."
Norman kira Ayshe akan memarahinya karena sudah berkata lancang, tapi ternyata gadis itu hanya mengangkat bahu. "Mm, kenalan Ayah juga banyak yang bilang begitu."
"Ayshe sendiri bagaimana?"
Satu alis terangkat. "Bagaimana apanya?"
Norman jadi salah tingkah. "Eh, apa Ayshe tidak merasa kesal karena Paman Travers dipanggil begitu?"
"Daripada kesal, aku lebih penasaran." Ayshe menangkupkan tangan kecilnya menutupi mulut, upaya meredam tawa agar tetap tak terlihat. Norman baru menyadari jika ia teramat menyukai tawanya yang unik ini. "Jadi aku bertanya asal-asalan kepada ayahku; 'apa Ayah memang keturunan beruang?'"
"Terus?"
"Ayah malah bertanya, 'kalau Ayah beruang, apa Ayshe mau jadi anak beruang?' Aku pun menjawab, 'itu boleh juga, Ayah'. Kurasa ayahku memang beruang dan aku suka menjadi anak beruang. Anak beruang itu kuat. Itu membuatku terdengar seperti anak perempuan yang gagah."
"Aysheee …."
Norman sudah ingin menjitak kepala Ayshe, tetapi anak itu dengan cekatan menghindar. Tidak menyerah, Norman berburu menggelitiki pinggang Ayhse. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, kegiatan gelitik-meggelitiki ini berakhir dengan Norman sebagai korban terakhir.
Adegan semacam ini terjadi setelah beberapa kali kunjungan. Kecanggungan itu nyatanya hanya bertahan sementara. Kesan pertama Norman tentang Ayshe yang dingin dan galak lenyap setelah mereka saling bertukar nama. Tentu, rambut Ayshe yang menutupi separuh wajahnya membuat Norman takut-takut. Namun, ketika Norman tidak sengaja melihat apa yang ada di balik rambut itu, ia tidak dapat menahan desah terkejut karena separuh wajah Ayshe ternyata rusak.
Norman merasa tidak enak karena seperti telah membuka privasi yang seharusnya tidak boleh ia ketahui. Tapi Ayshe, dengan sikapnya yang terbuka, menjelaskan sambil lalu, bahwa saat ia masih bayi, keluarganya diserang oleh monster yang kelaparan. Monster itu kemudian membunuh orangtuanya dan melukai wajah Ayshe. Selama beberapa saat, Ayshe tinggal di panti asuhan hingga ia berusia tiga tahun. Kemudian, seorang ilmuwan Biologi berbaik hati mengadopsinya. Sampai pada kisah ini, barulah Norman menyadari jika Paman Travers adalah ayah angkat Ayshe.
"Pantas saja. Wajah kalian tidak terlalu mirip."
"Kau sama sekali tidak bisa menebaknya, 'kan?" Ayshe melanjutkan ceritanya, tersenyum miring. "Kata Ayah, dulu dia juga mempunyai seorang putri yang seumuran denganku. Tapi suatu hari, rumahnya diserang demon. Istri dan putrinya meninggal. Ayah berhasil selamat karena dia sedang berada di laboratorium. Ayah berkabung dalam waktu yang cukup lama. Tapi kemudian Ayah berhasil melupakan masa gelap itu dan mengadopsiku."
"Itukah sebabnya kenapa ayahmu menjadi pemburu dan bergabung dengan ayahku?"
"Kira-kira begitu."
Norman mengangguk mengerti—mengerti begitu saja. Entah mengapa. Seakan-akan, dirinya mampu merasakan kehilangan itu. Rasanya kosong dan sepi. Perasaan yang sama dengan yang Norman rasakan setiap kali ia mengingat ibunya.
Ayshe juga berkata bahwa salah satu alasan ayahnya memutuskan untuk bergabung dengan ayah Norman adalah karena ia mendengar kabar ada anak seusia Ayshe di sini. Mungkin mereka bisa berteman.
Norman tersenyum. Ia menyambut tawaran pertemanan dari Ayshe dengan senang hati; dan semenjak itulah mereka berdua menanggung kesepian dan ketakutan bersama-sama. Menghabiskan hari-hari di mansion besar yang sepi, menunggu kabar ayah masing-masing dengan perasaan cemas, juga gembira bukan kepalang saat mengetahui mereka telah kembali dengan selamat meskipun terkadang dengan membawa tubuh yang luka-luka.
Pernah, suatu hari, karena Norman mudah lelah saat bermain di luar, ia mengajak Ayshe ke perpustakaan. Ayshe yang melihat tumpukan buku yang di susun rapi terbelalak. Norman jadi nyengir. Jarang-jarang ia bisa membuat sahabatnya itu terkejut.
"Ini semua punyamu?" Ayshe tampak berusaha keras menahan diri untuk tidak berlari sambil menjerit kegirangan.
"Punya Ayah, sih," Norman menjawab, tersenyum menggoda. "Bagaimana, Ayshe suka, 'kan?"
Alih-alih menjawab, anak perempuan itu berjalan menelusuri berbagai buku yang terdapat dalam rak satu demi satu. Norman mengikutinya, kedua tangan di belakang punggung, ikut senang setiap kali mata Ayshe berkilauan saat menemukan sebuah buku menarik di rak.
"Kita bisa di sini sampai sore nanti."
"Kalau aku sih, mau sampai besok pagi juga betah, Norman."
Kalau itu sih, sudah jelas.
Norman tiba-tiba mendapat ide. "Ayshe, bagaimana kalau kau pilih satu buku cerita yang menurutmu paling bagus, lalu mendongengkannya kepadaku?Ayshe mau?"
"Boleh." Mata Ayshe berhenti pada satu buku yang diminatinya, kemudian menarik buku itu. "Aku pilih buku ini, "Legenda Kota Seribu Kunang-Kunang", sepertinya bagus."
"Baiklah." Norman menarik kursi dan duduk.
"Tunggu dulu. Kalau aku mendongeng, terus Norman ngapain?"
Norman tersenyum malu-malu. Ia mengambil buku gambar dan pensil yang sudah tersedia di meja. "Aku akan mendengarkan dan mencoba menggambar beberapa adegan yang Ayshe bacakan."
"Kau bisa menggambar?"
"Yah, aku memang suka menggambar dan Ayah sering membantuku bagaimana cara memberi pengaturan warnanya agar tepat."
Ayshe mengangguk. "Kalau begitu, gambarmu pasti bagus."
Norman menjadi tersipu-sipu. "Kita lihat saja nanti."
Satu jam lamanya mereka terbenam dalam dunia fantasi menakjubkan. Sang tokoh utama (yang merupakan seorang lelaki yang bekerja sebagai peneliti hewan) tersesat di dalam hutan, yang ternyata merupakan kota tersembunyi. Sebuah kota yang penuh dengan kunang-kunang. Bukan sembarang kunang-kunang. Itu adalah kunang-kunang ajaib, yang merupakan jelmaan dari kuku-kuku orang yang sudah mati.
Kuku-kuku itu dulunya milik penduduk yang tinggal di kota tersebut. Akibat pembantaian saat peperangan, semua penduduk pun mati dan dikubur massal. Tak disangka, dari kuburan itu, muncullah kuku-kuku yang kemudian berubah menjadi kunang-kunang dengan cahaya berwarna-warni; kuning kehijauan, merah muda, bahkan biru dan ungu.
Peneliti yang semula ketakutan itu berubah menjadi bahagia. Ia menjelajah dari satu rumah pohon ke rumah pohon lainnya. Para kunang-kunang senang menjamu lelaki tersebut dengan berbagai makanan manis karena ia ramah dan suka menolong. Sang peneliti kemudian membangun tempat tinggal. Lambat-laun, ia menjadi betah berada di kota tersebut dan melupakan kota asalnya serta melupakan misinya.
Hingga pada suatu hari, sang peneliti mendapat pesan dari rekannya dan teringatlah ia akan misinya untuk menangkap para kunang-kunang ajaib. Karena setiap hari Minggu para kunang-kunang itu mengadakan festival di alun-alun kota, paginya mereka kelelahan. Peneliti itu segera menangkap kunang-kunang yang masih tertidur nyenyak di dalam rumah mereka. Kemudian, para kunang-kunang yang belum tertangkap akhirnya mengetahui niat jahat sang peneliti. Tanpa sepengetahuan peneliti tersebut, para kunang-kunang menyusun rencana cerdik.
Suatu malam di mana bulan bersinar terang, rumah sang peneliti dikepung oleh seribu kunang-kunang. Para kunang-kunang lantas menyorotkan cahaya warna-warninya pada rumah tersebut. Dibantu oleh cahaya putih dari bulan yang juga memiliki kekuatan luar biasa, rumah beserta sang peneliti pun terbakar. Sejak saat itulah, para kunang-kunang yang tinggal dalam kota tersebut menolak menolong atau pun mengenal manusia.
Ketika Ayshe selesai bercerita, Norman juga selesai menggambar. Norman menggambar empat gambar; sang peneliti, festival di alun-alun, cahaya bulan, dan pemandangan kota kunang-kunang. Ayshe berkata jika ia menyukai gambar pemandangan kota kunang-kunang. Sangat indah. Komentar dari Ayshe inilah yang kemudian mendorong Norman untuk semakin giat berlatih menggambar.
Ada masa di mana Norman menganggap bahwa dunia seolah hanya milik mereka berdua. Itu adalah saat yang membahagiakan. Keberadaan Ayshe membuat Norman merasa tenang dan aman, tidak peduli dengan kenyataan bahwa Ayshe dan ayahnya akan langsung pulang setelah pekerjaan selesai dan kembali lagi minggu depannya. Norman percaya Ayshe akan selalu ada untuk menemaninya.
Apapun yang terjadi, kini Norman tidak lagi sendiri. Ia punya Ayshe yang berada di depannya, yang mengajari Norman hal-hal baru, yang menuntun Norman dengan berani tatkala ia mulai ingin menyerah mempelajari sesuatu. Norman sangat mengagumi Ayshe yang cerdas dan pandai bercerita, sebagaimana ia mengagumi ayahnya.
Cerita tentang kunang-kunang yang dibacakan Ayhse amat membekas bagi Norman. Pun dengan gambaran Norman yang ia sendiri juga menyukainya. Mereka berdua bahkan masih membicarakan cerita itu hingga berhari-hari kemudian.
Sampai suatu ketika, pada suatu malam di musim panas, saat mereka sedang asyik menikmati es krim di beranda sembari menonton kelap-kelip kunang-kunang yang tersebar, Ayshe berkata, "Hei, Norman. Aku tahu tempat yang punya jauuuh lebih banyak kunang-kunang. Mau ke sana bersama-sama?"
.
.
.
Suara jangkrik menyadarkan Norman akan berlalunya waktu. Sudah seperempat jam lamanya mereka bertiga beristirahat dan bersenang-senang dengan air, walaupun kebanyakan Norman hanya berperan sebagai penonton. Norman berdiri dari duduknya yang penuh lamunan, kemudian memperingatkan Ray dan Emma bahwa waktu bermain sudah habis. Dua anak itu menghela napas, seperti bayi yang tidak rela jika mainannya direbut, tetapi pada akhirnya tetap menurut.
Meskipun tak pernah mengutarakan lagi keluhan, saat mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan, Norman tahu jika Ray dan Emma semakin gelisah. Hari sudah sore di penghujung akhir dan mereka belum juga tiba di sungai di mana terdapat sarang kunang-kunang. Sepotong senja dengan cahaya keemasan tak begitu indah lagi dipandang, malah menambah beban kecemasan.
Emma beberapa kali dengan sopan mengusulkan supaya Norman mengecek petanya lagi serta berusaha mengorek informasi tentang apa-apa saja yang diingat Norman. Norman mengikuti usulan itu tanpa protes sebab tak tahu harus bersikap bagaimana. Ia tahu bahwa Emma mengira dirinya salah jalan. Hal itu membuat Norman merasa sedih. Perjalanan panjang yang mereka tempuh nyatanya membuatnya kembali kepada titik terendah, di mana Ray dan Emma sama sekali tidak memercayainya.
"Bukannya aku mendesakmu atau bagaimana, Norman," Ray memulai perdebatan, "tapi kami hanya menginginkan penjelasan yang masuk akal."
Batin Norman berdenyut mendengar kata 'kami' disebut. Frasa itu, seolah Norman bukan lagi bagian dari Ray dan Emma. Norman bertekad tak ingin kalah beradu argumen. Ia berhenti berjalan dan berdecak tak sabar. "Penjelasan yang masuk akal bagaimana lagi, Ray?"
"Kau mulai tidak jujur kepada kami, Norman," tuntut Ray.
"Maksudmu kau menyebutku pembohong, begitu?"
"Aku tidak menyebutmu pembohong." Mata Ray menatap tajam. "Tapi aku merasa kau seperti menyembunyikan sesuatu yang besar dari kami."
"Dan sesuatu yang kau maksud itu tepatnya apa?"
Sungguh, Norman merasa letih dengan semua ini; pertengkaran, kejemuan pada wilayah hutan yang mereka lalui, serta kemuakan akan rasa sepi yang menggelayuti dadanya.
"Misalnya, sebenarnya apa pekerjaan ayahmu? Kenapa kau tidak diperbolehkan keluar dari areal mansion?"
Norman bahkan enggan menatap mata Ray. "Kau ingin membahas itu lagi? Bukankah tadi kita sudah membahasnya?"
"Maaf, mungkin aku sudah berbicara lancang, tapi aku masih curiga padamu, Norman," tuntut Ray. Kali ini ia terang-terangan. "Bagiku penjelasanmu tadi belum bisa kuterima, dan aku yakin Emma pun sebenarnya masih kebingungan."
"Ray! Kau ini benar-benar keterlaluan!" Emma dengan berani melangkah di antara Ray dan Norman. "Kau tidak boleh berkata seperti itu kepada Norman. Norman itu adalah te—"
"Kita logika saja, Em," Ray memotong, tak acuh dengan Norman yang turut memandangi Emma dengan tatapan sendu. "Apakah kau tidak merasa ada yang aneh, Em? Kau tidak tahu 'kan apa niat Norman yang sebenarnya?"
"Ya ampun, Ray! Ini perjalanan kita bertiga! Seingatku Norman tidak pernah mengajak kita. Kitalah yang membujuknya agar mau melakukan perjalanan ini. Apa kau sudah lupa?"
"Itu benar. Tapi dalam kerangka berpikir begitu, masih ada kau, masih ada aku," Ray bersikeras. "Kalau saja Norman tidak becerita tentang kunang-kunang itu, kita tidak perlu berada di dalam hutan ini."
"Kau mulai takut, Ray?" tanya Emma galak. "Kau membuat-buat alasan seolah Norman-lah yang menyebabkan ini semua."
Norman berdiri dengan gamang. Desiran angin yang tiba-tiba membelai tubuhnya bukanlah sesuatu yang ditunggu, padahal tadi mereka mereka sangat gembira apabila angin mendadak bertiup, yang akan membuat semangat mereka membara. Kini semua itu hanya tinggal latar belakang. Meskipun Emma masih kukuh membelanya, Norman merasa ucapan Emma begitu menusuknya.
"Aku masih curiga jika ayah Norman sebenarnya adalah anggota dari mafia. Atau bahkan bos dari mafia itu sendiri. Dan Norman dengan sengaja menceritakan kunang-kunang itu agar kita merayunya untuk melakukan perjalanan ini. Kelompok mafia itu mungkin sedang berada tak jauh dari kita. Entah dugaanku ini benar atau salah, kita sekarang bisa saja berada dalam bahaya, Emma. Untuk satu hal ini, setidaknya percayalah padaku."
"Oh, skenario yang sangat bagus," timpal Emma sengit. "Itu hanya hasil dari imajinasimu yang sangat bodoh, Ray."
"Lalu kenapa Norman dari tadi terlihat begitu ketakutan? Padahal kita hanya bertemu dengan babi hutan hanya satu kali."
"Itu wajar. Bisa saja karena Norman mencemaskanmu yang sejak tadi mencurigainya, jadi dia takut denganmu."
"Takut? Denganku?" Ray tertawa. "Banyak anak yang pintar berakting di dunia ini, Em."
Perdebatan Ray dan Emma tak lagi Norman dengar. Ia tidak mengindahkan topik memanas Ray dan Emma yang semakin menyudutkan Norman sebagai penyebab ini semua. Ia bahkan melupakan ruang dan waktu di mana ia berada. Justru suara-suara dari dalam kepalanya sendiri telah menelannya hingga habis.
"Kalau saja Norman tidak becerita tentang kunang-kunang itu, kita tidak perlu berada di dalam hutan ini."
"Kau membuat-buat alasan seolah Norman-lah yang menyebabkan ini semua."
"… kita sekarang bisa saja berada dalam bahaya, Emma. Untuk satu hal ini, setidaknya percayalah padaku."
Ucapan Ray dan Emma tadilah yang kembali terngiang. Norman memegangi tali bahu tasnya lebih erat. Wajahnya pucat pasi. Ia menelan ludah dengan susah payah.
"Itu semua benar."
Seketika, Ray dan Emma berhenti berdebat.
Ray mengangkat alis. "Maksudmu?"
"Itu benar. Kau benar, Ray. Kita bertiga berada dalam bahaya sekarang."
"Bisakah kau berhenti berbelit-belit, Norman? Aku sudah muak." Ray membuang muka.
Aku juga muak dengan semua ini, Ray, Norman membatin pedih.
"Norman, apa maksudmu dengan kita yang berada dalam bahaya?" tanya Emma dengan lebih lembut.
Kelembutan suara Emma membuat Norman ingin menangis. Akan tetapi, ia menguatkan diri, meyakinkan pilihannya bahwa saat ini, bersikap jujur adalah opsi terbaik yang ia miliki.
"Aku memang membohongi kalian." Suara Norman semakin bergetar saat ia meneruskan, "Bukan babi hutan atau hewan buas yang sebenarnya kutakuti dalam hutan ini. Tetapi monster. Demon."
Ray nampak makin meradang. "Candaanmu tidak lucu!"
"Tidak. Aku sangat serius," balas Norman tegas. "Dan aku juga berbohong tentang ayahku. Ayahku sebenarnya bekerja sebagai pemburu monster. Ayah biasa meninggalkan rumah dan berburu bersama rekannya. Ayah bahkan sering tidak pulang selama berminggu-minggu demi memburu monster."
Ray membuka mulut untuk mendebatnya lagi, tapi Emma mendahuluinya.
"Tapi apa sebenarnya monster itu, Norman? Apa mereka hewan-hewan raksasa seperti yang ada di buku-buku? Apakah mereka—" suara Emma berubah menjadi bisikan, "—juga memakan manusia?"
"Oh, ayolah Em. Jangan bilang kau percaya pada—"
"Ya," jawab Norman dengan berat hati. "Itu juga benar."
Mata Emma melebar. Ray menatap Emma, kemudian Norman, dan ketika ia angkat bicara lagi nadanya terdengar seperti mati-matian menahan murka.
"Oke," ia mengangkat kedua tangan, berusaha mengendalikan situasi. "Oke. Terserah apa katamu, Norman. Terserah kalau kau berkeras membual—"
"—aku tidak membual—"
"Tapi kalaupun kau tidak membual," Ray menekankan, melotot tajam, "Kenapa kau berani-beraninya membawa kami ke sini!? Kau bisa saja menolak sejak awal—kenapa tidak?"
Norman terdiam, menunduk. Ia tidak perlu berkata-kata, mereka bertiga sudah tahu jawabannya. Norman memilih tidak memberitahu Ray dan Emma sejak awal karena ia terlalu egois.
Keheningan di antara mereka bertiga begitu menekan, dengan amarah Ray merundung seperti awan hitam. Amarah yang pantas. Bahkan bisa dibilang, Norman beruntung Ray tidak menonjoknya atau apa.
"Ja-jadi, itukah alasan kenapa selama ini kau tidak boleh keluar rumah sembarangan, Norman?" suara kecil Emma akhirnya memecah ketegangan.
Lagi-lagi Norman tak perlu menjawab. Pandangannya yang sangat muram sudah cukup untuk membahasakan. Emma refleks membekap mulutnya dengan telapak tangan. Suasana hutan yang dari menit ke menit semakin gelap menambah ketegangan.
"Benar-benar tak bisa dipercaya," geram Ray. Entah mana yang lebih tidak dipercayainya—fakta bahwa ada demon di dunia ini, atau bahwa Norman memutuskan untuk membahayakan nyawa mereka demi kunang-kunang. Apapun itu, ucapan Ray hanya melipatgandakan rasa bersalah Norman. Norman kini merasa dirinya sangat rendah dan teramat buruk; lebih rendah dibanding tanah yang mereka pijaki serta lebih buruk daripada bau paling busuk sekali pun.
Ray mendesah. "Aku kecewa padamu, Norman."
Emma, meskipun tak menyuarakan kekecewaan, tetapi ia menolak beradu pandang.
Hati Norman hancur berkeping-keping. Kini ia sadar bahwa dirinya telah kehilangan teman sekali lagi. Matanya terasa perih menyengat, nyaris meloloskan cairan yang berkumpul ingin jatuh. Namun, ia berusaha menahannya. Anak lak-laki tidak boleh cengeng. Ia harus kuat. Norman harus kuat.
Senja itu sekarang berwarna semerah darah. Pepohonan tinggi besar dan kegelapan yang diam-diam berbicara membuat keadaan hutan mencekam. Selama beberapa saat yang penuh kesunyian, mereka bertiga tampak sama-sama putus asa untuk saling memahami satu sama lain.
Hingga Ray akhirnya menghela napas. "Sebaiknya kita pulang. Tidak ada gunanya melanjutkan perjalanan yang sejak awal memang sia-sia."
Tentu saja, itu adalah pilihan yang paling masuk akal. Emma langsung menyetujuinya. Norman pun tidak bisa membantah. Tidak mungkin membujuk-bujuk Ray dan Emma lagi.
Norman merasa sangat pengecut.
Akan tetapi, ketika mereka baru akan berbalik arah, dengan Emma dan Ray di depan dan Norman di belakang; mereka mendengar keresak berisik di balik pepohonan.
Emma menegang, sementara Norman kaku.
"Astaga, itu paling cuma kelelawar," Ray menggerutu kesal, lalu menarik lengan Emma. "Kalian tidak perlu setakut itu."
Norman justru menelan ludah. Ia yakin itu tadi bukan kelelawar. Ia mencium aroma yang khas, aroma yang sama dengan aroma yang pernah ia cium dari masa kecilnya ...
Norman melihat sesuatu, semacam cairan, menetes di bahu Ray. Ray yang terkejut segera menyentuhnya. Ia mendapati semacam lendir. Ray mendongak dan melihat sesosok monster sedang bertengger di pohon, meyeringai kepada mereka bertiga.
Sambil menjerit ngeri, ketiga bocah itu melarikan diri. Emma dan Ray ke arah kedatangan mereka, Norman ke arah sebaliknya.
Si monster menggeram dalam, mata-mata kecilnya berkilau menilai situasi, sebelum meloncat untuk mengejar mangsa yang lebih besar—dua bocah, satu berambut jingga satu hitam.[]
.
.
{tbc}
