Disclaimer.

Semua yang ada disini termasuk unsur-unsurnya merupakan milik Masashi Kishimoto dan Ichiei Ishibumi yang dikemas oleh imajinasi gila saya.

Rated: M

Genre: Adventure, Romance, Humor and many more.

Peringatan: OOC,Typo, Mainstream, Humor di paksakan,bahasa sedikit tidak baku dan lain-lain.

Chapter 9.

Keresahan Sang Iblis Jelita.

...

..

.

.

.

.

Kala itu koridor rumah sakit pusat yang ada di kota Lilith nampak hanya ada beberapa pengunjung dan staff rumah sakit yang nampak terlihat hilir mudik beberapa kali. Di beberapa bagian koridor ada pintu ruang rawat inap, dimana berjejer kursi panjang didepan ruangan tersebut yang sebagian terisi oleh sanak keluarga atau kerabat untuk menunggu kepastian orang terkasih kini sedang dalam penanganan tim medis.

Kondisi tidak tenang, pikiran yang seakan terbawa oleh sesuatu, adalah hal wajar ketika melihat pemandangan para pengunjung yang merasa dekat dengan pasien ketika mereka rela diam cukup lama, bahkan hampir memakan waktu hingga lebih dari satu jam untuk duduk diam menunggu, memohon untuk sesuatu keajaiban datang ketika Dokter membuka pintu ruang operasi nanti.

Tapi di salah satu sudut koridor, dengan Queen dari peerage milik Gremory bersama sang King, Rias serta Kakak-nya Sirzechs nampak berbincang serius perihal pintu ruang inap yanh tertutup rapat, menandakan mereka tidak boleh masuk kedalam ruangan Naruto yang masih ditangani sang Dokter.

"A-apa yang Onii-sama katakan!" Rias sedikit berteriak ketika Sirzechs berbicara sesuatu yang membuatnya merasa marah.

"Bukan, aku bukan bermaksud demikian. Aku juga sedang khawatir saat ini, Rias."

Berusaha untuk tetap berwibawa dalam tata berbicara dan bersikap, Sirzechs mencoba berbicara meski Rias sudah mulai kesal ketika ia baru saja mengucapkan kalimat seperti menyepelekan Naruto yang berada didalam ruang operasi.

"Kemungkinan Naruto-kun bertahan memang ada, namun sangat kecil. Kamu pun mendengar sendirinya dari Dokter 'kan?"

Rias meremat kedua sisi roknya dengan tangan untuk melampiaskan rasa yang kini sedang tercampur aduk dalam hatinya. "Pasti dia akan selamat!"

"Berhenti berbicara 'kemungkinan terjadi' kepadaku lagi! Onii-sama tidak mengerti apa yang sedang kurasakan saat ini!"

"Rias. Cukup."

Sebagai bidak Ratu dan teman dekatnya, Akeno memegang pergelangan Rias sambil berusaha menenangkan emosi meluap dari sang Raja-nya ke sang Maou Lucifer. Sebenarnya sekarang ia sedang bingung untuk melakukan tindakan apa untuk Rias saat ini, maupun juga menunjukan rasa hormatnya didepan Sirzechs saat ini. Melakukan tindakan dengan memegang pergelangan tangan Rias mungkin yang paling bisa Akeno lakukan saat ini.

"A-a-aku.. Aku hanya heran! Mengapa harus disaat yang penting bersamanya, ada kejadian seperti ini!"

Sirzechs yang baru ingin membalas hanya bisa kembali mengatupkan bibirnya, ucapan yang sama terus diulang Rias. Sebagai seorang saudara laki-lakinya, Sirzechs mencoba sebisa mungkin untuk memahami kejadian yang Rias alami bersama Naruto. Kejadian yang benar-benar diluar dugaan dan tidak bisa dicegah itu membuat Sirzechs paham bahwa sekarang keadaan dunia dari 3 fraksi maupun berbagai mitologi sedang kacau dan tidak aman.

Disamping itu, mengambil posisi sebagai pimpinan dari 3 Maou Satan juga membuatnya harus bersikap tegas dan memikirkan logikanya meskipun bersama Rias. Untuk itu, Sirzechs mengatakan kepada Rias bahwa mungkin saja kemungkinan bila Naruto tidak selamat cukup besar. Rias harus menerimanya jika itu terjadi, namun dari kata-kata itu Sirzechs tidak bermaksud untuk tak memahami apa yang Rias rasakan.

Kebahagiaan sang Adik juga merupakan kebahagiaan sang Kakak.

"Mohon maaf mengganggu anda, Sirzechs-sama. Saya rasa..—"

Sirzechs sedikit menoleh kearah Grayfia dengan tatapan datar, demi melihat sang Istri yang menggelengkan kepalanya pelan. Sebagai kode untuk Sirzechs agar menenangkan dirinya yang ikut sedikit naik rasa emosinya. Bagaimana pun juga Sirzechs tidak bisa menutup bahwa sekarang ia juga dalam keadaan mengkhawatirkan keduanya, Naruto dan Rias.

Bila Naruto tidak selamat, imbasnya akan jatuh kepada Rias.

Dengan alasan yang rumit tersebut, maka sengaja Sirzechs membawa Naruto ke Underworld untuk mendapatkan tenaga medis yang maksimal untuknya. Rumah Sakit yang berada di Underworld dan dunia manusia berbeda, karena tenaga medis dari Underworld tidak hanya mengandalkan ilmu dari ke medisan saja untuk menangani operasi, namun juga menggunakan sihir untuk membantu kerja seorang Dokter.

Namun apabila memang keadaan Naruto membaik, maka Sirzechs akan segera membawa Naruto ke Rumah Sakit yang ada didunia manusia. Mencegah sesuatu yang tidak ingin ia saksikan saat para warganya melihat ada manusia di Underworld

Secara singkatnya seperti itu, Sirzechs juga mencoba melakukan hal yang sebisanya ia lakukan. Biarlah para tetua Iblis bangkotan itu menegur keras dirinya karena membawa manusia yang sekarat ke kota Lilith, toh ini kepentingan keluarganya dan Sirzechs paham bahwa Naruto bukan ancaman yang membahayakan, karena dari Naruto Sirzechs melihat sisi polos dan baik darinya yang membuatnya tertarik.

Sirzechs sedikit mendekatkan wajahnya ke Grayfia yang berbisik kearahnya. Setelah memahami, matanya terpejam pelan sambil berdehem untuk mencoba mengembalikan wibawa-nya.

"Maaf, aku izin untuk pamit dahulu. Aku merasa Rias sedang membutuhkan waktu untuk menyendiri dariku sementara." Nada lembut berucap, lalu Sirzechs tersenyum setelahnya.

"Akeno-kun, tolong temani Rias ya. Kurasa Rias akan lebih mendengarkanmu daripada aku."

"Baik, Lucifer-sama."

"Aku pamit."

Akeno menunduk hormat kepada Sirzechs yang sudah melenggang pergi bersama Grayfia. Meski tanpa titah dari sang Maou pun, Akeno akan tetap menemani masa menunggu Rias yang entah akan berakhir menunggu Dokter selesai menjalankan operasi pada Naruto.

"Duduk saja disini." Akeno menuntun Rias untuk duduk.

Ketika Sirzechs pergi pun, Rias tetap menundukan wajahnya hingga saat ini. Membuat Akeno bingung untuk sekedar memulai topik pembicaraan kepada Rias. Namun pegangannya pada pergelangan Rias tidak ia lepas, kini dengan lembut punggung tangan Raja-nya ia usap.

"Kalau ingin cerita dan menangis, luapkan saja semua kepadaku. Aku akan mendengarnya dengan baik." Ucap Akeno lembut.

Rias awalnya diam, setelah beberapa lama ketika Akeno sedikit menenangkan pikirannya, wajah ayu-nya yang nampak sendu dan basah oleh air mata terlihat ketika Rias mengangkatnya. Kepalanya bergeleng, lalu tangannya mengusap sisa air mata di pipi.

"Terima kasih, Akeno."

...

...


..

..

Kosong, hampa, dan gelap.

Sejauh matanya melihat hanya ada kegelapan yang memenuhi sorotan matanya, bahkan sedikitpun cahaya yang mungkin akan muncul—Naruto merasa itu hanya akan sia-sia saja didalam kegelapan absolut ini ketika sedang ia rasakan sekarang.

Lalu... Masalah muncul.

Bahkan ia tidak dapat merasakan tubuhnya sendiri, seluruh panca indra-nya hampir tidak bisa ia rasakan, pengecualian untuk indra pendengarannya yang masih cukup normal untuk mendengar sesuatu. Iya, sesuatu seperti suara seseorang yang muncul ketika kegelapan ini memenuhi pandangannya.

"Kurasa kediamanmu bisa kuanggap jadi jawaban bahwa kini kau paham akan situasinya."

Naruto kembali mendengar suara itu, suara seseorang laki-laki yang ia tebak umurnya masih muda. Nada bicaranya agak berat namun suaranya terdengar jelas dan mampu ia pahami tiap kata-kata yang ia ucapkan.

"Hm? Umurku terakhir kali sebelum mati kurasa sekitar 28 deh."

"Haa?" Naruto terkejut. Kenapa suara misterius ini tahu ia sedang mengira-ngira umurnya?

"Hayo tebak tahu darimana?" Ucap suara itu lagi dengan kalimat jenaka.

"Apa—apa jangan-jangan kau membaca pikiranku?" Tanya Naruto.

"Uh.. Bisa jadi?"

"Baiklah. Aku tidak akan memikirkan apapun!"

Naruto fokus, pikirannya saat ini hanya tertuju pada ruang kosong yang gelap di sekitarnya! Ia tidak boleh kalah dari orang misterius tersebut! Bahaya jika pikirannya terus menerus dibaca dan informasi penting yang sedang ia rencanakan akan bocor oleh orang asing yang tidak dikenalnya!

"Ya ampun. Sampai segitunya.."

Fokus! Fokus! Kosong! Hitam! Hanya hitam gelap dan pokoknya gelap! Tidak ada yang bisa mengalihkannya dari kosongnya sekitar! Kecuali—kecuali.. Iya, itu berbeda..

"Hm, seleramu memilih pujaan hati oke juga. Rambut merah dan tetek gede—"

"AAHHHHH—BERHENTI MEMBACA PIKIRANKUUU!"

"L-lah? Santai aja, masbro."

"BAHKAN DIA MENEBAK BAHWA AKU SERING MELIHAT DADA RIAS!"

"Benar dong pendapatku tadi tentang—"

"AKU HARUS BANGUN! INI PASTI MIMPI!"

"Err, halo—"

"INI JUGA PASTI HALUSINASI!"

"Woi—"

"Namun sekarang, merasakan tubuhku saja—"

Geplak!

Lah! Apa itu? Kok mendadak pipi Naruto seperti di gampar?

"TOLONG YA, AKU SEDANG BERUSAHA MENJELASKAN KEADAANNYA. TAHAN DULU OCEHANMU SEKARANG INI!"

"Ta-ta-tapi! Kok aku tadi bisa merasakan seperti di gampar seseorang!?"

"Itu aku. Biar kau diam."

"..."

"Jangan heran begitu. Santai saja."

"Santai kau bilang, tapi aku malah jadi takut dengan dirimu.."

Naruto mendengar helaan nafas, sepertinya orang itu mulai agak frustasi dengan Naruto yang menyahut terus ketika orang itu mencoba menjelaskan semuanya. Salah sendiri sih, masa iya ketika tubuhnya tidak merasakan apapun tapi pas di gampar dengannya Naruto bisa merasakan sakitnya itu? Wajar dong Naruto komplen!

"Kalau kau tidak digampar aku yakin mulutmu akan mengoceh terus."

"Iya deh.."

"Nah. Sekarang, aku akan menjelaskannya. Kuharap kau bisa tenang mendengarnya."

"Tidak adil! Setidaknya aku ingin melihat dengan siapa aku berbicara!" Protes Naruto.

"—Coba saja imajinasikan wajahku, kau pasti bisa."

"Hmm.. Oke."

Dalam imajinasinya, dengan mencoba mencocokan wajah orang yang sering ia lihat di jalan dan wajah yang Naruto kenal untuk mempermudah menebak wajah orang misterius ini. Struktur wajahnya mulai terbentuk. Bentuk wajahnya.. Lonjong! Rambutnya agak ikal berwarna jingga! Dan wajahnya.. Wajahnya seperti yankee dengan jerawat yang memenuhi pipi dan selalu memasang wajah garang ketika menatap—

"Sudah. Stop. Cukup. Aku bisa menangis jika wajahku terus dinistakan olehmu."

"Itu juga sepertinya mewakilimu kok."

"Dasar, kau mengingatkanku pada diriku di masa remaja."

Click!

Satu jentikan jari dari orang itu. Awalnya tidak terjadi apa-apa hingga Naruto sedikit kaget.

"...?"

Suara langkah kaki dari kejauhan mulai terdengar di telinga cukup jelas. Langkah kaki yang seperti memakai alas sepatu itu mulai terdengar jelas seperti jaraknya semakin dekat dengan Naruto. Perasaan takut dan penasaran semakin memenuhi hatinya yang was-was untuk melihat sosok dibalik suara itu.

"Halo!"

Dugaan cahaya yang tidak akan pernah bisa menembus kegelapan dari matanya langsung terpatahkan ketika orang itu mulai menunjukan dirinya. Cahaya itu mulanya menerangi badan orang itu, lanjut kearah kakinya dan hingga keseluruhannya terlihat jelas. Wajahnya pun mulai terkena cahaya hingga akhirnya Naruto bisa melihatnya sangat jelas.

"Kuharap dengan begini, ceritaku bisa dengan jelas kau pahami." Sambil melambai, orang itu berdiri tegak didepannya dan merubah posisinya menjadi bersidekap.

"..."

"Kok diam?"

"Apa-apaan itu! Kau masih pakai topeng!" Tunjuk Naruto dengan mengarahkan tangannya ke orang itu—Eh, tunggu.. Tangan?

Eh?

"Apa panca inderamu semuanya sudah kembali normal?" Tanya sosok itu dengan nada bersahabat.

"Iya.. Kurasa."

Penglihatannya sudah normal, mungkin. Ia dapat melihat orang yang berbicara dengannya sedari tadi. Dengan penampilan pakaian khas yang malah Naruto kira itu adalah daster—sebenarnya adalah pakaian Toga putih dengan aksen aneh disekitarnya. Wajah orang itu tertutup topeng porselen putih polos, menutupi hampir seluruh wajahnya yang benar-benar membuat Naruto penasaran dibalik topeng itu.

"Oh iya lupa. Awas nanti naksir melihat wajahku ya."

Maksud dan tujuan ia mengatakan itu apa sih? Mendengarnya saja entah Naruto mual karena bayang-bayang wajah orang itu dalam imajinasinya kembali teringat dan hampir benar-benar nyata dalam batin oleh Naruto. Bahkan ia hampir teringat ada seseorang yang pede-nya sama seperti orang ini, bukan lain adalah si Baka Yun-yun.

Tangan orang itu perlahan memegang sisi bawah topeng untuk akses membukanya. Satu tarikan pada topeng itu membuat penutup wajah miliknya lepas begitu saja. Topeng itu kini di pegangnya oleh tangan kanan, sementara wajahnya yang kini dapat dilihat jelas memberikan senyuman pada bibirnya.

"Sudah kubilang. Kalau suka tidak apa, tapi aku ini normal ya."

"Suka apanya, bodoh! Aku cuma mau melihat wajahmu dengan seksama!"

Dari ekspresinya, orang ini cukup nampak bersahabat. Dengan rambut bergelombang berwarna merah agak gelap dan iris mata kuning kehijauan yang unik. Jika dilihat dari tatapan Naruto, orang ini justru lebih mirip cowok yang seumurannya jika dilihat dari penampilan beserta raut wajahnya.

(Ambil saja gambaran dengan contoh Perseus di versi FGO)

"Baiklah, karena aku sudah memberitahu semuanya—"

"Tunggu!" Perintah Naruto.

"Ada apa?" Tanya orang itu dengan bingung.

"Namamu?"

"...Kau ini ribet ya?"

"Nama!"

"Iya iya—bawel." Orang itu facepalm. "Sebut saja Perseus."

"H-hah? Jadi kau benar-benar Perseus?"

"Iya. Itu—"

"Kalau tidak salah.. Kau itu pahlawan dari Yunani kuno yang mengalahkan Medusa, ya?"

"Pertama. Berhenti potong ucapanku." Perseus menyentil dahi Naruto. "Kedua, bukan Yunani kuno tapi lebih tepatnya mitologi Yunani."

Tangan Naruto mengusap bekas sentilan Perseus yang cukup nyata sakitnya. "Ugh. Aku hanya tahu beberapa cerita tentang sejarahmu dari buku."

"Lagipula juga. Untuk apa pahlawan mitologi mendatangiku saat aku sedang mati suri saat ini?" Lanjut Naruto.

"Untuk apa?"

Naruto mengangguk pelan.

"Simpel saja." Perseus bersedekap kembali. "Aku terhubung dengan [Treplyns] dan [Elcide]."

"Apa itu?" Tanya Naruto mengenai sebutan aneh yang Perseus bilang kepadanya. Kemudian, ia sedikit tersentak ketika Perseus menunjuknya.

"Aku adalah pemilik sebelumnya, yang kau sebut [Golden Inferno] itu."

"[Golden Inferno]? Jadi itu nama asli dari keduanya? Apa nama panggilan lainnya?"

"Oh, apa seperti.. [Scykraeno] dan [Mechnoites]?"

"Iya! Itu sebutan dari— dari.."

"Aku paham." Perseus tersenyum.

"Itu memang namanya, namun hanya beberapa yang menyebutnya dengan itu."

Naruto tidak menjawab. Memang sampai ada berapa nama untuk Sacred Gear yang Naruto miliki ini? Dan—omong omong, mungkin ia bisa bertanya tentang hubungannya kenapa bisa senjata ini masuk dalam kategori Sacred Gear. Karena Perseus sendiri yang bilang bahwa dia adalah pemilik sebelumnya [Treplyns] dan [Elcide].

"Sebelumnya aku ingin bertanya dulu." Tanya Naruto yang awalnya melamun.

"Boleh. Pertanyaanmu menarik."

"Duh—Eh, yang aku ketahui tentang Sacred Gear, biasanya Tuhan dalam Injil menyegelnya dengan alasan tertentu."

Bukannya jawaban, tapi Naruto hanya diberi hembusan nafas kasar.

"Karena itu aku ingin menjelaskannya dahulu. Baru aku akan menjawabnya satu persatu, paham?"

"Err.. Iya?"

"Bagus."

Perseus merubah posisinya sedikit membungkuk yang mirip seperti ingin duduk, dan—nyatanya memang, sebuah batu besar yang tiba-tiba muncul di belakang Perseus dijadikan sandaran pinggul dari pahlawan Olympus tersebut.

"Aku akan menunjukan sesuatu padamu." Perseus berkomentar ketika Naruto melamun.

Secara mengejutkan, di samping Naruto muncul tampilan visual kosong yang besar hingga sejauh matanya bergulir, seperti masuk ke dalam visual yang Perseus tunjukan kepadanya.

"Ini.. apa?" Tanya Naruto.

"Aku akan menceritakan dahulu tentang senjata itu."

Visual kosong itu berubah menjadi sebuah kejadian yang seperti terekam kamera, bahasa mudahnya—seperti peristiwa yang ada di televisi namun lebih nyata dan Naruto adalah sebagai tokoh bagian dari peristiwa itu.

Awalnya ia nampak menyimak dengan anteng, namun saat Perseus menunjukan [Treplyns] dan [Elcide] yang saat itu sedang digunakannya, hanya ekspresi wajahnya yang seakan 'terkejut' memberitahu bagaimana eksistensi senjata itu ketika Perseus memilikinya.

"Ini sebenarnya aku sedikit pamer sih wahaha!" Perseus tertawa di sela-sela pertunjukannya.

.

.

.

.


.

.

.

Warna kejinggaan dari cahaya yang masuk melalui jendela menerangi ruang tengah klub milik Gremory. Suasana kelabu masih menghinggapi akhir pekan ini, yang harusnya dinikmati sebagai pelipur lara melepas penat. Sampai kejadian yang tak diduga membawa keceriaan menjadi kesedihan.

Seseorang duduk pada sofa yang ada disana dengan wajah yang penuh cemas dan bingung. Menanti kabar untuk sesuatu yang mungkin ia benci mendengarnya, namun begitu penting untuk ia ketahui.

Namun dalam kegundahan hati, penantiannya telah usai ketika melihat dua perempuan yang bukan manusia berjalan menuju kearahnya. Posisinya kini berdiri tanpa merubah ekspresi wajahnya.

Rias, yang dimana harus menceritakannya langsung kepada Yune dengan hati-hati tentang kondisi terkini Naruto. Dengan instruksi Sirzechs, Yune harus menunggu di ruangan Klub Penelitian Ilmu Ghaib. Sesuatu yang pastinya membuat sohib Naruto itu kesal karena harus menunggu lama.

"..."

"..."

Dari kejauhan, hanya bibir mereka yang bergerak menggambarkan percakapan saat ini.

Awalnya rasa kesal dari Yune begitu menggebu saat mendengar kondisi Naruto, akan tetapi Rias mencoba menjelaskannya kembali. Hingga Yune akhirnya tenang kembali namun wajahnya kembali bersedih.

"..Maafkan aku. Karena keegoisanku Naruto menjadi seperti ini."

Rias kembali meyakinkan bahwa ia yang salah.

"..."

Yune bungkam, namun tangannya mengepal menahan gejolak dalam dirinya.

"Aku benar-benar minta maaf. Sungguh.." Ucap Rias kembali.

Gadis crimson itu menundukan kepalanya, jika dibilang Yune juga sedih dan resah, Rias pun juga begitu. Sebelum kembali ke Klub pun jika Akeno tidak menenangkannya, Rias akan terus menangis tanpa henti di rumah sakit.

Tapi karena amanat dari Sirzechs tentang Yune dan saran dari Akeno membuatnya untuk berusaha tenang dan rileks. Setelah bisa menemukan ketenangan, Rias kembali ke Klub dan menemui Yune seperti sekarang.

"Yah. Walau memang begitu, kejadian ini sebenarnya juga bukan keinginan Naruto dan dirimu, bukan?" Yune angkat bicara.

Hela nafas berat dilakukanuntuk menghilangkan perasaan negatifnya, kemudian Yune tersenyum walau begitu kentara itu dipaksakan olehnya. "Memang seharusnya bisa dihindari dan prediksi sih, tapi menyalahkan semuanya kepadamu juga tidak benar sama sekali."

"Tak apa, aku tetap senang mendengar kabar Naruto saat ini." Ucap kembali Yune meyakinkan Rias yang sepertinya tertekan karena rasa kesalnya sebelum ini.

".. Terima kasih."

Kecanggungan yang terjadi memenuhi atmosfir mereka, Akeno yang menemang Rias juga diam karena masalah ini tak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.

"Jika boleh, aku ingin terus mendengar kabar Naruto darimu. Tapi jika kau mengiyakannya sih. A-aku tidak memaksa juga." Balas Yune dengan sedikit nada bercanda diakhir.

Rias mengangkat kepalanya yang tertunduk dan mengangguk. "Iya. Pasti akan kuberitau kepadamu Yune."

"Maaf merepotkan." Yune menghilangkan senyumnya dan berdehem.

"Terima kasih atas perhatianmu. Aku izin pamit pulang, soalnya sore sudah mau gelap."

"Permisi."

Yune menundukan badan dengan sopan, dan keluar dari ruangan Klub setelah Rias membalas ucapannya.

Setelah Yune pamit, Rias pergi begitu saja meninggalkan Akeno menuju ruangan pribadinya. Bahkan sautan Akeno hanya dijawab singkat olehnya.

"Rias." Akeno memanggil namanya kembali. Kemudian ia menoleh kearah pintu dimana Yune keluar dari sana.

.

.

.

.

.

.

"Bagaimana, bagaimana? Luar biasa bukan? Wahahaha!"

Naruto tidak bisa menutup mulutnya yang benar-benar menggambarkan rasa takjub dan kagetnya melihat tampilan visual yang Perseus tunjukan kepadanya.

"Apa-apaan itu! Pasti kau memainkan pikiranku ya!"

"Oalah, kukira bakalan dipuji atau sekadar ucapan 'keren' atau 'luar biasa' kek." Perseus facepalm.

"Jangan sok-sok pusing dengan pose begitu!"

Geplak!

"Adu-duduh! Apa itu yang memukul kepalaku? Sakit sekali.. ugh." Naruto mengusap kepalanya.

Setelah ia lihat Perseus, [Treplyns] ada di tangan kanannya dan ia pukul-pukulkan ditelapak tangan kirinya.

"Jangan-jangan kau getok kepalaku dengan senjata itu."

"Iya! Biar kau bisa belajar rasa hormat kepada pemilik asli senjata ini!"

"Iya iya. Seperti cewek remaja saja kau."

Ingin rasanya sisi tajam Trisula ini membacok kepala bebal Naruto, tapi kalau dilakukan ya percuma dong. Buat apa ia tolong Naruto tapi akhirnya ia bunuh sendiri Naruto? Eh—apa sih.

"Yasudah, yasudah. Kembali ke topik." Ucap Perseus membuat Naruto kembali fokus.

"Tujuanku sebenarnya adalah menyelamatkanmu."

"Menyelamatkan?" Tanya Naruto.

"Untuk alasannya. Aku tidak bisa memberitahumu langsung."

"Lalu? Kenapa kau bilang seperti itu?"

Perseus tidak menjawab, tangannya bersidekap dan berjalan menuju Naruto, berhenti dan berdiri disampinnya sambil menatap kearah depan. "Jawabannya harus kau cari sendiri."

"A-apa?" Naruto sedikit menjaga jarak karena terkejut atas perkataan Perseus.

"Ck, sini! Jangan menjauh dariku!"

"Apaan sih!"

Naruto menolak ketika Perseus menarik tangannya, menyuruhnya duduk pada bongkahan batu yang muncul tiba-tiba di belakangnya.

Protes ingin dilayangkan, tapi sesuatu yang seperti berkilauan dari tangan Perseus mencegahnya melakukan itu.

"Tanganmu?" Tanya Naruto.

"Hm?" Perseus melihat tangannya, dengan melihatnya teliti, telapak tangannya memudar bersamaan dengan kilauan emas yang berterbangan disekitar.

"Waktuku tidak banyak, mungkin karena terlalu lama aku pamer kekuatanku padamu ya." Tambah Perseus dengan nada rendah.

"Jangan-jangan, apa kau akan pergi?"

Perseus tersenyum, mengangguk pelan. "Cepat atau lambat."

"Sebelum itu terjadi, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku."

"Melakukan apa—"

"Kalau kau ingin tahu jawabannya, maka lakukan apa yang kuucapkan kepadamu."

Maksudnya dan tujuan Perseus apa sih? Cara bicaranya mulai ngelantur ketika Naruto menunjukan tangannya yang berkilauan. Apa benar perkataannya bahwa Perseus akan pergi dan lenyap?

"Pasti kau memikirkan sesuatu tentangku, tapi sayang sekali sekarang aku tidak bisa membaca pikiranmu lagi." Perseus tertawa sarkas.

Secara mengejutkan, didepan Naruto dan Perseus muncul 3 cahaya yang berjejer. Cahaya itu semakin terang dan kemudian perlahan membentuk robekan besar yang didalamnya ada ruangan hampa.

"Pilih-lah salah satu jalan yang kutunjukan. Ikuti kata hatimu untuk memilihnya."

"Jangan khawatir, setelah kau memilih aku akan menuntun dan mencoba menjelaskannya kepadamu nanti."

Naruto kini dihadapkan dengan sebuah pilihan yang tidak terduga dari Perseus. Rasanya melihat tingkah konyolnya sebelum ini membuatnya ingin bercanda dengannya. Namun melihat nada bicaranya yang terkesan dewasa dan bijaksana, mendatangkan rasa bimbang yang membuat jantungnya berdesir akan perkataan Perseus.

"Apa aku bisa.. Salah jalan?"

"Tidak ada yang namanya salah jalan, hanya kau akan menemui rangkaian jawaban yang berbeda." Perseus mendekati robekan pintu itu dan melihat kearah Naruto.

"Dari yang tidak kau pilih akan ada pecahan jawaban lain. Kau harus mencoba mencari sisa jawabannya sendiri setelah kuberikan satu jawaban awal yang kau pilih."

"K-kau serius? Aku bukan orang yang pintar menyelesaikan masalah layaknya detektif!" Naruto mencoba membela diri. "Lagipula, kau sendiri bukan yang akan menjawab semuanya?"

"Andaikan saja bisa. Tapi aku benar-benar minta maaf karena keterbatasanku." Perseus menunjukan tangannya yang mulai kentara seperti transparan kepada Naruto.

Geplok!

"Sudah sana! Kenapa jadi bersedih seperti ini!" Perseus menggeplak kepala Naruto lagi.

"Duh duh, iya! Sakit tau!"

Naruto berdiri diantara 3 robekan pintu yang bercahaya itu, sesuai apa yang dikatakan Perseus dimana Naruto mencoba memilih dan memantapkan diri untuk mengambil keputusan dalam hati.

..

..

...

..

..

..

To Be Continued