chapter 24 : Malam Bulan Merah

.

Sasuke, Shino dan Naruto kini tengah terbengong di depan sebuah bangunan yang cukup besar. Bangunan besar berwarna merah yang memiliki banyak lampu itu seakan membuat mata orang orang lewat tertarik untuk melirik. Ya, Sasuke memang tidak terlalu mengetahui seluk beluk Okinawa. Namun Ia tau, semenjak mereka berdiri di depan bangunan ini Sasuke sudah menghitung sekiranya lusinan orang yang keluar masuk.

Namun yang membuat mereka bertiga tercengang dari tadi bukanlah keramaian yang terasa dari bangunan itu, melainkan lebih ke tulisan besar yang terpampang di dinding bangunan itu.

.

.

Akatsubaki - Night Club.

Wtf? Bukankah si paman rapper tadi bilang Akatsubaki adalah restoran? Namun apaan nih?

Mereka bertiga hanya bisa menelan ludah.

Tidak salah! Melihat banyak pengunjung didominasi orang orang berpakaian nyentrik. Ini adalah klub malam!

.

Sasuke mencoba melirik toko disekitar mereka. Barangkali memang ini adalah bangunan yang kebetulan memiliki nama yang sama dengan sebuah warung yakisoba.

Namun seteliti apapun Sasuke mencari, tetap saja hanya bangunan di depannya ini yang memiliki nama Akatsubaki.

"Err.. sebaiknya kita kembali." ucap Sasuke tiba tiba. Yang ia tau, masuk ke klub malam bukanlah hal yang sehat bagi anak SMA

Naruto menoleh ke Sasuke.

"Haa? Apa maksudmu Sasuke? Kita sudah sejauh ini, dan Kau ingin kembali begitu saja? HELL NO!" balas Naruto. Ia menatap tajam kepada Sasuke.

Sasuke mendecih.

"Tsk! Lihat di depanmu dobe! Apa sebuah bangunan yang papan reklamenya ada gambar perempuan menggunakan sportbra terlihat seperti restoran yakisoba dimatamu?" ucap Sasuke. Ia memegangi kepala Naruto dan memaksanya melihat gambar Onee-san ecchi yang berada di bagian atas bangunan merah itu.

"Oi Lepaska-" Naruto tentu saja berontak karena tiba tiba kepalanya di plintir oleh Sasuke.

"Ini bukan Restoran Yakisoba dobe! Kita ditipu oleh Penjaga Minimarket tadi!" ucap Sasuke lagi.

Saat Sasuke sudah melepaskan Naruto, Naruto hanya mengumpat tanda tidak senang.

"Huh! Barangkali mereka juga menyajikan Yakisoba kan!" ucap Naruto tidak mau kalah.

"Hah?" Sasuke terbengong.

"Kita tidak bakal tau kalau kita belum mencoba!" lanjut Naruto lagi

"Mana ada club malam yang menjual yakisoba bodoh!" balas Sasuke sewot. Kadan Sasuke heran, Apa benar Naruto memikirkan apa yang ia katakan.

"..."

"Lagipula! Mana mungkin kita diperbolehkan masuk! Ini klub dewasa! dan Kita masih SMA!" lanjut Sasuke.

Tanpa disangka, Naruto mengulurkan telapak tangannya kepada Sasuke, tanda meminta sesuatu.

"Apa?" tanya Sasuke yang heran melihat tangan Naruto.

"Kupon." ucap Naruto.

Sasuke menghela nafas, Ia pun menyerahkan 6 kupon yang ia kantongi kepada Naruto.

Naruto menerima kupon itu, lalu menoleh kepada Shino.

"Oi Shino.. Bagaimana menurutmu?" tanya Naruto.

Shino yang sedari tadi diam akhirnya memperhatikan Naruto. Ia lalu bergiliran menatap Sasuke.

.

"Mungkin sebaiknya kita kembali, Karena Aku juga tidak cukup yakin tentang tempat ini." ucap Shino.

Naruto memutar bola matanya.

Sasuke tersenyum kemenangan mendengar ucapan Shino.

"Kan? Sudah ku bilang dobe?" balas Sasuke. Ia lalu berbalik dan bersiap pergi dari tempat itu. diikuti Shino yang juga ikut berbalik badan.

Namun tanpa disangka Naruto malah berlari mendekati pintu. Ia menghampiri paman berjas hitam yang menjaga pintu.

Sasuke tentu saja kaget dengan apa yang dilakukan Naruto.

"O-Oi!"

.

Shino dan Sasuke hanya diam mematung saat dari kejauhan mereka melihat Naruto sedang berbincang dengan sang paman penjaga pintu.

Ia terlihat sedang menunjukkan kupon yang ia pegang kepada sang penjaga pintu.

Setelah beberapa menit Naruto berbicara. Paman berjas itu membukakan pintu masuk untuk Naruto. Naruto mengisyaratkan Shino dan Sasuke untuk mendekat. oke, itu sangat tidak disangka.

"Dasar Bodoh." Gumam Sasuke.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

I Will Do What I Want © Hanzama

Rating : T(+)

Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe

Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Etc.

Pairing : Comin Soon

.

Entah kenapa sekarang mereka berakhir di sini. Sasuke merutuki perbuatannya sendiri karena mengikuti Naruto masuk. Mereka kini telah berada di dalam gedung Akatsubaki.

Saat Sasuke melewati pintu masuk. Bau parfum dan minuman keras langsung menyeruak menghantam indra penciuman Sasuke.

Sasuke segera menutup hidungnya.

"Sial!" gumam Sasuke pelan. Ya, dulu dia memang berandalan, Yang suka berkelahi. Namun seumur hidup, Dia baru pertama kali masuk ke tempat seperti ini.

Oke, Dia menyalahkan Naruto untuk ini.

"Ayo." ucap Naruto mengajak Shino dan Sasuke mendekati meja bar. Oke, entah kenapa mereka mau maunya mengikuti Naruto untuk hal semacam ini. Sial.

Sasuke berjalan pelan di belakang Shino dan Naruto. Apa hanya perasaannya atau memang dia menjadi bahan tatapan para wanita di sini. itu membuat Sasuke sedikit risih tentu. Mengingat dia memang tidak terbiasa dengan keadaan di dalam sebuah klub malam. Apalagi dia masih memakai seragam konoha gakuen. kalau ada seseorang yang mengenalinya bagaimana? ah!

perlu beberapa menit sebelum mereka sampai di depan meja bar.

Naruto melongo sendiri melihat Seorang bartender yang memakai china dress sedang menuangkan minuman ke dalam gelas.

"P-P-Permisi." ucap Naruto. Pakaian sexy yang dikenakan kakak bartender itu membuat Naruto gugup.

Sedangkan bartender itu Menatap heran 3 orang pemuda yang berada di Night club nya.

"Huh? Kalian Anak SMA? Apa yang kalian lakukan disini?" tanya wanita itu heran.

"Eh .. err.." Naruto lalu menyodorkan 6 buah kupon yang ia pegang ke wanita itu.

.

Sedangkan wanita yang melihat kupon itu malah tertawa.

Mereka bertiga tentu bingung melihat sang wanita bartender itu malah tertawa. Sasuke, Shino dan Naruto saling pandang.

"..Hahaha... Maaf, Aku tidak bisa menahan tawaku.." ucap Wanita itu, Ia menyeka sedikit air mata yang keluar dari ujung matanya.

Wanita itu pun menyodorkan tangannya, mengajak ketiga pemuda itu untuk berjabat tangan.

"Namaku Guren. Aku pemilik tempat ini." ucapnya.

.

.

~I Will Do What I Want~

.

.

Beberapa menit berlalu semanjak 3 pemuda ini masuk ke bangunan klub malam di okinawa. Mereka bertiga kini tengah duduk diam di depan meja bar dengan gugup. Gugup dengan keadaan sekitar mereka tentu.

Di depan mereka, Wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai guren tadi, sekarang tengah tersenyum kepada mereka bertiga.

"Jadi? Kalian dari mana?" tanya Guren kepada mereka bertiga.

"..." Sasuke, dan Naruto hanya saling pandang. Mereka ragu untuk menjawab pertanyaan dari kakak ini. Sedangkan Shino lebih memilih diam. Seperti biasanya.

Namun Guren malah tersenyum.

"Jangan khawatir. Aku tidak akan memberitahu siapapun kalau ada anak SMA yang berkeliaran di klub ku malam malam begini." ucap Guren segera.

"Err.. Apa kau pemilik tempat ini?" tanya Naruto penasaran.

"Yup! Ini adalah usaha kecilku." lanjut Guren bangga.

"Oh." balas Naruto.

Guren menatap penasaran 3 pemuda di depannya. Jujur, baru kali ini dia mendapat tamu tak terduga di kedai kecilnya ini. dia jadi bertanya tanya kenapa ada beberapa pemuda yang berani masuk ke klub dewasa hanya untuk menukarkan sebuah kupon yakisoba.

Guren lalu beranjak dan mengambilkan 3 pemuda ini beberapa gelas jus jeruk.

"Nih." ucap Guren menyajikan beberapa jus kepada tamunya.

Mereka menatap 3 gelas jus itu dengan heran. Sasuke dan Naruto tidak yankin bisa membayar ini. Mereka berdua menatap Shino. Namun Shino hanya mengangkat bahu, Tanda dia juga tidak membawa uang.

Melihat ketiga pemuda itu saling pandang. Guren segera berkata,

"Tidak usah bayar, Gratis dariku." ucap wanita dewasa itu melanjutkan.

"..." Ketiga pemuda itu pun dengan ragu mendekatkan jus itu dengan tangan mereka.

Guren tersenyum. mereka pun menikmati minuman mereka dengan santai.

.

.

.

"Oh, Iya.. Kupon yang kalian bawa, Sudah tidak bisa ditukar.." ucap Guren tiba tiba.

UHUK UHUK! membuat Naruto yang menyedot jus nya keras tersedak.

"Apa?" tanya Sasuke tidak percaya.

UHUK UHUK!

"Apa maksudmu?"

Guren mengangkat bahu.

"Kalian tau maksudku kan? Tidak bisa. berarti tidak dapat yakisoba." ucap Guren.

"H-hah? T-tapi bagaimana bisa?" tanya Sasuke tidak percaya. Gila. jadi ini semua sia sia?

Guren menghela nafas.

"Well,, Sebenarnya kupon itu sudah tidak berlaku karena pembatalan dari sponsor. Setahuku, Semua kupon undian yang disebar sudah ditarik oleh perusahaan akatsuki. Namun aku tidak menyangka masih ada yang beredar." ucap Guren penjang lebar.

"Hah?"

"Kalian mendapat kupon ini dari belanja kan?" tanya Guren.

Shino dan Sasuke masih mendengarkan. Mengabaikan Naruto yang masih mengatur nafas karena tersedak.

"Dulu,, Akatsubaki memang sebuah restoran terkenal di Okinawa. Bahkan menu yakisoba berukuran besar ini sangat menarik perhatian para wisatawan." lanjut guren menunjuk ke kupon yang tergeletak di meja.

"..."

"Namun karena sebuah insiden, restoran maskot Okinawa itu ditutup. dan semua kupon ditarik kembali." lanjutnya.

"Insiden?"

"Ya. Kebakaran besar. Menewaskan 25 orang." lanjutnya.

GLEK. ketiga pemuda itu sekarang serius memperhatikan. Naruto juga sudah bisa lepas dari batuknya.

Guren dengan perlahan mencondongkan badannya untuk lebih mendekat ke ketiga pemuda itu.

"Dan kalian tau.."

.

.

"Ada urban legend yang beredar.."

.

"Hah?"

.

.

"Barang siapa yang mempunyai, dan mencoba menukarkan kupon setelah kejadian 'itu'. Mereka akan mati." ucap Guren.

.

.

.

"UAPAAA?"

"..."

"K-kau bercanda kan?!"

Mereka bertiga melongo mendengarkan cerita yang diceritakan wanita di depannya ini.

Guren hanya mengangkat bahu.

"Itu sih menurut orang orang..." ucap Guren santai. "... Aku juga tidak tau benar atau tidak-nya."

"Huh! Jangan menakutiku!" ucap Naruto segera. Oke, Dia memang yang paling tidak tahan dengan cerita hantu.

Sasuke menatap guren.

"Apa kau percaya dengan cerita itu?" tanya Sasuke kepada Guren.

Guren hanya memposisikan dirinya untuk berpikir.

"Aku tidak yakin. Tapi Semenjak aku membeli tanah ini.." ucap Guren menunjuk lantai ".. pemiliknya yang dulu menganjurkan aku memakai nama Akatsubaki untuk klub ini."

"..."

"Karena dia bilang.. Aku akan mendapat sial kalau menggunakan nama lain di bangunan yang aku bangun di atas bekas lahan akatsubaki." ucap Guren lagi.

..

"Akh!"

Naruto menatap ke lantai. Entah kenapa bulu kuduknya sekarang berdiri.

Naruto merinding sendiri saat tau kalau sekarang dia duduk di atas lahan yang pernah terjadi insiden.

"Jadi kau percaya dengan takhayul?" ucap Sasuke lagi.

"Tidak juga sih, Aku hanya menerima Sarannya. Akatsubaki bagus untuk nama Klub malam." lanjut guren lagi.

Melongo.

.

Guren lalu mendongak mencoba mencari sesuatu diantara pengunjung. Biasanya dua orang itu Nongkrong di sini di jam segini.

Ketiga pemuda itu tentu heran.

"Akh itu dia." Guren menunjuk sebuah meja dimana ada dua orang yang sedang ngobrol.

Ketiga pemuda itu menoleh ke arah yang ditujuk Guren.

"Aku sarankan kalian menemui mereka, dan menyerahkan kupon ini." ucap Guren sembari menyodorkan kembali kupon milik ketiga pemuda itu.

Naruto menerima kupon itu lagi.

"Siapa mereka?" tanya Sasuke. Ia tentu heran. Di matanya dia bisa melihat seorang wanita berambut kuning dan seorang lelaki bercadar.

"Mereka dari Akatsuki-corp. akhir akhir ini mereka sering nongkrong disini. Kalian sebaiknya menyerahkan kupon ini untuk menghindari sial. aku yakin mereka akan memberi kalian kompensasi pelanggan." ucap guren. ia mengedipkan sebelah matanya kepada ketiga pemuda itu.

"Hahh~" Mereka bertiga menghela nafas.

Naruto, Shino dan Sasuke saling pandang. Mereka pun dengan malas akhirnya pergi dan mendekati kedua orang asing itu setelah mengucapkan terimakasih

.

~I Will Do What I Want~

.

Di meja tak jauh dari tempat Sasuke dkk duduk tadi. Nampak dua orang yang sedang ngobrol.

"Sudah ku bilang kan Deidara! Kau tidak harus membawa petasan mu itu kemanapun kau pergi!"

"Apa maksudmu Kakus! Ini adalah Seni!"

"Berhenti memanggilku Kakus bodoh!"

"Huh! Aku Heran kenapa aku bisa berakhir disini bersama pecinta uang sepertimu! Hmm!"

"Ini adalah pekerjaan Dei! Pein sendiri kan yang bilang kita harus profesional!"

"Tapi Percumah kita punya anak buah kalau akhirnya kita sendiri yang mengurus dokumen yang masuk!"

"Ini dokumen penting dei! tidak boleh ada kesalahan kan?"

"Huh! Kalau tau begini.. Seharusnya aku ikut Sasori No Danna ke konoha dua bulan yang lalu! Hmm!"

"Sasori kan sedang kuliah! Dia kuliah karena dia pintar dia juga bekerja part time di sebuah restoran. Aku cukup tau, Dia bukan tipe orang yang mau bersantai dan membuang-buang uang.. Dia cukup menghargai apa itu uang.. Tidak sepertimu yang bahkan tidak tau jumlah dari 20 dollar bila dijadikan yen."

"Mana aku tau hmm! Siapa yang peduli dengan uang. yang aku heran, Kenapa usaha iseng kita dulu sekarang malah menjadi sebuah perusahaan besar sekarang."

"Hm. Itu yang dinamakan Ekonomi Deidara."

"Err.. Permisi." Obrolan ringan mereka harus diinterupsi oleh beberapa orang yang kini tengah berdiri di depan mereka.

Kedua orang itu tentu menoleh.

Sasuke sedikit terkejut karena mengetahui orang yang berambut kuning itu ternyata laki laki. wth. Dan, Jadi ini Akatsuki? Apa kedua orang ini temannya Itachi?

"Siapa kalian?" tanya Kakuzu sengit. Karena melihat beberapa pemuda yang menganggunya.

Tunggu dulu, Seingatnya ini bukan tempat untuk anak SMA. wth again!

"Sudahlah kakuzu.. Jangan terlalu kasar! Hmm!" ucap Deidara.

.

"Err.. Kami diberitahu Kakak bartender bahwa kalian dari Akatsuki-corp. Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan." ucap Naruto.

"Pentingkah?" tanya Deidara heran. Tidak biasanya mereka ditemui orang seperti ini. Ia lalu menatap Guren dari kejuhan yang sedang melambaikan tangan.

"Ya." balas Sasuke tiba tiba. Ia menatap Kedua orang itu tajam.

"Ah, kalau begitu Silahkan duduk." ucap Deidara. Mempersilahkan ketiga tamunya untuk duduk.

"Tidak usah. Kami berdiri saja." ucap Sasuke. Ah, dia sudah tidak mau melewati obrolan yang lama. Dia sudah capek.

Kedua orang itu menatap Sasuke. Sikap yang tidak asing.

"Hahaha.. begitu ya.. Oh, perkenalkan dulu.. Aku Deidara, dan ini Kakuzu. Hm." ucap Deidara memperkenalkan diri.

Namun Sasuke tidak memperdulikan.

"Kalian dari Akatsuki corp kan?" tanya Sasuke.

"Yup!"

"Kalian dulu pernah mengadakan kerjasama dengan restoran akatsubaki kan?" tanya Sasuke lagi.

"Eh?.. Ya. sepertinya begitu.." balas Deidara lagi.

"Kalau begitu.." Sasuke lalu meletakkan kupon kupon itu di depan Deidara, dan Kakuzu. ".. Kalian tau apa ini?" tanya Sasuke lagi. Dia tidak peduli lagi dengan sopan santun. Dia sudah capek kesana kemari.

Kakuzu tentu tau. Ini adalah kupon Promosi yang membuat Akatsuki untung besar dulu. Namun karena insiden, Kupon ini sudah ditarik sekitar sebulan yang lalu. Dan dia adalah yang bertanggung jawab atas penarikan kupon ini.

Karena tidak mau terjadi kesalah pahaman. Dulu Pain menyuruhnya menentukan kebijakan untuk siapa saja yang masih memiliki kupon ini harap dikembalikan ke akatsuki.

Dan akan diberi kompensasi sebesar 400 Yen setiap kupon.

Kakuzu malah men death glare Sasuke.

seadangkan Deidara hanya sweatdroped melihat tingkah kakuzu. Jelas sekali kalau dia tidak rela uang 1200 yen nya di beri ke orang lain. Ingat tanggung jawab mu pak tua!

.

"Kenapa dengan Kupon ini?" tanya Kakuzu pura pura.

"Kupon ini sudah kadaluarsa." ucap Sasuke lagi.

"..."

"Kami sebagai pelanggan merasa dirugikan." lanjutnya.

"..."

Kami sudah korban tenaga untuk sampai kesini."

"..."

"Kami minta ganti rugi."

"Tidak ada." sambar Kakuzu tiba tiba.

"Hah?"

"Tidak ada ganti rugi. Waktu penarikan sudah berlalu. Kupon itu tidak berarti apa apa sekarang." ucap Kakuzu.

"HAH? Yang benar Saja!" ucap Naruto emosi.

BRAK!

Ia menggebrak Meja dengan kasar. Jadi ini benar benar sia sia? pada akhirnya kita tidak bisa makan yakisoba? no way man!

Sasuke tanpa disangka malah mencengkram kerah baju Kakuzu. Membuat Deidara, Naruto, dan Shino terkejut.

"Kau main main denganku?" ucap Sasuke. Ia menatap tajam Kakuzu.

Namun kakuzu dengan halus melepas tangan Sasuke dari kerah bajunya. Ia menghela nafas.

"Pulanglah, Ini sudah larut nak." ucap Kakuzu layaknya Bapak bapak yang meminta anaknya pulang.

Deidara melongo.

"Cih." Sasuke pun dengan kasar mengambil kembali kuponnya dan berniat pergi dari situ.

Namun tangannya dipegang oleh kakuzu.

Sasuke melotot.

"Apa lagi?!" tanya Sasuke.

"Aku tidak akan membawa kupon itu bila aku jadi kau." jawab kakuzu.

"Hah?"

.

.

"Kau tau kalau kupon itu dikutuk kan?" tanya Kakuzu.

"..."

"Aku pikir nona bartender itu sudah menceritakan kisahnya padamu." ucap Kakuzu lagi.

"..."

"Tentang tragedi yang melekat pada kupon itu." lanjutnya.

GLEK! Ah, Cerita seram lagi. Naruto heran semenjak dari penginapan tadi, kenapa malam nya dibayang bayangi oleh cerita seram.

Sasuke malah tersenyum sinis.

"Ini kupon ku.. jadi terserah aku bodoh!" bala Sasuke sengit.

Kakuzu mencoba berpikir.

Namun akhirnya ia punya ide.

"Begini saja.. Aku akan menukar kupon itu dengan 1 kotak karya seni.." ucap Kakuzu.

"Hah?"

Kakuzu lalu mengambil kotak milik Deidara dan menyodorkannya ke Sasuke.

"Ini demi kebaikanmu." ucap Kakuzu lagi.

"O-oi!" Deidara tentu saja marah saat tiba tiba kotak-nya diberikan begitu saja kepada orang asing. Namun kakuzu hanya membalasnya dengan isyarat menggunakan tangan.

.

Sasuke menatap heran kotak putih yang disodorkan kakuzu.

"Apa ini?" tanya Sasuke.

"Sudah ku bilang itu karya seni."

Sasuke menatap Kakuzu.

"Mana mungkin aku percaya dengan omong kosong seperti ini!" ucap Sasuke lagi. Ia sudah berbalik dan bersiap pergi.

..

Kakuzu menghela nafas.

"Kalau begitu terserah.. Aku tidak akan bertanggung jawab kalau kesialan mengikuti kalian dan berujung kematian karena memagang kupon terkutuk." ucap kakuzu untuk yang terakhir.

Sasuke masih berdiri teguh dengan pendiriannya. Namun tidak untuk Naruto, Dia sudah menarik lengan Sasuke dan meminta Sasuke untuk tidak membawa kupon itu.

Mengisyaratkan untuk mengambil kotak 'seni' itu Saja. Naruto mengibaskan tangannya kepada Sasuke untuk melepaskan kupon itu.

Sasuke menatap Bosan Naruto. Namun saat naruto berkata 'Please' Akhirnya Sasuke memberikan kupon itu kepada Kakuzu.

Kakuzu tersenyum kemenangan.

"Senang berbisnis dengan anda." ucap Kakuzu.

Sasuke memutar bola matanya. Ia lalu membawa kotak putih itu bersamanya dan segera pergi dari situ. Diikuti Shino dan Naruto.

.

.

~I WILL DO WHAT I WANT~

.

.

Sasuke, Naruto dan Shino berjalan malas di jalanan okinawa yang gelap. telah nampak banyak toko yang sudah tutup karena memang hari sudah sangat larut.

Pada akhirnya, Mereka tidak mendapatkan makanan apapun malam ini. Ah, memang benar benar.

"Sasuke. Apa kau sudah mengecek kotak itu, Karena Aku penasaran." ucap Shino memecah keheningan.

Sasuke menoleh. Ah, benar si Kakuzu bilang tadi ini adalah karya seni.

"Aku juga penasaran Sasuke." ucap Naruto.

Sasuke menatap kotak yang ada di tangannya. Ia lalu bergantian menatap Naruto dan Shino.

lalu dengan sekali hentakan, dia membuka tutup kotak putih itu.

"Hah?"

..

Selusin boneka tanah liat.

"Apaan nih?!" tanya Sasuke entah kepada siapa. Shino dan Naruto ikut mendongak ke kotak untuk melihat apa yang ada di dalam kotak itu. Sasuke memegang 1 buah boneka berbentuk laba laba.

"Huh~" Sasuke menghela nafas. ".. Sudah kuduga kita ditipu.."

Shino dan Naruto yang melihat benda aneh itu pun juga tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali. Mereka hanya pura pura tidak tau dan melanjutkan menapakkan kaki mereka kedepan.

Hening.

"Kita buang saja ya?" tanya Sasuke. Ia tidak mau membawa barang aneh itu ke penginapan. Bisa dimarahi kakashi nanti.

"Terserah kau saja lah." balas Naruto.

Sasuke melirik sekitar.

Sasuke yang melihat sebuah tong sampah tak jauh dari situ pun segera menghampiri nya dan berniat membuang benda aneh itu disana.

Shino dan Naruto yang melihat Sasuke berlari menghampiri sebuah tong sampah pun hanya melirik dari ujung mata mereka.

Saat Sasuke sudah berada di depan tong Besi itu. Sasuke bisa merasakan hawa panas yang menyeruak dari dalam tong. Sepertinya tong ini baru saja digunakan untuk membakar sampah.

Tanpa pikir panjang, Sasuke segera memasukkan kotak yang ia pegang ke dalam tong yang dalamnya sudah hangus itu.

.

.

sedang asyik memandangi Sasuke. Shino dan Naruto dikagetkan oleh suara klakson sebuah mobil yang datang dari belakang mereka.

TIIINN!

Shino dan Naruto pun menoleh.

Nampak di mata mereka sebuah mobil patroli polisi yang cahaya lampunya menyilaukan mata.

Mobil itu Berhenti tepat di samping Shino dan Naruto yang sedang berdiri. Mobil putih bertuliskan Okinawa police departement itu memecah keheningan di jalan yang Naruto dkk tapaki. Karena memang sekarang mereka tengah berada di jalan yang sedikit lenggang akan rumah penduduk.

"Apa yang kalian lakukan malam malam begini?" tanya Pak petugas dari dalam mobil. Nampak dua orang petugas yang berada di mobil. Sepertinya mereka sedang patroli.

"Eh. Err. Kami baru saja pulang dari jalan-jalan pak." ucap Naruto Asal.

Pak petugas itu malah menghela nafas.

"Jangan jalan-jalan malam malam begini dek. Kalian tau kan? Sekarang okinawa sedang rawan akan kejahatan. Begal, pencuri. Perampok, Teroris, Bahkan pembunuh." ucap Pak polisi itu memperingatkan.

"Eh. Iya pak.. kami akan segera pulang." ucap Naruto lagi.

Pak polisi itu pun hanya mengangguk. Ia lalu menatap ke depan. Dimana ia melihat Sasuke yang sedang berdiri di depan tong sampah.

"Eh itu teman kalian?" tanya Pak polisi.

"Hah? Oh! Iya pak!" balas Naruto lagi.

"Apa yang sedang dia lakukan?" tanya Pak polisi lagi. Pak polisi itu menatap Sasuke yang sedang mengorek orek bak sampah.

Naruto mengernyitkan dahi karena melihat tingkah Sasuke yang seperti pemulung dari kejauhan.

"Dia sedang membuang sesuatu pak." ucap Naruto lagi.

"Oh."

Mereka berempat. Shino, Naruto dan dua petugas hanya menatap Sasuke. sampai akhirnya Sasuke berjelan kembali menghampiri mereka.

.

.

Tiba-tiba.

JDUARRRR!

Tong yang ada di belakang Sasuke terpental karena ledakan yang berasal dari dalamnya.

"WHOAAA!" Sasuke yang reflek mendengar suara ledakan pun tiarap dan memegangi kepalanya.

Naruto melongo.

Sedangkan kedua petugas yang melihat kejadian itu hanya menatap tidak percaya. Mereka segera keluar dari mobil dan menatap tong yang tergletek tak berdaya di sisi lain jalan.

Para petugas itu pun langsung menatap Naruto dan Shino.

"K-KALIAN TERORRIS?!" ucap Pak polisi itu.

"A-apa?"

"ANGKAT TANGANN!" bentak pak petugas.

"O-oi!"

"KUBILANG ANGKAT TANGANN!" bentaknya lagi. Pak polisi itu mengeluarkan sebuah revolver dari sabuknya. Dan mengarahkanyya ke Shino dan Naruto. Sedangkan petugas yang satunya menghampiri Sasuke.

"K-Kami bukan terroris pak!" ucap Naruto ngeri saat ditodong pistol secara langsung.

DUAKH! Satu pukulan dilayangkan petugas ke perut Naruto. Ia lalu mengeluarkan borgol dan mengikat tangan Naruto di belakang.

"IKUT KAMI KE KANTOR!"

Ah, sepertinya akan ada masalah besar menimpa mereka bertiga.

.

~I WILL DO WHAT I WANT~

.

Kakuzu dan Deidara kini masih duduk duduk santai di dalam Akatsubaki. Mereka sedang mengurus beberapa dokumen yang akan dikirim ke Kumo besok.

Deidara hanya mendecih saat melihat kakuzu menatap girang kupon milik bocah berambut hitam tadi.

"Oi! Kakus! Berhentilah kegirangan hanya karena tiga buah kupon. bantu aku menata kertas kertas ini bodoh! Hm!" ucap Deidara sewot.

Kakuzu menghentikan kegiatannya dan menatap Deidara bosan. Ah, Deidara mana tau dengan hal seperti ini. Ya, Tentu saja dia senang. Karena 1 buah kupon ini bernilai 400 yen.

Dan apabila nanti dia bilang ke Pein : kalau ada orang yang menukarkan kupon. dan Kakuzu dengan terpaksa harus membayar kupon ini dengan uangnya. Maka Pein akan mengganti nya dengan 2400 yen. Ah! Ini akan menjadi hari yang indah.

Deidara tentu tau apa yang ada di pikiran Kakuzu. Dia pasti akan berpura pura memberi kompensasi ke pelanggan dengan uangnya, supaya nanti uangnya diganti oleh pain.

dasar lintah darat.

.

"Tapi.. Sepertinya pemuda berambut hitam tadi terlihat tidak asing eh?" tanya Kakuzu.

"Huh?"

"Maksudku, Mengingatkan kita kepada seseorang." Lanjut kakuzu.

Deidara mendengus.

"Itachi eh?"

Kakuzu hanya mengangguk.

.

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

TBC

xxxxxxxxxxxxxxxxx

.

Author's Note : Yoyo HANZAMA IS BACK! .. Wokeh, err.. kok ceritanya jadi gini yah? -_-a

What the heck? mereka ketangkep polisi.. (_ _") .. Maafkan Hanzama yang tidak bisa melindungi kalian bertiga teman teman.. Tapi akan saya pastikan kalian masuk penjara kok.. ^.^ *Naruto : Apa Lo bilang?!

Okeh, Jadi mikir mikir.. Kapan mereka beruntung coba klo kyk gini.. ah, Tapi biarlah.. masih banyak kok karakter yang bisa menggantikan kalian di cerita ini teman teman.. jadi tenang *Naruto : WOOYY!

Slow Naruto.. akan saya pikirkan adegan yang mengharukan untuk kematianmu di chapter depan.. *Naruto : Seriusan, Gw bunuh lu thor!

..

Err,, ehem,, Okelah.. tanpa basa basi..

mari kita nantikan chapter berikutnya.. Rancangan judul : Kematian Naruto ... *Naruto : Seriusan! Gw cari alamat rumah lu thor! gw cegat lu pas pulang ngampus!

eh err.. (=.=")

...

Oke, See you in chapter depan..

Salam hangat dari saya.. semoga reader sukses selalu~

Byee!

REVIEW

v

v

v

v