Chapter 19 : My Shit, My Adventure

.

Naruto © Masashi Kishimoto

I Will Do What I Want © Hanzama

Rating : T(+)

Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe

Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Etc.

Pairing : Comin Soon

.

.

Sasuke dan Shikamaru kini tengah berdiri mematung di depan bis nomor 1. Di sampingnya, Sakura sedang mencatat sesuatu. Sasuke menatap ngeri segrombolan anak kelas 2-3 yang membawa barang bahkan sampai 2 koper. Berbanding terbalik dengan Sasuke yang tas nya hanya berisi buku tulis. Sekarang ia mulai tidak yakin dengan hal ini. Ia melirik Sakura. Bawaannya juga lumayan banyak. Ya maklum, Rencana sudy tour ini kan berlangsung 5 hari.

Ia lalu menoleh ke shikamaru.

"Are?" Hilang. Sasuke terkejut karena baru beberapa detik yang lalu Shikamaru berdiri di sampingnya. Namun sekarang sudah tidak ada.

Ia kembali melirik Sakura. Karena merasakan situasi yang tidak mengenakkan, Akhirnya Sasuke memberanikan bertanya kepada Sakura.

"S-sakura." ucap Sasuke pelan.

"Hum?" Balas Sakura. Namun ia tidak menoleh dan masih berkutat dengan buku dan bolpoinnya.

"Berangkatnya jam berapa?" tanya Sasuke lagi.

Sakura pun menghentikan aktifitasnya dan mengangkat tangannya untuk melirik jam tangan merah muda nya.

"Sekitar 15 menit lagi." ucapnya mantap.

"Hn." hanya itu respon Sasuke.

Seakan tidak puas dengan respon Sasuke, Sakura menoleh ke Sasuke.

"Eh? Sebenarnya aku heran kepadamu Sasuke." ucap Sakura. ia menentengkan tangannya di pinggul.

"Hah?"

"Kenapa kau bisa bisanya tidak membawa apapun di acara seperti ini!" ucap Sakura garang.

"Eh.. err.." Sasuke malah hanya tersenyum dan tidak berniat menjawab.

"Kau tau kan, Nanti kita akan berpergian selama 5 hari! kau bahkan tidak membawa pakaian ganti!" ucap Sakura. Ya, Sakura memang sedikit menaruh perhatian kepada ketiga teman barunya. Selain Sakura yang menjabat Sebagai ketua kelas dan bertanggung jawab atas amanah anak buahnya, Tentu ada beberapa alasan yang membuat Sakura sedikit khawatir dengan ketiga pemuda tetangganya ini.

"Err.. Kami hanya tidak sempat." ucap Sasuke asal asalan.

"Lalu kau berniat tidak ganti baju selama 5 hari kedepan?" ucap Sakura.

"..." Sasuke hanya diam. ia tidak tau harus berkata apa.

"Ya ampun Sasuke, Kau duduk di sebelahku tapi kau berniat tidak berganti baju. Seharusnya kau lebih peka terhadap perempuan!" ucap Sakura emosi. Oke itu aneh, Sasuke bahkan tidak tau arti konsep Peka terhadap perempuan.

Tunggu dulu.

"Duduk di sebelahmu?" tanya Sasuke mengernyitkan dahi. Oke itu adalah Sesuatu.

"Kau tidak tau?" tanya Sakura.

Sasuke menggeleng.

Mana Sasuke tau, Mendapat surat pemberitahuan saja tidak.

Sakura lalu mengambil sebuah kertas dari dalam tas nya. Lalu ia memberikannya kepada Sasuke. Sasuke yang heran pun hanya menerima kertas itu. Ia membukanya.

Oh, itu denah tempat duduk.

Bis nomor satu adalah bis yang memiliki posisi kursi dua-dua Di kanan dan kirinya. Bis ini ditempati Oleh kelas 2-1 dan 2-2. dengan kata lain, kelas Sasuke satu bus dengan Kelas milik Gaara. Sasuke meneliti denah tempat duduk yang sudah dinamai itu. Oh benar, Sasuke satu kursi dengan Sakura. Oke itu aneh, Tidak biasanya Seorang lelaki dipasangkan dengan Seorang prempuan.

Posisi kursi di belakang Sasuke ada Nama Ino dan Kiba. Lalu di samping Ino dan Kiba adalah Shikamaru Nara dan Akimichi Chouji.

Oh, Sepertinya memang bukan Sengaja Laki-laki dipasangkan oleh perempuan. Tapi tempat duduknya memang diacak. Sasuke mendapat kursi di tengah. Tepatnya jeda 4 kursi dari pak supir yang ada di depannya.

Setelah puas melihat denah kursi. Sasuke lalu mengembalikan kertas kecil itu kepada Sakura.

"Setidaknya nanti kau harus membeli baju atau kaos ganti saat sampai di okinawa Sasuke." ucap Sakura menerima kertas kecil itu dan mengembalikannya ke dalam tas.

"..." Namun Sasuke hanya diam. Sakura tentu saja heran.

"J-Jangan jangan kau juga tidak membawa uang saku?!" ucap Sakura shock.

"H-hehe." Sasuke hanya tersenyum sembari menggaruk pipinya yang tidak gatal. Tanda meng-iya-kan. Jelas Saja, Dari pertama sekolah disini, Sasuke memang belum pernah sekalipun memegang uang.

Sakura menghela nafas. Sepertinya Pemuda di depannya ini lebih merepotkan dari yang Sakura pikirkan.

.

~I Will Do What I Want~

.

Naruto kini sedang mengobrol dengan Kakashi (Baca: Protes) tentang perjalanan dadakan ini. Naruto sedari tadi meminta kakashi untuk mengijinkan mereka bertiga pulang dan mengambil baju ganti. Namun Kakashi menolak karena waktu keberangkatan tinggal beberapa menit lagi. Tentu saja sudah tidak keburu.

"Ayolah Kakashi! Hanya beberapa menit." ucap Naruto.

"Tidak bisa Naruto. Nanti kau ketinggalan bus. Lihat! Sudah jam sepuluh kurang 12 menit." ucap Kakashi tegas.

"Akh! Kenapa tidak boleh! Memang kau mau kami liburan ke Okinawa hanya membawa sebuah pulpen dan buku tulis!" ucap Naruto. Ia Menunjukkan tas nya yang kempes tanda memang ia tidak membawa apa apa selain Pulpen dan Buku.

"Aku akan mengijinkanmu kalau seandainya tadi kau jam delapan sudah sampai Sekolah! Kalau sekarang, tentu Saja sudah tidak bisa." ucap Kakashi lagi. Naruto tersinggung karena tadi ia sampai jam sembilan.

"K-Kenapa begitu! Lagipula Dari awal kami yang tidak mendapat pemberitahuan! Bukankah itu juga tanggung jawab wali kelas!" ucap Naruto. Tentu Saja, Ia sekarang mengyalahkan Kakashi. Wali kelas kan yang bertanggungjawab kepada muridnya.

"Aku sudah melakukannya Naruto.. Buktinya. teman teman sekelasmu yang lain juga sudah melakukan persiapan!" ucap Kakashi lagi.

"Tapi mereka-" Naruto ingin protes lagi, Namun itu dipotong oleh Tsunade yang berdehem di samping mereka.

.

"Ehem." Suara Tsunade dari samping Naruto. Naruto tentu dengan reflek menoleh.

"Apa maumu?" Tanya Naruto ketus. Tentu saja ia masih jengkel dengan Oppai yang satu ini-Err maksudku wanita.

"Kemari bocah ikut denganku." ucap Tsunade. Ia menyeret Naruto pergi dari situ.

"Oi Apa yang kau lakukan!" Naruto mencoba berontak Karena ditarik paksa. Namun Tsunade hanya diam dan menyeret Naruto sedikit menjauh dari Kerumunan yang mencoba naik bus.

Saat sudah berada cukup jauh dari bus. Tsunade akhirnya melepaskan Naruto. Tentu saja Naruto sudah siap dengan puluhan protes yang akan dilontarkannya.

"Apa Maumu Nenek tua?!" ucap Naruto.

DUAKH! Naruto kena pukul lagi. benar benar Sial.

"Sudah kubilang panggil -sensei BODOH!" Ucap Tsunade tidak terima.

"Oi Apa maumu?!" Balas Naruto tak kalah ketus kepada Tsunade. Jujur, dari tadi ia bawannya emosi kalau melihat Nenek tua ini. Ia memegangi kepalanya yang nyut nyutan.

Tsunade lalu memberikan sebuah kamera digital kepada Naruto.

"Nih." ucap Tsunade.

"Hah?" Naruto yang tidak mengerti tentu saja hanya menatap Tsunade dan tidak berniat mengambil kamera itu.

"Apa maksudnya?" Tanya Naruto heran.

"Aku memberimu 'Tugas' Mengumpulkan foto untuk buku tahunan." ucap Tsunade.

"HAH?" Naruto melongo.

"Sudah terima saja!" ucap Tsunade memaksa Naruto untuk menerima kamera yang dipegangnya.

"Oi tunggu! Kenapa harus aku?!" tanya Naruto galak.

Tsunade menghela Nafas.

"Panitia Buku tahunan kekurangan orang bocah! Setidaknya kau bisa membantu kan? Dan aku tau kau BERSEDIA." ucap Tsunade. ia Melipat tangan di dada. Menekankan kata bersedia.

"A-apa-NGGAK!" Ucap Naruto langsung.

"Nggak Eh?" ucap Tsunade. Naruto ikut melipat tangan di dada dan menggelengkan kepala tanda tidak mau.

Tsunade tersenyum.

"Kalau begitu ucapkan selamat tinggal kepada Shikamaru dan Sasuke." ucap Tsunade.

"Hah?"

"Kau tidak mau kan? maka aku juga tidak mau menaikkanmu saat kenaikan kelas Nanti." ucap Tsunade.

"A-APA? Omong kosong!" balas Naruto. Cih, Ia sangat tidak suka dengan orang yang hanya suka mengancam. ".. Kau tidak bisa memaksaku dengan alasan konyol seperti itu!" lanjut Naruto emosi.

Namun Tsunade malah menyeringai.

"Lihat dirimu sendiri bodoh. Soal pelajaran kau paling tertinggal diantara Sasuke dan Shikamaru. Kau pikir aku tidak memantau kalian bocah?" ucap Tsunade lagi. Mencoba meyakinkan Naruto.

"..."

.

"Kalau kau seperti ini terus, Kau tidak akan pernah Sejajar Dengan Shikamaru dan Sasuke walaupun saat persaingan jujur!" lanjut Tsunade.

"..."

"Aku menerima nilai dari beberapa orang guru yang mengajar kelas kalian. Nilaimu bahkan tidak mencapai Setengah milik Shikamaru!" ucap Tsunade.

Naruto tentu ingat tentang ulangan yang diberikan oleh beberapa guru kemarin. Naruto memang tidak terlalu pandai mengerjakan soal. Namun dari penjelasan Tsunade, Sepertinya wanita ini menawarkan sesuatu.

Naruto menghela nafas.

"Lalu? Apa maksud menjelasanmu itu?" ucap Naruto. Nadanya kini sudah sedikit kalem.

Tsunade Tersenyum.

"Kau tau? Berpartisipasi dengan panitia kegiatan tahunan akan memberimu tambahan dalam nilai akademis.." ucap Tsunade.

"..."

"Maka dari itu.." ucap Tsunade lagi. Ia sudah mulai merasakan kemenangan. ".. Mulailah memberikan konstribusi yang berharga untuk dirimu dan sekolah ini." ucan Tsunade. Ia menyodorkan kamera itu kepada Naruto lagi.

Oke Naruto tidak suka dengan pilihan yang seperti ini. dimana ia terjebak dalam situasi yang membuatnya harus menentukan dua pilihan. Menerima dengan ikhlas atau Menerima dengan tidak ikhlas. Apa bedannya kalau sama sama harus menerima? Dammit!

Ia sempat ragu, Namun akhirnya ia menerima kamera itu.

"Hanya mengumpulkan foto kan?" tanya Naruto memastikan.

Tsunade mengangguk.

"Baiklah." akhirnya ia menyetujuinya.

"Kalau begitu kau bisa bekerja sama dengan panitia lain untuk mengumpulkan data." ucap Tsunade lagi.

Naruto mengernyitkan dahi.

"Panitia lain? Siapa saja?" tanya Naruto. Oke itu diluar dugaan. Kalau Naruto harus bekerja sama dengan segrombolan orang untuk mengumpulkan data buku tahunan.

"Aburame Shino.." ucap Tsunade.

Namun Naruto hanya diam. Menunggu Tsunade slesai menyebutkan nama semua panitianya.

"..."

.

.

"..."

Hening.

"H-hanya itu?" tanya Naruto karena Tsuande malah diam setelah menyebut Nama Aburame Shino.

"Ya.." balas Tsunade.

"HANYA SATU ORANG?" tanya Naruto shock.

"Iya bocah." Lanjut Tsunade dengan muka biasa.

Naruto melongo.

Sepertinya Memang 'benar benar kekurangan orang.'

"Siapa Shino Aburame?" tanya Naruto penasaran.

"Cih. Lihat kan! Kau bahkan tidak tau teman sekelasmu sendiri! Kau ini benar benar memperhatikan tidak sih di sekolah?" ucap Tsunade ketus.

"Err.." Memang ada orang yang bernama Shino Aburame di kelas Naruto? Ah. Naruto tidak bisa mengingatnya.

"Baiklah Kalau begitu sana.. segera naik bus.. huss huss.." Usir Tsunade seenak jidat.

"Cih."

Naruto merengut. Ia lalu segera pergi dari Situ dan mendekati bus. Well, Naruto sekarang harus menerima kenyataan bahwa dia berstatus sebagai Paparazzi Dadakan.

.

~I Will Do What I Want~

.

Di Bus.

Sasuke memasuki Bus dengan perlahan, Di belakangnya ada sakura yang membuntut di belakangnya. Mereka berdua sedang mencari tempat duduk mereka.

Ah ini dia. Mereka berhenti di barisan tempat duduk mereka. Di setiap bangku telah terdapat Nama sesuai denah. Tempat duduk Sasuke lah yang ada di samping jendela. Namun Sasuke malah berhenti, membuat orang orang yang ada di belakangnya ikut berhenti.

"Apa yang kau lakukan Sasuke? Kau menghalangi jalan!" ucap Sakura risih karena didorong dari belakang.

Sasuke yang mengetahui kesalahannya segera menyingkir dan duduk di tempatnya. Diikuti Sakura yang segera duduk. Masih ada beberapa orang yang ada di luar bus. Dan pera guru yang masih berbincang bincang, Jadi sepertinya memang mereka harus menunggu.

Oke entah kenapa Sasuke berasa gugup dalam situasi seperti ini. Sasuke duduk bersebelahan di samping Sakura. bahu mereka saling menempel. Bahkan Sasuke bisa dengan jelas menghirup aroma shampo Sakura. Akh! Sasuke seumur umur memang belum pernah dekat dengan perempuan, selain ibunya. Jadi situasi seperti ini tentu sangat membuat hati Sasuke berdebar debar. Lagipula kenapa juga ia harus duduk Bersebelahan dengan perempuan.

Sasuke memperhatikan Sakura. Ia meneliti setiap inci wajah Sakura. Surai merah mudahnya mengingatkan Sasuke dengan permen kapas. Rambutnya yang di kuncir ke belakang seperti anak kecil di imajinasi Sasuke. Bakhan penjepit rambut berbentuk Cherry Menambah kesan kekanak kanakan. Sasuke tersenyum geli. 'Dasar kekanak-kanakan.'

Sakura yang merasa diperhatikan segera menoleh.

"Apa lihat lihat?!" bentak Sakura kepada Sasuke.

"T-tidak!" Sasuke segera mengalihkan pandangannya. 'Sifatnya berbanding terbalik dengan penampilannya.'

Sasuke pun menyibukkan diri dengan menengok bangku bangku yang ada di sekitarnya. Dia berdiri dan menengok ke belakang. Ah. Gadis merepotkan lain.

"Oi Sasuke, Jangan berdiri. Kau menggoyangkan kursinya!" ucap Ino dari belakang Sasuke.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke melihat Ino menggunakan Kursi Sasuke untuk meletakkan cermin kecilnya. Ino mengoleskan sebuah lotion yang Sasuke tidak mengerti kepada wajahnya sendiri.

"Ini untuk menghindari wajah kusam." ucap Ino. Sasuke menatap bosan kepada ino.

"Kau aneh aneh Yamanaka." ucap Sasuke sarkatis.

Ino menghentikan kegiatannya karena melihat Sasuke memperlihatkan wajah bosan.

"Aku tidak meminta pendapat orang NORMAL yang study tour tidak membawa apapun!" ucap Ino mengejek.

"..."

"Justru aku yang harus memperingatkanmu agar tidak aneh aneh!" ucap Ino.

"Hah?"

"Maksudku. Kau duduk di sebelah Sakura. tidak ada yang tau apa yang akan kau lakukan padanya saat malan hari!" ucap Ino seenaknya.

"Jangan Samakan aku denganmu Yamanaka." ucap Ino.

"Hee.. Jangan begitu Sasuke.." ucap Ino, Ia lalu berbisik di depan Sasuke. ".. banyak orang yang memperhatikanmu semenjak kau tidak pakai kacamata.. Mungkin Sakura juga menyukaimu." ucap Ino pelan.

"Cih." Sasuke mengalihkan pandangannya ke kursi kosong di sebelah ino. Kursi milik kiba.

"Dimana si Inuzuka yang seharusnya duduk di sebelahmu?" tanya Sasuke. Mengalihkan pembicaraan.

"Tak tau." Jawab Ino enteng.

Lalu Sasuke Mengalihkan pandangan ke kursi yang ada di sebrang Ino. Ada seorang yang meringkuk di sana. Ia tidur meringkuk dengan posisi berbaring menyamping. Kepalanya tertutupi oleh tas. ia mendengkur pelan.

"Siapa itu?" tanya Sasuke menunjuk ke seorang yang sudah tertidur.

"Kau tau itu siapa." ucap Ino.

Sasuke mengernyitkan dahi. Jangan bilang... Oh benar.. Itu adalah jasad sang tuan einstein ber IQ menakjubkan pemegang gelar raja tidur. Shikamaru.

'Dasar Bodoh.' Tidak heran tadi dia menghilang sepersekian detik Saat Sasuke berpaling dari sampingnya.

.

Naruto akhirnya masuk ke dalam bus setelah menyelesaikan urusannya dengan Tsunade.

"Yo.. Sasuke.." Sapa Naruto kepada Sasuke yang duduk di samping Sakura.

"Darimana Saja kau?" Tanya Sasuke melihat Naruto baru masuk ke bus. Namun Naruto tidak berniat menjawab. Ia hanya menunjukkan sebuah kamera dan malah balik bertanya.

"Dimana Shikamaru?" tanya Naruto.

"Dia disini Naruto.." Ucap Ino dari belakang menunjuk seorang yang meringkuk di seberang tempat duduknya. Naruto pun mendekatinya. Benar saja.

"..." Naruto menatap Shikamaru.

Ia lalu menendang nendang kaki Shikamaru.

"Oyy! Bangun Bodoh." ucap Naruto Ia menendang Kaki Shikamaru sedikit keras. Namun Hasilnya nihil. Shikamaru tidak bergeming barang sedikitpun.

Sedangkan Ino dan yang lain yang berada di dekat situ hanya bengong melihat adegan membangunkan teman secara 'manusiawi' yang dilakukan Naruto.

Naruto memang heran. Bila Shikamaru tidur. Sudah seperti orang mati. bila tidak bangun dengan keinginannya sendiri, memang susah. Bahkan Naruto pernah membangunkan Shikamaru dengan cara membekap telinganya dengan jam weker. Kejam, Tapi Efektif.

Melihat Shikamaru yang tidak bergeming. Muncul Ide jail di kepala Naruto. Mumpung ada kamera di tangannya. dan Sang korban tidak berontak.

Dengan Sigap Naruto menarik paksa tas yang menutupi wajah Shikamaru. Narto berniat memotret Shikamaru.

Lumayan Buat Buku tahunan.

.

CKREK!

Dapat. Jasad seorang yang sedang tidur. Naruto cekikikan sendiri melihat hasil potretannya..

"Pfft Hahahaha.." Tawa Naruto. Sedangkan orang lain yang melihat Naruto hanya sewatdroped.

Tak lama. Ibiki masuk ke dalam bus. Ia membawa megaphone besar dan berteriak teriak.

"Baiklah Anak busuk.. Sekarang duduk di tempat kalian masing masing." ucap Ibiki dari megaphone.

Segera orang yang masih berdiri menempati tempat duduknya masing masing. Naruto segera menutupi Kepala Shikamaru dengan Tas seperti tadi, dan segera pergi. Naruto tentu saja kebingungan karena tidak tau dimana tempat duduknya. Ia hanya berjalan bingung ke barisan belakang.

Beruntung Ia dipanggil mendekat oleh seseorang ke bangkunya sendiri.

"Disini Naruto.." ucap orang itu. Oke, Naruto tidak kenal siapa itu. Namun kursi di samping orang itu tertera nama Naruto. Naruto tentu dengan Sigap menghampirinya.

Naruto segera duduk.

"Fyuh.. Sialan memang si Ibiki!" ucap Naruto ke dirinya sendiri.

"Sepertinya Ibiki yang menjadi pembimbing Bus 1" ucap orang di samping Naruto.

Naruto menoleh ke orang yang ada di sampingnya. Orang ini menggunakan setelan jaket tebal yang menutupi sebagian kepalanya. Bahkan dia juga memakai satu jaket lagi yang bertudung.

Naruto menatap orang itu heran.

"Kau tidak mengenalku? Aku tau, Karena melihat dari ekspresimu." ucap Orang itu.

"Eh? Err.." Naruto hanya menampakkan tampang kikuk.

"Aburame Shino.. Seharusnya kau tau, Karena.. aku satu kelas denganmu." ucap Orang itu.

"Oh Kau Shino?" ucap Naruto. Jadi ini anak yang dimaksudkan Tsunade.

"Ya." balas Shino.

"Err.. kau adalah panitia buku tahunan Konoha kan?" tanya Naruto memastikan. Jujur, Naruto bahkan tidak tau kalau a orang ini satu kelas dengannya.

"Ya. kau juga. Karena, Tsunade baru memberiku SMS bahwa kau bersedia membantu." ucap Shino.

Naruto hanya tertawa garing mendengar logat Shino yang aneh.

..

Sedangkan di depan.

Ibiki senang melihat semua sudah tenang dan duduk di tempatnya masing masing. Tapi... Ibiki menyipitkan mata melihat Seorang yang masih berdiri. Ia lalu meneriaki orang itu dengan megaphone lagi

"Oi! Akimichi Chouji! kenapa kau tidak duduk?!" ucap Ibiki.

Orang yang bersangkutan hanya bertingkah gugup dan menunjuk bangkunya sendiri.

"E-eh Sensei! Ano.. Ini.. Etoo.."

Ibiki Yang melihat Chouji tidak segera menjawab akhirnya mendekatinya.

tap. tap.

"Ada apa?! HAH?!" bentak Ibiki garang.

Chouji menunjuk kepada orang yang seenaknya memonopoli tempat duduk dan tidur.

"Siapa ini?" tanya Ibiki. tentu semua orang yang ada di bus segera menoleh menatap ibiki dan mendongak melihat apa yang ada di kursi Chouji.

"Itu Shikamaru Nara-sensei!" ucap Kiba yang duduk di sebelah Ino.

"Nara Eh?" Ibiki pun menyingkap paksa Tas milik Shikamaru. Benar saja Ternyata Shikamaru.

Ibiki pun langsung mnarik lengan bajunya sendiri. Dan menyalakan megaphone yang ia bawa.

Tanpa ampun ia memposisikan megaphone itu di telinga Shikamaru.

Ibiki pun mendekat.

Ia menarik Nafas panjang.

"BANGUN BODOH! BANGUN KALAU KAU TIDAK MAU AKU LEMPAR KELUAR JENDELA!" Teriak Ibiki tepat di telinga Shikamaru. Pakai megaphone pula.

"AAAWWWW!" Shikamaru bangun akhirnya. Ia memegangi telinganya.

"OI KAU GILA?!" Teriak Shikamaru.

Namun Ibiki malah menampakkan tampang Garangnya dan balim meneriaki Shikamaru.

"Kau punya masalah denganku HAH?!" Balas ibiki.

Shikamaru melongo.

"T-tidak Sensei."

.

.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TBC

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Author's Note : Yo, Hanzama Is Back.. Oke, Sedikit Chapter kalem lagi.. Maaf kalau humornya belum terasa. Ini masih lanjutan chapter kemarin. Jadi rada pendek.

Sebenarnya Saya memikirkan ini sejak dulu :

Shino dan Choji satu kelas dengan NSS, Namun belum kelihatan.. Jadi saya berikan sedikit awalan untuk mereka di chapter ini.. untuk Rock Lee.. Mungkin muncul berbarengan dengan Problem OSIS..

Dan Hinata.. ASK (Point) : Kenapa udah chapter 19 tapi hinata blum muncul?

ANSWER : Oke Sedikit curhat.. setelah mengkonsepkan kerangka cerita ini, saya mulai berpikir Hinata merupakan salah satu Tokoh kunci dalam fanfic ini. Dan kalau Hinata Saya munculkan sekarang, Kemungkinan porsi Humornya akan turun drastis. jadi saya simpan dulu.. *KantonginHinata* .. jadi. Mohon maaf sebelumnya. Semoga tidak ada yang kecewa..

..

Nb : Maaf Review chapter kemarin belum saya balas.. karena belum sempat.. Mungkin chapter ini saya balas.. Thanks sebelumnya yang udah ripiu dan mendukung IWDWIW Awesome Project(?)

Okesip, Terimakasih sudah membaca.

Salam Hangat dari Hanzama.. Semoga Reader Sukses selalu~

See You in chap 20!

.

REVIEW

V

V

V