Chapter 30 :More Than Meet Eye.
.
Moskow - Russia
.
"Jadi? Kau akan kembali ke jepang besok?"
"Yup!"
"Ayolah sepupu. Satu setengah tahun kau disini dan kau akan meninggalkanku begitu saja?"
"Hiashi menginginkanku kembali bersekolah di jepang, Menma!"
"Kau tau? aku akan merindukanmu! Teman temanmu di sekolah akan merindukanmu!"
"Aku tidak bisa menolak perintah Hiashi kan?"
.
"Tch. Kalau begitu aku ikut dengamu!"
"H-Hah?"
"Ya! Aku akan ikut bersekolah di jepang!"
"Nggak!"
"YA!"
"Tch. Kenapa pula kau mau ikut denganku?!"
"Untuk melindungimu dari orang jahat tentu!"
"Tidak ada orang jahat di jepang Menma."
"Pasti ada!"
"Lalu bagaimana dengan teman temanmu disini?!"
"Temanku temanmu juga kan Hinata!"
.
.
"Terserah! tapi kau yang harus ijin sendiri ke Hiashi!"
"Tidak masalah. Tapii.."
"Tapi apa?"
"Aku Ingin sekali melihat Okinawa."
"Kau merepotkan."
"Aku hanya ingin melihat pulau tropis!"
"Kenapa kau tidak pergi ke Okinawa saja sendiri!"
"Aku ingin pindah sekolah denganmu!"
"Bawel!"
"Pokoknya aku harus berjalan jalan ke Okinawa sebelum pindah sekolah! Titik."
"Kau yakin sekali kalau Hiashi akan mengijinkanmu ikut."
.
"Tentu saja! Aku kan sudah meminta izin."
"A-Apa?"
.
.
"Dan dia menyetujuinya."
"..."
.
Naruto © Masashi Kishimoto
I Will Do What I Want © Hazama
Yangre : Friendship, Family, Humor
Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Etc.
Pairing : Hm.. Lets See..
.
"ARGGGHHHH!" Teriak Naruto.
Gaara yang tepat ada di depannya tentu langsung menutupi telingannya. Sial. Orang ini sepertinya memang hobi membuat orang disekitarnya tuli.
Ya, jelas saja. Kesan Gaara saat pertama kali bertemu Naruto adalah. Orang aneh yang menyusup ke ruang klub orang lain.
Dan Gaara memang sedikit jengkel dengan Naruto. Aalagi mengingat perihal beberapa hari yang lalu dia dikabarkan tengah menjalin asmara dengan Yukata.
Bukannya cemburu atau apa, tapi dari hal itu. Gaara sudah bisa menyimpulkan kalau Naruto adalah orang yang menyebalkan.
"Tch Berisik Dobe." ucap Sasuke lama-lama.
Ya, Sekarang. Gaara, Naruto, Sasuke dan Shikamaru tengah berjalan santai di deretan rumah tradisional. Tepatnya di Perkampungan Shinobi tua. Ya, Sebuah tempat yang katanya dulu adalah desa ninja. Dan sekarang terkenal sebagai Obyek wisata dan warisan budaya.
Dan kebetulan juga ini adalah destinasi terakhir rombongan Konoha Gakuen sebelum kembali pulang ke Konoha.
"Sial! Kenapa Juga dia menginginkan hal yang aneh aneh?!" Naruto mencoba mengutarakan suaranya.
"..." Gaara yang dirasa punya tenggung jawab hanya menatap lurus ke depan tanpa menoleh.
"Dan Kenapa pula seorang gadis meminta oleh oleh pedang?!" lanjut Naruto lagi. Ya, Gadis normal kan biasanya minta oleh oleh baju, tas, sepatu. Tapi pedang?! what th-
"Mungkin supaya dia bisa menebas kepalamu saat kau membuat onar." balas Sasuke.
Naruto hanya melirik Sasuke jengkel.
"Jangan bercanda bodoh! Coba pikir. Apa yang bisa dilakukan gadis SMA dengan sebuah katana?" tanya Naruto serius.
"Ya, Menurutku memenggal kepala memang cukup logis." Sahut Shikamaru.
"Aku serius Shikamaru!" Naruto memegangi lehernya, Membayangkan apa yang terjadi kalau gadis SMA membawa sebuah pedang.
Kenapa obrolan ini malah jadi obrolan tebas-tebasan?
.
"Ini untuk properti drama Naruto." ucap Gaara tiba tiba.
"Mana ada properti drama mengunakan pedang asli?!" Bentak Naruto mendengarkan alasan Gaara yang tidak logis.
Gaara hanya menghela nafas.
"..." Gaara terdiam. Ya, dia tidak punya kata kata untuk menjawab pertanyaan Naruto.
Naruto hanya mendecih.
"Aku yakin Matsuri punya sebuah rencana baik." ujar Gaara optimis. Ya, bersikap optimis dengan keadaan adalah hal yang terbaik.
"Rencana Apaan?! Memang drama apa yang menggunakan Pedang, Topeng. dan ARAK?! Aku yakin pasti dia akan melakukan ritual pemanggil setan!" Naruto malah pesimis.
Sasuke dan Shikamaru tidak bisa berkata apa-apa kepada dua orang yang berdebat ini.
"Itu tidak mungkin Naruto." balas Gaara menyanggah kesimpulan Naruto.
"Apannya yang tidak mungkin?! Gadis itu memiliki kepribadian yang aneh kau tau kan?" ucap Naruto lagi.
Benar. Gaara tidak bisa memungkiri. Semenjak dia pertama kenal dengan Matsuri, Gaara memang merasakan sedikit aura aneh. Ya, sebenarnya dulu, saat pertama kali Gaara melihat Matsuri adalah saat dia menyebar formulir pendaftaran klub di kelas Gaara. Awalnya Sih. Gaara tidak tertarik masuk klub drama. Ya, klub membosankan menurutnya. Namun saat itu Matsuri tiba tiba masuk ke kelas Gaara saat Anko sensei sedang menjelaskan rumus logartima. Dan dengan PeDe nya berteriak teriak. 'Masuk ke klub kami Senpaiii!'
Sehingga membuat Anko sensei yang saat itu tengah emosi karena para murid yang dijelaskan tidak mengerti, jadi semakin emosi karena kedatangan gadis itu.
Dan karena itu, Gaara mulai sedikit tertarik dengan Matsuri. Ya, Gaara hanya berpikir. Berpihak kepada orang yang sangat percaya diri adalah hal yang sangat logis untuk masuk ke sebuah organisasi.
.
.
Mereka berjalan menyusuri perkampungan shinobi dengan santai. Yang mereka heran adalah, kenapa mereka tidak bisa menemukan petunujuk yang berhubungan dengan permintaan Matsuri. Di satu sisi mereka gelisah, di sisi lain mereka bersyukur. Hm, Aneh.
Semakin jauh mereka berjalan. Mereka malah sampai ke tempat yang mereka tidak mengerti.
Mereka terus melangkahkan kaki sebelum Sasuke berhenti di sebuah toko.
"Oi-Sasuke kau kenap? HAH?" Naruto yang berniat menegur Sasuke pun hanya melongo melihat Toko yang sama-sama dilihat Sasuke.
Branch of Akatsuki Toy Shop
Bangunan yang bertema tradisional ini terhimpit oleh toko toko dan restoran. Corak kayu Mapple yang menjadi pondasi utama bangunan sekan membuat dirinya tidak jauh beda dengan rumah rumah tradisional di sini.
Gaara dan Shikamaru pun ikut melirik bangunan minimalis itu.
"Menurutmu? apa mereka punya imitasi topeng shinigami?" tanya Gaara kepada Shikamaru.
"Mungkin." Jawab Shikamaru.
"Err.. Tidak." Sasuke malah tidak yakin.
"Hah?"
Ya, Sasuke memang 100 persen ragu. Karena terakhir kali dia berurusan dengan sesuatu yang menyangkut Akatsuki. Dia berakhir di penjara. Tidak memungkiri kalau dia bisa saja bertemu dua orang gila itu lagi. Atau mungkin yang lebih buruk.
"Sebaiknya kita cari tempat lain." ucap Sasuke ragu.
"Tch. Merepotkan. kenapa kau harus jauh jauh cari tempat lain saat kemungkinan benda yang kau cari bisa saja ada di sini." ucap Shikamaru.
Gaara mengangguk senang. Sasuke hanya menetap geram shikamaru.
.
Sedangkan Naruto hanya diam menatap pintu toko. Entah kenapa dia sangat yakin kalau Si cadar dan si pirang sialan itu ada di dalam. Ya, memikirkanya saja sudah membuat Naruto ingin menuangkan minyak tanah ke bangunan ini.
Tidak sempat Naruto dan Sasuke kabur. Mereka sudah diseret Shikamaru dan Gaara mendekat ke pintu masuk.
"O-Oi!" Sasuke tentu saja protes.
.
CKLING!
Keadaan Khas toko mainan menyorot pandangan empat orang pemuda ini saat mereka sudah masuk ke dalam. Di dalam ternyata lebih luas dari yang mereka kira. Siapa yang menyangka kalau ternyata bangunan ini panjangnya sampai jauh ke belakang.
Suasana yang ramai penuh anak kecil beserta orang tua mereka meyakinkan keempat pemuda ini kalau ini memang benar benar toko mainan. Ya, setidaknya beberapa dari mereka beranggapan demikian.
Tak lama mereka bertatap takjub. Karena detik berikutnya mereka sudah dikagetkan dengan suara ledakan.
DUAR!
"Mwahahaha.. Itu baru namanya Seni!" ucap Seorang yang dengan sengaja menyalakan petasan. Bahkan membuat beberapa anak menangis karena kaget. Namun sebagian lagi malah bersorak gembira.
Sedangkan Naruto yang tentu tau siapa orang itu hanya menatap sebal karena instingnya benar.
Jadi orang itu memang dari perusahaan Akatsuki? Ah, entah kenapa Naruto ingin sekali mengambil bola sepak yang ada di kranjang tempatnya berdiri dan melemparkannya ke seluruh penjuru ruangan.
.
"Wo? Gaara?!" ucap Seorang pemuda. Membuat Keempat orang yang tadi berdiri di depan pintu menoleh ke sumber suara.
"Huh...Sasori-san?"
Orang bernama Sasori itu pun hanya tersenyum. Dia lalu mendekati keempat pemuda itu.
Gaara hanya menatap heran Sasori yang berada di sini. Ya, Sasori adalah Senior Gaara di klub basket dulu waktu SMP. Dia sering membantu Gaara dalam berbagai macam urusan. Namun setau Gaara, Sasori kuliah di Konoha. Apa yang dia lakukan disini?
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Gaara.
Namun yang ditanya malah menatap Sasuke.
"Whoa! Kalau tidak Salah kau kan pacarnya Sakura!" ucap Sasori tiba tiba.
Membuat Shikamaru dan Naruto menatap Sasuke.
"Huh?" Sasuke yang ditatap hanya mengangkat bahu. Dia balik menatap Naruto dan Sasuke sembari menunjukkan raut muka yang mengisyaratkan 'Jangan percaya dengan orang asing bodoh!'
Err.. Sasuke sepertinya tau orang ini. Ah! Oh ya benar! dia adalah penjaga pintu restoran keluarga Haruno.
"Hahahaha.. Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Sasori. Mengabaikan tatapan aneh keempat pemuda ini kepadanya.
"..."
"Justru aku yang harus bertanya!" balas Gaara sedikit tidak sabar karena pertanyaan yang dia utarakan malah dikembalikan.
"Apa yang kau maksudkan Kohai! Ini adalah tempatku!" balas Sasori sembari menggaruk garuk kepala.
"Err..?"
.
.
"Selamat datang di Akatsuki!"
.
~I WILL DO WHAT I WANT~
.
Sasori kini tengah berbincang bincang ringan dengan Gaara di dalam sebuah ruangan. Tak jauh dari tempat mereka berdua duduk. Naruto, Shikamaru dan Sasuke juga ikut duduk untuk mendengarkan. Ya, mereka baru saja diseret ke sebuah ruangan di lantai 2.
"Err.. Jadi toko ini milikmu?" tanya Gaara.
"Yup! Lebih tepatnya Ini adalah cabang toko miliki Kami."
"Tapi bukannya kau sekarang bekerja paruh waktu di sebuah restoran?" tanya Gaara.
"Hm. Kau benar."
"..." Entah kenapa Gaara merasa dia sedang dipermainkan. Kalau Sasori mempunyai sebuah toko seperti ini. Lalu untuk apa dia bekerja paruh waktu?
"Kau mempermainkanku." ucap Gaara yakin.
"Hahahaha.." Sasori malah tertawa melihat pandangan Gaara yang seakan tidak percaya. ".. Aku serius."
Bukannya Gaara tidak percaya atau apa. Gaara memang percaya kalau seniornya ini bisa saja sudah sukses. Mengingat dia semenjak SMP memiliki pandangan yang visioner. Namun Gaara kadang tidak mengerti apa yang dipikirkan pemuda yang sempat jatuh cinta dengan Kakaknya ini. Kakak Gaara maksudnya.
Ya. Gaara ingin sekali mendengar cerita dari Sasori semenjak mereka sudah tidak bertemu semenjak Sasori lulus SMP. Namun Gaara sedang dalam misi.
.
'Oi.. Sasuke.." Bisik Naruto kepada Sasuke. Mengabaikan percakapan Gaara dan Sasori untuk sejenak.
'Hn?' Sahut Sasuke enteng.
'Apa kau sadar kalau sepertinya Gaara sudah terlalu terbawa suasana?' tanya Naruto tidak jelas.
Sasuke yang memang kadang tidak mengerti kosakata yang dikatakan Naruto, tentu balik bertanya.
'Maksud?'
'Kau tau kan. Kenapa juga kita harus mengikuti perkataan Matsuri untuk mencari barang barang aneh?' tanya Naruto lagi. Dengan sedikit maksud protes.
Sasuke mengernyitkan dahi. Ya, Naruto benar di beberapa poin. Kenapa kita harus susah susah mencari barang barang yang 'katanya' digunakan untuk properti? bukankah hal seperti pedang dan topeng bisa dibuat sendiri? menggunakan barang barang yang mudah dan aman tentunya.
"..." Sasuke hanya diam. Membenarkan dalam hati apa yang disampaikan Naruto.
'Kalau diingat. Gadis itu sangat berbahaya saat dia memegang seutas tali. Coba bayangkan apa yang bisa dia lakukan dengan sebilah pedang. Kau memang mau kalau kepalamu putus dari lehermu?'
"..." Sasuke masih senantiasa diam mendengarkan apa yang Naruto katakan. Memayangkannya saja tidak berani.
Yah namun itu tidak mungkin. Walau bagaimanapun, kelakuan seorang gadis.. ehem.. kawai.. ehem.. pasti ada batasnya. Berbanding terbalik dengan imajinasi Naruto yang kelewat batas.
.
'Aku bahkan sekarang merasa bahwa dia sedang berdiri di belakangku dan siap menerkam.' ucap Naruto lagi.
Sebelum tiba tiba terdengar suara yang datang dari belakang tempat ia duduk.
.
.
"Naruto? Sasuke?!"
Sreet!
Naruto yang tengah bercerita horror pun terkaget karena barusaja dia mengatakan ada yang di belakangnya. Menjadi kenyataan. Dia reflek berdiri.
Namun yang paling terkejut diantara mereka adalah Sasuke. Terkejut atas sosok yang sangat ia kenali betul.
.
"I-Itachi?"
.
.
Skip
"Hahahaha... Jadi kau harus memasak sendiri? hahahaha.." Itachi tidak bisa berhenti tertawa mendengar pengakuan tiga pemuda yang kini tengah ada di depannya. Dia sedari tadi mentertawakan kisah adiknya sendiri.
Ya, Sial bagi Sasuke karena tertawa itachi tidak menyelesaikan apapun. Jujur, Rasa rindu yang tadi sempat muncul hilang seketika karena tertawa itachi yang seakang mengejek kesialannya.
"Siapa yang menyuruhmu tertawa bodoh?" ucap Sasuke pada akhirnya karena melihat itachi malah semakin menjadi jadi.
"Hahahaha.. Maaf.. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini dalam hidupku." ucap itachi membela diri.
Sudah berminggu minggu semenjak dia terakhir kali melihat Sasuke. Dan ingin rasanya dia memeluknya erat. Namun ia kurungkan niatnya. Itachi sedikit senang karena raut sombong yang tersirat di muka Sasuke kini hilang dan berganti raut yang sedikit cerah. Sepertinya sikap Sasuke sedikit banyak telah berubah.
Mungkin ini juga mengakhiri peran Itachi untuk selalu melindungi Sasuke. Ya, seperti dulu. Dimana Sasuke pernah mengamuk di sebuah cafe hanya karena Sasuke diberi kue yang terlalu manis. Dan hampir saja berakhir salah satu pegawai perempuan disitu dipecat oleh manajernya kalau Itachi tidak segera meminta maaf dan membayar ganti rugi atas beberapa barang yang dipecahkan adik bungsunya ini.
Ada lagi hari dimana saat Sasuke memukuli seorang pemuda karena dengan sengaja memecahkan kaca mobilnya. Lagi lagi itachi yang harus mengurus masalah ini ke polisi dan menanggung segala biaya perawatan pemuda itu.
ya, mengingat Sasuke dulu Sangat pintar mencari musuh. Itachi hanya berharap Sasuke sekarang setidaknya belajar mencari teman. selain Naruto dan Shikamaru tentunya.
Sasuke hanya memutar bola mata.
"Jadi? Apa yang kau lakukan di Okinawa. Baka Aniki?" tanya Sasuke to the point. Mencoba mengalihkan pembicaraan yang memalukan dirinya.
.
Belum sempat Itachi menjawab. Sasori keburu menjawab pertanyaan Sasuke.
"Anggota akatsuki ada pertemuan lusa. Membahas perihal Bisnis." ucap Sasori.
Sasuke hanya melirik Sasori dari ujung matanya. Ia lalu kembali menatap Itachi.
.
"Errr.. Lalu Bagaimana keadaan Okaa-san?" tanya Sasuke basa-basi.
"Hm.. Dia sehat.." jawab Itachi. Entah kenapa dia senang sekali menatap Sasuke sekarang. sikapnya yang sedikit dewasa entah kenapa membuat Itachi sangat bangga menjadi kakak.
Sasuke sedikit menyadari tatapan aneh itachi kepadanya.
"..Baguslah.."
"Tapi dia kadang sering mengeluh merindukanmu.." ucap Itachi lagi.
Oke, Itachi memang kadang terlalu blak blakan. Terang saja perkataan itu membuat muka Sasuke memerah.
'Bodoh!'
Naruto dan Shikamaru hanya menatap Sasuke biasa. 'Sudah ku duga kau anak mami' Batin mereka kepada Sasuke. Ya, sepertinya memang bukan hanya Naruto yang mempunyai ibu overprotektif.
..
"Oh benar.. Sebenarnya kenapa kalian bisa sampai ke tempat ini?" tanya Sasori kepada keempat pemuda itu.
"Err.. Sebenarnya kami mencari sesuatu." Gaara menjawab pertanyaan Sasori mewakili teman temannya.
"Sesuatu eh? Apa itu?" Sasori bertanya lagi.
"Errr.."
"Hahaha.. Katakan Saja Gaara.. Aku akan membantu sebisaku.. Apapun untuk teman lama." ucap Sasori menepuk pundak Gaara.
.
Gaara menatap Sasori ragu. Sebelum dia mengatakan apa hal yang dia butuhkan.
"Err.. kami butuh beberapa barang.."
"..."
.
~I WILL DO WHAT I WANT~
.
Entah darimana Sasori mendapatkan benda ini. Namun setelah melihatnya beberapa kali Gaara sangat yakin kalau ini adalah pedang asli.
"Err.. Sasori-san?.." tanya Gaara saat dia memegang katana hitam bermotif merah.
"Yasufusa, Murasame, Yubashiri dan Maken Kurikara." ucap Sasori senang.
"Err.. ya.. apaan?" tanya Naruto mencoba mengulangi nama nama pedang yang dikatakan Sasori barusan.
"Ini pedang asli?" tanya Shikamaru saat dia menyentuh Murasame.
"Yup." balas Sasori tanpa dosa.
Para pemuda itu diam.
.
"Kalau kau mau ambil saja." lanjutnya.
"Hah?"
Dengkulmu. Kau pikir kita ini samurai di jaman edo?
"Hahahahahaha.." Sasori malah tertawa.
"..."
"Itu tidak berbahaya kok." lanjut Sasori lagi.
keempat pemuda itu tentu menatap Sasori heran. Tidak berbahaya apanya? sekarang Sasuke benar benar yakin kalau Akatsuki memang kumpulan orang gila.
Sasori mengangkat Maken Kurikara dengan tangan kirinya. Dia lalu menariknya dari sarung pedangnya.
"Ini sudah tumpul kalian tau? Kemungkinan usianya sudah lebih dari 200 tahun." ucap Sasori. menunjukkan mata pedang yang sedikit tebal.
"200 tahun?" Tanya Naruto.
Sasori mengangguk.
Wah! Berarti ini peninggalan bersejarah!
keempat pemuda itu mendekat. Oh, benar! Mereka berempat tidak menyadarinya karena memang pedang itu sangat mengkilat. Ketiga pedang yang lain juga terlihat sama. Sepertinya, pedang ini dirawat dengan baik meski tidak pernah diasah lagi.
"Sudah! Bawa saja! Hmm! Aku yakin kalian lebih membutuhkannya." ucap Deidara yang sedari tadi sudah ada di situ. Ya, tau dari mana dia kalau mereka membutuhkannya?
"Kau yakin?" tanya Gaara memastikan.
"Pfft Kami tidak butuk benda seperti itu.. Tugas kami hanya berbisnis! Hmm." Lanjut Deidara. Tentu saja yang dia maksud adalah Akatsuki-Corp.
Namun Gaara masih tidak yakin.
"Tapi ini benda bersejarah kau tau?"
"Eh, Mau benda dari jaman sengoku kek.. dari jaman majapahit kek.. Bodo amat.. Kalau kalian mau, ambil saja.. kalau tak mau, jual saja ke museum dan uangnya menjadi milik kalian.. kami hanya berniat membantu Hmm!" jelas Deidara. Diikuti oleh anggukan Sasori.
"Uh." Walaupun tidak yakin, namun Gaara akhirnya mengangguk dan mengambil salah satu pedang itu.
Deidara lalu melirik Sasuke.
"Eh Kau!" Tuding Deidara kepada Sasuke.
"..."
"Un. Sudah kuduga aku mengenalimu saat pertama kali melihat." ucap Deidara.
"Huh?" Apalagi yang si pirang ini katakan sekarang.
"Hm Hm.. Aku pernah melihatmu saat kau masih SMP dulu. Aku tidak menyangka bisa bertemu adik Itachi di klub malam itu, Hmm!" ucap Deidara.
"Kau pergi ke klub malam?!" tanya Itachi tidak percaya.
"Err,," Sasuke tidak tau harus bilang apa.
.
Itachi tanpa disangka malah mendekati Sasuke.
"K-Kenapa? O-Oi" Sasuke mundur beberapa langkah saat Itachi mendekatinya.
Tangan Itachi menjulur ke wajah Sasuke. Karena Sasuke tidak sempat mundur lagi. Dia hanya memejamkan mata. Bersiap menerima tamparan dari Itachi.
Setidaknya itu yang ia pikirkan..
PUK!
"Huh?" Sasuke membuka mata karena tamparan yang ia nanti tak kunjung datang. dan malah merasakan tangan Itachi mengusek rambutnya.
.
.
"Kau sudah tumbuh dewasa Baka Otouto." ucap Itachi.
"..."
.
.
.
Setelah melewati berbagai macam basa basi, Keempat pemuda tadi kini sudah berada di jalan perkampungan Shinobi. lagi. Ya. Di tangan mereka masing masing kini telah terdapat sebilah pedang yang diberikan secara dermawan oleh orang orang Akatsuki itu.
Ya, setidaknya satu tugas mereka slesai. Satu slesai. Dua lagi.
"Huh. Sialan memang si pirang panjang itu." ucap Naruto memecah keheningan. Dia sedari tadi memutar mutar pedangnya sepanjang jalan. Membuat Ibu ibu yang tengah pulang dari berblanja harus memeluk anaknya erat karena tingah Naruto yang bisa membahayakan pejalan kaki.
"..." Ketiga pemuda yang lain memilih diam dan mendengarkan Naruto mengoceh.
"Bagaimana dia bisa bersikap biasa saja setelah dia memberi kita petasan dan membuat kita tertangka polisi." ucap Naruto lagi. Dia kembali menyarungkan pedangnya dan berjalan mendahului Sasuke, Shikamaru dan Gaara. Dia berjalan mundur menghadap ketiga temannya.
Gaara mengernyitkan dahi.
"Kalian ditangkap polisi?" tanyanya. Gaara memang tidak tau apa apa soal itu.
"Sudahlah, jangan dibahas" potong Sasuke.
Gaara memang melihat anak anak ini terlibat masalah kemarin-kemarin. Namun sepertinya, Masalah yang mereka dapat bukan hanya datang dari Ibiki-sensei.
.
Karena Naruto yang berjalan mundur. Dia bahkan tidak sadar saat dia menabrak seseorang.
BRUKH!
"Adaww.."
"Oi-kalau jalan lihat liha-" Naruto berniat protes, Namun kata-katanya tidak pernah slesai.
Ia sibuk menatap tak percaya dengan siapa yang dia lihat.
DEG!
.
Entah dia dibohongi oleh penglihataanya.
.
Atau memang takdir yang terlalu jujur.
.
Shikamaru dan Sasuke tentu juga menatap tidak percaya siapa yang ada di hadapannya sekarang. Ya, sudah lama semenjak mereka melihatnya..
surai biru tua.
Mata lavender.
Dan, Sportbra-Tunggu dulu..
Err.. Dia memang sedikit berbeda. Namun mereka tau. Perasaan nostalgia yang tidak asing ini.
"..K-kau.."
.
.
.
.
"...Hyuuga?!"
.
.
Before TBC
.
Sasori, Itachi dan Deidara menatap senang pintu yang barusaja dilewati oleh empat orang pemuda. Ya, pengunjung Special mereka hari ini.
Mereka diam beberapa saat sebelum Deidara memecah keheningan.
.
"Huh! Aku senang Pedang itu sudah tidak di sini lagi. Hmm!" ucap Deidara.
Itachi mengernyitkan dahi mendengar apa yang barusaja dikatakan Deidara.
"Huh? Apa maksudnya?.. Ada apa dengan pedang itu?" tanya Itachi. ya, Ada apa dengan pedang itu.
Dedara hanya mengangkat bahu. Tanda dia tidak mau menjelaskan. Itachi tentu menatap Sasori kemudian.
"Err.." Sasori yang dimintai penjelasan hanya menggaruk garuk pipinya yang tidak gatal. Dan pura pura tersenyum.
"Sebenarnya.. Pein menyuruh Aku dan Deidara menyingkirkan pedang terkutuk itu." ucap Sasori memberikan penjelasan.
Itachi masih tidak mengerti. Melihat muka kikuk itachi. Deidara segera menambahkan.
"Hmm.. Apa kau tau tentang barang antik yang selalu menganggu Pein saat dia tidur?" ucap Deidara.
Itachi mencoba mengingat. Kalau tidak salah. Pein pernah bercerita tentang barang pemberian orang yang selalu bergemricing saat malam hari. Dan menganggunya sewaktu tidur. Ya, barang yang pernah 'Katanya' dicoba dilakukan ritual pengusir setan oleh Hidan.
"Itu?.."
"Yup." Sasori mengiyakan isyarat tangan Itachi.
.
"Lalu kenapa kau memberikan pedang berhantu kepada adikku?!" tanya Itachi tegas.
Deidara hanya menghela nafas.
"Memang kau percaya dengan hantu?"
"Hah?" Serius, Kenapa bicara Deidara terasa berputar putar.
Sasori mengangguk tanda setuju dengan Deidara.
"Kami hanya menjalankan perintah Pein untuk menyingkirkan pedang itu. itu saja." kata Sasori lagi.
"Hm.. Benar un! Kau tidak tau kan rasanya di terror lewat Telpon, SMS, facebuk, We-A. Twiitter, Be-Be-M, Bahkan E-ma'il setiap hari!.. Dimana Pain terus menanyakan pertanyaan yang sama.. Sudah kau singkirkan pedang itu belum?" lanjut Deidara mencurahkan keluh kesahnya.
Ya, ketua mereka memang sangat disiplin. Bila diberi tugas. Mereka harus menyelesaikannya secara tuntas kalau tidak, ya itu yang akan terjadi.
.
"Pikir positifnya saja Itachi! tidak ada yang namanya hantu!" lanjut Sasori meyakinkan.
"Benar un! Kita kan hanya berusaha membantu para pemuda lugu itu! Hmm!" tambah Deidara.
.
"..." Itachi hanya diam. Dia tidak tau harus berbuat apa.
Sasori yang melihat Itachi malah murung segera melanjutkan lagi.
.
.
"Aku yakin.. Gaara pasti bisa menyelesaikan. apabila ada masalah."
.
.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
TBC
xxxxxxxxxx
Author Note(s) : Dudududu~ Hanzama Is back~ Wokeh. Saya sedikit senang dengan ending nggantung ini. #Dibacok.
Hm Hm,, bingung harus menambahkan apa. Oh, benar..
mungkin masalah penggunaan huruf kapital ya?.. Karena banyak yang membahas perihal ini di review chapter lalu.. sedikit penjelasan.
Jujur saja.. sebenarnya saya semenjak chapter 1 melakukan pengetikan menggunakan wordpad. berbeda dengan microsoft word yang bisa otomatis melakukan kapitalisasi setelah tanda titik. Word pad harus dilakukan secara manual semua. jadi maaf saja kalau ada beberapa kata yang terlewat.
ya itu karena Ms Office saya diserang virus, jadi gak bisa jalan lagi.. #nangis.
..
yup.. mungkin ada yang mau memberi ide latar belakang Hinata.. berdasarkan chapter ini?
ya, mumet saya akan bertambah 2x lipat dari sekarang,,
..
need help maybe?
but.. lets see what i can do..
.
Spoiler - Nama pedang :
Maken Kurikara © Kazue Kato
Yasufusa, Murasame © Takahiro
Yubashiri© Eiichiro Oda
.
okesip thanks udah baca.
Salam hangat dari Hanzama. Semoga reader sukses selalu!
REVIEW
v
v
