Disclaimer.

Semua yang ada disini termasuk unsur-unsurnya merupakan milik Masashi Kishimoto dan Ichiei Ishibumi yang dikemas oleh imajinasi gila saya.

Rated: M

Genre: Adventure, Romance, Humor and many more.

Peringatan: OOC,Typo, Mainstream, Humor di paksakan,bahasa sedikit tidak baku dan lain-lain.

Chapter 7.

Visit to the Club and first date.


Derap langkah kaki menggema sepanjang lorong dengan ratusan pillar sebagai penyangga. Hening, hanya ada suara hentakan kaki itu menggema selama kaki itu terangkat dan kembali menapak di lantai marmer. Asal dari bunyi langkah kaki itu berasal dari seorang pria berbadan tegap dengan jubah—atau pakaian khas bangsawan menempel di badannya. Bahkan hingga kakinya tertutup karena tertutup jubah itu. Sayup-sayup, sedikit terdengar ocehan dari dimana pria itu memunggungi lorong belakang

Tak ada ekspresi di wajahnya, hanya kedataran menghias wajah rupawan pria itu yang memiliki rambut panjang semerah darah. Apa yang tertangkap dari reaksinya saat ini, ia seperti kesal akan sesuatu yang baru saja dialaminya. Yang pasti, pria itu seperti tidak terima dengan sesuatu yang memang ia debatkan, hingga ia akhirnya kabur dari perdebatan itu. Hingga sayup-sayup ocehan tadi sebagai misteri yang sudah terpecahkan.

Seketika, langkah kakinya berhenti setelah melewati anak tangga yang lumayan banyak setelah di lorong itu. Sebuah pintu berukuran besar berjumlah dua memblokir jalannya. Sejenak, ekspresinya masih datar, hingga akhirnya melunak setelah ia mengambil nafas dan berdehem mengatur suara.

Tok tok tok.

"Rias. Ini aku."

"Masuk saja, Onii-sama."

Setelah mendapat izin, ia masuk perlahan menuju kamar yang megah itu sesuai dengan pintu tadi untuk menjelaskan bahwa ruangan ini 'Besar'.

Tak lupa ia menutupnya kembali dan mencoba memasang senyuman yang sedikit ia paksa. "Nah, lebih baik kau tidur lagi dan beristirahat. Besok kau harus sekolah kembali." Nada bariton yang lembut itu mewakili rasa perhatian pria tersebut.

Seorang gadis dengan piyama tidur, terduduk di pinggir kasur sembari menatap jendela yang menampakkan sinar rembulan dengan dihiasi langit ungu pekat. Awalnya ia seperti tak menggubris pria yang ia panggil Onii-sama tersebut. Lambat laun, ia menengokan kepala kebelakang dan menatap wajah pria itu.

"Aku... Tidak bisa tidur." Kemudiana kepalanya tertunduk, tangannya juga meremat pelan selimut menahan gejolak yang tertahan di hatinya.

"Ah, benar juga. Seharian ini kau tidur ya?" Tangan pria itu memegang dagunya sendiri seperti berfikir dan menyimpulkan ucapan gadis itu. "Intinya, berusaha tidur ya? Atau mau Onii-sama nina bobo-kan seperti kamu masih bermasalah dengan mengompol dulu?"

Wajah gadis itu meledak seketika, dalam artian wajahnya memerah sempurna akan ucapan Onii-samanya. "I-iee! J-jangan bahas hal itu! Memalukan!".

"Loh? Bukannya memang kamu mengalaminya dan selalu membuat Okaa-sama geleng-geleng kepala mengingat sudah berapa sprei yang kau banjiri?"

"O-onii-sama no baka! S-sudah kubilang berhenti!"

"E-eh, b-baiklah, baiklah. T-tolong vas bunga itu jangan kau lempar ke Onii-sama mu ini." Mungkin jika saat ini warga Underwolrd melihatnya,mereka akan tertawa melihat wajah tegas pemimpin mereka jadi berkeringat dingin karena ancama vas bunga melayang.

Lain halnya gadis itu, ia menaruh kembali vas pada meja dekat ranjangnya lalu memposisikan dirinya berbaring ditemani selimut. Wajahnya masih dibilang—bahasa kasarnya itu, kecut— sambil membuang wajahnya berlawanan dengan sang Kakak.

"Awas! Lain kali meja makan yang akan kulempar!".

"Iya, iya. Aku hanya bercanda kok." Ucapnya diselingi tawa kecil saat membalas acaman Adiknya. "Sekarang pejamkan mata, oke? Onii-sama yang akan mengurus semua masalah ini."

Senyuman terbaik yang kembali dipaksa terukir di bibirnya. Membuat gadis itu mengangguk dengan ragu lalu meringkukkan badannya di selimut mencoba untuk tidur meskipun rasa kantuknya sudah hilang setelah bangun tadi.

"Sekolah menunggu besok. Dan—ah ya!" Lelaki itu menepuk tangannya sendiri seperti ada sesuatu yang membuatnya ingat. "Mungkin besok... Naruto sudah masuk sekolah lagi."

Mendengar nama yang Kakaknya sebut, ia menjadi terdiam dan tak merespon sama sekali. Yang ia lakukan hanya meremat sprei sebagai alas ranjangnya dengan kuat menahan sesuatu yang ada di hati.

"Oke. Aku harus kembali lagi ya. Atau mereka akan lebih tajam lagi menggunakan lidah mereka." Ucapan pamit secara langsung ia ucapkan, sembari keluar dari kamar itu dan menutup rapat pintunya.

Meninggalkan gadis itu yang kini pikirannya sedang diajak jalan-jalan oleh imanjinasinya. Posisinya saat ini masih sama meringkuk dengan mata Blue-green yang sedikit sayu.

"Naruto..."

.


.

"Haaah!"

Peluh membasahi wajahnya yang kini mengekspresikan kekagetan. Nafasnya tersengal layaknya ia habis berlari jauh, namun nyatanya mimpi buruk membuatnya terbangun dengan paksa.

Pergelangan tangannya mencoba menyeka peluh yang membasahi kening. Posisinya kini duduk dan mencoba menstabilkan sistem pernafasannya hingga normal kembali. Tangannya menyisir kasar rambut kuning cerahnya yang terurai berantakan hingga sedikit mengganggu penglihatannya.

"Ah, mimpi." Kelegaan dibarengi hela nafas membuat perasaannya lebih tenang.

Mata birunya memandang sekitar untuk membaca situasi dimana ia sekarang berada. Tak perlu waktu lama, ia membaringkan lagi badannya ke futon dan menatap langit-langit kamarnya.

"Mimpi tadi. Sepertinya terasa mirip De Javu..." Wajahnya yang kaget beralih menjadi kembali biasa, digantikan sebuah rasa penasaran menanggapi mimpi buruknya.

Ya ampun. Kepalanya seperti hampir pecah mengingat pecahan-pecahan gambaran yang barusan hadir di mimpinya. Siap sedia tangan kanannya memijit pelan pelipisnya untuk meredakan sakit yang menjalar di sekitar kepala. Tapi hanya berdampak sedikit, pusing itu tak kunjung hilang dan malah semakin menjengkelkan.

"Kurasa migrainku kumat. Semoga saja masih ada obatnya." Tanpa tunggu waktu lama ia beranjak dari ranjang dan berjalan menuju dapur.

Akses menuju dapur harus melewati lorong kecil rumahhya dilanjut ruang tengah yang langsung menuju dapur. Tak henti tangannya memegang pelipisnya berusaha untuk meminimalisir sakit yang biasa orang sebut sakit kepala sebelah.

Karena melewati lorong kecil itu, mau tidak mau ia harus melewati kamar di sebelahnya—yaitu kamar orang ngga waras yang tinggal bersama dengannya. Tak perlu menebak, dari pintu kamarnya yang tidak tertutup ia bisa melihat makhluk itu tidur dengan posisi tengkurap sambil senyum-senyum sendiri ditemani liur bertengger manis di bibirnya.

Ew—. Jangan dibayangkan. Author saja harus menahan jijik ketika menulis ini.

Setelah curhatan kecil penulis cerita ini memeringati kalian, para pembaca. Orang yang sedang sakit kepala itu sudah buru-buru menuju dapur untuk menahan mualnya. Dan juga ikut berdampak pada kepalanya yang juga makin menjadi sakitnya.

"Demi kutu kudisan, tak bisakah ia layaknya orang normal di saat sadar dan tidur? Rasanya ingin kutendang hingga isi kepalanya keluar." Ucapnya di wastafel sambil membasuh wajah dengan air mengalir dari keran.

Ketika wajahnya sudah agak segar, ia mematikan keran dan menatap refleksi dirinya yang ada di cermin. Melihat keseluruhan wajahnya, dari iris mata biru langitnya, pipi dengan tiga tanda lahir seperti goresan, rambut kuningnya yang cukup panjang dan acak-acakan. Namun dari itu semua, sebenarnya yang ia pikirkan adalah...

Penyebab ia memimpikan itu. Bahkan, sudah sering ia mengalaminya beberapa tahun terakhir.

Perlahan, wajahnya mengeras di pantulan cermin. Badannya sedikit termundur ke belakang dan kedua tanga mengayun sedikit dengan jemari yang mirip seperti menggenggam sesuatu.

Sebuah debu berkilauan emas dan merah masing muncul di udara dekat tangannya berada. Seperti ada keajaiban yang muncul, sebilah tombak dengan 3 mata berwarna keemasan muncul di tangan kanan. Di tangan kiri, bilah pedang hitam legam dengan berlian merah kecil di dekat gagangnya sudah ia genggam erat.

Matanya melirik sebentar pada tombak yang orang sering menyebutnya Trisula untuk melihat reaksi senjata tempur tersebut. Hanya ada sedikit gejolak energi kehijauan muncul disana seperti menunggunya untuk mengendalikan energi tersebut. Sementara itu, berlainan pihak pada pegang di tangan kirinya tersebut.

"Apa yang kau inginkan?".

Ia berucap, lebih tepatnya pada pedang itu. Yang diselimuti energi merah terang dengan sangat berkilauan. Ia menunggu reaksi pedang tersebut, namun tak ada jawaban.

"Sebenarnya... Apa aku ini?" Dengan mengibaskan tangannya kembali. Kedua senjata itu menghilang sekejap.

Kakinya sedikit melangkah ke wastafel lagi. Menatap kembali wajahnya yang menunjukan ekspresi aneh. Ia memejamkan mata, menghela nafas untuk menenangkan pikiranya. Sebelum kembali ia membasuh wajahnya dengan air dari keran.

Handuk kecil dekat wastafel ia ambil. Melebarkan sisi handuk dan sesegera ia mengusapkan sisi lembut handuk tersebut di wajahnya. Dirasa cukup, ia menaruh kembali handuk itu ketempatnya dibarengi lehernya yang ia regangkan karena pegal.

Matanya menatap kembali cermin. Wajahnya hanya menunjukan kedataran. Perlahan ia dekati cermin itu hingga wajahnya menjadi sangat jelas terpantul di cermin. Hanya untuk melihat kedua matanya yang kini saling berbeda warna.

"Eh.. Lagi-lagi kondisi ini."

Dengan tangannya Naruto memegang sisi kiri wajahnya yang juga berada di sisi dimana iris matanya yang berbeda warna tersebut. Semerah darah, seperti iris biru yang tercampur darah dalam pupil serta lensa matanya. Tidak perlu terlalu di khawatirkan sebenarnya, hanya membutuhkan tidur lagi maka matanya akan kembali dengan normal.

Namun tetap. Rasa penasaran masih tetap tidak mau hilang dari pikirannya. Bahkan ia ingin tahu, apa sebenarnya kedua senjata tadi? Yang Rias panggil dengan Sacred Gear. Dan Naruto menamai keduanya dengan nama [Golden Inferno]. Apa sebenarnya kedua senjata ini?

Jiraiya bilang, mereka berdua memang special bisa memiliki kekuatan seperti ini. Dengan jalan menjadi Ninja, Jiraiya berharap Naruto dan Yune menjadi lebih bijaksana memakai senjata ini. Tapi, berbeda juga dengan mereka berdua. Jika Jiraiya sudah mengerti akan senjata atau lebih tepatnya kekuatan yang dimiliki Yune mengendalikan cahaya oleh [Revealing Light]. Beda kasus dengan dua senjata Naruto, jika salah satu bisa memahami Hostnya, satunya lagi 'membandel' dan memengaruhi Hostnya untuk lepas kendali. Ya, satu dari dua senjata tadi memiliki jiwa sendiri. Sang pedang hitam sekelam malam dengan aura merah terang.

"Hei."

Badannya terlonjak sedikit dan langsung menghadap belakang. "A-ah, Yune. Kukira siapa." Orang ini, tiba-tiba datang seperti hantu saja.

"Ya siapa lagi selain aku yang bersamamu, bodoh!" Orang yang ia panggil Yune itu sedikit meninggikan suaranya.

"Santai mas. Santai." Ia menatap Yune dengan wajah canggung dan sedikit terkekeh pelan.

Bukannya candaan lagi yang berbalas, Yune menatapnya dengan wajah serius sambil mencoba mengobservasi apa yang sudah terjadi.

"Naruto. Bagaimana tidurmu, merasa nyenyak?" Tanyanya pada seseorang yang selama ini sering dipanggil Naruto.

Naruto menggaruk rambutnya yang gatal sambil memandang sekitarnya. "Ya, kurasa. Aku seperti tidur sangat lama sekali hingga rasanya aku mirip orang pingsan."

"Memang begitu. Atau lebih tepatnya kau memang pingsan selama seminggu."

"Oh, pingsan seming—APA? AKU PINGSAN APA MATI SURI?" Dengan gaya kaget ala ala komedi jepang ia sedikit termundur dari Yune.

"Aku serius, bodoh." Yune menjadi facepalm mendadak. "Apa kau masih ingat peristiwa pacarmu itu, kalau tidak salah namanya... Rias?"

Ah... Naruto ingat sekarang. Benar-benar baru ingat. Dari semua tragedi kemarin-kemarin, hingga semuanya sekarang. Ia mengerti ini berhubungan dengan itu. Bagaimana bisa? Tak perlu tanya. Dan yang ia tahu, ini yang terparah dan terburuk.

"Astaga... Aku jadi lemas mendadak." Badannya langsung terduduk dengan pelan kelantai dapur. Pening yang sempat ia lupakan kembali bereaksi hingga kepalanya tak kunjung merasa enakan.

"Kambuh lagi?"

Hanya dijawab anggukan oleh Naruto.

"Baiklah. Kuambilkan obat di kotak obat."

Naruto yang sedikit ia bantu duduk ke kursi dekat dapur, lalu sementara ditinggal untuknya mengambil obat tak jauh dari sana. Sebuah kaplet dan secangkir air putih juga tak lupa ia bawa. Kakinya kembali melangkah ke tempat Naruto sambil menyodorkan kedua itu.

"Langsung sekali tenggak."

"Orang tua pikun juga tahu kalau seperti itu bodoh." Dengan wajah sedikit kesal, Naruto meminum air sedikit dan menahannya di kerongkongan.

Kaplet berukuran tak lebih dari 2 senti itu ia telan bersamaan air yang ada di kerongkongan. Sejenak ia terdiam menunggu reaksi pada obat tersebut untuk mencoba membuat sakit kepala itu hilang.

"Cerita-ceritanya besok saja. Kepalaku masih pusing."

"Tak masalah. Lagipula besok kau harus kembali sekolah. Plus, ada PR yang menunggumu."

Naruto yang baru bangun seketika terjengkang dari kursi dengan kepala mendarat terlebih dahulu ketika mendengar kata-kata terakhir Yune.

"Ya ampun. Rasanya mau kucekik lehermu sekarang."

"Eh, apa salahku? Aku hanya—OHOK!".

Sukses, sebuah gelas plastik kecil bersarang pada mulut Yune setelah lemparan Naruto tepat sasaran.

.


.

"Oke, semuanya. Kita lanjutkan lagi setelah istirahat selesai dan jangan lupa kerjakan tugas yang Sensei berikan tadi."

"Ha'i, Sensei."

Sepeninggal guru yang mengajar, para murid berhamburan ke luar kelas. Namun juga tak sedikit masih ada yang disana untuk sekedar ngumpul dan ngalor ngidul sama teman sebangku. Layaknya—dua sejoli yang di mabuk asmara ini.

"Bisa diganti tidak, yang bagian 'sejoli yang dimabuk asmara ini' ?" Yang dibicarakan sudah saling memegang garpu rumput dan panah yang entah darimana munculnya.

A-ah, baiklah. T-tolong turunkan senjatanya ya ^^.

Maaf kesalahan narator—.

Layaknya, dua sahabat ini yang tempat duduknya hanya terpaut sebelah meja.

Seorang murid dengan tatanan poni yang menjutai kedepan dan menutup mata kirinya menepuk pelan murid lainnya yang berada di sebelah.

"Yo, pokoknya soal tadi aku sedikit melihat punyamu!" Serunya dengan senyuman yang memamerkan gigi.

Sementara itu, yang di ajak bicaranya hanya melirik sebentar lalu kembali tadahkan dagunya ke meja.

"Siapa kau? Tak kenal aku."

"Oh, kau ingin gelut?".

"Percuma. Sebelum dimulai pun kau akan KO duluan dengan pukulanku."

"Banyak omong kau kuning!"

"Heh, poni gila."

Dikarenakan situasi makin memanas, sebagian murid sudah pergi dari kelas karena atmosfir yang membara dari kedua makhluk dengan pertengkaran hanya karena soal. Sebagian juga ada yang menonton, tapi dari jarak aman. Siapa tahu nanti ada meja melayang bagaimana?

Naruto berdiri, ia mengangkat tangannya dan memposisikan tinjunya dengan lemas. Sementara Yune sudah ancang-ancang layaknya gaya bertarung Jim Carrey(?) dengan kedua tangannya yang seperti melambai keatas. Pertarungan konyol akan dimulai sebentar lagi, plus ada tambahan penonton yang menambah meriah suasana.

"ALALALALALA!"

"ORAORAORA—"

"Sudah selesai bertengkarnya, Uzumaki-san dan Kurosawa-san?"

Nah loh. Entah kenapa, guru yang baru saja keluar tak lama kembali ke kelas dan langsung melihat pemandangan bertengkarnya mereka berdua ini.

"..."

"..."

"..."

Tak ada yang bicara, semua terdiam dan terhenyak. Bahkan mulut Yune masih terbuka lebar karena ucapan teriaknya tersangkut di lafal 'A'. Bahkan Naruto, yang siap meninju pipi Yune malah melemaskan tinjunya dan sekarang malah mirip pose model neko dengan tangannya yang kemayu(?).

Hingga satu suara muncul—

"ALALALALA!"

Refleks semua memutar kepala ke seorang murid dengan handycam yang sedang memutar rekaman teriakan Yune. "Apa? Aku hanya mengabadikan momen ini."

"Ehem—kalian berdua. Ikuti aku." Sejenak, semua kembali sadar setelah suara bariton guru itu memecah kesunyian.

Dua manusia yang dimaksud mengikuti guru dengan wajah yang lumayan mengerikan itu sambil menutup wajah mereka masing-masing dengan telapak tangan agar cukup untuk menahan malu atas kejadian tadi.

Hm, sungguh kehidupan sekolah yang benar-benar indah.

"Indah gundulmu!".

.

Dilain pihak.

Murid bergender perempuan yang memiliki rambut hitam panjang dengan gaya ponytail sedang tersenyum sesekali terkekeh melihat temannya yang masih dibangku menggeluti tugas dengan tekun. Heran. Tentu saja. Ia tak pernah melihat King-nya jadi serajin ini.

"Rias, kau membuatku bingung hari ini~" Ucapnya sambil menahan kekehannya lagi.

"Aku hanya ingin beda hari ini! Ya kurasa begitulah." Poni rambut merahnya yang membandel ia tiup karena menghalangi pandangannya untuk membaca tulisan soal didepannya saat ini.

"Kurasa kau perlu julukan baru. Seperti 'Si merah yang rajin' Ufufu~"

"Hentikan Akeno!"

"Ah, wajahmu yang memerah seperti itu lucu juga~".

Akeno kembali terkekeh puas, seakan ini jadi hiburan barunya yang cukup sederhana. Menggoda majikannya dengan hal-hal yang baru ia lihat dari Rias. Seperti tadi, sebuah kejadian langka Rias bisa menjadi rajin dengan cepat setelah lama terbaring di rumah sakit. Luar biasa bukan?

"Rias?"

Akeno memanggilnya, namun tak ada jawaban. Kemudian yang ia tahu adalah dari sorot tatapan Rias ke luar pintu kelas. Disana ada banyak sekali murid-murid berkumpul entah karena apa.

Rias bangun dari kursi dengan cepat. "Aku keluar dulu."

"Eh?"

Baru ia ingin menanyakan apa perihal Rias jadi melupakan tugasnya dan memilih keluar, orang yang dimaksud sudah jauh keluar kelas. Mulai dari tingkah lakunya yang aneh tadi pagi hingga setau Akeno kacamata yang tersimpan di almari ruangan Klub dipakai lagi oleh Rias. Awalnya masih bingung bagaimana Kingnya seperti ini, tapi setelah melihat tadi ia tahu alasannya.

"Buchou juga bisa menjadi gadis remaja biasa ya, ufufufu~"

.

.

"Kalian berdua tunggu disini."

"H-ha'i sensei..."

Dengan nada lemas Naruto dan Yune menyahut untuk tetap berdiri didepan ruang guru. Kalau mau dibilang sih, bahasa kasarnya itu lagi 'Apes' karena baru masuk sekolah dan langsung dapat poin lagi karena berkelahi. Itulah curhatan Naruto dalam hatinya sendiri. Meratapi nasibnya yang malang karena punya teman random seperti Yune.

"Ingat. Gelut kita belum selesai."

Demi kaki tetangganya yang penuh bulu, masih saja dibahas masalah tadi yang sebenarnya SANGAT tidak penting.

Naruto facepalm. "Ya ampun. Tak bisakah kau jadi normal sebentar saja."

"Jadi selama ini kaubilang aku abnormal!"

"KALIAN BERDUA DIAM!".

"...!"

Keduanya kicep seketika. Wajah mereka sudah tegang dan keringat dingin mendengar suara guru tadi yang menggelegar layaknya petir di siang bolong. Yang awalnya suasana disana biasa aja seketika menjadi seperti pengeksekusian mati. Perumpamaannya—.

"..."

"..."

"Gelut..." Yune berbisik pelan ke Naruto.

Sementara itu Naruto sudah berlinangan air mata menahan nasibnya yang sudah tamat bertambah tamat lagi—jadinya tamatnya memiliki season yang bertambah terus. Oke lupakan penulisan yang tidak jelas tadi-. Setelah menunggu cukup lama mereka akhirnya dipanggil masuk kedalam ruangan gur dan diberikan nasihatn serta satu poin pelanggaran karena melakukan tindakan yang memancing keributan di dalam lingkungan sekolah.

Setelah izin pamit kepada guru-guru di ruangan guru, mereka keluar dengan wajah lemas sambil menghela nafas berbarengan.

"Rasanya kakiku ingin melengkung karena terus bediri cukup lama." Yune menyender pada dinding di belakangnya dan melemaskan tubuhnya untuk merosot hingga terduduk dilantai koridor.

"Padahal topik yang sama ia ucapkan, namun ia sengaja mengulangnya entah kenapa. Mungkin untuk mengerjai kita sebagai hukumannya." Naruto sendiri melakukan pelemasan pada bagian pinggangnya yang berbunyi ketika ia memiringkan sedikit badannya.

Kruyuk.

Tangan Yune memegang perut dan meringis pelan mendengar suara yang berasal dari sana. "Mana pula istirahat kita lewatkan karena tadi. Rasanya aku ingin menghajar sisi bodohku ini jika di fikir kembali..." Dengan wajah yang seakan dibuat menderita, tangan yang memegang perut dan tak lupa dalam posisi duduk dilantai. Kurang baju compang-campingnya jika Yune ingin beralih profesi.

"Jangan difikirkan. Lebih baik kita kembali ke kelas saja. Aku membawa sebotol air mineral yang mungkin bisa mengganjal lapar kita." Sama halnya dengan Naruto. Namun sayangnya ia tak selebay Yune, meskipun tetap perutnya berbunyi cukup keras.

Dengan wajah yang masih sama Yune berdiri dan merapihkan blazer seragamnya yang sedikit berantakan. Dirasa cukup kemudian ia berjalan duluan di ikuti Naruto yang mengekor dibelakang sambil melihat pemandangan lapangan yang dihalangi kaca jendela yang tembus pandang.

Suasana koridor juga mulain sepi karena pelajaran setelah istirahat juga sudah di mulai. Untung jarak ruangan guru dan kelas mereka hanya perlu berjalan lurus dan berbelok ke kiri untuk sampai kesana. Jadinya mereka bisa cepat kesana tanpa perlu ditegur kembali oleh guru karena terlambat masuk ke dalam kelas. Sebuah lorong kecil yang cukup gelap karenan cahaya yang berasal dari jendela tidak masuk dengan sempurna ke dalam hampir mereka lewati dan hanya perlu beberapa langkah untuk melewatinya.

"Sehabis pulang nanti kita mampir ke kedai makanan dekat sini. Hari ini entah aku malas memasak untuk makan malam."

"Siap bos." Naruto menanggapi Yune dengan ucapan yang dibarengi tangannnya yang memberikan tanda hormat ke Yune.

Laki-laki yang sudah menginjak umur 18 tahun itu memegangi dagunya yang tak memiliki jenggot untuk mencoba memikirkan menu apa yang akan ia pesan nanti jika sudah ke kedai. "Bagaimana dengan Katsudon? Aku selalu saja gagal membuat adonan Katsudon. Mungkin setelah melihat dan memakannya buatan kedai itu aku memahami apa kegagalanku itu."

"Aku ramen saja, mungkin miso ramen. Sedikit memvariasikan favorit-eh."

Sebuah tangan dari lorong yang Naruto ingin lewati menarik pergelangannya. Sejenak ia ingin kaget dan berteriak kearah Yune, namun seakan lunturnya rasa kaget itu dengan tatapan lembut seorang gadis yang menatapnya dengan senyuman manis di bibir.

"R-Rias.."

"Naruto." Gadis yang ia panggil Rias tersebut menyahut dengan senyuman yang makin lebar sambil memiringkan kepalanya.

Sontak Naruto jadi terpaku dan terdiam menatap keindahan gadis itun yang masih menggenggam tangannya tersebut. Satu-satunya hal yang membuatnya sadar adalah garis wajah gadis tersebut yang membius otaknya untuk tetap membeku di tempat seperti di belenggu oleh pesona gadis dengan surai yang semerah darah miliknya.

Rias melepaskan pergelangn Naruto dan menaruh kedua tangannya di belakang badan"Tunggu aku di halaman belakang sekolah selekas pulang sekolah nanti."

Kesadaran yang sesungguhnya menyadarkan dari ilusi otaknya dan membuat fungsi kerja sel-sel otak kembali seperti semula seketika dengan di ikuti wajah Naruto yang gugup. "A-ah, baiklah. A-aku akan kesana setelah pulang nanti."

Dirasa perjanjian itu sudah di sepakati keduanya, Rias keluar dari lorong tersebut dan berdiri tepat di sebelah Naruto sambil mempertahankan senyumnya. Namun seketika senyuman itu terganti cemberut yang terkesan menggemaskan karena reaksi Naruto yang masih diam membatu ditempat. "Tidak ada ajakan untuk jalan menuju kelas bersama?".

"E-eh, tentu saja. Maksudku-" Naruto sedikit batuk kecil dan berdehem untuk menormalkan kembali suaranya yang hilang akibat gugup. "With pleasure, My Lady."

Rias sedikit terkekeh ketika Naruto bersikap dengan sangat sopan mengucapkan salam dan menunduk layaknya pangeran yang menjemputnya. "Ufufufu~ Dasar memang yang baru pulang dari Inggris."

"Ah, saya hanya mencoba bersikap sopan kepada sang putri yang kini bersama dengan saya."

Mereka kini terkekeh bersama. Raut keraguan yang semula muncul di awal pertemuan mereka kembali seperti hilang ditelan bumi. Menyisakan senyum dan kebahagiaan yang baru di mulai setelah 5 tahun lamanya. Mencoba saling memahami dan membagi rasa bersama dalam kehangatan cinta yang dialami para remaja pada umumnya.

Saling berpegangan dan membalas senyuman masing-masing, mereka berjalan menuju kelas di iringi candaan kecil Naruto yang selalu membuat Rias tak henti untuk tergelak kecil. Melewati Yune yang terpaku di tempat. Karena bermaksud menunggu Naruto, namun yang ada kini ia bagaikan obat nyamuk dadakan.

"Kapan-kapan nyari pacar ah.."

.

.

.


.

.

.

Disebuah dermaga yang kini mulai sepi oleh kegiatan perlautan disana karena matahari yang terus tenggelam di barat dan menerangi sekitarnya dengan warna kejinggaan. Sahut-sahut peluit kapal yang biasanya memenuhi udara sekitar terganti sua burung-burung camar yang berterbangan untuk mencari makan atau sekedar memutari dermaga.

"AAAAAAHH!".

Perahu-perahu kecil serta yang besar mengapung di pinggiran tepian sedikit bergoyang oleh ombak yang menjadikan pemandangan khas yang membuat siapapun betah melihatnya.

Jrasssshh!

"UARRGHHH!".

"AAAAAAAAAAAH!".

Seketika sebuah jeritan di salah satu sudut menggema hingga merubah suasana yang tentram tersebut menjadi sebuah petaka yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya untuk para pelaut dan pekerja yang bahkan tidak melakukan kesalahan atas apa yang telah mereka lakukan selain bekerja disini.

"HENTIKAAAAANHHH!

JRASSSH!

JRASSH!

Burung camar yang hendak bertepi dan bertengger di dekat sana pun terbang dengan sangat cepat dan berhamburan dalam gerombolan dengan jumlah yang tak terhitung jari. Saat sebuah darah yang terciprat, tubuh yang hancur, isi organ dalam yang bercecer di lantai menjadi sebuah saksi yang tak terbantahkan oleh mata siapapun yang melihatnya.

"Dalam keadaan ingin mati pun kalian memang berisik ya.."

"Kumohon... Kasihani aku, aku memiliki anak yang masih-"

CPRAAAAT!

Bahkan sebelum pekerja terakhir yang tersisa tersebut menyelesaikan ucapannya, kepala yang berisi otak untuk memberikan komando pada seluruh tubuhnya sudah terlebih dahulu melayang dan mendarat dengan cukup keras. Hingga tubuh tanpa kepalanya teronggok dengan darah yang mengucur di leher.

"Aku muak dengar alasan yang sama dari kalian!" Tanpa ada rasa kasihan. Hanya hawa nafsu membunuh yang tinggi dari seseorang yang merupakan penyebab insiden berdarah ini.

Kepala tanpa tubuh yang baru saja terpenggal ia dekati, sebelum akhirnya hancur dalam injakan kakinya yang di tutupi zirah uggu kehitaman yang juga menyelimuti tubuhnya. Hanya alasan ini yang mampu menggambarkan kejadian tak manusiawi dan brutal itu.

Dia bukan manusia.

Namun buktinya adalah tubuh tinggi tegapnya yang normal layaknya manusia pada umunya. Salah satu yang menjadi alasan ia berbeda dari manusia pada umunya adalah zirah tebal yang menempel kokoh di tubuhnya dengan aura yang tidak nyaman dan penuh ancaman. Wajahnya terlihat jelas, tetapi sorot matanya tertutup bayangan helm zirah yang ia kenakan. Dizirahnya tersebut sepasang sayap yang menekuk sedikit bergoyang ketika ia bergerak. Menjadikan seseorang tersebut semakin misterius dan berbahaya.

"Terlalu berlebihan seperti biasanya ya. Kak?"

Salah satu suara yang baru muncul dari belakang seseorang tersebut. Bunyi derakan yang mendekat jadi pertanda bahwa orang baru tersebut mendekati sang 'maniak' yanh sudah selesai membantai puluhan orang disini dengan tangan kosong. Benar, tangan kosong. Tangan kanannya tersebut masih menetes deras darah korbannya yang ia bantai seperti layaknya anak kecil yang membunuh semut.

"Aiakos." Orang tersebut memanggil nama seseorang baru yang baru tersebut.

"Sudah kubilang kau untuk tidak ikut datang kesini, tapi kau masih tidak mengerti juga perkataanku."

Dalam siluet orang baru tersebut yang mulai terkena cahaya menampilkan sebentuk tubuh seperti manusia juga pada umunya, namun ia juga memiliki zirah yang berbeda dengan orang yang ia panggil dengan 'Kak' tersebut. Zirah yang ia kenakan memiliki sayap yang melengkung keatas dan juga helm yang menutupi sorot mata namun tidak dengan wajahnya. Aura yang sama menguar dari tubuhnya di iringi senyuman simpul terpatri pada wajahnya.

"Orkus-sama sendiri yang memintaku untuk menemanimu. Menurutnya kau selalu ceroboh dalam mengambil keputusan." Langkahnya semakin dekat dengan Kakaknya tersebut dan berhenti tepat di genangan darah dari kepala pekerja dermaga yang sudah hancur.

"Dan itu memang benar sekali."

"Diam kau!" Tak terima, tangannya yang masih di penuhi darah ia ayunkan hingga darh kembali bercipratan ke segala arah. "Aku mulai makin tidak suka dengan orang tua menyebalkan itu!"

"Nah nah, kurasa emosimu sudah mencapai puncaknya, Kak." Kekesalannya semakin dibuat menjadi dengan perkataan Adiknya yang mulai memprovokasi.

"Baiklah! Kurasa kita tidak akan menemukan dia disini!" Dalam emosi yang sudah tersulut tersebut ia berjalan menuju arah sebaliknya dan melewati sang Adik yang masih mempertahankan senyumnya.

"Akhirnya, aku melihat sisi mengalah dari sang Hakim Terkuat Radamanthys-sama."

Aiakos, nama orang tesebut mengikuti Kakaknya dengan pelan dan diikuti derakan zirah yang menggema di sekitar tempat ini. Sebuah cahaya pillar berwarna ungu menyelimuti mereka berdua, dan juga dalan sekejap mata mereka menghilang.

Menjadikan tempat yang awalnya ramai oleh suara mesin menjad8 keheningan mencekam dengan dibarengi pembantaian yang pastinya akan membuat bingung aparat yang akan tak lama lagi menelusuri pembunuhan sadis ini.

Siapa mereka sebenarnya?

.

.


.

.

"Em... Kurasa disini tempat yang di maksud Rias."

Entah sudah beberapa kali Naruto melihat dan menggulirkan pandangan matanya kearah sekitar hanya sebuah halaman belakang sekolah yang cukup luas dan sepi. Bahkan ia bisa sangat jelas mendengar kicauan burung yang berada diatas pohon untuk beristirahat di senja hari dan angin semilir yang kadang melintas menerbangkan dedauan berguguran.

Bahkan dengan nakalnya angin juga menyapu helaian kuning poni rambut durian milik seorang pemuda dengan pipi yang memiliki tanda 3 goresan yang tersamar. Blazernya yang tidak terkancing juga sesekali mengayun pelan sesuai pergerakannya yang kesana-kemari. Iris biru langitnya yang teduh sewarna birunya angkasa menatap sebuah gedung tua yang tidak asing di ingatan.

"Halaman belakang sekolah sebenarnya hanya patokan." Tebaknya sambil sedikit menghela karbondioksida dan menarik kembali oksigen ke paru-paru.

"Benarkan Rias?" Naruto tersenyum simpul menyambil kepalanya mendengak sedikit keatas dimana sebuah jendela yang berasal dari gedung tua yang tak jauh dari posisinya.

Posisi jendela itu tinggi dan sangat strategis. Menghadap langsung kearah halaman belakang sekolah dan bisa ditebaknya jika memandang sekitar bisa sangat jelas jika berada di dalam jendela tersebut. Karenanya, senyuman di bibirnya memiliki arti sebuah rasa senang menatap jendela berbingkai kayu dan di figura dengan kaca bening yang terbuka lebar.

Disana. Seperti sebuah keindahan dunia terpancar. Laksana keindahan dunia yang terbentang luas di bumi itu terangkum dalam satu tatapan yang disaksikan bola matanya. Warna langit senja yang memerah menerpa helaian panjang rambut sewarna crimson milik seorang gadis yang menatap balik kearahnya. Bahkan ia percaya, senyuman Monalisa yang terlukis oleh tangan Leonardo da Vinci bukan tandingan untuk senyuman gadis tersebut.

Sebuah rasa yang memenuhi perut menjalar layaknya kupu-kupu berterbangan memenuhi rongga di dalam perut Naruto. Takjub, terkejut dan gugup mewakili apa yang kupu-kupu itu lakukan hingga menjalar ke hatinya. Maka dari itu, kakinya sedikit melangkah kedepan bergantian menciptakan gerakan spontan untuk berjalan menuju ke dalam gedung tersebut.

Meskipun Naruto sudah mulai semakin dekat dengan tujuannya, gadis tersebut seperti menggodanya dan membuat hati Naruto selalu terbuai. Akhirnya dengan keputusan yang diambilnya, Naruto berhenti berjalan dan menatap keatas dimana jendela tersebut masih menggambarkan wajah jelita gadis idamannya.

"Kau mencoba menggodaku, My Lady?" Dengan nada hormat seperti yang ia lakukan siang hari kepada gadis tersebut yang hanya menyingkap helaian rambut ke telinganya.

"Ada masalah dengan itu, Tuan?" Sambil bersedekap dengan anggun ia bertanya kepada Naruto.

"Ah!" Naruto menepuk tangannya karena teringat sesuatu. "Kau harus bertanggung jawab atas tindakanmu sebelumnya."

"Hm? Memang apa yang kuperbuat hingga aku harus bertanggung jawab?"

"Karenamu aku harus berputar-putar mencari lokasi yang selama ini sebenarnya sudah kutemukan sedari tadi." Naruto menunjukan wajah yang kesal dibuat-buat. "Maka dari itu aku meminta pertanggung jawabanmu, My lady."

Bukannya merasa takut atau bersalah, sang gadis hanya tertawa ringan. "Oh, benarkah? Apa kau masih mengingat perjanjian yang sudah kita buat sebelumnya?"

"Tentu saja." Naruto menyiapkan nafasnya untuk menjawab pertanyaan. "Aku harus menunggumu di halaman belakang sekolah."

"Lalu? Ada yang salah?".

Sebuah perempatan muncul di kening Naruto mendengar jawaban gadis itu yang malah bertanya balik dengan wajah polos. "Harusnya kau menungguku disana! Bukannya bertengger di jendela itu seperti burung beo!".

Rias, memasang wajah berfikir sambil menaruh telunjuknya di dagu untuk mencoba mencari alasan yang lain. "Hmm... Begitu ya."

"ASTAGA!" Naruto tepar di tempat.

"LELAH KOKORO INI! TUSUK SAJA KOKORO INI!" Kemudian rasanya saraf di Naruto lepas karema sekarang ia kejang-kejang seperti cacing ketika di taburi garam.

"Naruto lebay deh." Rias melet sambil tersenyum meremehkan. "Aku bercanda. Maafkan aku karena membuatmu berputar-putar terus mencariku."

Setelah menyadari tingkah humor recehnya sudah melebihi batas dan sedikit gila (Atau dalam artiannya memang gila) badannya berdiri kembali dengan tegap dan bersikap seperti tak terjadi apapun tadi.

"Ehem—Jadi, bagaimana?" Tanya Naruto kembali dalam dirinya yang biasa.

Merasa sesi bercanda sudah berakhir, Rias tersenyum kembali. "Silahkan masuk, yang lain sudah menunggu, Naruto."

Percakapan diakhiri oleh Rias yang berjalan menuju kedalam ruangan di jendela itu. Tinggal Naruto sendiri sambil melanjutkan tujuannya ke gedung tua yang hanya membutuhkan 10 langkah kaki. Sebenarnya, ia tidak marah. Itu hanya sengaja. Naruto hanya mencoba bersikap seperti sewajarnya ia di mata Rias. Konyol, ceroboh, dan lainnya hal yang pastinya random untuk sekedar membuat tawa teman masa kecilnya.

Memang jika dipikirkan kalau sekarang, faktor umur dan sifat terasa menjijikan. Namun terkadang menjadi orang yang bodoh itu adalah hal yang sangat spesial. Karena pasti semua kecanggungan tidak akan pernah kau temukan ketika si bodoh ini sedang mencoba menghiburmu. Itulah, mengapa ia mengerti setelah melihat Yune sekarang ini. Dalam sifat bodohnya ada sebuah kebaikan tulus dari seorang Kurosawa.

Karena mengingat terus apa yang ia rasakan setelah melihat Yune. Bahkan ia lupa jika sudah berdiri cukup lama di pintu masuk gedung. Tangannya mengetuk pelan pintu kayu tersebut sebanyak 3 kali.

"Silahkan masuk!".

Kode untuk masuk sudah siap. Grendel pintu ia pegang terlebih dahulu menunggu kesiapannya untuk mendorongnya agar pintu terbuka.

Kreek!

"Konnichiwa!"

"Konnichiwa."

Naruto kembali menutup pintu dengan rapat dan suasana ruangan yang hanya diterangi lilin menjadi sapuan matanya. Anggota klub berkumpul di ruang tengah dan duduk manis di sofa yang dekat dengan pintu masuk. Namun mendadak—

"E-erngh..." Sebuah sensasi kejutan listrik menjalar di kepala Naruto. Entah mengapa, melihat ruangan ini ia mengingat sesuatu yang seharusnya ia lupakan.

Sial. Kenapa harus di suasana yang sepertu ini?

Dengan langkah kaki yang sedikit agak gemetar, Naruto berjalan menuju ruang tengah sambil sesekali memijat pelan pelipisnya. Merasa jarak yang makin mendekat dan ia masih menarik perhatian dengan gaya berjalannya yang aneh, tangannya memeremat erat cealanya. Memasang senyum terbaik dan melupakan sejenak masalah tadi.

"Yo, apa kabar semua?".

"Baik." Jawab Koneko meskipun dalam keadaan mengunyah biskuit.

"Tentu saja baik, Naruto-senpai." Satu-satumya laki-laki yang berada diruangan tersebut yaitu Kiba melambaikan tangan kepada Naruto yang tentu langsung di balas Naruto.

"Ara ara~" Akeno yang berada sedikit jauh dari Koneko dan Kiba hanya mengucapkan nada aneh yang entah Naruto sedari kemarin tidak suka.

Dari balik ruangan yang di belakangi oleh Akeno, seseorang yang merupakan ketua dari klub ini memunculkan dirinya dengan berdiri di samping temannya tersebut dengan berdiri tegap dan penuh wibawa. "Selamat datang di Occult Research Club, Naruto Uzumaki."

"Ano, apa memang harus memanggilku dengan nama panjang kah kalau disini?" Jawab Naruto dengan sweatdrop.

"Tentu saja. Aku harus bersikap sopan dengan anggota baru klub ini." Sebuah meja dengan interior mewah Rias dekati demi menuju kursi yang berada di balik meja itu. Dengan penuh anggun ia duduk dengan pelan dan menyenderkan dagunya dengan kedua tangan menyangga kepalanya di meja.

"Eh—tunggu, anggota baru?" Naruto blank mendadak. Skenario ucapan Rias tentang anggota baru tidak pernah terpikirnya. "Kau bahkan belum menawarkannya padaku namun..."

Kepalanya mendadak gatal, ucapannya yang tidak selesai tersebut menunjukan kebingunhannya dalam situasi ini.

Tak beberapa lama, gelakan tawa cukup kencang Rias menginterupsi ketentraman ruangan ini.

"Kena kau, Naruto! Ahahaha~ Harusnya kau melihat wajahmu tadi itu~" Hilang sudah aura kepemimpinan dari seorang Ruin Princess. Tidak ada lagi kesan anggun dalam duduknya, malahan ia duduk dengan tangan yang menggebrak meja untuk merealisasikan rasa senang. Yang lain hanya poker face melihat sisi lain sang Kingb mereka

Naruto mengkerut dengan wajah poker face juga. "Y-yasudah. Aku mau pulang dulu dan memukul kepalaku ke dinding hingga amnesia."

Semenjak saat itu—para anggota klub milik Rias mendapatkan sebuah tembakan langsung di kepala—bermaksud dalam pengartiannya. Apalagi dengan Kiba serta Koneko, semenjak daritadi Kiba tertawa canggung dan bingung bagaimana menanggapi percakapan yang tidak pernah dikiranya. Begitu juga dengan Koneko, namun karena memang ia jarang bicara jadinya sulit ditebak apa yang di rasakannya saat ini.

Kok sepertinya ada yang kurang jika di simak baik-baik ya?

Naruto mengambil tempat duduk di sofa tidak jauh berada Kiba sedang terduduk. Adu mulut yang sebenarnya tidak penting tadi hanya membuang-buang nafasnya. Jadinya sedari tadi ia menghirup nafas dengan rakus untuk kebutuhan oksigen.

Setelah cukup rileks, akhirnya punggung tegapnya menyender dengan nyaman di sofa. Sebuah pertanyaan muncul mendadak di benak Naruto setelah melihat-lihat dan menyimpulkan sesuatu.

"Seingatku. Anggota klubmu lebih dari ini 'kan, Rias?"

"Maksudmu, Issei dan Asia?" Naruto mengangguk dengan sedikit ragu.

"Mereka sedang melaksanakan kontrak berdua sesuai keinginan mereka."

"J-jadi begitu kah?" Rias mengangguk antusias sambil tersenyum. "B-baiklah. Aku paham."

"Ah, aku juga baru ingat."

"Ha'i?"

Rias berdiri dari singgsahsananya dan berjalan mendekati Naruto di temani Akeno yang mengekor di belakangnya. "Karena kurasa teh dan cemilan kecil hanya untuk pengisi suasana. Maka dari itu aku ingin memasak."

"Memasak?" Beo Naruto.

Rias mengangguk lagi. "Kudengar hari ini kau melewatkan waktu istirahat tanpa makan bukan, Naruto." Tangan Rias menutup mulutnya menahan cekikikan akibat mengingat sebenarnya penyebab Naruto tidak makan selama istirahat.

Naruto berdiri ditempat dengan suara gaduh, bahkan Kiba yang sedang meneguk teh menyemburkan isi teh di mulutnya karena terkejut. "E-eh... Jadi kau juga mendengarnya!?"

"Dengan sangat jelas~" Balas Rias seperti bangga dengan apa yang tahu sambil bersedekap kembali.

"Demi apapun, jangan beritahu siapa-siapa. Oke?" Naruto mengisyaratkan dengan tangannya yang mengerucut didepan mulut agar Rias tidak menyebarkan hal memalukan tadi siang.

"Ha'i ha'i, wakarimashita!" Balas Rias dengan nada khas percakapan orang-orang di Jepang. "Naruto? Bagaimana kalau mengajak temanmu itu untuk datang juga. Nasibnya juga hampir sama denganmu bukan?"

"Hm, bisa saja." Naruto mengambil ponsel yang ada di sakunya. Menekan tombol tuts nomor tertera di keyboard kecil ponselnya.

"Sebentar ya." Naruto pergi agak ke pojokan demi untuk tidak terganggu saat menelpon.

Tuuut~

Masih belum diangkat.

Tuuuuut~

Masih juga belum diangkat. Apa Yune tidak membawa ponselnya ke sekolah?

Tuuut~

Ctik!

"Moshi moshi."

"Yune."

"Ha'i, Naruto? Ada apa menelponku?"

"Kau belum sampai ke kedai makanan bukan?"

"Harusnya sih, sebentar lagi aku sampai. Memang ada apa? Mau menitip pesanan?"

"Tidak, tidak perlu. Justru aku yang harusnya menawari hal yang cukup menarik sekarang ini." Ucap Naruto pada Yune sambil mengintip Rias dan Akeno yang sudah tidak ada di tempat, hanya menyisakan Koneko dan Kiba.

"Hah? Hari ini kau tidak makan kadal kan?"

"Lupakan itu." Naruto sweatdrop. "Pernah dengar, makan gratis?"

"Makan... Gratis?" Naruto menjadi tersenyum ketika mendengar nada bicara Yune yang sudah terpancing.

"Benar sekali. Kau tertarik?"

"L-lalu menunya ada apa saja k-kalau gratis?"

Ah, dia lupa bertanya dengan Rias apa yang akan di masaknya nanti. Kepalanya kembali menoleh kearah dua orang yang kink satu sibuk dengan memakam biskuit dan yang satunya memoles pedangnya.

"Hei, psst! Biasanya kalau Ketua kalian memasak makanan, menu apa yang biasanya di sajikan?".

Kedua orang itu menoleh. Kiba ingin membuka mulutnya dan menjawab pertanyaan Naruto. "Buchou—"

"Buchou biasanya memasak makanan Eropa semisal makanan Italia. Sedangkan Akeno-senpai biasanya memasak makanan khas Jepang pada umumnya." Koneko memotong ucapannya. Memang, kalau soal makanan Koneko cepat tanggap. Bahkan kecepatannya sebagai bidak Kuda kalah cepat.

"Sudah dijawab Koneko-chan." Tambah Kiba dengan senyuman paksa.

"Oh, arigatou!" Naruto memberikan jempol untuk isyarat terima kasih.

"Disini ada masakan Itali dan Jepang. Pokoknya, selama gratis dijamin enak." Samar-samar Naruto mendengar grasak-grusuk dari speaker ponsel dan sedikit menggangu telinganya.

"Yune? Kau masih disana?"

"Lokasi berada dimana, Taichou!".

"E-eh. Kau tahu Klub Penelitian Ilmu Gaib bukan?"

"Ha'i, saya tahu!".

"Cukup datang kesana dan bertamu seperti layaknya bertamu ke rumah tetangga. Cukup jelas?"

"Sangat jelas! Menuju lokasi, Taichou!".

Piip

Sambungan telepon diputus Yune. Berarti Naruto tidak perlu panjang lebar untuk menjelaskan situasi dan lokasi jika memang temannya yang memiliki kelainan itu paham akan lingkungan sekolah ini. Bergegas Naruto kembali ke tempatnya dan duduk dengan rapih seperti sedia kala.

"Tinggal menunggu dia datang saja."

"Sepertinya kalian sangat dekat sekali ya, dengan teman Naruto-senpai tersebut." Kiba menginterupsi sambil tetap memoles pedangnya yang sebenarnya sudah kinclong namun masih saja di bersihkan oleh Kiba.

"Sangat dekat. Bahkan aku bisa menebaknya datang kesini hanya dengan hitungan jari."

"B-benarkah itu?".

"Kau tidak percaya?" Kiba hanya tertawa canggung.

"Baiklah." Naruto mengangkat 3 jari kanannya. Jari telunjuk, tengah dan manis untuk memulai aba-abanya. "Akan kuhitung sekarang juga." Dengan kedipan sebelah mata Naruto menghitung mundur.

3.

2.

1.

"Dan, sekarang dia ada di depan pintu."

Tok tok tok!

Benar saja—atau cuma kebetulan? Bukan, mustahil jika di bilang kebetulan. Secepat apa Yune hingga hanya membutuhkan beberapa menit bahkan satu menit pun tidak sampai? Well, hanya Yune dan Tuhan yang tahu bagaimana hal itu terjadi.

"Sebentar.." Koneko berinisiatif membukakan pintu. Gadis mungil tersebut berjalan dan langsung membuka grendel pintu lalu membukanya. "Siapa kau?".

Yune yang sedikit terbengong dengan pakaiannya sedikit kotor dan ada bekas dedaunan menempel saat memperhatikan sekitar menjadi sadar kembali ketika pintu terbuka. "Ya? Oh, kau pasti Koneko Toujou bukan?".

"Silahkan masuk." Sangat dingin, bahkan panggilan Yune seperti hanya angin yang didengar Koneko.

"A-astaga, aku hanya mencoba berkenalan kok." Dengan langkah gontai Yune masuk kedalam dan membuntuti kemana Koneko menuju ruang tengah.

Ketika sampai ia melambaikan tangannya kearah Kiba yang juga dibalas Kiba oleh senyuman. Namun saat bertatap wajah dengan Naruto, Yune secara cepat menarik Naruto yang masih asik duduk di sofa hingga membuat pemilik tangan yang ia tarik tersebut mengaduh kesakitan.

"Kau ini apa-apaan sih!" Ketika sudah berada di pojok ruangan Naruto secara cepat melepaskan tangannya dari cengkraman Yune. "Sudah baik aku mengundangmu kemari tahu?".

"Iya iya, aku tahu." Tangan Yune mengadah ke telinga Naruto layaknya orang sedang ingin membisikan sesuatu. "Aku cuma ingin bertanya sesuatu."

"Bertanya hal apa?"

"Masakan yang akan di hidangkan enak tidak?"

Krik

Krik

Krik

Buaagh!

"UDAH DIKASIH GRATIS KENAPA KAU MASIH BERTANYA HAL ITU, TEMEE!"

"Urghh... TAPI TIDAK DENGAN CARA MENINJU PERUTKU JUGA, BAKAYARO!"

"KAU MALAH MEMBUAT KITA MALU NANTI JIKA BERTANYA ITU MASALAHNYA!"

"APA KAU BILANG? JUSTRU KARENA KAU MENINJUKU DAN BERTERIAK MALAH KAU YANG MEMBUAT KITA MALU!"

Ya ampun—. Apakah perang dunia ketiga baru akan saja di mulai sebelum jamuan makanan?

"K-kurasa aku mulai mengerti tentang ucapanmu tadi N-Naruto-senpai." Kiba menginterupsi lagi. Sejujurnya ia mau melerai, namun tidak jadi karena di lerai pun percuma jika dengan olehnya.

"KAU MENGERTI, KIBA? INILAH MENGAPA AKU SANGAT DEKAT DENGAN PONI GILA INI!"

"APA BARUSAN KAU BILANG DUREN KUNING?"

"AKU MENGATAKAN PONI GILA! IYA, PONI GILA!".

"CUKUP AKU SUDAH—"

"Maaf menganggu acara sungkeman anda bapak-bapak, tetapi saya ingin memberi tahu bahwa hidangan sudah hampir siap di hidangkan."

Ah. Untung Akeno yang baru keluar dari arah dapur muncul dengan celemek khas koki terpakai di seragam sekolahnya. Setidaknya pertempuran hebat abad ini tertunda oleh sebuah hidangan penggugah selera. Kedua bapak(?) yang di maksud tersebut saling pandang diri mereka sendiri dan secara cepat memisahkan jarak sambil merapihkan pakaian mereka yang sedikit berantakan. Melalui arahan dari Akeno, semua orang disana bergegas menuju dapur berbarengan

"Tunggu sebentar." Reflek semua orang menghentikan gerakan pada tubuh mereka saat salah satu koki lain yang sedang memasak yaitu Rias sendiri keluar dari dapur. Satu hal yang tergambarkan: Bingung.

"Semua hidangan akan kita santap di ruangan ini. Karena pasti meja makan di dapur takkan cukup untuk kita beserta tamu-tamu kita." Tambah Rias mencoba menjawab kebingungan mereka semua. "Akeno."

"Ha'i Buchou~"

Mengerti keingingan sang King. Sebuah lingkaran sihir cukup besar Akeno buat di tengah posisi dalam ruangan hingga menyebabkan sinar yang cukup terang dari lingkaran sihir menerangi sekitar. Dan, dalam sekejap mata, voila~ Sofa-sofa empuk yang berada di sini terganti oleh jejeran bangku yang di bariskan oleh meja panjang layaknya meja makan kerajaan sedang menjamu seorang tamu kehormatan.

Tidak hanya itu, seluruh hidangan yang sudah di masak tertata rapih disana. Terbukti dari asap yang mengepul di salah satu makanan, jadi koki-koki itu memang baru saja selesai memasak. Tak lain tak bukan untuk tujuan menyambut dua orang yang dilanda kelaparan karena sesuatu hal bodoh.

"Wow." Yune terkesima hingga mulutnya terbuka.

Sementara Naruto mengangguk-angguk pelan seperti paham akan sesuatu. Padahal sebenarnya ia juga terkesima—namun tidak ia ungkapkan seperti Yune. Intinya ia mau jaim alias jaga image.

Semua orang mengambil tempat duduk masing-masing sesuai barisan kursi yang berjejer memanjang di samping meja tersebut. Bunyi khas kursi kayu yang di dorong berderit bersahut bersamaan mendudukan diri mereka dengan nyaman di kursi. Di tiap kursi juga sudah tersedia makanan pembuka berupa sup oriental yang masih mengepulkan asap.

Semua terdiam sejenak, hingga pada akhirnya dentingan sendok yang bergesekan dengan mangkuk sup menjadi pertanda makan malam di mulai. Rias memandang para Peeragenya dengan senyuman manisnya, tidak perlu ada rasa khawatir untuk melihat mereka makan dengan etika yang sudah di ajarkan oleh keluarga Gremory. Sampai akhirnya sebelah alisnya naik saat menggulirkan matanya kearah tamu spesialnya yang masih diam dan nampak canggung.

Rias menghela nafas sambil bertopang dagu di meja. "Tak perlu sungkan. Naruto, dan... Emm..."

"Yune Kurosawa, panggil saja Yune." Sahut Yune, sambil mengenalkan namanya ketika memandang Rias dengan wajah kaku.

"Astaga. Makanan ini tidak di racun kok." Rias berfaceplam.

"Ayo, makan sepuasnya. Aku akan membuatkannya lagi jika ingin tambah."

Sontak, Naruto dan Yune menatap Rias dengan serius kemudian saling bertatap wajah. Tak berapa lama, mereka ikut hanyut dalam suasana makan malam dengan mengangkat sendok dan mengayup kuah sup kedalan mulut. Begitu khidmat, layaknya seperti makan malam kerajaan.

Sampai ketika—

"Buchouu! Aku sudah berhasil membuat satu kontrak!"

Pintu depan ruangan klub terbuka dengan kasar dan menyebabkan debuman keras saat daun pintu itu bertubrukan dengan dinding. Akibatnya cukup beragam, ada yang tersedak karena kaget. Bahkan sampai ada yang tersedak sendok sambil berusaha untuk tetap hidup—.

"A-aku juga berhasil membuat 2 kontrak bersama Ise-san!" Dari belakang orang yang mendobrak pintu 'semau gue' tersebut, seorang gadis dengan rambut pirang panjang ikut melapor juga.

Dalam wajah yang masih kaget, Rias mengerjapkan matanya beberapa kali hingga akhirnya sadar dan memasang gaya wibawanya.

"Kerja yang bagus, Ise, Asia."

Ah, ternyata si Sekiryuutei, Issei Hyodou yang bersama dengan Asia Argento pergi untuk membuat kontrak dengan manusia. Well, memang terkadang mengejutkan. Ada ya manusia yang terikat kontrak dengan Iblis? Tapi memang itu kenyataannya. Faktanya pula, semakin banyak kau membuat kontrak maka tingkatan level Iblismu bisa naik yang awalnya adalah Iblis level rendah.

Ise yang sudah kegirangan di puji Kingnya hanya cengengesa. "Tapi lain kali usahakan mengetuk pintu dulu. Karena tindakanmu tadi menelan korban."

Wajah Ise mengkerut, dan pandangan teralih pada Yune yang kejang-kejang di kursi menahan sakit akibat sendok yang masuk ke tenggorokannya. Bahkan Naruto yang ada di sebelahnya menampar wajah Yune agar manusia yang apes ini memuntahkan sendok itu.

"Muntahin bego! Jangan di emut sendoknya!"

"Aakhhahhk! Emuthh palamuhh kotakhh!"

—setelah sesi meminta maaf dari Ise dan pertolongan pada Yune yang berhasil. Ise dan Asia ikut nimbrung dalam acara makan malam dadakan ala Klub Penelitian Ilmu Gaib untuk menyambut tamu kehormatan. Suasana yang harusnya syahdu dan hening tersebut malah seperti pasar. Dalam artian ramai, Yune yang tidak menerima perlakuan Ise dan Ise yang kesal karena sudah meminta maaf namun Yune seperti masa bodo dengan ucapan Ise.

"Rambut sapu!".

"Kadal mesum!".

Adu argumen yang terus menerus mereka lakukan tanpa henti, apalagi posisi mereka yang bersebrangan dari meja makan. Sudah tidak bisa di lerai lagi mereka. Penonton pun tampak menyimak dengan baik, mereka lebih mirip menonton pertandingan tenis karena terus bergantian menatap dua orang itu.

Namun tidak dengan Naruto, tampak dia seperti stres melihat orang bodoh yang saling bertemu dan berdebat. "Aku rasanya ingin mengubur diriku sendiri saat ini."

Rias yang dari awal selalu menatap Naruto terus terkekeh pelan, sepertinya hanya mereka berdua yang tidak ikut menonton perhelatan debat tidak penting tersebut. "Tidak masalah. Menurutku ini merupakan hiburan yang jarang kulihat seperti sekarang ini."

Naruto menatap Rias dengan wajah lesu. "Kurasa memang seharusnya dua orang itu tidak di pertemukan saja." Kepalanya yang dihias rambut pirangnya diantupkan ke meja dengan kencang bermaksud meringankan migrain yang muncul tiba-tiba.

Namun, karena itu Naruto tidak menyadari. Bahwa dua iris Blue Green dari heiress Gremory tersebut memandang penuh arti dirinya. Sosok Naruto Uzumaki berubah drastis, bocah yang selalu melakukan keisengan itu kini menuju tahap kedewasaan di umur yang cukup matang. Tutur katanya, sikapnya, dan tentu dari penampilannya sangat berbeda dengan yang dulu. Mungkin hanya itu yang bisa ia lihat sekarang ini pada Narutonya, masih ada rasa penasaran di lubuk hatinya tentang apa yang sudah terjadi selama mereka tidak bertemu dan hal-hal lainnya.

Kesimpulan dari semua itu bukanlah penyebab ia menganggumi penyemangat hidupnya tersebut. Satu-satunya hal yang tidak pernah berubah dan selalu menjadi ciri khasnya adalah senyuman 5 jari tersebut. Dalam suka dan duka, senyuman secerah matahari itu selalu muncul pada Naruto. Senyuman itu seperti memberinya sugesti untuk ikut tersenyum, seperti tubuhnya di kendalikan oleh sihir yang kuat dan membuatnya bergerak.

Kenyataannya itu hanyalah senyuman. Ya, senyuman yang di miliki Naruto. Senyuman tulus dan penuh akan keceriaan. Senyuman dari wajah yang selalu membuatnya terpaku.

Entah kenapa memikirkan itu semua membuat jantung Rias berdegup kencang. Padahal Naruto saat ini sedang dalam keadaan—kau tahulah. Namun hatinya terus membayangkan itu semua, tidak perlu melihatnya secara langsung. Melihat Naruto saja dan membayangkan saat itu ia menatap langsung wajahnya sambil tersenyum. Ah, sial. Apakah jatuh cinta memang serasa seperti ini?

Dengan segenap keberanian yang ada dalam kesempatan ini karena perhatian seluruh anggota Peeragenya teralih kearah Yune dan Ise, Rias berjalan menuju kursi Naruto yang hanya berjarak 5 langkah dari tempatnya untuk menemui Naruto.

"N-Naruto..." Lirih Rias.

Naruto menoleh karena merasa dipanggil oleh Rias. "Ha'i?"

Astaga, harusnya bukan ia yang berencana mengajak Naruto untuk kencan. Tapi Naruto sendiri! Sudah kodratnya lelaki yang harus mengajak terlebih dahulu bukannya wanita. Apalagi Naruto memang kadang tidak pekaan, jadi kadang rasanya Rias merasa gregetan sendiri.

"Eh, iya. Aku ingat sesuatu."

Argumen terhadap dirinya sendiri langsung disadarkan oleh Naruto. "E-eh?"

"Rias, apa besok kau ada waktu luang?" Tanya Naruto. "Maksudku, besok sekolah juga libur. Dan ya—emm... Aku belum pernah mengajakmu jalan-jalan kan?"

"E-eh?"

"Hm? Kalau—".

"I-iya! A-aku ada waktu luang!" Rias memotong ucapan Naruto dengan sedikit berteriak.

Naruto tersenyum kikuk. "Aku belum selesai bicara lho." Kepalanya yang mendadak gatal ia garuk dengan pelan sambil mengalihkan pandangan mata kearah samping.

Kemudian Naruto menatap Rias lagi. "Ya. Besok ya?" Ucapnya sambil tersenyum lebar.

Tidak. Jangan senyuman itu! Baru saja Rias memikirkan itu namun malah benar terjadi sekarang ini.

"H-ha'i..."

Pasangan yang baru saja di mabuk asmara itu tidak menyadari, sedari tadi sang wakil ketua klub menguping mereka namun sambil berpura-pura menonton pertunjukan debat yang berubah menjadi pertunjukan gulat dadakan.

"Ara ara~ Aku jadi iri dengan mereka ufufu~".

Berakhirlah, sore hari yang sudah menjelang malam di dalam kegiatan menyambut tamu ala Klub Penelitian Ilmu Gaib. Meskipun ada hal absurd yang terjadi, biarkanlah itu menjadi hiburan pelepas lara untuk menghilangkan penat sehabis sekolah merupakan hal yang bagus bukan?

.


.

Cahaya rembulan sedikit menerobos masuk kedalam jendela rumah kecilnya. Menimbulkan penerangan kecil didalam ruangan yang sengaja di gelapkan karena jam waktu untuk tidur di malam hari. Entah juga sudah keberapa kali, futon yang Naruto tempati sebagai alas tidur sedikit berantakan oleh gerakan badannya yang tidak menentu. Beberapa kali ia terlentang, menghadap kiri dan menghadap kanan. Tak satupun cara itu dapat membuat kelopak matanya untuk menjadi berat dan beristirahat.

Padahal hari ini menurutnya lancar. Dari menuju ke sekolah, bertengkar dengan Yune, bertemu Rias, makan malam bersama anggota Klub dan ajakan kencan pertama kali yang diajukan Naruto pada Rias. Namun dari itu semua, hari-hari yang kemarin sebelum hari ini sangat berbeda. Seminggu tidak sadarkan diri karena alasan itu, ya. Sebuah tindakan yang mungkin sangat ia sesali.

Posisi badannya berubah kembali, kini ia terlentang dengan tangan yang meremat selimut futonnya. Langit-langit kamarnya menjadi sebuah sapuan untuk kedua bola matanya untuk menikmati posisi. Begitu hening malam hari ini dengan jam dinding yang menunjukan pukul 12 lewat 20 menit. Sebagian orang masih terlelap dalam tidurnya dan berkebalikan dengan Naruto yang masih membuka mata.

"Memang luar biasa."

Naruto berargumen. Kata-kata tadi merupakan sesuatu yang kini sedang terlintas di bayang-bayang serpihan ingatannya tepat seminggu kemarin di hari yang sama ini. Kalau teliti, kata-kata itu seperti pujian dan bangga diri. Apa iya? Menurut Naruto tidak.

Flashback

Blarrrr!

Ledakan besar tercipta dengan cukup kencang dari sebuah bangunan. Berbarengan dengan seorang yang terpental jauh dari gedung tua sekolah yang kini tertutupi asap tebal yang menutupi daerah itu. Tubuh seseorang tersebut yang terpental darisana langsung mendarat di dekat gedung utama sekolah dengan dentuman cukup kencang dalam jarak kurang lebih 500 meter dari awal tempat ia terpental.

"KISAMAAA!"

Tanpa adanya rasa sakit, orang itu bangkit dari serpihan bangunan yang menutup badannya dan berdiri tegak sambil memasang wajah penuh kegeraman. Sayap api muncul di punggungnya dengan bola api yang juga tergenggam di tangan.

"BERANI-BERANINYA KAU! AKAN KUHANGUSKAN SEKOLAH INI BERSAMA TUBUHMU!" Dalam gerakan yang sangat cepat, ia terbang dan melesat menuju gedung lama dengan bola api yang berada di tangannya.

Sementara itu. Asap yang menutupi gedung tua tersebut perlahan menghilang. Sebuah lubang dengan diameter besar menjadi saksi bagaimana orang yang terpental tersebut sangat keras terlempar oleh sesuatu. Lubang yang mengakses ke ruangan klub itu hanya sedikit terkena cahaya matahari senja, sehingga menimbulkan suasana cukup gelap dan misterius. Ditambah—apa penyebab orang itu terlempar?

Langsung terjawab.

Drap. Drap. Drap. Kreekk!

Sebuah langkah kaki yang seperti sedang memakai alas kaki yang keras bersumber dari lubang tersebut mulai terdengar sangat jelas diikuti bunyi serpihan bangunan yang tergeser dengan sendirinya. Suara kaki itu semakin jelas,—hingga berhenti melangkah ketika cahaya menerpanya.

Kaki yang terbalut sepatu berwarna emas cerah hingga menutupi seluruh kaki. Jubah putih yang berada dibalik punggung menemani dan seakan menutup bagian belakang zirah emas yang terpasang di seluruh bagian badan. Kedua tangan yang tertutup sarung tangan zirah juga tak luput, ditemani sebuah Trisul dengan warna senada di tangan kanan yang ia gunakan sebagai pijakan. Rambut kuningnya yang cukup panjang sedikit mencuat berantakan dalam balutan headpiece membingkai sisi wajahnya kini dalam ekspresi sulit ditebak.

Itu adalah Naruto. Dengan tubuhnya yang terlindungi zirah emas berkilau dengan trisula andalannya yang selalu berada di genggaman tangan kanan.

"KAU AKAN KUBUNUH MANUSIA RENDAHAAAN!"

Suara yang semakin mendekat kearahnya membuat ia bersiaga. Raiser Phenex yang baru saja ia pentalkan kembali dengan amarah yang luar biasa. Hanya dalam beberapa detik jarak mereka terpapas hingga sangat dekat. Api yang Raiser genggam ia hadapkan ke Naruto mencoba menyerang langsung wajah Naruto dengan tujuan menghancurkan kepala manusia yang membuatnya benar-benar malu sebagai Iblis Kelas Atas.

Trisula kebanggaannya perlahan menjadi serpihan debu berkilauan emas yang tertiup hingga seperti lenyap dan membuat tangan kanannya kosong tanpa senjata.

"HEAAAAAHHH!"

BLAAARRR!

Sebuah dampak benturan dari serangan Raiser menimbulkan hembusan angin kencang. Bahkan dampak angin tersebut menyebabkan jubah Naruto sedikit berkibar akibat kencangnya tubrukan serangan cepat Raiser pada Naruto. Tapi nyatanya, serangan itu ditepis dengan mudah oleh Naruto hingga sang Phenex itu benar-benar tidak percaya.

"A-apa?!"

Sebuah gumpalan es yang berada di tangan Naruto menahan telapak tangan milik Raiser. Api yang semula berkobar-kobar disana pun seperti padam dan hanya menyisakan asap yang berada di gumpalan es tersebut. Keduanya masih saling terdiam dalam posisi tersebut. Entah karena masih meneliti serangan masing-masing atau membaca gerakan lawan selanjutnya.

Demikian Raiser. Saat seperti itu ia sedikit memandang wajah Naruto. Mengalir dalam pikirannya, sebuah rasa yang baru ia rasakan saat ini benar-benar membuatnya menggertakan gigi. Dalam pandangan mata sewarna langit itu ada sebuah amarah yang benar-benar seharusnya tidak ia pancing pada Naruto. Kekuatan yang sesungguhnya itu berasal dari pandangan tajam itu yang membuatnya sedikit gemetar saat ini. Ditambah posisinya yang sangat mudah diserang seperti sekarang.

"Kau! Beraninya kau memandangku-"

"[God Breath]"

"Aaaarrrrghhh!"

Sebelum selesai mengucapkan kekesalan. Wajah Raiser seperti tertekuk dan badannya terpental lagi oleh sebuah serangan tak kasat mata dari Naruto yang sama seperti pertama tadi. Seperti hembusan yang sangat kuat hingga dorongan dan tarikan menjadi satu dalam serangan itu, dampakny adalah terpentalnya dengan mudah tubuh Raiser yang tidak siap menerima itu.

"K-kisamaaaaa!" Hanya umpatan yang bisa Raiser lakukan saat terhuyung di udara karena tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri.

Tidak sampai disitu juga Naruto akan mengakhiri ini. Perlahan sebuah aura keemasan menguar dengan hebat dari zirah itu. Kemudian badannya menunduk dengan posisi seperti ingin melompat. Otot-otot tubuhnya ia coba untuk dibuat berkontraksi agar lompatannya ini berhasil dalam jarak untuk mengejar Raiser.

Syaaat!

Tanpa prediksi, waktu yang dibutuhkan Naruto hingga sampai pada Raiser di udara hanya membutuhkan satu kedipan mata. Seperti gerakan yang melambat, Naruto mengepalkan tangannya danberniat melkaukan serangan balik pada Raiser yang kembali belum siap untuk menangkis.

"Uarrghhh!"

Belum sempat Raiser menyilangkan tangan tapi perut Naruto sudah menghantam keras perutnya. Pukulan itu entah kenapa sangat menyakitkan karena efeknya sampai ke organ dalam akibat pukulan powerfull Naruto.

Masih belum cukup, Naruto memberikan combo pada serangannya tadi. Tumit kakinya ia hantamkan kearah dagu bawah Raiser saat wajah sang Phenex sedikit termaju karena efek serangan pertama. Serangan itu terhitung sangat keras, bahkan Naruto mendengar suara tulang yang patah dari dagu Raiser. Kerusakannya itu mungkin meremukan rahangnya atau bisa dislokasi tulang.

"Belum cukup."

Raiser yang sudah tidak berdaya kembali ingin diserang. Gerakan memutar di udara Naruto lakukan sambil menyiapkan punggung kakinya dalam perputaran itu agar daya hancur serangan itu meningkat. Ketika momen itu sudah pas, punggung kaki Naruto menghantam keras dada Raiser yang tidak terlindung apapun. Efeknya pada Raiser adalah darah yang Raiser muntahkan dari mulut.

"Aaaaaargghhh!" Raiser ingin berteriak namun suaranya serak karena darah sudah memenuho kerongkongan karena rusaknya organ dalam dada karena serangan fatal tadi.

Pengecualian. Yang Naruto tidak tahu dari Raiser adalah sebenarnya arti dari nama belakang , Phenex. Iblis kelas murni yang memanipulasi api dan memiliki keabadian layaknya burung Phoenix yang melegenda. Luka yang berada di tubuhnya berangsur-angsur membaik meskipun lambat terhitung serangan Naruto yang mengincar daerah vitalnya.

"Bodoh!" Raiser mengeluarkan sayap apinya yang berada di punggungnya.

Tapi seperti tahu rencana Raiser. Naruto tidak membiarkan itu. Sebelum sayap api itu mengembang bebas. Naruto menyatukan kedua tangannya dan mengepalkan sekeras mungkin, sepersekian detik sebelum Raiser menghindar.

Ketika merasa sudah siap, Naruto langsung menghantamkan tangannya tepat ke kepala Raiser hingga sayap api itu menghilang lagi. "Tidak akan kubiarkan."

Sukses serangan itu membuat Phenex terjun bebas di ketinggian yang cukup untuk meremukan tulang. Aspal sudah siap menjadi pendaratan yang akan Raiser rasakan.

Blaaaaarrr!

Asap kembali muncul ketika kepala Raiser mendarat terlebih dahulu. Mungkin juga kerasnya pendaratan itu membuat retakan besar dilokasi sekitarnya. Dengan Naruto gravitasi juga berlaku namun ia kebih beruntung karena jubahnya sedikit mengurangi kecepatan mendaratnya.

Drap!

Super hero landing. Posisi yang saat ini Naruto lakukan untuk mendarat dengan membungkukan badan dan tangan kanan menjadi penyangga badan. Kewaspadaan masih terpancar pada wajahnya saat menatap lokasi jatuh Raiser yang berjarak 5 meter darinya.

Asap yang mengepul perlahan menghilang. Siluet tubuh seseorang yang berdiri muncul dibalik asap tersebut membuatNaruto melebarkan mata. Orang itu menyapukan tangannya di asap hingga asap itu tidak mengahalangi.

"Itu sakit sekali, kau tahu?" Raiser dalam keadaan bajunya yang sedikit agak lusuh dan kotor berdiri tegak dengan wajah yang masih kesal. Tanda-tanda luka yang ia terima bahkan tidak bisa Naruto konfirmasi lagi. Persis seperti tidak berefek pada Iblis tersebut.

"Baiklah! Aku benar-benar tidak akan main-main denganmu!"

Byaaaar!

Tubuh Raiser dipenuhi kobaran api yang benar-benar besar saat tangannya melebar. Sayap apinya juga lebih besar dari sebelum yang Naruto lihat. Dalam hal ini analisa Naruto pada serangannya tadi masih belum efektif.

Tanpa berbicara, Naruto mengadahkan tangan kanannya di udara. Partikel debu keemasan yang sebelumnya menghilang kembali seperti ingin menyatu lagi dan membentuk sebuah senjata perang. Ketika debu itu sudah mempadat dan membentuk tombak dengan 3 mata, Naruto mengayunkannya dengan cara memutarkan diudara sebelum akhirnya ia hunuskan langsu kearah Raiser. Aura emas kembali menguar hebat disekitar badan dan Trisulanya yang mengkilap diterpa cahaya senja matahari.

Kedua petarung terdiam kembali dalam posisi saling menatap satu sama lain. Memberikan ketegangan yang bertambah juga dikubu penonton.

Mereka berdua sebenarnya tidak sendirian di lingkup sekolah ini. Anggota Peerage Raiser menatap benci pada Naruto yang seperti memainkan king mereka. Bersamaan dengan para anggota Klub Penelitian Ilmu Gaib yang menempati gedung tua tersebut juga terdiam akibat pertarungan yang sulit di prediksi. Mereka semua menonton dengan sangat jelas dari lubang yang diakibatkan oleh serangan tidak terduga Naruto.

"Manusia itu.."

"Jika saja Raiser-sama tidak menahan kita, sudah kupastikan dia akan kuhancurkan tubuhnya dengan ledakanku!"

"Tapi orang itu seperti masih menahan kekuatannya"

"Apa? Sebegitu hebatnya kah manusia itu?"

Mereka anggota Peerage yang berbeda milik Rias hanya menguping pembicaraan Peerage Raiser yang terkadang mengucapkan kata-kata kasar dan kekaguman pada Naruto. Sudah jelas Naruto berada di pihak Rias dan mereka karena tindakan Raiser yang juga mereka kesalkan.

"Masih menahan kekuatannya?" Ise mengomentari karena penasaran. "Sebenarnya siapa si Naruto ini memang?"

"Aku setuju dengan ucapan dari salah satu bidak milik Raiser Phenex-sama." Kiba menginterupsi Ise. "Kamu tadi sempat melihat Naruto-senpai sengaja menghilangkan senjatanya ka, Ise-kun."

"Tentu saja!"

"Dari yang kudengar dari Buchou, Naruto adalah pengguna dari Sacred Gear yang berbentuk dua senjata perang." Akeno menambahkan perkataan Kiba yang mungkin masih belum di mengerti Ise.

"Itu hanya salah satunya, Trisula emas. Sementara yang kedua adalah pedang hitam dengan-"

"Kurasa cukup sampai disini bermainnya anak-anak!"

Blast! Blast!

!

Serangan yang terbentuk dari lingkaran sihir berwarna putih di tengah-tengah Naruto dan Raiser mengakibatan keduanya yang masih sibuk dalam suasana pertarungan terpental kemasing-masing sisi berlawanan. Raiser terjatuh dan seketika serangan tadi membekukan tubuhnya hingga ia tidak bisa bergerak! Bahkan Naruto juga mengalami hal yang sama dan membuatnya tergelepar mencoba melepaskan diri.

"Terima kasih Grayfia."

"Tidak perlu berterima kasih, Lucifer-sama."

"Lucifer-sama!"

Tak jauh dari arena pertarungan dadakan itu, Maou Lucifer muncul secara tiba-tiba bersama dengan seorang Maid berambut silver yang berada dibelakangnya. Dapat diketahui, serangan yang barusan adalah serangan pencegah meletusnya kembali pertarungan Naruto dan Raiser dari Maid tadi dengan tangannya yang terangkat dan sebuah lingkaran sihir kecil berada di telapak tangan.

Sontak para penonton makin terkejut dan terdiam atas kemunculan kedua Iblis itu yang berusaha melerai. Berterima kasihlah pada Akeno yang menghubungi langsung Sirzechs sang Maou Lucifer itu sendiri untuk melaporkan kejadian ini. Sebagian orang merasa sedikit agak tenang setelah kemunculan salah satun pemimpin Underworld tersebut. Sampai ketika-

Krekk! Kreek! Pyaar!

Seluruh es yang menutup tubuh Naruto dengan mudahnya oleh Naruto setelah mencoba meremukan dengan berbagai cara. Ia langsung berdiri tegap dan mengambil Trisulanya dengan cepat. Aura kwhijauan yang sangat terang menguar dari tubuhnya lagi namun kali ini lebih besar dan benar-benar membuat tubuh Naruto seperti diterpa seluruhnya oleh hijau di tubuhnya.

Giginya menggertak keras, pegangannya sangat erat dengan Trisulanya. Retakan kecil muncul di sekitar pijakan kakinya akibat tidak kuat menahan beban Naruto yang bertambah oleh aura yang luar biasa tersebut.

Brukk!

Sebelum ledakan energi dari tubuh Naruto semakin membesar, tubuhnya sudah terlebih dahulu ambruk dan seketika aura emas beserta zirah di badannya hilang dalam waktu sekejap. Setelah itu hanya pemandangan hitam yang Naruto lihat sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.

Flashback End.

Dari yang ia dengar dari Yune, setelah tubuhnya ambruk Maou Lucifer langsung menghampiri Naruto dan mengevakuasinya ke ruangan klub yang setelah itu sudah di perbaiki dengan bantuan anggota OSIS. Lalu Kiba tiba-tiba datang kerumah Naruto dan bertemu dengan Yune untuk memberi tahu perihal masalah ini. Perbincangan singkat namun serius antara pihak Maou dan Yune menghasilkan persetujuan untuk mengantar pulang saja Naruto.

Pilihan ke rumah sakit Underworld yang diusulkan Maou Lucifer terlalu berisiko. Maka dari itu setelahnya Yune ditemani Sirzechs mengantar pulang Naruto dan menceritakan sedikit tentang kebiasaan Naruto ini.

Benar kebiasaan. Karena setiap kali sedikit saja ia berlebihan menggunakan salah satu senjata Sacred Gearnya itu tubuhnya selalu tidak kuat menahan gejolak energi dari salah satu senjata yang masih misterius menurutnya. Katakan, dalam bentuk zirah tadi. Itu hanya membutuhkan beberapa menit sampai tubuhnya ambruk. Mungkin juga karena ia melepaskan terlalu banyak aura saat lepas dari kekangan es milik Grayfia yang membuatnya benar-benar tidak terkontrol.

Ah, masa bodohlah. Kepala Naruto mendadak pusing lagi memikirkan hal yang sebenarnya harus tidak ia pikirkan saat ini.

Kembali ia bergulung dalam futon sambil memiringkan badan dan memejamkan mata dengan pelan. Bagaimanapun besok tidak boleh telat untuk kencang bersama Rias.

.

.


.

Blam!

Pintu kamar mandi tertutup bersamaan keluarnya Naruto darisana dengan hanya handuk yang masih menempel di badannya. Kondisi rambutnya yang masih basah luput ia lupakan di keringkan karena saat ini dia masih memikirkan tempat yang akan mereka kunjungi hari ini. Bagusnya, cuaca di pagi hari ini sangat cerah dengan kicauan burung. Masalah cuaca tidak perlu ia khawatirkan, ramalan cuaca yang ia tonton semalam juga mengatakan hari ini akan cerah sepanjang hari.

Pintu kamarnya ia buka dan kembali ditutup dengan keadaan wajahnya masih dalam keadaan melamun "Taman bermain? Tidak-karena ada roller coaster."

Catatan: Naruto takut oleh wahana roller coaster karena trek yang menurutnya membuatnya mual. Pilihan wahana taman bermain langsung ia coret untuk. Disambil berfikir, ia membuka lemari dan mengambil sebuah satu potong pakaian yang akan ia kenakan hari ini sebagai andalannya untuk kencan.

"Kebun binatang?" Sejenak ia berhenti melepas baju dari gantungan."Tidak juga. Terlalu kekanakan."

"Oi, kuning! Sarapan sudah matang!"

Sejenak suara Yune yang dari bawah membuatnya teralih sedikit dari pikirannya yang masih sibuk dengan tempat rekreasi yang cocok.

"Iya, aku segera kebawah!"

Setelah pas dan merapihkan pakaiannya. Naruto bercermin untuk melihat penampilannya. Sebuah kaus hitam polos panjang berkerah 'v' ia pilih sebagai atasannya, dengan sedikit menggulung kausnya hingga lengan. Sementara sebagai bagian bawah, jeans panjang berwarna biru agak gelap dipilhnya untuk bersama dengan kaus itu. Rambut? Sudah ia keringkan dengan handuk dan dibiarkan berantakan. Karena menurutnya rambut duren sedikit panjangnya tidak cocok untuk disisir. Walaupun berantakan tapi sedikit ia rapihkan dengan jari agar sesuai seleranya.

Yap, ia berkacak pinggang. Penampilannya sudah cocok dan rapih. Saatnya untuk sarapan, karena hari ini ia akan menghabisi waktu bersama Rias dan sarapan menjadi energinya untuk awal hari.

Sementara itu di sisi Rias.

Gadis cantik berambut merah crimson tersebut daritadi hanya bolak-balik di kamar pribadinya yang ada di ruangan Klub. Pakaian juga berceceran disekitar lantai dan ranjangnya. Tidak perlu di tebak, itu memang tipikal seorang wanita yang apa-apa serba 'meribetkan'.

Sebuah kaus lengan pendek dengan kerah longgar ia sandingkan dengannya di cermin. Beberapa kali alisnya mengkerut dan memutarkan tubuhnya, hatinya belum klop memilih.

"Tidak."

"Eh? Kemeja?"

"B-bikini?"

"Sejak kapan aku menyimpan pakaian tarzan?"

Dan yang harus kau tahu lagi adalah, kejadian tadi terus menerus di ulang. Padahal pakaian yang sudah di coba Rias sandingkan lagi namun kembali tidak ia pilih. Entah sudah berapa jam ia menghabiskan ini, padahal gadis itu juga belum merias wajahnya. Masih stuck dengan pemilihan outfit agar ia terlihat menarik di depan Naruto. Dan juga-ehem.. Karena sibuk memilih baju, memakai pakaian dalam juga Rias lupakan. Y-yah begitulah..

"Kyaaa! Sudah jam 8 pagi! Aku pakai yang manaaaa!"

Mungkin setelah ini, perjanjian mereka untuk bertemu di halte bus dekat sekolah harus memutuskan Naruto untuk menunggu Rias selesai terlebih dahulu. Bagusnya lagi Naruto seakan tahu energi pagi hari ini harus terpakai dulu untuk menunggu Rias. Kasihan Naruto.

Kembali ke Naruto

"Hatchiii!"

Sementara orang yang dibicarakan narator bersin dikala sedang memakai sepatu andalannya di teras rumah. Sepatu sneaker kulit berwarna coklat ia gunakan hari ini sebagai alasnya, karena yang bagus dan rapih lagi. Sisanya hanya sendal yang sudah mau mulai putus pada talinya. Maklum, sedang lagi irit biaya.

"Kau baik-baik saja?" Yune yang sedari tadi dibelakangnya nyeletuk.

"Tidak. Aku hanya reflek bersin saja. Sepertinya ada yang sedang membicarakanku."

"Oh begitu."

Saat ini juga, sepertinya peran menjadi ibu cocok untuk Yune perankan dalam rumah tangga. Bagaimana tidak? Celemek berwarna merah muda dengan corak h*llo kitty, centong sayur panjang bertengger pada tangannya yang sedang bersedekap, apalagi tadi ia sempat mengkwahatirkan Naruto untuk kencannyan hari ini. Cocok bukan sebagai seorang ibu?

"Oh iya."Naruto berdiri setelah tali sepatu sudah ia simpul dengan rapih. "Kau ingin kubelikan sesuatu jika aku pulang nanti?"

"Oh benarkah? Nanti aku malah merepotkanmu kalau aku meminta CD game F*nal Fantasy XV!" Yune menepuk pundak Naruto.

Setetes keringat muncul di kening Naruto atau bisa di bilang sweatdrop "Eh? Maksudku belikan cemilan atau bingkisan lho." Jawab Naruto dengan wajah kecut.

Yune mengayunkan kedua tangannya kesamping seperti sedang pose 'terserah'. "Yah tapi kalau kau memaksa tidak apa-apa sih! Aku menerimanya!"

"Siapa juga yang memaksamu!"

"Nah, sudah waktunya! Kau harus datang tepat waktu di hari kencan pertamamu!" Tanpa merasa dosa di wajahnya ia mendorong Naruto hingga keluar rumah untuk memberikan semangat kepada Naruto(Yang pastinya ada alasan dibalik itu tadi)

"Jangan mendorongku dengan kencang-kencang juga!" Kausnya yang sedikit kusut oleh Yune ia usap dengan tangan agar tidak semakin parah kusutnya.

"Pokoknya F*nal Fantasy XV ya! Dan kalau boleh dengan M*tal Gear Solid!"

"M*tal Gear palamu trapesium!" Batu yang mendadak muncul di sekitar kakinya Naruto pungut dan ia gunakan sebagai senjata untuk dihantamkan langsung ke kepala bebal Yune. Tapi gerakannya kalah cepat oleh pintu yang ditutup Yune hingga batu itu hanya membentur daun pintu.

"PONI GILA!"

Akhirnya Naruto dengan on the way menuju lokasi bertemu dengan wajah yang masih tidak santai. Semoga saja cobaan berikutnya di tempat janjian mereka Naruto tidak kembali naik darah. Dan tambahan, Rias baru selesai memilih pakaiannya dan sekarang sedang merias wajah yang pastinya akan lama lagi.

Naruto hanya berdoa semoga hari ini akan lancar hingga selesai.

.

.


.

Dalam suasana bis yang mereka naiki, hanya kediaman dan ketenangan hadir dalam suasana tersebut. Naruto dan Rias duduk di bangku urutan tengah sisi kiri. Keadaan saat ini yaitu Rias yang menundukan wajahnya dengan malu dan Naruto yang memilih melihat jalanan dari balik kaca bis. Tidak ada yang memulai pembicaraan kecuali saat mereka tadi sudah saling bertemu dan hanya sapaan kecil. Hingga terdiam dalam perjalanan di bis ini.

Jari-jari Rias tak bisa henti meremat tas selempang kecil sewarna rambutnya yang berada di pangkuannya. Rencana untuk mengobrol ngalor ngidul dengan Naruto kandas saat melihat Naruto yang terlihat berbeda daripada memakai pakaian sekolah. Singkat katanya 'Terpesona'. Menurutnya meskipun hanya kaus polos dan jeans, Naruto terlihat menawan dan cocok dengan gaya rambutnya yang terlihat natural. Ah,memikirkan itu hanya terus membuat jantungnya semakin berdegup kencang.

Tetapi ia itu juga gadis remaja yang sedang dalam masa pubernya. Normal jika ia tertarik dengan lawan jenis. Apalagi lawan jenisnya ini cukup membuat ia tersipu akan senyumannya.

""Kita mau kemana?""

Mereka saling bertatap muka saat berbarengan mengucapkan kata-kata yang sama. Keterjutan muncul di wajah mereka dengan rona wajah yang menghias di pipi masing-masing. Merasa berpandangan terus membuat suasana tidak nyaman. Mereka saling membuang wajah kesamping, Rias menunduk lagi dengan malu sedangkan Naruto menatap kaca lagi sambil menggaruk kepalanya.

"E-eh, maaf.."

"T-tidak apa.."

Kenapa malah jadi beneran seperti ini sih? Astaga,ingin saja rasanya Naruto menghantam kepalanya ke kaca bis hingga kepalanya berhenti memikirkan hal memalukan tadi yang seharusnya tidak pernah terjadi. Memang sepintar apapun Naruto, sedikitpun ia kadang tidak bisa membaca situasi dan tidak pekaan terhadap hal yang berhubungan dengan percintaan.

Naruto menoleh dengan cepat. "Nah itu! A-aku belum bisa memutuskan yang cocok." Naruto menempelkan jarinya di dagu seperti memikirkan apa saja yang sempat ia rencanakan untuk di datangi.

"Tapi.. Bagaimana kalau kau saja yang memutuskannya?" Tambah Naruto sambil nyengir.

"A-aku?" Oh, no. Jangan sambil tersenyum please. "K-kenapa aku?"

"Karenanya, aku pernah baca di sebuah artikel. Kalau wanita yang memilih maka apapun akan pas dan sesuai karena instingnya." Ucap Naruto.

"Begitu kah?" Naruto mengangguk pelan. "Baiklah, kita ke wahana taman bermain saja! Aku ingin kesana semenjak memikirkannya sedari semalam bersamamu!"

JDERRR!

Bagaikan petir di pagi bolong(?), jantung Naruto langsung lepas dari tempatnya setelah mendengar keinginan Rias yang malah membuat dirinya seperti menekan pelatuk senjata ke kepalanya sendiri. Kalau memang bisa, sekarang rasanya Naruto ingin mencekik leher penulis artikelnya hingga tewas. Ehm lupakan-

"A-apa memang itu tempat yang benar-benar cocok?".

"Tentu saja!" Rias menjawab dengan antusias.

Refleks Naruto selonjorkan badannya di kursi bis karena lemas. Semoga saja hatinya kuat jika memang Rias mengajak Naruto ke wahana roller coaster.

Bis yang memang di khususkan untuk membawa penumpang ke tempat rekreasi favorit sekitar kota Kuou terus melaju menuju tujuan masing-masing penumpang bis. Dan wahana taman bermain juga termasuk dalam destinasi bis ini, bahkan jaraknya paling dekat jika ditempuh oleh bis seperti ini.

"Kami-sama. Beri aku kekuatan untuk tahan atas sesuatu yang terjadi nanti.." Naruto berdoa dalam hati.

Setelah menghabiskan waktu selama 20 menit, bis akhirnya sampai ditujuan mereka. Rias yang baru turun dari bis tampak begitu antusias sehingga mendahului Naruto yang agak lesu setelah keluar dari Bis. Loket tempat [embelian tiket masuk juga cukup ramai oleh barisan orang-orang yang ingin masuk kedalam untuk bersenang-senang.

"Ayo Naruto! Kalau tidak kita akan di sela terus!"

"B-baiklah.."

Hari yang mungkin di idamkan Rias akhirnya terwujud di hari ini. Berjalan-jalan bersama Naruto dalam sebuah kencan adalah sesuatu yang bahkan membuatnya sulit untuk tidur karena memikirkan hal yang menyenangkan ketika bersama Naruto nanti. Kencan pertamanya ini akan selalu ia ingat bersama Naruto.

Begitu juga tempat ini. Area yang mencakup kawasan yang cukup luas khas taman bemain menjadi sapuan mata blue-green nya. Banyak wahana dan stand yang menarik minatnya untuk di kunjunginya. Dan sebuah stand yang memajang pernak-pernik unik yang tak jauh menjadi tujuan pertamanya disini. Bagaikan anak kecil, Rias menarik tangan Naruto untuk ikut bersamanya.

"Naruto! Aku ingin kesana!"

"Eh, baik-baik! Jangan terlalu kencang menarik tanganku!"

Ah, ternyata permainan melempar dart. Permainan yang cukup simpel dengan hanya melempar masing-masing 3 dart ke lingkaran sasaran yang jaraknya berkisar 1 meter dari posisi melempar. Hadiahnya beragam, ada boneka teddy bear berwarna merah berukuran besar, hiasan miniatur kapal, setoples permen manis dan lain sebagainya. Tapi yang jadi penarik perhatian Rias tentu saja boneka beruang yang memiliki warna senada dengan rambutnya.

"Ayo, Ojou-chan. Ajak pacarmu bermain dan dapatkan hadiah menarik setiap dart yang mengenai sasaran!" Pemilik stand yang berada di sampingnya mencoba merayu Rias dan Naruto untuk memainkan ini.

"Dart ya?" Naruto memegang dagunya dengan tangan yang bersidekap.

Naruto berjalan menuju tempat melempar dart, kemudian ia menoleh kesamping melihat seorang lelaki yang mencoba melempar dart dengan tepat sambil memasang posisi seperti membidik. Sebaik apapun lelaki itu melempar dart tapi selalu melenceng ke lingkaran yang besar. Sebagai hadiahnya dengan 3 kali melempar diluar sasaran kecil adalah setoples permen manis.

"Tertarik? Cukup 100 yen saja untuk 3 dart yang akan kau lempar." Pemilik stand yang jika ditebak dari wajahnya itu setara dengan pria berumur diatas 30 tahunan itu kembali memprovokasi mereka berdua.

"Naruto.."

"Ya, Rias?" Naruto menoleh kearah Rias.

"Menangkan itu.." Rias berucap pelan sambil menunjuk boneka beruang teddy bear yang tergantung cukup tinggi diantara pernak-pernik lainnya.

"Itu?"

Rias mengangguk pelan. "Iya.."

"Baiklah!" Naruto tersenyum lebar. "Ayo taklukan permainan ini!"

"Yeaaayy!"

Entah kenapa, hati Naruto terasa sejuk melihat Rias yang gembira. Bahkan rasa takutnya akan sebuah wahana yang ia benci tidak lagi ia rasakan. Terganti oleh rasa cinta yang benar-benar membuat perutnya terasa aneh. Termasuk pakaian yang Rias kenakan di hari ini.

Dress yang memiliki panjang sedikit diatas tumit kaki Rias menjadi sebuah perpaduan yang cocok dipermanis cardigan warna abu-abu yang menutupi bagian atas dress. Naruto juga tidak menyangkan Rias akan menguncir rambutnya, apalagi karet rambut yang ia beri kepada Rias saat terakhir mereka bertemu menjadi ikat rambut Rias yang di kuncir setengah. Astaga, rasanya Naruto seperti kehilangan kesadaran setelah menganggumi penampilan Rias.

"Naruto!"

"A-ah. I-iya?" Naruto seakan sadar darin lamunannya setelah mendengar suara Rias.

"Kau baik-baik saja?" Rias memiringkan kepalanya untukn melihat gelagat Naruto yang tadi diam saja.

"A-aku baik! Ayo kita menangkan boneka itu!"

Setelah satu momen itu

Tidak hentinya Rias memeluk boneka beruang yang ternyata sangat lembut itu dengan sesekali mengusap pipinya pada wajah boneka. Sementara itu Naruto hanya memandangi Rias dengan senyuman yang menggambar bahwa ia turut senang atas kemenangannya melempar dart.

Tidak rumit sih. Karena seperti melempar Kunai, hingga pemilik stand tadi terbengong saat sasaran lingkaran kecil itu sudah di tempati 3 dart yang Naruto lempar. Berterima kasihlah pada keahlian Ninja yang Jiraiya ajarkan pada Naruto. Apakah ini curang? Bisa saja, tapi Naruto juga berhak untuk melakukan apa saja untuk memenangkan itu.

"Kau senang?"

"Sangat!"

"Baguslah, aku juga senang jika kau senang." Naruto menggaruk kepala belakangnya dengan wajah khasnya.

Rias berhenti mengusap pipi pada wajah boneka teddy bear itu. Kemudian ia menoleh kesamping dimana Naruto berjalan di sampingnya dengan fokus menatap ke depan. "Naruto."

"Iya? Kau ingin sesuatu-"

Cuup!

Baru saja Naruto menoleh pipinya sudah menjadi sasaran bibir Rias. Bentuk fisik dari rasa sayang itu cukup lama Rias lakukan, hingga saatnya kecupan pelan dilepasnya sambil tersenyum.

"I love you."

Naruto benar-benar terdiam. Hingga wajahnya hanya menunjukan kedataran yang tanpa ekspresi. Senyuman Rias perlahan luntur melihat ekspresi itu. Apakah tindakannya tadi salah dan tidak sopan?

"M-maaf."

"Awas!"

Taaap!

BLAAAAR!

Semua hal yang awalnya sempat terpikir di kepala, hilang begitu saja. Bahkan pegangan pada boneka itu terlepas begitu saja

Momen yang sempat dirasa Iblis murni dari Gremory tersebut terganti sebuah rasa terkejut ketika Naruto mendekap dan menarik tubuhnya kedepan bersama Naruto. Bersamaan itu, orang-orang berhamburan berlarian kesana-kemari dengan rasa takut yang benar-benar mengharuskan mereka untuk pergi dari sini.

Ketika Naruto melepas dekapannya, pijakan mereka yang awalnya kokoh terbentuk beton menjadi sebuah bekas lubang akibat ledakan barusan dan sedikit dari itu matanya dapat melihat bekas isi dari boneka yang ikut hancur tercecer di sekitar. Mungkin jika Naruto tidak bergerak tadi mereka akan hancur dalam ledakan yang cukup kuat itu.

"Tidak kusangka. Dengan begitu mudahnya aku menemukan pengguna [Mechnoites] dan [Scykraeno] di tempat penuh manusia-manusia bodoh."

Suara bariton yang berat dari langit menjadi alasan saat ia sedikit melihat wajah Naruto yang dingin dengan iris mata yang menatap tajam pemilik suara itu. Perlahan Rias mengikuti arah dimana Naruto melihat, dan matanya melebar melihat seseorang yang melayang dilangit dengan zirah keunguan yang memancarkan aura ungu gelap dengan sayap membentang lebar di punggung.

"Rias. Kumohon mundur, orang ini sangat kuat." Naruto membentangkan tangannya ke Rias yang dalam arti memalangi Rias agar mundur segera.

"Tapi..

"[Greatest Caution]!"

Telapak tangan orang itu terbuka dengan Naruto dan Rias yang menjadi penunjuk. Secara tiba-tiba, ledakan energi berbentuk plasma padat dengan suara yang sangat nyaring bergema dan melesat kearah mereka berdua yang tampak terkejut dengan itu.

Naruto yang baru ingin mengeluarkan dua senjata andalannya mendadak makin terkejut ketika Rias berdiri di depannya dan membuat sebuah lingkaran sihir pertahanan berlapis.

Blaaaar!

Serangan itu terlampau terlalu kuat. Bahkan seluruh lapisan pertahanan Rias menjadi serasa bukan apa-apa. Namun untungnya serangan itu benar-benar hancur saat menyentuh lapisan terakhir lingkaran sihir. Meskipun efeknya masih dapat Rias dan Naruto rasakan hingga membuat mereka terpental kebelakang.

Sesaat mereka terbaring di lantai taman itu dengan rasa sakit yang mereka rasakan akibat ledakan tadi. Naruto memegang tangan Rias dan membantu gadisnya berdiri dengan tegap. Reflek Naruto memegang bahu Rias dan sekejap itu pula bagian atas Rias tertutup es yang menyelimuti. Berangsur-angsur rasa sakit ditubuhnya menghilang karena efek es tersebut yang memulihkan tubuh.

"Tindakanmu itu terlalu bodoh."

"T-tapi.. Aku hanya ingin melindungimu.."

"Baiklah, nanti saja kalau kita ingin berdebat."

Sekejap mata, dua senjata yang masing-masing tergenggam di tangan Naruto menjadi pertanda bahwa ini adalah sebuah serangan dari musuh. "Kondisi ini tidak tepat untuk kita berbicara."

Seseorang yang berada di langit itu tertawa pelan sambil tersenyum meremehkan. "Langsung mengeluarkannya? Coba kita lihat, seberapa hebat kau mengendalikannya."

"Kau memang terlalu gegabah. Atau bahkan lebih dari seorang yang idiot."

Suara baru menginterupsi diantara atmosfir yang memang sedari awal sudah memanas.

Muncul dari sebuah pillar ungu yang berada tidak jauh darisana. Hingga memunculkan sosok baru yang memiliki zirah berbeda bentuk namun memiliki aura yang tidak kalah gelap dari seseorang yang menyerang Naruto tadi.

"Heh!" Hanya dengusan yang dikeluarkan.

"Jadi.. Bukankah sekarang kita impas? 2 melawan 2."

Bersamaan dengan seseorang tadi yang masih melayang. Sang penginterupsi mensejajarkan dirinya dengan sang penyerang yang sudah sepenuhnya mendarat dengan pelan.

"Ini benar-benar gawat." Naruto berbisik, agar hanya Rias yang dapat mendengarnya.

Rias terdiam. Saat ini situasi sulit di analisa dengan baik, apalagi kemunculan orang baru tersebut. Strategi untuk menyerang balik sepertinya hampir tidak ada. Kalau pun menyerang pertahanan mereka berdua akan sangat terancam dan menjadi sasaran empuk.

"Saa! Kurasa aku akan menyerang lagi sebagai kesempatan yang kalian lewatkan." Telapak tangan sang penyerang terbuka lagi. Secara jelas energi sewarna aura di tubuhnya terkumpul disana dan membentuk bola.

"Dan akan kubunuh kau seperti aku membunuh Perseus!"

.

.

.


.

.

.

To be Continued.

Halo semuanya! Apa kabar? Saya harap konidisi kalian baik-baik saja ya hehe.

Eh. Tunggu dulu! Kalau mau ngamuk karena ini fic di telantarkan dengarkan saya dulu!

Well, sedikit cerita dan curhat sepertinya sih.

Intinya, sebenarnya fic ini akan segera di update pada Maret 2016 dulu. Yap, setahun yang lalu. Tapi dibarengi keapesan. Dimulai insiden dimana hp kesayangan yang biasa ngebantu pengetikan fic hilang dan lari ke kantung pencurinya(?). Otomatis updatean fic di kartu memori ikutan raib bersama hpnya.

Terus.. "Kan bisa update ficnya lewat PeCe/ laptop?"

Oke, menulis ulang cerita yang sudah matang itu benar-benar sulit sekali. Ditambah entah tangan saya ngambek dan males buat ngetik-ngetik lewat laptop karena insiden itu karena lebih praktis lewat hp jadinya saya bisa membuat update lebih mudah.

Dan. Sekitar 5 bulan tidak megang hp samasekali. Akhirnya uang dari hasil nabung cukup buat beli hp baru. Nah, masalah baru kembali datang. 2016 kemarin saya resmi lulus SMK dan otomatis jadi pengangguran. Sempet ada waktu banyak buat update fic tapi orangtua sudah sering kali 'memuncratkan' saya dengan ucapan 'Cari kerja sana!'

Untung akhirnya setelah cukup lama saya di terima kerja di perusahaan kecil di dalam kota,saat itu juga saya mendapat bagian di data center. Sibuk lagi kan ya? Dan memang benar sibuk sampai saya hampir lupa update fic.

Setelah 2016 berakhir. Entah kenapa saya inget sama fic saya ini yang bobrok dan berdebu ditinggal hampir lebih 1 tahun.

Akhirnya, 4 bulan merancang dan merencanakan sebuah update. Jadilah Chapter 7 ini! Total wordnya sebesar 12.550 word! Update fic pertama saya yang paling panjang dan terpanjang.

Nah, bahas soal chapter. Banyak yang kecewa juga "Kenapa sih kok ceritanya kaya sinetron?"

Oke oke. Salahkan saya yang ingin cepat-cepat update fic kala itu. Saya main asal fikir alurnya bagaimana dan jadilah Chapter 6 kemarin.

Tapi saya harap, di Chapter 7 ini menjadi perbaikan di Chapter 6 kemarin ^^.

Masih fokus dengan Naruto dan Rias berikut 2 seseorang misterius lagi yang muncul.

Alurnya memang terlihat sangat lambat. Tapi saya juga tidak mau terburu-buru seperti kemarin dan mengakibatkan kesan yang kurang baik bagi pembaca setia fic ini (Kalau ada T.T)

Apa misteri dalam Chapter kali ini membuat kalian penasaran? Maka dari itu, tonton terus di dunia kelainan!(?)

Maksud saya di Chapter 8! ^^"