Disclaimer.

Semua yang ada disini termasuk unsur-unsurnya merupakan milik Masashi Kishimoto dan Ichiei Ishibumi yang dikemas oleh imajinasi gila saya.

Rated: M

Genre: Adventure, Romance, Humor and many more.

Peringatan: OOC,Typo, Mainstream, Humor di paksakan,bahasa sedikit tidak baku dan lain-lain.

Chapter 8.

Half dead

.

.

.


Pagi hari yang menjelang siang menjadi pertanda matahari akan terus bergerak memutari bumi hingga selayaknya terbenam dibarat. Begitu cerah, bahkan hanya sedikit awan yang di angkasa biru. Namun, burung-burung berterbangan cepat dengan arah yang berlawanan sambil berbondong-bondong, seakan kabur dari sesuatu yang menakuti mereka.

Begitu juga kumpulan orang-orang yang panik berhamburan keluar dari tempat wahana taman bermain kota Kuoh. Sebagian anak kecil menangis ketika tangan mereka di seret oleh orang tua mereka, karena secara paksa orangtua membawa mereka pergi, yang dimana masih hanyut dalam keseruan taman bermain.

"Semua harap tenang, pintu gerbang keluar terbuka dengan lebar. Harap bersabar dan jangan saling berdesakan."

Salah satu staff manager dari taman bermain mencoba mengarahkan kerumunan orang-orang menuju jalan keluar yang benar untuk meminimalisir kekacauan. Meskipun begitu tetap saja orang-orang lebih memikirkan keselamatan diri mereka sendiri secepatnya tanpa memikirkan hal lain.

"Segera panggil pihak kepolisian!".

"Siap, laksanakan!".

Tidak ada yang dapat dilakukan staff manager itu selain membantu para pengunjung menunjukan pintu keluar taman dan sisanya biarkan kepolisian yang mengatasinya. Bahkand irinya tidak menyangka akan ada serangan teroris di taman bermain ini.

Padahal saat pengecekan di pintu masuk, metal detector tidak sama sekali menunjukan benda ganjil pada barang bawaan pengunjung yang datang kesini. Mungkin, sebaiknya memang orang-orang percaya itu adalah serangan teroris. Karena, apakah mereka akan percaya akan serangan sedahsyat itu dari seseorang yang terbang diatas langit?

..

..

"Perseus?"

Lain halnya, didalam taman bermain itu masih ada Naruto dan Rias yang sedang dalam masalah yang di kategorikan sangat buruk. Hal apa, yang paling membuat mereka terkejut ketika di kencan mereka selain kedatangan 2 makhluk aneh, dengan kekuatan yang masih misterius? Di sebut makhluk, memang, karena 2 orang itu bukanlah manusia.

Meski penampilan mereka tampak layaknya manusia pada umumnya. Tapi aura yang menguar dari tubuh mereka bukanlah milik manusia.

"Hei, bisakah mulutmu bisa berhenti berbicara? Kau merusak kejutan ini."

Salah satu dari 2 orang yang baru datang, berbicara dengan nada tidak senang. Tak lain, tak bukan adalah karena saudaranya yang paling sulung tersebut begitu mudahnya menyebut nama yang seharusnya tidak diucapkan dan didengar oleh Naruto.

Sementara itu yang terpanggil hanya menggulirkan matanya. "Lalu?"

"Ceroboh seperti biasa."

"Heh!"

Ketika 2 makhluk itu malah beradu argumen, Naruto kembali meyakinkan Rias dengan terus bergulirkan kepalanya kearah gadisnya itu dan 2 makhluk tersebut.

"Dengarkan aku dulu. Ini bukan main-main belaka, kita bisa mati kalau tidak hati-hati." Ucap Naruto sambil terus menatap Rias.

"T-tapi, aku ingin bersamamu. Aku juga harus ikut bertarung." Rias membantah dengan tangannya yang erat memegang punggung tangan Naruto.

"Jika berhasil keluar dari sini, cepat hubungi Sirzechs-Niisan dan berlindung bersamanya untuk sementara!"

"Naruto!"

"Sebelumnya—Sial!"

Naruto menarik badan Rias kebelakang ketika tiba-tiba ia merasakan bahwa sang penyerang melancarkan lagi aksinya dengan cara muncul seketika didepan mereka. Dalam reflek yang cepat, tangan kirinya yang bebas memunculkan Trisula dan langsung menggunakan 3 bilah Trisula-nya menjadi tameng guna menepis serangannya.

Kreteekk!

Tapi nyatanya, efek serangan itu masih begitu kuat hingga Naruto terseret beberapa kaki dari tempatnya berpijak hingga ia terduduk sambil terus menahannya.

"Ditepis? Lumayan."

Tinju penuh aura kegelapan yang berjarak hanya beberapa inci dari wajahnya tertahan Trisula yang Naruto posisikan bilahnya menghadap kebawah. Memang tertangkis serangan itu, namun tangan Naruto gemetar luar biasa menahan gejolak energi dari tinju sang penyerang.

"Sampai berapa lama kau menahannya?"

"U-ughhh!"

Naruto sudah tidak kuat menahannya, apalagi Rias ada dibelakangnya yang masih shock dengan 'kejutan' ini.

Ia melepaskan pegangannya pada Rias, kemudian membantu tangan kirinya memegang gagang Trisula. Ia bersiap mengumpulkan tenaga untuk mendorong sang penyerang.

"B-banyak omong!"

Satu dorongan sekuat tenaga, tinjunya terangkat sedikit dan langsung ia tendang pergelangan tangan penyerang itu hingga serangannya mengarah keatas.

"Bajingan!"

Sang penyerang alias Wyvern tidak menduga bahwa Naruto akan melakukan serangan balik. Serangannya yang berpusat pada tinjunya menghilang dalam sekejap ketika Naruto menendangnya.

"Cepat lari!"

Lanjut Naruto berbicara ketika ia sempat karena setelah menendang, ia mendorong tubuh makhluk itu dengan tubuhnya untuk menjauh dari Rias sejauh mungkin. Dengan keadaan seperti itu, Naruto membuat makhluk itu terdorong cukup kuat kedepan.

"A-ah!" Mendengar perintah Naruto, Rias langsung bangun dari keadaannya yang terduduk di lantai beton taman.

Tanpa menunggu lama, ia berlari untuk semakin menjauhi Naruto yang mencoba untuk melawan. Meski dalam hati ia benar-benar mengkhawatirkan Naruto, ia tetap tidak boleh sampai menghambat Naruto.

Lagipula ia sudah dewasa, bukan Rias yang dulu hanya takut karena kekurangannya sebagai Gremory dibanding sang Kakak. Sebisa mungkin ia mengikuti langkah pasti dari logika dalam otaknya, bukan hanya dari hati belaka.

Kepalanya menoleh sesekali dan diikuti helaian rambut merahnya yang sedikit menghalangi wajahnya ketika berlari. Melihat Naruto yang sedang memberikan serangan balasan pada Wyvern yang nampaknya hanya memainkan Naruto.

"Kenapa terburu-buru? Masih ada diriku lho." Suara berat yang baru menginterupsi telinga Rias.

Kepalanya kembali menghadap kedepan, menemukan mahkluk lainnya yang lupa bahwa ia juga ada disini. Dengan gaya tubuh santai, ia seperti menghadang gerbang yang hampir Rias capai untuk keluar dari sini. Bibirnya tersenyum, namun ia tidak bisa membaca ekspresinya karena kedua mata makhluk itu tertutup bayangan helm zirah.

Rias berhenti berlari ketika jarak mereka sudah ada sekitar 4 meter. "Brengsek!"

"Uh huh~ wanita itu tidak boleh kasar berbicara." Ucapnya bernada jenaka.

"Apa yang—" Bukan, bukan gaya bicara makhluk itu yang membuatnya kaget.

Pintu gerbang yang ada dibelakang orang itu perlahan seperti hologram yang meredup, hingga akhirnya proyeksi yang Rias lihat hanya menampilkan tembok beton tinggi yang menghalanginya.

"Hm? Coba saja lihat." Lanjut makhluk itu berbicara.

"A-apa itu tadi!" Ucap Rias dengan emosi karena ia seperti terkecoh.

Makhluk itu tidak menjawab, ia hanya terkekeh pelan sambil berjalan ke kanan dan kembali ke tempat awal pijaknya sambil bersedekap.

"Itu adalah realitas."

Kakinya terus melangkah mendekat, menuju Rias yang ikut termundur karena demi menjaga jarak. Derakan suara khas zirah dari makhluk itu sedikit mengintimidasi Rias, namun ia mencoba untuk setenang mungkin jika memang ada serangan tiba-tiba.

"Tapi apakah kau bisa memecahkan realitas ini?"

"!"

Rias berbalik badan dan meloncat kebelakang dengan reflek yang cepat ketika suara berat itu terdengar dibelakangnya. Matanya terbuka lebar ketika makhluk tadi yang ada didepannya malah sudah ada dibelakangnya dengan sangat cepat tanpa terlihat matanya.

"Iya benar, realitas ini adalah nyata."

Click!

Jentikan tangan dari arah kanan membuat Rias menoleh, lagi-lagi ia dibuat terkejut bukan main ketika makhluk itu lagi berpindah tempat dengan sangat cepat.

Ia disana sambil menyenderkan punggung di dinding sebuah bangunan sambil tetap bersikap biasa saja. Namun itu malah membuat Rias semakin tidak bisa menenangkan diri.

"Jika kau menebak, aku berteleportasi, maka salah."

"Karena kesadaranmu adalah milikku."

Ia berpindah lagi, tapi kali ini.. Kali ini berpindah langsung ke belakang Rias. Ya, sangat dekat, hingga deru nafas milik makhluk itu terasa di telinga kirinya. Dingin dari sarung tangan besi makhluk itu juga terasa menyentuh pipinya, membuat bulu romanya merinding luar biasa.

Hancur sudah, Rias bergemetar hebat dan pandangannya berubah menjadi kosong seketika. Pikirannya kalut, antara takut dan memikirkan bagaimana ia keluar atau selamat dari makhluk ini.

"Kasihan."

Makhluk itu memejamkan matanya, merasakn bahwa Rias sudah tidak bisa melakukan apapun.

Ketika matanya terbuka, ia tetap berada di posisinya yang sebenarnya tidak berpindah kemana pun, berdiri didepan Rias tanpa sedikitpun menggerakan kakinya.

Sementara Rias kini tertunduk dilantai beton, kepalanya menunduk dengan pandangan mata yang kosong, seakan jiwanya telah dibawa makhluk itu. Tapi nyatanya yang terjadi tidak sampai membuat jiwa Rias terbawa, hanya saja pikirannya dibuat 'terombang-ambing' oleh makhluk itu.

"Kalau begini kan lebih baik. Tidak terang-terangan seperti orang bodoh."

Ia melihat kembali pertarungan rekannya dengan Naruto, yang nampaknya masih di dominasi oleh rekannya.

...

Traaank!

Tebasan memutar yang Naruto lakukan dengan Trisula-nya dapat ditangkis dengan mudahnya oleh Wyvern dengan hanya menyilangkan kedua tangannya. Zirah yang menyelimuti pergelangan tangannya bahkan tidak tergores sedikit pun oleh Naruto.

"Cukup bertenaga, tapi kurang."

"Cih." Naruto mendecih.

Ketika ia baru ingin kembali mengangkat senjatanya, Wyvern langsung bereaksi dengan mengubah posisi badannya yang lebih tinggi dari Naruto menjadi agak menunduk.

"[Gliding Rift]."

Tubuh Wyvern meliuk agak kebawah, hingga tangannya yang menahan Trisula Naruto bebas. Momentum singkat diantara mereka langsung Wyvern eksekusi dengan menyiapkan serangan lain.

Duakkk!

"Uarrrghh!"

Upper cut yang tidak bisa Naruto lihat menghantam dagunya. Cukup keras, bahkan terlampau sangat keras hingga ia bisa sedikit mendengar patahan tulang rahangnya yang saling beradu.

Tidak hanya itu, Wyvern langsung mengambil Trisula Naruto dengan paksa dari Naruto yang sudah hampir jatuh.

"Kau terlalu mengandalkan [Scykraeno] sebagai senjata biasa saja, tidak memanfaatkan apa yang ada dengan sempurna." Tangan kiri Wyvern mencekik leher Naruto, menahan agar tubuh remaja itu tidak jatuh.

"A-aahhn."

Rahangnya yang patah langsung bereaksi menimbulkan rasa sakit luar biasa ketika lehernya diangkat dengan mudah hanya dengan satu tangan, bahkan hingga tubuhnya sedikit terjinjit keatas.

"Lemah."

Dengan ujung bagian bawah Trisula yang tumpul, Wyvern langsung menghantam bagian itu ke perut Naruto yang tanpa perlindungan apapun. Jeritan Naruto yang tertahan langsung membuatnya tersenyum kecil.

"Kukira akan semengerikan apa yang sesuai dengan tua bangka itu bilang." Wyvern semakin erat mencekik Naruto sesudahnya.

"Langsung saja bunuh, bodoh. Kau terlalu berleha-leha."

Dari belakang Naruto, rekan sang Wyvern ikut bergabung. Sepertinya ia menyepelekan Rias begitu saja yang sudah terpengaruh oleh ilusi-nya. Terlihat lebih kalem, tanpa menggebu-gebu seperti Wyvern.

"Oh? Lalu kenapa kau biarkan ada saksi yang hidup?" Wyvern menjawab.

"Buat apa dibunuh? Lagipula otaknya sudah kosong saat ini, selama aku terus merapal manteranya didalam hati."

"Kau tidak tau yang kumaksud dengan kata SAKSI?" Balas Wyvern menekannya kata terakhirnya.

"Iya, aku tau."

"Bicara denganmu hanya membuatku emosi!"

Muncul cahaya keunguan gelap dari tangannya yang mencekik Naruto. Tidak lama, cahaya itu berkedip dan langsung membuat Naruto terpental seketika. Trisula Naruto juga ia lempar jauh kedepan, bergesekan dan terbanting-banting pada lantai beton cukup jauh.

"Mengucapkan kalimat-kalimat tolol dalam hati sambil berbicara langsung membuatku semakin membencimu!"

"Kenapa? Ini bakatku, apa kau iri?" Balas rekannya memanasi.

"Haaah!"

Dalam keadaan yang benar-benar buruk seperti ini, Naruto hanya bisa melihat langit dari matanya yang sayu. Sakit yang luar biasa tidak kunjung hilang hingga membuat sekujur tubuhnya lumpuh.

"Ri..as."

Dari ekor mata, disebelah kirinya yang berjarak beberapa meter ia melihat Rias tertunduk dilantai tanpa bergeming sedikitpun. Dari apa yang ia dengar sebelumnya, rekan Wyvern itu menghipnotis Rias hingga membuatnya tidak berdaya saat ini.

Iya, sepertinya yang Naruto dan Rias hadapi adalah makhluk yang ber tipe petarung dan tipe sihir. Tapi.. Sebenarnya makhluk apa mereka?

Apa motif mereka? Kenapa tiba-tiba muncul dan menghancurkan segalanya? Menghancurkan kencan yang Naruto tunggu-tunggu bersama Rias? Apa memang.. mimpi buruk yang selama ini datang dalam tidurnya benar terjadi?

Entahlah.

Kali ini ia tidak bisa berfikir jernih, semua konflik yang terjadi mengacaukan konsentrasinya. Insting untuk sedia setiap saat layaknya Ninja seperti diajarkan Jiraiya-sensei tidak mampu ia lakukan.

Ninja? Iya, lagipula buat apa Naruto dan Yune menyebut diri mereka Ninja? Mereka hanya orang yang belajar bagaimana Ninja itu seperti apa dari Jiraiya, bukan bagaimana menjadi Ninja sesungguhnya.

Hanya orang yang sok-sokan. Teladan yang diajarkan guru mesum itu juga mereka lupakan semenjak kepergiannya. Mungkin Jiraiya akan memukul mereka saat ini juga karenanya.

Dan—

Ya ampun, apa sih yang Naruto ucapkan? Benar-benar untuk menyadari sekitar saja tidak bisa ia lakukan. Hingga matanya terpejam, melamun menatap langit membuat kepalanya pusing.

Apa mati konyol ditempat ini akan menjadi sesuatu yang lucu?

'Tidak semudah itu.'

"...?"

'Buka matamu.'

Naruto membuka matanya, mengikuti suara yang terdengar jelas entah darimana.

'Lihat senjatamu.'

Arah matanya bergulir, menatap Trisula-nya yang berada dikejauhan. Meski matanya sedikit kabur karena sayu, dapat dengan jelas tombak bermata tiga bilah itu bergetar ditempat seperti hidup.

"A ... pa?"

'Biarkan dirinya datang ketanganmu.'

Kali ini Naruto tidak mengerti apa yang ia dengar barusan.

"Apa.. Maksudmu?"

Suara itu hilang, tidak terdengar lagi dan hanya ada ambiens sekitar yang mampu ditangkap telinganya.

Tangan kirinya bergerak, berusaha untuk menyanggah badannya untuk duduk dengan bantuan tangan kanan. Namun hal yang mengejutkan malah terjadi.

Sraaaang!

"Uh..?

Suara besi yang beradu terdengar dari arah senjatanya berasal. Dengan mata yang terbuka lebar karena terkejut, Naruto menyaksikan bagaimana Trisula itu seperti terlempar oleh sesuatu hingga melambung tinggi ke atas.

Tentunya suara yang cukup memecah fokus itu juga didengar oleh Wyvern dan rekannya yang masih sibuk dengan obrolan aneh mereka

"Senjata itu bereaksi." Kata sang rekan yang pertama kali berucap.

"Sial. Aku harus segera menghabisinya."

"Sudah kubilang bukan."

Dengan kecepatan yang luar biasa, Wyvern melesat setelah meregangkan sayap dari zirahnya menuju Naruto. Melihat bagaimana Trisula itu bereaksi sekarang, muncul rasa was-was yang baru pertama kali muncul dalam dirinya.

Wush wush!

Trisula itu berputar-putar di udara dengan kencang, hingga akhirnya berhenti dan menghunuskan dirinya kebawa.

Slasssh!

Layaknya lembing yang dilempar oleh seorang atlit lempar lembing, dengan kecepatan seperti itu sang Trisula membelah udara dan terus melesat kebawah. Seperti tanpa hambatan layaknya bebas terjun.

Swuuuusshh!

Blarrr!

Karena kecepatannya terlampau luar biasa, ketika ia menancap pada lantai beton, benturannya cukup keras hingga berbekas disekitar Trisula yang menancap kuat disana. Menancap tepat disamping tangan kiri Naruto yang terbuka.

Dengan agak kesusahan, Naruto mendudukan dirinya. Sedikit menengokkan kepalanya dimana Trisula itu seperti siap menjalankan perintah Naruto.

Ketika baru saja ia menggenggam bilah batang Trisula, Wyvern sudah tiba didepannya berdiri tegak hingga ia terkejut luar biasa.

"Aku terlalu meremehkanmu ternyata."

Duaaak!

"A-aaaaaaarhhh!"

Pergelangan tangan kirinya langsung diinjak oleh Wyvern dengan kuat. Karena kakinya yang dibalut zirah, kulit pergelangan Naruto sedikit sobek karena injakan kuat Wyvern.

"Lepaskan, atau tanganmu kuhancurkan sekarang juga." Kata Wyvern.

Naruto tidak bereaksi, hanya tetap melihat Trisula-nya dengan sedikit gemetar.

"Kau tuli?"

Duaaak!

"A-aaaaaahhh!"

Duk! Duk! Duk! Duk!

Tanpa ampun, Wyvern menginjak-injak tangan Naruto dengan beringas. Berkali-kali hingga kulit pergelangan tangan Naruto benar-benar hampir terkoyak karena perlakuan Wyvern.

"Lepaskan!" Seru Wyvern, tidak menghentikan aksinya.

"Aaaa-aahh!"

"LEPASKAN MANUSIA TOLOL!"

Kesabarannya telah habis, sekarang tidak hanya menginjak, Wyvern merubah siksaannya menjadi menendang tangan Naruto yang masih memegang Trisula. Meski begitu, pegangan tangan Naruto pada senjatanya masih sangat erat karena keinginannya sendiri untuk tidak mendengarkan Wyvern.

"BAJINGAN!" Wyvern mengambil ancang-ancang untuk melakukan injakan yang lebih kuat.

Kaki kanannya ia angkat sambil ditahan, beberapa lama kemudian zirah pada kakinya terselimuti aura keunguan lagi. Kali ini satu injakkan akan benar-benar memutuskan tangan sasarannya ini.

"KERAS KEPALA!"

TRAAAKKK!

Wyvern merasakan benda keras yang malah ia injak.

"Apa?"

Secara mengejutkan, pergelangan Naruto ditutupi lapisan es cukup tebal yang menyeluruh hingga tangannya benar-benar seperti membeku dalam es. Benar, Wyvern menginjak pergelangan tangan Naruto yang kini malah menjadi sekeras baja ketika ditutupi es yang entah darimana awalnya muncul.

Ketika kakinya baru ingin diangkat, ia tidak bisa menggerakannya karena es itu perlahan mulai naik membekukan kaki hingga betisnya. Seperti kakinya ikut membeku bersama tangan Naruto.

"APA YANG KAU LAKUKAN, SIALAN!"

Naruto tidak menjawab.

Rasa khawatir di wajahnya kini malah berubah, bayangan poni rambut pirangnya menutupi sebagian kedua matanya yang membuat ekspresinya semakin sulit ditebak.

"Haha."

"BANGSAT!"

Meski keadaannya berubah, Wyvern masih bisa membalikkan keadaan. Terbukti dari tangannya yang kembali dipenuhi aura ungu dengan suara nyaring muncul darisana. Sasarannya adalah kepala Naruto.

"[Greatest Caut—"

Praaaank!

Es dipergelangan Naruto langsung pecah ketika Naruto bergerak spontan. Ketika tangannya yang bebas dari cengkraman kaki Wyvern, Naruto langsung menggerakan tangannya.

Meski kaki Wyvern tidak menginjaknya, namun makhluk itu tetap melancarkan serangannya tanpa goyah sedikit pun. Naruto tidak diam begitu saja, ketika tenaganya hampir pulih dan sakit di rahangnya sedikit membaik, ia langsung mencoba berdiri sambil tetap memegang Trisulanya.

!

ZRAAAASSHH!

Pertarungan yang begitu saja terjadi tidak bisa diprediksi. Meski sang penyerang unggul dalam segi kekuatan, namun banyak kesalahan yang terlihat dan dibuat keduanya hingga Naruto dapat mengatasinya.

Cprat

Cprat

Trek trek!

"Rhadamanthys!"

Rekan Wyvern berteriak dari kejauhan ketika melihat kondisi mereka saat ini.

Cprat

Bunyi darah menetes pelan di lantai beton.

"Hampir.. Saja.."

Tinju Wyvern sudah didepan matanya persis, hanya berjarak beberapa inci lagi maka bisa dibilang Naruto akan langsung mati terkenanya.

"Bangsaaaaat!"

Darah itu berasal dari Trisula Naruto, ketika tiga bilah itu menancap di dada Wyvern menembus zirahnya.

Posisi Wyvern yang menunduk tertahan karena Trisula ini menancap didadanya, membuat serangannya tidak menggapai Naruto yang hampir terduduk menahan Trisulanya.

Meski tidak menancap dalam, hanya bagian depan Trisula, luka yang Naruto berikan cukup membuat Wyvern langsung sedikit melemah dari kondisi awalnya.

Meski begitu, Naruto yang lega menjadi was-was lagi ketika Wyvern masih berusaha untuk menyerangnya lagi dengan cara memaksakan dirinya semakin dalam tertusuk Trisula.

"K-kurang ajaaaarrr!"

Syaaaat!

Naruto menggeser kepalanya cepat agar tidak terkena serangan itu, dan berhasil!

Dampak lukanya juga membuat Wyvern tidak fokus dengan baik untuk membidik Naruto. Momentum yang tercipta lagi itu langsung Naruto manfaatkan juga.

"Gaaaaaaaaahhh!"

Dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Wyvern yang lebih besar darinya untuk memotong jarak. Perlahan terangkat, meski Wyvern tidak menyukai itu karena Trisula itu benar-benar mengoyak isi organnya.

"Gaaaah!"

Sraaat!

Naruto langsung melepas paksa Trisulanya yang menancap di dada Wyvern, kemudian ia langsung berguling kearah kanan untuk menghindari Wyvern yang ingin rubuh didepannya.

Benar saja, Wyvern rubuh dan menunduk sambil memegang dada yang kini zirahnya sudah retak dengan luka yang cukup fatal ada disana. Bagaimana tidak? 3 bilah Trisula menancap secara vertikal tepat di sebagian organ dalamnya yang terkena.

"Buaaakh!" Wyvern memuntahkan darah dari mulutnya.

Ini kesempatan.

Naruto berdiri dengan bantuan senjatanya, mengambil ancang-ancang dan kemudian lari menuju Rias dengan langkah yang agak tertatih.

Meski terlihat baik, tapi luka di rahangnya benar-benar mengacaukan saraf disekitar rongga mulutnya. Luka yang diterima perutnya akibat hantaman pada ujung tumpul Trisula-nya juga membuat perutnya kini seperti teraduk-aduk menahan nyeri.

"Rias.." Trisula-nya bahkan tidak mampu ia angkat, hanya ia tarik dengan tangannya hingga terseret sepanjang berlarinya kearah Rias.

"Aiakos! Jangan diam saja bodoh!" Teriak Wyvern menahan sakit di dadanya.

Rekannya merespon, dan dirinya sudah ada di belakang Naruto dengan tiba-tiba.

"Mau kemana?"

Zrrrungg!

Titik pada punggung Naruto seperti tertekan oleh sesuatu yang melumpuhkannya untuk berlari. Kepalanya menoleh, melihat makhluk yang ia lupa jika mereka ini ada dua dan memerhatikannya dari jauh.

"Setidaknya si bodoh itu membuatmu menjadi menyedihkan seperti ini." Komentar sang rekan Wyvern melihat Naruto yang tertatih.

"R-Rias!" Teriak Naruto, memanggil Rias.

"Titik syaraf di punggungmu ini terlalu terbuka. Jadi, selamat tinggal."

"!"

"[Garuda Flap]!".

Naruto merasa badannya sedikit terangkat, tidak lama tubuhnya itu terpelanting jauh keatas ketika rekan Wyvern mengangkat kedua tangannya seperti melempar Naruto hingga benar-benar terlempar ke langit.

"Gyaaaaaaaahhhhhh!"

Terus melambung tinggi, hingga tubuhnya tidak terlihat lagi oleh mata telanjang di langit sana. Ketika itu terjadi, rekan Wyvern membuat tanda silang 'X' di depannya menggunakan telapak kakinya kemudian mundur beberapa langkah

"Dalam 3 detik, dia akan jatuh dan mati disini."

Syuuung

Blaaar!

Tubuh Naruto tepat membentur pada tanda yang dibuat Makhluk 'Garuda' itu dengan sangat keras, bahkan beton dibawah sampai hancur parah karenanya.

Drak drak drap

Bunyi derakan zirah dari kakinya menginterupsi kesunyian yang muncul setelah benturan tersebut. Garuda memeriksa Naruto yang kini benar-benar tidak bergerak sama sekali.

"Selesai."

Ia memastikannya kembali dengan mendekati Naruto, baru saja ia mengangkat tangannya—

Zyuuut!

Peessh!

"Hm?"

Dengan bingung, ia melihat tangan kirinya yang lenyap secara tiba-tiba ketika ia melihat sinar merah yang muncul. Menerka, apa yang bisa membuat tangannya hilang seperti ini. Dan ia ingat bahwa ada Iblis yang ia hipnotis, tapi sepertinya sudah tidak berlaku lagi sekarang.

"Permainan otak dan logikamu itu sudah cukup membuatku kesal."

Lingkaran sihir masih ada didepan Rias, siap kapanpun jika ia akan menembakan kembali [Power of Destruction].

"Nampaknya kau sudah memecahkan teka-teki itu ya." Meski tangannya hilang, Garuda tidak bergeming sedikitpun atau kesakitan ketika tangannya hilang.

"Jadi, bagaimana?" Tanya Garuda.

"Aku tidak mau kau memanfaatkan kesempatan ketika fokusku hilang untuk menceritakan permainanmu itu." Balas Rias dingin.

"Oke, oke. Bisa serius juga kau."

Sikap Rias berubah drastis, gaya sifat ala gadis remaja yang biasa ditunjukannya kini hilang berganti dengan dirinya yang nampak lebih dewasa dan dingin.

"Punya 2 sifat?"

"Sifat? Apa maksudmu?" Tanya Rias.

Benar, ia berbeda. Berbeda dengan Rias yang dulu lemah dan hanya bisa menangis. Sekarang ia telah dewasa, tidak ada sikap cengeng lagi setelah Kakaknya Sirzechs mempercayakannya untuk siap menjadi penerus Gremory.

Tapi untuk Naruto dan para Peerage-nya pengecualian, Rias akan muncul sebagai Ketua Klub dan kekasih yang baik dan ramah.

Selama ini ia menyembunyikannya, ketika Sirzechs berhasil melatihnya dengan baik sebagai Mentor untuk Rias. Berkat asahan sang Maou Lucifer, inilah Rias yang sekarang.

"Aku hanya lengah sebelumnya, jadi kali ini akan berbeda."

Rias tidak berubah, tetap Rias yang dulu. Namun hanya berubah dari 'kesalahan' dan 'lemah' yang sekarang ia harap tidak akan datang lagi padanya.

"Well, kuberi apresiasi karena telah berhasil melenyapkan tanganku." Garuda menatap tangannya yang seperti terpotong namun tidak berdarah.

"Terima kasih." Balas Rias singkat.

"Hanya saja—"

Zruuut!

"Hei, aku belum selesai bicara."

Mungkin jika refleknya lambat merespon, Garuda akan kehilangan tangannya yang satu lagi oleh tembakan [Power of Destruction] Rias yang tiba-tiba saja ditembakannya lagi.

Zrruuuttt

Zruuut

Zruuuut!

Rentetan tembakan [Power of Destruction] terus Rias keluarkan dari lingkaran sihirnya. Ini yang bisa ia lakukan sekarang ini. Bukannya pengecut, Rias mencoba menjaga jaraknya dari mahkluk aneh itu yang unggul dalam jarak dekat.

"Ayo ayo, terus tembakkan!" Seru Garuda malah kegirangan, karena tubuhnya meliuk-liuk menghindari semua serangan Rias.

"Kalau begitu.."

Rias menghilangkan lingkaran sihirnya, kemudian memunculkannya kembali namun dalam skala kecil yang terus ia ciptakan di depannya. Dari lingkaran sihir kecil yang tersebar itu, cahaya kemerahan menyala ketika Rias kembali menyerang.

"Hyaaah!"

Zrruuut!

Syuung!

Syuung!

"Haha! Ini menarik!" Garuda melompat dan melakukan salto karena serangan Rias sudah mulai terlampau banyak dan bisa mengenainya jika ia tetap seperti tadi.

Tembakan sihir yang mirip berondongan senjata mesin itu terus keluar dari lingkaran sihir Rias. Namun lama kelamaan, intensitas berondonhnya perlahan menjadi lebih sedikit lama kelamaan.

"Sudah kuduga. Mengeluarkan sihir dengan skala kecil namun banyak itu malah akan membuatmu lebih cepat lelah dan menguras kekuatanmu." Kata Garuda yang kini kembali berdiri.

Sihir Rias terhenti pada akhirnya, namun lingkaran sihirnya tetap ia pertahankan meski sekarang diwajahnya ada peluh lelah karena terlalu boros akan mana sihirnya.

"Kurasa sekarang kau dalam mode pengisian ulang. Maka itu, sekarang giliranku."

Tek!

Tek!

"Apa?"

Garuda terlalu lalai, seperti halnya Wyvern.

Karena fokus akan target selanjutnya, ia melupakan Naruto yang menurutnya sudah mati.

"Bagaimana kau masih bisa hidup!" Teriaknya, ketika Naruto merangkak kearah kakinya dan menahannya cukup erat.

"Heh.. Bodoh.. Sama seperti temanmu itu.."

Kepala bersimbah darah, tulang punggung serta rusuknya patah, dan sebagian tubuhnya mati rasa, Naruto tetap masih berbicara meski ucapannya terpotong-potong.

Ia yang paling mengenaskan kali ini, karena kematian bisa datang kapan saja kepada Naruto yang dalam kondisi sekarang. Tapi kesadarannya masih ada sampai sekarang, sebuah keajaiban.

"[Universe Freezing.]"

Es muncul dari tangan Naruto yang merayap hingga betis Garuda. Perlahan-lahan es itu membentuk balok dan menahan kaki Garuda beserta tangannya.

"He-Hentikan! H-Hei!" Panik Garuda.

Sebelum kedua kakinya benar-benar beku, secara paksa kaki kirinya ia tarik dari tangan Naruto. Namun tetap saja satu kakinya sudah beku lebih dahulu mau tidak mau.

"Pantas saja si bodoh itu mengumpat terus! Sialan!"

"Rias..!" Naruto berteriak, memberi kode untuk menyerang Garuda kembali.

Tanpa ragu dan berkomentar, Rias paham maksud Naruto. Seluruh lingkaran sihirnya bercahaya kembali dan langsung sekaligus menembakan sihir [Power of Destruction] menuju Garuda yang tertahan Naruto.

ZYUUUUNG!

Garuda menarik-narik kaki kanannya dengan paksa, namun tidak membuahkan hasil karena ditahan Naruto. Melihat tembakan sihir yang menuju kearahnya, ia berhenti bergerak dan diam sambil tersenyum.

"Permainan berakhir."

BAAAAAAM!

Wuuusshh!

Efek ledakan itu ternyata cukup kuat dan menimbulkan gelombang kejut kecil karena bertubrukan dengan Garuda.

Kemudian hening kembali.

"Naruto-kun!"

Rias menghilangkan lingkaran sihirnya dan bergegas menuju Naruto yang masih menahan kaki Garuda yang badannya sudah hilang menjadi abu.

Rias terduduk di lantai beton, terdiam beberapa saat disana karena bingung tindakan apa yang harus ia lakukan saat ini karena melihat kondisi Naruto yang tidak pernah ia saksikan sampai separah ini.

Pyaaar!

Balok es ditangan Naruto pecah, kemudian tergeletak begitu saja dengan lemas karena tenaga Naruto yang benar-benar terkuras habis. Melihat itu Rias langsung memegang tangan Naruto dan mengusapnya.

"A-aku.. A-a-aku..!"

"Halo.. aku berantakan.. sekali ya.. haha." Balas Naruto kepada Rias yang tergagap.

"Maaf!"

Tangan itu ia usap pada pipinya, menghiraukan darah yang ada disana dan membasahi wajah Rias. Ia sedang memberikan kenyamanan untuk Naruto sekarang.

"Ayo.. pulang.. aku.. mengantuk.." Ucap Naruto sambil tersenyum paksa, yang malah membuat Rias tidak kuasa untuk sedih didepan Naruto.

"Naruto-kun.."

Baru saja ketika ia mengingat tentang masa lalunya dan perubahan sikapnya, tetap saja ia akan menunjukan sisi 'lama' yang selalu akan ada ketika melihat Naruto. Air matanya menetes, mengenai tangan Naruto yang berada di jalur cairan bening itu.

"Jangan menangis.. seperti itu.. aku.. juga sedih.. jika kau.. sedih.." Balas Naruto.

"Kau.. semakin kuat.. ya.. tanpaku.." Tambah Naruto.

"Jika.. nanti.. bisa.. aku.. ingin.. tau bagaimana.. kau bisa.. lolos.. dari.. pengaruhnya.." Naruto semakin melemah, terbukti dari ucapannya yang semakin pelan terdengar.

"Jangan.. Kumohon jangan pergi!"

Rias menundukan dirinya pada Naruto, memeluk punggung lebar itu dan mulai menangis disana. Semuanya, keluar saja ketika tangisannya semakin menjadi.

"Naruto-kun!"

"Ayo.. pulang.." Jawab Naruto semakin pelan.

"Iyaaa! Ayo pulang!"

Rias merubah posisinya duduk kembali, tangannya merentang untuk melafalkan mantra untuk membuat lingkaram sihir teleportasi dengan tergesa-gesa.

Tidak butuh waktu lama lingkaran sihir dengan lambang keluarga Gremory muncul dibawah mereka. Menyinari tubuh mereka dengan kemilau merah, yang akan membawa mereka ke tempat yang Rias tuju.

"Hahaha! Meski si tolol ini mati, setidaknya setimpal dengan kematian manusia bodoh itu juga!"

Rias mendengar suara Wyvern dari belakang, namun tidak ia tanggapi dan fokus untuk menstabilkan lingkaran sihir.

Rias yang membawa Naruto langsung hilang ketika lingkaran sihir itu meredup cahayanya dan menghilang tak lama setelahnya. Meninggalkan Wyvern yang masih terluka dan seonggok tubuh Garuda yang sudah menjadi setengah.

"Hah! Payah! Kena tusuk saja aku bisa sampai setidak berguna ini."

Wyvern berjalan menuju 'setengah' rekannya, kemudian pillar keunguan muncul dari tubuhnya yang menjulang keatas langit.

"Semoga saja sisa kakimu ini bisa membantuku menjelaskannya ke tua bangka itu."

Wyvern menghilang bersama setengah rekannya itu, pergi kembali ke asal mereka yang masih misterius. Tugas mereka sudah selesai, ya selesai! Mau bagaimana lagi manusia itu akan bertahan dengan luka separah itu?

Entahlah, lagipula mereka berdua akan di hukum setelah ini karena terlalu lalai dan satu rekannya mati konyol.

Perginya kedua kubu itu tak lantas membuat taman bermain kota Kuoh ini menjadi kosong tanpa pengunjung.

...

"Kalau mereka gagal. Maka aku satu-satunya yang bisa menjadi harapan-Nya."

"Hmm~? Bagus dong, jadi Myou-dono bisa membanggakan Orku—"

"Jangan sebut namanya langsung padaku."

"Ufufu~ Okay honey~"

"Jangan goda aku, Rhajat."

"Uhhh~ Myou-dono tidak bisa diajak bercanda~"

Mereka keluar dari persembunyian, menatap taman yang kosong. Wujud mereka tidak teridentifikasi, karena tubuh mereka tertutupi bayangan hitam. Namun yang pasti mereka berpasangan dan sang wanita adalah bawahannya.

"Melakukannya akan benar-benar sulit, sangat sulit."

"Mmh~ ufufufu~"

"Kita juga pergi, tempat ini akan didatangi orang-orang sebentar lagi."

"Ha'i~ Myou-dono~"

...

...

...

...

.

.

.

.

.

.

.

.

Kurasa aku sudah mati.

Eh, benarkah? Tapi apa benar rasanya mati itu seperti ini?

Tidak, aku masih hidup. Aku merasakan bahwa jiwaku masih di dunia ini.

Namun.. Ragaku?

Aku tidak mungkin mati! Karena aku punya sesuatu yang menjadi alasan untukku hidup! Iya benar!

Tapi apa alasannya?

Alasan ya? Aku ingat, namun semuanya gelap ketika aku memikirkannya sekarang.

Lagipula.. ya lagipula terakhir kali aku ingat ketika tubuhku hampir hancur karena ada seseorang yang membenciku!

"Berhentilah mengoceh, suaramu bergema disini."

Loh? Suara siapa itu?

"Suara bapakmu ini."

Bapak? Maksudmu Tou-san? Benarkah? Kurasa suaranya tidak seperti om-om kaya gini deh.

"Malah ngeledekin lagi, kurang asem."

"Berhentilah mengoceh tentang siapa dirimu. Kau hanya amnesia sesaat karena gegar otak."

Amansia?

"Amnesia."

Ansimia?

"Amnesia!"

Insom.. nia?

"Kalau bisa kucekik, langsung kucekik dirimu saat ini juga."

Apasih? Jelasin dong!

"Lupakan."

"Kau sekarang dalam masa mati suri."

Mati suri?

"Iya, ragamu sebenarnya telah hancur dan jiwamu bisa pergi kapanpun juga menuju alam kematian."

Berarti benar dong kalau aku sudah mati!

"Tidak."

Kok bisa?

"Iya kau mati, tapi 'Dia' dan senjatamu tidak menerimamu mati begitu saja."

Apalagi itu. Jelaskan saja secara lengkap kek!

"Apa kau tau sekarang sedang dimana?"

Eh? Entahlah, semuanya nampak gelap. Aku tidak bisa melihatmu juga.

"Hm, begitu."

Jadi aku sedang ada dimana?

"Kenapa menanyakan lagi padaku?"

Lalu, kau ini siapa? Kenapa ada disini?

"Hm? Haha."

...

...

...

...

...

.

.

.

.

To be Continued!


Ya halo. Apa kabar? Inilah chapter revisi untuk fic ini yang lebih masuk akal.

Yap saya rasa hanya itu saja, chapter pemberitahuan tidak saya hapus untuk sementara waktu dulu agar pembaca yang baru melihat pemberitahuan itu tidak bingung ketika melihat ini nanti.

Terima kasih. Dadah!