Disclaimer
Semua yang ada disini milik Masashi Kishimoto dan Ichiei Ishibumi yang dikemas oleh imajinasi gila saya.
Rated: M
Genre: Adventure, Romance, Humor and many more.
Peringatan: OOC, Typo, Mainstream, Humor dipaksakan dan kawan-kawan.
Chapter 6.
Apologize.
Berhembus kembali angin malam menerpa wajah dan menerbangkan kembali rambutnya. Tak peduli dinginnya malam yang menusuk badannya, menentang rasa dingin itu dengan berlari diantara atap-atap rumah yang dipijaki kakinya. Jaketnya yang sengaja tidak ia kaitkan berkibar karena laju badannya yang cepat.
Iblis jelita dengan rambut semerah darah tujuannya sekarang. Ingin bertemu dengannya untuk mencoba meminta maaf dan membalas cinta Iblis yang tulus dibalasnya dengan mencoba berpura-pura lupa. Kedengarannya bodoh bukan? Sampai-sampai Yune membentak dengan nada kasar karena tindakan idiot Uzumaki.
Setidaknya jika ia menolak rasa cinta itu, bukankah bisa dengan berbicara baik-baik? Tapi bukan karena itu. Karena perbedaan yang sangat jauh diantara mereka, Naruto manusia sedangkan Rias Iblis. Perbedaan itu yang mensugestikan Naruto akan melakukan hal bodoh saat istirahat tadi. Sugesti itu tiba-tiba saja lenyap ketika sebuah perasaan yang sudah lama tidak muncul di hatinya hadir kembali.
Ketika ia juga merasa jatuh hati pada Rias.
Kemudian inilah yang dilakukan selanjutnya atas kebodohannya. Menemui gadis kecil yang sudah menjadi remaja dengan tujuan yang pasti.
Melompat dengan tinggi dan diakhiri dengan mendaratkan sempurna kakinya ketika merasa sudah sampai tujuan. Namun ada kejanggalan saat memandang lokasi yang ia pandang.
Kosong.
Naruto ketahui ada sebuah Mansion mewah berdiri kokoh disini, tapi sekarang hanyalah tanah lapang kosong dengan ilalang. Dadanya naik turun mengatur nafas untuk paru-parunya yang sudah tidak kuat menahan nafas saat berlari. Matanya kembali menajam memastikan bahwa pandangannya asli dengan melihat sekitar.
Pertanyaan langsung timbul dibenaknya. "Jadi... Rias sudah tidak disini lagi?".
Putus asa langsung memenuhi hatinya. Ekpresinya berubah menjadi datar dengan mata yang tertutup poni rambut pirangnya. Tangannya mengepal dengan erat diikuti giginya yang bergemeretak. Tapi ia merilekskan kembali tangannya, sebuah gerakan tangan yang biasa ia sebuh Handseal sudah terbentuk.
"Kagebunshin".
Asap memenuhi Naruto sampai tak terlihat akibat tebalnya. Sedikit demi sedikit asap menghilang, digantikan berbagai orang yang sangat mirip dengannya yang berjumlah 10 lebih. Sangat mirip sampai ekspresi mereka pun sama-sama datar.
"Aku minta tolong kepada kalian, meskipun terdengar mustahil tapi aku yakin dia masih ada disini...".
Mereka mengangguk, dan langsung meloncat memencar menuju arah yang saling berlawanan. Meninggalkan Naruto yang asli sedang duduk dibawah tanah beralaskan rumput. Menghiraukan celananya yang kotor terkena tanah dan lebih memilih diam. Hanya bisa menunggu para Bunshin yang berpencar mencari Rias.
Harus percaya diri, tidak boleh menyerah apa yang sudah dilakukan. Naruto tidak tahu, hanya jarak memisahkan mereka berdua saat ini. Tidak akan lama pasti salah satu Bunshin menemukan Rias.
.
.
.
.
"Ini kamar Rias? Kenapa di sekolah?"
Ketika kakinya memasuki ruangan dari ingatan Bunshin yang memberitahu tempat ini, lari dan melesat kembali langsung Naruto tanpa banyak berpikir. Tidak menyangka bahwa Bunshinnya menemukan tempat yang juga diketahui kamar Rias apalagi ini di sekolah, Naruto benar-benar tidak tahu jika Rias mungkin tinggal disini.
Masih tidak percaya Naruto jika ini milik Rias. Tapi kesampingkan itu sebentar.
Sebagian besar warna berdominasi merah muda dan merah darah menyambut matanya. Kesan arsitektur mewah desain Eropa sangat kental di ruangan ini. Sampai-sampai ia sedikit terkagum sampai berjalan menuju tengah ruangan agar lebih detil melihat-lihat. Aroma khas mawar menyambut hidungnya, membuat sebuah senyuman simpul di bibir Naruto.
Beralih pada ranjang besar berukuran Queen Size disampingnya. Sprei yang senada dengan ruangan juga memberikan kemewahan akan ranjang sebenarnya tuan putri. Tapi tiba-tiba matanya langsung fokus akan objek yang ada diatas sprei tersebut.
"Pakaian dalam?" Ucapnya sambil menyipitkan matanya. Berapa kalipun ia memandang aneh objek itu, matanya tidak rabun dan masih normal memastikan yang dilihatnya adalah sepasang pakaian dalam wanita.
"Hmm... Pertumbuhan pada asetnya sangat meningkat pesat... Cukup, apa yang kuucapkan tadi? Tidak sopan..." Sewajarnya laki-laki seperti Naruto pasti akan berpikir kesana-sana (atau bahasa kasarnya: jorok) melihat salah satu hal penting pada busana seorang wanita, apalagi saat melihat besarnya err yang menampung benda suci wanita. Bukankah hal itu normal dan tidak terlalu berlebihan memandangnya.
Daripada ia menjadi kurang ajar menatap lama pakaian dalam milik Rias, figura foto di nakas memancingnya berjalan mendekat. Dengan sakunya yang ditaruh di kantung celana, memandang figura berisi foto seorang bocah laki-laki berambut pirang jabrik tertawa konyol bersama gadis seumurannya yang tersenyum manis kearah kamera. Siapapun yang melihatnya pasti akan senang melihat bahagianya mereka berdua.
"Memori yang sungguh indah. Melihat bagaimana Rias sangat lucu saat itu..."
Menaruh kembali figura pada tempatnya saat sudah puas melihatnya. Naruto terdiam berdiri disana, mencoba mengingat tujuannya yang sedikit terlupa. Badannya berbalik cepat dan menyadari bahwa Rias tidak ada juga disini. Jadi dimana Rias?
Baru saja Naruto mau berjalan, kepalanya sedikit tersentak saat sebuah ingatan Bunshin kembali mengisi pikirannya. Informasi yang membuat ia terdiam dengan mata yang melebar. Berjalan cepat menuju kembali pada jendela yang ia masuki. Dan langsung meloncat menuju Rias yang sedang... Menangis.
.
.
.
"Apa yang kau lakukan malam-malam sendirian disini? Nanti kalau tubuhmu kedingian dan sakit bagaimana?".
Tersentak tubuhnya, ketika merasa seseorang berbicara sambil menyelimutinya dengan jaket. Tangisannya berhenti dan bergerak cepat membalikan badannya. Langsung matanya kaget melihat orang yang di pikirkannya sudah berada disini.
"N-Naruto..."
Namun dengan cepat Rias membalikan badannya kembali kedepan dan mengacuhkan Naruto. Membuat senyuman Naruto menghilang. Kaki Naruto berjalan menuju depan Rias agar langsung melihat wajahnya. Wajah yang tertutup surai panjang merah itu entah membuat Naruto tidak tega
"Mau apa kau disini?" Tubuhnya sedikit tersentak mendengar nada dingin Rias.
"Maafkan aku..."
"Maaf? Kenapa kau minta maaf? Memang kau bersalah?"
Ucapan Rias membuatnya sedikit bingung. "Apa?"
"Aku yang salah. Karena aku mencintai orang yang sepertinya tidak tepat..." Rias berdiri dari ayunan dengan wajah terangkat yang sedang tersenyum palsu. "Ini bukan salahmu. Ini salahku karena mencintaimu yang jelas-jelas kau tidak mencintaiku. Benarkan Naruto?"
"Salah. Kau memang salah..."
"Iya kan benar—".
"Anggapanmu salah. Aku memang mencintaimu..." Sebuah dinding yang meneguhkan bahwa tidak mencintai Naruto langsung hancur mendengar kata yang manis di telinganya. Memicu kembali air mata yang ditahannya.
"M-mencintaiku? Oh ayolah jangan bercanda..." Rias tertawa hambar. Mentertawai perkataan yang membuat emosinya campur aduk.
Seketika mata Naruto memandang Rias dengan sedih saat melihat wajah didepannya yang berpura-pura tegar didepanya. "Rias..."
"Kau tidak mencintaiku kan Naruto?"
Ingin membalas dan mengatakan bahwa itu tidak benar, tapi kini mulutnya tak bisa berkata apa-apa lagi. Berbicara tidak berhasil, kini kakinya melangkah mendekati Rias dengan tangan kanannya yang teracung kepada Rias. Mungkin memeluk tubuh wanita yang sedang terguncang akan membuatnha tenang.
Plak!
Tersentak kembali karena tangannya ditolak dengan kasar oleh Rias. "Kau tidak mencintaiku kan?" Nada sama yang diulang Rias menjadi membuatnya muak mendemgarnya.
Dengan keberanian, ia memegang pundak Rias. "Rias! Lihat aku!".
"Kau tidak mencintai—".
"Hentikan! Sudah cukup!" Teriak Naruto yang akhirnya membuat Rias diam. "Aku mencintaimu! Sungguh mencintaimu! Aku minta maaf karena meninggalkan dan mencoba melupakanmu! Kumohon jangan mengucapkan kata itu lagi!" Ucap Naruto tepat diwajah Rias yang kaget.
"Kau bohong! Bohong!" Rias mendorong kasar tubuh Naruto dengan tenaganya. Tangan kanannya mencoba menahan isakan yang sepertinya akan kembali keluar di mulutnya.
"Kau tidak mencintaiku! Tidak mencintaiku! Aku salah!" Teriakan parau Rias kembali membuat Naruto membeku kembali Matanya yang semula menatap kakinya menjadi melebar dengan cepat menatap Rias yang dikelilingi Lingkaran Sihir.
"Rias!".
"Jangan kejar aku!" Tubuh Rias sudah sempurna tertelan Lingkaran Sihir menuju tempat yang tidak diketahuinya.
Tangannya baru saja ingin memegang Rias, namun hanya bisa memegang angin ketika lingkaran sihir itu lebih cepat darinya. Membuat tangan yang hampa itu terkepal erat sampai membuat tulang-tulang jemarinya berbunyi. Lagi, sebuah Handseal terbentuk dijarinya.
"Kagebunshin!"
Asap muncul. Kembali memunculkan orang yang sangat mirip tapi kali ini jumlahnya sedikit lebih banyak. Tanpa aba-aba mereka termasuk Naruto asli berpencar mencari Rias yang pergi. Tujuan Rias tentu saja Naruto tidak tahu. Mungkin cara ini berhasil kembali mencari Rias, semoga saja...
.
.
.
.
Tidak jauh dari lokasi taman, didepan sebuah bangunan tidak terpakai sebuah lingkaran Sihir muncul di antara tanah lapang disana. Memunculkan Iblis berambut merah berwajah cantik namun kedataran mendatangi mimik ekspresi wajah. Kepalanya menoleh kanan dan kiri bergantian untuk melihat suasana sekitar. Wajahnya sedikit mengeras karena baru menyadarinya...
'Sial... Kenapa malah berteleport kesini?'
Mengapa demikian? Sebelum kabur dari Naruto, ia tidak memikirkan tujuannya. Yang jelas ia bisa menjauh dari Naruto. Namun apa daya? Ini merupakan kesalahan yang cukup fatal baginya karena bisa dibilang... Ini adalah sarang Stray Devil. Dapat ia rasakan aura-aura Stray Devil yang kuat disini.
Krieeet!
Suara seperti benda yang diseret terdengar disamping kanannya.
Sraak Drak!
Kali ini diarah kiri terdengar benda yang cukup berat dihantamkan di lantai.
Dalam kegelapan, ada banyak pasang mata kuning yang berada dikegelapan menatap tajam kearahnya seperti mengintimidasi. Merasa situasi sudah semakin gawat, Rias memasang kuda-kuda siaga sambil kembali menatap sekitar.
"Mangsa!"
"Ada Iblis tersasar!"
"Ah... Kurasa Iblis kecil ini dari Gremory!"
"Gremory?"
"Tubuhnya molek! Aku rasa aku ingin menyetubuhinya!"
"Ghahaha!"
Suara berat yang bergantian menyahut disekitar bersamaan munculnya 15 Stray Devil dengan berbagai bentuk tubuh yang mengerikan. Masing-masing ditangan mereka tergenggam kapak dan palu besar yang terlihat ada bercak darah menempel di sana. Menambah mencekam situasi yang membuat siapapun akan terkencing-kencing.
Ini mungkin hari sial atau hari tersial dalam hidupnya menjadi Iblis yang berusaha melawan para Stray Devil sendirian. Memikirkan hal ini membuat tubuhnya sedikit gemetar, rasanya ia akan jatuh dan pingsan. Ia berharap ini mimpi, tapi jika dipikir-pikir... Ini kenyataan. Ini mengingatkannya pada sebuah memori yang menurutnya cukup indah.
Seorang anak kecil seumurannya dengan Sacred Gear menolongnya dengan gagah dari Malaikat Jatuh. Andai saja ini terjadi lagi... Merasakan bagaimana seorang wanita biasa yang jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidup.
Namun, menurutnya orang yang dicintainya salah. Rias sangat senang saat mendengar bahwa Naruto kembali ke Jepang dan bersekolah di Kuoh. Perasaannya kini tertutup saat Naruto seperti 'sengaja' tidak mengenalinya. Membawa kesedihan datang kembali di hari-harinya seperti penungguan tidak berarti.
"Aieeh!".
Salah satu Stray Devil yang terdekat dari Rias berlari dengan palu yang terangkat tinggi diatas kepala. Gerakan itu tentu saja sangat mudah dibaca Rias. Tubuhnya yang semula gemetar melompat kebelakang untuk menghindari palu yang hampir mengenainya. Dengan cepat tangannya menciptakan Lingkaran Sihir untuk Power of Destruction.
Spark!
Stray Devil itu langsung musnah terkena Power of Destruction.
"Jangan senang dulu!".
"Argh!" Sepertinya Rias lengah. Akibat terlalu fokus dengan didepan hingga tak menyadari sebuah tendangan bertenaga dari Stray Devil yang entah muncul dibelakangnya mengenai punggungnya dengan cukup keras sampai ia terpelanting.
"Rasakan ini!".
Meringis yang dirasakan, ketika pipinya yang tidak terlindung terkena. Membuat tubuhnya yang melayang kedepan sampai terjatuh kebelakang. Tertawaan dari para Stray Devil menggema seakan senang melihat keadaan Rias.
Susah payah Rias berdiri dengan tangan memegang pipinya yang lebam. Membungkuk yang dilakukan karena saat ia menegakkan tubuhnya terasa sakit. Mungkin tulangnya dislokasi atau lebih parahnya patah. Mata Blue-Greennya menatap sekitar ketika Stray Devil sudah mengepungnya dari segala arah. Membuat ia meremas pakaiannya dengan tangan kiri.
"Apa hanya ini kemampuanmu Gremory kecil?"
Salah satu dari mereka kembali berbicara. Namun saat ia ingin menembakan kembali Power of Destruction, punggungnya kembali sakit saat tinju dari Iblis itu menyerangnya lagi. Mau tidak mau membuatnya menjerit ketika merasa punggungnya benar-benar patah.
Para Stray Devil memanfaatkan kesempatan ini. Secara bergantian mereka memukul wajah, badan dan kaki Rias di depan dan belakang dengan cara berlari. Tertawaan kembali terdengar melihat lawannya benar-benar sudah tidak berdaya. Merasa cukup dengan tangan kosong, tangan mereka kini di persenjatai oleh berbagai macam tongkat dan kapak.
"Mana anggota keluargamu hah? Kau benar-benar sangat lemah tanpa mereka!".
Apakah ia selemah ini? Selemah ini tanpa Peeragenya? Padahal ia adalah King dari Peeragenya. Tanpa Akeno, Kiba, Koneko, Issei dan Asia yang menyembuhkan lukanya. Sangat lemah, padahal ia sudah berlatih dengan sempurna hingga berhasil menguasai kekuatan khas Klan Bael. Kekalahannya ini nampaknya menunjukan latihannya ternyata masih kurang.
Akhirnya setelah cukup lama ia terbaring, tubuhnya berdiri dengan goyah. Darah mengucur di mulutnya akibat kerasnya benturan di pipinya. Punggungnya seperti remuk total saat ia mencoba menegakkan tubuh. Pandangannya sayu menatap Stray Devil yang kini didepannya. Pandangannya kabur karena darah dari keningnya mengalir hingga matanya.
"Siap mati Gremory?".
Perlahan kapak yang berada ditangan Stray Devil semakin tinggi diangkat. Dirasa cukup, Stray Devil itu melayangkannya pada Rias. Hanya diam yang dilakukan Rias sekarang. Mungkin ini adalah akhir hidupnya... Mati dibunuh Stray Devil.
Waktu seakan melambat ketika kapak hampir mengenai kepalanya. Hanya satu dipikirannya...
'Maafkan aku... Naruto'.
Memeluk badannya sendiri untuk mengurangi rasa sakit yang akan diterima kembali tubuhnya. Percuma, melihat besarnya kapak itu mungkin Rias akan langsung terbelah. Menutup matanya juga karena tidak sanggup melihat tubuhnya hancur. Air mata kembalu mengalir di pipinya yang lebam untuk menangis yang terakhir kalinya.
"Aku memang tidak berguna..."
Sssh
Syaat!
Traaank!
Terasa ringan, diikuti rambut Crimson Heiress Gremory melambai terkena angin. Sebuah tangan memeluk erat perutnya sehingga ia ikut melayang akibat pemilik tangan yang melompat. Kapak yang hampir membelah kepalanya dapat dilihat tertahan sebuah tombak dengan 3 mata berwarna emas menyebabkan sebuah gesekan terjadi. Berputar-putar sesaat sebelum kaki orang itu terseret untuk menahan laju tubuh.
"N-Naru?".
"..."
Matanya melebar terbelalak ketika melihat penolongnya. Wajah menawan dengan sebuah kumis kucing menjadi perhatiannya. Mata Sapphire indah tertutup poni rambut pirang yang panjang mengakibatkan ia tidak bisa melihat tatapannya. Tangan kanannya yang memegang Sacred Gear andalan tertancap ke lantai untuk menopang tubuhnya yang berjongkok.
Ini Naruto...
Air mata yang keluar dari kelopaknya semakin deras ketika kesadaran sudah menguasai. Diikuti sesenggukan yang terdengar jelas. "M-maaf...".
"Tunggu disini..." Naruto menaruh tubuh Rias dilantai selembut mungkin agar tidak menyakiti tubuh Rias. Kini ia berdiri kokoh, dengan aura merah terang menyelimuti tangan kirinya. Pedang hitam berkilauan sudah tergenggam menemani sebuah Trisula yang ditangan satunya. Dengan kecepatan berlari ala Ninja Naruto melesat menuju para Stray Devil yang terdiam.
"Jadi kau ingin mati huh!" Stray Devil yang menyerang Rias melesat dengan kapaknya yang diayunkan dengan tidak beraturan.
Didekatinya Trisula menuju wajah Naruto yang kini serius. Sedangkan Pedangnya ditaruh sekitar perutnya. Kebingungan terlihat di wajah Stray Devil akan perbuatan yang dilakukan Naruto, malah ia menambah kecepatannya.
"Ughyah...!"
Straaank!
Kapak itu tertahan oleh jepitan Trisula dan Pedang Naruto! Sang Stray Devil tidak menyangka bahwa senjatanya akan ditahan seperti ini oleh manusia seperti Naruto. Namun yang membuat gemetar saat wajahnya hanya berjarak 3 senti dari ujung bilah tajam Pedang hitam yang menahan senjatanya.
[Surculus]
Matanya melotot saat sinar merah terang mencolok menyelimuti Pedang yang berada tepat di hidungnya. "APA YANG KAU LAKUKAN SIAL—".
Srink! JRASH!
Tembakan energi dari bilah pedang Sacred Gear Naruto berhasil membungkam perkataan kasar untuknya karena kepala Stray Devil didepannya sudah hancur meninggalkan seonggok tubuh. Naruto menendang menyamping dengan kencang untuk membuang seonggok tubuh musuhnya yang saat terpental berubah menjadi abu.
Trisulanya diangkat tinggi-tinggi keatas mengumpulkan energi hijau yang menyelimuti Trisulanya. "Mati membeku atau mati terbelah?".
Para Stray Devil yang tersisa disana saling menatap satu sama lain atas ucapan Naruto. Malah ada 5 Stray Devil yang melesat kembali menuju Naruto seperti tidak memperdulikan ucapan Naruto. Yang dibalas Naruto dengan menambah energi yang dikumpulkan. Mereka masih berlari ketika Naruto menurunkan Trisulanya yang sudah bercahaya terang seperti sudah saatnya untuk...
[Diamond Dust!]
Sebuah pusaran kecil berputar cepat di pusat Trisula. Sebuah ledakan dari pusaran tersebut menimbulkan angin kencang dengan berlian-berlian es menembak dalam volume besar menuju para Stray Devil.
Menyadari kebodohan mereka, percuma. Karena berlian-berlian es sudah membuat tubuh mereka sulit digerakkan karena sudah membeku. Tapi tiba-tiba berlian es itu menjadi tombak es kecil yang runcing mengakibatkan mereka yang membeku perlahan-lahan hancur.
Setelah mereda hanya kesunyian mengisi tempat ini. Para Stray Devil tersisa hanya diam saja melihat teman mereka dengan mudahnya dikalahkan oleh manusia yang tiba-tiba saja muncul mengganggu kesenangan mereka.
"Jadi kau kuat juga yah?" Salah satu Stray Devil yang menyerupai serigala dengan lengan kanannya yang sangat besar merengsek kedepan. Seperti menantang Naruto dengan langsung.
"...".
"Diam saja? Baiklah!".
.
Rias hanya bisa diam melihat semua. Tubuhnya sangat sakit digerakkan akibat luka yang dialaminya. Wajahnya terkesan tak berkespresi melihat apa yang didepan matanya langsung. Saat Naruto melawan para Stray Devil sendirian dengan cara yang mengagetkan menurutnya. Meskipun berulang kali Naruto dikeroyok mereka, tapi itu bukan beban saat ledakan energi hijau dan merah menerangi kegelapan.
Hanya raut ekspresi dingin ditunjukan ketika ia menghabisi satu-persatu Stray Devil yang kehilangan anggota badan mereka. Didengarnya lagi hujaman benda tajam yang menancap di bagian tubuh, diikuti jeritan kesakitan lawannya yang meremehkannya.
Karena terlalu lama melamun, ia tidak melihat Naruto yang sudah menghabisi lawannya yang terakhir dengan sedikit sulit. Darah mengucur di bahunya karena lengah sehingga tidak menyadari bahunya. Tapi ia menghiraukannya dan memilih mendekati Rias yang sepertinya masih shock.
"N-Naruto..." Lirihnya saat baru menyadari Naruto berdiri didepannya terengah-engah. Sepertinya ia tidak mampu melihat wajah Naruto langsung dan langsung menunduk. "Hiks...".
"Aku minta maaf..." Menyamai tinggi Rias dengan menunduk, dan mengelus perlahan rambut merah Rias dengan tersenyum. "Kau sudah aman sekarang. Jangan menangis lagi oke?".
Mengangguk lemah untuk mengiyakan. Mengangkat kepalanya dan memandang balik kearah Naruto yang masih tersenyum. Sebuah pukulan pelan dari Rias sekarang mengenai dada Naruto.
"Baka!"
"Hei! Sakit!"
Pukulan Rias melemah, hingga pukulan itu terhenti juga berbarengan dengan tangisan Rias yang reda. "Kumohon jangan pergi lagi... Aku mencintaimu, lebih dari hidupku..."
"Aku tidak akan pergi lagi... Karena aku juga mencintaimu... Rias Gremory".
Rias mengangkat wajahnya, untuk melihat wajah Naruto. "S-sebelum kejadian ini aku—".
"Tidak tidak... Itu bukan salahmu" Naruto mengusap rambut Rias dengan lembut. "Ini juga akibat yang aku perbuat padamu..." Sebuah cengiran khas dirinya kini dikeluarkannya membuat wajah Rias sedikit bersemu merah.
Cengiran itu berakhir ketika ia melihat tubuh Rias dari atas sampai bawah. "Apa kau bisa berdiri?".
Dengan susah payah Rias berdiri, namun tubuhnya seperti remuk tanpa tenaga karena sakit menyebar diseluruh tubuhnya. Membuatnya memekik dan terisak. "Hiks... S-sakit" Matanya sedikit mengabur dan menghitam diikuti tubuhnya yang ambruk.
"Rias!" Naruto sigap memegang tubuh Rias yang jatuh. Tangannya mencoba merasakan nadi yang berada dileher Rias. "Hanya pingsan..." Matanya terpejam sebentar seperti berfikir, kemudian dibukanya lagi dengan sorot mata yang sedih.
Ditaruhnya tubuh Rias di lantai dengan perlahan. Kemudian memundurkan dirinya untuk menjauhkan jaraknya dari Rias berniat melakukan sesuatu yang ingin dilakukan. Trisulanya yang dibiarkan tergeletak di ambilnya dan menghunuskan ketubuh Rias.
[Freezing Universe]
Aliran salju menguar di ujung Trisulan dan langsung menuju tubuh Rias yang masih pingsan. Mulai dari kaki, badan, tangan dan kepala terselimuti es yang semakin menebal. Bertambah tebal dan terus menebal hingga seluruh tubuh Rias sudah sepenuhnya terkurung dalam aliran salju yang berubah menjadi Ice Coffin setinggi 2 meter dihadapan Naruto.
Trisulanya di turunkan diikuti aliran salju yang memudar, dapat dilihat juga lengan kanan Naruto yang sobek akibat pertarungannya mulai terselimuti es perlahan-lahan membungkus. Dan saat tangannya yang beku tersebut sudah cukup tebal akibat es, darah yang mengucur perlahan mengering diikuti luka sobek yang sedikit demi sedikit tertutup seperti kembali seperti semula.
Crack Crack Crack
Pyaaar!
Es tersebut tiba-tiba retak dan pecah dengan sendirinya. Menyisakan lengannya yang tadinya berdarah menjadi seperti sebelum ia bertarung. Kakinya melangkah perlahan menuju Ice Coffin didepannya. Disentuhnya dengan lembut Ice Coffin tersebut, rasa hangat terasa di telapak tangannya akibat menyentuh Ice Coffin.
Ini bukan sembarang Ice Coffin atau balok es biasa, ini kemampuan Sacred Gearnya yang baru diketahuinya baru-baru ini. Bersifat menyembuhkan orang yang terkurung didalamnya secara perlahan karena Ice Coffin yang dibuatnya belumlah sempurna. Tidak dingin seperti halnya balok es namun hangat, tidak akan meleleh meskipun terkena suhu yang panas sekalipun. Karena Ice Coffin ini adalah kekuatan luar biasa Sacred Gearnya.
Matanya memandang Rias yang disana dengan sayu melihat luka lebam diwajah Rias yang semakin menipis akibat efek penyembuhan Ice Coffin. Khawatir akan berhasilkah caranya ini menyembuhkan Rias dikarenakan ia belum sepenuhnya paham tentang Ice Coffin buatannya.
Merasa sudah terlalu lama mengurung Rias disana, ia berinisiatif menghancurkan Ice Coffin dengan mundur dibelakang. Tangan kirinya sudah memegang bilah pedang Sacred Gearnya setelah sebelumnya memanggil dengan sedikit mengobarkan aura ditangan kiri. Diangkat tinggi-tinggi pedangnya diatas kepala.
Srink!
Srink!
Srink!
Blaaar!
Tiga tebasan vertical, menyerong, dan kesamping membuat Ice Coffin itu langsung hancur dan menimbulkan sebuah angin yang menghempaskan rambutnya. Kembali kakinya mendekat kesana dengan pelan dan senyuman kembali menghias dibibirnya. Diangkatnya tubuh Rias dengan Bridal Style yang membuat bola matanya menatap wajah Rias yang kini kembali menjadi cantik tanpa luka disana.
Dengan Shunshin yang dikuasainya, ia menghilang dengan cepat tanpa suara menyisakan daun yang jatuh akibat gravitasi.
.
.
.
Tangannya mengambil kursi di dekat meja dan menariknya menuju samping ranjang Queen Size di ruangan yang kini ia masuki. Dengan tangannya yang berada di paha untuk menopang tangannya yang mengepal di mulutnya, menatap wanita yang berada diatas ranjang dengan wajah yang datar tanpa emosi. Yang pasti, pikirannya kini hanya berfokus pada satu titik di depan matanya.
Jam dinding yang menunjukan pukul 2 pagi lebih dihiraukannya. Biasanya rasa kantuk akan membuat orang-orang menguap karena terjaga di jam ini, tapi tidak diwajah Naruto. Seperti tidak ada perubahan selama ia terjaga saat ini.
Helaan nafas berhembus di bibirnya ketika tangannya dirilekskan. Tangannya merogoh saku celananya untuk mencari sebuah benda yang biasa disebut ponsel. Menekan nomor-nomor yang berada di dial pad ponselnya lalu menempelkannya pada telinga kanannya.
'Moshi moshi... Siapapun ini, kau mengganggu tidurku...' Nada terkesan orang yang habis bangun menyapanya.
"Yune..."
'Naruto? Kemana saja kau?'
"Tadi ada sedikit masalah... Yah dan karena itu sekarang aku menelponmu pada jam ini".
'Masalah? Apa jangan-jangan kau memperkosa—'
"Endasmu! Kau kira aku sehina itu jadi laki-laki?" Ini, kadang-kadang Yune memang ingin di tendang karena bicara dengan seenak jidatnya.
'Siapa tahu saja kau laki-laki kurang ajar yang biasa aku lihat di anime genre H...'
"Terserahmu saja... Aku cuma ingin memberitahu bahwa aku mungkin tidak akan pulang...".
'Oh...'.
"...".
'...'
"Sudah? Itu saja?"
'Mau apalagi? Apa kau mau ciuman jarak jauh dariku?'.
Ctik!
Tombol merah diponselnya langsung ditekannya. "Aku menyesal menelponnya..." Ditaruhnya kembali ponselnya kedalam saku dan menyender ke kursi dengan tangan yang disilangkan. Kedua bola mata birunya kembali memandang kedepan.
Menatap kembali Rias yang badannya terselimut hingga lehernya, membuat wajahnya menjadi satu-satunya titik pandang Naruto. Merasa kurang puas memandang Rias dengan terduduk, kini Naruto berdiri dan berjalan sedikit menuju pinggir ranjang. Langsung saja, ada perasaan hangat didadanya memandang dengan jelas wajah Rias dari atas.
Dengan kulit yang putih dihias mahkota merah Crimson menjadikan Rias Gremory dimata Naruto begitu membuatnya terpesona sekarang. Mungkin ia tidak menyadari bahwa Rias secantik ini, itu dulu. Saat rambutnya diikat pony tail dan kacamata yang menghias matanya. Memberikan kesan imut dan menggemaskan pada Rias.
Sekarang? Gadis kecil itu menjelma menjadi remaja tinggi yang membuat siapapun jatuh hati melihatnya. Membuatnya merutuki kebodohan yang dilakukannya pada gadis kecil ini.
"Ketika kau sadar nanti... Memukulku kembali atau membenciku, aku tidak akan mundur untuk mencintaimu sekarang untuk mengganti kesalahanku..."
Tubuhnya berbalik badan. Ekspresi yang semula senang menjadi datar kembali, sambil memegang dadanya dan merasakan detakan jantungnya yang menurutnya aneh dan baru disadarinya saat berhadapan dengan para Stray Devil tadi.
Meremas bajunya sendiri saat mendengar kembali betapa pelan detak jantungnya.
.
.
.
.
.
Pagi-pagi sekali seperti biasa yang dilakukan Akeno untuk berangkat sekolah. Siswi dengan rambut hitam di ikat Ponytail menjadi ciri khasnya diantara siswa dan siswi di Kuoh Gakuen. Jangan lupa gaya bicaranya yang terkesan menggoda dan tawa yang aneh membuatnya menjadi Idola para siswi.
Senandung ceria masih terdengar darinya saat berada di koridor menuju ruangan Klub Penelitian Ilmu Gaib. Senyuman yang terkesan 'palsu' terpatri di bibirnya menemani senandung ceria. Ketika langkah kakinya sudah mencapai pintu ruangan masuk Klub, senandungnya sudah terhenti diikuti tangannya yang memegang kenop pintu.
Krieet.
Sepi.
Menjadi pandangan mata violetnya saat memasuki ruang tengah. Tidak lupa pintu kembali ditutupnya dengan pelan, berjalan menuju ruangan pribadi Rias. Kebiasaannya ketika ruang tengah sepi karena Rias pasti masih terlelap di dalam tidur.
"Rias~" Tanpa mengetuk ia membuka kenop pintu dengan senyuman kembali hadir. "Kukira sekarang saatnya—" Perkataannya yang berinisiatif membangunkan Rias tidak dilanjutkannya ketika ia baru menyadari sesuatu.
"Kau!" Wajahnya mengeras ketika matanya melihat orang yang kemarin berseteru dengannya sedang duduk dikursi dengan menopang dagu. Matanya menyipit saat orang itu menoleh kearahnya dengan tatapan datar namun berbeda dengan bola mata birunya yang menajam.
Pandangannya beralih menuju Rias yang terbaring diranjang. Kekesalan kembali dilihatnya ketika melihat pakaian yang semalam Rias kenakan sedikit kotor dengan jelas terlihat karena selimut itu kurang menutupi. "Apa yang kau lakukan kepada Rias?".
"Jawab aku Uzumaki!".
Merasa situasi yang tadinya tenang menjadi panas karena kedatangan Akeno, Naruto berdiri dari duduknya tanpa melepas pandangannya pada Akeno. "Aku menolongnya semalam...".
"Menolong? Apa aku salah dengar? Bukankah kau membenci Rias? Kau kira aku percaya pada perkataanmu?" Tatapan Naruto dibalasnya dengan tajam juga. "Yang jelas aku akan membunuhmu saat ini juga!" Aliran listrik sudah terlihat ditangan Akeno menandakan kilat yang akan diberinya kepada Naruto.
Naruto hanya memejamkan matanya, sambil berjalan mendekati Akeno. "Aku tidak akan melakukan itu jika jadi kau..." Kelopak matanya terbuka kembali untuk melihat lawan bicaranya.
Kilat mulai terdengar dengan nyaring pertanda Akeno akan menyerang. "Persetan!"
"H-hentikan Akeno!" Mendengar suara parau dari arah ranjang. Akeno terpaksa menghentikan serangannya.
"Rias!" Tanpa permisi, dengan sengaja ia menerobos tubuh Naruto didepannya. Segera ia duduk diranjang Queen Size itu sambil mencoba membantu Rias terduduk di ranjang. Erangan dari Rias memberitahu Akeno bahwa tubuh Rias kini sedang terluka parah. "Apa yang terjadi padamu? Apa semua karena orang bodoh ini?".
"J-justru dia yang membuatku tetap hidup sampai sekarang..." Rias menundukan wajahnya hingga menutup matanya. "K-karena dia juga. Aku dapat merasakan apa yang namanya di cintai...".
Kaget bukan kepalang melanda Akeno. Apa telinganya tidak salah dengar? Bukankah yang ia tahu jika Rias membenci Uzumaki? Ini benar-benar masalah yang sangat serius. Kepalanya menoleh kesamping untuk menatap Naruto yang berdiri disana.
"Beraninya kau... Kekuatan apa yang kau berikan kepada Rias hingga—".
"Akeno! Aku bilang hentikan!"
"T-tapi..."
"Baiklah Rias. Kurasa temanmu memang tidak suka padaku. Lebih baik aku pergi daripada merusak hubungan persahabatan kalian..." Tanpa merubah ekspresinya, Naruto berjalan menuju pintu keluar yang terbuka lebar.
"J-jangan pergi! N-Naruto! Akh!" Mencoba berdiri dari ranjangnya namun tubuh Rias oleng sebelum kakinya menumpu lantai mengakibatkan ia jatuh dengan bebas.
"Rias!" Refleks Akeno terduduk dibawah lantai untuk membantu temannya berdiri.
Langkah kaki Naruto berhenti sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan ini. Badannya dibalikan dengan cepat di ikuti perubahan pada mimik wajahnya. Mendekati mereka berdua, lalu menunduk untuk menyamakan tingginya dengan Rias yang terduduk dilantai setelah dibantu Akeno.
Sebuah kesedihan terpancar di matanya. "Maaf..."
Hanya kata itu yang terucap dibibirnya menatap langsung wajah Rias. Tangan kanannya mengelus rambut merah Rias.
Sebuah pelukan langsung dari Rias membuat ia sedikit kaget. Ditambah isakan yang terdengar ditelinganya saat Rias bersandar dibahunya. Mencoba menenangkan kembali Rias dengan membalas pelukannya, senyuman simpul terpatri di bibirnya.
Isakan sudah Rias hentikan dan mencoba menatap wajah Naruto. "J-jangan pergi lagi... Aku mohon".
"Aku tidak akan pergi... Karena aku mencintaimu" Senyuman simpul itu berubah menjadi cengiran konyol Naruto yang sudah jarang di tunjukkannya. Membuat wajah Rias sedikit memerah melihatnya.
Namun tubuhnya terasa lemas lagi, pandangannya kabur dan menggelap langsung. Tubuhnya yang ambruk langsung di pegang Naruto dengan sigap.
"Kondisinya masih belum stabil..." Naruto menggendong Rias dengan Bridal menuju ranjang kembali karena Rias kembali pingsan. Diselimutinya tubuh Rias dan memandang wajah ayu Rias dengan senyuman. Pandangannya teralih menuju Akeno yang sudah berdiri disampingnya. "Namamu Akeno?".
"Ya..."
"Aku tahu kau sangat membenciku... Tapi ini demi Rias juga. Aku minta tolong jaga Rias... Aku akan pulang dahulu untuk berganti baju dan sekolah... Kurasa saat istirahat aku akan mengecek kembali Rias..."
"...Baiklah" Punggung tegap Naruto menjadi ucapan sampai jumpa pada percakapan mereka yang kini sudah mulai tenang. Padahal tadi Akeno membentak Naruto dan mencoba membunuh Naruto, semua berubah ketika melihat perlakuan lembut Naruto hingga membuat Rias langsung diam.
Ternyata sikap Uzumaki cukup misterius di benaknya.
.
.
.
.
"Serius. Apa kau tidak mengantuk sama sekali?" Memberi gula pada cangkir teh yang baru di seduhnya. Yune lalu mencicipi sedikit teh yang dibuat.
"Tidak... Akhir-akhir ini kau aneh, kenapa kini kau sangat perhatian padaku?" Botol susu yang berada di samping Naruto digenggam lalu menuang isinya kedalam mangkuk yang berisi sereal. "Apa jangan-jangan sekarang kau menjadi homo?".
Yune tersedak saat meminum teh yang berada di cangkirnya. "Uhuk! Aku masih suka dengan payudara! Aku cuma merasa khawatir pada teman kuningku ini" Tatapnya tajam pada Naruto.
"Terserah..." Di sendokannya kembali sereal kedalam mulutnya guna untuk memberi bahan bakar untuknya beraktifitas nanti. Walaupun sarapan kali ini terkesan terlalu bocah karena memakan sereal, tapi yang penting ada makanan.
Matanya yang semula fokus pada mangkuknya kini kembali memandang kearah Yune yang berada di diseberang meja makan. "Aku akan ada urusan nanti saat istirahat... Jadi aku tidak keatap nanti..."
Alis Yune bertaut. "Ada urusan apalagi?".
"Rias..." Singkat Naruto.
"Oh... Yasudah" Cangkir yang berisi teh itu kembali di teguknya. Merasa percakapan mereka cukup lama di meja makan, Yune menatap jam di dinding. "Cepat habiskan sereal bodohmu...".
"Diamlah. Biarkan aku fokus".
Mata Yune sedikit melamun kebawah. "Naruto. Aku ingin bertanya..." Ucap Yune membuat Naruto yang sibuk menatapnya. "Apa kau menunjukan kemampuan Ninjamu?".
Naruto menggeleng dan menyendok kembali. "Tidak... Aku menolongnya dengan Sacred Gearku. Tapi saat mencarinya aku menggunakan Bunshin..." Mengunyah pelan sereal dimulutnya dan menelan setelah cukup dilumat. "Lagipula aku tidak sempat membuat Handseal karena sudah fokus pada Sacred Gear".
"Hm hm... Sebisa mungkin kita menyembunyikan identitas kita sebagai Ninja terakhir..." Meneguk kembali pelan teh yang sudah pas manisnya hingga menjadi setengah volume.
"Aku mengerti... Jiraiya-sensei juga berkata seperti itu..."
.
.
.
.
Bel sudah berbunyi. Membuat semua siswa memasukan kembali bukunya kedalam tas untuk beristirahat. Ada yang membawa bekal dan ada yang memilih ke kantin sekolah. Hal yang wajar saat jam istirahat.
Termasuk dua manusia berbeda warna rambut yang kini berjalan keluar menuju kelas. Mereka memiliki tujuan yang berbeda nanti.
"Baiklah... Kau sudah bilang ada urusan bukan?" Tanya Yune.
"Hn..."
Mereka berjalan kearah berlawanan. Naruto ke kanan, Yune kekiri.
Dengan tangan kanan yang dimasukan kesaku, tujuannya mantap menuju gedung sekolah lama yang akan menjadi tempat pemberhentiannya. Banyak siswi yang menyapanya dengan wajah memerah saat ia berpapasan dengannya, dan hanya dibalas senyuman simpul. Setidaknya itu cukup bagi Naruto daripada mereka lebih heboh lagi.
Langkah kaki yang mengayun sudah berhenti, karena Naruto sengaja melakukannya. Entah ada apa gerangan ia menghentikan langkahnya. Tapi perasaannya mengatakan ada yang tidak beres. Ah masa bodoh, waktu istirahat sangat terbatas daripada memikirkan hal yang tidak penting ini.
"Mungkin aku harus bersiap... Kurasa mereka masih membenciku karena hal kemarin..." Ujarnya monolog.
Kini di hadapannya sebuah pintu kayu sudah menantinya. Dengan menarik nafas dan melepaskannya kembali, ia mengetuk pintu. Langkah kaki terdengar di dalam ruangan, seorang siswi yang sempat berseteru dengannya pagi tadi kini menatapnya dengan pandangan tidak suka.
"Oh kau... Silahkan".
Seketika saat Naruto memasuki ruangan klub, semua penghuni yang berada di sofa langsung menatap kearahnya dengan berbagai pandangan. Namun semua itu hanya dihiraukan saja dengan membalas tatapan mereka dengan datar oleh Naruto.
Melihat semua ini, Akeno hanya mengembuskan nafas. "Kemarilah... Ada yang menunggumu".
Tatapab datar itu kini menjadi bingung mendengar Akeno. "Menunggu?".
"Ah sudah lama tidak bertemu denganmu Naruto!" Akeno yang baru membalas pun tidak jadi karena di potong oleh suara bariton yang berada dibelakangnya.
Suara ini. Naruto sangat mengenalnya.
Sirzechs-Niisan?".
Seorang yang memakai pakaian mewah dan kelihatan rumit berdiri disamping Akeno. Dengan wajah yang mirip dengan Rias, tersenyum kepadanya. "Sekarang kau sudah terlihat sangat tinggi dibanding 5 tahun yang lalu ya... Kulihat juga kau berganti gaya rambut"
"Ah itukan hal yang wajar... Aku sengaja merubah rambutku sedikit memanjang" Naruto menggaruk tengkuknya menandakan ia gugup.
"Oke kita sudahi reuniannya. Mari ikut aku" Melihat Sirzechs yang sudah mulai serius, garukan di tengkuknya dihentikan. Dengan mengekori Sirzechs menuju ruangan yang ia kenal "Aku ingin berbicara empat mata denganmu" Sela Sirzechs saat berhenti didepan pintu..
Pintu terbuka saat Sirzechs mengayunkan gagang pintu. Dan ditutupnya kembali saat Naruto sudah masuk kedalan ruangan.
Langsung mata Naruto fokus pada seseorang yang berada di ranjang Queen Size di depannya. Sirzechs sudah berdiri disampingnya. "Bukankah kini Rias menjadi Iblis yang cantik?".
Naruto menoleh kearah Sirzechs dengan alis bertaut, kemudian menatap kembali kearah ranjang. "...Ya".
"Aku sudah mendengar permasalahan kalian dari Akeno" Nada Sirzechs entah kenapa menjadi sedikit dingin sekarang.
"Apa Nii-san marah?" Tanya Naruto.
"Tidak..." Perasaan Naruto sedikit lega mendengar Sirzechs mengatakan itu.
"Namun aku sedikit kecewa padamu..." Lanjut Sirzechs menambahkan. "Apa kau mengerti letak kesalahanmu?".
Naruto terdiam mendengar Sirzechs menanyalkan hal itu. Hembusan nafas Naruto keluarkan dengan mata terpejam. "Maafkan aku Nii-san".
"Baik. Aku mengerti kenapa kau menjadi seperti itu, kuanggap itu wajar. Lagipula kalian sepertinya sudah berbaikan. Mari kita ganti pembicaraan kita ke hal yang sedari tadi ingin kubicarakan..."
"Jadi Nii-san memanggilku kesini bukan karena hal itu?" Sirzechs menggeleng pelan "Lalu?".
Sirzechs bersidekap dengan mata terpejam. "Rias dibesarkan oleh keluarga bangsawan Gremory, yang termasuk dalam 72 pillar Klan Iblis di Underworld".
"Dan sebagai seorang calon kepala berikutnya Gremory, dikarenakan aku sekarang menjadi Maou Lucifer. Rias harus menjadi tuan putri yang selalu mentaati perkatan Otou-sama dan Okaa-sama..." Sirzechs kali ini menatap Naruto dengan serius.
"Diadakanlah pertunangan..." Dengan jelas perubahan ekspresi Naruto terlihat di mata Sirzechs.
"Jadi. Rias akan ditunangkan dengan orang lain?" Tanya Naruto datar.
"Bisa dibilang begitu... Tapi Rias menentang hal ini" Hal yang wajar, jika Rias menentang pertunangan. Karena orang tua Rias tidak bilang langsung bahwa akan ditunangkan dengan Riser Phenex, salah satu Iblis kelas atas.
"..." Naruto diam sambil menundukan kepala.
"Tapi kurasa pertunangan itu akan gagal..." Sirzechs kembali tersenyum, kali ini dengan lebar. "Melihat keadaan Rias yang seperti ini. Aku yang akan menjelaskan nanti kepada mereka..."
Naruto membalikan badannya "Apa Nii-san menyetujui hubunganku dengan Rias?" Sambil menatap wajah Maou Lucifer sekaligus.
Tangan Sirzechs kini menopang dagunya. "Melihat bagaimana Rias mencintaimu, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain membiarkannya jatuh kepadamu..."
Senyuman simpul terpasang di bibir Naruto "Terima kasih... Nii-san".
Sirzechs sedikit kaget Naruto mengucapkan terima kasih. Sedetik kemudian Sirzechs tertawa pelan. "Tidak perlu terima kasih..."
Tenggelam dalam acara obrolan mereka hingga tidak sadar yang sedang dibicarakan terbangun karena suara yang cukup menganggu. Mengerjap matanya pelan dan langsung menatap kesamping dimana ada dua figur yang sedang berbicara. Namun mereka langsung sadar jika ia bangun. "Lihat... Sepertinya Ria-tan sudah sadar..."
Pandangannya masih sedikit mengabur. Namun ia kenal dengan suara salah satu orang itu. "...Sirzechs-Nii...sama?" Suara Rias terdengar parau.
Penglihatannya yang mengabur sedikit mulai sedikit sudah kembali fokus, yang dilihat pertama kali adalah kakaknya yang tersenyum. Kemudian dilanjutkannya untuk melihat seseorang yang berada disamping Sirzechs. Namun ia langsung terdiam menatap wajah orang yang di cintainya.
"Hai..." Wajah Rias sedikit terkejut saat mendengar orang itu menyapa dengan melambai kearahnya. Yang membuat ia semakin tidak bisa menjawabnya adalah cengiran di bibir orang itu.
"N-Naruto..." Kepalanya dialihkan kesamping untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Apa tubuhmu sudah baikan?" Tanya Naruto.
"Hu'um... T-tapi aku masih merasakan nyeri..." Mencoba mendudukan dirinya, dengan lenguhan parau ia tetap mencobanya. "A-ahh!".
"Lebih baik kau membaringkan saja badanmu..." Dengan kasih sayang Naruto mencegah Rias duduk dengan memegang punggungnya agar tidak terduduk.
"B-baiklah" Perlahan Rias kembali membaringkan tubuhnya dibantu Naruto. Punggungnya masih terasa aneh jika ia bergerak seperti tadi.
Terlihat mesra sekali mereka, sampai mencampakan seseorang yang kini hanya memasang senyum aneh. "Belum ada satu menit, aku sekarang diacuhkan yah..." Gumam Sirzechs seakan kini ia merasa menjadi pengganggu. Ia mencoba berdehem demi mencoba memancing perhatian mereka. "Baiklah... Langsung ke intinya, bisa kau ceritakan Rias kenapa kau jadi seperti ini?".
Mereka berdua menengok kearahi Sirzechs. Rias menundukan wajahnya. "I-itu karena aku...".
Memasang telinganya dengan baik demi mendengar ucapan Rias dengan teliti untuk memberinya info kenapa keadaan Rias menjadi seperti ini. Setelah ia mendengar semua yang dikatakan Rias, ia mengangguk dan kembali menopang dagunya.
"M-maafkan aku Onii-sama... Mungkin jika aku tidak lari dari Naruto, kejadian ini tidak akan terjadi..." Rias menundukan wajahnya dengan tangan yang meremas selimut. Sudah pasti ia akan membuat kakaknya marah. Dalam hati ia merutuki kesalahannya.
"Tidak. Ini gara-gara aku... Karena kebodohanku Rias menjadi terluka..."
Wajah Rias terangkat dan remasan tangannya berhenti ketika Naruto memotong ucapannya. Mata Blue-greennya menatap punggung Naruto karena pemiliknya sedang mencoba berbicara dengan Sirzechs.
Jari Sirzechs mencoba mengurut keningnya. "Tadi sudah kubilang... Jadi sekarang semua tidak ada yang salah. Yang sudah terjadi biarkanlah berlalu" Tangan Sirzechs bersidekap kembali sambil tersenyum. "Tapi ambil sisi baiknya dari kejadian ini..."
"Pertunanganmu dengan Riser akan kubatalkan... Melihat kondisimu seperti ini... Aku akan berbicara pada keluarga Phenex" Reaksi yang diberikan Rias sesuai dugaannya.
"Di-dibatalkan?" Sirzechs mengangguk pelan.
"Ya... Bukankah itu membuatmu senang?" Rias mengangguk dengan antusias. Namun kebingungan muncul ketika kakaknya mundur dan berjalan menuju pintu.
"Aku akan menjelaskan permasalah ini kepada anggota Peeragemu Rias. Kurasa mereka akan senang mendengar kabar King mereka... Mungkin juga akan sedikit menghangat pada Naruto". Pintu tertutup. Meninggalkan keheningan diantara mereka berdua.
Tidak ada yang mulai pembicaraan. Hingga Naruto mengambil sebuah kursi untuk mendudukan dirinya disamping Rias. Menaruh pantatnya dengan baik disana dan kembali menatap Rias. "Sepertinya aku masih kurang maksimal untuk memulihkanmu".
"Memulihkan?" Tanya Rias
"Saat kau pingsan, aku mencoba memulihkanmu dengan kemampuan baruku dari Sacred Gear. Namun ternyata kemampuanku memulihkanmu masih sangat kurang... Seharusnya aku bisa memulihkanmu dengan sempurna..." Sorot mata Naruto berubah menjadi sebuah penyesalan.
"Naruto... Lihat aku". Naruto mendongak, memandang kembali wajah Rias yang kini tanpa ekspresi. Tangannya refleks mencegah Rias yang mencoba mendudukan tubuhnya.
"Akh!".
"Sudah kubilang jangan—".
Bruk!
Wajahnya sedikit kaget dan tidak memprediksikan bahwa Rias akan memeluknya. Gerakan Rias terlalu cepat sehingga ia kini diam saat Rias mengeratkan pelukannya. "Rias?".
"Bagiku itu sudah cukup..." Rias menenggelamkan wajahnya pada bahu Naruto dan menyesap tubuh Naruto yang wangi di hidungnya. "Jangan salahkan dirimu. Seperti Onii-sama bilang, sisi baiknya pertunanganku dibatalkan".
"Lagipula..." Perasaan basah menyentuh langsung kulitnya yang teebungkus pakaian Kuoh Gakuen. Tunggu, Rias menangis?
"Lagipula... Aku sangat bahagia kau datang menolongku setelah menolakmu dengan kasar. Aku...aku hiks".
Naruto merubah ekspresinya. Tangannya yang bebas mencoba membalas pelukannya, karena hal ini adalah yang terbaik untuk sekarang. Dirasakannya volume tangisan Rias menambah dan sesenggukan di bahunya.
"A-aku sangat mencintaimu..." Dalam sesenggukannya Rias mengungkapkan perasaannya yang sangat ingin di ucapkannya dari dulu. "Tetaplah disini, menemaniku..."
Naruto menyudahi pelukan mereka. Menatap wajah Rias yang basah oleh air mata. "Aku tidak berjanji, namun aku akan berusaha..." Mengusap jejak air matanya sambil tersenyum. "Ayo berbaring lagi...".
Rias mengangguk dan membaringkan tubuhnya kembali ke ranjangnya. Menyelimuti tubuhnya dengan selimut. "Aku mengantuk" Ucapnya ketika kantuk tiba-tiba datang.
"Tidurlah... Aku ada disini" Mengusap pelan surai merah Rias mencoba memberi rasa nyaman untuk pemilik surai.
Kelopak matanya tertutup diikuti tubuhnya yang merileks untuk memasuki alam mimpi. Seolah lupa bahwa dua bola mata biru safir terus menatapnya dalam. Mengawasinya untuk memastikan bahwa kini ia sudah terlelap dengan dengkuran halus.
Helaan nafas terhembus saat tubuhnya menyender di kursi. Matanya tertutup secara perlahan, sepertinya rasa kantuk juga mendatanginya. Wajar, ia tidak tidur dan terus terjaga memaksakan dan melawan betapa berat kelopak matanya. Namun hanya sesaat, ketika kelopak matanya terbuka dengan paksa dan tersentak. Seperti ada hal yang dilupakannya.
Naruto berdiri dengan tenang, diikuti kakinya yang melangkah menuju pintu.
Krieet.
Langsung, ia disambut berbagai macam tatapan yang ditunjukan untuknya. Baru saja ia ingin membalas mereka dengan senyuman. Pundaknya ditepuk oleh Sirzechs di sebelahnya.
"Aku sudah menjelaskan semua pada mereka... Dan mereka sepertinya akan memaafkanmu" Mendengar kata akan dari Sirzechs membuat Naruto memejamkan mata dan berfikir apa yang akan dilakukan selanjutnya.
"Aku akan mencoba sesuatu..." Sirzechs menautkan alisnya, mencoba sesuatu? Apa yang akan dilakukan Naruto?
Naruto melangkah sedikit kedepan agar ia dapat lebih jelas melihat ekpresi masing-masing anggota Klub. Berdehem sebentar untuk mengetes suaranya. "Halo, apa kabar?" Sapaannya hanya dibalas tatapan bingung sebagian dari mereka. Mengerti situasi seperti ini, ia tersenyum. "Kalian sudah mendengar semua dari err... Maou Lucifer-sama?".
Mereka diam. Ekpresi mereka berubah lagi seperti mengintimidasinya. "Oke oke. Kalian marah ataupun benci padaku kan? Aku anggap itu wajar atas perlakuanku pada Ketua kalian dan aksiku kemarin dengan temanku..." Naruto menjeda ucapannya. Kedua tangannya ditepukkan "Aku memang tidak ahli dalam ini, tapi aku ingin meminta maaf pada kalian, boleh?"
"Dan juga sebelumnya, kita belum pernah mengenal masing-masing. Oke, namaku Uzumaki Naruto dari kelas XII-02. Hobi aku hampir tidak punya, kesukaanku adalah ramen... Boleh aku tahu nama kalian?". Tanya Naruto masih mempertahankan senyumannya. Mereka masih diam, tidak ada kemajuan sama sekali.
"Kurasa aku duluan yah..." Mata Naruto menatap laki-laki dengan surai pirang pucat berdiri dari sofa. "Namaku Yuuto Kiba, panggil saja Kiba dari kelas XI-01. Senang berkenalan denganmu Uzumaki-senpai..."
Jadi namanya Kiba? Mengingatkan Naruto dengan seseorang yang sama namanya. "Ah... Jangan terlalu formal padaku Kiba. Panggil saja aku Naruto..."
"Ha'i Naruto-senpai!" Sebuah rasa senang sedikit membuatnya lega ketika satu dari mereka menghangat padanya.
"Ara~ aku menjadi tidak enak sebagai Wakil membiarkan Yuuto-kun berkenalan..." Kali ini gadis berambut hitam ponytail yang sempat bersetru dengannya berdiri. Dengan senyuman yang dapat dibaca oleh Naruto bahwa itu palsu. "Akeno Himejima, kau boleh memanggilku Akeno..." Sesaat menatapnya cukup lama dengan serius pada Akeno. Merasa aneh dengan tingkah dan gaya bicara apalagi senyuman yang terkesan memaksa.
Naruto mengenyahkan pikirannya tentang Akeno. Bukankah menilai buruk orang yang baru kau kenal itu tidak baik? Kepalanya mengangguk. "Oke..."
Bertambah satu lagi, kali ini gadis kecil berambut putih yang dilihatnya sedari tadi tak henti memasukan cemilan di mulutnya. Ia berdiri dengan wajah datar. "Koneko Tojou, panggil Koneko..."
Selanjutnya... Seorang gadis yang memiliki rambut yang sewarna dengannya seperti malu-malu berdiri. "A-Asia Argento! Panggil Asia!" Mungkin karena gugup atau hal lain ia seperti meninggikan suaranya.
"Tidak perlu malu padaku Asia..." Ujar Naruto dibalas anggukan pelan Asia.
"I-Issei-san bukankah t-tidak baik mendiamkan orang yang sedang berbicara?" Asia berbicara pada laki-laki yang memasang wajah masam dan tidak suka pada Naruto. Sepertinya laki-laki itu yang paling membenci Naruto.
"Kheh! Baiklah baiklah!" Karena tangannya terus ditarik-tarik Asia akhirnya ia berdiri. "Issei Hyodou! Panggil Issei!".
"Kulihat kau sepertinya sangat membenciku yah Issei?" Dengan nada bersahabat Naruto mencoba mendekatkan hubungannya pada Issei.
"Ya! Aku sangat membencimu! Karena kau adalah orang tampan!" Desisnya sambil menunjuk Naruto. "Orang tampan sepertimu sangat menganggu impianku menjadi Raja Harem..."
"Harem?" Tanya Naruto.
"Harem adalah keadaan dimana Iseei-kun memiliki banyak wanita yang mengelilinginya. Issei-kun tidak suka pada Naruto-senpai karena salah satu target Issei-kun diambil oleh Senpai yaitu Rias-Buchou..." Kiba menyela ucapan Issei.
"Diam kau cassanova!" Sungut Issei kini pada Kiba yang dibalas senyuman.
"Menjijikan..." Koneko berujar dengan wajah jijik kearah Issei.
"T-tapi Koneko-chan~ bukankah itu adalah wajar bagi laki-laki?"
"Tidak... Kau menjijikan Issei-senpai".
"Hueee!"
Keringat mengalir dibelakang rambut Naruto saat melihat interaksi unik yang baru dilihatnya. Baru kali ini ia mendengar impian aneh seperti tadi teucap dengan lantang. Tapi setidaknya kosa kata di otaknya bertambah meskipun kosa kata itu terkesan absurd.
"Aku minta maaf ya Issei" Ucap Naruto dengan dua jari tangan kanannya membentuk tanda V. Namun hanya dengusan yang terdengar. "Oke, aku sudah mengingat nama kalian. Semoga kita menjadi teman yang baik. Tapi, apakah kalian memaafkanku?".
Melihat betapa ramahnya Naruto yang tidak mereka kira sebelumnya. Merubah pandangan mereka tentang sikap Naruto yang menurut mereka sebaliknya. Sepertinya cara Naruto mendekatkan diri kepada mereka berhasil.
"Tentu saja Naruto-senpai..."
"Ufufu~ mau bagaimana lagi? Naruto...-kun".
"Hn..."
"Y-ya".
"Iya iya aku memaafkannya! Berhentilah menarik bajuku Asia-chan!".
Sang Maou Lucifer yang diam melihat interaksi yang baru terjalin antara Naruto dan keompok Rias hanya tersenyum dan menepuk-nepuk pelan bahu Naruto. "Caramu sepertinya sukses".
"Terima kasih Nii-san!".
.
.
.
.
.
Mengerjapkan matanya, menyesuaikan dengan cahaya yang cukup membuat mata blue-greennya sedikit silau. Terbuka matanya dengan sempurna ketika melihat atap ruangan. Tangannya sedikit memijat keningnya merasa sedikit pusing akibat tertidur tadi. Kemudian menatap sekitar yang diterangi cahaya dari jendela.
"Sudah sore..." Ujarnya membaca situasi saat melihat cahaya kejinggaan diruangan. Namun ia baru menyadari sesuatu.
"Naruto?" Mencoba mendudukan badannya dengan lenguhan kecil. Mencoba mencari-cari dengan jelas dimana Naruto berada. Tapi matanya fokus menatap pintu saat mendengar keributan yang sepertinya melibatkan Peeragenya.
"Kurasa mereka berdebat dengan Naruto..." Tebaknya dengan helaan nafas. Perlahan ia menggeser tubuhnya menuju tepi ranjang untuk melihat situasi saat ini. Baru saja ia ingin berdiri, pintu dengan secara kasar terbuka menampilkan seseorang.
"Riser? Mau apa kau kesini?" Dengan wajah tidak suka ia menatap salah satu calon pewaris 72 Pillar. Kaget tentu saja mendatangi Rias saat Iblis yang dibencinya datang kesini.
"Kurang ajar kau!" Riser berjalan menuju Rias yang terpaku padanya. Digenggamnya dengan kasar pergelangan tangan Rias membuat pemiliknya menjerit. "Kau! Kau sengaja membuat tubuhmu terluka agar pertunangan kita dibatalkan hah!".
"Apa maksudmu?" Tanya Rias sambil mencoba melepas genggaman tangan Riser yang menyakitinya.
"Kau masih mengelaknya?!" Riser menyeret tubuh Rias yang langsung mendapatkan perlawanan. Namun tenanga Riser terlalu besar sehingga Rias hanya bisa menahan tubuhnya yang diseret paksa.
Rasa sakit ditubuhnya, semakin menjadi-jadi dan tidak karuan karena masih belum senpuhnya pulih. "Ah! H-hentikan!".
Dengan kasar ia mendorong menuju ruang tengah hingga tubuh Rias jatuh dengan bebas karena masih belum bisa berdiri. Para anggota Peerage Rias pun kesal bukan main saat melihat King mereka diperlakukan seperti tadi.
"Kau! Aku benar-benar akan membunuhmu!" Gauntlet Boosted Gear muncul ditangan kiri Issei. Tanpa berpikir ia langsung menyerbu Riser yang kini hanya diam.
Entah apa yang terjadi, sesaat lingkaran sihir keluar di hadapan Issei dan kontan langsung mementalkan tubuh Issei. Segera Kiba menahan laju Issei dengan memeluknya. Dari lingkaran sihir itu muncul seorang anak kecil dengan tongkat staff yang dalam kuda-kuda bertarung.
"Jangan macam-macam denganku. Aku memiliki anggota Peerage lengkap!" Dibelakang Riser muncul lingkaran sihir klan Phenex. Memunculkan para Peerage Riser yang keseluruhannya adalah wanita.
"Kurang ajar! Lepaskan aku Kiba!".
"Issei-kun, tenanglah... Jangan bertindak gegabah" Kiba menahan Issei yang meronta dilepaskan. "Apa yang akan kita lakukan Akeno-senpai?"
Ditanya seperti itu membuat Akeno semakin bingung apa yang akan dilakukan. Melihat temannya diperlakukan seperti itu tentu saja ia akan melakukan hal yang sama dengan Issei. Setelah melihat mereka kalah jumlah, otaknya berfikir dua kali. "Cih..."
Kedatangan Riser yang tiba-tiba membuat mereka kaget. Sendirian dan langsung saja marah-marah tentang masalah Rias membatalkan pertunangan. Kemarahan Riser langsung memunculkan perdebatan luar biasa diantara mereka hingga dengan lancangnya Riser memasuki kamar Rias dan menyeretnya kesini.
Melihat para anggota keluarganya terpojok. Mau tak mau Rias harus bertindak. "J-jangan sakiti mereka Riser!" Dengan susah payah Rias mencoba berdiri dengan tegak. "Sebagai gantinya kau boleh memukulku".
"Buchou!"
"Kheh! Memukulmu tak cukup untuk membuatku—".
Krieet.
Semua pasang mata teralih pada pintu keluar ruangan. Ketika langkah kaki terdengar seiring munculnya seseorang berambut pirang yang merupakan siswa disini. Dengan saku yang dimasukan kedalam kantung celana.
Dengan wajah datar tanpa ekpresi ia melihat langsung ketika Rias yang berdiri untuk melindungi anggota keluarganya tumbang dan membuatnya terduduk. Siapapun yang melihat benar-benar mata biru itu, pasti akan menemukan sorot tajam yang membuat terdiam.
"N-Naruto..." Sorot mata yang tajam itu berubah menjadi kesedihan saat melihat wanita yang di cintainya diperlakukan seperti ini.
Sebelum Naruto masuk, ia terlebih dahulu diam diluar karena mendengar seluruh percakapan yang cukup membuatnya gerah. Sungguh, tak tega Naruto mendengar perlakuan Riser pada Rias direndahkan seperti itu. Dengan gulungan yang berasal dari kantung penyimpanan yang untungnya ia bawa untuk melakukan 'sesuatu'.
Saat jarak mereka sudah dekat, Naruto menggendong Rias. Dengan senyuman simpul tertuju pada Rias. Melihat apa yang dilakukan Naruto membuat matanya kembali berkaca-kaca. Rasa yang semula sangat khawatir pada keadaanya menjadi tenang saat melihat mata biru safir yang menatapnya.
Tubuhnya dibaringkan kembali kedalam ranjang. Menyelimuti lagi dengan selimut sambil mengusap-usap pelan surai Rias. "Kau senang sekali turun dari ranjang yah..."
"Kali ini jangan turun lagi sampai kau pulih sepenuhnya paham?" Nada protektif kentara di setiap ucapan itu. Membuat Rias mengangguk pelan dengan wajah memerah.
Naruto mendekatkan bibirnya kesamping Rias. "Aku akan menghancurkan dia..."
Menutup pintunya dengan perlahan agar tidak membuat Rias kaget dan kembali menuju ruangan tengah yang kini sedikit lebih tenang. Wajah yang semula tersenyum itu kembali datar saat melihat Riser yang juga menatapnya.
Berjalan dengan mengacuhkan tatapan Riser menuju para anggota klub. Sebagian mereka hanya menatap bingung Naruto. Mengedipkan sebelah matanya pada mereka sebelum ia membalikan badannya.
Nafas yang berhembus di mulut mereka menjadi asap dingin seketika. Suhu yang semula hangat disana entah menjadi sejuk dan semakin kearah dingin. Semua yang disana kaget bukan main merasakan suhu dingin ini. Tapi suhu itu seperti tidak berpengaruh pada Naruto yang masih diam-diam saja.
Diam karena tentu saja suhu itu berasal darinya yang sudah memegang Trisulanya dengan mengetuk-ngetukan ketangan kirinya.
"Kau melakukan hal yang sangat fatal..."
.
.
.
.
.
To be Continued?
Ya ya ya! Bertemu kembali bersama saya, Psychocross yang merubah Pennamenya menjadi Floods of Tears! Bagaimana? Apa kabar kalian?
E-eh itu yang membawa garpu rumput tolong tahan emosi kalian yah '-')
D-duh tahan dulu jangan diarahkan kesaya bazokanya ya :| Nanti siapa yang melanjutkan fic ini?
Oke saya minta maaf karena sudah berbulan-bulan menelantarkan fic ini. Bahkan ada guest yang menyumpahi saya Wasted karena menelantarkan fic ini. Siapapun itu saya minta maaf karena membuat anda menyumpahi saya seperti itu '-')
Bukannya sok sibuk atau apalah itu, tapi saya merasa kehidupan asli saya lebih penting daripada FFN. Dan juga ada insiden saat memori hp saya yang menyimpan update fic ini ke format karena salah pencet... '-')
Tapi yah alangkah baiknya kita mengambil sisi Negatif (positif udah mainstream) dari fic ini.
Well maaf kalo chapter ini mengecewakan kalian semua. Tapi jumlah wordnya 7K lebih mendekati 8K lho '-') chapter terpanjang yang saya buat.
Oh iya. Selamat tahun baru 2016 \ :v /
Floods of Tears out.
