Disclaimer

Saya hanya meminjam karakter dari Naruto dan High School DxD

Summary: Terombang-ambing dalam masa dan waktu. Aku tak bisa menentukan apa yang kuharapkan dari diriku sampai kau datang dalam hidupku sebagai pedomanku. Meskipun akhirnya kau ikut campur dalam urusan 3 Fraksi Akherat, Aku tahu bahwa dirimu adalah manusia biasa yang taj tahu dengan duniaku. namun aku berjanji, akan selalu berada di sampingmu untuk menemanimu selamanya.

Rated: M

Genre: Adventure, Romance, Humor and many more.

Peringatan: OOC, Typo, Gaje, Mainstream, mungkin AU. Sedikit mengambil alur dari LN dan Anime.

Pair: Naruto x ?

Chapter 1: I want to be your friend now.


Masih dalam suasana dimana Sirzechs memasang senyum aneh dan bertanya kepada Rias perihal 'pengintip' yang aneh tadi, Rias malah terkekeh malu sambil menggaruk pipinya. Sirzechs sedikit bingung ketika wajah Rias memerah untuk pertama kalinya.

"Jadi Onii-sama ingin tahu siapa dia?".

Sirzechs hanya mengangguk dan bersidekap. "Bisakah kau memulainya?"

Rona merah muncul kembali di pipi gadis crimson itu mengingat Naruto. "Tadi sore selepas aku ingin pulang. Ada Datenshi yang mau membunuhku tadi—"

"DATENSHI YANG INGIN MEMBUNUHMU? KENAPA KAU BARU CERITA!" Semprotan dari Sirzechs menghasilkan butiran air yang membasahi wajah ayu Rias. Tak cukup semprotan, tangan Maou Lucifer itu mengguncang-guncangkan tubuh Rias.

"Dengarkan dulu makanya! Sebenarnya ada seseorang yang menolongku"

"D-dia itu seperti seorang K-Kesatria yang datang dalam mimpiku selalu" Dalam benaknya, membayangkan seorang penunggang kuda dengan pedang turun dari kudanya dan mengulurkan tangannya pada Rias yang sedang terduduk di taman bunga.

"Kyaa~"

"Apa katamu? Manusia?" Pertanyaan dari Sirzechs membuat Rias menjadi diam dan menundukan kepalanya.

"Apakah Onii-sama ingin bilang bahwa manusia itu serakah seperti Otou-sama?" Bukannya bentakan yang ia terima. Sebuah elusan tangan di pucuk kepalanya membuat ia mendongakkan kepalanya.

"Tidak. Malahan aku ingin bertemu dia dan mengucapkan terima kasih karena menyelamatkan Imotouku yang jelek ini" Sirzech memberikan cubitan di pipi Rias yang membuat pemiliknya mengaduh kesakitan.

"Sakit tahu! Onii-sama no baka!" Mengembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya tanda Rias kesal dengan perbuatan Kakak sulungnya yang dibalas tawaan kencang dari Sirzechs.

"Sebaiknya kita lanjutkan. Kali ini kau harus serius..." Rias mengangguk dan memasang kuda-kudanya lagi untuk berlatih bersama Kakaknya yang sedang ada waktu luang.

.

.

Kediaman mendatangi orang-orang yang berada di ruang tengah. Sepanjang mereka berkumpul daritadi tak ada satupun yang memulai berbicara hingga cukup lama. Masing-masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri yang tak jauh-jauh dari Rias.

"Kulihat kalian sepertinya menyesal karena menyekolahkan Rias di dunia manusia. Apa aku benar?" Tanya Sirzechs.

Lucius menghela nafas berat. "Sepertinya iya. Tak di Underworld dan disini dia juga tak ingin bergaul pada sebayanya. Dia masih menutup dirinya pada siapapun. Wali kelasnya yang memberitahuku".

"Sudah memang sepantasnya kita seharusnya kembali ke Underworld. Ternyata manusia lebih berbahaya daripada yang kuduga". Venelana menambahkan ucapan Lucius.

"Sebaiknya jangan dulu. Kurasa Rias sudah memiliki satu teman". Nada menolak diutarakan Sirzechs. "Dan temannya itu menolongnya dari Datenshi. Kupikir Otou-sama dan Okaa-sama sudah mengetahui ini kan?"

"Tetap saja. Sudah kujelaskan tadi kan bahwa disini sudah tak aman lagi. Banyak yang tak kita ketahui tentang dunia ini". Lucius mengurut keningnya pelan tanda ia sudah pusing dengan urusan ini.

Memejamkan matanya untuk berfikir sebentar karena urusan ini. Cukup merepotkan memang masalah Rias yang tak bisa menjaga dirinya sendiri karena perihal 'itu'. "Percayalah padaku, pasti dia akan aman saja karena temannya itu" Sirzechs membuka matanya untuk melihat bagaimana ekspresi Lucius dan Venelana.

"Apa kau yakin?".

"100 persen. Percaya saja padaku...". Ujar Sirzechs.

"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Rias. Aku akan memburumu dan memusnahkanmu Sirzechs!"

Keringat dingin meluncur dari kening Sirzechs mendengar ancama tak main-main dari Ayahnya. "O-oke. Bisakah Otou-sama menenangkan diri?"

.

.

.

Rias memutar-mutarkan alat tulisnya sambil bertopang dagu. Heiress klan Gremory itu sedari tadi tak mood mengerjakan Pr Fisikanya dan malah melamun. Pikirannya tak jauh-jauh dari Kesatrianya tadi yang mengintip dirinya sedang latihan. Entah ia senang atau malah kesal.

Tak cukup memainkan alat tulisnya. Ia meniup-niup poni rambutnya yang berada di keningnya. Kacamatanya ia lepas karena tanpa kacamatapun ia bisa membaca juga.

"Kalau tidak salah ia Naruto Uzumaki dari kelas sebelah. Pintar dan juga tampan lagi. Siapa yang tidak ingin memandang wajahnya yang membuat siswi-siswi meleleh akibatnya". Rias tersipu ketika memikirkan Naruto tersenyum padanya dengan ceria.

"Pasti banyak siswi yang mengidolakan juga yah? Sepertinya aku akan kalah jika bersaing dengan mereka" Kepalanya tertunduk dengan dagu menopang pada tangannya yang ditaruh di meja belajar. Ia menghela nafas yang entah sudah berapa kali ia lakukan.

"Orang pintar pasti bergaul dengan orang pintar juga kan? Itu juga berlaku pada Naruto-kun tentunya..." Tak sadar akan ucapannya yang menambahkan suffiks –kun pada Naruto. "Kalau begitu aku akan menunjukan! Bahwa aku juga pintar dan dilihat oleh Naruto-kun!"

Memakai kacamatanya lagi. Rias kembali mengerjakan tugasnya dengan teliti terlihat dari matanya yang fokus pada tulisan tangannya. Ternyata karena Naruto, melakukan kegiatan apapun kini membuat Rias menjadi semangat.

.

Dilain pihak, Naruto menopang kepalanya dengan kedua tangannya sambil menaruh sebuah pensil di bibirnya yang mengerucut. Pemikirannya juga tidak jelas karena Rias. Pr dari gurunya yaitu merangkum materi sudah selesai ia kerjakan dengan cepat.

"Aku merasa ingin menjadi temannya. Meskipun ia malah tak menggubrisku" Ujarnya monolog.

"Bagaimana jika aku mengajaknya besok untuk pulang bersama yah? Hn Ide yang bagus!". Naruto membereskan bukunya dan menaruh di tas hitam sekolahnya.

Setelah itu ia menggelar futon untuknya berbaring dan tidur. Maklum, ia yatim piatu dan tak punya uang banyak untuk membeli sebuah ranjang empuk. Ini pun menurutnya sudah cukup.

.

.

.

Keesokan harinya semua berjalan seperti biasa bagi Naruto. Bangun pagi, mandi, sarapan dan berangkat menuju sekolahnya yang tidak terlalu jauh. Selama perjalananpun seperti biasa, kadang bersenandung dan juga kadang diam menikmati perjalanannya.

Pasti setelah melakukan itu ia tak sadar bahwa dirinya sudah sampai di koridor sekolah. Mata safirnya tak henti-henti melihat para siswa-siswi sedang melakukan kegiatan mereka sendiri-sendiri.

Seketika langkahnya terhenti ketika seorang siswi berkacamata dan berambut crimson berdiri di depannya. Mata blue-green dan safir bertemu dan saling pandang. Pemilik iris blue-green menyerah terlebih dahulu dan menunduk.

Naruto PoV.

Ada apa dengannya? Kenapa wajahnya menunduk? Memang tampangku menyeramkan yah? Tadi aku bercermin wajahku biasa saja kok.

"Hei, kau tak apa-apa?" Tanyaku kepadanya. Seketika dia mengangkat wajahnya yang bersemu merah.

Kurasa dia terkena demam.

"Suhu tubuhmu normal kok" Aku menempelkan punggung tanganku pada keningnya. Lho? Kok dia malah seperti berjengit kaget? Sekasar itukah tanganku?.

"B-baka!"

"Hei tunggu!" Yah dia malah lari. Dan apa-apaan itu? Seenaknya saja memanggiku baka.

Aku menggaruk kepalaku bingung dengan sifat dia. Entah dia memakan apa sampai kupegang saja mengataiku baka. Tak mengerti aku dengan sifat wanita.

Kudengar ada bisik-bisik dari siswa-siswi yang berada di sekitarku. Mereka mungkin tertarik karena aku berbicara dengan Rias.

"Ada apa?"

Dasar kampret. Aku tanya malah cuek dan sok sibuk. Sepertinya aku akan menjadi bahan gosipan sekolah ini, semoga saja aku kuat menghadapi fitnahan dari mereka.

Naruto Pov end.

.

Rias Pov.

Uhh kenapa sih aku malah lari? Bukannya berterima kasih malah mengatainya baka. Dasar bodoh kau Rias!

Tapi mau bagaimana lagi? Wajahnya itu... Entah kenapa membuatku selalu berdebar tiba-tiba. Apalagi tanda lahir kumis kucing diwajahnya itu. Ingin sekali aku mencubit pipinya dengan kencang agar menjadi manusia itu jangan menggemaskan seperti itu.

Ish kenapa sih aku? Masa cuman memikirkannya sampai aku menjerit tak jelas di koridor. Dasar bodoh kau Rias!

Kok aku merasa dejavu yah atas ucapanku? Ah bodolah!

Ternyata aku telah sampai dikelasku. Huft seperti biasa aku sepertinya di cueki dan tak diperdulikan. Lagian ini semua gara-garaku juga, saat kemarin-kemarin mereka mengajakku bermain tapi malah ku diami.

Tapi biar sajalah. Siapa yang mau berteman juga dengan orang cupu dan lemah sepertiku? Oke deh disini memang aku tak dianggap lemah. Tapi di Underworld itu adalah mimpi buruk. Dapatkah kau tahan bully an dari temanmu? Siapapun pasti tak mau.

Inilah sebab aku bersekolah di dunia manusia agar tak ada yang mengetahui jati diriku dan aku merasa aman dari bully an. Tetap saja, aku lebih menyukai menyendiri daripada bergaul karena diriku sudah terbiasa dan membuatku nyaman.

Guruku ternyata sudah datang. Hari yang panjang lagi akan terjadi lagi hari ini.

Rias Pov end.

.

.

.

Time skip.

Sekolah pun usai. Semua murid berebut keluar kelas dan saling mendahului agar sampai di rumah dengan cepat untuk sampai kerumah masing-masing dengan semangat.

Sedangkan Rias, ia masih membereskan bukunya dan baru berjalan menuju luar kelas yang sudah sangat sepi. Namun ia terkejut saat berada di pintu kelas. Karena orang yang ia teriaki 'Kesatria' berdiri didepan kelas sambil menengok kekanan dan kekiri. Saat kekiri ia melihat Rias dan tersenyum.

"Ayo pulang bersama..."

Naruto mengerutkan alisnya karena siswi yang ia ajak malah menunduk. "Aku tidak mengigit kok" Seketika Rias yang bersemu menjadi sweatdrop. Namun wajahnya kembali bersemu mengingat ajakan Naruto.

"K-kenapa?".

"Ck! Ayo ikut saja!" Rias diam saja ketika tangannya di pegang oleh Naruto dan menyeretnya dengan pelan.

Acara seret menyeret itu masih berlanjut dan diakhiri ketika mereka sudah berada di luar lingkungan sekolah mereka. Rasa canggung memenuhi perjalanan mereka karena tak memiliki topik untuk dibicarakan.

"K-kau yang kemarin menolongku ya?" Tidak diduga. Rias yang terlebih dahulu berbicara saat Naruto baru membuka mulutnya.

"Apakah kau terluka?" Tanya Naruto. Sepertinya ia tak bisa membantah atas pertolongannya kemarin.

"T-tidak" Balas Rias singkat. "A-apakah kemarin kau juga yang mengintipku berlatih?"

Efek perkataan dari Rias sangat membuat Naruto kaget. Dipikirannya ia sudah melihat Kakak Rias yang tertawa Psycho dan mengasah belati tajam pada asahan. Itu juga karena dia sudah mengintip, menyelinap pula pada rumah orang dengan tanpa dosa.

Pikiran yang konyol. Menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran aneh itu dan kembali kepada kenyataan.

Setetes keringat meluncur dipipinya "E-ehehe maaf" Menggaruk tengkuknya pertanda ia merasa malu.

"U-untung kau berlari dengan cepat. K-kalau tidak kau sudah menjadi debu oleh Onii-samaku"

'Sepertinya memang aku sudah tamat kali ini'

"S-sebenarnya kekuatan apasih yang kalian miliki?" Tanya Naruto membuat Rias menghentikan langkahnya.

"A-apakah kau yakin?".

"Ya tentu saja! Memang apa salahnya?".

"A-aku ingin memberitahu sesuatu padamu terlebih dahulu" Ucapan Rias membuat Naruto sedikit berfikir.

"Memberitahu apa?".

"Percayakah kau dengan namanya Iblis?" Sepertinya Rias sudah tak gugup berbicara dengan Naruto tapi semburat merah masih tampak diwajahnya.

"Iblis yah? Oke aku percaya". Ujar Naruto.

"Aku dan keluargaku adalah Iblis".

"..."

Naruto memasang ekpresi aneh dan terdiam. 5 detik kemudian gelak tawa keluar dari mulutnya. "Hei hei aku tak tahu kau bisa melucu seperti itu. Oh ayolah Iblis itu adalah mahluk menyeramkan yang tinggal di neraka". Ia mengusap matanya yang berair karena tertawaannya dengan kasar.

"A-aku serius baka! Kenapa kau tak percaya sih?".

"Siapa juga yang percaya? Aku seperti mendengar dongeng anak kecil tahu". Naruto kembali tertawa membuat Rias kesal.

"Jika kutunjukan sesuatu. Apakah kau akan percaya?" Tanya Rias.

"Boleh saja. Memang kau ingin tunjukan—"

Sret!

"—apa" Sepasang sayap mirip seperti sayap kelelawar muncul di punggung Rias. Membuat Naruto cengo sampai membuka mulutnya.

Rias ingin tertawa melihat Naruto namun ditahan olehnya. "Apakah kau percaya Naruto-kun?".

"O-oh, a-apakah sayap ini asli? Coba kucek" Dengan watadosnya Naruto memegang sayap Rias dengan meraba dan menarik-nariknya.

"Jangan ditarik dengan kencang! Sakit tahu!".

"A-ahaha g-gomen" Naruto kembali cengo dan pikirannya blank.

Oh ayolah, Iblis? Kurasa orang-orang sekarang sudah gila dan melupakan apa itu fiksi dan realita. Yah seperti itulah. Seketika ia tersentak saat isakan keluar dari bibir Rias. Apakah ucapannya salah juga seperti wajahnya?

"J-jadi aku menjijikan dimatamu ya?" Lelehan air mata keluar dari kedua iris blue-greennya. "A-aku p-pulang duluan yah…" Baru saja ia mau pergi. Tangannya dipegang oleh Naruto dan ditarik dengan pelan.

"Buat apa aku jijik? Aku malah ingin berteman denganmu" Rias terkejut mendengar ucapan dari Naruto. "Aku tadi hanya terkejut. Tolong jangan menangis seperti itu nanti aku malah dikira menjahatimu". Tangan Naruto mengusap pipi Rias membuat pemiliknya menjadi tambah terkejut.

"K-kenapa?".

"Kenapa? Aku perduli padamu karena memang aku ingin berteman denganmu. Sejak dulu aku ingin berteman dengamu tapi kau selalu menjauh. Boleh aku tahu juga kenapa?" Rias menundukan kepalanya kembali dan isakan terdengar dari bibirnya.

"K-kau takkan mau mendengar ceritaku dan malah tertawa lagi nanti" Rias mengalihkan tatapannya kesamping.

"Aku takkan tertawa kok. Janji deh..." Jari telunjuk dan tengah Naruto membentuk V. Membuat Rias menatap Naruto lagi.

"S-sejak kecil aku tak bisa menguasai Power of Destruction. Kekuatan khas klan Gremory yang merupakan klan terpandang di Underworld. Onii-samaku saja sudah sangat mahir menggunakannya pada umur 10 tahun, aku setengah mati latihan namun tak ada hasilnya sama sekali" Naruto memilih diam mendengarkan ucapan Rias.

"Orang tuaku tentu sangat kecewa atas kelemahanku. Sejak aku berumur 11 tahum, aku selalu mendapat cemoohan oleh klan Iblis lain dan teman-temanku. Mereka menganggap aku tak pantas menjadi Gremory malahan menjadi aib bagi klan Iblis terpandang. Merasa bahwa memang aku tak cocok di Underworld, orang tuaku pindah kesini agar aku dapat hidup seperti biasa. Setidaknya aku dapat pengetahuan kan" Senyuman miris tampak di bibirnya membuat Naruto sedikit bersalah karena menanyakannya.

"Aku lebih memilih berdiam diri dan tak bergaul karena aku tak pantas menjadi bagian dari kalian dan tak pantas bersanding dengan kalian. Karena aku hanyalah satu-satunya Iblis lemah yang merupakan aib dari Gremory dan tak pantas juga hidup di dunia ini."

"Begitu saja? Apa kau merasa bahwa kau tak pantas hidup begitu?" Rias terdiam atas pertanyaan Naruto. "Berarti kau yang bodoh!" Ia tertohok dan menangis lagi.

"Mereka hanyalah anjing yang bergonggong tak jelas karena tak bisa mengaca pada diri mereka sendiri. Kau bisa balikkan perkataan mereka! Kau bisa membuat mereka terdiam bahkan takut asalkan kau berusaha untuk menggapai apa yang kau mau..."

"P-percuma saja. Aku sudah berusaha–".

"Dan kau sudah menyerah begitu? Tak ada yang instan di dunia ini Rias. Contoh jika kau ingin menanam pohon apel. Kau harus menanam bibit apel dan menyiraminya. Apakah keesokannya sudah tumbuh besar? Tidak! Kau harus menunggu jika kau ingin merasakan enaknya apel dari bibit yang kau tanam"

"Sama seperti latihanmu. Jangan berhenti dan menyerah! Tunjukan bahwa dirimu mampu! Tak ada yang mustahil jika kau berusaha dengan sungguh-sungguh" Perkataan Naruto membuatnya sedikit tersentuh.

Ia memang selalu pesimis dan pasti akan menyerah. Tapi anehnya ia akan mengulanginya lagi seperti biasa ia lakukan saat latihan. Saat menyerah itu pasti tak bisa ia menahan kekesalannya dan memilih menangis sendirian.

Dan semua sepertinya akan berubah seperti kemarin karena ia mengalami peningkatan. Itu disebabkan oleh anak berambut pirang jabrik dan memiliki iris safir teduh ini. Yang merupakan penolongnya, Kesatrianya dan matahari yang menyinari kegelapan hatinya.

Orang yang mau menjadi temannya setelah Sona. Teman manusia pertamanya yang pintar dan terkenal ramah.

Tanpa disadarinya, ia memeluk Naruto dengan erat.

"Eh?".

"A-arigatou!" Pelukan Rias bertambah erat pada Naruto.

"Untuk apa?"

"Karena telah menjadi temanku... Kau telah memberiku sebuah semangat untuk hidup Naruto-kun" Naruto hanya tersenyum dan membalas pelukan Rias.

"Itulah gunanya teman! Hehehe". Rias melepas pelukannya dan ikut tertawa bersama Naruto dengan ceria, melupakan beban yang ia rasakan karena Naruto.

Mereka sekarang sudah terlihat akrab dan tertawa saat perjalanan menuju rumah Rias. Gadis crimson itu memaksa Naruto agar mengantarnya pulang bersama dirinya dengan cepat. Tak ingin melihat teman barunya menangis lagi, dengan berat hati Naruto iyakan saja ajakan Rias.

Saat mereka baru saja sampai. Di depan gerbang mansion Gremory terlihat 3 orang yang memandang mereka dengan tak percaya dan senang.

Lucius dan Venelana kaget saat Rias tertawa bersama anak yang bersamanya tanpa beban sama sekali. Sedangkan Sirzechs hanya menyeringai melihat ekpresi kedua Orang tuanya.

"Sudah kubilang Otou-sama, Okaa-sama. Anak itu adalah teman Rias yang membuat perubahan pada sifatnya sekarang ini seperti kalian lihat" Mereka masih tak bergeming dan membuat Sirzechs merasa di kacangi

Rias yang sudah melihat Orang tuan dan kakaknya berlari dengan senang. "Tadaima!".

"O-okaeri" Venelana yang menjawabnya.

"Nah Otou-sama, Okaa-sama, Onii-sama. Inilah temanku namanya Naruto Uzumaki!" Rias mengisyaratkan tangannya melambai agar Naruto yang sedikit tertinggal mendekatinya.

"Ha'i. Saya Naruto Uzumaki teman putri anda Ojii-san, Obaa-san, Onii-san" Naruto menunduk hormat sebagai tamu kepada keluarga Gremory.

"Namamu Naruto? Oh ya bagaimana menurutmu tentang perkembangan Rias?" Sirzechs memecah kediaman setelah perkenalan tadi.

"Uh, o-oh yeah menurutku dia sudah ada peningkatan" Naruto kembali menggaruk tengkuknya saat canggung seperti ini.

"Maksudmu apa Sirzechs?" Sang kepala keluarga yang terdiam bertanya perihal latihan Rias yang sepertinya diketahui oleh orang luar.

"Maksudku Naruto selalu mengintip Rias latihan di semak-semak dekat pohon yang berada ditaman setiap hari untuk melihat Rias" Naruto merasa ada aura tak mengenakkan dari Lucius yang memandangnya.

"Bagaimana ia bisa melihatnya?".

"Dengan memanjat dinding tentu saja!" Aura Lucius semakin tak mengenakkan membuat Naruto meneguk ludahnya yang terasa sangat sulit.

"Anak muda. Jadi kau selama ini menyusup kerumahku?" Demonic Power berasal dari Lucius berkobar mendengar perbuatan Naruto langsung dari Sirzechs.

'Coret untuk Kakaknya. Aku akan tamat pada Ayahnya'

"E-eh itu... Anu s-saya".

"Anu apa?".

"Anu untuk—"

"Sudah Otou-sama! Kau membuat Naruto takut! Dia mengintipku latihan karena dia peduli tentangku! Dan dia adalah temanku, jika Otou-sama melukainya sama saja Otou-sama melukai teman baikku satu-satunya!" Ucapan Naruto dipotong oleh Rias dengan panjang lebar.

Lucius hanya bisa terdiam menahan sesuatu. Baru kali ini Rias membela seseorang yang penting dalam hidupnya. Sepertinya memang benar anak ini telah membuat sifat pendiam Rias menghilang. "Anak muda".

"I-iya Ojii-san?".

Naruto berjengit ketika Lucius mendekatinya. Nasibnya sudah berakhir karena sebentar lagi ia menerima bogem mentah dari Ayah Rias. Namun tak terbukti, malahan tangan Lucius memegang pundak Naruto. "Nak, apa kau yakin berteman dengan Rias?".

Ditanya seperti itu. Naruto sedikit gelagapan. "Tentu saja, tapi jika Ojii-san menanyakan bahwa kalian adalah Iblis, saya tetap akan berteman dengan Rias" Lucius mengerutkan alisnya sebentar lalu merilekskannya lagi.

"Jadi kau sudah tahu tentang kami?" Tanya Lucius dan dijawab oleh Naruto dengan anggukan. "Berjanjilah, untuk menjadi teman baik untuk anakku yah" Ucapan Lucius tak terkirakan oleh Rias.

"Jadi Otou-sama..."

"Yah aku ingin dia untuk selalu menjadi temanmu" Lucius mengelus kepala putrinya dan tersenyum pada Naruto. "Tidak baik berdiri disini. Ayo kita masuk".

.

.

.

.

Dengan duduk di pohon pada taman belakang mansion Gremory. Naruto menonton acara latihan Rias dengan Sirzechs yang membantunya. Banyak sekali peningkatan pada Rias hari ini.

Ia kini sudah mengontrol dengan baik Demonic Powernya, hasilnya ia sudah bisa membalas serangan Sirzechs meskipun sang Kakak tak serius. Namun ini peningkatan yang sangat baik.

"Onii-sama, menyerah sajalah jika kau tak ingin kukalahkan..." Ancaman Rias membuat Sirzechs terkekeh.

"Ternyata kau sudah berani mengancam Onii-sama mu ini yah? tapi–" Rias membulatkan matanya karena didepannya Sirzechs sudah menghilang dengan cepat.

"–Jangan sekali-kali kau sudah merasa sombong dengan kemampuanmu kini. Ingat diatas langit masih ada langit" Dibelakangnya, Sirzechs sudah menciptakan lingkaran sihir yang diarahkan ke Rias.

"A-aku hanya bercanda kok Onii-sama" Rias mengangkat tangannya tanda ia menyerah.

"Yasudah. Sebaiknya kau kini berlatih sendiri. Aku akan kembali ke Underworld karena sudah cukup lama aku meninggalkan tugasku" Menepuk pakaiannya yang sedikit kotor. Lalu tatapannya pindah kepada Naruto yang masih terkagum atas pertunjukan ini. "Hei Naruto. Temani Rias yah!"

"Serahkan padaku!" Naruto memberi hormat dengan tangan yang ditaruh dikepala kepada Sirzechs.

Lingkaran sihir tercipta dibawah Maou Lucifer itu. "Dadah...".

Setelah Sirzechs benar-benar telah hilang ditelan lingkaran sihir. Rias mendekati Naruto sambil tersenyum. "Capek~"

"Setidaknya kau sudah bertambah kuat..." Naruto tersenyum lima jari dan duduk kembali.

Secara resmi ia telah mendapat amanat dari Lucius dan Venelana. Yaitu amanat berupa menjadi teman Rias sekarang. Sebelumnya ia yang berada di ruang keluarga selalu dilihat oleh Lucius dari atas sampai bawah seperti meneliti Naruto.

Venelana pun tanpa menganalisa sudah mempercayakan Naruto sebagai teman Rias. Ia merasa bahwa Naruto bukan orang jahat yang seperti ia pikirkan sebelumnya pada sosok Naruto.

Sisi positifnya Rias menjadi seperti menjadi enerjik gara-gara Naruto. Itu melebihi yang diharapkan mereka kepada Rias.

"Naruto-kun?".

Lamunan Naruto tersadar saat Rias duduk disampingnya dengan wajah bingung menatapnya. "Iya?"

"Ayo sparring denganku!"

Anak pirang itu berdiri dan menatap Rias. "Sparring? Katamu tadi capek?

Dengan paksaan Rias menyeret Naruto ke tengah-tengah taman membuat pemilik lengan itu mengaduh. "Hei hei sakit! Tanpa paksaan akan kulakukan kok".

Partikel-partikel debu berkilauan terkumpul di tangan Naruto dengan teratur. Sacred Gearnya yang merupakan sebuah Trisula dan pedang hitam tergenggam di kedua tangannya. "Bisa kita mulai?".

Rias menggeleng. "Tak boleh pakai Sacred Gear... Tangan kosong".

"Tangan kosong? Tak masalah" Kembali senjata itu menjadi debu lagi karena Naruto tak membutuhkannya.

Baru saja Naruto mau memasang kuda-kuda. Sebuah kepalan tangan hampir mengenai wajahnya jika ia tadi tidak refleks menghindar. "Curang!"

"Hehe curang atau tidak curang sama saja..." Tangan kanannya mengepal kembali dan sasaran kepalan itu kini wajah Naruto. Tapi masih bisa ditangkis oleh Naruto dengan lengannya. "Terlalu cepat nona..."

Menambah kecepatan dan berulang kali meninju, pukulan Rias selalu ditangkis dengan mudah oleh Naruto. Nafas Rias tersengal-sengal karena udara dalam paru-parunya terkikis karena menahan nafas saat meninju.

Tendangan menggantikan pukulannya. Mulai dari tendangan menyamping, tendangan sikut kaki, tendangan vertikal dari atas sampai kebawah dan tendangan memutar.

"Hohoho sepertinya seranganmu dapat kutangkis dengan mudah" Ejek Naruto.

Wajah kesal kini datang diwajahnya. Tanpa pikir-pikir ia menciptakan lingkaran sihir yang menciptakan serangan mirip bola energi yang dinamai Power of Destruction mengarah ke Naruto.

Melihat Rias sudah sedikit berlebihan ia kembali mengeluarkan Sacred Gearnya dan menyilangkannya untuk menepis. "Kau ingin memusnahkanku ya?"

Tanpa menjawab Rias kembali menyerang Naruto dengan Power of Destruction yang kini lebih padat namun masih terlihat tak sempurna.

Trank!

Trank!

Kembali memasang posisi siaga Naruto memukul serangan itu dengan Trisulanya menyebabkan tembakan laser itu meleset kesamping. "Baiklah Rias jika kau sudah mulai serius..."

Rias menghilangkan seringainya ketika Naruto sedikit mengangkat Trisulanya. Kemudian tiba-tiba muncul krista-kristal es berjumlah banyak seperti berlian yang melayang berada di sekitar tubuh Naruto.

[Diamond Dust]

Kristal-kristal es yang cukup banyak itu terlempar menuju kaki dan tangan Rias.

Menghindar kekanan dan kesamping. Kristal es itu masih banyak mengarah padanya seperti tak ada habis-habisnya. Tanpa sadar tangan dan kakinya sudah beku dan menjadi es karena terlalu banyaknya kristal es itu sampai ia tak melihat badannya sendiri.

Naruto mendekati Rias yang tak bisa bergerak itu dengan pedangnya yang teracung kepadanya. "Menyerah?".

"Curang!".

Sweatdrop mendatangi Naruto. "Kok curang? Kau kan yang curang duluan".

"Bebaskan aku dulu dari es ini! Dingin tahu!" Naruto tertawa saat Rias misuh-misuh padanya soal tangan dan kaki yang beku.

"Baiklah..." Dengan menggunakan ujung bawah Trisulanya. Es yang berada di kaki Rias hancur dengan mudah karena getokan dari Naruto. Serupa dengan kaki, tanganpun sama namun sedikit pelan agar tak menyakiti Rias.

Setelah itu Rias membuang wajahnya kesamping. "Huh baka!".

"Kau marah yah?" Tanya Naruto.

"Maunya?" Rias berkacak pinggang dengan wajah jengkel.

"Aku tak ingin kau marah..." Naruto pura-pura merasa dirinya salah dan menunduk.

"A-aku tak marah kok Naruto-kun!" Melihat Naruto yang seperti itu Rias menjadi tak tega.

"Ini salahku. Karena ku kau menjadi marah... Aku teman yang jahat bukan?" Naruto semakin membuat wajahnya sesedih mungkin.

Tak diduga Rias memeluk Naruto. "Aku tidak marah kok... Jangan menyalahkanmu lagi yak" Rias kaget karena Naruto yang berada dipelukannya tertawa.

"Aku hanya bercanda kok. Hahaha" Aura hitam muncul dibelakang Rias membuat Naruto berhenti tertawa.

"A-ampun Ojou-sa–".

Duak!

Wajah Naruto yang tak terlindung apapun tertonjok oleh bogeman mentah Rias membuatnya terjatuh ketanah dengan keras

"Ohok..."

"Rasakan!".

"Aku kan hanya bercanda..." Benjol besar sudah muncul dikepalanya yang kuning itu.

"Aku penasaran dengan Sacred Gearmu. Kenapa kau bisa mengeluarkan elemen es?" Pertanyaan Rias ditanggapi Naruto serius.

"Sacred Gearku ini kuberi nama [Golden Inferno]. Karena Sacred Gear ini punya kekuatan yang berbeda" Mengacungkannya Sacred Gearnya agar Rias bisa melihat dengan jelas.

"Kok bisa?" Memiringkan kepalanya tanda Heiress Gremory itu bingung.

"Pertama yang Trisula, seperti yang kau lihat ia memiliki kekuatan seperti es dan salju. Sedangkan pedang ini memiliki aura gelap dan bisa memanggil roh yang berasal dari pedang ini" Jelas Naruto panjang lebar.

"Cukup keren! Kenapa kau menamaninya dengan [Golden Inferno]? Yang kau jelaskan tadi kan kekuatannya." Tanya Rias lagi.

Naruto menghela nafas panjang. Sepertinya Rias sangat tertarik dengan Sacred Gear miliknya "Trisula ini berwarna emas terang yang mampu menandingi pedang ini. Sedangkan pedang ini kuanggap mirip seperti neraka karena menakutkan. Jadi kunamai saja [Golden Inferno]"

Kedua orang tua Rias yang sedari tadi menguping pembicaraan yang menarik itu sedikit tersenyum. Sudah lama mereka ingin melihat putri mereka seperti ini. Tertawa dan ceria pada umurnya saat ini, namun karena takdir yang sedikit kejam membuat Rias menjadi anak tertutup pada siapapun sebelum Naruto hadir.

"Anata, memang sepertinya kita harus mempercayai anak itu..." Venelana yang sudah cukup melihat itu bertanya pada suaminya.

Sedikit tak rela menguasai hati Lucius. Dirinya masih sedikit tak percaya pada Naruto yang merupakan manusia pemegang Sacred Gear. Namun setelah ia menelaah dengan baik, memang Naruto memiliki kepribadian ramah dan baik hati saat mereka berbincang di ruang keluarga tadi sebelum Rias berlatih.

"Entahlah. Harusnya aku memang berterima kasih padanya..." Senyuman tulus tampak diwajahnya ketika saat Rias tertawa karena sifat konyol dari Naruto yang sekarang ia lihat.

.

.

.

Malam sudah datang dan saatnya bagi Naruto untuk pulang karena ia harus beristirahat untuk sekolah esok. Dengan diantar Rias sampai gerbang depan mansion Gremory karena ia tak enak kalau pulang tanpa pamit.

"Terima kasih atas waktunya hari ini Naruto-kun..." Rias senang karena Naruto berkunjung kesini dan mengisi hari kosongnya. "Sama-sama. Mulai sekarang jangan bersedih lagi ya?".

"Tentu saja!".

"Kurasa kau juga harus bersosialisasi sekarang..." Naruto ingin Rias memiliki teman lain sepertinya.

"A-apakah bisa?" Keraguan menguasai pikiran Rias karena harus bersosialisasi pada teman kelasnya.

"Memang apa susahnya berteman? Cukup datangi mereka dan ajak bicara... Mereka pasti akan senang juga kok" Balas Naruto. "Yasudah aku pamit pulang yah!"

"Hati-hati!" Rias melambai pada Naruto yang kini sudah jauh dari kediamannya.

Ia masih terdiam di gerbang itu dengan wajah yang sudah memerah. Senyuman tak pernah luntur padahal Naruto sudah hilang dari penglihatannya. Jika kau teliti, kau bisa mendengar gumaman kecil darinya yang terdengar seperti.

"Aku menyukaimu..."

.

.

.

To be Continued!


A/N: Oh udah selesai baca yah? Oke oke chapter sebelumnya banyak yang bilang ini itu seperti bagaimana bisa mereka tinggal di dunia manusia, tak mencantumkan AU atau tidak.

Yang pertama sudah terjawab diatas. Soal AU yah ini memang semi AU karena alur yang saya gunakan adalah sebelum alur Canon. Kabar baiknya chapter depan akan mulai masuk alur Canon.

Ada informasi. Kemungkinan saya akan menghapus fic saya yang TFG. Ide susah mengalir dalam menulis fic itu pada saya. Sebagai gantinya saya akan menambahkan unsur fic TFG pada fic ini tapi masih lama.

Oke saya belum bisa balas Review saat ini.

Psychocross pergi!