Disclaimer

Semua yang ada di sini milik Masashi Kishimoto dan Ichiei Ishibumi yang dikemas oleh imajinasi gila saya.

Rated: M

Genre: Adventure, Romance, Humor and many more.

Peringatan: OOC, Typo, Gaje, Mainstream dan teman-teman.

Chapter 3:

New Conflict.


Seorang remaja 18 tahun dengan pakaian sekolah berupa setelan jas khas High School di Inggris itu berjalan diantara banyaknya orang-orang yang juga berjalan memenuhi trotoar. Wajahnya memberikan kesan datar dan tanpa ekspresi selama berjalan menuju apartemennya.

Yah setelah 5 tahun perginya ke negara ini banyak perubahan dalam diri Naruto Uzumaki. Tak ada lagi rambut pirang jabrik khasnya dan terganti oleh memanjangnya helaian poni rambutnya sampai sedikit menutupi matanya. Tingkah konyolnya terganti oleh sikap dewasa dan pendiam dalam tutur katanya.

Sesaat ia melihat arloji tangannya yang menunjukan pukul 03.00 PM membuat langkah kakinya dipercepat dan mendahului para pejalan kaki di depannya.

Ceklek.

Tanpa salam ia memasuki apartemennya yang berada di pusat kota London yang berukuran kecil dan cukup sederhana untuk tempat tinggalnya disini. Setelah melepas sepatunya ia berjalan menuju ruang tamu dan menemukan seseorang tertidur di sofa dengan sangat nyaman.

"Bangun..." Orang itu masih sibuk dalam tidurnya dan tak mendengar ucapan Naruto.

"Tak bangun kubakar tubuhmu!"

Ancaman Naruto membuat orang itu bangun dan terduduk dengan kantuk yang masih menyerangnya. "Kau mengganggu tidurku yang kurang nyenyak..."

"Kurang nyenyak katamu? Oh tidur dari pagi hingga sampai saat ini kau bilang kurang nyenyak? Luar biasa..." Wajah orang itu sedikit mengeras dan segera melihat jam dinding.

"Wah sudah sore yah? Baiklah selamat tidur lagi..." Dengan seenaknya ia kembali membaringkan tubuhnya di sofa.

Naruto menjadi sweatdrop dan kesal melihat temannya selama di sini kembali tertidur dan mengacuhkannya. Dengan wajah terkesan memasang pose jail ia berjalan menuju belakang sofa dan memegang bagian bawah sofa berwarna biru itu.

Swing.

Brak!

Tangannya mengangkat sofa itu dengan tenaga kencang membuat orang yang berada diatasnya jatuh dan langsung misuh-misuh tertimpa sofa.

"KAMPRET! NGGA PERLU GINI JUGA BODOH! KAU KIRA TAK SAKIT TERTIMPA SOFA HAH?" Orang itu dengan susah payah bangun dan menyingkirkan sofa yang menimpanya.

"SIAPA SURUH KAU SEENAK DENGKULMU KEMBALI TIDUR! KITA HARUS MENGEJAR PESAWAT SEKARANG BODOH!

"TAPI JANGAN SAMPAI KAU MENGGULINGKAN SOFA JUGA!"

"Percuma, kau tidak akan bangun jika tidak seperti itu hingga dunia kebelah pun" Suara Naruto merendah dan berwajah datar lagi.

"Yaya terserahmu. Aku mandi dulu..." Orang itu berjalan menjauh dan menuju kamar mandi yang berada di ruangan apartemen lainnya. Setelah mengembalikan posisi sofanya kembali, Naruto duduk disana dan melonggarkan dasi yang berada di kerah bajunya.

Hari ini ia resmi mengakhiri kontrak belajarnya di sini dan berencana kembali ke negara asalnya. Kakinya sedikit pegal karena harus menemui teman-teman dan gurunya untuk berpamitan pergi. Naruto tak mau seperti di Jepang yang pergi tanpa berpamitan.

Soal berpamitan, pikirannya teringat akan seseorang yang sepertinya bersedih saat ia pergi.

"Semoga saja dia tak mengingatku... Atau tidak aku akan berakhir di pukul Ayahnya"

.

.

.

Dua siswi kelas akhir berdiri di jendela sebuah ruangan klub bergaya eropa di sekolah Kuoh Gakuen. Yah mereka biasa di sebut 'Great Onee-sama' karena pesona kecantikan mereka membuat para siswi kagum dengan mereka, berbeda siswa laki-laki langsung berfikiran hal-hal negatif yang kalian tahu itu bagi para lelaki.

Semua anggota klub yang merupakan anggota Peerage Gremory sudah pulang sejam yang lalu menyisakan kedua Iblis cantik ini yang diam sedari tadi.

"Memikirkannya lagi?" Akeno Himejima yang merupakan teman dari siswi berambut merah di sebelahnya menanggapi kediaman mereka.

"Entah kenapa rasa rindu itu kembali datang..." Jawabnya tak menoleh sama sekali.

"Jadi maksudmu?" Pertanyaannya kali ini membuat Rias Gremory yang sibuk memandang kejendela kini menghadap kepadanya.

"Aku merasa dia seperti akan kembali kesini..." Akeno tertawa kecil menanggapinya.

"Ufufu~ mungkin saat dia sudah di sini aku akan merebutnya darimu Rias~".

"Apa kau bilang? Jangan harap!" Akeno kembali tertawa aneh dan berjalan menuju pintu keluar.

"Jangan dipikirkan terlalu berat, itu hanya akan membebanimu saja" Setelah ucapan itu Akeno keluar dan meninggalkan Rias sendiri.

Tanpa siapapun yang tahu, setetes air mata jatuh jatuh dengan bebas dilantai ruangan. Tanpa sadar ia berjalan menjauh dari tempatnya berdiri dengan air mata yang membasahi pipinya menuju kamar mandi yang berada di ruangan pribadi miliknya. Hanya kediaman selama Rias berendam karena ia hanya merendam tubuhnya tanpa melakukan apapapun seperti membersihkan badannya.

Saat selesai masih saja tak ada perubahan pada ekpresi wajahnya sama sekali.

Jubah mandi yang dipakainya dilepas tanpa beban dan membuatnya telanjang. Sepasang tanktop satin putih dan celana satin putih selutut ia ambil dari gantungan lemari dan memakainya langsung tanpa memakai pakaian dalam terlebih dahulu. Wajahnya masih menampakan kekosongan ketika langkahnya sampai di ranjang ukuran Queen Size yang berada di sana. Rias menaiki ranjang itu dan langsung memeluk kedua lututnya dengan erat sambil menangis lagi.

"Naruto-kun..."

Wajahnya terbenam dalam lutut dan kini isakan dengan volume kencang keluar dari mulutnya. "Aku selalu menunggumu! Apa kau tahu bagaimana rasanya orang yang kau cintai tiba-tiba menghilang tanpa kabar selama 5 tahun?"

"Sakit! Sedih! Tanpa memikirkan perasaanku kau pergi begitu jauh meninggalkanku!".

"Bagaimanapun aku ingin membencimu tapi rasa itu tak pernah hilang begitu saja. Hebatkan? Itu karena kau yang membuatku merasakan apa namanya jatuh cinta!"

Setelah puas ia mengeluarkan emosi terpendam, pandangannya tertuju pada figura foto yang berada di samping nakas ranjang. Seorang anak pirang berumur 13 tahun sedang tersenyum lebar merupakan ciri khasnya dengan pose nice guy yang membuat sebuah senyuman kecil Rias terlihat.

"Kumohon kembali..."

Rias mengusapnya dan memeluk figura itu. "Aku akan selalu mencintaimu".

.

.

.

Saat ini di Bandara London Heathrow dipenuhi orang-orang yang baru saja sampai di London dan orang-orang yang duduk di tempat yang biasanya sebagai bangku untuk para penumpang menunggu pesawat mereka akan lepas landas. Salah satunya mereka sang 2 sahabat sehidup tak semati, Naruto Uzumaki dan Yune Kurosawa.

"Katanya di brosur ini maskapai penerbangan yang kita naiki merupakan maskapai terbaik di dunia..." Seorang remaja berambut hitam dengan gaya rambut aneh karena seluruh alur rambutnya menutupi mata kanan.

"Semua sama saja. Sebagus apapun pesawat mereka pasti tujuannya juga terbang kan?" Balas Naruto yang berada di sampingnya.

Mereka bersahabat dari kelas 1 di London High School University. Sama-sama memiliki sifat pendiam dan cool tapi bakalan heboh luar biasa kalau mereka bertengkar contohnya seperti sore tadi.

Yune yang juga merupakan siswa berasal dari Jepang tepatnya di kota Tokyo menyudahi kontraknya dengan London High School sehari sebelum Naruto juga mengakhiri masa kontraknya. Akibatnya Yune tertidur seharian di apartemen sewaan hasil patungan mereka dengan sangat nyenyak.

Awalnya Naruto tak percaya bahwa Yune siswa cerdas karena manusia itu saat pertama kali bertemu dengannya sangat konyol dan ceroboh. Namun masa lalu Yune yang sama dengannya membuat Naruto merasa bahwa bukan hanya dirinya yang merasakan kesepian. Mereka sepakat untuk tinggal bersama dan bekerja apa saja untuk membiayai sewa apartemen mereka

Dan pertengkaran mereka kembali dimulai ketika Yune selesai mandi dan melihat Naruto yang masih santai dengan seragam sekolahnya. Cekcok mereka hampir saja berujung pada beradunya shuriken mereka namun akhirnya mereka sadar diri dan berhenti.

Shuriken? Oh mereka menjadi Ninja di sini.

"Nenek-nenek break dance juga tahu kalau pesawat bisa terbang. Aduh pintar sekali sih kau..." Mendengar perkataan bodoh Naruto membuat wajahnya menjadi Nicholas Cage yang mengatakan 'You don't say'.

"Eh kampret mana ada nenek-nenek break dance? Kau sudah gila?" Balas Naruto.

"Apa kau bilang?"

Nah baru saja Author jelaskan mereka kembali adu mulut memancing perhatian orang-orang yang memandang mereka dengan tatapan bermacam-macam.

"Aku bilang kau itu gila. Oh kau mau mengaku?"

"Kepala kuningmu itu mau kubelah yah?" Sontak seluruh penumpang yang menunggu di tempat yang sama melihat pertengkaran mereka dengan sedikit sweatdrop dan ada yang tertawa.

"Sudahlah kita jadi pusat perhatian..." Naruto yang baru sadar jika pertengkaran tidak pentingnya di lihat oleh orang-orang.

"Baiklah..." Mereka berdua berjalan sedikit menjauh dari kerumunan orang itu dan kembali menunggu pesawat mereka yang masih cukup lama. Hah membosankan jika saat-saat seperti ini.

.

.

.

Setelah perjalanan 8 jam lebih.

Ckieet.

Taksi berbentuk sedan merah berhenti di sebuah rumah kecil sekitar kota Kuoh yang halamannya kotor dan banyak sampah dedaunan hampir menutupi jalan. Pintu penumpang taksi dibuka menampakan dua orang yang turun bergantian berbarengan dengan sang supir.

Mereka mengambil koper dan ransel yang berada di bagasi taksi. Setelah selesai mengambil mereka menanyakan tarif perjalanan. "Aku sudah membayar taksi di London. Gantian kau" Ternyata mereka adalah Naruto dan Yune yang baru tiba di Jepang saat lewat tengah malam.

Yune yang mendengar itu hanya mendecak dan mengeluarkan dompet untuk membayar. Sang supir yang sudah menerima uang berterima kasih dan masuk kedalam taksi untuk kembali bekerja.

"Bajingan kau Naruto! Kau menipuku! Kau bilang ongkos taksi Jepang sekarang murah!" Yune kesal karena hampir setengah isi dompetnya kempis untuk membayar.

Naruto yang sedang meregangkan badannya berbalik dan memandang Yune. "Yune..."

Tangannya memegang pundak Yune dengan lembut. "Yang sabar ya..."

"..."

"..."

"KAMPRET KAU DASAR PIRANG!" Yune mencekik Naruto dan mengguncang-guncangkan tubuh Naruto yang sudah hampir membiru.

"Lhephaskan Ghovlok!" Dengan susah payah Naruto memaki Yune.

Melihat wajah Naruto yang sudah membiru hebat, Yune melepasnya dan membuat Naruto terbatuk-batuk. "Sudahlah ayo masuk. Aku sudah lelah"

Yune mengangguk dan masuk bersamaan dengan Naruto menuju rumah kecil yang damai itu untuk beristirahat. Naruto membuka pintu dengan kunci yang berdebu di bawah pot bunga dengan pelan karena kunci rumahnya sedikit bekarat dan bisa saja dapat patah saat ia tiba-tiba membukanya dengan cepat.

Debu yang menutupi areal dalam rumah menyambut mereka. Mau tak mau mereka harus bersih-bersih esoknya.

.

.

.

2 Days later.

Hari baru telah datang dengan munculnya mentari di arah timur sana. Membuat dua orang sahabat yang berada dalam satu rumah bangun dari tidurnya dan beraktifitas untuk menuntut ilmu di sekolah baru mereka.

Memastikan semua sudah ada, Naruto mengunci pintu rumahnya dan mengikuti Yune yang berjalan duluan. Mereka kembali kewajah datar tanpa emosi selama berjalan dan tak memperdulikan orang-orang sekitar.

"Jangan terlalu mencolok. Salah-salah kau bisa di 'hantam' salah satu Iblis yang menguasai daerah ini..." Ujar Naruto mengisi kesunyian selama berjalan.

"Sudah berapa kali kau bilang begitu? Sekali lagi bilang kau akan dapat piring" Balas Yune.

Sepertinya Naruto tak ingin bercanda karena ia tak membalas banyolan garing sahabatnya. Berbagai macam pikiran berkecamuk di kepalanya mengingat kejadian 5 tahun yang lalu saat ia pergi dari sini.

"Apakah dia juga bersekolah di sana?" Melihat Naruto yang melamun membuat sebuah pertanyaan muncul di benak Yune.

"Aku tak tahu..."

"Kau harus meminta maaf padanya..."

Naruto memandang Yune. "Mungkin dia membenciku. Bisa saja saat aku bertemu dengannya, tubuhku pasti menerima pukulan atau tembakan pemusnah berwarna merahnya".

Yune sedikit terkekeh. "Kau belum mencobanya... Sifat wanita itu sulit di tebak...".

Wajah Naruto kembali menunduk dan tak menjawab balik. Ia sudah menebak, pasti Rias akan membencinya dan melupakan tentang nama Naruto Uzumaki. Menurutnya, selembut-lembut wanita di sana juga tersimpan sebuah rasa cinta pada seseorang akan cepat berlalu dan melupakannya jika orang yang di maksud pergi. Tapi kau salah besar Naruto.

"Lagipula aku hanya manusia biasa, sedangkan ia putri dari klan Iblis terpandang di Underworld. Aku tak pantas di rindukan dirinya apalagi bertemu dengannya" Ujar Naruto.

Langkah Yune terhenti dan membuat Naruto terhenti juga. "Naruto, bisakah kau tidak membicarakan itu lagi? Jangan merendahkan dirimu! Hanya karena kita manusia yang tak sebanding dengan Iblis lalu kau sangat merendahkan dirimu seperti ini?"

"Aku tidak merendah, hanya sadar diri".

"Kau sudah melukai hatinya dan kau tambah lukanya lagi dengan melupakannya dan memilih mengacuhkannya saat bertemu. Itukan kesimpulanmu yang sesungguhnya?"

"Bisa iya bisa tidak" Yune hanya menghela nafas melihat sifat Naruto yang aneh.

"Terserahmu saja" Susah beradu argumentasi dengan sifat keras kepalanya Naruto. Kadang juga sifatnya sulit ditebak karena Naruto jarang berekspresi kecuali jika mereka sudah bertengkar, itu berbeda.

Setelah cukup lama berjalan mata mereka di sambut oleh sebuah bangunan khas eropa yang luas dengan orang-orang yang berjalan menuju bangunan itu. Tapi sepertinya waktu masuk sudah hampir tiba karena kebanyakan orang-orang yang merupakan siswa berlari dengan cepat menuju sana.

Namun tidak bagi mereka berdua, langkah santai di kaki mereka memasuki areal sekolah dengan melihat-lihat lingkungan sekolah.

"Not bad. Bangunannya tak kalah keren dengan London High School..." Naruto hanya mengangguk mendengar pujian Yune.

.

.

.

Semua siswa yang berada di depan kelas menatap dua 'Great Onee-sama' yang berjalan kearah mereka dengan mata berbinar. Salah satu dari keduanya yaitu Akeno hanya membalas ucapan pujian dari kebanyakan siswa laki-laki dengan senyuman dan tawa aneh. Berbanding terbalik dengan Rias yang diam saja tak menanggapi situasi seperti sekarang.

Jika dilihat, ada bekas lelehan air mata yang berada di pipi Rias yang mengering. Hampir tak terlihat namun bisa dilihat dengan jelas jika kau langsung bertatapan dengannya.

Penyebabnya? Naruto Uzumaki. Yang tiba-tiba kembali datang kedalam pemikirannya dua hari yang lalu. Selama dua hari Rias hanya menangis dan memeluk figura Naruto tanpa memperdulikan ia bolos satu hari yang bukan ciri khas Rias. Mungkin saja jika Akeno tidak memaksanya untuk masuk Rias sekarang juga masih berada di kamarnya di ruangan Occult Research Club.

"Rias..." Akeno berbalik badan dan memanggil Rias saat koridor yang ia lewati sudah sepi. Yang dipanggil hanya mendongakkan kepalanya sebagai balasan.

"Aku mohon jangan memikirkannya seperti ini lagi. Aku tak tega melihatmu bersedih" Rias kembali mengacuhkan Akeno dan memandang kebawah dengan kekosongan di matanya.

Rias sedikit kaget karena Akeno memeluknya dan merasakan bahunya seperti basah. "Aku juga sedih jika kau bersedih Rias. Sebagai sahabat aku juga merasa apa yang kau rasa..." Akeno menangis dipundak Rias.

Merasa bahwa ia sudah keterlaluan. Rias membalas pelukannya. "Maafkan aku Akeno"

"Jangan kau siksa tubuhmu dengan memikirkannya. Dia juga tak perduli padamu saat kau benar-benar mencintainya" Ujar Akeno membuat Rias diam

"Bisakah kau melupakannya?".

"Aku... Akan mencobanya" Rias melepas pelukannya sambil mengusap air mata.

"Ayo masuk..." Senyuman palsu muncul dibibirnya.

Jika saja mereka sedikit menengok kebelakang saat menuju dalam kelas, mungkin hal yang tidak di inginkan Rias lagi muncul. Karena yang dirindukan Rias menuju kemari. Siapa lagi kalau bukan Naruto dan Yune yang baru berbelok dari pertigaan koridor juga menuju kekelas mereka dengan kepala yang kekanan dan kekiri seperti mencari sesuatu.

Saat mereka sudah berada di depan pintu.

Keduanya tak masuk dan melanjutkan berjalan melewati kelas itu. Kelas mereka bukan di situ.

Yune yang menujuk tiba-tiba dan membuat Naruto fokus pada objek tunjukkan telunjuk kanan Yune. "Itu kelas kita..."

Kelas yang bertulisan 'XII-02' mereka berhenti sebentar menatap kelasnya dan melanjutkan berjalan. Ternyata Wali kelas mereka sudah di depan kelas dan melihat kearah mereka.

"Ah pasti kalian murid pindahan itu yah?"

"Ha'i Sensei..." Jawab mereka berbarengan.

"Namaku Kojiro Horizuki, Wali kelas kalian. Tunggu di sini sebentar, aku akan memanggil kalian jika saatnya nanti...

Guru itu masuk dan menyapa murid yang menjadi diam dari keramaian. Naruto hanya menghela nafas dan menyender pada dinding, perasaanya sangat tidak enak hari ini. Ia merasa ada yang kurang namun saat mengingatnya sama saja dan tak berubah.

"Kita sudah kaya mau mati saja. 'Akan dipanggil saatnya nanti' bukan kata yang pas..." Keramaian Yune kembali di perlihatkan dan membuat Naruto sedikit mendecak.

"Berisik, Cuma kata-kata salah saja kau seperti ini. Apa kau mau merasakan apa itu 'dipanggil' dengan melemparmu menuju lantai bawah?" Tanya Naruto.

"Cih kau yang kulempar baka-pirang..."

"Baka-pirang? Panggilan macam apa itu.."

"Panggilan –"

"Uzumaki-san, Kurosawa-san silahkan masuk..." Yune sedikit kesal karena ucapannya terpotong karena dipanggil.

Saat mereka masuk, semua siswa menatap mereka dengan berbagai macam tatapan. Kebanyakan siswa laki-laki hanya biasa saja dan ada yang sedikit kesal, sisanya siswi perempuan yang memandang mereka dengan bersemu dan ada yang sampai matanya berbentuk 'lope-lope'.

"Aku benci jika seperti ini saat kita baru masuk di sekolah baru..." Bisikan dari Yune membuat Naruto menoleh.

"Yah persiapkan mentalmu saja".

"Ayo. Perkenalkan diri kalian kepada semuanya!" Mereka berhenti berbisik dan menatap seluruh kelas.

"Nama saya Naruto Uzumaki pindahan dari London High School University"

"Yune Kurosawa, sama sepertinya yaitu murid pindahan. Dan satu-satunya manusia paling tampan di dunia..."

Perkenalan dari Yune membuat Naruto, Kojiro dan seluruh penghuni kelas kecuali para siswi yang sedikit menjerit sweatdrop mendengar betapa eksisnya mahluk berambut aneh ini. Dan apa-apaan gigi yang berkilauan saat ia tersenyum? Tanpa sadar Naruto sedikit menjauhi Yune dengan sedikit menyender kesamping.

"Kau memang tampan Yune-kun~".

"Kyaa Naruto-kun kau sangat keren~".

"Naruto-kun kencan bersamaku yuk~".

"Kyaa Yune-kun tersenyum kearahku~!".

"Kalian berdua membuatku ingin memperkosa kalian para mahluk tampan~" Setetes keringat mengalir di pelipis Naruto dan Yune. Wajah mereka sedikit horor mendengar ucapan siswi terakhir.

"B-baiklah, silahkan kalian duduk di belakang kursi Shitori-san dan Shinra-san. Yang di sebut mohon angkat tangannya..." Dua siswi yang sama-sama berkacamata mengangkat tangan.

Naruto dan Yune mengikuti direksi dan berjalan menuju bangku kosong di belakang siswi yang berkaca mata itu. Tanpa mereka sadari saat duduk dan mengambil buku, kedua siswi berkacamata itu saling memandang dan menangguk.

.

.

.

Bel istirahat berbunyi menunjukan bahwa saat-saat sekarang otak sedikit di istirahatkan dari berbagai ilmu-ilmu baru yang diterangkan guru bidang studi masing-masing. Dan mereka yang merupakan siswa pindahan baru kini berada di bawah pohon yang cukup rindang sedang duduk menyender.

Naruto membaca buku pelajaran yang belum dipahaminya sedangkan Yune tertidur dengan tangan menempel dibelakang kepalanya. Banyak siswi yang melewati pohon itu dengan berbisik-bisik dan tak lupa semburat kecil muncul di pipi mereka.

"Apakah mereka siswa pindahan yang di bicarakan itu?"

"Ya itu benar. Aku baru melihat mereka di sini...".

"Yang pirang itu tampan yah~".

"Meskipun yang hitam memiliki gaya rambut aneh. Tetap saja tak kalah tampan~".

"Ada apa ini?" Kelompok siswi kelas menengah yang masih sibuk memuji kedua siswa yang berada dipohon itu diam melihat sang Seito-Kaichou dan Fuku-Kaichou yang berdiri dibelakang mereka.

"Sona-Kaichou. K-kami hanya memandang mereka kok" Salah satu dari mereka membalas ucapan sang Ketua OSIS.

Melihat itu ia hanya membetulkan posisi kacamatanya dan mendekati siswa pindahan dikelasnya sedikit menghebohkan seluruh sekolah. Karena setiap ia lewat di kelas, koridor, kantin dan lainnya pasti membicarakan 'Dua siswa pindahan dari luar Negeri' ini dengan berbagai macam perkataan.

Naruto yang merasa cahaya dari matahari menggelap mengalihkan tatapannya kepada Sona. "Ada apa yah?".

Yune sedikit terbangun karena Naruto seperti berbicara kepada seseorang. "Huh?".

"Perkenalkan namaku Sona Sitri, siswi yang duduk didepanmu. Dan aku Ketua OSIS disini..." Sona memandang ke Tsubaki

"Kau juga Tsubaki".

Tsubaki hanya memutar matanya bosan. "Tsubaki Shinra, wakil Ketua OSIS. Orang yang duduk di depan si rambut aneh itu"

Citra buruk tak mau disandangnya karena tak menghormati sang Ketua OSIS. Naruto bangun dan sedikit menepuk celananya. "Naruto Uzumaki. Ya kami siswa pindahan dari Inggris".

"Hn. Yune Kurosawa. Dan apa-apaan panggilan itu? Rambutku anti-mainstream Fuku-Kaichou" Dengan kekesalan Yune bangkit dan menujuk Tsubaki.

"Bukan anti mainstream, tapi memang rambutmu aneh kaya sapu" Balas Tsubaki dengan senyuman yang menujukan remehan.

"Apa! Kau akan ku –"

"Stop. Jangan memalukan diri kita disini..." Perkataan Naruto ada benarnya. Seketika ia berdehem dan kembali memasang wajah andalan mereka.

Sona yang diam melihat adu cekcok antar Yune dan Tsubaki sedikit menaikkan kacamatanya "Kuharap kalian menaati peraturan-peraturan di sekolah ini dengan baik. Aku tidak akan segan-segan menghukum kalian jika melanggar".

Naruto duduk dan membaca bukunya kembali. "Terserahmu Kaichou". Ekspresi wajah Sona berubah menjadi sedikit kesal atas kelakuan Naruto.

"Aku bersungguh-sungguh Uzumaki-san, Kurosawa-san" Naruto dan Yune hanya memasang pose nice guy dengan wajah datar.

Kekesalan Sona dan Tsubaki menjadi-jadi karena masih saja mereka seperti tidak dianggap dan keberadaannya tak penting. Akhirnya mereka berjalan menjauh dengan sedikit gumaman kekesalan disetiap langkahnya.

Yune yang daritadi masih saja berbaring mau berdiri dan meregangkan badannya. "Merepotkan saja. Ayo pindah ke kelas saja" Ajaknya kepada Nauto.

Decakan kesal Naruto keluarkan sambil menutup buku cukup tebal itu da kembali berdiri. "Justru kau itu yang merepotkan...".

.

.

Tanpa terasa waktu pulang sudah dari tadi tertunjukkan dari bunyinya bel sekolah. Membuat kedua sahabat itu sedikit senang karena hari yang melelahkan sudah terlewati lagi. Mereka pulang agak sedikit kesorean karena mereka tak suka keramaian dari semua warga sekolah yang berebutan keluar sekolah. Berdesak-desakan? Itu hal yang merepotkan sangat.

Naruto duduk menyender dikursi sedangkan Yune melihat-lihat apa saja yang berada di dalam kelas sambil bertopang dagu dan kedua matanya yang terpejam sedikit tertutup poni rambutnya yang cukup panjang.

"Fuku-Kaichou sepertinya menyukaimu..." Ujar Naruto tanpa bergerak dan masih dalam posisinya.

Yang dimaksud menengok dan menyipitkan matanya. "Kenapa kau tiba-tiba menjadi sok tahu?"

Naruto tersenyum. "Tidak mungkin jika dia memanggilmu dengan sebutan itu apalagi wajah dinginnya itu tiba-tiba tersenyum padamu. Percaya padaku...".

Dagunya ditopang dengan tangannya mendengar ucapan Naruto. "Wanita memang sulit ditebak..."

"Mungkin iya..." Naruto berdiri dan mengambil tasnya dan tas Yune. Saat dia berjalan dan sudah dekat dengan Yune, tas milik Yune dilemparnya ke pemilik asli. "Ayo pulang, aku ingin latihan..."

.

"Manusia yang malang. Kurasa kalian tersesat hee?" Naruto dan Yune mengalihkan tatapannya kearah gang yang cukup gelap dikarenakan matahari hampir tenggelam.

"Demi Tuhan. Bisakah kita beristirahat setelah bersekolah?" Ucap Yune sambil mengusap keningnya.

"Oh kau mau beristirahat? Akan kuberi kau istirahat terakhirmu!".

Ctikk!

Jentikkan tangan dari gang itu membuat sesosok monster mirip belalang sembah bagian tubuh atasnya keluar dari gang itu yang berjumlah 6.

"Stray Devil. Kau saja yang tangani ini..." Naruto tanpa sepihak duduk di pinggiran jalan dan membaca buku yang ia keluarkan dari tasnya.

"Hei apa-apaan kau?" Yune tak terima. "Aku tak membawa kantung penyimpanan!"

Naruto memandang Yune. "Mereka hanyalah monster tanpa otak. Mengalahkan mereka mudah".

Yune hanya menghela nafas dan kembali menatap gerombolan Stray Devilo itu. "Ayo siapa yang mau mati duluan?" Ucapnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

"KAU AKAN MATI MANUSIA!" Merasa bahwa mangsanya meremehkannya, pemimpin Stray Devil itu menerjang Yune.

Tatapan datar Yune munculkan membuat Stray Devil itu semakin kesal. Kurang lebih 2 meter sebelum mereka bertemu, Yune merapal segel tangan.

"Raiton: Kuropansa!"

Aliran listrik hitam muncul ditubuh Yune dan mengelilingi pijakannya. Saat telapak tangannya mengarah kedepan, dengan cepat listrik hitam berbentuk Panther menyambar tubuh Stray Devil itu membuatnya tersetrum dan tak bisa bergerak.

"Raiton: Denki Senbon!"

Tubuh Yune yang masih terselimuti listrik melempar jarum-jarum Senbon listrik yang cukup banyak kearah Stray Devil yang masih tak bergerak di depannya.

Jleb!Jleb!Jleb!Jleb!

Dengan suksesnya, tubuh Stray Devil itu sudah tertutupi jarum Senbon yang menancap seluruhnya. Setelahnya tak ada yang tersisa karena tubuhnya sudah menjadi debu.

Melihat itu membuat dua dari empat gerombolan itu secara cepat menerjang dengan serangan tangan yang menyerupai pisau. Kali ini Yune harus menunduk dan melompat kebelakang karena serangan berbarengan itu cukup sulit untuk membuatnya merapal segel lagi.

Mau tak mau ia harus mengeluarkan Sacred Gearnya untuk mengalahkan mereka.

[Reveal!]

Trank!

Hampir saja tubuhnya terbelah jika ia tak memblok tangan pisau milik Stray Devil itu dengan Sacred Gearnya.

[Bright!]

Kedua pedang cahaya yang merupakan Sacred Gear Yune itu adalah [Revealing Light]. Sacred Gear unik karena sang pegguna bisa memanggil pedang-pedang cahaya.

Sontak kedua Stray Devil itu menutup matanya karena terlalu silau dan termundur. Pedang di Tangan kanannya ia hilangkan terganti dengan munculnya cahaya berkedip di telapak tangan.

[Stardust Revolution!]

Saat dilempar, cahaya berkedip di telapak tangannya menciptakan belati yang berjumlah 10 dengan cahaya yang cukup menyilaukan saat tangannya teracung seperti Jutsunya tadi.

Jleb Jleb Jleb!

Stray Devil tersisa yang berada di belakang baru saja mau kabur namun belati-belati itu masih bisa mengejar mereka. Akhirnya para Stray Devil itu dengan mudahnya musnah karena serangannya mengenai kepala oleh Yune dengan Sacred Gearnya.

Merasa bahwa sudah cukup, Yune menghela nafas dan pedang cahayanya menghilang sedikit demi sedikit di tangannya. Tak ada yang tersisa yang hanya adalah debu bekas Stray Devil itu yang berhasil dimusnahkannya.

Yune mendekati Naruto yang masih sibuk membaca dan menjitak kepalanya. "Bakayarou! Kau bilang mereka lemah? Hampir saja aku terbelah gara-gara mereka!"

Rasa sakit menjalar di kepalanya saat ia mengusap-usap rambutnya. "Ngga perlu jitak juga Konoyarou!"

"Sudah ayo pulang saja aku lelah!" Yune mengambil tasnya yang disebelah Naruto dan ngeloyor pergi meninggalkannya.

"Bajinguk, malah ninggalin..." Naruto berdiri dan menaruh bukunya kembali kedalam tas untuk mengikuti Yune.

Seketika senyuman simpul Naruto muncul saat merasa ada yang memperhatikan mereka. Salahkan saja ia karena terlalu sibuk membaca hingga tak melihat 'penyusup' yang menonton hiburan tadi.

Benar saja, seorang gadis kecil yang merupakan siswi Kuoh Gakuen mengintip mereka di dinding yang jaraknya cukup jauh dibelakang.

"Aku harus memberitahu ini kepada Buchou". Gadis itu mundur kebelakang dan berjalan menuju arah berlawanan.

.

.

.

"Bisa kau jelaskan lagi?"

Rias yang menyendiri diruangan klub miliknya sedikit terkejut tiba-tiba Koneko datang kesini dan memberitahu perihal 'pertunjukan' antara Yune dan Stray Devil.

"Awalnya dia seperti mengaliri tubuhnya sendiri dengan listrik hitam setelah melakukan gerakan aneh ditangannya namun saat terdesak ia mengeluarkan pedang cahaya" Ujar Koneko.

Rias bersidekap. "Yang satunya?"

"Dia hanya diam dan seperti mengacuhkan dengan duduk dan membaca sesuatu..." Lanjut Koneko.

"Baiklah, kau boleh pergi Koneko-chan" Koneko menunduk dan pergi.

Kaki jenjangnya berjalan menuju balkon yang berada di depannya. Angin malam menerbangkan helaian rambut merahnya sehingga membuatnya sedikit terlena akibatnya. Kemeja kebesaran milikinya tak menutup tubuh indahnya karena sengaja ia tak mengancingkannya sehingga pakaian dalam berwarna hitamnya terkekspos dengan bebas. Tak ada ekpresi kedinginan sama sekali padahal kulit putihnya dengan jelas terkena angin yang biasanya membuat orang-orang menggigil.

Itu karena rasa dingin kalah dalam membuatnya fokus karena memikirkan yang telah terjadi dari penjelasan Koneko tentang kedua orang siswa pindahan yang cukup membuatnya tertarik.

Rias merasa bahwa mereka adalah orang yang berasal dari pihak Tenshi yang mengawasi sekolah atau pihak netral yang tak mengetahui apapun tentang dunia supranatural. Jika kau lihat, Rias tersenyum. Bukan ini yang menyebabkannya tersenyum manis sekarang

Karena orang satunya yang diceritakan Koneko membuat dihatinya ada rasa senang saat kembali mengingat bahwa orang itu berambut pirang.

"Apakah itu kau?" Lirihnya.

.

.

.

.

"Rasengan!"

Blaar!

Tanah pijakan Naruto menjadi kawah saat bola spiral di tangannya menyentuh tanah karena tadi ia melompat.

Lokasinya berada di hutan dekat rumah Naruto, yang juga merupakan tempatnya berlatih Sacred Gear saat umurnya 13 tahun. Tempat yang pas untu melatih Jutsu Ninjanya karena tempatnya cukup lapang.

Semua ini, karena seorang pria paruh baya dengan wajah dihias dengan garis vertikal dari matanya dan berambut putih melatihnya dan Yune menjadi seorang Ninja.

Jiraiya-sensei, panggilan mereka pada orang itu.

Flashback.

Saat itu Naruto dan Yune yang baru bersekolah di London selama 5 bulan berjalan melewati taman bermain saat malam hari. Yang membuat mereka kaget adalah ada orang berambut putih menggunakan pakaian merah aneh yang sobek sana sini seperti dalam keadaan sekarat terbaring di tengah-tengah taman dengan luka sangat parah.

Seketika Naruto dan Yune kecil mendekati orang itu dan mengeceknya.

"Dia masih hidup" Ucap Naruto memengang leher orang itu.

"Kita harus membawanya keapartemen kita!" Lanjut Yune membuat Naruto mengangguk.

Dengan susah payah mereka membopong orang itu dengan bersama-sama menuju aparten mereka yang sudah dekat.

Kurang lebih 3 hari setelah orang itu pingsan ia sadar dan membuat Yune yang berada didalam kamarnya berteriak memanggil Naruto.

"Jadi kalian yang menolongku?" Suara sedikit parau dari orang itu membuat Naruto dan Yune mengangguk. "Terima kasih. Aku sangat berterima kasih dengan kalian..." Orang itu tertawa dengan keras.

"Err Ojii-san, kenapa anda bisa terluka seperti kemarin?" Naruto yang sweatdrop bertanya.

Orang itu berhenti tertawa dan menghela nafas. "Aku di serang oleh sekumpulan gagak"

"Gagak? Memang Ojii-san ada masalah apa dengan para gagak?" Naruto yang mengerti kata gagak bertanya.

"Aku adalah salah satu Ninja yang selamat dari desaku. Apa kalian berasal dari Jepang?" Naruto dan Yune mengangguk.

"Kalian pernah mendengar Konohagakure?"

Mereka berdua hanya diam sambil menggaruk kepala. "Kami saja baru mendengarnya".

"Konohagakure adalah desa Ninja tersembunyi yang berada jauh dari kota-kota besar. Desa Konoha dulu adalah desa damai dan tentram sebelum para gagak itu menyerang desa dan membunuh para warga dengan sadis. Aku tak tahu tujuan mereka tapi yang pasti hanya aku yang selamat karena saat penyerangan itu aku sedang berkelana"

"Begitu..."

"Saat aku kembali seluruh isi desa porak poranda parah dan hanya menyisakan puing-puing tak berarti. Mereka menyadari bahwa aku yang tersisa dan memburuku sampai saat ini. Padahal aku sudah sangat jauh pindah kesini tapi mereka bisa menemukanku..."

"Serangan –"

"Tunggu Ojii-san. Anda bilang bahwa anda adalah Ninja..." Yune memotong ucapan Jiraiya.

"Haha aku memang Ninja... Dulu dikenal dengan Petapa dari Gunung Myobokuzan. Tapi sebutan itu tak berarti lagi sekarang" Aura hitam muncul dibelakang Jiraiya. Namun sekejap saja ia sedikit mengingat sesuatu.

"Aku akan memberi kalian penawaran. Sebagai rasa terima kasihku kepada bocah-bocah seperti kalian"

"Menawarkan apa?" Tanya Yune.

"Aku ingin melatih kalian menjadi Ninja... Apa kalian mau?" Mereka diam kembali karena pikiran mereka sibuk dengan penjelasan ucapan Jiraiya.

"Aku ingin kalian mewariskan tekad Ninja yang hampir punah. Umurku sudah terlalu tua, jika nanti aku tiada siapa lagi yang akan mengenal Ninja? Kebetulan kalian dari Jepang, jadi aku tak melanggar ikrar untuk tidak mengajari orang asing yang bukan dari Jepang".

Kediaman masih berada di pihak mereka dan memandang bersamaan. Jiraiya menyipitkan matanya saat Naruto membisiki Yune membuat kedua orang itu berteriak.

"Kami ingin menjadi Ninja!"

Orang itu tertawa kencang. "Kalian membuatku menjadi muda kembali. Panggil aku Jiraiya".

Flashback Off.

Semenjak hari itu, mereka dilatih dan ditempa sangat keras oleh Jiraiya untuk menjadi seorang Ninja. Bahkan pernah mereka berdua bolos satu bulan untuk menguasai sebuah Jutsu Rank A yang hampir saja membuat mereka di keluarkan dari sekolah.

Semua dasar tentang Ninja sudah tergambar pada sosok Naruto dan Yune membuat mereka mendapat predikat sebagai Ninja yang sesungguhnya. Dengan rela membuang semua perasaan emosi pada wajah mereka, namun seperti yang dilihat mereka masih saja konyol. Tapi jika sudah benar-benar serius, mereka akan sangat dingin pada siapapun.

Dan juga 5 tahun adalah waktu singkat jika seseorang dilatih menjadi Ninja, perlu sekitar 10 sampai 15 tahun untuk matangnya bakat sebagai Ninja, menurut kata Jiraiya. Kata tidak terucap saat mereka membuktikan bahwa waktu 5 tahun cukup membuat mereka menjadi seorang Ninja.

Saat-saat mereka sangat senang sudah menjadi penerus Ninja, Jiraiya jatuh sakit dan tidak bisa di sembuhkan di rumah sakit manapun. Tak ayal setelah kepergian Jiraiya akibat sakitnya benar-benar membuat mereka menjadi Ninja terakhir.

Mengingat itu membuat Naruto yang sedang duduk beristirahat menjadi sedikit sedih. Menurutnya Jiraiya adalah sosok pengganti Ayah di hidup Naruto. Karenanya mereka hanya fokus sekolah dan latihan sedangkan ia mengambil tugas sebagai pencari nafkah.

Masa lalu ya masa lalu. Tak perlu diingat.

Naruto berdiri dan mengambil senjata-senjata latihannya yang berserakan di tempat itu. Saat sudah terkumpul semua, ia mengambil sebuah gulungan yang berada di kantung perlengkapannya. Saat dibuka gulungan itu hanya berisi tulisan-tulisan Kanji rumit yang sulit dibaca.

Kusarigama, Tanto, Fuuma Shuriken, dan Katana ia taruh diatas gulungan sambil merapal segel.

Boft!

Asap muncul saat ia selesai menyelesaikan dan menyisakan tulisan Kanji besar yang berada diposisi tengah-tengah gulungan. Naruto kembali menggulungnya dan memasukan kedalam kantung sambil berjalan menuju rumahnya.

Hari ini dia malas latihan keras.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To be Continued!

A/N: Yah masih dengan saya si Psikopat. Maaf update lama karena sibuk dan kemalasan saya untuk menulis fic bobrok ini.

Tanpa banyak bicara saya ingin bilang. Mungkin setelah tanggal 27 saya akan lama update(lagi) karena mulai hari itu saya kembali sibuk bersekolah. Apalagi saya sudah kelas 3 SMK membuat saya harus fokus pada pelajaran dan harus sedikit mengurangi bermain hp dan laptop.

Tapi jangan khawatir, saya tidak akan meninggalkan fic ini. Fic ini akan saya update saat saya benar-benar ada waktu kosong. Sekali lagi saya minta maaf dan juga soal chapter ini yah yang mungkin agak mengecewakan dan alurnya sedikit cepat.

Well, itu saja.

Psychocross out.