Disclaimer
Saya hanya meminjam karakter dari Naruto dan High School DxD
Summary: Terombang-ambing dalam berjalannya waktu. Aku tak bisa menentukan apa yang kuharapkan dari diriku sampai kau datang dalam hidupku sebagai pendomanku. Meskipun akhirnya kau ikut campur dalam urusan 3 Fraksi Akherat, Aku tahu bahwa dirimu adalah manusia biasa yang tak tahu dengan duniaku. Namun aku berjanji, akan selalu berada di sampingmu untuk menemanimu selamanya.
Rated: M
Genre: Adventure, Romance, Humor and many more.
Peringatan: OOC, Typo, Mainstream, Mungkin AU, Sedikit mengambil alur LN dan Anime.
Pair: Naruto x Rias
Chapter 3: Sorry, I'm must go...
Sebuah jam weker berbunyi di sebuah ruangan kamar tidur menandakan bahwa jam itu bertugas untuk membangunkan pemiliknya. Pemiliknya itu yang sedang tertidur di dalam selimut futon sedikit tersadar dari tidurnya. Dengan malas dan kantuk yang masih datang untuk mematikannya dan duduk untuk mengumpulkan kesadarannya.
Merasa sudah cukup, anak berambut pirang itu berjalan menuju kamar mandi untuk jualan-maksudnya menyegarkan diri. Selesai mandi dan berpakaian khas Junior High School di Kuoh, sebuah roti dan telur mata sapi mengganjal perutnya untuk memberi energi padanya selama bersekolah.
Hidup sendiri dan kesepian sudah menjadi hal biasa bagi Naruto. Setidaknya sebagai manusia biasa ia harus menjalani hidup yang keras ini mau tak mau. Yah itu lah kata yang tepat untuk dirinya setelah ditinggal oleh orangtuanya.
Setelah sarapan dan memakai sepatunya, anak pirangitu mengunci pintu rumah kecilnya dan berangkat menuju sekolah dengan tangan yang ditaruh saku
Menguap kecil yang kedua kalinya dalam jalan membuat matanya sedikit berair yang selalu diusapnya karena menguap tadi. Hari ini tumben ia mengantuk sekali tak seperti hari-hari yang lain. Kantuknya terhenti saat acara berjalannya sudah berada di depan sekolah. Karena ada hal yang membuatnya tersenyum dan segera melambai.
"Rias!"
Di depan halaman Kuoh Junior High School ada seorang siswi berambut merah crimson berdiri disana seperti menunggunya.
Merasa ada yang memanggilnya, siswi itu menoleh dan membalas melambai. "Naruto-kun!" Naruto melanjutkan perjalanannya dan menemui Rias. "Menungguku?"
"Siapa lagi yang kutunggu?" Rias memutar matanya bosan atas pertanyaan yang menurutnya konyol.
Hehehe. Bisa saja kau menunggu pacarmu yang tak kuketahui..." Entah memang perkataan Naruto membuatnya sedikit tersakiti, senyuman miris yang sangat tipis terlihat diwajahnya.
"Teman saja aku tidak punya. Apalagi pacar? Dasar baka..." Langsung saja ia berjalan kedalam lingkungan sekolah meninggalkan Naruto yang memanggilnya.
"Woi tunggu aku!"
.
"Hei hei lihat Naruto berjalan bersama Rias..."
"Kalau tidak salah dia itu siswi pendiam dari kelas VII-3 yah?"
"Kau benar. Sepertinya dia kini sudah berubah dan berteman dengan Naruto"
"Bukannya itu bagus? Apalagi Naruto itu pintar..."
"PULPENKU! KEMBALIKAN PULPENKU!
Rias mendengar ucapan dari siswa-siswi yang berada di koridor dengan sedikit bersemu kecuali yang terakhir membuatnya sedikit sweatdrop. Sepertinya sangat heboh ketika ia berjalan bersama Naruto. Namun ucapan yang ia dengar adalah positif, itu sudah membuatnya perasaannya dihari ini sedikit senang.
"Lihat? Siswa lain pun senang mendengarmu berteman denganku. Mulai sekarang cobalah terbuka dengan teman sekelasmu..." Anggukan semangat Rias membalas perkataan Naruto.
Dengan jelas terlihat dari mata safir Naruto senyuman senang yang tak tergambarkan kini sudah menggantikan kedataran wajah ayunya Rias. Rasa senang juga mengisi hati Naruto melihat teman uniknya ini berhasil mengalahkan kesepiannya.
"Aku duluan yah! Ingat pesanku..." Naruto yang sudah melihat kelasnya berpamitan kepada Rias.
"Oke!" Rias membalasnya dengan ibu jari yang sudah teracung di tangan kanannya. Dalam hatinya Rias merasa sedikit sakit tak tahu mengapa.
'Itulah gunanya teman! Hehehe"'
Perkataan kemarin dari Naruto terus memutari kepalanya tak henti-henti. Nada perkataannya sih ceria, efeknya itu yang membuat Rias merasa tidak enak sedari kemarin.
"Aku menganggapmu lebih dari teman. Kau tahu itu Naruto Uzumaki?"
Perhatian dari Naruto ternyata membuatnya salah mengartikan dan malah merasakan apa itu 'Jatuh cinta pada pandangan pertama' kepada Naruto. Tapi yah itu juga bukan salahnya kan, walaupun ia Iblis tapi hatinya tetap hati gadis yang bisa jatuh pada siapapun.
Memasuki kelasnya yang terlihat sudah cukup ramai oleh para siswa. Duduk di bangkunya yang berada di pojok kanan sambil menatap kumpulan teman-teman wanitanya yang sedang berkumpul untuk yah kau tahulah.
Tekadnya sudah matang untuk memulai perkenalan dan berteman hari ini, itu yang kini dipikirannya.
Salah satu dari kerumunan siswi itu melihat Rias berjalan kearah sini. Alisnya terangkat ketika Rias tersenyum dan menyapa.
"H-halo semua... B-bolehkah aku bergabung bersama kalian?" Mereka semua yang melihat itu saling bertatapan. Mungkin mereka sedikit kaget karena Rias yang terkenal pendiam ingin bergabung bersama mereka.
Khawatir mendatangi Rias. Karena kerumunan itu terlihat berbisik-bisik dan sedikit mendelik kearahnya. "Tentu saja boleh!"
Mereka semua tersenyum kearah Rias. Membuat yang ditatap melebarkan matanya. "Eh? J-jadi apakah..."
"Ayo kesini! Ini terbuka untuk siapapun kok!" Rias mengangguk dan mendekati kerumunan siswi tersebut.
Ia merasa sedikit canggung karena baru pertama kali ia berbicara pada orang banyak seperti ini. Tak disangka malah mereka sangat ramah padanya.
Kini Rias tahu apa itu rasanya bergosip. Sedikit menyenangkan meskipun itu belum tentu benar perihal gosip yang dibicarakan seperti salah satu gitaris band sekolah Kokoro Band yaitu Kenji Yamata yang terkenal pendiam dan cool di sebut-sebut takut terhadap ayam.
Topik berganti yang kali ini membuatnya sedikit meneguk ludah. "Kudengar dari para siswa dan para Senpai kau sekarang dekat dengan Naruto Uzumaki yah?" Didepannya siswi berambut hitam yang bernama Shizuka memulai membahas gosip baru.
"Aku juga baru mau menanyakan hal itu! Apakah itu benar Rias-chan?" Disebelahnya siswi berambut pirang pucat bernama Ino menanyakan hal yang sama.
Keringat dingin terus menetes dikeningnya menandakan bahwa ia sudah merasa seperti tertangkap basah. "A-ah aku dan dia hanya berteman kok!" Dia menggeleng cepat untuk meyakinkan teman barunya.
"Apa kau yakin Rias?" Disamping Shizuka siswi yang warna rambutnya sama dengannya bernama Karin menaikkan kacamatanya untuk melihat dengan jelas gelagat Rias.
"Ish beneran! Tanya saja Naruto-kun!" Dengan cepat ia menutup mulutnya karena keceplosan memanggil Naruto dengan suffiks.
Dia semakin merinding ketika para temannya menyeringai kearahnya. "Oh jadi begitu. Tidak apa-apa jika kau menaruh perasaan pada Naruto" Anggukan dari semua menyetujui ucapan Karin.
"M-maksudku bukan begitu!" Rias sudah terpojok dan skakmat. Ternyata teman barunya ini cukup berbahaya dengan hal-hal gosip.
"Ahahaha aku hanya bercanda! Oh lihat betapa merahnya wajahmu saat ini" Semua tertawa melihat wajah Rias yang sangat merah saat ini.
Meskipun sedikit jengkel, pada akhirnya ia ikut tertawa bersama mereka. Senang sekali rasanya jika tertawa bersama teman. Rasa senang itu tak tergambarkan karena sampai senangnya ia tak berhenti tertawa bersama mereka.
Pada akhirnya ia memiliki teman yang baik namun sepertinya ia harus menjadi tukang penggosip. Sisi baiknya dia sudah berubah dan tak menyendiri lagi kan?
.
Nyaman sekali jika kau menutup matamu saat kau menaruh kepalamu di meja kelas. Pasti rasa kantuk juga datang setelah merasa bahwa posisi ini sudah melebihi kata nyaman.
Kata-kata diatas mewakili apa yang kini dilakukan oleh Naruto Uzumaki.
Semenjak masuk kelas ia menaruh wajahnya di meja, menunggu istirahat untuk memejamkan matanya terlalu lama untuknya karena kantuk itu semakin lama semakin menggila.
"Oi Naruto..." Sebuah suara di sebelahnya membuatnya mendecak dan sedikit membuka mata.
"Apalagi? Kau belum mengerjakan Pr?" Dengan gampangnya Naruto menebak apa yang membuatnya dipanggil.
"Uwoh! Jangan-jangan kau peramal yah?" Kiba Inuzuka nama siswa yang memanggil merupakan teman dekatnya di kelas ini.
"Semua juga tahu jika kau kesini pasti cuma satu hal. Yaitu Pr dan Pr..." Kiba mendecak kesal.
"Sudahlah aku lihat Pr fisikamu!"
Dengan malas Naruto bangun dan merogoh tasnya untuk mengambil sebuah buku catatan. Buku berwarna putih itu berhasil diambilnya dan diberikan kepada Kiba.
"Nanti aku kembalikan!" Tanpa dosa dan terima kasih Kiba ngeloyor pergi ke bangkunya.
Ini hal yang biasa terjadi padanya karena hanya dia siswa laki-laki yang paling rajin dikelas. Tak ayal bagi yang tidak mengerjakan Pr dengan alasan sulit ataupun malas mengerjakannya pasti datang kepadanya. Yang tadi datang adalah salah satu siswa kategori malas mengerjakannya membuatnya heran kenapa ia bisa berteman dengannya.
Ah masa bodoh. Ia ingin melanjutkan kegiatannya yang tertunda tadi gara-gara mahluk malas tadi.
.
.
.
Hari yang melelahkan sudah berakhir. Dengan meregangkan badannya yang kaku akibat terlalu lama duduk mendengar ocehan guru tentang pelajaran. Ia mengemas bukunya ke tas untuk berkemas-kemas.
Iris safirnya memandang ke koridor yang kini semakin sepi karena sudah sore namun pasti ia merasa bahwa teman barunya masih berada di lingkungan sekolah. Terbukti dari senyuman simpul yang terpasang di bibirnya.
Merasa senang karena kini apa yang ia inginkan untuk temannya sudah berhasil.
Ia melihat Rias berjalan keluar kelas bersama seorang siswi yang ia tahu bernama Ino. Mereka sibuk berbicara yang di ketahui karena sedari tadi mereka berpandangan dengan mulut yang komat-kamit.
Senyumannya semakin lebar karena dapat ia lihat Rias juga tertawa dengan ceria karena ucapan Ino yang sepertinya membuat ia tergelak. Kakinya berjalan menuju kelas itu dengan pelan agar ia tak mengganggu mereka.
Tapi ia sudah dilihat oleh Ino. Membuat siswi itu menyerigai. "Ah lihat Kesatriamu sudah datang menjemputmu..." Apa katanya? Kesatria?
"A-apa-apaan sih dasar kau!" Rona merah menghias wajah Rias yang tadi sedikit menatap Naruto namun ia alihkan kebawah.
"Oke oke aku tidak akan mengganggu kalian. Aku duluan yah..." Bersamaan dengan godaan lagi darinya. Ino pergi meninggalkan Rias sendiri bersama Naruto.
Namun tak ada yang mulai berbicara karena mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri.
'Kesatria? Maksudnya itu aku atau siapa?' Batin Naruto.
'Dasar ino bego! Kenapa sih dia bilang Naruto Kesatria didepannya? Aku kan malu!" Batin Rias.
Masih sibuk dengan batin mereka masing-masing, Naruto yang sudah kembali sadar mendekati Rias untuk memotong jarak yang sedikit jauh darinya. "Bagaimana harimu? Menyenangkan seperti tadi?"
Ditanya seperti itu Rias hanya terkekeh pelan. "Yah aku bisa berbagi cerita dengan mereka. Dan aku kini sudah tahu bagaimana asyiknya menggosip".
Senyuman diwajah Naruto hilang. Ia kaget karena sepertinya kini Rias sudah tercemar dengan yang namanya tak jauh dari fitnahan itu. Mungkin nanti ia akan mengenal Rias dengan teman-temannya dikelas sebagai 'Grup Gosip'.
"Gosip? Yang kutahu dirimu dulu benci pada gosip..." Naruto mendengar langsung dari Rias dulu bahwa siswi surai merah ini curhat padanya tentang ia tak nyaman selalu di gosipi.
"Mungkin iya mungkin tidak. Yang penting aku sangat senang hari ini!" Entah Naruto mau sweatdrop atau gembira mendengar ucapan Rias.
"Itu bagus. Ayo kita pulang... Hari sudah mau senja" Ajakan dari Naruto membuatnya mengangguk dan menggenggam tangan Naruto membuat alis pemilik tangan itu terangkat.
"Aku hanya ingin menggenggam tanganmu Naruto-kun" Ucapan lanjutan dari Rias membuatnya kembali mengukir senyum di bibirnya.
Saat Naruto mengalihkan tatapannya kedepan. Raut sedih terlihat dari Rias memandang Naruto yang tak sadar dipandang seperti itu. Ia sangat menyukai anak pirang ini disaat bersamanya seperti ini selalu nyaman dan tak pernah bosan memandang mata biru langit itu. Yang membuatnya sedih karena anak ini menganggapnya 'hanya teman'.
Dua kata yang membuatnya merasa seperti sedih tak tentu dan membuat moodnya selalu berubah. Ia tak ingin dianggap teman olehnya, ia ingin Naruto sekarang atau kapanpun itu menjadi tambatan hatinya.
Karena rasa suka bisa menjadi rasa cinta.
Sudah tidak dapat digambarkan lagi apa yang di inginkannya. Semua hal dunia ia lupakan dan hanya terpusat pada Naruto.
Seorang siswa cerdas yang berhasil menerangi hati gelapnya dari keputus asaan. Rambutnya mewakili cerahnya matahari yang berhasil membuat jalan setapak yang tak terlihat menjadi jelas di matanya.
Genggamannya pada tangan Naruto semakin erat seakan ia memberi sedikit bocoran bahwa ia ingin Naruto membalas balik rasa cintanya. Namun hanya cengiran yang menurutnya menawan membalas genggamannya.
'Mungkin bukan waktunya sekarang...' Sebuah ucapan batin sedikit membuatnya lega. Mereka masih 13 tahun namun sudah merasakan apa itu pacaran. Tak logis kan? Ia menunggu waktu yang pas untuk memberitahu perasaannya.
Yang entah kapan itu akan terjadi.
.
.
.
"Sepertinya hari ini aku tidak bisa menemanimu... Aku sudah 2 hari membolos bekerja di sebuah toko. Aku tak enak dengan Yamada-Jiisan" Ujar Naruto setelah mengantar Rias sampai depan mansionnya.
Bibir Rias mengerucut tanda ia tak terima. "Huft yasudah... Setidaknya kau itu melakukan hal yang baik..." Naruto tertawa melihat Rias yang sedikit ngambek.
"Hahaha aku janji besok aku akan menemanimu sampai puas kok..." Cengirannya kembali ditunjukkan.
Melihat cengiran itu membuat rasa ngambeknya hilang dan tersenyum. "Kau janji yah!".
Tak ada balasan dari Naruto. Karena ia mendekati Rias dan membuat hal yang tak teduga.
Menempelkan keningnya pada kening Rias. "Aku janji... Jika aku berbohong maka pukul saja aku" Suara Naruto sedikit membuatnya terpesona. Dengan jelas ia melihat mata menyejukan itu sedekat ini yang disukainya pada Naruto sekarang. Senyumannya semakin tampak dibibirnya pertanda senang akan perlakuan Naruto padanya.
Naruto menyudahi pertemuan kening itu membuat Rias sedikit kecewa. "Nah aku pergi yah!".
Setelah ucapan itu Naruto pergi dengan lambaian dan semakin lama menghilang dari pandangan iris blue-green Rias. Senyuman masih tak luntur darinya. Perlakuan dari Naruto membuatnya merasa terbang dan perutnya seperti ada ribuan kupu-kupu berkumpul disana.
Ia memasuki kediamannya dengan ceria dan senandung yang bisa terdengar oleh siapapun.
Melakukan hal tadi perlu ada alasan. Alasan itu tergambarkan pada selembar kertas yang berasal dari sepucuk surat yang ia terima dari gurunya. Surat itu membuatnya khawatir akan kecewanya Rias. Mungkin minggu depan, bulan depan, tahun depan dan seterusnya ia tak bisa menemaninya.
Seminggu dari tanggal yang berasal dari surat itu akan ia manfaatkan untuk membuat Rias puas dan sedikit merelakannya untuk pergi cukup lama. Karena ia adalah teman yang baik untuk Rias, itu yang dikatakan Ayah Rias padanya.
Kata teman mungkin tak cocok dengan apa yang ia lakukan padanya. Orang-orang mungkin menganggapnya berpacaran dengan Rias, tapi tak ia hiraukan apa kata mereka. Yang penting Rias merasa senang dan tak kembali kedalan kesepian.
Judul surat yang ber kop surat Kuoh Junior High School itu adalah.
'Surat Pernyataan Program Pertukaran Pelajar'
.
.
.
Seminggu itu merupakan waktu yang cukup lama karena dalam seminggu itu hal apapun bisa terjadi dengan mengejutkan siapapun.
Khususnya untuk Rias. Dalam seminggu itu ia sudah terlampau sangat jauh dalam perkembangannya menguasai Power of Destruction. Kabar gembira yang membuat Lucius dan Venelana sangat senang terhadap putri mereka.
Secara resmi Rias sudah dapat memiliki Evil Piecesnya sendiri dari sang Kakak yang juga senang. Itu semua karena ada temannya yang selalu menemaninya seharian penuh selama seminggu penuh. Yang memberinya semangat untuk melakukan perombakan dalam dirinya.
Dirinya sudah diakui oleh para klan Iblis dan para tetua. Pembuktian bahwa dia diakui adalah bertarung dengan teman masa kecilnya Sona. Bahkan dalam pertarungan itu Sona sampai sangat kelelahan dan mengaku menyerah menghadapinya.
Julukan baru diterimanya. Kini semua memanggilnya 'Crimson-Haired Ruin Princess', 'Princess of Destruction' dan bla bla bla panggilan lainnya.
Namun semua yang terjadi tak juga membuat perasaan Naruto tak tenang terhadap Rias sekarang. Rasa bersalah selalu menghantuinya karena tak memberitahukan perihalnya 'pergi' jauh menuju negara yang terkenal dengan bangunan jam besar Big Ben.
Jika memberitahunya pun itu malahan membuat Rias tak bisa melepaskannya, sebenarnya ia ingin menolak keikutsertaannya untuk kesana namun ia juga tak enak pada sekolahnya yang sudah bersepakat dengan sekolah di sana untuk melakukan Pertukaran Pelajar.
Waktu terakhirnya sekarang ini dimanfaatkannya dengan baik. Ia ingin memberi kesan tak terlupakan untuk Rias saat nanti mungkin ia tak kembali.
Hari ini tak ada latihan. Yang ada hanya bercandaan dan obrolan Naruto dan Rias dibawah pohon rindang halaman mansion Gremory. Berbagai obrolan penting sampai tidak butuh dibicarakan juga tak penting mengisi waktu yang selalu berjalan.
Saat benar-benar sore sudah menjelang pikirannya tak bisa fokus dan otomatis membuatnya melamun. Melamun tentang urusan itu yang tak pernah pergi dipikirannya.
"Naruto-kun..." Wajahnya masih termenung akan pikirannya sendiri dan tak mengidahkan teman crimsonnya memanggil.
"Naruto-kun!"
Akhirnya panggilannya terjawab saat Naruto menoleh padanya. "Ya?"
"Kenapa sih kau suka melamun sekarang? Apa ada yang membuatmu menjadi seperti ini?" Wajah Naruto menjadi datar mendengar pertanyaan Rias.
"Tak ada..."
"Tak ada apa?"
"Tak ada apapun yang terjadi denganku kok" Naruto kembali tersenyum 5 jari yang sebenarnya hanya untuk menutupi gejolak hatinya yang berkecamuk. "Aku ingin memberikanmu sesuatu..."
"Sesuatu?" Rias melihat Naruto merogoh kantung celananya seperti mencari sesuatu yang sedikit tersembunyi.
Sebuah karet rambut berwarna sama seperti iris matanya terlihat saat Naruto menaruh itu pada telapak tangan dan seperti menyodorkan padanya. "Ini untukmu..."
Dengan gembira ia mengambilnya dan memandangi karet rambut itu. "Aku pakai yah?" Naruto hanya menggangguk.
Ikatan rambut merahnya yang diikat ponytail ia lepas dan membiarkan rambutnya tergerai. Sepertinya Rias ingin mengganti model ikatan rambutnya menggunakan karet rambut yang diberikan Naruto padanya.
Dengan tangannya ia mengambil setengah lapisan rambutnya yang tebal ditariknya kebelakang untuk memberi jarak. Merasa sudah cukup ia ikat lapisan rambut di genggaman tangannya dengan karet rambut yang Naruto berikan padanya.
"Bagaimana Naruto-kun?" Tak ada jawaban karena yang ditanya melongo melihat tampilan baru rambut Rias.
"Cantik..."
Rias yang mendengar gumaman Naruto hanya tersenyum dan wajahnya sedikit merona. "Akan aku jaga pemberianmu dengan rambutku!".
Wajah Naruto masih melongo dan mata safirnya masih menatap Rias. Tatanan rambut Rias yang ia ikat setengah ponytail membuatnya merasa bahwa temannya ini sangatlah cantik. Sebuah perasaan kecil muncul di hatinya saat melihatnya tersenyum seperti itu.
"Kau sangat cantik..." Naruto mengelus helaian rambut Rias perlahan menikmati betapa indahnya rambut merah crimson yang di elusnya.
"Apakah Naruto-kun suka dengan gaya rambut baruku ini?".
"Sangat suka. Membuatmu menjadi seorang putri cantik yang sebenarnya..." Senyuman di wajah Rias semakin lebar mendengarnya.
"Arigatou Naruto-kun!"
.
.
.
.
"Apakah kalian melihat Naruto?".
"Naruto? Dia tak masuk hari ini. Coba tanya Kiba, pasti dia tahu kenapa Naruto tak masuk..."
Siswi berambut merah crimson sedikit berjalan cepat mendengar info tentang Naruto dari siswa yang berasal dari kelas Naruto. Pagi ini ia tak melihat Naruto sampai pelajaran pertama dimulai. Saat istirahat sekarang ia manfaatkan untuk menanyakan pada siswa sekelas Naruto seperti tadi. Jawaban dari siswa tadi tak membuatnya puas, sesuai arahannya ia ingin bertemu Kiba dan menanyakan tentang Naruto.
Memang ia sedang beruntung, Kiba yang sedang berjalan keluar berpapasan dengannya.
"KUTIL KADAL! ENTE NGAGETIN ANE AJA!" Kiba sedikit loncat kaget karena saat berpapasan tadi wajahnya sangat dekat dengan Rias.
"Apakah kau mengetahui Naruto-kun dimana? Dari pagi aku tak melihatnya..." Ocehan bahasa aneh dari Kiba tak ia balas.
Yang ditanya sedang menggaruk rambut menghentikan aktivitasnya. "Naruto?"
"Iya Naruto temanmu..."
"Memang Naruto tak memberitahumu?" Rias menggeleng.
"Naruto kan dipilih sebagai siswa terbaik dan pergi ke London untuk melanjutkan sekolahnya disana..." Ujar Kiba sambil menggaruk kembali rambutnya.
"P-pergi ke London? Maksudmu? Tolong perjelas!" Perasaannya tak enak mendengar perkataan Kiba tentang Naruto.
Helaan nafas dari Kiba membuat Rias masih serius. "Sekolah mengadakan pertukaran pelajar dengan sebuah sekolah yang entah namanya apa itu di Inggris. Nah kebetulan Naruto siswa paling pintar dan mereka yang disana tertarik dengan Naruto dan ingin si pirang itu menjadi siswa disana sebagai syaratnya mereka juga mengirim siswa pintarnya bersekolah di sini..." Kiba mengambil nafas lagi.
"Sebenarnya aku menolak dia untuk menerima penawaran Kepala Sekolah, namun ia tak mendengar ucapanku dan menandatangai kontraknya dengan sekolah di London sana... Ingin rasanya aku menjitak kepalanya itu"
Tak ada balasan. Karena yang bertanya sudah memasang wajah shock dan hampir sesenggukan tapi ditahan dengan tangannya. Mata blue-greennya berkaca-kaca dan tak bisa menahan lelehan liquid bening.
"Hoi mau kemana!" Kiba yang tak sedang memandang Rias sedikit sadar setelah mendengar langkah kaki sedang berlari dari Rias.
"Hadeeh dasar Naruto. Dia tak memikirkan pacarnya yang kecewa saat ini" Ia melanjutkan tujuannya menuju kantin sambil memasang wajah lesu.
.
Suara tangisan dari siswi yang berada di atap sekolah terdengar dengan kencang jika kau disana. Rambutnya yang panjang ia lepas ikatannya membuat rambut merah crimson menyentuh pinggul siswi cantik itu
Kalau dilihat dengan jelas ia sedang memeluk tangannya yang terkepal di dadanya.
"Hiks Naruto-kun..."
Kepalan tangannya dibuka memperlihatkan barang pemberian Naruto yang membuat perasaan sedihnya menyatu.
"K-kumohon kembali..." Gumaman yang memilukan hati siapapun kembali terdengar dari bibir peachnya.
Air matanya diusap pelan menggunakan punggung tangannya, tangisan sudah tak terdengar dan terganti wajah datar. Ia kembali mengikat rambutnya setengah ponytail dengan seksama dari pergerakan tangannya.
Ia berjalan menuju pintu keluar dengan tatapan menunduk yang menutup matanya dan terlihat hanya sebuah bibirnya yang tersenyum palsu.
"Aku akan menunggumu... Meskipun aku harus merasakan rasa sakit"
.
.
.
Halaman novel yang dibacanya ia bolak-balik seperti sudah bosan dengan isi tulisan buku kecil itu. Matanya memandang jendela pesawat yang menampilkan awan-awan putih dan langit biru seperti warna matanya.
"Maafkan aku Rias..." Ucapnya bermonolog setelah menutup novel terakhirnya.
Ia takut akan marahnya Rias padanya sekarang. Mungkin ia tak memberitahu bahwa ia akan pergi tapi pasti berita bahwa ia pergi ke Inggris akan tersebar dari mulut ke mulut masyarakat sekolahnya setelah ia sudah berada di bandara.
Sebelum pulang kemarin dari kediaman Rias ia berbicara empat mata dengan Lucius untuk meminta izin pergi dan meminta maaf karena tak bisa benar-benar menjadi teman Rias.
Sebuah tinjuan berlapis Demonic Power ia terima setelah mengatakan itu.
Lucius marah dan sempat ingin menggunakan Power of Destructionnya untuk menghabisi Naruto. Namun tidak jadi karena tiba-tiba Lucius menunduk di depannya dan memegang pundaknya.
'Naruto, kau pasti menyakiti perasaanya. Asal kau tahu bahwa Rias menyukaimu lebih dari teman... Sama saja jika kau pergi artinya kau membuatnya sakit hati putriku. Jika kau kembali nanti tolong balas perasaannya agar dia tak selalu terbebani. Dan Kuharap kau baik-baik saja disana'
Perkataan Lucius yang membuatnya sedari tadi membaca novel untuk sedikit menenangkan pikirannya kembali muncul membuat kepalanya sedikit pusing.
"Ojii-san. Aku memang bukan teman yang baik baginya, namun yang pasti akan ku jaga perasaan Rias padaku meski nanti dia membunuhku nanti"
.
.
.
.
.
To be Continued!
A/N: *Lagi ngupil* O-oh udah selesai bacanya yak? Oke maaf tadi mengupil *plak
Sebenarnya saya akan meng update ini nanti saat sahur tapi saat saya menyalakan laptop Flashdisk kesayangan saya kabur entah kemana :v
Namun setelah dicari dan berpetualang(?) melihat kolong-kolong tempat tidur saya baru ingat jika Flashdisknya dipinjam teman. Kampret kagak? :v
Persiapkan diri anda karena chapter depan sudah masuk alur Canon. Dan maaf saya memisahkan mereka dengan jauh sebelum masuk alur Canon :'v
Penampilan Naruto akan 180 derajat berbeda yaitu rambutnya yang berganti model, bisa kalian lihat di fb saya jika yang sudah berteman dengan saya.
Satu lagi, secara resmi dan pertimbangan fic saya satunya RESMI saya hapus dan sebagai gantinya unsur-unsur disana akan bersatu dengan fic ini.
Baiklah sampai jumpa chapter depan!
Psychocross pergi!
