.
Naruto © Masashi Kishimoto
I Will Do What I Want © Hanzama
Rating : T(+)
Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe
Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Etc.
Pairing : Coming Soon
.
Chapter 5 : Food Problem bagian 2
Naruto dan Shikamaru kini tengah berada di basement, mereka tengah mengoprak aprik barang barang yang ada di dalam sana. Benar saja,di sana terdapat mesin cuci tua yang sepertinya masih bisa digunakan. Sekarang Shikamaru tengah menjelaskan bagaimana cara mengoperasikan alat tersebut
"Nah! seperti itu.. mudah kan Naruto?" tanya Shikamaru setelah selesai menjelaskan apa yang ia tau kepada Naruto.
"Err-se-sepertinya begitu ttebayo." jawab Naruto sembari menggaruk garuk kepala.
"Hahh~ jawabanmu tidak meyakinkan." sahut Shikamaru.
"Eh? ahahahahaha." Naruto malah tertawa. Terang saja, ini kan baru pertama kali bagi Naruto. Naruto masih belum terbiasa hidup sendiri dan dikelilingi barang barang jadul.
"Yah terserah lah. Cepat atau lambat kau pasti akan terbiasa." ucap Shikamaru.
.
Shikamaru melihat sekeliling. Tempat ini kotor sekali. Sepertinya tempat ini juga dioperasikan sebagai gudang.
"Oy Naruto.." Panggil Shikamaru kepada Naruto.
Naruto yang tengah memeriksa setiap inchi mesin cuci tua itu menoleh.
"Apa?" tanyanya kepada Shikamaru.
"Apa kita tidak sekalian merapikan tempat ini?" Tanya Shikamaru kembali.
"Lah! itu kan pekerjaanmu!" Bantah Naruto kepada Shikmamaru.
"Ayolah Naruto, Bantulah sedikit. Siapa tau kita akan menemukan barang berharga di tempat ini." Ucap Shikamaru. jika ia bisa, ia pasti melakukannya sendiri. Namun melihat betapa berantakannya tempat ini. Mungkin itu sedikit sulit.
"Hhhhh~ Baiklah..." Naruto akhirnya mengalah.
.
~IWDWIW~
.
Di Jalan.
Sasuke kini tengah berjalan perlahan di jalan. Seperti janjinya pagi tadi, Sakura mengajaknya janjian di Leaf Street. Sasuke heran, bukannya rumah Sakura berada di kawasan yang sama dengan rumah mereka bertiga?
Namun, Leaf Street berada jauh di depan, dekat jalan raya. Seingat Sasuke, Leaf Street adalah deretan pertokoan.
Apa jangan jangan Sasuke dikerjai? ah! tidak mungkin!
Sasuke menepis semua pikiran negatif yang menghampiri otaknya. Ia kemudian berjalan cepat menuju tempat yang ia tuju untuk segera memastikan.
.
perlu beberapa menit sebelum Sasuke sampai ke tempat janjian mereka.
.
Sesampainya ia di depan toko buku. Ia celingukan sana sini mencari sosok yang ingin ia temui. Namun hasilnya nihil. jangan Jangan ia memang dikerjai? Sial!
Ia memutuskan untuk menunggu beberapa saat. 'Dia pasti telambat iya!' Batin Sasuke. Ia tidak bisa menerima kenyataan apabila seandainya ia memang dikerjai.
Ia menunggu dengan sangat sabar. Matanya melihat kemana mana. Tanda ia sangat gelisah. Ayolah? waktu adalah uang! membuang buang waktu sama saja membuang buang uang! Walaupun Sasuke tidak punya uang-err maksudku, mana ada orang yang mau menunggu berjam jam di pinggir jalan? tanpa kenal siapapun, celingak-celinguk seperti orang abis kena begal.
.
.
Selang beberapa saat Sasuke menunggu, ia dihampiri oleh seorang anak kecil.
"Kakak-Kakak..." seru anak kecil itu sembari menarik narik kemeja Sasuke.
Sasuke menoleh.
"Akh!" Sasuke kaget.
Anak kecil itu tersenyum.
"Ah-? Kau kan!" teriak Sasuke
"Ohm! Kakak Sasuke kan? ini aku!" seru gadis kecil itu lantang.
Sasuke yang melihat gadis itu langsung bisa mengenali. Rambut pirang dikuncir satu, senyum manis tanpa dosa. Ia adalah gadis kecil tempo hari.
"Hm? Chi-chan. benar kan?" tanya Sasuke. Ia berjongkok supaya dapat menyamai tinggi sang gadis kecil.
"Hihihihi..." Chitose kecil tertawa.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sasuke. Ia memegang kepala gadis kecil itu.
"Aku bekerja kak!" Jawab Chitose kecil. Masih dengan senyum di wajah mungilnya.
"Bekerja?" Sasuke bertanya heran. Oh maksudnya pasti meminta-minta. "...maksudmu bekerja.. itu?" tanya Sasuke memastikan.
Gadis itu menunduk. "Ohm." Jawabnya dengan suara pelan.
Ia menatap Chitose kecil dengan pandangan Iba.
Sasuke yang dulu, pasti tidak tau bahwa ada orang yang menjalani kehidupan seperti ini. Dimana mereka harus hidup di jalanan, meminta kepada orang lain. Kehidupan yang lebih pilu dari hukuman mati.
Dulu, Sasuke kemana mana pakai mobil. Yang ia tau hanya dimana tujuannya ia akan berhenti. Ia tidak tau ada cerita apa di jalan yang ia lewati.
"Chi-chan, kau kenapa bekerja seperti ini?" tanya Sasuke pelan. Berharap tidak menyinggung perasaanya.
Chitose kecil menatap Sasuke. Ia dengan lantang menjawab
"Ohm! Sebenarnya aku pernah mencoba mencari pekerjaan lain. tapi kata orang dewasa, aku masih anak anak!"
Yah benar juga, seseorang tidak bisa mengharap lebih, dari anak kecil yang bahkan umurnya belum mencapai 5 tahun.
"Um? apa kau tidak membenci apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke. Entah sejak kapan ia senang menjadi tukang tanya. Namun ia tertarik dengan kehidupan gadis ini.
"Ohm! Tidak kak. Aku tinggal bersama nenek, dan ia sakit. Aku harus melakukannya demi nenek.." jawab Chitose kecil.
"Ibumu dimana?"
"Sudah meninggal."
"Ayahmu?"
"Ia pergi entah kemana."
"Kakakmu?"
"Aku tidak punya."
"Oh.. kalau rumahmu?"
Chitose kecil menunjuk sebuah jalan sempit yang lurus. Sasuke menyipitkan mata. Jalananan sempit itu memang menuju ke suatu tempat.
Benar benar gadis yang jujur.
.
Tanpa Sasuke sadari ada seorang gadis yang telah berdiri di belakangnya.
"Lalu-" Sasuke mau megajukan beberapa pertanyan lagi. Namun ucapan Sasuke diinterupsi oleh Chitose kecil.
"Ah. . sebaiknya Chitose pergi sekarang. Lihat-" Chitose menunjuk seorang gadis yang berdiri di belakang Sasuke "...pacar kakak sudah menunggu."
Hah? Pacar? Sasuke menoleh kebelakang.
Haruno Sakura. Ia berdiri melipat tangan di belakang dan tesenyum kepada Chitose kecil.
Sasuke berdiri dari posisi jongkoknya.
"Ohm! kalau begitu sampai jumpa lagi Kak Sasu, dan Kakak berambut merah muda~ dadah~" Chitose kecil kemudian berlari dan menghilang di sebuah gang.
.
"Siapa dia Sasuke?" Tanya Sakura menambahkan.
"Hn. Dia... temanku." Jawab Sasuke.
Sakura tersenyum "Kau pria yang baik Sasuke."
Sasuke menatap Sakura dan terdiam beberapa Saat. Dan ia tersenyum 'andai jika itu memang benar' Batin Sasuke. lebih penting lagi.
Sasuke membukan HP nya.. ia melihat jam.
Jam 13.14
"Kau terlambat." Ucap Sasuke kepada Sakura. Mengutarakan sedikit kekesalannya.
Sakura tertawa. "Haha.. maaf, aku tadi disuruh mampir ke toko bunga Yamanaka terlebih dahulu." ucapnya sembari menggaruk garuk kepala.
Sasuke tidak menjawab. Ia memilih diam dan menunggu gadis ini mengatakan sesuatu.
"Oh iya! Kalau begitu sebaiknya kita bergegas!"
Sakura kemudian menarik lengan Sasuke dan segera berlalu dari depan toko buku.
.
.
Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka berdua sampai di depan sebuah toko.
Sasuke membaca nama toko itu dengan heran-
"Cherry-?"
Sakura tersenyum. Kemudian Sakura menyeret Sasuke masuk. Sasuke yang diseret pasrah. Apapun yang akan Sakura lakukan. Sasuke ikut saja.
Saat mereka sampai di dalam, mereka disambut dengan hangat. Niatnya...
"Ah! selamat datang Tuan da- Eh? ternyata Kau Sakura!"
"Hola!~ Sasori senpai!"
"Huhh~ kalau aku tau itu kau. Aku akan pura pura tidak tau." jawab Sasori sebal.
"Haha.. Jangan begitu senpai. Aku kan hanya ingin berkunjung." jawab Sakura sembari mengibas ngibaskan tangannya.
"Ah kau pasti mau bantu-bantu kan? tumben kau mau bantu bantu di sini? apa kau sedang demam? dan err-" Tanya Sasori. Ia melirik seorang pemuda yang digandeng Sakura.
Sasuke yang ditatap hanya diam. Sedikit terganggu, tapi hanya sedikit.
"...Pacarmu?" Tanya Sasori kemudian.
"Hah? Bukan! Dia Sasuke." Jawab Sakura enteng.
"Bukan?.. Lalu? kenapa kalian bergandengan tangan?" Tanya Sasori lagi.
Sasuke yang sadar tidak segera melepas gandengannya tapi malah menatap tanggannya dan Sakura bergantian.
Sakura kemudian mengangkat kedua tangaanya sembari menampakkan muka datar.
"Dia-Bukan-Pacarku-muka-boneka." jawab Sakura kepada Sasori sebal. Baru saja masuk, dan ia sudah diinterogasi seperti maling.
"Ahahahaha~ Benar juga! mana mungkin kau punya pacar! kau kan gadis egois yang memikirkan diri sendiri, mana tau kau dengan perasaan laki laki hahah-" ucap Sasori seenak jidat.
Sakura memutar bola mata.
Sakura lalu menyeret Sasuke lagi ke dapur meninggalkan Sasori yang ber cuap cuap di depan pintu sendirian.
Sasuke masih kebingungan disini. Dari tadi Sasuke diseret seret seperti barang belanjaan. Saat Sakura menyeretnya ke sebuah toko yang bernama Cherry Restaurat. Sasuke pikir Sasuke mau diajak makan. Tapi yang terjadi malah Sasuke kembali diseret menuju dapur.
Ah.. Sasuke lebih memilih menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
.
~IDWIWIW~
.
Sementara itu
Naruto dan Shikamaru kini tengah bekerja membersihkan basement. Basement rumah itu adalah ruangan berbentuk L yang terdapat tangga menuju rumah utama di tengahnya. Banyak rak rak yang menempel di tembok.
Mereka mengecek barang satu persatu. Terdapat banyak barang disana. Sofa tua, sebuah lemari berisi gaun putih di dalamnya, radio tape, toples toples yang berserakan di lantai, Bongkahan kayu, dan masih banyak lagi. Mereka berniat merapikannya supaya ruangan itu terlihat lebih bersih.
.
Shikamaru kini tengah mengecek sebuah radio tape tua yang kelihatannya masih bagus. Di sampingnya terdapat sebuah kaset tape putih. Lalu ia memasukannya kedalam radio tape. Ia berniat mencobannya.
Ia kemudian menekan tombol play.
Dan yang terjadi adalah..
.
NGGGIIIINNNGGGGGGG!
Suara dengkingan keras lah yang keluar.
"Waaaaaaa!" Shikamaru berteriak. Terkaget kaget sembari memegangi telinganya.
"WAAA! MATIKAN Shikamaru MATIKANN!" Teriak Naruto yang sedang menyapu di sudut ruangan. Yang juga menutup telingannya.
Cklek! Shikamaru menekan tombol Stop.
"Oy kau gila hah?!" Tanya Naruto sewot sembari mengorek telinganya yang berdengung.
Aneh. Shikamaru pikir barang ini masih bagus. Ternyata hanya rongsokkan.
"Tch. Aku hanya mencoba Naruto." Jawab Shikamaru tanpa dosa.
"HAH?! mencoba apa? Mencoba membuat kita tuli?!" Naruto menyahut keras tampang tanpa dosa Shikamaru.
Shikamaru menghela nafas. mengabaikan apa yang dikatakan Naruto, ia kembali mengecek barang barang di sana.
.
Melihat Shikamaru yang mengabaikannya, Naruto pun mendecih. Ia kemudian melanjutkan kegiatannya menyapu lantai basement. Setelah dikiranya debu dilantai berkurang, ia mengambil kemoceng yang tergantung di tembok bagian utara.
Di samping tempat gantungan kemoceng dan sapu, terdapat rak lain. Rak ini bersebelahan dengan lemari tua yang sudah Naruto cek tadi. Yang yang terdapat gaun putih didalamnya.
Ia mengamati barang barang yang ada di rak tersebut.
Sebuah rubik kotak terbuat daru kayu yang setiap sudutnya memiliki warna yang sama. Hitam.
'Aneh!' Batin Naruto. Seharusnya rubik kan memiliki 6 warna, dimana saat kau memainkannya kau harus mempertemukan setiap warnanya. Tapi ini hitam semua. Bagaimana pula cara memainkannya coba?
Lalu Naruto mengamati benda yang lain, ada sebuah sapu tanganyang terlipat rapi, cangkir cangkir tua, dan peralatan reparasi seperti palu, linggis, tang, dan lain lain. Dan sebuah botol berisi cariran merah dan-
'Hah? Cairan merah?' Batin Naruto. Ia mengamati isi botol itu dengan seksama.
.
jangan-jangan...
.
"WAAAAAAAA!" Naruto berteriak keras, lalu ia berlari sekuat tenaga menuju ruang atas,
Shikamaru yang kaget melihat Naruto berlari keatas, dengan reflek ikut berlari. Dasar duo kurang kerjaan.
.
Sesampainya mereka berdua di atas, Naruto segera menutup pintu menuju besement dengan tergesa gesa. Keringat dingin masih bercucuran di sekujur tubuhnya.
Shikamaru duduk tersengal sengal. Dengan heran ia bertanya.
"Hah..hah.. apha? yang kau lakukan Naruto? hah hah.. "
"A-Ada... ada ADA DARAH!" ucap Naruto tegas.
"D-Darah?" Tanya Shikamaru memastikan. "Jangan bercanda Naruto!" Serunya tidak mau percaya.
"SUMPAHH! Aku melihatnya Sendiri!" Ucap Naruto tegas.
Glek! Shikamaru menelan Ludah. Darah katanya? jangan jangan rumah ini berhantu! Hii! tapi bisa saja kan, rumah ini adalah rumah kosong, di luar rumputnya tinggi tinggi pula. Seperti tidak terawat. HIII!
Jangan jangan dahulu pernah terjadi tragedi ber DARAH disini. . .
Jangan jangan ada pembunuh yang menempati tempat ini sebelum mereka bertiga. . .
jangan jangan di basement adalah tempat pembunuh menyuksa korbannya. . .
jangan jangan mayatnya dimutilasi dan di simpan di basement!. . .
jangan jangan-
dasar Naruto dan Shikamaru penakut.
.
~IWDWIW~
.
Cherry Restaurant - Bagian Sasuke
Sasuke kini tengah duduk di sebuah bangku di sebuah ruangan dalam cherry restaurant. Ruangan ini seperti dapur, namun berbeda dengan dapur utama restaurant. Ini seperti dapur pribadi. Letaknya di dalam, karena Sasuke harus melewati dapur restoran dan ruang istirahat pegawai terlebih dahulu sebelum sampai ke sini.
Sasuke sebenarnya tidak mengerti kenapa dia bisa ada disini. Sebelum Sakura menjelaskan tentang dirinya dan restoran ini.
Sasuke, ia duduk manis memperhatikan apa yang Sakura katakan.
Di depannya kini Sakura tengah menjelaskan sembari mengayun ayunkan spatula. Di badannya tertempel sebuah apron merah muda bergambar beruang.
'Dasar kekanak kanakan.' Batin Sasuke. Ia hanya berani membatin karena di depannya sekarang Sakura ber-status sebagai sensei. Dan Sasuke adalah seito. Murid seharusnya tidak membantah guru.
"... jadi begitulah.. kunci pandai memasak adalah pantang menyerah!" ucap Sakura kemudian. Mengakhiri pidato panjangnya di depan Sasuke yang sepertinya bosan.
ini seperti deja vu bagi Sasuke. Ia mengingat hari dimana ia di beri pidato panjang oleh bibi Kushina, saat Sasuke bermalam di rumah Naruto. Namun karena Sasuke tidak mengabari rumah, ibunya menelpon kediaman Namikaze. Persis seperti ini, bibi Kushina menodong-nodongkan spatula dan berpidato kepada Naruto dan Sasuke tentang pentingnya keluarga. Saat Paman Minato mencoba menengahi, ia juga kena semprot. Dan kejadian hari itu mereka bertiga harus dusuk manis diceramahi oleh Kushina.
.
"Oy! Sasuke.. kau dengar tidak sih?" Ucap Sakura menyadari Sasuke melamun. Ia mengibas ngibaskan tangannya di depan wajah Sasuke.
"Ha?-" Sial! Wajah Sakura dekat sekali.
Sasuke dengan reflek memundurkan kursi. Ia hampir terjungkal.
.
Sakura tersenyum. "NAH! kalau begitu kita mulai saja perlajaran untukmu sekarang anak muda!" ujar Sakura semangat.
"H-Hn." Sasuke hanya menjawab dengan dengungan. Seperti biasanya.
"NAH! kau lah yang minta diajari. jadi.." ucap Sakura menggantungkan kalimatnya.
"Jadi?" tanya Sasuke.
"Jadi kau bebas memilih menu apa yang mau aku ajarkan." Jawab Sakura kemudian.
"Menu?"
"Jangan khawatir, aku akan mengajarimu dari yang paing dasar. Dari menanak nasi, memotong sayur. bahkan menyalakan kompor! Maka dari itu. Ayo, sebutkan nama makanan.. apa saja.. makanan yang ingin kau makan sekarang kek." ucap Sakura panjang lebar.
Sasuke menatap Sakura dengan pandangan bingung. Ia berpikir keras
sejurus kemudian ia berkata.
"Nasi." Ucap Sasuke ragu.
"Nasi?"
"N-Nasi goreng tomat." lanjut Sasuke sedikit malu.
Sakura tersenyum.
"Nasi goreng tomat segera datang!"
.
~IWDWIW~
.
Home Sweet Home - Bagian Shikamaru dan Naruto
Mereka kini tengah berdiri menghadap pintu menuju basement. Mereka berniat mengecek, apa benar yang dipikirkan Shikamaru.
"N-Ne Shikamaru? A-Apa benar kita akan masuk kembali?" ucap Naruto ragu. Ditangannya terdapat wajan teflon. Untuk berjaga jaga.
"Kau tau kan Naruto.. Kita harus mengecek untuk memastikan..." ucap Shikamaru. Ia memegang knop pintu. Di tangan kirinya terdapat sebuah senter. Ia memegang knop pintu dengan gemetar.
Jujur, ia juga sedikit takut dengan yang namanya makhluk astral. Tidak ada yang tau kan apabila seandainya ada hantu di rumah ini. Ia merasa hal hal yang berbau mistis terasa tidak ilmiah. Tapi ia tetap merasa takut apabila hal hal seperti itu memang benar benar ada.
"A-Ayo kita masuk!" Perintah Shikamaru, ia menoleh kepada Naruto.
Glek! Naruto menelan ludah. Ia mengeratkan cengkramannya ke gagang teflon.
"U-Uh." Naruto mengangguk.
.
Cklek!
Pintu dibuka perlahan. Ah lampunya masih menyala. Tadi mereka berdua lari keatas tanpa mematikan lampu.
Mereka berjalan menuruni tangga dengan perlahan. Naruto yang paling takut sembunyi di balik punggung Shikamaru, ia menarik-narik kaos Shikamaru dari belakang.
"Oy Naruto lepas.. kau membuat kaos ku melar!" bentak Shikamaru, ia menggoyang goyangkan pundaknya supaya Naruto berhenti menggenggamnya.
"Ssst! diam Shikamaru, kau tidak mau hantu menganggu kita karena kau brisik kan?!" Ucap Naruto berbisik.
"Satu satunya yang menganggu ku adalah KAU! jadi lepaskan!" Bentak Shikamaru. Ia mulai tidak sabar dengan bocah penakut yang ada di belakangnya ini.
Naruto akhirnya mengalah, ia melepaskan gengamannya. Tetapi ia masih berjalan menunduk di belakang Shikamaru.
Tap! Akhirnya mereka sampai di bawah.
Hening. Naruto dan Shikamaru mengamati keadaan sekitar. Hening, benar benar hening. Keadaan seperti ini lah yang membuat Shikamaru merinding.
"N-Nah! Naruto.. katakan padaku dimana kau melihat darah..." ucap Shikamaru memecah keheningan.
"Di-Disitu." Naruto menunjuk ke sebuah rak yang ada di pojok. Ia tidak berani melihat.
Shikamaru mengarahkan senter ke tempat yang di tunjuk Naruto.
Ada benda kotak berwarna hitam, sapu tangan, buku buku dan-
Shikamaru menyipitkan matanya. Cairan merah yang terdapat di dalam sebuah botol.
Shikamaru menghampiri rak tersebut perlahan. 'Darah?' tapi kenapa ada di dalam botol?
pikiran Shikamaru kini tengah memikirkan tentang hantu haus darah, urband legend, monster pemakan daging. Dracula. Apa rumah ini adalah markas Dracula?
.
Naruto yang melihat Shikamaru menghampiri rak segera menuju ke belakang punggungnya. Sesekali ia melirik di balik pundak Shikamaru.
"B-Benda ini Naruto?" Tanya Shikamaru sembari menyenteri botol tersebut.
"I-Iya!" Ucap Naruto mengiyakan.
Shikamaru dengan gemetaran mengambil botol tersebut. Ia membolak baliknya perlahan. Terdapat tulisan disana. Ia membacanya...
"V-Vampire. . ." ucap Shikamaru.
.
.
.
.
.
.
"V-Vampire?" Tanya Naruto takut.
.
Shikamaru segera melanjutkan membacanya.
"Vampire.. Volcano Sauce.. rasakan pedas membakar lidah." ucap Shikamaru mengakhiri membaca tulisan yang ada di botol.
"Hah?" Naruto cengo.
"AH INI HANYA SAUS KAU Naruto BODOH!" ucap Shikamaru sewot.
"..."
Ternyata itu bukan darah. Tapi Saus cabai.
Dasar Naruto penakut.
Baru kali ini ia dibodohi oleh orang bodoh.
.
~IWDWIW~
.
Sasuke kini sedang mengiris tomat.
"Akh! Susah." Ucap Sasuke mengutarakan kekesalannya saat ia mencoba memotong Tomat. Potongannya tidak bisa seimbang, padahal itu hanya tomat.
"Coba terus Sasuke, kau akan terbiasa." Ucap Sakura yang sedang memasukkan bumbu ke dalam penggorengan.
"Sasuke tolong ulurkan nasi itu kesini." Perintah Sakura kepada Sasuke.
Sasuke pun hanya menurut. Ia mengambil semangkuk nasi yang ada di meja lalu menyerahkannya kepada Sakura.
Sakura menuangkan nasi itu kedalam penggorengan dan mengaduknya. Membiarkan bumbunya meresap. Lalu ia memasukkan lada dan kecap asin.
"Setelah ini?" tanya Sasuke
"Masukkan tomatnya.. sini."
Sasuke memberikan tomat itu kepada Sakura. Tomat itu terlihat menyedihkan, potongannya tidak rata.
Tapi Sakura tidak ambil pusing dan menuangkan saja tomatnya. Mencampurkannya kedalam nasi goreng.
"Nah sekarang cepat ambil piring!" teriak Sakura kemudian.
Sasuke hanya menurut dan mengambil piring dari rak, kemudian menyerahkan kepada Sakura.
Sakura kemudian menuangkan nasi goreng tomat yang sudah matang ke dalam piring. Sasuke memperhatikan setiap rinci cara memasak Sakura. Ia berniat mempraktekannya di rumah nanti.
"..dan. Yup slesai!" Ujar Sakura bangga.
"Hn."
"Nah? Lihat kan? Tidak ada yang sulit dari memasak!" Ucap Sakura lagi. Setelah selesai bekerja sama membuat nasi goreng tomat pesanan Sasuke.
Sasuke tersenyum lagi. walaupun ia sedikit ragu dengan potongan tomatnya.
"Hn. Terimakasih." Ucap Sasuke. Ini kedua kalinya ia mengucapkan terimakasih kepada perempuan selain ibunya, dan anehnya yang ia beri ucapan adalah orang yang sama.
"Hahaha! Tenang saja! Kau bisa meminta bantuanku kapan saja.. emm Sasuke-kun" ucap Sakura. Ia menambahkan sufik -kun kepada nama Sasuke.
Sasuke tersenyum. Ia merasa tidak keberatan. Yah ia sudah diajari banyak hal.
"Nah ini" Lanjut Sakura sembari menyodorkan nasi goreng tomat yang Sasuke pesan.
"Huh?" Sasuke tidak mengerti.
"Untukmu. Ini adalah hasil kerja kerasmu sendiri, Kau pantas memakannya." kata Sakura kemudian.
Sasuke menatap nasi goreng tomat yang dipegang Sakura dengan tatapan kagum. Namun Sakura yang melihatnya hanya tertawa kecil.
"Ah tenang saja! Restoran ini memang milik keluargaku.. tapi kau tidak perlu bayar untuk ini.. hahahaha." ucap Sakura.
.
.
Sasuke menerima piring itu dengan penuh rasa haru. Ia tidak berpikir banyak membantu. Tapi sejurus kemudian ia tertawa kecil 'Kerja keras ku sendiri ya?' Batin Sasuke. Baru kali ini Sasuke merasakan sensasi perasaan seperti ini.
Perasaan Lelaki yang puas mendapatkan apa yang ia inginkan.
Perasaan Lelaki yang senang karena mendapat sesuatu dengan kerja kerasnya sendiri.
Perasaan Lelaki yang menang dari kelemahannya sendiri.
Perasaan Lelaki yang BAHAGIA.
.
.
'Jadi seperti ini rasanya.' batin Sasuke.
"Sesuatu akan terasa berharga saat kau melakukannya dengan hasil keringatmu sendiri."
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
TBC
xxxxxxxxxxxxxxxxxx
Author Note(s) : Hahahahahahahahahahaha Hanzama Is BACK! Yolo~ Udah sampe chapter 5! gimana chapter ini? baguskah? kurang greget kah? Hanzama sendiri bingung. Semoga tidak mengecewakan.
oh iya.. Hanzama belum ngucapin terimakasih kepada reviewers dan sahabat reader yang udah ripiu dan baca chap-chap yang lalu.. Maka dari itu, chapter ini akan Hanzama akhiri dengan ucapan terimakasih kepada :
volturys, aeryn bluesky-polish, DandelionEvil, veira sadewa, Esya. , .3, justin cruellin, Bayangan semu, wildanbondil, TitaniaGirl, UzumakiYuki15, Ilham is Ila's Brother, Zero Akashi, arafim123, Guest(Apa. . .), Anonim, Guest(cer. . .), .bs, zielavienaz96, TheHalfSoul, Niwa-chan, ccxi, hime chan, bakadobe, 00, uchihaenji935.. dll
dan kepada silent rider yang telah membaca fanfic jadul ini dengan sukarela. you da real MVP!
Maaf gak bisa menjawab ripiu satu satu.. Karena beberapa kendala-
tapi semua ripiu dan saran tetap author baca kok.
.
.
Okesip! Sekali lagi makasih. dan, see you di chap depan!
Kritik dan Saran perhaps?
NEXT CHAP RIGHT AWAY!
V
V
V
V
V
