Disclaimer
Semua yang ada disini milik Masashi Kishimoto dan Ichiei Ishibumi yang dikemas oleh imajinasi gila saya.
Rated: M
Genre: Adventure, Romance, Humor and many more.
Peringatan: OOC, Typo, Gaje, Mainstream, Humor dipaksakan dan kawan-kawan.
Chapter 5
Why? Because i love her.
Brak.
Pintu rumahnya ditutup dan dikunci karena Naruto sang pemilik pergi menuju sekolah. Masih saja temannya Yune si rambut aneh meninggalkannya dan berjalan duluan seenaknya. Kunci di taruh disaku dan menyusul Yune yang sudah berada cukup jauh.
Mari kita percepat saja acara Naruto kejar-kejaran dengan Yune.
Masih dimana semua siswi memandang mereka dengan tatapan beragam mulai dari siswa kelas awal sampai akhir selalu terpaku pada duo sableng ini.
Salah satu siswi berambut coklat sebahu yang mau lewat didepan mereka diam mematung dengan wajah merona. Seketika saja Naruto yang saat itu berwajah datar tersenyum simpul padanya. Membuatnya pingsan seketika saat Naruto dan Yune sudah melewatinya.
"Apakah ini resiko menjadi orang tampan? Selalu menjadi pusat perhatian? Tampan ini menyiksaku..." Ujar Yune sambil menutup wajahnya dengan gaya aneh membuat Naruto menjadi jijik.
Sedetik kemudian Naruto facepalm. "Tuhan, entah kenapa aku menyesal mempunyai teman pintar namun eksis dan lebaynya tidak karuan sepertinya. Bisakah aku mempunyai teman normal?".
Untungnya Yune tidak mendengar ucapan Naruto dan masih sibuk dengan keluh kesalnya menjadi orang tampan. Kalau tidak sudah pasti akan ada pertengkaran seru yang mungkin membuat sekolah menjadi ladang pertempuran.
Di sisi lain. Rias yang duduk di bangkunya sambil diam dan merenung tak mengidahkan keadaan kelas. Pikirannya kosong selama ia baru masuk disini 10 menit yang lalu bersama Akeno yang masih khawatir akan keadaan Rias yang masih tak berubah.
Buku berukuran kecil yang seperti buku Diary miliknya dibuka dan sebuah foto terlihat di iris Blue-green nya. Terpampanglah Naruto yang tersenyum kearah kamera sambil menjulurkan tangannya seperti mengajaknya untuk mengikuti.
Ia menyimpan banyak sekali foto Naruto yang ia potret pada kamera kecil miliknya. Namun hanya foto ini dan foto satu lagi berada di ruangan pribadinya yang membuatnya selalu merindukan Naruto.
Diusapnya dengan perlahan pada wajah Naruto dan membuatnya tersenyum simpul. Tapi senyumannya pudar dan di ikuti buku yang ditutup olehnya. Ia berdiri dan berjalan menuju keluar untuk menenangkan pikirannya yang kembali berkecamuk.
Akeno yang sedang menulis sesuatu mengerutkan alisnya saat tempat duduk yang ditempati Rias kosong. Helaan nafas ia keluarkan saat Rias berjalan menuju keluar.
"Rias..."
Rias yang sudah di depan pintu kelas diam sejenak lalu menoleh menuju Akeno yang sedang berjalan kearahnya.
Kali ini Rias kurang beruntung lagi. Saat pandangannya menoleh menuju Akeno, lewatlah Naruto dan Yune yang sudah sangat dekat dengannya. Mungkin jika ia tak menoleh pasti wajahnya dan Naruto yang bertemu langsung.
Naruto yang berbicara hal-hal tak penting pada Yune tanpa sadar dirinya dibelakangi Rias yang berada di depan kelas berjalan tanpa beban melewatinya. Barulah saat Naruto sudah masuk kedalam kelas yang bersebelahan dengan kelas Rias. Keduanya berjalan keluar menuju arah berlawanan.
Pertemuan mereka akan ditunda. Karena belum saatnya.
.
.
.
"Aku mau beli makanan dulu..." Naruto yang duduk di atap sekolah hanya bergumam menanggapi Yune.
Sudah waktunya istirahat membuat semua siswa seperti biasa akan lari ke kantin atau berdiam diri di kelas. Namun tidak bagi mereka berdua.
Atap menjadi tempat mereka berdiam sekarang karena di sini lebih aman daripada di bawah pohon yang berada di halaman Kuoh Gakuen. Karena mereka tak mau menjadi pusat perhatian seperti kemarin.
Keheningan mendatangi Naruto karena si rambut aneh ingin membeli sesuatu di kantin. Setidaknya ia bisa bernafas lega karena sedikit terbebas dari gaya bicara Yune yang semakin lama membuatnya muntah.
"Kau tahu Naruto? Tampan ini membunuhku" Itu salah satu ucapan yang membuatnya menjadi mual. Naruto tahu memang bahwa Yune cukup tampan, tapi entah gaya bicaranya yang membuatnya ingin menebas kepalanya itu.
Angin berhembus membuat poninya terbang melambai mengikuti arah angin. Mata biru Safir sewarna langit kini terlihat karena poni yang menghalanginya sedikit terbuka. Semua buku yang belum dipahaminya sudah seluruhnya dibaca, membuat dirinya tak ada kegiatan selain menikmati diam sambil merasakan semilir hembusan angin.
Karena terlenanya dia akan hembusan angin, telinganya tak mendengar suara sepatu yang mendekati pintu yang memisahkan atap dengan anak tangga. Langkah kaki itu berhenti sejenak dan kembali terdengar dengan jelas seperti sudah dekat.
Krieet.
Pintu dibuka, memunculkan siswi dengan rambut merah darah yang terpaku di tempatnya. Senyuman terukir di bibirnya melihat punggungg tegap dengan helaian pirang seperti memberinya sebuah rasa kesenangan.
Tangannya sedikit gemetar, matanya berkaca-kaca menahan lelehan air mata. Mungkin ia akan langsung memeluk seseorang yang disana dengan penuh kasih sayang karena yang disana sangat dirindukan Rias.
Flashback on.
"Yah anak-anak cukup sampai di sini. Saya mohon kerjakan Pekerjaan Rumah kalian".
"Ha'i Sensei!".
Buku yang di pelajari Rias dimasukan kedalam tas setelah sang guru keluar kelas. Tak ada yang menyenangkan saat istirahat sekarang ini. Selalu pasti Rias akan duduk diam disini sambil meniup-meniup rambut di keningnya. Kalau tidak Akeno akan selalu mengajaknya bicara tentang hal-hal yang cukup mengisi waktu seperti betapa mesumnya anggota Peeragenya Issei si Pawn yang takkan habis dibicarakan.
Baru saja Akeno ingin mendekati Rias yang diam. Sona dan Tsubaki yang tiba-tiba masuk membuat perhatiannya teralih.
"Ada apa Sona?".
"Aku ingin memberitahu sesuatu tentang seseorang".
"Seseorang?" Tanyanya kembali.
Sona memejamkan mata sebentar dan menaikkan kaca matanya. "Naruto Uzumaki..."
Sontak Rias menjadi terbangun dan membulatkan matanya. Sedangkan Akeno sedikit kaget dengan matanya yang terbelalak.
"N-Naruto?"
"Kulihat dia tadi bersama temannya keatap sekolah... Kuharap kau memanfaatkan hal ini". Sona berjalan menuju keluar.
"Maaf aku baru memberitahumu sekarang. Aku memang bukan teman yang baik. Tapi aku ingin kau selalu bahagia karena kau adalah temanku" Sona menghilang dari pandangan mereka.
Meninggalkan mereka yang masih diam. Akeno memasang ekspresi tak tergambarkan kepada Rias. "Rias? Apa kau mau menemuinya?"
Tak ada jawaban karena Rias sudah berlari menuju keluar kelas meninggalkannya sendirian.
Flashback Off.
Kedua tangannya terulur seperti ingin memeluk. Namun kakinya tak bergerak karena keragua memenuhi hati dan pikirannya. Air mata sudah mengalir lagi dimata indahnya.
Kali ini keberanian sudah muncul. Langkah pelan menuju sana sudah dilakukannya. Semakin lama langkahnya semakin cepat dan akhirnya berlari dengan tangan yang masih terulur.
Grep.
Sosok yang terjang dan dipeluknya sedikit bergumam dan kaget. Punggunggnya sangat erat Rias peluk seperti tak ingin melepasnya. Isakan sudah terdengar mengalahkan kesunyian yang tadi mendominasi keadaan.
"Aku menemunkanmu..."
.
.
Decakan kesal sudah terdengar beberapa kali di mulut Yune melihat panjangnya antrian makanan yang ingin dibelinya. Sudah cukup lama ia disini namun antrian sangat lama sekali berjalan menuju gilirannya.
Tapi bagusnya semua sibuk dengan membeli makanan dan tak menghiraukan dirinya. Kakinya sudah cukup pegal berdiri disini, bergerakpun jika antrian berjalan. Ingin rasanya ia berteriak 'UWOOH' dengan lantangnya namun gengsi mengalahkannya.
"Hee?" Ia terkejut karena dengan seenaknya siswi berambut biru terang menyerobot antriannya dan celingak-celinguk seperti tak memperdulikan kekesalan yang muncul diwajah Yune.
"Oi maksudmu apa menyelak-nyelak seenaknya?".
Siswi dengan tinggi yang sedagu Yune itu menoleh padanya dan mendongak. "Maksudmu?"
"Kenapa kau tiba-tiba menyerobotku! Kupingmu dimana sih?" Kekesalan Yune semakin dibuat-buat karena siswi dengan lengan baju yang digulung itu bersidekap.
"Apa peduliku?"
What? Apa peduliku? Kurang ajar sekali!.
"Hei hei kurang ajar sekali kau! Apa begini cara kau menghormati Senpaimu?" Yune menebak bahwa siswi ini adalah Kouhainya.
Siswi itu hanya tersenyum meremehkan. "Jadi aku harus apa Senpai rambut aneh..."
Cukup. Yune sudah sangat bersabar hari ini. Dengan telunjuknya ia menunjuk kasar wajah siswi itu. "Untung kau wanita. Jika tidak aku akan mempraktekan gerakan German Supplex padamu kau tahu!".
"Oh jadi kau mau menyakiti wanita? Kau ini laki-laki atau banci?" Sekali lagi siswi yang diketahui bernama Tsubasa Yura itu kembali tertawa meremehkan.
"Kau..." Perempatan sudah muncul dikeningnya dengan mata kanan yang berkedut menahan gejolak emosi yang sudah memuncak.
Wajah Tsubasa memerah kala Yune mendekati wajahnya dengan seringaian. "H-hei apa yang k-kau lakukan?".
Senyuman semakin melebar dibibir Yune. "Jika dilihat-lihat kau manis juga tapi sayang. Kau tomboy...".
Wajah Tsubasa semakin memerah. Tadi saja ia berani menantang Yune, namun saat Yune mendekati wajahnya dan memujinya. Kegagapan mendatangi mulutnya.
"A-apa?".
"Tapi bohong! Hahahaha!" Yune tertawa terbahak-bahak ketika rencananya untuk memuji yang sebenarnya mengerjai berhasil membuat Tsubasa yang bergantian dalam posisi Skakmat.
Seketika wajah Tsubasa yang memerah malu menjadi geram. Tangannya terkepal sampai buku tangannya memutih seperti ingin meninju.
Duak!
Yah benar meninju. 3 detik kemudian kepalan tangannya sudah bersarang diperut Yune. Membuat pemilik perut menunduk sakit sambil memisuh dirinya.
"H-hancur sudah perutku"
"SENPAI GILA!"
Namun ucapannya tak digubris karena Tsubasa sudah berjalan menjauh dari kantin meninggalkannya pergi sambil memegang perutnya yang sangat berasa kesakitan dari tinjuan yang tak main-main dari Tsubasa. Plus menjadi tontonan para siswa yang sebagian tertawa.
.
.
.
Rias POV.
I-ini pasti mimpi! Bukan, tapi ini kenyataan! Banyak sekali yang ingin kubicarakan padanya selama ini. Kini dia sudah disini, didepanku. Aku ingin sekali memeluknya. Namun rasa takut dan khawatir terus membayangiku. Ayolah Rias! Dia sudah di depanmu! Berikan dia kejutan!
Aku mendekatinya dengan berlari dan menerjang tubuh dewasa dari Naruto Uzumaki, Kesatria yang membuatku selalu tak henti-hentinya memikirkannya. Aku ingin melihat senyuman konyolnya lagi. Lagi dan lagi!
"Aku menemukanmu".
Harum tubuhnya... Selalu membuatku ingin memeluknya seperti ini! Air mataku sudah kembali keluar. Aku bahagia. Sangat bahagia melihatnya
"Maaf... Kau siapa yah?".
A-apa? Naruto-kun? Apa kau tak ingat aku? Oh pasti dia kaget melihatku seperti ini. Yah pasti seperti itu!
"Apa kau lupa pada–"
Wajah itu... Itu bukan Naruto-kun! Kenapa? Kenapa wajahnya sedingin ini? Ini pasti Naruto-kun yang selalu tersenyum konyol kearahku!
Rias POV end.
"Apakah kita pernah bertemu?" Pertanyaan Naruto diulang.
Rias masih diam melihat wajah Naruto dan tak melepas pelukannya. Mungkin ia sedikit shock melihat wajah Naruto yang berbeda karena kini Naruto berwajah datar.
"K-kau!".
"Hn?"
Rias melepas pelukannya dan memukul punggungg Naruto. "Kau jahat! Kembalikan Naruto-kun! Kau bukan diaaa!" Membuat Naruto sedikit mengaduh kesakitan.
"Hei aku salah apa padamu nona?" Naruto coba berbicara susah payah karena Rias masih memukul punggunggnya.
"Hiks... Naruto-kun... Apa kau tak ingat aku?" Alis Naruto berkerut memdengarnya. Namun kemudian Naruto sedikit terbelalak.
"Rias?" Naruto membalikan tubuhnya karena Rias sudah tak memukulnya.
Greb!
Rias kembali memeluk Naruto. Tapi kini pelukan itu disertai tangisan dari sang Gremory kepada Uzumaki. Volume tangisannya semakin kencang bersamaan dengan pelukan. Tangisannya semakin berlanjut ketika Naruto membalas pelukannya pada Rias.
Naruto tersentak saat tiba-tiba Rias mendorongnya dengan kencang sampai pelukan mereka terlepas.
"Maaf..."
Mata biru safir itu hanya diam melihat punggungg Rias yang menjauh dan pergi darinya. Membuat sebuah perasaan bersalah mengisi relung hati Naruto melihat seragamnya yang basah akibat air mata dari Rias.
Bibirnya kelu tak bisa mencegah Rias yang sudah benar-benar tak ada lagi di sini. Membuatnya memegang kening dan sedikit mendesah.
Itu tadi Rias kan? Penampilannya sudah sangat berbeda jauh dari yang Naruto lihat. Jangan salahkan ia jika pertama melihatnya membuat Naruto bingung. Namun saat ia tahu bahwa Rias sampai menangis seperti tadi, perasaan tak enak muncul dihatinya.
"Apa harus melanjutkan kebohongan ini?".
.
.
.
Koridor sekolah sudah sepi ketika waktu pulang yang sudah terlewat 20 menit yang lalu. Hanya terdengar langkah kaki sepatu dari Naruto dan Yune yang berjalan di kekosongan. Namun mereka tak bicara selama di perjalanan karena Yune melihat Naruto yang diam dan benar-benar wajahnya hanya kedataran yang ia lihat.
Ingin bertanya, malah tak di sahut oleh Naruto. Ingin mengisengi agar Naruto berbicara tapi entah sepertinya ia tak ingin mengganggu kediaman Naruto.
Langkah keduanya terhenti melihat sekelompok siswa yang mengerubungi jalan mereka sehingga tak ada celah untuk mereka berjalan.
"Apa yang telah kau lakukan pada Rias!" Akeno yang berada didepan gerombolan Occult Research Club dan para Anggota OSIS yang dipimpin Sona di sebelah Akeno.
"Ada apa ini? Apa kami punya masalah?" Yune sedikit emosi mendengar ucapan Akeno.
"Aku tidak bertanya padamu! Aku bertanya pada Uzumaki!"
Yune baru saja mau berbicara lagi namun Naruto berjalan mendekati gerombolan dengan mata yang tertutup poni rambut.
"Minggir...".
"Apa kau bilang?".
"Minggir...".
Yune menyusul dan berdiri di samping Naruto. "Apa masalahmu dengan mereka Naruto?"
Tak ada jawaban. Karena Naruto masih diam.
Semua memasang ekspresi bingung tak terkecuali para anggota Occult Reserarch Club dan OSIS memandang percakapan mereka bertiga. Sebenarnya mereka berkumpul disini atas perintah dari Sona yang ingin mereka bersama Peerage Rias untuk menghadang Naruto dan Yune.
Mereka tak tahu yang jelas dari permasalahan ini. Dan juga King dari Peerage Gremory pun tak ada disini, yang sepertinya digantikan oleh Akeno.
"Hei Kiba. Apa sih sebenarnya apa masalah Buchou dengan orang itu sehingga Akeno-san sampai menyuruh kita berkumpul?" Issei berbisik pada Kiba.
Kiba menengok dan tersenyum. "Aku juga tidak tahu Issei-kun. Yang pasti karena Uzumaki-senpai telah membuat Buchou mengurung diri di kamar pribadinya. Berkumpulnya kita disini juga mungkin Akeno-senpai memberitau tentang masalah Buchou pada Kaichou..."
"Begitu yah..." Issei kembali menatap perdebatan Akeno.
Yang lain mendengar pembicaraan Issei dan Kiba hanya diam dan juga kembali melihat perdebatan.
"Kau sudah keterlaluan pada Rias. Apa kau tidak mengetahui perasaannya padamu?" Sona yang diam berbicara karena ucapan Akeno sepertinya tidak membantu.
"Aku bilang minggir! Apa kalian masih mempunyai telinga?" Suara Naruto menjadi lebih datar dan terkesan memberi peringatan. "Yune, ayo kita pergi..."
Yune hanya mengangguk dan berjalan mengikuti Naruto yang menyalip paksa. Namun sebuah petir kuning yang menuju mereka hampir mengenai jika saja reflek mereka tak menghindar.
"Aku belum selesai bicara padamu Uzumaki!" Ternyata petir itu berasal dari lingkaran sihir yang dibuat Akeno di tangannya.
Mereka membalikkan badan dan menghilang dengan sebuah asap yang diselingi daun. Namun hal yang mengejutkan terjadi. Semua yang disana kira bahwa Naruto dan Yune kabur, tapi mereka salah.
Tatapan terkejut mereka tunjukkan karena Naruto tiba-tiba muncul di belakang Akeno. Dengan sebuah Tanto yang entah darimana sudah hampir menempel di leher Akeno.
"Aku peringatkan. Sekali lagi menyerangku seperti itu, jangan harap kau bisa berteriak lagi..." Akeno hanya merinding mendengar suara Naruto yang berada tepat di telinganya.
Dan yang mereka lakukan adalah membulatkan matanya. Karena mereka kembali terkejut karena Yune berdiri diatap sambil memutar-mutar Kunai di jarinya.
"Kalian mencari masalah pada orang yang tak tepat... Jangan remehkan kami meski kalian menyebut kami manusia lemah..." Yune melempar Kunainya dengan cepat. Yang sasarannya adalah kaki Issei yang hampir kena membuatnya terloncat sampai jatuh.
Seketika Naruto sedikit bergetar mendengar ucapan Yune. Todongan senjata pada leher Akeno ia sudah lepaskan dan wajahnya kembali tertutup poni. Tak ada yang berbicara karena mereka sama-sama terkejut.
Dengan berhati-hati Naruto berjalan keluar dari belakang Akeno dengan wajah masih menunduk. "Aku minta maaf...".
Selepas itu Yune turun dengan melompat dan mengikuti Naruto yang berjalan. Kedengarannya ini masalah serius antara Naruto dan siswi itu. Tapi Yune diam tak bertanya karena mungkin sekarang bukan yang tepat lagi untuk berbicara.
.
.
.
Pelukannya pada kedua lutut masih dilakukan setelah sekolah berakhir. Tak mengidahkan sang Queen dan Pawn miliknya memanggil dari seberang pintu yang di sandarinya. Rambut merah Crimson miliknya menyentuh lantai karena kepalanya tertunduk menghalangi seluruh wajah jelita yang masih ada bulir air mata menetes.
"Aku tidak apa-apa... Jika kalian ingin pulang silahkan saja" Akeno hanya memandang iris pintu yang dikunci Rias. Suara parau dari Rias menambah khawatirnya lagi.
"Siapapun dia, aku akan menghajarnya karena membuatmu seperti ini Buchou!" Issei berteriak kesal karena sang Kingnya sampai bisa seperti ini.
"I-Issei-san..." Melihat Issei sampai kesal seperti ini membuat Asia memeluk tangan Issei untuk menenangkan sang pemilik Boosted Gear.
"Aku tidak apa-apa... Kumohon pergi...".
Akeno menghela nafas melihat sifat keras kepala Rias yang tak hilang dan berbalik badan menatap para anggota keluarganya. "Kalian bisa mendengarnya... Buchou tidak ingin diganggu. Sebaiknya kita pulang sekarang...".
"Tapi Akeno-san, Buchou itu —".
"Issei-kun. Apakah kau mau menjadi Stray Devil karena membangkang pada Kingmu?" Issei diam sambil menggertakkan giginya kesal.
"Ayo Issei-kun lebih baik kita membiarkan Buchou menenangkan dirinya sendiri..." Kiba berinisiatif menenangkan Issei dengan tersenyum.
Dengan kekesalan yang sedikit menghilang Issei, Asia, Kiba dan Koneko pergi menuju keluar berbarengan menyisakan Akeno yang memandang mereka. Matanya violetnya kembali menatap nanar pintu di depan.
"Kau tahu Rias, sifat keras kepalamu terkadang yang selalu membuatmu bersedih. Aku memang tidak merasakan apa yang kau rasa namun tetap saja aku tidak terima jika kau masih saja menyukainya..."
Tak ada jawaban.
"Jika itu maumu, oke aku akan pulang. Kalau perlu sesuatu hubungi saja aku...".
Keheningan mendatangi. Benar-benar membuat Rias sendirian di ruangan Klub. Tak ada yang melihat jika kini wajahnya yang tanpa ekspresi dan terkesan memberi tatapan kosong saat kepalanya dinaikkan.
Air matanya diusap dengan lengan baju yang ditutup sebuah kaos polos panjang berwarna hitam. Karena ada lingkaran sihir berwarna putih muncul di depannya dan memunculkan seorang Maid berambut putih yang merupakan Kakak ipar, Grayfia Lucifuge.
"Cih..."
"Selamat malam Rias-Ojousama..." Seketika tatapan sedih Rias menjadi sebuah kekesalan dan kebencian pada Grayfia.
"Anda boleh saja menatap saya dengan seperti itu, namun rencana pertunangan anda dengan Riser-sama akan dipercepat sesuai keinginan Lord Phenex-sama dan Ayah anda..."
"Sudah kubilang aku tidak mau bertunangan dengan Riser! Kenapa kalian terus memaksaku!" Sebuah kesedihan muncul kembali di hatinya mengingat rencana pertunangannya dengan Riser Phenex.
"Bukankah anda sudah tahu bahwa jumlah Iblis ber—".
"Berhenti bicara tentang Iblis berdarah murni! Aku benci jika kalian mengaitkan ini dengan pertunangan konyol yang hanya disetujui sepihak!".
Grayfia diam saja dan tatapan mengintimidasi muncul dimatanya. "Apa ini juga karena manusia itu? Ayah dan Kakak anda mungkin akan kecewa mendengar ini...".
Mulut Rias sedikit terbuka dan tertutup kembali. Kata-kata dari Grayfia sudah memunculkan kembali sepenuhnya rasa kesedihan yang tadi tertunda. Tubuhnya seketika jatuh terduduk dan wajahnya tertutup poni kembali.
Grayfia hanya menghela nafas dan berjongkok didepannya. "Aku mengerti perasaanmu padanya. Sebagai Kakak iparmu aku ingin kau tetap bahagia. Sebenarnya aku sedikit membenci manusia itu karena seenaknya meninggalkanmu. Setidaknya lupakan dia dan cobalah buka perasaanmu pada Riser..." Perkataan formal yang sedari tadi di ucapkannya hilang karena kini ia harus mengambil peran sebagai 'Kakak'.
Poni rambut Rias ia singkap kesamping telinga. Lelehan air mata dari iris Blue-green Rias dia usap. "Memang ini paksaan jika diartikan demikian. Namun percayalah bahwa Ayah dan Kakakmu selalu memberi yang terbaik untukmu... Aku merasa heran bagaimana kau bisa jatuh cinta sampai membuatmu bersedih separah ini karenanya..."
Yang ditanya masih diam dengan tatapan kosong. Matanya sedikit terbuka ketika Grayfia memeluknya.
"Maafkan aku jika menyinggungg tentangnya sekarang. Bukankah aku juga berperan penting dalam hidupmu sebagai seorang Kakak ipar bukan?" Pelukannya telah dilepas tergantikan sebuah senyuman tulus dari Grayfia.
"Grayfia-Neesama..."
"Sebaiknya aku kembali ke Underworld. Tugasku sebagai kepala Maid tak bisa di tunda lagi..." Grayfia melangkah mundur diikuti lingkaran sihir berwarna putih muncul dikakinya.
"Aku lupa menyampaikan sesuatu..." Tubuh yang hampir seluruhnya hilang ditelan lingkaran sihir kini kembali namun sinar dari sihir menerangi tubuhnya.
"Riser-sama dan seluruh Peeragenya akan berkunjung ke Klub anda besok. Kuharap anda meyambutnya dengan baik..." Kini tubuhnya kembali tertelan kedalam lingkaran dan menghilang.
.
.
.
Stab! Stab! Stab!
Kunai-kunai yang dilempar Yune mengenai batang pohon yang diberi sasaran tepat menancap di tengah lingkaran. Kedua tangannya merogoh sebuah kantung berukuran sedang di belakang punggungnya. Tangannya sudah terisi enam Kunai yang berada di jepitan jari.
Wush.
Stab! Stab! Stab! Stab!
Dengan loncat sambil menyalto tubuhnya, diudara Kunai kembali di luncurkannya ke sasaran yang belum terkena. Wajahnya hanya datar ketika kedua bola mata Dark Aqua miliknya memutar melihat semua sasaran sudah tertancap Kunai.
Helaan nafas dikeluarkannya sambil berjalan menuju Naruto yang dibelakangnya.
"Aku bosan melempar Kunai...".
Kepala Naruto menoleh. "Bosan? Jadi kau sudah bosan menjadi Ninja?".
Gumaman keluar dari mulut Yune setelah mendudukan pantatnya di rerumputan. "Bukan itu bodoh. Aku bosan melempar Kunai yang hanya mengenai pohon. Setidaknya ada lawan sungguhan yang bisa menjadi penggantinya".
"Masa bodohlah dengan ucapanmu..." Sebuah Novel cukup tebal yang berada di pangkuan dibacanya.
"Naruto..." Baru saja ia membaca puluhan kata di Novel. Dengan pelan ia menoleh.
"Menurutku, kau memang sudah keterlaluan..." Perkataan Yune kini cukup membuatnya menunduk. "Dari yang kudengar tadi, saat baru bertemu dengannya kau tidak mengenali dirinya..."
"Apa salah jika aku memang tidak benar-benar mengenalinya sekarang?".
"Aku tahu itu. Tapi aku rasa kau lebih baik menemuinya dan menjelaskan ini..." Kini Yune mendudukan dirinya disebelah Naruto.
"Apa kau masih mencintainya?"
"Aku tidak tahu..."
"Apa kau yakin dengan ucapanmu? Aku tahu isi hatimu yang sesungguhnya. Namun karena pemikiranmu yang salah membuat kau mengubur rasa itu..."
"Yah memang aku mencintainya. Sejak aku pertama kali melihatnya saat Junior High School..." Entah ia tak bisa mengelak lagi akan yang diucapkan Yune.
"Aku beritahu kau..." Yune berdiri.
"Buang jauh-jauh pemikiran bodoh dan konyolmu itu! Sebagai teman, aku tidak setuju dengan idealismu yang menganggap kita lebih rendah dari Iblis. Dan juga, aku bingung kenapa kau bisa-bisa berpikiran seperti itu. Apa kau sudah gila?'.
Naruto menaruh kedua tangannya dikening. "Aku baru sadar akan sesuatu".
"Sadar?"
"Umur kita sebagai manusia terlampau pendek. Sedangkan yang kutahu Iblis memiliki umur lebih dari ratusan tahun". Naruto mendongak kehadapan langit malam.
"Aku tidak ingin membuatnya sedih. Suatu saat nanti pada akhirnya aku juga akan merasakan kematian. Lebih baik begini daripada dia sudah terlalu dalam mencintaiku. yah mungkin dia bisa dengan cepat merelakanku, tapi kalau tidak? Aku sungguh mencintainya, dan aku tak ingin dia sedih karenaku".
Perkataan Naruto membuat Yune diam. Ternyata Naruto berfikiran lebih luas dari yang dianggap Yune. Sebenarnya ia juga sedih karena percintaan sahabatnya terpisahkan oleh ras yang berbeda jauh.
"Jadi kau mengaitkan ini dengan Iblis lebih tinggi kastanya dibanding manusia? Kau tahu, Aku ingin tertawa mendengar ini dan mengucapkan betapa tololnya dirimu menyambungkan hal itu dengan kasta..." Ucapan sedikit kasar dari Yune hanya dibalas gumaman.
Soal berbeda ras, sebuah ingatan muncul diotaknya.
"Naruto, apa kau ingat definisi cinta yang Jiraiya-sensei katakan pada kita?"
"Definisi cinta?" Kata-kata Jiraiya yah? Kalau tidak salah...
'Cinta sejati berasal dari Inti Hati yang penuh kasih menantang semua alasan rasional yang menjadi penghalang cerita penuh kasih sayang. Cinta tidak dirasakan melalui penglihatan, itu dirasakaan melalui hati. Tidak peduli jika kedua insan berbeda dunia, tapi percayalah cinta itu hal yang indah'.
"Aku mengerti tentang itu tapi—".
"Tapi apa? Jika kau terus melakukannya. Aku yakin dia akan lebih sedih jika orang yang dicintainya mencoba melupakannya dengan mengacuhkannya daripada mati karena umur!".
Kali ini Naruto yang diam. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Membalas cinta Rias atau melanjutkan kebodohannya?
Rambut pirangnya diremas untuk menyalurkan rasa kekesalannya atas pilihan yang menurutnya membingungkan.
Mereka saling mencinta. Naruto mencintai Rias, Rias mencintai Naruto. Dan semua rasa tentang Rias terwakili dengan dirinya menjadi temannya. Dari awal memang ia hanya ingin berteman, namun semua berubah ketika ia melihat senyuman dari sang gadis merah Crimson.
Lalu apa yang ditunggunya? Sampai ia benar-benar berumur panjang yang diharapkannya?
"Apakah memang aku sudah salah?" Tanya Naruto.
"Tidak bertanya pun kau sudah benar-benar salah, yah lebih tepat pemikiran bodoh dan gilamu. Namun semua belum terlambat. Wanita yang kau cintai sepertinya ingin kau datang padanya. Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan sekarang".
Naruto tak menjawabnya. Dengan cepat ia mengangkat kepalanya yang tertunduk dan langsung berdiri. Sebuah jaket berwarna hitam berhoodie yang terbengkalai di rerumputan karena tak dipakai diambilnya dan memakainya.
"Jaga rumah jika kau sudah pulang..." Setelah ucapan itu. Naruto meloncat dan berjalan diantara pohon dengan kecepatan khas Ninja tanpa suara sama sekali.
.
.
.
Gadis Iblis dengan rambut merah Crimson duduk menyendiri di sebuah ayunan yang terikat disebuah pohon dekat taman kota Kuoh. Kaus berwarna putih dengan cardigan berwarna hitam menjadi pakaiannya di malam yang cukup dingin..
Rok mini longgar selututnya sedikit bergerak kala kakinya mengayun-ayun. Air mata sudah mengering di kedua pipinya sekarang ini, dirinya sudah lelah menangisi tentang Naruto.
Iris Blue-greennya terpampang kekosongan tanpa cahaya menyebabkan kini mata yang indah itu tak bercahaya. Kecantikan Iblis ini masih terpancar walaupun hati dan pikirannya sedang hancur memikirkan seseorang.
'Apakah Naruto-kun memang tidak mencintaiku?' Yang selalu ada dipikirannya sekarang.
Dirinya memang salah tentang perasaan Naruto padanya. Penungguannya selama hampir 5 tahun menjadi sia-sia belaka ketika melihat Naruto seperti melupakan tentang semua yang dilakukan mereka berdua. Menyadarkannya akan sesuatu, Naruto bukanlah orang terpenting lagi dihidupnya sekarang.
"Naruto-kun... Aku memang salah tentang dirimu..." Gumamnya dengan wajah yang menunduk.
Sedari tadi ia mencoba mengenyahkan pikiran dari Naruto namun kata itu selalu terucap dibibirnya yang tidak bisa dikontrolnya. Tangannya yang semula memegang tali ayunan berubah tempat kearah roknya yang di remas dengan kencang.
Baru saja ia ingin bergumam lagi. Sebuah jaket hitam menutupi punggunggnya membuat badannya kaget dan terkejut.
"Apa yang kau lakukan malam-malam sendirian disini? Nanti kalau badanmu kedinginan seperti ini dan sakit bagaimana?" Suara ini. Yang baru ingin dilupakannya.
Dengan cepat ia menoleh kebelakang. Laki-laki dengan rambut pirang dengan poni panjang tersenyum kearahnya.
Sukses matanya membulat dan berkaca-kaca melihat itu.
"N-Naruto-kun".
.
.
.
.
.
.
To be Continued!
A\N: Halo! masih dengan saya si Psikopat! Maaf soal keterlambatan upfate fic ini. Inipun saya memanfaatkan waktu kosong dari tugas sekolah untuk mengupdatenya agar para reader sekalian tak kecewa.
Mengecewakan kan chapter ini? Kalo iya saya minta maaf karena sebagian tulisan diatas ditulis dengan hp. Sekali lagi saya minta maaf!
Kalo ada yang bertanya tentang elemen jutsu mereka berdua,
Naruto: Katon, Fuuton, dan Doton
Yune: Raiton, Suiton, dan Doton.
Berlebihan? Saya rasa tidak.
Oke saya pamit!
Psychocross out!
