Pandangannya mengabur ketika pertama kali membuka kedua matanya. Mengerjap beberapa kali hingga akhirnya fungsi indra penglihatannya kembali normal sesaat setelah melihat langit-langit kamar tidurnya.
Mimpi yang hadir dalam tidur masih begitu nyata terputar di kepala, hingga membuatnya sedikit melamun dari bangun tidurnya. Meresapi tiap kejadian yang coba diingatnya, namun perlahan gambaran mimpi itu hilang ketika kesadarannya telah ia dapatkan sepenuhnya.
Satu kedipan lambat dilakukannya hingga membuat sebuah cairan bening lolos dari mata kanannya yang turun menuju samping wajah. Helaan nafas berat ia tahan dalam paru-parunya, kemudian ia hembuskan kasar dengan sambil mengusap kasar matanya dengan lengannya yang terbalut piyama.
Setelah bangkit dari ranjang ia tak langsung beranjak. Memilih duduk di pinggiran ranjangnya yang seperti ranjang tuan Putri Kerajaan sambil melihat jam digital yang ada di nakas, tepat disamping ranjang tidurnya yang menunjukan pukul tujuh lebih dari lima menit.
"..."
Kaki jenjangnya menyentuh lantai marmer putih dan melangkah menuju kamar mandi. Wajah dan badannya terasa lengket setelah bangun dari tidur, semoga mandi pagi yang menyegarkan ini mampu menghilangkan itu semua dan menaikkan moodnya yang tak enak.
Setelah menanggalkan pakaiannya, Rias mendekat kearah bawah pancuran air yang telah ia nyalakan. Air yang hangat dan cukup deras membasuh kepalanya yang memiliki surai merah. Kulitnya yang begitu halus dan putih mulai basah oleh kucuran air, membiarkan seluruh inci ditiap tubuhnya merasakan bulir-bulir air turun hingga menuju kaki yang mungkin akan membuat wanita seumurannya jealous karena kesempurnaan dari tiap lekukannya.
Sekitar sepuluh menit lamanya, tangannya mematikan keran air dan melangkahkan kakinya keluar dari sana. Handuk bersih yang terlipat rapih ia sambar dan mengusap tubuhnya yang masih basah setelah mandi. Menyapu tiap bagian tanpa terlupakan sama sekali, hingga tangannya yang memegang handuk terhenti ketika matanya melihat pantulan dirinya ada di cermin besar di kamar mandi.
Handuk ia taruh begitu saja dilantai, karena perhatiannya saat ini adalah mendekatkan dirinya menuju cermin. Pantulannya semakin jelas dan pandangannya langsung terpaku pada wajahnya yang tak menunjukan ekspresi. Kantung yang mulai agak terlihat dibawah matanya ia sentuh dengan kedua jarinya. Turun menuju samping wajahnya yang ia sentuh dan sedikit tekan dengan jemari-jemari, merasakan tulang yang terbalut kulit halus membingkai bentuk wajahnya.
Bibirnya ia gigit ketika tangannya semakin turun, menuju dadanya.
Merasakan buah dadanya dalam genggaman tangan, meremasnya sedikit hingga ia tidak tahan untuk semakin kuat mengigit bibir bawahnya. Tangan kirinya yang ada di dada kanannya turun menuju perutnya, terhenti setelahnya ketika jarinya merasakan lubang pusarnya.
Jika dilihat oleh pandangan seorang laki-laki, saat ini Rias menunjukan sebuah pose yang begitu sensual. Mengundang hasrat siapapun yang tidak mungkin mengalihkan matanya untuk menyia-nyiakan keindahan dunia.
"Tubuh ini, mungkin hingga jiwa ini.. apakah kamu akan bilang bahwa ini hanya milikmu seorang?"
"Bahkan jika kamu tidak mengatakannya, ini tetaplah milikmu. Apapun yang terjadi."
Rias kembali berbicara pada dirinya sendiri di cermin. Dan beberapa detik kemudian menjerit sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"..Apaan sih! Stop lakukan hal memalukan itu Rias!"
Disclaimer.
Semua yang ada disini termasuk unsur-unsurnya merupakan milik Masashi Kishimoto dan Ichiei Ishibumi yang dikemas oleh imajinasi gila saya.
Rated: M
Genre: Adventure, Romance, Humor and many more.
Peringatan: OOC,Typo, Mainstream, Humor di paksakan,bahasa sedikit tidak baku dan lain-lain.
Chapter 10
Truly Alive
.
.
.
.
Cklek!
Blam!
Pintu rumah sakit tertutup dengan sedikit suara debuman yang cukup bergema di ruangan. Warna putih ruangan yang mendominasi dan polos tanpa hiasan membuat pandangan menjadi terfokus pada satu titik. Titik fokus itu semakin dekat ketika ia melangkah kesana tanpa bersuara, terkecuali heels rendahnya yang berbunyi di tiap langkah kakinya.
"Suster berkata harusnya aku hanya diperbolehkan menjenguk saat sore hari."
Sebuah tas kecil yang dibawanya ditaruh dekat nakas disamping ranjang. Kemudian ia lebih mendekat kearah ranjang yang disana terbaring seseorang yang dalam keadaan koma. Dipandangnya alat khas yang biasa disebut Patient Monitor tak jauh dari nakas,menunjukan tanda-tanda vital dalam keadaan normal yang setiap detik berbunyi khas untuk didengar.
"Tapi karena aku memaksa setiap harinya jika menjenguk—jadinya diperbolehkan deh dari pagi~" Ucapnya kembali sambil sedikit tertawa.
"Oh iya. Aku lupa mengucapkan salam!"
"Selamat pagi, Naruto-kun!"
Rias memberi ucapan salam dengan senyuman terbaiknya. Walau hanya dibalas oleh suara Patient Monitor yang terus berbunyi.
"Bagaimana keadaanmu? Kurasa kamu mulai tidak betah dirumah sakit ya?" Rias kembali berbicara.
"Dua minggu yang tidak sebentar pasti sangat membosankan, bukan? Karena kamu hanya bisa terbaring disana."
Dua minggu.
14 hari, 13 malam.
Lebih tepatnya.
"Kuharap kamu juga enggak bosan kalau aku selalu mampir dan ngoceh tentang topik yang sama setiap harinya. Hehe~" Kekeh Rias sambil menjulurkan lidah.
Kursi yang ada didekatnya ia duduki. Kemudian digesernya mendekat kearah ranjang Naruto. Tinggi ranjang yang sedikit berada diatas perut coba ia geser kembali kursinya agar nyaman untuk duduk dekat ranjang.
"Aku mencintaimu."
Rias mengusap tangan kanan Naruto yang ditempeli alat kedokteran. Cukup memenuhi telapak tangannya, namun Rias tetap bisa mengusapnya walau harus berhati-hati.
"Bahkan ketika aku bersikap childish memanggilmu dengan 'Kesatria' didepan Okaa-sama, Otou-sama, dan juga Sirzechs-Niisama. Karena itu adalah caraku menunjukan cinta pada pandangan pertama."
Beberapa gambaran masa lalu teringat oleh Rias. Sebuah bocah Iblis yang begitu pemalu, susah bergaul ke sebayanya dan—tak berbakat seperti Kakaknya, begitu lekat dalam hatinya mengingat betapa menyedihkannya dirinya yang dahulu.
"Karena kehadiranmu merubah cara pandangku. Walau pada awalnya kamu tidak percaya bahwa aku adalah Iblis—." Rias menjadi sedikit sweatdrop karena teringat akan percakapan pertama mereka yang absurd.
'Kenapa? Aku perduli padamu karena memang aku ingin berteman denganmu. Sejak dulu aku ingin berteman dengamu, tapi kau selalu menjauh.'
Ucapan Naruto kala itu yang menyaksikan bukti bahwa Rias adalah Iblis.. seperti terkesan blepotan dan membuatnya sedikit tertawa ketika disimak baik-baik. Entah karena masih shock hebat atau Naruto benar-benar tulus ditiap kata yang terucap darinya.
"Bodoh. Ucapanmu terlalu manis walau seperti orang kumur-kumur!"
"Tapi karena itu.. Aku menjadi yakin."
Masa lalu yang benar-benar buruk memang menjadi masalah utama untuk Rias. Bahwa dirinya yang kurang dalam hal sihir dan berbeda dengan Kakaknya menimbulkan pengalaman kelam dalam hidupnya.
Lingkungan perteman antar sebaya yang toxic dan lingkaran 'setan' 72 Pillar Iblis di Dunia Bawah adalah bukti bahwa begitu dipandangnya rendah Rias sebagai heiress Gremory karena kekurangan yang dimilikinya. Ini mirip seperti kasus Sairaorg Bael, sepupunya yang juga memiliki hal yang tak sempurna sepertinya.
Kenapa disebut lingkaran 'setan' 72 Pillar Iblis? Karena mereka secara darah adalah keturunan klan Bael, para klan Pillar Iblis mengecap bahwa mereka adalah 'Keturuan Terburuk' dari generasi baru Pillar Iblis di Dunia Bawah. Termasuk cemoohan dari Iblis tingkat menengah maupun rendah, semua menyudutkan mereka.
Keterlaluan? Fakta itu memang apa adanya.
Apalagi untuk Sairaorg sendiri. Jikalau untuk Rias seorang, masih dalam kategori 'beruntung' karena Power of Destruction yang dimiliki keluarga Bael menurun kepadanya. Untuk Sairaorg.. yah.
Tidak sama sekali.
Sebagai gantinya, dengan usaha yang benar-benar gigih Sairaorg menunjukan bahwa kekurangannya adalah motivasinya untuk terus hidup walau memiliki keterbatasan pada Demonic Power. Memulai dengan melatih tubuhnya hingga sampai menuju batas yang diterimanya hingga saat ini. Hasil dari perjuangannya adalah kini menjadi Iblis muda terkuat dan pewaris utama keluarga Bael.
Rias sendiri tentu saja juga berusaha. Akan tetapi tekadnya tidak setangguh Sairaorg, itu tembok yang menghalanginya untuk berkembang, menjadikan perkembangannya tergolong lebih lambat dibandingkan sepupunya.
"Dari pertemanan yang terjalin dalam waktu singkat itu, aku pertama kali merasakan bahwa aku bangga menjadi diriku sendiri."
Pesat, sangat pesat. Walau memang tak sejauh perkembangan Sairaorg, Rias mampu membuktikan pada Dunia Bawah bahwa ia pantas menjadi heiress utama keluarga Gremory. Dalam waktu seminggu,—lebih tepatnya sembilan hari yang dibutuhkan untuk dirinya menjadi lebih kuat secara Demonic Power dan perkembangan mental.
"Lalu kamu pergi begitu saja dengan seenaknya setelah aku melampaui kekuranganku. Padahal kamu sendiri yang membuatku berubah saat itu."
Semangat dan keinginan kuat untuk berubah yang hampir padam kembali berkobar. Tak lain pemicunya adalah pemuda berambut pirang ini.
Bocah yang dulu terkenal berisik dan blak-blakan itu menjadi orang yang pertama mengakuinya sebagai seorang teman yang benar-benar menjadi sosok support utama dalam usahanya melawan kekurangannya. Karena bocah ini juga, ia mulai berani bersosialisasi melawan rasa malunya, hingga dampaknya sekarang adalah para Peerage setianya dan menjadikannya terkenal dalam jajaran Iblis muda di Dunia Bawah sebagai 'Crimson-Haired Ruin Princess'.
"Pertemanan singkat yang mungkin akan dianggap biasa saja itu benar-benar merubah jati diri dan masa depanku."
"Aku selalu berfikir 'apa yang terjadi jika kamu tidak menyelamatkanku saat para Malaikat Jatuh itu akan membunuhku?'"
"Tentu aku tak bisa menjawabnya. Kalau pun menjawab, aku sama saja menyangkal rasa suka yang memang apa adanya kepadamu."
Rias menjauhkan tangannya dari Naruto, meremat sprei yang ada di genggamannya karena matanya mulai merasa akan ada cairan yang turun dari sana.
Dengan helaan nafas ia kembali bicara. "Saat bangun nanti, aku tak mau tahu. Aku ingin memelukmu dengan erat agar kamu tidak pergi lagi.."
Sebelum turun, lengannya yang dibalut sweeter digunakan untuk mengusap matanya. Tak lama kemudian ia menundukan dirinya dan membiarkan bagian atas tubuhnya bersandar pada ranjang Naruto, tentu saja ia menjaga jarak agar tak mengganggunya. Kegiatannya sekarang memperhatikan wajah tenang Naruto yang terbalut perban dari posisinya saat ini.
Rias memejamkan mata.
Kemudian senandung lagu terucap darinya.
"Sanggupkah kubertahan tanpamu di sampingku?"
"Setelah kau memutuskan kita berpisah."
"Serasa seumur hidupku selalu denganmu."
"Haruskah kuberjalan, haruskah kurelakan.."
"Tapi bayang wajahmu selalu dianganku."
"Karena cinta yang dulu pernah kau beri takkan kulupa untuk selamanya."
"Cintai.."
"Dan sakiti hatiku."
"Kalau itu dapat membawamu kembali kepelukanku lagi.."
"Aku rela memberi segalanya untukmu.."
"..Naruto."
Tak lama, matanya terpejam. Kantuk yang mendadak datang ingin segera menguasainya untuk terlelap. Senyuman terpatri pada bibirnya, tanpa ada penolakan untuk datang kedalam tidurnya.
Tidak apa. Tertidur pun membuatnya senang, karena ada Naruto disisinya. Tapi dalam perjalanan menuju dunia mimpi, Rias melewatkan sesuatu yang mungkin akan membuatnya begitu senang.
Jari Naruto sedikit bergerak, seperti menyahut suara nyanyian Rias.
.
.
Truly Alive
.
.
"Apa ini?" Tanya Naruto memandang Perseus yang ada didepannya.
"Oh, bagus! Ini mungkin bisa menjelaskan gambaran kekuatanku ketika pamer kepadamu tadi!"
"Apa?"
Tak lama, visual kosong hitam yang ada didepannya menjadi terang. Perlahan menunjukan sebuah tempat yang seluruh mata memandang hanyalah air dan gulungan ombak dahsyat yang membentur karang.
...
"Hei!"
Laut dikala itu benar-benar seperti sebuah tsunami yang tak kunjung henti ketika sang Cetus terus menghantam permukaan air laut dengan badan dan siripnya, memandang santapannya yang terlukai lemas ketika tubuhnya terikat rantai pada karang didepan sang Cetus.
"Hei monster jelek!" Perseus memanggil kembali Cetus dengan ejekan, akan tetapi tetap tak digubris.
"Aku harus mengalihkan perhatiannya dahulu."
Mata Medusa yang terkenal bisa membuat siapapun menjadi batu ketika melihatnya, tetap saja tidak akan berguna jika monster itu tak memandang langsung ke kepala Medusa yang ada ditangan Perseus.
Taktik untuk berenang dan mendekati langsung terlalu berisiko, yang ada perjalanannya untuk membuktikan bahwa ia bisa membawa kepala Medusa akan menjadi sia-sia saja karena mati konyol.
Perseus terpikir untuk mengalihkan perhatian Cetus dengan mengantam balik badan sang monster dengan ombak buatan yang lebih besar dari ombak buatan Cetus.
Hanya saja, peralatan yang ia bawa dalam perjalanan memenggal Medusa tak bisa secara ajaib bisa melancarkan aksinya untuk membuat ombak besar. Itu yang menjadi masalah yang Perseus hadapi saat ini.
Perseus berjalan menuju ujung tebing, terduduk dan menaruh kepala Medusa di sebelahnya. Kemudian dengan kepala menunduk ia menatap lautan dengan lekat.
"Wahai penguasa lautan, sang pembawa gempa bumi, Poseidon! Dengarkanlah permohonanku!"
Setelah deklarasinya, awan hitam tak lama muncul di langit. Pusaran kecil muncul dipermukaan air, berubah menjadi vortex besar di bawah tebing ketika Perseus menyaksikannya langsung.
"Demi gunung Olympus! Demi Zeus! Demi lautan kekuasaanmu! Aku memohon dengan bersungguh-sungguh kepadamu, wahai Poseidon!"
Petir menyambar setelahnya, lingkaran vortex dilautan bawah tebing semakin kencang berputar ketika Perseus terus berseru kepada Poseidon.
"Izinkan aku untuk menaklukan sang binatang peliharaanmu, Cetus dengan bantuanmu!
Drrtttrr!
Permukaan bumi bergetar hebat oleh gempa. Orang-orang yang menyaksikan amukan Cetus dibelakang Perseus lari tunggang langgang menyelamatkan diri dari gempa. Namun tidak dengan Perseus yang tetap tabah dan menunggu jawaban sang penguasa absolut lautan.
Sringgg!
Perseus refleks menutup matanya ketika sebuah cahaya sangat terang meluncur menuju langit.
BLAAAAM!
Ledakan muncul dari langit karena petir yang menyambar sangat kuat diantara awan kehitaman yang menimbulkan kengerian ketika siapapun melihatnya.
Trank!
Blassh!
Cahaya itu meluncur kembali seperti kilatan menuju daratan dari awan-awan hitam diangkasa. Ledakan kecil muncul setelahnya ketika cahaya itu membentur tebing yang Perseus pijak. Membuatnya tak bisa menahan diri karena cahaya menyilaukan dari objek itu.
Tak lama, cahaya itu memudar dan mulai membentuk dengan sendirinya seperti sebuah tombak. Tapi bukan sembarang tombak, ketika Perseus menyaksikan ada tiga mata pada ujung tombak emas itu yang menancap pada tebing.
"Ini?" Tanya Perseus.
"Trisula?" Perseus mendekati objek itu, tepat diujung tebing dengan berhati-hati agar pijakannya tak terpleset.
Berapa lama memandangnya, atau pun bagaimana caranya menyimpulkannya, Perseus dapat mengidentifikasikan bahwa itu adalah Trisula berwarna keemasan berkilau yang begitu indah tanpa cacat sedikit pun.
Tanpa kesulitan, Perseus mencabut dan memegangnya dengan satu tangan.
"Trisula yang sering dielukan bahwa mampu membuat badai dan Tsunami hanya dengan kehendak Poseidon dalam satu ayunan."
Pada gagang panjangnya hanya dipenuhi warna keemasan yang polos namun berkilau, namun keindahan sesungguhnya ada pada 3 bilah tajam yang membentuk gradasi ukiran unik yang nampak memberikan nilai estetika setiap kali mata memandangnya.
"Baiklah. Dengan ini..."
Perseus berdiri tegap dan memegang Trisula Poseidon dengan kokoh. Arah pandangannya menuju Cetus yang sekarang lebih tenang, mungkin karena merasakan Poseidon hadir dengan munculnya Trisula milik penguasa lautan ini.
"Hyaaaah!"
...
...
"Uaargh!" Naruto terjatuh ketika tersadar dari visual Perseus yang mendadak terpotong.
"J-jadi itu menjelaskan bagaimana kau memamerkan kekuatanmu?" Tanya Naruto masih shock.
Perseus mengangguk. "Namun setelahnya aku benar-benar kelelahan karena efek Trisula itu."
Secara cepat, beberapa pintu muncul kembali dengan kehendak Perseus. Dalam keadaan yang mulai ditenangkan, Naruto menyadari dan menatap lekat beberapa pintu didepannya.
"Kejadian pada legendamu sebenarnya, kau menyelamatkan Ratu Andromeda dan mengalahkan Cetus berkat bantuan Poseidon?"
"Iya. Benar." Perseus berseru.
"Bersamaan dimulainya takdir 'terkutuk' yang menghinggapiku."
"Takdir?" Tanya Naruto.
Perseus menunjuk kearah jejeran pintu. "Kalau jalanmu benar, maka ..."
"Maka?"
"..."
Perseus diam.
"..kau harus mencari tahunya."
Naruto tidak mengerti apa yang dimaksud Perseus dengan kembali mengulang ucapannya. Hingga akhirnya ia menyadari bahwa setengah tubuh Perseus sudah hampir menghilang didepannya.
"Perseus..?"
"Maaf ya. Kukira aku bisa berikan tiga petunjuk, namun sepertinya ini yang terakhir." Balas Perseus sambil tersenyum.
"Baiklah." Naruto memejamkan mata.
Naruto mulai mengerti tentang memang takdir yang Perseus maksud. Walau masih menggantung, ada sesuatu yang Perseus ingin sampaikan. Namun Perseus tak mau terang-terangan mengucapkannya.
"Aku mengerti. Kau memberitahu masa lalumu karena ini juga bisa terjadi kepadaku, bukan?"
"Bisa dikatakan iya, tapi kurang tepat."
"..."
"Ini adalah gambaran masa laluku yang terakhir. Dan ini adalah petunjuk yang benar-benar penting dan harus kau ketahui."
Naruto mengangguk, sebagai kode bahwa ia siap untuk melihatnya.
Kegelapan muncul kembali, sedetik kemudian sebuah visual yang berbeda menyambutnya.
...
Kali ini Naruto tak bisa melihat Perseus, namun sekarang lebih mirip seperti ia sedang melihat dengan matanya sendiri karena ia bisa melihat langit saat ini dan ada beberapa suara yang menginterupsi.
"Apa.. maksudnya ini? Kau memberitahuku dengan cara seolah diriku seperti menjadi dirimu?"
Tak ada tanggapan Perseus.
Sebelum ia coba kembali bertanya, Naruto kembali dikejutkan.
"Apa..!"
Matanya mungkin melebar saat ini karena keterkejutannya, akan tetapi ada sebuah noda merah yang menutup pandangannya. Apakah ini darahnya sendiri? Naruto tak tahu, yang pasti dirasakannya saat ini tubuhnya begitu lemas. Dan—
Senjata yang sebelumnya ia lihat setelah ditunjukan Perseus, yang memiliki kehendak luar biasa itu kini menancap dan menusuk dadanya.
Bagaimana senjata itu menusuknya ia tak tahu.
Namun, walau matanya terhalang noda darah, Naruto dapat melihat dari kejauhan siluet dua orang yang saling berbincang. Siluetnya sulit ditangkap jelas, suara mereka pun nampak terdengar hanya seperti gumaman.
"Perseus...blablabla..."
"..blablabla...Gi..la..."
"Selesai...blabla..blabla..."
"...fu..."
"..ge.."
Beberapa kosa kata dapat ia tangkap, namun telinganya benar-benar sulit menangkap jelas. Tapi yang dapat disimpulkan olehnya adalah Perseus sebelumnya mungkin sempat berkonfrontasi dengan mereka. Akan tetapi berakhir seperti ini karena mereka bukan orang biasa yang pernah Perseus temui.
Setelahnya, tak ada suara perbincangan. Keduanya telah berhenti beradu cakap dan nampak seperti mendekatinya. Sebelum sempat melihat secara dekat, waktu Perseus sudah hampir diujung tanduk.
Perlahan matanya menutup rapat, dan sebuah suara terdengar sebelum Perseus menghembuskan nafas terakhirnya.
"Ri...m...va...er..."
...
Kilas balik itu kemudian hilang, sontak Naruto memegang kepalanya karena mendadak rasa sakit mendera sekitar area keningnya.
"Apa itu? Sebuah serangan terakhir?"
Sakit dikepalanya mulai mereda, Naruto mulai menyadari bahwa Perseus kini tak lagi ada disekitarnya. Beberapa kali menoleh kearah manapun hanya ruangan hampa yang ada.
"Perseus!"
"Kau kini bisa bangun dari tidurmu, Naruto."
"Perseus?" Tanya Naruto bingung.
"Aku hidup bersama [Treplyns] yang ada padamu. Ketika aku telsh mati seperti yang telah kau saksikan, manifestasiku secara otomatis tersimpan didalamnya." Balas Perseus dengan suara bergema.
"Lalu kalau kau hidup, sekarang kau ada dimana?"
"Aku menggunakan semua kekuatanku untuk membuatmu tetap hidup. Karena mati dibunuh itu tidak enak, bukan?"
"Kau.. kenapa?"
"Saatnya mewariskan [Treplyns] kepada dirimu, Naruto Uzumaki. Aku tak bisa terus hinggap di sana dan menghambat perkembanganmu."
"Perseus.." Balas Naruto dengan rasa sedih yang kentara di nada bicaranya.
"Jangan menangis, bodoh. Kau ini laki-laki!"
"Baiklah—" Naruto berdehem sejenak, mengembalikan nada bicaranya ke normal.
"Terima kasih."
"Sama—oh iya. Aku lupa mengatakan sesuatu."
"Apa itu?"
Suasana hening seketika.
"Perse—"
"BURUAN REMES TETEK PACARMU SEHABIS BANGUN NANTI YA! RUGI KALAU KAU CUMA NIKMATI DARI MATA SAJA!"
"—us.. WOI! DEMIGOD OTAK BOKEP!"
Setelahnya benar-benar hening. Perseus tak lagi menjawabnya. Sekarang Naruto benar-benar sendiri dibawah alam sadarnya.
Naruto mengepalkan tangannya. "Baiklah. Saatnya aku bangun.
"Lalu.. caranya?"
Bengong sesaat.
.
.
.
.
.
.
"Mungkin hanya tinggal memejamkan mata saja. Seperti—"
Blam!
"Wuaaaah!"
Apa itu yang baru saja menghantamnya?
"Apalagi ini, astaga."
Naruto mencoba bangun dengan posisi jatuh yang membuatnya tengkurap di bawah lantai. Tunggu sebentar—sejak kapan ada lantai kemerahan disini?
"...?"
Setelah berdiri, Naruto merasakan hawa kehadiran seseorang dari kejauhan.
Ini seratus persen bukan Perseus, aura orang ini sangat berbeda. Terasa sangat kelam, gelap, dan seakan memanggilnya.
"Siapa kau?" Tanya Naruto.
Wujud seseorang itu yang seperti manusia kini ada didepannya cukup jauh. Aura yang ia rasakan semakin kentara ketika melihatnya secara langsung. Dengan postur tinggi yang sama, dan wajah yang sama sepertinya juga. Alias Naruto seperti melihat bahwa itu adalah dirinya sendiri, akan tetapi ada perbedaan dari warna rambut orang itu yang berwarna hitam. Selanjutnya, senjata yang benar-benar ia hindari untuk digunakannya karena efek negatifnya selain [Treplyns], yaitu kalau tak salah namanya adalah pedang [Elcide] berada digenggaman tangan kiri orang tersebut.
"Kau pasti bercanda.."
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
