The Promised Neverland © Kaiu Shirai. Ilustrasi © Posuka Demizu. Penulis tidak mengambil keuntungan finansial apapun dari karya transformatif ini
The Death of The Fireflies © aria-cheros (arianadez dan psycheros)
[Bab 7]
.
.
Lebih cepat, lebih cepat! Larilah lebih cepat atau kau akan mati!
Ray meneriaki diri sendiri di dalam hati sembari mengerahkan seluruh tenaga untuk melarikan diri. Desir darahnya berdentum-dentum di telinga, berbaur dengan sengal napas keras yang mati-matian ia redam karena takut monster buruk rupa itu mendengar suaranya. Di depan, Emma berlari menembus semak-semak berduri, tekad mereka untuk bertahan hidup mengalahkan segala rintang rerimbun hutan yang beberapa menit lalu terasa kelewat berat untuk dilintasi.
Sesekali Ray menoleh ke belakang, jantungnya terasa seperti mau meloncat ke mulut setiap kali melihat monster itu masih persis di belakang mereka, mulutnya lebar sampai telinga, dengan gigi-gigi runcing seperti serigala menganga lebar, memamerkan ludah kental dan lidah keungunan.
Tidak bisa begini terus. Makhluk itu jauh lebih besar, tangan dan kakinya jauh lebih panjang dan kekar. Kalau Emma dan Ray hanya terus berlari, cepat atau lambat mereka akan tertangkap!
"Em!" Ray berseru, menunjuk pohon besar di depan, agak melenceng dari jalur pelarian mereka.
Emma mengangguk paham. Anak perempuan itu mengubah arah langkahnya dengan berguling ke rimbun belukar di sisi kanan lalu merangkak cepat ke bawah lindungan pohon. Ray menyusul, mendarat di kedua lutut dan menggores sobek celananya. Mereka berjejalan melipat diri di antara akar-akar pohon, mendengarkan dengan mata lebar ketakutan sementara si monster melintas membabi buta, mengeluarkan pekik binal mendirikan bulu roma.
Makhluk itu melewati persembunyian mereka, meninggalkan aroma busuk seperti bangkai rusa yang mati seminggu. Di kejauhan suara pekiknya terdengar makin murka, kini diiringi bunyi ranting-ranting patah dan ricuh burung-burung kecil yang terbang dari sarang. Kentara sekali monster itu mengamuk karena kehilangan mangsa dan kini sedang memporak-porandakan pepohonan dengan harapan bisa menemukan mereka.
"Ma—makhluk apa itu?" desis Emma, mencengkeram tangan Ray erat-erat. Dalam kegelapan selepas senja ini, Ray hampir tidak bisa melihat wajahnya meskipun mereka begitu dekat. Napas Emma terasa panas di pipi Ray, bau manis-kecut keringatnya menusuk penciuman.
"Mana kutahu? Tidak kelihatan seperti hewan buas apapun di buku Biologi!"
"Apa itu yang dimaksud Norman dengan demon?" Emma meremas tangan Ray lebih erat ketika mendengar monster itu meraung lagi. "Besar sekali! Dan kau lihat matanya? Ada banyak, seperti laba-laba!"
Ray merepetkan serangkaian makian yang akan membuatnya dihukum tidak membaca komik seminggu kalau saja Mama mendengarnya (dan sumpah mati Ray jauh lebih berharap dihukum begitu daripada harus berjongkok di bawah akar menghindari makhluk buas begini). Jika benar yang dikatakan Norman, maka demon itu pasti sedang sangat kelaparan. Butuh keajaiban bagi mereka untuk melawan—atau paling tidak melarikan diri—darinya hidup-hidup, dengan bagian tubuh utuh.
Belum lagi Norman. Saat demon itu melompat dari pohon tadi, Ray sempat melihat temannya itu berlari ke arah berlawanan, tapi Ray tidak punya kesempatan untuk memanggilnya sebelum si demon memutuskan untuk mengejar ke arah mereka berdua. Kini ia tidak tahu di mana Norman berada, apakah bocah rumahan itu selamat atau jatuh dan terkilir di suatu tempat.
Meskipun masih kesal pada Norman karena telah membawa mereka ke situasi pelik ini, Ray juga tidak mau anak itu celaka. Bagaimanapun juga, Norman masih temannya. Dan setidaknya Norman ternyata tidak berbohong tentang monster-monster pemakan manusia.
"Kita perlu strategi," Ray mengungkapkan yang sudah jelas, hanya agar otaknya kembali fokus alih-alih tenggelam dalam teror. "Kita tidak punya senjata, jadi satu-satunya kesempatan adalah melarikan diri. Tapi sebelumnya, kita harus mencari Norman." Keringat mengalir asin dari atas bibir ke mulutnya. Ray menjilatnya dengan grogi.
Di sampingnya, ia merasakan Emma mengangguk. Matanya telah sedikit menyesuaikan diri dalam kegelapan, dan kini Ray dapat melihat sedikit kilau mata gadis kecil itu. "Kita bertiga. Makhluk itu cuma satu. Kita pasti bisa, Ray."
Ray hanya berharap kata-kata Emma itu bukanlah sekedar penyemangat kosong belaka.
.
.
.
Ketika Norman bercerita tentang para demon dan tugas keluarga Ratri sebagai penjaga gerbang antar dimensi, reaksi pertama Emma adalah kasihan padanya.
Tentu saja Emma berharap—bukan—Emma sempat yakin Norman hanya membual. Ia mengasihani Norman bukan karena nasibnya sebagai anak keluarga terkutuk, tetapi karena, dalam pandangan Emma tadi, Norman terlihat seperti anak yang begitu kesepian dan putus asa, yang sampai harus sangat mengada-ada demi mempertahankan pertemanan, tanpa menyadari bahwa kebohongan itu justru semakin menjauhkannya dari persahabatan. Tadi, Emma gatal ingin menasehati Norman tentang makna pertemanan tulus tanpa kedustaan.
Sulit dipercaya bahwa kini, kurang dari satu jam kemudian, Emma mengubah pandangannya seratus delapan puluh derajat.
Norman yang malang. Tentu berat baginya sekarang, sendirian di tengah hutan, menyadari bahwa ia telah mengantarkan Emma dan Ray dalam bahaya pula. Di luar segala rahasia dan misterinya, bahkan seandainya Norman berbohong dan tidak ada demon pun, Emma tahu sesungguhnya kawannya itu anak baik.
Bagaimana tidak? Selama mengenalnya, Norman tidak pernah memperlakukan Emma dan Ray kecuali dengan kasih sayang dan kemurahan hati. Ia selalu membukakan pintu untuk Emma. Selalu memuji Ray dengan rendah hati saat Ray kalah dalam permainan catur. Ketika Emma pilek di musim dingin lalu, Norman mengiriminya surat setiap hari, yang dikirim lewat Vincent ke rumahnya.
Norman boleh penuh misteri dan sedikit tidak jujur demi melindungi rahasia keluarga. Tapi hati yang murni tidak akan pernah dapat ditutupi—Emma akan selalu dapat melihat cahayanya, meskipun Norman sendiri tidak. Emma dapat menebak bahwa Norman saat ini pasti sedang membenci dirinya sendiri, pasti mengira Emma dan Ray membencinya.
Seolah Emma dan Ray bisa benar-benar membenci teman baru kesayangan mereka. Seolah Emma dan Ray, telah menempuh perjalanan sejauh ini, akan membiarkan Norman dimangsa monster bermata delapan, tanpa pernah tahu bahwa Emma dan Ray tidak akan pernah rela kehilangan dirinya.
.
.
.
Betapa konyolnya ini semua.
Norman meringkuk di bawah pohon, mengusap air mata yang mengalir terus-menerus betapapun ia berusaha menghentikannya. Tenggorokannya sakit tercekat isak, hidungnya panas tersumbat ingus. Malam telah turun, serangga malam mulai berderik, dan Norman sendirian, selamat dari kejaran monster, sementara Emma dan Ray barangkali masih terancam. Dalam kegelapan hutan itu, Norman menangis. Bukan oleh ketakuta,n melainkan kemarahan pada dirinya sendiri.
Rasa marah dan benci pada diri sendiri yang mengalahkan rasa ngeri.
Kenapa? Kenapa ia menyetujui ide Emma dan Ray untuk melaksanakan ekspedisi ini? Tidak—dua anak itu tidak bersalah, mereka hanya mengusulkan perjalanan ini karena mereka adalah teman-teman yang baik. Norman-lah yang bersalah karena ia menyembunyikan fakta tentang para monster sejak awal demi egoisme kekanakkannya. Demi kunang-kunang, demi Tuhan, hanya demi kunang-kunang dan kenangan tentang Ayshe, Norman mempertaruhkan nyawa teman-temannya seperti ini!
Teman.
Mulut Norman terasa kecut mengulang kata itu. Masih pantaskah Norman disebut seorang teman? Tentu tidak. Adakah Emma dan Ray masih menganggapnya teman? Tentu juga tidak. Sekarang Norman kembali ke titik nadir, seorang pangeran kesepian dalam kehidupannya yang terkutuk, dan mungkin ia tidak akan memperoleh kesempatan kedua lagi. Sungguh bodoh.
"Maafkan aku," ia berbisik, mengelap hidungnya sekali lagi. Tak ada yang mendengarnya kecuali makhluk-makhluk malam, tersembunyi di balik rerungkutan hutan.
Raungan mendirikan bulu roma kembali terdengar di kejauhan, begitu sayup tapi tetap menggetarkan. Norman tahu—itu adalah auman frustrasi, auman makhluk buas yang gagal mendapatkan mangsa. Demon itu marah. Sedikit kelegaan membanjiri hati Norman, membuatnya lebih tenang. Setidaknya Emma dan Ray masih selamat.
Dan aku akan memastikan kalian tetap hidup, Norman mengeratkan kepalan tangan, membulatkan tekad.
Dalam kesigapan terlatih seseorang yang telah menguasai ilmu bongkar-pasang ransel darurat, Norman mengeluarkan isi tasnya. Senyum kecil membayang di wajahnya ketika terngiang komentar Ray pagi tadi, suara anak laki-laki itu menggema bersama imaji wajahnya yang mengerut heran.
"Ya ampun, Norman. Bawaanmu banyak sekali. Kau kira kita mau kemping? Masa sampai bawa pisau lipat segala?"
Betapa ini hari yang panjang. Percakapan pagi tadi itu terasa telah begitu jauh, seperti dari kehidupan lain, dan barangkali setelah peristiwa ini memang akan menjadi kehidupan lain. Pagi itu Norman masihlah anak bahagia dengan dua orang teman. Sekarang tidak lagi.
Diterangi senter kecil yang ia pasang di kepala, Norman menjajarkan barang-barang krusial di tanah. Beberapa tali tambang, pisau lipat, dan—benda terpenting—pistol suar. Ia boleh tolol karena memprakarsai ekspedisi ini, tapi setidaknya ia harus menepuk bahunya sendiri karena telah bersiap untuk menghadapi segala macam bahaya. Tentu ia tidak pernah berharap harus memakai semua peralatan ini—ia lebih baik diejek seumur hidup sebagai paranoid oleh Ray—tapi ah, kau tidak bisa memilih nasibmu, bukan? Terutama karena kau telah terlalu banyak bertindak bodoh.
Norman mengeluarkan ransel lipat yang lebih kecil dari salah satu saku ranselnya. Mengemasi barang-barang krusialnya ke ransel kecil itu dan meninggalkan sisanya di bawah pohon, Norman menarik napas dalam-dalam, mengikat tali sepatu erat-erat, lalu bangkit berdiri. Air matanya telah berhenti mengalir. Sekarang sudah bukan saatnya merasa takut. Ia harus menjadi seseorang yang bertanggung jawab, sebagaimana James selalu mendidiknya.
Ia harus melaksanakan tugas sebagai seorang Ratri, meski nyawa taruhannya.
"Tenanglah Emma, Ray. Izinkan aku memperbaiki ini semua."
Maafkan aku, Ayah.
Memasukkan selongsong suar padat ke dalam kamar peluru, Norman memantapkan pijakan dengan membuka kedua kaki selebar bahu. Memegangi pistol suarnya erat-erat dengan kedua tangan, ia mengarahkannya ke atas, ke celah di antara rimbun pepohonan di mana langit malam mengintip penuh bintang.
Norman menarik pelatuk. Pistol itu menghasilkan suara ledakan keras, suar melesat naik diiringi bunyi desis seperti kembang api lalu meledak di atas kanopi pepohonan. Sejenak area di sekitar Norman terang seperti siang, cahaya putih menyentuh segala permukaan. Beberapa hewan malam kabur ketakutan, keresak langkah mereka terdengar di antara dedaunan.
Lalu, raungan itu. Raungan monster yang mengguncang seluruh tulang, teriakan kemenangan makhluk lapar saat berhasil menemukan lokasi buruan. Norman mendengar derap langkah makhluk celaka itu jauh sebelum melihat wujudnya, dan bocah itu pun mulai berlari.
.
.
.
"Oke. Apa rencanamu?"
Emma berbisik nyaris tanpa suara, mulutnya bergerak dramatis untuk mengompensasi ketiadaan bunyi. Monster itu telah kembali ke jalan setapak di dekat mereka, dan kini sedang mengendus-endus dengan kepala menoleh liar ke sana-kemari.
Dari sela-sela akar, Ray mengintip perwujudan makhluk itu, berusaha menganalisisnya. Tadinya Ray mengira ia berbentuk seperti monster laba-laba, tapi begitu diamati lebih dekat, demon ini ternyata lebih mirip kadal. Bertubuh nyaris selebar mobil, panjangnya sekitar tiga ekor kuda. Makhluk itu menghancurkan apa pun yang ada di sekitanya dengan menebas-nebaskan ekornya yang bersisik halus seperti ular. Enam kaki panjang kekar menyokong tubuh gemuknya, kuku-kuku sebesar pisau—dan pasti juga sama tajamnya—berjajar di ujung setiap jari. Kepalanya serupa buah kelapa kecil—Ray bahkan melihat sedikit serabut rambut pada tempurungnya—dengan mata-mata bulat merah persis laba-laba.
Tapi dari semua itu, yang paling mengerikan adalah mulutnya. Mulut lebar seperti sobekan dari ujung lubang telinga satu ke lubang telinga lain, penuh hampir tumpah ruah oleh gigi-gigi tajam dan liur hijau kental menetes-netes. Ray bergidik mual. Kalau tidak mati dikoyak gigi-gigi atau kuku itu, korbannya pastilah bakal mati terinfeksi liurnya yang busuk penuh bakteri.
"Tampaknya penciumannya buruk," Emma melanjutkan, ketika Ray tidak menanggapinya. "Dia sudah berdiri di sana lima menit, mengendus-endus, tapi belum juga menemukan kita."
Ray mengangguk tanpa mengalihkan perhatian dari sang monster. "Mungkin. Tapi mungkin saja dia membaui dengan lidahnya. Kau tahu, seperti ular."
Ia ingat, dulu pernah ada ular ladang masuk ke rumahnya. Ular itu menjulur-julurkan lidah setiap kali hendak berbelok, macam pengelana menapakkan tongkat sebelum menginjak medan di depannya. Ayahnya lalu menjelaskan bahwa ular, tidak seperti mamalia, mengenali lingkungan sekitarnya dengan menangkap partikel-partikel di udara dengan lidahnya, kemudian mengidentifikasi partikel-partikel itu di organ vomeronasal yang terletak di atap mulutnya.
Seolah mengiyakan kecurigaan ini, makhluk itu menjulurkan lidahnya yang ungu tebal dan bercabang beberapa kali. Barangkali ia belum menemukan Ray dan Emma karena terlalu banyak bau binatang lain di sekitar mereka, tapi itu tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat, bau keringat mereka berdua akan mengalahkan bau hewan lain.
"Ah. Kalau begitu, kita harus memotong lidahnya?"
"Jangan gila dong," Ray melempari Emma pandangan kesal, "Memang bagaimana caranya kita memotong lidahnya? Pisau saja tidak punya."
Emma mengerutkan kening. Sungguh pelik situasi ini. Seandainya hanya berdua, mungkin mereka bisa berlindung dengan cara naik ke atas pohon dan menunggu demon itu bosan. Selain penciumannya yang tidak terlalu tajam, Emma dan Ray menyadari bahwa makhluk itu juga tidak memiliki penglihatan yang terlalu bagus, walaupun matanya banyak. Jika mereka bersembunyi di balik dedaunan, mungkin monster itu akhirnya akan bosan dan pergi.
Tapi mereka harus menyelamatkan Norman. Bersembunyi bukan pilihan. Mereka harus bergerak mencari teman mereka itu sebelum si monster mendahului.
Belum lagi mereka menemukan solusi, tiba-tiba dari arah berlawanan terdengar suara ledakan keras, menggema seperti senapan. Emma terlonjak, refleks memekik kaget. Ray buru-buru membekapnya, mata mereka berdua melebar ketakutan. Demon di belakang pohon mereka meraung keras.
Oh, sial, sial, sial—
Namun, alih-alih merangsekkan kepala ke bawah akar mencari Emma dan Ray, kedua bocah itu mendengar makhluk itu berlari menjauh, dentum langkahnya mengguncang tanah hutan. Ray dan Emma berpandangan, napas mereka terengah-engah.
"Su—suara apa barusan?" Emma berbisik, menyingkirkan tangan Ray dari mulutnya.
"Entah. Aku sempat melihat cahaya—mungkinkah pistol suar?"
"Siapa yang menembakkan pistol suar di tengah hutan begini?"
Tanpa kata-kata, mereka berdua sudah tahu ujung jawabannya, dan itu membuat tubuh keduanya lemas oleh kengerian.[]
