chapter 21 : Isla de Okinawa
Naruto © Masashi Kishimoto
I Will Do What I Want © Hanzama
Rating : T(+)
Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe
Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Etc.
Pairing : Comin Soon
.
Pemandangan yang indah, Pasir putih yang terhampar luas di sepanjang pantai. Dan Orang orang yang berlalu lalang! Inilah Okinawa. Akhirnya Para Murid Konoha Gakuen sampai di Okinawa. Huft, Perjalanan yang sedikit lama.
Err, Namun niat untuk segera bermain di pantai harus dibatalkan karena hari sudah menjelang malam. Hah! Benar! Cih, sial. sepertinya Acara melihat Bikininya akan ditunda sampai besok-ehem.
Satu kata saat anda menginjakkan kaki di Pulau ini. Paradise. Okinawa adalah pulau di selatan jepang yang memiliki pasir panjang, Resort mewah. Penginapan modern maupun tradisional. Masih kental akan budaya ditengah Modernisasi. Yah, walaupun Ciri budaya di Okinawa tidak sekental Sebuah pulau dari Asia tenggara yang dijuluki Pulau Dewata. Tapi pulau ini memiliki daya tarik tersendiri.
.
Para murid konoha gakuen kini telah berada di depan penginapan mereka. Sebuah penginapan yang cukup besar. Kesan tradisional jelas terasa sekali di bagian luar penginapan ini. Sebuah kolam ikan koi yang ada di depan penginapan lengkap beserta pancuran dari bambu yang berbunyi TUK Saat air memenuhi rongga bambu itu. Rerumputan khas jepang yang tertanam rapi di sepanjang jalan masuk menuju aula utama. Penginapan ini cukup strategis karena dekat dengan pantai.
..
"Baiklah, Silahkan mengantri kepada wali kelas untuk di data dan meminta kunci kamar. Setiap kamar akan dihuni Empat orang. Bila sudah mendata, silahkan beristirahat! Aku tidak mau melihat kalian kecapekan besok dan aku harus menelpon mobil jenazah."ucap Ibiki dengan keras menggunakan toa yang ia bawa dari sekolah.
beberapa anak memberi deathglare kepada Ibiki karena ucapannya yang asal asalan. Namun setelah balik dipelototi, anak anak itu hanya tersenyum dan berlalu untuk menghindari sesuatu yang merepotkan.
..
Sasuke, Naruto dan Shikamaru sedang berjalan menyusuri lorong lantai 2 penginapan. Mereka sedang mencari cari kamar mereka. Kakashi bilang mereka ditempatkan di Kamar nomor 62. Namun alih alih diberi kunci, Mereka malah disuruh langsung pergi ke lantai 2 karena kunci sudah diminta oleh Shino.
Yah, Jadi mereka sekamar dengan Shino Aburame. Naruto bisa sedikit lega karena ia tidak perlu susah susah mencari Shino kalau kalau ada yang perlu dibicarakan perihal foto Buku tahunan.
Shikamaru, Sasuke, dan Naruto berjalan malas di sepanjang lorong. Dari bawah tadi mereka ogah ogahan menaiki tangga menuju lantai 2. Mereka menaiki tangga karena malas mengantri di lift yang penuh. Mereka hanya ingin cepat sesegera mungkin merebahkan badan di kasur.
Penginapan ini terdiri dari 4 Lantai. Dan lantai 2, 3 dan 4 adalah kamar tidur.
"Selamat Sore Sasuke-kun" Ucap Segerombolan gadis yang berpapasan dengan Sasuke dkk,
"Hn."
Sasuke hanya bergumam dan mengangguk.
Sepanjang jalan Mereka mencari Ruangan. Banyak Anak perempuan yang secara sengaja menyapa Sasuke. Tentu Sasuke sedikit risih, Namun ia tidak mau memikirkannya.
Sasuke sempat heran. Sasuke pikir lantai Perempuan dan Laki-laki akan dipisah, Namun sepertinya tidak, karena Nyatanya banyak Laki laki maupun perempuan yang berkeliaran di Lantai 2 ini.
..
Perlu beberapa menit sebelum mereka sampai di depan pintu Kamar Nomor 62. Kamar ini terletak di paling ujung lorong. Dimana di depan Kamar ini adalah kamar Nomor 63.
Naruto dengan perlahan mengetuk pintu kayu tersebut.
TOK TOK!
Shikamaru memutar bola mata saat ia melihat Naruto mengetuk pintu.
"Kau tidak perlu mengetuk kamar kita sendiri Naruto.." ucap Shikamaru. Tentu saja Naruto sedikit tersinggung.
"Kau seperti orang bodoh." ucap Sasuke di belakang Shikamaru.
"Cih.. Barang kali saja Shino sedang ganti baju atau apa!" ucap Naruto sewot.
Hening. Tidak ada jawaban.
Tentu ketiga orang itu saling bertatap heran.
TOK TOK TOK!
Naruto mengetuk pintu semakin keras.
"Sudah kubilang berhenti mengetuk Naruto!" ucap Shikamaru yang merasa terganggu karena tingkah bodoh Naruto.
"..."
"Sebaiknya kalian berhenti mengetuk Karena, Bisa saja 'sesuatu' yang ada di dalam membalas ketukan kalian."
Shikamaru, Sasuke dan Naruto menoleh dan menatap orang yang ada di belakangnya terkejut. Mereka tidak menyadari keberadaan orang ini.
"Shino! Ya ampun kau mengangetkan kami!" ucap Naruto saat melihat Shino membawa beberapa kaleng minuman.
"Sesuatu? Maksudmu Hantu?" tanya Sasuke kepada Shino.
"Bisa jadi." balas Shino.
"T-tunggu .. apa maksudnya Hantu?" Naruto bertanya takut. karena Selain Shino mengagetkannya, Sekarang ia melah bercerita mistis.
"..." Namun Shino hanya diam.
"A-apa maksudmu kamar ini berhantu?" tanya Naruto lagi. Ia bersembunyi di belakang Shikamaru. Tentu Naruto sedikit paranoid terhadap hantu karena memang ngeri rasanya kalau berbicara tentang hantu disini.
"Sebenarnya tidak juga." ucap Shino lagi.
"Hah?"
"Aku tidak bisa menjelaskan Karena aku memang tidak tau." lanjut Shino.
"Jiah!" Naruto yang ingin takut malah tidak jadi. Ternyata Shino hanya menakut nakuti.
"..."
Naruto yang merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan akhirnya berbalik dan membuka pintu Kamar penginapan.
Cklek!
Naruto menginjakkan kaki satu langkah masuk ke dalam. Namun itu sebelum dia kaget karena seluruh ruangan mati.
"Are?" Naruto melangkah mundur lagi. Ia mencoba menggapai saklar lampu yang biasanya ada di samping pintu.
Sasuke yang mengetahui Kamar mereka mati sementara lampu lorong hidup, Menatap Shino heran.
"Apa kau tadi sudah memeriksa kamar ini?" tanya Sasuke kepada Shino.
Shino menatap Sasuke dari balik kacamata hitamnya.
"Ruangan Ini tidak bercahaya, Karena Lampunya mati saat aku membereskan pakaian tadi..." ucap Shino.
Sasuke hanya diam. Menunggu Shino melanjutkan kata katanya.
"...Lalu Aku tanpa pikir panjang keluar dan mencari Kakashi-sensei.Saat aku menceritakan tentang lampu yang mati. dia memberiku lilin Karena dia bilang perbaikan mustahil dilakukan saat menjelang malam seperti ini." lanjut Shino. Ia menunjukkan beberapa buah lilin yang ia keluarkan dari kantong jaketnya.
Sasuke menghela nafas. Ah, Dasar sialan si Kakashi. Maksudnya kami harus tinggal di ruangan gelap gulita? hanya menggunakan lilin sementara anak yang lain tinggal nyaman dengan pencahayaan yang cukup? Ah! Dunia tidak adil macam apa ini!
Saat Sasuke sedang sibuk dengan pikirannya dan Naruto sedang sibuk mencari saklar. Tanpa disangka Shikamaru menguap lebar dan masuk ke dalam ruangan tanpa aba aba.
"O-oi!" Naruto berniat menyela, Namun Shikamaru tidak menggubris dan hanya berjalan masuk. Cih dasar.
Naruto Sasuke dan Shino saling pandang beberapa saat. Naruto mengisyaratkan raut tanya. Namun Sasuke hanya mengangkat bahu.
Mereka terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menyusul Shikamaru.
Sasuke Naruto dan Shino pung mengikuti berjalan masuk. mereka Kurang jelas melihat karena memang hanya ada cahaya dari matahari tenggelam yang menyusup dari jendela.
Saat beberapa langkah berjalan. Naruto tersandung dan terjatuh. DUAKH! Kepalanya membentur ubin yang dingin.
"ADDDDAWW!" Naruto memegangi kepalanya.
Mendengar Suara gubrak dan siluet Naruto yang jatuh Sasuke dengan reflek berhenti. mencegat Shino untuk melangkah lebih jauh.
Naruto memegangi kepalanya. Ia terduduk dan mencoba mengenali apa yang membuatnya terjatuh. Saat ia mengetahui apa yang menghalangi jalannya. Ia menendangnya dengan keras.
"AH SIALAN KAU SHIKAMARU!" Bentak Naruto. Ia menendang Shikamaru yang tengah rebahan santai di lantai yang dingin.
Namun Shikamaru hanya diam. Sepertinya ia terlelap. Orang normal biasanya akan tidur di kasur. Namun Shikamaru malah memilih mendinginkan badan di lantai. Mungkin karena kecapekan, ia bablas tertidur. Ya, kita tidak bisa menyalahkan Shikamaru karena dari tadi pagi Shikamaru terus menguap sepanjang hari.
"Kau tidak apa-apa Naruto?" Tanya Shino kepada Naruto.
Naruto hanya meringis. Ia masih memegangi kepalanya yang nyut nyutan.
"Addaw.. sial! aku tidak bisa melihat apa apa." Gumam Naruto.
Shino pun beranjak menghampiri meja kecil yang ada di samping salah satu ranjang. Ia lalu mengambil satu lilin dan korek untuk dinyalakan.
TING!
Ah, Secercah cahaya lilin masuk memenuhi ruangan.
Naruto akhirnya bisa melihat dengan sedikit jelas.
"HUWAAA!"
Duakh! Naruto dengan terang terangan menendang lutut Sasuke yang sedang berdiri.
"Oi! apa yang kau lakukan!" bentak Sasuke kaget karena tiba tiba ditendang oleh Naruto.
"Oh sialan kau Sasuke! Aku pikir kau vampire! Kau sendiri sih yang tiba tiba berada di depanku!" ucap Naruto santai. BLETAK! Sasuke memukul kepala Naruto.
..
Sasuke melirik setiap inci ruangan ini. Ruangan Ini termasuk sempit karena hanya berukuran tidak lebih dari 4 meter. Di samping Pintu masuk tadi adalah sebuah kamar mandi. Jadi, Ruangan yang seharusnya bebentuk persegi panjang hanya terasa seperti kubus karena satu sisi dimakan tempatnya oleh kamar mandi.
Di dalam ruangan itu ada empat buah ranjang kecil dimana setiap ranjang hanya bisa menampung satu orang. Di setiap sudutnya terdapat sebuah meja untuk meletakkan sesuatu.
Sasuke lalu mendekati jendela dan pintu menuju balkon. Ia membuka pintu itu. Dan, Wuush, Angin laut yang menerpa wajahnya membuat tubuhnya sedikit mengigil. Ia lalu keluar dan berdiri di balkon. Sasuke memandang jauh ke depan. Yang terlintas di matanya adalah sebuah tebing curam menjulang ke laut. Tebing itu cukup jauh dari penginapan, Tapi Sasuke masih bisa melihatnya dengan matanya sendiri. Di sebelah tebing itu adalah deretan pantai putih. Di sekitar tebing itu diberi pagar pembatas.
..
Sedangkan Naruto, Ia berdiri dari posisi terduduknya di lantai dan membangunkan Shikamaru menyuruhnya tidur di kasur. Ia lalu melirik sekitar. Mencoba mengamati tempat mereka istirahat.
Sebenarnya Naruto tidak terlalu suka dengan nuansa remang remang seperti ini. Ia sedikit paranoid. karena memang bahkan di rumah, Ia tidak pernah mematikan lampu waktu tidur.
Nuansa seperti ini bahkan membuatnya mengingat cerita yang diceritakan Yamato dulu sewaktu Naruto kecil, tentang hantu kolong tempat tidur. Dan sekarang? Mereka ada di ruangan yang memiliki empat ranjang! Empat ranjang, Suasana menyeramkan empat kali lipat! Oh my god!
Beberapa detik ruangan itu hening, Hanya suara jam dinding yang memenuhi ruangan itu. Shikamaru yang telah berpindah tidur sekarang berada di atas ranjang. Sasuke yang ada di balkon dan menikmati pemandangan. sedangkan Shino juga bersender di pintu dan ikut memperhatikan pemandangan pantai. Sedangkan Naruto hanya mematung. Ia tidak bergerak sedikitpun.
Kalian tau suasana seperti ini? Saat kalian berdiri di ruangan yang gelap? kalian selalu ingin menengok ke belakang karena kalian merasa sesuatu sedang menatap punggung kalian? Itulah yang dirasakan Naruto saat ini.
Ia hanya berdiri menghadap lilin. tiba tiba..
.
TOK TOK TOK!
"HUWAAAAAAAA!" Naruto melompat ke salah satu ranjang dan menutupi seluruh badannya dengan sprei.
Sasuke dan Shino yang kaget mendengar jeritan Naruto tentu saja menoleh kebelakang. Mereka masuk ke dalam dan Mencari cari sumber suara. Saat Sasuke melihat Naruto yang malah meringkuk menutupi badannya dengan sprei, Ia bertanya heran.
"Kau kenapa Naruto?" tanya Sasuke.
"A-ada Suara hantu!" ucap Naruto tegas Namun masih tidak beranjak dari posisinya.
TOK TOK TOK!
Suara itu terdengar lagi.
Shino dan Sasuke saling berpandangan. Suara Itu datang dari pintu kamar. Mereka mengangguk dan menghampiri pintu depan itu.
TOK TOK TOK!
Sasuke pun membuka pintu kamar 62 perlahan.
CKLEK!
Ia mengintip dari ujung pintu.
"Oh Sasuke!" Ucap Orang yang ada di luar.
Saat mengetahui yang mengetuk pintu mereka adalah manusia, Sasuke segera membuka pintu.
"Kiba? Chouji?" tanya Shino saat mengetahui siapa yang datang.
Kiba hanya mrenges.
"Ahahaha.. Maaf menganggu kalian.. haha.." ucap Kiba setengah tertawa.
Sedangkan Sasuke menatap heran melihat kiba yang membawa seluruh barang bawannya dan sebuah matras. Choji pun yang berada di belakangnya tidak jauh berbeda.
"kenapa kalian membawa barang bawaan kalian kesini?" tanya Sasuke.
Sedangkan Kiba dan Choji hanya tersenyum pahit.
"Sebenarnya keran di kamar kami bocor. Dan air nya menggenang di seluruh lantai..." ucap Kiba.
"..."
"...Saat kami Bilang kepada Kakashi. Dia bilang Perbaikan mustahil saat menjelang malam.." lanjut Chouji.
"..."
Shino sedikit mendengus saat ia mendengar perkataan Kakashi persis seperti apa yang dikatakan kepada dirinya.
"...Jadi kami dibagi menjadi dua kelompok dan disuruh ikut ke kamar orang lain..."
"..."
"..Dia menyuruh kami untuk tidur di kamar nomor 62 untuk sementara.."
Oh, Sasuke mengerti situasinya sekarang.
Krieeet! Sasuke pun tanpa pikir panjang membuka pintunya lebar lebar.
"Baiklah."
Saat Kiba da Chouji berniat masuk. Mereka heran melihat ruangan yang mereka tempati gelap gulita.
"Hah?"
"Gelap sekali sih?" ucap Kiba, Ia belum masuk ke dalam.
"Lampunya mati. Karena Perbaikan mustahil dilakukan saat menjelang malam." ucap Shino segera.
Kiba hanya mengangkat bahu dan segera masuk ke dalam. Diikuti Chouji, Sasuke dan Shino di belakang.
"Tapi aku terkejut ternyata ini kamar kalian." ucap Kiba.
"..."
"Tsk! Sebenarnya aku berharap ini kamar Shion atau Karin." ucap Kiba.
"Ya, Bila itu benar.. Kau pasti akan babak belur Karena Dianggap Hentai." ucap Shino menanggapi lelucon kiba.
"Lalu siapa Teman kamar kalian yang lain?" tanya Chouji dari belakang.
"Hn, Shikamaru dan Dobe." ucap Sasuke menjelaskan.
Sedangkan Kiba, dan Chouji tentu tidak mengerti siapa yang dimaksud Dobe.
Saat sampai di dalam, Kiba dibantu dengan pencahayaan lilin. Bola matanya bisa menangkap Shikamaru yang sedang tertidur. dan Seorang yang tidur meringkuk terbungkus sprei.
Kiba Menoleh ke Sasuke dan menunjuk seorang itu dengan tangannya.
"Hn. Naruto" ucap Sasuke.
Tiba tiba. Kiba mendapat ide jahil.
.
"Oy Naruto.." ucap Kiba. Ia bersuara pelan.
"K-kiba? apa itu kau?" tanya Naruto.
"Kami akan keluar membeli minuman sebentar.. Kau disini sendiri tidak apa kan?" ucap Kiba setengah tertawa.
"H-hah?" Naruto tentu saja terkejut. Namun ia tidak berniat menjembulkan kepalanya keluar dari selimut.
Belum sempat Naruto melihat ruangan. Kiba sudah berada di pintu. Membukanya lalu menutupnya lagi.
Hening.
Hanya itu yang Naruto rasakan.
Dengan tampang jahil. Kiba berjalan mengendap-endap ke lilin dan meniupnya.
Hufft.
"Huwa!"
DEG! Suasana gelap gulita. Setidaknya itu yang dirasakan Naruto. Bagus, Ia sekarang terjebak di ruangan yang gelap sendirian.
"O-oi!" Naruto mengeratkan selimutnya dan semakin meringkuk.
Kiba Lalu memagang tangan Naruto dari luar sprei. Naruto tentu saja kaget. Ia lalu menarik tangannya dari pegangan makhluk asing itu.
"Ekekekekekekekeke.." ucap Kiba menirukan suara seram.
"Huwaaa! Okaa-chan!" ucap Naruto dari dalam selimut.
Semua orang yang melihat itu hanya tertawa dalam hati.
"Xixixixixixixixi!" ucap Kiba semakin girang.
.
.
"HUWAAAAAA!" DUAKH! Naruto tanpa disangka menendang asal suara itu dengan kakinya. DUAKH! BRUK! Headshoot!
"Wadawwwww!"
"Are?" Naruto mengernyitkan dahi. Seingatanya Hantu tidak bisa berkontak fisik?
.
.
~I Will Do What I Want~
.
.
Hari sudah menjelang malam, Sekarang sudah pukul 7 lewat 45 menit. Di kamar 62 kini Mereka Ber-enam sedang bersantai.
Yah, Ruangan yang seharusnya Untuk empat orang Ini, sekarang telah mereka sulap menjadi muat untuk 6 orang. Empat buah ranjang yang sehrusnya berada di tengah sekarang telah mereka letakkan miring di samping kiri dan kanan. sehingga sekarang di tengah tengahnya mereka bisa menjejerkan 6 matras sekaligus. walaupun hampir tidak terlihat celah karena di kanan dan kiri matras yang paling ujung mepet sekali dengan muka ranjang. Namun matras kecil yang memang di rancang untuk muat 1 orang, jadi setidaknya mereka mendapat kasur mereka sendiri sendiri.
Kiba tengah terduduk di pojokan saat mereka sedang bersantai. Ia memegangi pipinya yang ditendang Naruto tadi.
"Arr.. Sial.. Pipiku pasti lebam sekarang." ucap Kiba.
Shikamaru dan Chouji yang sedang makan camilan dan bermain kartu hanya menoleh. Shino lah yang membawa kartu bridge. Oke, Shikamaru bangun. Tumben.
"Cih! Itu salahmu karena kau menakut nakutiku!" ucap Naruto dari sebrang yang sedang tiduran dan melipat tangannya sebagai bantal. Ia memejamkan mata.
"Itu karena Kau Aneh dan Penakut!" ucap Kiba sengit.
"Hah?!" Naruto menoleh ke kiba. ".. Justru kau yang aneh Karena Sudah dilahirkan sebagai manusia. Malah kepingin jadi hantu!" Balas Naruto tak kalah sengit.
"..."
"Lagipula.. Aku bukan sepertimu yang menangis hanya karena memar kecil di pipi.." ucap Naruto lagi.
Kiba merengut. Ia menatap Naruto sebal.
"Cih. Aku tidak meminta pendapat orang yang ketakutan dan meringkuk di bawah selimut karena gelap." ucap kiba lagi.
"Pfft.." Sasuke hanya berekspresi geli mengingat Naruto tadi berteriak memanggil ibunya.
Naruto lalu menatap Sengit Sasuke.
"Kenapa dengan ekspresimu itu Teme? Kau mengejekku HAH?!" tanya Naruto ketus kepada Sasuke.
Sasuke mendengus.
"Kau penakut dan itu Fakta." ucap Sasuke.
"Apa NGGAK!" bantah Naruto. Sasuke menatap Naruto bosan.
"Hn." Gumam Sasuke.
Kiba yang sedari tadi sibuk memegangi pipinya. Sekarang berbalik menatap semua orang yang ada di sana. Ia kemudian tersenyum
.
.
"Hei.. Kalau begitu kenapa kita tidak bercerita?" ucap Kiba mengajak teman temannya.
"Bercerita?" tanya Shikamaru. Pandangannya masih belum lepas dari serentetan kartu yang sedang ia pegang.
Kiba tersenyum senang.
"Ya.. Bagiamana kalau kita berbagi cerita hantu?" ucap Kiba menambahi.
"H-Hantu?" Tanya Naruto takut.
Kiba tersenyum kemenangan Saat melihat ekspresi Naruto ketakutan.
"Kalau kau tidak berani.. Kau boleh bergabung di kamar para cewek dan bercerita perihal fashion." ucap Kiba mengejek.
"A-APA?"
"Err.. Sepertinya Bercerita tentang hantu di ruangan yang gelap bukan ide yang bagus. Kiba." Balas Chouji yang sekarang kalah kesekian kalinya dari Shikamaru. Ia meletakkan Kartu kartunya pelan.
"Ayolah Chouji! Tidak ada yang bisa kita lakukan di saat seperti ini. Bukankah saling menghibur malah lebih baik?" ucap Kiba meyakinkan Chouji.
Sasuke tersenyum. Ia paham apa maksud Kiba.
Beberapa orang itu salming berpandangan. Dan akhirnya mereka setuju.
"Baiklah."
.
Beberapa menit berlalu
Sekarang mereka tengah duduk melingkar mengitari lilin yang berada di atas matras. Mereka saling pandang dan bersiap memulai cerita mereka.
Rata rata dari mereka hanya duduk melingkar biasa. Kecuali Naruto yang duduk sembali berselimut sprei menutupi kepalanya. Dan Chouji yang menuang semua kripik kentangnya ke depan tempatnya duduk.
"B-Baiklah.. Karena masing masing dari kita harus memberikan 1 cerita.. jadi, siapa yang duluan..?" tanya Kiba.
Keenam pemuda itu saling pandang.
Tidak ada yang berani berucap ataupun mengangkat tangan.
"..."
"..."
"..."
.
"Err.. Kalau begitu aku duluan.." Ucap Naruto.
Sontak semua orang yang ada di sana segera menatap Naruto heran. Bukankah Naruto yang paling takut tadi?
"Hoho.. Kalau begitu apa ceritamu Naruto?" tanya Kiba antusias. Ah, Palingan Cerita Naruto tidak menyeramkan.
Semua orang disana bersiap mendengarkan.
"..."
Cerita Seram - Versi Naruto
Naruto menatap bergantian teman temannya, Lalu kemudian ia menceritakan kisahnya.
"Ini adalah cerita dimana Ada seorang anak yang sedang berada di depan cermin.." ucap Naruto.
"..."
"Aku tidak bisa menyebutkan Namanya. "
"..."
"Di hari yang panas, Saat tidak ada orang yang dirumah waktu itu, Dia berniat mandi. Ia ia termasuk anak yang sangat menjaga kebersihan. "
"..."
Saat dirasa ini adalah watu yang pas untuk mandi, Dia pun menujuk kamar mandi yang ada di lantai dua. Dia menghadap cermin dan melihat wajahnya sendiri. Dia terdiam beberapa saat, saat dirasa ada yang aneh."
"..."
"Dia membuka bajunya karena ia memang ingin mandi.."
"..."
"Apa kalian tau? Beberapa anak yang sudah puber biasanya memiliki bulu halus di dada kan?" tanya Naruto.
Mereka mengangguk.
"Anak itu pun bernisiatif mencukur bulu dadanya.."
"..."
"Dan saat dia mencukur bulu di sekitar putingnya.."
"..."
.
.
"Putingnya ikut terpotong."
.
"Tamat."
Sontak seluruh pemuda yang ada di sana lagsung memegangi dadanya. Seakan takut merasakan rasa sakit yang dialami anak di cerita Naruto.
Naruto tersenyum.
"Gimana? Seram kan?" tanya Naruto.
"..."
"..."
"OI! Itu bukan cerita menyeramkan! Itu cerita menyakitkan!" bentak Kiba sewot.
Naruto menatap kiba jengkel.
"Oh ya? Kau punya cerita lebih baik?!" ucap Naruto sewot kepada kiba.
Kiba hanya mendecih.
"Aku akan menyimpan cerita ku untuk bagian akhir!" ucap kiba.
Kiba lalu menatap temannya yang lain. Ia melirik ke Shikamaru yang terkantuk kantuk di sampingnya.
"Oi Shikamaru. Bagaimana kalau kau menceritakan kisahmu!" ucap Kiba menepuk Shikamaru.
"Ngh? hah?" Shikamaru celingak celinguk. Ia lalu menatap kiba.
"Ceritakan kepada kami sedikit kisah seram." pinta kiba kepada Shikamaru.
Shikamaru lalu melirik ke teman temannya yang lain yang menatapnya dengan penuh harap.
"Cih. Merepotkan."
Namun Shikamaru Akhirnya menceritakan sebuah kisah.
.
.
Cerita Seram - Versi Shika.
"Hoamm.. Ini adalah cerita tentang 2 orang pemuda yang tinggal di rumah tua.." ucap Shikamaru memulai ceritanya.
"..." Sementara yang lain ikut mendengarkan.
"Mereka baru saja pindah. Tentu mereka tidak tau apa apa tentang rumah tua itu karena mereka memang baru saja pindah."
"..."
"..."
"Di hari kedua, Mereka berinisiatif menjelajahi rumah tua itu. Mereka tanpa sengaja menemukan pintu menuju ruang bawah tanah."
"..."
"Karena keingintahuan yang luas. Mereka pun mencoba turun ke ruangan lembap itu. Di sana terdapat berbagai macam barang antik. Itu membuat kesan misterius di rumah tua itu semakin kuat. "
"..."
"Saat mereka asik melihat lihat. Tiba tiba Anak A lari ketakutan. Mereka pun segera naik dan menyegel tempat itu.." ucap Shikamaru. Ia berhenti sejenak mengambil nafas.
.
Glek! Semua orang yang ada di sana menatap Shikamaru serius.
.
"Mereka pun Bercerita di atas. Anak B bertanya kepada Anak A. Kenapa kau lari? .. Anak A bilang Dia melihat DARAH!" Ucap Shikamaru Menekankan kata darah.
.
Naruto mengernyitkan dahi. Tunggu dulu. Dia tau cerita ini.
.
"Lalu karena penasaran Mereka berdua kembali turun. Dan saat di cek kembali. Ternyata darah itu hanyalah saus." ucap Shikamaru mengakhiri ceritanya.
"Tamat."
.
.
"..."
"..."
Melongo.
"Are? H-hanya itu?" tanya Kiba.
"Hmm."
"Shikamaru mengangguk.
"AH CERITA MACAM APA INI?!" bentak Kiba sewot.
Sedangkan Sasuke hanya tersenyum.
"Oi! Shika! Kenapa kau menceritakan kisah itu kepada Mereka?" tanya Naruto tersinggung.
"Aku hanya berpikir itu cerita yang bagus." ucap Shikamaru. Membuat Naruto bersemu merah karena malu.
"Ah! Tapi Kau tidak Harus Menceritakan kisah ini kan?!" balas Naruto galak.
Sedangkan Chouji dan Kiba hanya diam karena tidak mengerti apa yang dimaksudkan.
.
.
"Baiklah, Sekarang giliranku Karena Aku punya cerita." ucap Shino tiba tiba. tentu semua kaget karena daritadi Shino hanya diam.
.
Cerita seram - Versi Shino.
Beberapa detik mereka menunggu, Namun Shino malah diam. Hanya diam. Mereka tidak bisa membaca ekspresi Shino karena terhalang kacamata hitam yang selalu ia pakai. Kalian tau? Mati lampu = Gelap .. Mati lampu + Memakai kacamata hitam = Gelap gulita.
Detik Berikutnya Shino tidak bercerita namun ia malah menoleh ke Sasuke.
"Ne, Sasuke.. Aku bertanya padamu, Karena. Tadi kau saat di balkon, kau melihat tebing yang ada di luar kan?" tanya Shino kepada Sasuke.
"Ya." Sahut Sasuke dengan pertanyaan Shino.
.
"Cerita yang akan aku ceritakan kepada kalian adalah tentang kisah cinta." lanjut Shino.
"Hah?"
"Wha?"
"Aku mendengar ini dari kakak kelas kita yang dulu juga berlibur ke Okinawa." lanjut Shino lagi.
.
"Dulu, Ada sepasang kekasih yang berlibur ke pulau ini."
"Mereka saling mencintai. Tapi karena cinta mereka tidak direstui. Mereka Akhirnya memutuskan untuk bunuh diri dengan melompat dari tebing yang curam."
"..."
"Namun, Saat mereka mengambil ancang ancang untuk terjun. Sang laki laki mengkhianati sang Perempuan."
"..."
"Dia berhenti dan membiarkan Sang perepuan terjun sendiri."
"..."
"Perempuan itu mati seketika."
GLEK! Naruto menggigit selimutnya. Jujur, Cerita Shino membuatnya merinding.
"Tamat?" tanya Kiba saat mendengar Perempuan itu mati.
Namun Shino menggeleng. Ia malah mendekatkan wajahnya lebih dekat ke teman temannya.
"Apa kalian tau? Seharushnya kalian tau. Karena, Tebing yang berada di belakang penginapan ini lah tebing yang aku maksud." lanjut Shino.
"Hiiiiyy!" Naruto menutupi wajahnya.
.
"T-Tamat?" tanya Kiba lagi.
Namun Shino belum puas. Ia masih menceritakan kisahnya.
"Setelah kejadian itu. Ternyata si laki laki pacar perempuan itu memiliki kekasih lain." lanjut Shino.
"Merayakan kematian penganggu di hubungan mereka. Mereka berpesta di sebuah kamar Hotel."
"..."
"Dan mereka bercinta."
"..."
"Namun Saat Mereka asik minum minum. Lampu di kamar mereka mati."
"..."
"Esok harinya, Sepasang selingkuhan itu ditemukan mati dengan kondisi kepala terputus dari badannya." lanjut Shino.
..
GLEK!
orang orang yang mendengarkan semakin merinding.
"Tamat?" tanya Kiba lagi.
"Belum." ucap Shino.
..
"Dan semenjak kejadian itu, Hotel yang mereka gunakan untuk berpesta akhirnya dirobohkan dan dibangun komplek penginapan." lanjut Shino.
..
"Kakak kelas bilang, Antara tebing dan Hotel, Posisinya saling membelakangi. Mengingat tidak ada komplek penginapan lain selain yang kita tempati di daerah ini. Jadi,, Kemungkinan Kita sekarang mendiami penginapan yang dimaksud." lanjut Shino.
..
"S-serius?" tanya Chouji. Dia dari tadi hanya mengunyah dan terus mengunyah keripik kentangnya.
"Ya." jawab Shino.
"Dan aku ingat sekali kalau kakak kelas bilang. Tragedi pembunuhan itu terjadi di kamar nomor 62." lanjut Shino.
"Hiii!" Naruto sekarang menutup seluruh badannya dengan sprei. Ini Juga kamar 62! oh my god!
..
"Aku juga mendapat pesan dari kakak kelas. Kalau kita tidur di kamar nomor 62 atau 26, Kita sebaiknya jangan Mematikan lampu. Dan.. Bila ada yang mengetuk pintu, Kita harus pura-pura tidur."
"O-oi! Lampu disini kan mati sendiri!" lanjut Naruto.
Mereka semua mengangguk.
"Masih ada Lilin Naruto." ucap Shino.
.
.
.
Tiba tiba. Wuusssh.
Lilin yang ada di depan mereka mati.
"HUWAAAA!"
"UWOOH!"
"AWW!"
Mereka berenam langsung tiarap dan mencari kasur masing masing. Terutama Naruto. Ia langsung memejamkan mata dan bersebunyi dibalik sprei nya. Dasar bodoh.
TIK TAK TIK TAK.
Bunyi jam dinding terasa sangat menganggu di telinga mereka berenam malah membuat mereka tidak bisa tidur.
Mereka hanya terdiam dan tidak berani bergerak.
TOK TOK TOK!
Ada yang mengetuk pintu.
Mereka berenam semakin meringkuk.
"O-i Shino. Aku pikir ceritamu hanya fiksi." bisik Kiba di samping Shino.
"Aku tidak bilang begitu."
TOK TOK TOK
"Hiiyy!"
.
~I Will Do What I Want~
.
Sakura berjalan menyusuri lorong dengan malas. Di sampingnya, Karin hanya mengekor seperti anak membuntuti induk.
Ya, Mereka disuruh menyusul Anak laki laki yang sepanjang makan malam di lantai bawah tadi tidak kelihatan. Lebih tepatnya mereka berdua disuruh Kakashi.
Mereka disuruh menengok ke kamar nomor 62 untuk menghampiri Naruto dkk. Sakura tidak mungkin kan membiarkan teman-temannya kelaparan saat yang lain sudah makan kan?
Anehnya. Kakashi memberi Sakura senter.
..
Saat mereka sampai ke depan pintu kamar nomor 62. Mereka langsung mengetuk pintu.
TOK TOK TOK.
"HUWAAAA!"
"UWOOH!"
"AWW!"
Sakura sediki menyipitkan mata saat ia mendengar suara gaduh dari dalam. Ia menoleh ke Karin. Namun Karin hanya mengangkat bahu.
Sakura pun mengetuk pintu lagi.
TOK TOK TOK.
Namun tidak ada jawaban. Menyadari yang tidak beres. Sakura pun berniat membuka pintu. Dan kebetulan pintunya tidak dikunci.
Cklek.
Sakura sempat terkaget karena lampu di kamar mereka mati.
Dia pin menyalakan senter yang diberi kakashi. dan menyorot ruangan gelap itu.
Ia maju perlahan diikuti Karin.
Saat berada di dalam. Sakura terkaget saat ia menyroti tempat tidur yang di set sedemikian rupa.
Tanpa sadar dia berteriak.
"KYAAAA! YAOIIIII!" Sepertinya Sakura salah sangka.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
TBC
XXXXXXXXXXXXXXX
Author's Note : Yoyo, Hanzama Is back.
Note : Cerita yang diceritakan Naruto terinspirasi dari cerita dalam sebuah anime.
Wah. untuk kedepannya, Saya mungkin tidak bisa janji update cepet. Karena besok saya sudah mulai sibuk dengan seluk beluk perkuliahan. Jadi saya tidak janji update cepet. Tapi akan saya cicil sedikit2 ..
Okesip, Makasih perhatiannya.. Slam hangat dari hanzama.. semoga sukses selalu~ Ciao~
REVIEW
v
v
v
v
