The Promised Neverland © Kaiu Shirai. Ilustrasi © Posuka Demizu. Penulis tidak mengambil keuntungan finansial apapun dari karya transformatif ini
The Death of The Fireflies © aria-cheros (arianadez dan psycheros)
[Bab 8]
.
.
James sedang melompati akar pohon yang gemuk ketika ia mendengar bunyi tembakan itu. Napasnya terengah di antara kepakan serangga yang lekas pergi setelah kakinya menerobos dedaunan semanggi. Ia berhenti mendadak dan cepat-cepat mendongak. Matanya menemukan suar berwarna putih terang yang melesat tinggi di langit. Tak ada desis yang tertangkap, tetapi James tahu tembakan itu berasal dari pistol suar.
Norman, kaukah itu?
Kegelisahan James kian meningkat. Itu pasti Norman. James sangat yakin bahwa orang yang menembak suar barusan adalah putranya. Ia sangat mengenal bunyi dan hasil dari tembakan tersebut karena pistol suar itu miliknya. Siapa lagi jika bukan Norman? Dan bagaimana anak itu bisa mengambilnya? Padahal James ingat ia sudah menyimpannya baik-baik di kotak yang terkunci. Ia tidak pernah menyangka jika putra semata wayangnya yang ia sayangi telah mencuri.
Namun, sekarang hal itu sudah tidak penting lagi.
James menimbang jarak. Ia harus segera menemukan Norman, tetapi posisi tembakan itu berada di kejauhan sehingga pasti membutuhkan waktu untuk mencapai ke sana. Tak ada kecemasan yang paling ditakuti James selain mencemaskan Norman dan kawan-kawannya apabila mereka sampai bertemu dengan makhluk yang gemar menyantap daging manusia itu.
.
.
.
Norman berlari sekuat tenaga. Ia memastikan tubuhnya benar-benar siap untuk melakukan aksi gila ini; kakinya menjejak kuat-kuat pada tanah hutan yang dipenuhi belukar, menerobos semak-semak setinggi dada, mengatur napasnya agar tidak kehilangan pasokan udara selama ia terus bergerak cepat—semata-mata demi menghindari maut yang mengancam di belakangnya.
Seumur-umur, inilah kali pertama Norman berlari begitu kencang—lebih kencang daripada saat ia melarikan diri dari mansion. Kenekatan adalah senjata terakhir yang terbukti berguna. Ia memutuskan untuk membawa monster yang memburunya ke arah yang berlawanan dari posisi Ray Emma. Dalam artian, semakin masuk ke jantung hutan.
Menit-menit yang berlalu hanya terisi oleh bunyi keresek dedaunan, tangan yang mengayun mengimbangi irama kaki, engahan napas, serta tapak demon yang serasa menggetarkan hutan. Norman telah meninggalkan ransel beratnya di lokasi ia menembakkan pistol suar. Selain membawa tali, pisau lipat, dan senter yang tersimpan aman di saku bajunya, ia juga membawa kacamata malam yang ia pakai sejak awal.
Norman berlari berzig-zag, berbelok tajam jika ada jalan persimpangan untuk mengecoh jangkauan sang predator, kadang-kadang melompati kolam air kecil dan batu-batu seukuran genggaman yang berlumut. Dadanya seakan hendak meledak setiap kali ia mengais sisa-sisa napas. Ia tidak mungkin berhenti. Satu kali Norman hampir saja menabrak pohon, tetapi beruntung keseimbangannya masih terjaga dengan sangat baik, sehingga ia bisa terus berlari.
Selagi berlari, Norman memikirkan bagaimana cara supaya ia bisa lolos. Sebelum berangkat memulai perjalanan, ia sudah menyiapkan mental seandainya mereka melihat tanda-tanda keberadaan demon di tengah perjalanan, jadilah ia membawa beberapa barang untuk berjaga-jaga.
Tapi itu prediksi yang sungguh mengerikan. Norman tetap tidak menyangka akan berada dalam situasi genting seperti ini. Memikirkan bagaimana reaksi dari Ray dan Emma rasanya jauh lebih mengerikan daripada menghadapi makhluk ini. Ia pun lekas mengusir bayangan dua temannya tersebut dari benaknya. Saat ini, tugas utamanya adalah jangan sampai mati.
Dan itulah yang membuat Norman selangkah lebih berani.
Dengan memakai kacamata malam, cukup mudah bagi Norman mengatur arah dan rute pelariannya. Kacamata ini memang berfungsi untuk melihat dalam kegelapan, sehingga Norman bisa melihat kontur hutan dengan benderang, tidak peduli dengan keadaan yang kian petang atau wajah kelam langit di mana bintang-bintang satu per satu bermunculan. Selain itu, semakin jauh ke dalam hutan ia berlari, udara semakin dingin. Ia hanya berharap semoga dirinya tidak terkena hipotermia.
Norman tersadar betapa banyaknya situasi yang membuatnya harus berlari selama dalam perjalanan dan ia tahu jika dirinya mulai kelelahan. Namun, di sisi lain, itu informasi yang cukup bagus. Norman menaksir bahwa laju demon yang mengekorinya tidak secepat saat awal-awal mengejar. Hanya karena monster itu berbadan besar dan buas, tidak lantas membuatnya menjadi penentu akan segalanya. Perkiraan yang paling masuk akal adalah: saat ini monster itu sedang kelaparan. Pasti ada kelemahan yang masih bisa ditemukan. Mempertimbangkan hal tersebut, Norman segera memikirkan tali dan pisau lipat. Ia sudah memiliki rencana sendiri.
Sepanjang berlari, Norman tidak berhenti merasa gelisah. Ada perasaan aneh yang mencengkeram hatinya, menggelanyut tanpa mau melupa. Seolah-olah, ia sudah pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya—berlari-lari seperti sedang berburu nasib, berkejaran dengan waktu—tetapi ia tidak bisa mengingat bagaimana atau kapan persisnya ia mengalaminya.
Seperti déjà vu.
Dalam jejakan kaki yang berat, Norman akhirnya sampai di pinggir sungai, di tempat di mana banyak kunang-kunang berada.
.
.
.
Norman kecil merasa sangat senang ketika ia dan Ayshe tiba di tepi sungai.. Perjalanan panjang yang mereka lalui telah menuai hasil yang tidak sia-sia. Para kunang-kunang belum lagi beraksi memamerkan pantat mereka yang bersinar, tetapi beberapa dari mereka sudah keluar menampakkan diri, terbang rendah di rerumputan basah akibat terkena percikan air sungai.
Tanpa berkata-kata, Norman menoleh. Ia mendapati Ayshe yang tengah tersenyum lebar, tampak bahagia sekali. Wajahnya secerah sandal bunga matahari yang Ayshe pakai sendiri. Baru kali ini Norman melihat Ayshe sebahagia itu. Ia lega telah menyambut ajakan sahabatnya dengan semangat positif.
Saling mengangguk, Norman dan Ayshe menceburkan diri ke dalam sungai di bagian yang dangkal. Air sungai begitu jernih dan segar. Segala kelelahan hilang tak terasa. Belum apa-apa, mereka sudah berlomba menangkap kepiting.
"Kita bisa membakar mereka untuk menu makan ma—ouch!" Usulan Norman terputus karena kepiting yang digenggamnya mendadak menyapit telapaknya. Ia segera mengibaskan tangannya dan kepiting itu pun terlepas, membuatnya bahunya turun karena lesu.
Ayshe yang berdiri tak jauh darinya hanya berdecak. "Dasar Norman. Yang kau pikirkan hanya makanan saja. Aku punya ide yang lebih menarik. Tunggu sebentar." Ia menunduk, mengambil sesuatu di dalam air, lalu mengacungkan kerang berwarna putih kecokelatan yang ditemukannya. "Jika kerang-kerang ini kita kumpulkan, kita bisa membuat tirai untuk pintu kamar kita di rumah! Pasti akan bagus sekali."
Mereka berdua bermain air sepuas mungkin. Senja berangsur lenyap dan petang dengan cepatnya membayang. Norman dan Ayshe duduk di atas batu besar, membisu dalam ketakjuban. Kunang-kunang yang tadi malu-malu mulai terbang percaya diri, semakin indah terlihat, menyemarakkan kegelapan yang diam-diam menggelamkan. Selama beberapa saat, kedua bocah itu hanya diam terpaku, terbuai pesona cahaya kuning-kehijauan yang mengelilingi mereka.
Dulu James pernah membelikan Norman sebuah buku yang berisi kumpulan lukisan tiruan dari beberapa seniman ternama. Ia mengira jika pemandangan semacam itu hanya terdapat dalam lukisan belaka, hasil imajinasi para seniman yang didapat dari bunga tidur indah, kemudian dituangkan di atas kanvas melalui jemari mereka yang berbakat. Namun, kini ia tahu semua itu adalah nyata.
Tak ada satu pun kosakata yang sanggup menerjemahkan keindahan dan kebahagiaan yang melebur menjadi satu. Dunia pelan-pelan menyurut, jauh sekali, menyisakan jejak imajinasi yang memenuhi masing-masing kepala dua anak itu. Dalam benak Norman sendiri, ia membayangkan dirinya berguling-guling di antara rerumputan berbau semerbak atsiri, sementara kunang-kunang bercahaya warna-warni mengejarnya dan menggelitiki pipi. Dalam hati ia bertekad mengubah segala pemandangan yang hebat ini dalam buku gambar miliknya sekembalinya mereka nanti.
Akan tetapi, kebahagiaan yang mereka rasakan tidak berlangsung lama. Ketika keduanya duduk-duduk, asyik menikmati pemandangan kunang-kunang, tanpa sengaja Norman melihat sepasang mata besar kekuningan yang menyala, mengintip penuh perhitungan di balik rimbunnya pepohonan.
.
.
.
Ketakutan itu muncul secepat kesadaran yang merambati keduanya. Emma sudah merapatkan diri, menggoyangkan tubuh Ray untuk bangun dari keterguncangan. Ray akhirnya tahu siapa yang telah menembak pistol suar tersebut. Norman ternyata mengumpankan diri!
"Ray, sekarang kau tahu yang sebenarnya, 'kan?" Mata menuduh Emma tak lagi ia tutup-tutupi, terlihat marah, tetapi seakan bijak ingin menasehati. "Kau bodoh sekali, Ray, sampai mengira Norman berniat menjahati kita. Jelas-jelas itu tidak mungkin."
Benar-benar tidak bisa dipercaya. Setelah semua kebencian yang Ray susun dan simpan hingga kemudian ia menguarkannya secara terang-terangan di depan Norman, ia tidak menyangka jika Norman malah melakukan hal senekat itu. Gelenyar menjemukan menyelimuti dada Ray, mengubah sesakan amarah menjadi tumpukan rasa bersalah yang tiada habis.
Namun, tak ada lagi waktu untuk berlarut-larut meratap. Penyesalan selalu berada di belakang. Dilanda kekhawatiran, mereka berdua bergegas berlari, mencari keberadaan Norman dari jejak atau tanda yang mungkin saja tertinggal.
Ray berasumsi jika Norman sengaja menggiring monster ganas itu menuju sungai. Norman adalah anak cerdas. Meskipun hanya teori, Ray yakin bahwa Norman pasti bisa menyiasati bagaimana cara melarikan diri. Sebelumnya, Ray dan Emma sudah memperkirakan beberapa kelemahan dari si monster. Medan air termasuk salah satunya, mengingat tubuhnya yang berat dan kakinya yang tidak berselaput. Kemungkinan ia tidak bisa berenang. Apabila Norman berniat mengalahkan monster tersebut, pasti ia juga paham. Karena itulah Ray dan Emma bersepakat jika lokasi yang dituju Norman adalah sungai.
Kini, semuanya menjadi terjelaskan. Ray akhirnya tahu mengapa Norman membawa begitu banyak barang untuk perjalanan mereka, mengapa ia ketakutan setelah insiden babi hutan, mengapa ia tidak mau menjawab jujur dari setiap pertanyaan yang Ray berikan, atau mengapa ia tampak misterius. Anak sekecil itu sudah belajar menyembunyikan rahasia. Dengan dirinya dan Emma yang tahu, sekarang rahasia itu memang sudah bocor, tetapi Ray menjadi lebih bersimpati dengan keadaan Norman.
Ray bertanya-tanya; akankah ia sanggup menjaga rahasia itu seandainya ia sendiri yang berada dalam posisi Norman?Pasti sulit. Pasti sulit sekali menjaga rahasia sebesar itu.
Ray tergiring membuat analisa. Jika Norman mengetahui keberadaan monster-monster itu selama ini, bagaimana bisa ia tidur nyenyak? Apakah mimpi-mimpinya tidak penuh dengan taring dan cakar tajam? Apakah anak itu pernah mengalami kejadian mengerikan yang mungkin saja membuatnya trauma?
Malam ini udara dingin, tetapi karena cepatnya mereka berlari, kaos dalam Ray sampai berkeringat. Kegelapan yang mengurung penglihatan bukan lagi penghambat, sebab ada dua senter kecil mainan yang bersinar menerangi jalan mereka.
Emma-lah yang mengusulkan ide untuk membawa senter tersebut. Ray sempat menolaknya karena berpendapat itu tidak ada gunanya. Emma memang sering membawa barang kesukaannya, jadi Ray tidak mungkin menerimanya begitu saja. Mereka toh hanya jalan-jalan, tidak perlu menambah benda-benda aneh apalagi mainan sebagai beban. Namun, karena Emma bersikeras, mau tidak mau Ray harus mengiyakan.
Dan lihatlah, betapa bergunanya benda itu sekarang. Dalam batin Ray menasehati dirinya untuk tidak meremehkan Emma lagi. Ia ingin meminta maaf kepada Emma, tetapi karena suasana yang menegang, ia tidak mungkin membahas hal bodoh tersebut.
Hutan terlampau pekat. Ada kabut putih tipis yang turun perlahan, mengurangi jarak pandang. Ray dan Emma pun juga tidak terlalu ingat rute mana yang mereka lewati sebab Norman-lah yang membawa petanya. Terjebak kebingungan, mereka berlari berdasarkan insting.
Keduanya terus berlari, tetapi di tengah perjalanan, di bawah pohon besar dengan batang setebal dua rangkulan orang dewasa, mereka menemukan ransel Norman, tergeletak begitu saja di antara serakan dedaunan kering, sedangkan tutup ransel yang terbuka menunjukkan isinya hanya tinggal beberapa barang.
"Ray ... apa artinya ini?"
Penuh kekalutan, Ray tidak berani menjawab pertanyaan Emma. Ia meraih peta dari dalam ransel, membentangkannya lebar-lebar, mengecek di mana letak sungai itu berada.
Satu misi mendesak harus mereka tuntaskan malam ini juga.
.
.
.
Benar. Norman sedang membuat rencana untuk mengalahkan demon. Ia bermaksud menjebaknya. Sebuah prospek yang mendebarkan. Ia sengaja berlari memutar di sekitar sungai dan beberapa pohon dengan memasang perangkap dari tali. Meskipun kakinya kebas dan tungkainya serasa hendak patah, tetapi ia bertekad tidak akan menyerah dengan mudah.
Jika ada satu hal utama yang bisa ia pelajari dari profesi ayahnya, itu adalah bagaimana cara menghentikan makhluk pemangsa daging itu. Norman jelas tidak bisa membunuh demon dengan modal senjata minim, tetapi ia bisa menghentikan gerak demon untuk sementara waktu dengan tali yang dibawanya.
Norman telah menemukan satu kelemahan fatal. Ternyata sang demon tidak menyukai air. Ia telah melakukan percobaan sederhana dengan menciprati demon itu dan terbukti makhluk itu mengibaskan tubuhnya, seakan tidak menyukai kulitnya yang basah. Seperti kucing, pikir Norman. Air itu memang tidak serta-merta membuat kekuatan demon turun drastis, tetapi itu bisa menjadi senjata untuk menurunkan tingkat kewaspadaannya.
Rencananya, Norman akan membuat jebakan supaya demon itu terperangkap di tengah-tengah jaring tali buatannya. Menurutnya, jika ia bisa mengatasi bagian kepala, maka sisanya tidak terlalu sulit untuk diatasi.
Licinnya medan membuat Norman terpeleset saat ia mengitari pohon. Ia menggertakkan gigi, bermaksud bangkit. Tetapi alih-alih berdiri, tiba-tiba mulut demon itu sudah mengendus mendekatinya, bilah kuku tajamnya bersiap menerkam. Dengan tangan gemetar, cepat-cepat Norman menyorotkan senter yang dipegangnya. Sang demon buru-buru memalingkan muka, tampak tak menyukai cahaya yang menyilaukan mata besarnya.
Norman berhasil lolos.
Di tengah ketegangan yang kian meningkat, Namun telah menemukan kelemahan kedua dari demon tersebut, yaitu ia tidak menyukai cahaya. Sayangnya, sedikit ujung kuku tajam darinya tadi sempat mengenai bahu Norman, membuat goresan yang mengucurkan darah. Ia mengerang dalam geraman tak bersuara, berusaha tak mengeluarkan rintihan barang sekecap yang bisa membuat kegigihannya runtuh.
Ketika Norman berdiri, ia tidak bisa berlari normal. Kakinya sempat keseleo saat ia terjatuh, sehingga kini ia agak terpincang. Walaupun begitu, Norman bersikukuh tetap maju. Keberanian telah mengalahkan rasa sakit dan takutnya.
Selagi Norman berlari untuk meneruskan rencananya, kelebatan ingatan menghujaninya bertubi-tubi, semakin lama semakin jelas seakan sebuah tabir perlahan disingkap dari benaknya yang lama tertidur.
Ia dan Ayshe berlarian gembira menuju sungai kunang-kunang.
"Norman, lihat! Itu dia sungainya! Ayo balapan sampai ke sana!"
"Wa—hei, tunggu Ayshe! Kau mencuri start, dasar curang!"
Ia dan Ayshe mencari kerang dan kepiting sembari menunggu senja.
"Kita bisa membakar mereka untuk menu makan ma—ouch!"
""Jika kerang-kerang ini kita kumpulkan, kita bisa membuat tirai untuk pintu kamar kita di rumah!"
Ia dan Ayshe duduk bersisian di batu besar, seekor kunang-kunang telah ditangkap dan dimasukkan ke dalam toples kosong bekas selai yang dibawa Ayshe. Nama hewan ini kunang-kunang, mereka membuat cahaya dari reaksi kimia antara oksigen dan zat luciferin.
"Kau mau memeliharanya?"
"Ayo kita rawat bersama-sama!"
"Janji?"
Mata besar kekuningan itu mengerjap, dan selanjutnya bergerak, semakin cepat, semakin cepat, menerkam—
"Norman!"
Jeritan Ayshe, diiringi suara basah sesuatu terkoyak.
"Ayshe ..."
Norman memegang kepalanya dan terengah. Kilasan itu pendek-pendek, tetapi berputar berulang dengan deras dalam ingatan Norman, seperti baru saja terjadi kemarin. Ia tidak kuasa menekannya lagi. Air matanya merebak mengingat semua kenangan memilukan itu.
Salahku. Ini semua salahku.
Salahnyalah karena Norman tidak bisa menyelamatkan Ayshe. Salahnya karena ia tidak memiliki cukup kekuatan untuk melindunginya, karena ia jatuh terduduk dengan sekujur tubuh gemetar sementara sahabatnya ...
Dan pemahaman baru pun menyusup melalui sanubari yang paling kelabu. Norman tidak akan membuat teman-temannya mati untuk yang kedua kali. Karena itulah ... karena itulah—
—aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi!
Norman menjejakkan kaki amat kuat. Tinggal satu putaran lagi, engahnya. Namun, lagi-lagi Norman tersandung. Senternya luput dari genggaman akibat tangannya yang terlampau gemetaran. Ia tidak bisa lagi menyorotkan senter untuk mencegah serangan. Sang demon berhasil mencakar punggung Norman ketika ia berbalik melarikan diri.
Jeritan memekakkan telinga terdengar. Punggung Norman bagai terbakar. Rasanya teramat perih, seakan-akan dagingnya ikut meretih. Entitas apapun yang ada di hadapannya adalah musuh yang harus ia taklukkan. Norman merogoh pistol suar dari kantong celananya dan menembakkannya tiga kali ke wajah sang demon. Monster itu memalingkan wajah. Akhirnya ia menemukan celah tipis untuk bisa lolos.
Norman kemudian tertatih berdiri. Kakinya yang pincang menyulitkannya berlari. Ia merasa darah mengalir di punggungnya, merambati lekukan tulang, sebelum berakhir menetes pada jejak yang ia tinggalkan. Warna darah yang pekat, bau amis, dan aroma air liur demon membuat Norman merasa mual. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak muntah.
Tali sudah sempurna menjadi perangkap. Tinggal menjebak demon agar sempurna persis berada di tengah-tengah. Norman, dengan punggung yang sangat perih dan jalan yang terseok-seok, berhasil memaksa sang demon masuk perangkapnya.
Akan tetapi, sebelum Norman sempat menarik tali untuk melilit leher dan tubuh demon, karena sekali lagi Norman mengingat kilasan masa lalu di mana Ayshe tewas diserang, monster terkutuk itu kembali berhasil mencakar Norman.
Kali ini pahanya yang terkena cakaran. Norman meraung kesakitan sambil tetap menarik tali agar terikat kuat. Kacamata malamnya terlepas. Ia menjerit dan menembakkan pistol suar berkali-kali kepada demon. Tetapi, tanpa bantuan kacamata, tembakannya menjadi tidak tentu arah sebab ia tidak bisa melihat posisi wajah demon dengan jelas. Norman terus menembak sembari berlari menjauh agar ia tidak ikut masuk perangkap yang dibuatnya sendiri.
Namun, peluru pistol suar telah habis.
Putus asa, Norman membuang pistol tersebut. Ia tidak bisa melihat ke belakang ketika perangkap tali buatannya berhasil membekuk tubuh raksasa demon. Ia tidak bisa merayakan keberhasilan rencananya dengan sorak-sorai. Punggungnya semakin berkedut perih, seakan ribuan pecahan kaca ditusukkan di sana.
Norman melepas jaket yang sudah cukup terkoyak akibat cakaran dan tergores batuan saat jatuh. Kakinya gemetar hebat ketika ia berusaha membebat pahanya dengan jaket tadi, usaha mencegah darah mengalir. Kakinya seolah tidak sanggup lagi dibuat berjalan.
Di tengah kepanikan dan penyesalan, Norman meneteskan air mata berkali-kali. "Ayshe, maafkan aku ..., maafkan aku …," bisiknya tanpa henti.
Samar-samar, Norman mendengar namanya dipanggil berulang. Akan tetapi, dunia di matanya berputar seperti gasing. Denyutan pada kepala serta rasa sakit di punggungnya membuatnya takluk tak berdaya. Ia akhirnya ambruk dan kehilangan kesadaran.[]
