chapter 23 : That's Why I Hate You Sensei!
.
.
Ah, Malam hari di Okinawa. Sebuah malam tenang diterangi sinar rembulan. Dan, deburan ombak yang menghantam tebing terdengar unik di gendang telinga. Apalagi suara angin laut yang-Tunggu dulu, Kenapa kita harus mempedulikan pantai yang tidak ada cewek bule dan bikini di malam hari-ehem.
oke, kembali ke cerita..
Penginapan - 21.00
Mitarashi-sensei kini tengah berjalan pelan menyusuri lantai tiga. Dimana sepertinya lorong yang ia tapaki memang sudah tidak ada orang lagi.
"Ahh~ merepotkan sekali!~" umpatnya.
Yah, Perjalanan ini memang hanya mengikutsertakan beberapa guru, dimana guru prempuan yang ikut serta hanyalah Kurenai-sensei, Wakil kepala sekolah : Shizune-sensei dan Anko sendiri. Bahkan Tsunade sang kepala sekolah tidak bisa ikut karena ada rapat Koordinasi.
Yang membuat Anko bingung adalah. Kenapa dirinya harus ikut mengawasi lorong, memastikan tidak ada yang berkeliaran. Padahal sepertinya para guru laki-laki sudah lebih dari cukup untuk mengawasi seluruh sudut penginapan. Sebenarnya Anko yakin sekali, Anak didiknya yang imut imut itu tidak akan ada yang membuat kekacauan dengan berkeliaran selepas jam tidur. Ya, Optimistis yang terlalu tinggi.
Anko berjalan malas maju ke depan. Senter yang ia pegang ia sorotkan ke setiap sudut lorong. Sebenarnya ia sedikit takut berjalan sendirian malam malam begini. Lorong yang ia lewati memang terkesan menakutkan. Selain lampu lorong nya yang sengaja dimatikan, Karena setiap melewati beberapa pintu sekali, Kau akan menemukan lukisan kuno yang beragam tampilannya. Sepertinya pemilik penginapan ini gemar sekali mengoleksi lukisan antik. mengingat tadi saat Anko berbincang kepada pak tua yang mengurus penginapan ini, Ia dengan bangga menjelaskan beberapa lukisan yang dipajang di aula bawah.
.
Tak lama Anko melewati pintu kamar nomor 79, gendang telinganya menangkap suara gaduh yang datang dari dalam.
"WHOAAA!"
"Awass! Dia datang kearahmu!"
"Gaara! Tikam dia!"
Anko menajamkan pendengarannya. Ia mendekatkan telinganya ke pintu.
"Gaara?" gumam Anko. Anko tau, Sabaku Gaara adalah anak kelas 2-2. 'Apa yang orang-orang bodoh itu lakukan di dalam?' batin Anko mendengar keributan yang dirasa aneh.
"Awass.. Gaara dibelakangmu!" teriak orang lagi yang ada di dalam.
"Akh!"
"Akhh tidakkk Jangaaann!"
GEDUBRAK! TRANG DUAKH!
Anko terkaget karena suara gaduh diikuti benda pecah yang tiba tiba terdengar.
"Oi?! Apa yang terjadi?!" Tanya Anko. Ia meggedor pintu Kamar 79.
Cklek. Tiba tiba pintu dibuka. Anko tentu saja kaget dan mundur kebelakang.
Tiba tiba Gaara keluar. dan menutup pintu kamarnya dengan segera. Ia lalu bersandar ke pintu
"A-apa yang kau lakukan?!" tanya Anko kaget karena melihat Gaara terengah engah dan bercucuran keringat.
"Hah..hah..hah.. H-hai sensei.." ucap Gaara masih mencoba mengatur nafas.
"Huwaaa! Toolong.."
Anko mengernyitkan dahi saat ia mendengar suara meminta tolong dari dalam.
"Siapa yang ada di dalam?" tanya Anko mencoba menggeser tubuh Gaara yang menghalangi pintu.
"Hah.. Aku yakin kau tidak mau melihat apa yang ada di dalam." ucap Gaara lagi. Ia masih terengah engah.
"Hah? Apa maksudmu?"
"Tolongg! Gaaraa!" ucap Suara itu lagi dari dalam.
Anko semakin heran.
"Oi minggir!" ia mendorong keras tubuh Gaara. Namun Gaara masih tegap berdiri dan menghalangi Anko untuk bertindak lebih jauh.
"Sebaiknya kita tidak membuka pintu ini Sensei. Ini demi kenyamanan kita bersama." ucap Gaara.
"Apa maksudnya sih?" tanya Anko ketus. Oke, Anak ini menyembunyikan sesuatu. Dan itu membuat Anko semakin penasaran,
Ia menarik keras Gaara untuk menjauh dari pintu. Gaara pun akhinya mengalah juga.
Gaara menghela nafas.
"Hn.. terserah saja lah.. Tapi jangan bilang kalau aku tidak mengingatkanmu.." ucap Gaara. Ia mundur beberapa langkah di belakang Anko. Memberi jarak cukup jauh dari tempat anko berdiri.
Anko sedikit kaget karena Gaara membuat jarak yang cukup jauh dari pintu di depannya.
"Sebenarnya ada apa sih?!" tanya Anko.
"..."
Namun Gaara hanya mengangkat bahu.
"Cih. baiklah sabaku.. Kalau kau tidak mau memberitahu, ya sudah.. akan aku cari tau sendiri.." ucap Anko lagi.
"..."
"Tapi awas saja.. kalau ada sesuatu yang tidak beres menurutku.. kau yang akan ku beri hukuman!"
Gaara hanya diam. Dia menatap Anko yang sudah berbalik dan memegang knop pintu.
Oke, Gaara memang sedikit takut. Bukannya takut kepada Anko. Tapi takut akan masalah yang datang saat Anko membuka pintu itu. Ah andai dia tau apa yang ada di dalam.
Gaara yang melihat Anko sudah memutar setengah putaran Knop. Akhirnya mengalah juga.
"Err.. sensei!" ucap Gaara mencoba mengalah. Membuat Anko menghentikan kegiatannya.
Ia menoleh.
.
Gaara pun menceritakan semuanya.
"Sebenarnya Tadi saat aku dan Shira membuka lemari-" ucap Gaara menggantungkan kalimatnya.
"Huh?"
.
.
"-Makhluk Itu muncul.." ucap Gaara.
"Makhluk?" tanya Anko heran.
Gaara hanya mengangguk. Dan mengiyakan "Ya."
Gaara menatap Gurunya ini dengan tatapan serius.
"Yang membuat aku tidak mengerti adalah. Makhluk itu bisa terbang." ucap Gaara lagi.
"..."
"Huh? Maksudmu burung?" tanya Anko tidak mengerti.
Namun Gaara menggeleng.
Oke, Anko merasa aneh dengan tingkah laku bocah sabaku ini. Makhluk yang bisa terbang? Tunggu dulu,, Jangan bilang-
"M-Maksudmu H-Hantu?" tanya Anko. Oke, dia sedikit paranoid. Apa bocah ini mencoba menakut nakuti guru? yang benar saja!
"..."
Gaara hanya diam sekarang. Bahkan mengangguk atau menggeleng pun tidak.
Respon Gaara yang tidak jelas membuat Anko semakin penasaran. Tapi juga bercampur takut. Jujur, Seumur umur dalam hidupnya. Dia tidak pernah melihat hantu. Bahkan menonton film Horror saja dia tidak berani.
Namun situasi sekarang. Di dalam ada seorang yang butuh bantuan. Dan ini sudah kewajiban guru untuk melihat apa yang terjadi. Dan membantu apa yang guru bisa Lakukan.
"J-jangan b-bodoh Sabaku! Hantu itu tidak ada!" ucap Anko mencoba membantah.
"A-"
Ah! dia tidak peduli lagi! Sebagai guru yang bertanggung jawab, Dia harus tau apa yang terjadi!
Anko menepis rasa takutnya. Dan dengan satu sentakan, ia membuka pintu itu.
CKLEK! KRIEEET!
Anko menoleh ke dalam. Bersamaan dengan Suara pintu yang terbuka, Gaara sudah melesat pergi dari tempat itu. Menjauh ke jarak yang aman.
Membuat Anko semakin teritimidasi dengan keadaan. 'Awas saja kau Sabaku.'
.
.
GLEK! Anko menelan ludahnya nya sendiri karena merasa tenggorokannya tiba tiba terasa kering. Ia melangkah masuk ke dalam kamar nomor 79.
"H-halo?"
Wushh! Tiba tiba dari belakangnya, Anko merasakan angin yang berhembus dari belakang pundaknya. Seakan ada seseorang yang lewat.
.
"Sensei! Larii!"
"Hah?" Anko menoleh ke sumber suara. Dimana Shira sudah berdiri di luar kamar hanya memakai kolor dan kaus oblong.
"A-Aapa yang Ka-?"
"SENSEII LARI! ATAU DIA AKAN DATANG!" Ucap Shira suaranya sedikit meninggi. Menyuruh sensei tercintanya pergi dari situ.
Apa? Shira ingin bilang kalau Anko berdiri disini dia akan diterkam hantu? Yang benar saja!
"A-apa? Tidak ada yang namanya hantu bodoh!" ucap Anko tegas.
.
Anko hanya menatap bosan Shira dari dalam kamar.
Tapi-
Tunggu dulu.. entah kenapa Tiba tiba kaki Anko merasa gatal. Ini aneh ,, seingatnya tadi dia masih memakai stocking.
Ia menoleh ke bawah..
.
Mencoba melihat kakinya sendiri..
.
Dan percaya atau tidak..
.
Dia melihat Sosok itu..
.
.
.
Rupa menakutkan yang banyak sekali. Seakan mengintimidasi Anko yang sedang berdiri. Kira kira ada lusinan pasang mata yang kini berada di bawah Anko. Mereka semua menatap Anko dengan tatapan keji..
Bahkan ada beberapa yang sudah bersentuhan dengan kaki jenjang Anko..
.
Tanpa sadar guru muda itu berteriak.
.
.
.
"KYAAA! KECOAAA!"
Dan dia pun lari secepat kilat meninggalkan tempat itu.
Pfft.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
I Will Do What I Want © Hanzama
Rating : T(+)
Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe
Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Etc.
Pairing : Comin Soon
.
Jam memang sudah menunjukkan waktu yang larut di okinawa.. ya. Sekarang memang sudah memasuki jam tidur
Setidaknya itu yang dipikirkan kebanyakan murid yang kini tengah mengurung diri di kamar penginapan mereka masing masing.. kenapa digunakan frase 'kebanyakan'? Karena memang kenyatannya masih ada saja yang ribut di ruangan mereka sendiri atau bahkan malah keluyuran.. tentu kita tidak bisa menyebutkan siapa siapa oknum yang malah keluyuran di jam segini, mengingat itu adalah tugas para guru dan pembimbing untuk mentertibkan murid-muridnya.. ya, para para murid yang keluyuran itu adalah beberapa pemuda yang berinisial.. Inuzuka Kiba, Akimichi Chouji dan Nara Shikamar-uhuk uhuk ehem..
..
Err, maksudku. Mereka terlihat semangat sekali untuk menikmati malam di luar kamar mereka.. karena mereka sepertinya lebih memilih mengendap-endap di lorong daripada kembali ke ruangan mereka yang 'terang benerang'-err .
..
"Oi K-kiba.. bukankah ini ide buruk kalau kita berkeliaran di sini..?" Tanya Chouji tatkala mereka berada di depan lift di lantai 2.
"Sst pelankan suaramu chouji.. kau mau kita tertangkap guru..?".. ucap Kiba menurunkan suaranya 1 oktaf.
"Justu kalau kita disini. Kita akan tertangkap Kiba!" ujar Chouji.
Kiba menghela nafas.
"Huh. Kau benar.. kita memang harus mencari tempat yang aman.." balas Kiba lagi..
"B-Bukan itu maksdku.. bukankah kita sebaiknya kembali ke kamar.." ucap Chouji lagi
Kiba menatap Chouji.
"Hah..? Memangnya kau pikir kita akan baik baik saja dengan hanya diam di depan pintu.?" Tanya Kiba ketus.
"..." Chouji hanya diam.
"Kalau para guru melihat kita berkeliaran di jam malam. Memang mereka akan hanya diam dan bilang selamat malam sembari menampilkan senyum ramah..?"
"..."
"Kau ta kan siapa yang kita hadapi..?" Tanya Kiba lagi..
Chouji hanya mengangguk ragu. Kalau kalian ingin tau. Guru guru di konoha Gakuen sebenarnya memang sedikit 'Aneh'. Ya, kalian tidak akan bisa menemukannya dimanapun. Seorang guru perempuan ahli hipnotis. Seorang guru berambut putih bercadar yang selalu membawa bawa buku porno. Seorang guru pecinta ular yang sangat takut kepada serangga. ada juga guru olahraga gila yang mode pembelajarannya seperti pelatihan tentara hitler.
.
Shikamaru sedari tadi hanya diam dan mendengarkan kiba dan chouji yang bergumel di depannya. Ia sendiri heran kenapa dia bisa bisanya berakhir dengan membuntuti dua orang ini.. Ah. Kalau dipikir pikir dia juga belum makan dari tadi pagi..
Tau seperti ini.. tadi dia mending ikut Sasuke untuk keluar cari makan..
.
Cting.
Tak lama mereka berdiri. Suara lift yang pintunya terbuka membuat mereka sedikit was was
Mereka yang kaget tentu hanya menoleh dan menatap pintu lift yang semakin lama semakin lebar.
.
"Hah.?"
Nampaklah seorang gadis yang berdiri di dalam box berjalan itu.
"Kyaaaa!" Teriak gadis itu karena melihat 3 sosok samar samar yang berdiiri di depan lift. Penerangan dari lift yang menerangi secuil ujung lorong yang gelap membuat bayangan tiga pemuda ini terlihat seperti orang yang ingin melakukan hal tidak senonoh.
.
"S-Shion-chan..?" Tanya Kiba sedikit kaget
".."
Shikamaru hanya mendengarkan Kiba yang memanggil nama gadis yang ada di depannya kini.. siapa dia..? Shikamaru memang tidak mengenalinya sama sekali.
"A-Apa yang kalian lakukan malam malam begini?" tanya Shion kepada tiga pemuda tersebut.
Shikamaru menatap bosan. Dia berpikir kalau dia juga punya hak menanyakan hal yang sama.
"Eh? Err.. Kami sedang jalan jalan-hahaha.." ucap Kiba mencoba membalas. Jujur, Kiba sedikit ngefans dengan gadis di depannya ini. Beh, Penyanyi + Artis . wajahnya cantik pula. Benar benar Perfecto.
"Oh." Shion bergumam.
"Kau sendiri? Apa yang kau lakukan malam malam begini?" tanya Shikamaru. Mengabaikan tatapan malu malu kucing-err. yang diberikan Kiba kepada gadis yang ada di depannya.
Namun Shion yang ditanya malah menatap Shikamaru intens.
"Eh? Sepertinya Aku tidak pernah melihatmu semenjak kelas 1. Kau salah satu anak baru itu ya?" Shion malah balik bertanya. Dia tersenyum manis kepada Shikamaru.
Shikamaru menatap Shion dengan tatapan mengisyaratkan 'Merepotkan.'
"Kalau yang kau maksudkan Anak pindahan, Ya. Aku anak pindahan. Kalau yang kau maksud Anak baru, Tidak juga. Aku sudah tinggal dibumi semenjak 16 tahun yang lalu." ucap Shikamaru malas.
"Hah?"
Shikamaru hanya diam di menit berikutnya. Chouji, Kiba dan Shion hanya menatap Shikamaru dari ujung matanya.
"Eh.. err.. Kalau begitu, Siapa namamu?" tanya Shion.
"Hn. Shikamaru." ucap Shikamaru malas.
Shion tersenyum. Ia membungkuk kepada Shikamaru.
"Hai' Salam kenal Shikamaru-san." ucap Shion ceria.
"Hn."
Melihat Shion yang membungkuk. Shikamaru tidak berniat balas membungkuk. Ia malah melanjutkan kata katanya.
"Jaa. Kau mau naik, turun atau keluar disini? Karena kami juga ingin menggnakan lift nya." ucap Shikamaru seenak jidat. Walaupun bahasa yang halus, tapi tetap saja ada maksud tersirat untuk mengusir.
"Eh? Err.." Shion pun lalu melangkah maju keluar dari lift.
Lalu Shikamaru pun melangkah masuk menyeret kiba dan Chouji. Shikamaru lalu memencet tombol 1.
Saat pintu lift tertutup sempurna Shikamaru hanya menyilangkan tangan di belakang kepala dan bersiul.
Yah, Penginapan ini memang terasa aneh. Halaman luar terasa sekali kesan tradisional jepang. Namun Saat melihat interoir di dalam, Terkesan seperti bangunan ala barat yang kental dengan lukisan yang bermacam macam. Dan lift ini juga aneh mengingat, Ada secuil perpaduan modern di bangunan seperti ini.
"Err.. Kenapa kita ke lantai 1 Shikamaru?" tanya Chouji. Mereka masih ada di dalam lift.
"Kita ingin sembunyi kan?.. Aku tau kalau di lantai 1 ada Onsen. daripada bersembunyi di tempat yang merepotkan, bukankah berendam air panas malah lebih nyaman?" tanya Shikamaru. Menjelaskan kepada Kiba dan Chouji.
Ah! Satsuga Shikamaru.
Kiba dan Chouji saling pandang. Mereka mengangkat bahu. Namun akhirnya tersenyum juga tanda setuju.
Cting.
Tidak ada 1 menit mereka berdiri. Lift itu sudah mengantarkan mereka ke lantai dasar.
Saat pintu terbuka sempurna. Mereka hampir terlonjak kaget melihat ibiki berdiri di depan pintu lift.
"S-sensei?" tanya Kiba tidak percaya.
Ibiki membawa kantung plastik yang sepertinya berisi makanan.
"Hoo? Apa yang kalian lakukan disini malam malam?" tanya Ibiki. Dengan pandangan dan Nada yang biasa.
"Eh err.. anoo." Kiba hanya tergagap tidak bisa berkata kata.
Cih sial! Mencoba menghindari bencana malah berpapasan dengan err,. Shit!
Shikamaru hanya menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Sedangkan chouji mundur mentok ke dinding lift.
Melihat tidak ada yang menjawab, Ibiki segera berucap.
"Hm. Ikut aku sekarang." ucap Ibiki,
"Akh!"
"Sial."
Gumam mereka bertiga saat Ibiki Tanpa aba aba dulu sudah berada di dalam lift dan memencet tombol menuju lantai 4.
Lift ditutup sempurna.
Mereka berempat hanya diam mematung di belakang pundak ibiki yang berdiri tepat di depannya. Entah kenapa ini seperti diantar ke tempat eksekusi. Kiba menyalahkan Shikamaru untuk hal ini..
Namun Shikamaru dengan santainya hanya mengangkat bahu menanggapi death glare kiba.
Saat mereka sudah sampai di atas.
Mereka hanya diam dan tidak berani melangkah maju mengikuti ibiki yang sudah berada di luar lift. Ibiki yang heran pun menoleh.
"Oi. Apa yang kalian lakukan? Ayo!" ucap Ibiki sedikit keras. Dia mengisyaratkan untuk Mereka bertiga agar segera melangkah maju.
Dengan terpaksa mereka pun maju dengan langkah pelan.
Mereka terus mengikuti ibiki menyusuri lorong lantai 4. Hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah pintu.
Cklek. Pintu itu dibuka oleh ibiki.
Glek. Mereka bertiga menelan ludah.
Mereka bisa sayup sayup mendengar suara dari dalam. Mereka menajamkan pendengaran sebelum mereka benar benar bisa melihat siapa yang berteriak teriak.
.
Anko-sensei, Di depan nya ada dua orang-oh,, itu err.. Gaara dan a..Siapa itu?
BRAK! Anko menggebrak meja.
"Kalian mencoba menakuti guru dengan Kecoa eh?" Ucap Anko tegas.
"A-apa?! Kami ini juga korban sensei! Anda pikir kami mau menemui para kolonial serangga sialan itu?"
"Tutup Mulutmu Shira!"
Shira hanya melongo saat perkataannya diinterupsi oleh Anko.
"Intinya! Kamar kalian, Kesalahan kalian!" Ucap Anko seenak jidat. Oke, Anko memang sangat ngeri kepada Kecoa, Dan mengingat tadi dia 'diserang' oleh gerombolan serangga itu di kamar yang ditempati Gaara dan Shira. Ia jadi ingin sekali menyalahkan mereka berdua.
"Mana bisa begitu?! Sudah kubilang saat kami membuka lemari, 'mereka' muncul begitu saja!" balas shira lagi tak mau kalah.
Pertengkaran mereka harus dijeda karena Ibiki masuk dan membawa 3 muridnya.
Gaara yang melihat seorang yang ia kenali masuk. Ia menatapnya dengan pandangan tanya.
Namun Shikamaru hanya menanggapi dengan menggeleng.
.
Mengabaikan Gaara dan Shira yang sedang bedebat alot dengan Perempuan egois yang seperti anak remaja yang sedang puber. Shikamaru, Chouji dan Kiba hanya melangkah maju di belakang ibiki.
Mereka bertiga menatap bingung dengan ruangan ini. Ini bukan kamar tidur. Melainkan lebih seperti ruang santai. dmana terdapat dapur, kamar mandi dan tungku perapian di ujung ruangan. Berbeda dengan kamar mereka yang hanya berbentuk tak lebih dari persegi panjang. Ruangan ini lebih seperti ruangan pribadi dimana di dalamnya terdapat beberapa bilik dan ruangan lain.
Saat melihat Ibiki yang ada di depannya berhenti. Mereka berempat ikut berhenti.
Shikamaru menatap gerak gerik guru yang ada di depannya kini. Dia dengan satu gerakan berhasil membuka jendela. Ibiki lalu menengok ke luar dan menghirup nafas dalam. Ah, Udara malam yang sejuk. Ia lalu meletakkan kantung plastik yang sedari tadi ia bawa di jendela. bila kalian menengok ke bawah. Maka kalian akan langsung berhadapan dengan kolam ikan koi yang berada persis di bawah jendela lantai 4 itu.
Ia lalu menoleh kepada ketiga pemuda itu.
"Kalian tau? Aku habis mengunjungi festifal sedekah bumi di pulau ini. Dan aku membeli takoyaki karena orang sekitar bilang takoyaki Okinawa rasanya lezat..." ucap Ibiki.
Mereka bertiga diam menunggu ibiki menyelessaikan kata katanya. Ya, tidak mungkin kan mereka dibawa jauh jauh kesini hanya untuk mendengar ibiki berbicara tentang takoyaki.
".. Dan mengingat kalian belum makan maka. Aku tadi meminta Azuma dan Guy-sensei untuk memberikan jatah nasi kotak mereka.." ucap Ibiki lagi.
"Hah?" shikamaru, kiba dan Chouji tidak mengerti.
Ibiki lalu menunjuk ke meja di sampingnya dimana ada 3 buah box yang sepertinya nasi.
"Itu jatah makanku, Asuma, dan Guy.. Kalian boleh memakannya." ucap Ibiki.
Mereka bertiga melongo. What? Serius? Apa ini serius? ini bukan troll kan? Atau supertrap? ibiki yang galak itu? memberikan jatah makannya? waw man!
"S-serius sensei?" tanya Chouji.
Ibiki mengangguk.
"Ya, mengingat kita menginap disini juga dijamu makan malam. Sepertinya ditambah nasi kotak memang sedikit berlebihan."
"..."
"Daripada Mubazir."
Shit! Kesurupan apa guru mereka ini!
Shikamaru Hanya diam dan menatap ibiki.
"Hanya tiga?" tanya shikamaru. Kiba dan Chouji menoleh ke Shikamaru.
"Huh?"
"Maksudku.. Bukankah kami ber-enam?" lanjut shikamaru. tentu dia membicarakan tentang Sasuke, Naruto dan Shino yang sedang keluar. Mengingat mereka juga butuh makan. Ya, untuk jaga jaga kalau Kupon yang dimaksud kakashi tidak bisa ditukar kan?
Ibiki mendengus.
"Hanya Asuma dan Guy yang mau memberikan nasinya bocah! Ini pun lebih baik daripada tidak ada sama sekali." ucap Ibiki menjelaskan.
Ketiga pemuda itu saling pandang. Ah, memang Asuma dan Guy sensei adalah guru yang bijak!.. tunggu dulu..
Entah kenapa mereka bertiga ingin sekali men death glare Anko sekarang.
..
Anko yang merasa ditatap hanya menoleh ke tiga pemuda itu dan bertanya.
"Apa HAH?"
Melihat reaksi Anko. Ketiga pemuda itu pun kembali menoleh ke ibiki.
..
"Baiklah. Ini." Ibiki lalu memberikan ketiga kotak nasi itu kepada Shikamaru, Kiba dan Chouji.
Mereka pun dengan sedikit lega menerima pemberian ibiki. Ah, ternyata ibiki tidak seburuk yang mereka kira.
Ibiki tersenyum,
.
Setelah beberapa basa basi. Mereka bertiga pun segera pergi dari situ sebelum ibiki menyinggung 'kenapa mereka masih berkeliaran malam malam begini'
.
~I Will Do What I Want~
.
Shikamaru, Kiba dan Chouji berjalan pelan menyusuri lorong lantai 4. Ya, Mereka tidak menyangka atas apa yang baru saja terjadi.
Di tangan mereka masing masing terdapat box sedang yang katanya berisi makanan.
"Ahh~ Aku tidak menyangka Ibiki-Sensei memberi kita makanan." ucap Chouji.
"Hah.. Kau benar. Sepertinya dia salah makan tadi.." balas Kiba seenaknya.
Shikamaru hanya mendengus.
Ya, Shikamaru memang belum terlalu lama mengenal guru BK nya yang baru itu. Namun ia cukup tau, Mengingat dia, Sasuke dan Naruto sudah sering diberi hukuman olehnya. Cukup tau kalau seharusnya ibiki tidak sebaik ini.
Well, Apapun motifnya, Makanan tetaplah makanan.
.
Mereka bertiga berjalan Santai menuju lift. Ya, mengingat mereka tidak bisa masuk ke kamar mereka. Mereka bertiga berniat menuju lantai 1 dan bersantai di aula besar, menunggu Shino, Sasuke dan Naruto kembali.
..
.
.
Err.. Namun shikamaru sepertinya menyadari sesuatu.. Ia mengangkat kotak yang ia pegang.. Mencoba menaik turunkannya beberapa kali..
"Tapi,, Kok kotak ini ringan sekali ya?" ucap Shikamaru.
"Huh?" Kiba dan Chouji hanya menoleh. Mereka berhenti melangkah dan mencoba mengangkat-angkat kotak yang mereka pegang.
..
Benar! Ini ringan sekali!
.
Jangan jangan..
.
Mereka saling pandang. Jangan bilang ini seperti yang mereka pikirkan.
.
Mereka mencoba membuka kotak itu..
..
dan.
.
.
Melongo.
Isinya Hanya sampah.
KREK! Brak brak brak! Kiba Dan shikamaru sudah membanting kotak itu dan menginjak injaknya.. mendzalimi kotak tak berdosa itu dengan sepatu mereka dengan sadis.. Chouji hanya swatdroped melihat Shikamaru dan Kiba.
.
Ah sial! Memang, Memberi mereka makanan memang hal yang terlalu baik yang akan dilakukan Ibiki.. Imposible! shit! God Dammit!
.
.
TBC
Nb : Before that.
Ibiki kini tengah duduk di depan perapian. Dia bersantai di sebuah sofa dengan memagang sebungkus takoyaki hangat yang ia beli beberapa saat yang lalu. Di depannya, Televisi besar yang ia tatap kini tengah menyuguhkan acara FTV malam yang memang sengaja ia pilih untuk menemani malamnya.
Ya, para koleganya mungkin sekarang sudah berada di kamarnya masing masing. Anko yang tadi berada disini bersama muridnya pun sudah menghilang entah kemana.
Ah! Malam pribadi yang sempurna.
.
"Huh?" Ibiki menyipitkan mata saat ia melihat 3 buah Kotak yang berada di atas meja di samping televisi. Tunggu dulu..
Ibiki mendekati kotak itu. Ia mencoba berpikir..
"Ah.. Jangan jangan.."
Ia membuka salah satu kotak itu..
Benar saja!
Kotak putih itu berisi Nasi ayam lengkap beserta lalapan. Ibiki lalu menoleh ke meja di samping jendela. Mengingat tadi disana juga ada tiga buah kotak yang bentuknya sama persis.
Ibiki mencoba berpikir.
Ah! Dia salah memberikan kotak! Seharusnya kan kotak ini yang dia berikan kepada ketiga pemuda tadi!
.
Ibiki merutuki kebodohannya sendiri. Namun sejurus kemudian dia hanya mengangkat bahu, dan kembal duduk di sofa nya yang empuk.
'Beh! Untuk apa aku harus menyusul mereka!' Batinnya. Ya, Mungkin mereka bertiga sekarang sudah turun dari lantai 4. Dan ibiki terlalu malas untuk keluar dari ruangan yang nyaman ini. Ah biar lah. Bodo amat..
.
.
Sialan kau sensei!
.
TBC - REAL TBC
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
AuthorNote's : Yo yo.. Hanzama Is back.. Gomen apdetnya lama, Banyak tugas.. well akhirnya! 1 chapter aneh kembali slesai. (_ _")
Oke, sedikit hint. di chapter depan atau depannya lagi.. Kita akan kedatangan tamu..
Akatsuki.. Yayyy-uhuk uhuk.. mari kita tunggu kejadian apa yang akan diberikan oleh organisasi jahat kebanggaan MK itu..
..
Oke tanpa basa basi..
Sekian dari hanzama, semoga reader sukses selalu~
REVIEW
V
V
V
V
