xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

Sebelum membaca : Saya peringatkan dulu. Chapter ini tidak ada humor. Saya tidak yakin bagus atau tidaknya chapter ini. Mengingat setelah humor panjang, chapter serius nya malah jadi seperti ini. Yap saya sadar. Chapter ini memang harus diadakan. karena ini penting.

Dan saya turut berduka disini. Semoga para reader dapat menerima feel yang coba saya sampaikan.

.

Chapter 31 : Gadis

Gadis bersurai biru tua ini berjalan santai menyusuri bandara Okinawa. Di depannya, Sang sepupu sudah terlebih dahulu berjalan untuk segera keluar bandara dan melihat keadaan jalan di Okinawa.

Entah kenapa dia bisa-bisanya mengikuti perkataan sepupunya ini dan berakhir di Okinawa.

"Tsk." umpatnya saat sepupunya tersandung pot bunga milik bandara. Tidak berniat menolong dia malah tetap berjalan santai.

Bahkan dengan santainya dia mengabaikan tatapan mata stereo yang sedari tadi melihatnya. Salahkan saja dirinya yang berjalan santai memakai hotpants dan sportbra. Dan hanya ditutupi oleh jaket ungu kesayangannya.

Drrt Drrrt Drrt.

Mendengar Handphone nya yang bergetar dia pun menghentikan langkahnya.

'Halo?'

"Hm? Ada-apa Neji-Nii?"

'Ya ampun Hinata-sama! kenapa kau belum sampai di konoha! 3 hari lagi kau harus sudah bersekolah!'

"Tsk. Berisik sekali kau Neji-Nii! Aku sedang menemani Menma di Okinawa." ucap Gadis itu risih. Heran, kenapa semenjak tadi banyak sekali panggilan yang harus dia angkat. Mereka pikir aku customer Service apa?

'Kenapa kau malah ada di Okinawa? Kau harus segera ke konoha!'

"Iya Bawel! Aku pulang Besok!"

'A-Ap-'

Tuut Tuut Tuut

Sambungan diputus.

Gadis itu menghela nafas dalam. Lalu melanjutkan langkahnya. Ya. Ini adalah pertama kali dia menginjakkan kaki di jepang semenjak kejadian itu.

Hampir 2 tahun dia pindah ke Moskow. Dan semenjak saat itu dia bersumpah.

.

.

Hinata Hyuuga yang lemah telah mati.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

I Will Do What I Want © Hazama

Yangre : Friendship, Family, Humor

Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Etc.

Pairing : Hm.. Lets See..

.

"H-Hyuuga?"

"K-Kau!"

Naruto menatap tidak percaya dengan orang yang ada di depannya. Sudah semenjak lulus SMP dia tidak melihat gadis ini. Dan sekarang dia tepat berada di hadapannya. Namun dia seperti orang lain.

Sedangkan sang gadis. Juga menatap tak percaya orang yang ada di depannya. Entah sial atau beruntung dia melihat orang ini lagi.

.

-Flashback-

Hinata Diary.

3 Desember.

Aku melihatnya lagi hari ini. Duduk dari kursi yang sama. Si keren itu, Sedang bermain basket.

"OI APA YANG KAU LAKUKAN SASUKE IDIOT?!" Teriak remaja berambut kuning yang tengah teriak teriak di tengah lapangan basket. Memarahi temannya yang membiarkan bola nya lolos.

"Cih."

Pertandingan semifinal antara SMP Myobokuzan dan SMP Teiko. Yang dislenggarakan dalam rangka kompetisi musim dingin antar sekolah menengah pertama. SMP Myobokuzan memang dikenal sebagai kambing hitam dalam kompetisi ini. Karena sudah lebih dari 3 tahun mereka membayang bayangi Teiko yang selalu menjadi juara. Banyak yang bilang kalau ini hanya masalah waktu sebelum tirani kerajaan Teiko runtuh.

Yah, Dan cerita seorang pemuda berambut kuning yang berambisi merebut piala tahun ini. Ini adalah tahun terakhirnya di SMP. Dia akan menang apapun yang terjadi.

Namun.

Priiiiittt Priiiitt

Pertandingan berakhir.

72 - 16 untuk kemenangan Teiko.

"ARGGGHHHH!" Teriak pemuda berambut kuning itu.

.

Sebanyak apapun kau kalah. Aku selalu mendukungmu.

"SIAL! Sudah kuduga Tembakan tiga angka si rambut hijau itu sangat tidak menguntungkan kita!" ucap Naruto. Dia memukul lantai berkali kali meluapkan kekalahannya.

.

.

SKIP

Hinata kini tengah berdiri di ujung lorong. Sudah sekiranya 15 menit dia berdiri disana. Menunggu seorang yang tidak kunjung datang. Ya, layaknya gadis nekat yang bersedia menunggu dan berdiri selamanya.

Di tangannya. Dia pegang sapu tangan merah muda yang dia rajut sendiri. Dia berniat menyerahkannya kepada seseorang.

Tak lama sosok yang dia tunggu datang. Masih dengan seragam basket yang sama. Yang dia pakai untuk bertanding beberapa menit yang lalu. Dengan keringat bercucuran. Dia membuka minuman kaleng yang ia pegang lalu membukannya. Berjalan di lorong dengan santai.

Dengan melihatnya saja. Jantung Hinata sudah berdetak tak karuan. Sudah sangat lama dia memandam perasaan ini.

Setidaknya..

Setidaknya..

Untuk kali ini saja..

.

Biarkan dia memberi sapu tangan ini.

Ya, hanya sapu tangan..

setidaknya..

.

"N-Naruto-kun!" Ucap Gadis itu sedikit keras. Mencegat sang pemuda yang tengah berjalan.

"Huh?!" Sang pemuda itu berhenti. Raut emosi masih sedikit terlihat di wajahnya yang penuh keringat. Ya, wajar saja. Tim nya dipermalukan hari ini.

Hinata tidak berkata apa-apa. Dia hanya menyodorkan sapu tangan berwarna pink itu dengan wajah menunduk.

Naruto menatap gadis di depannya heran. Dia diam beberapa saat. Naruto tidak bisa melihat wajah gadis ini karena dia menunduk. Namun dia akhirnya menerima sapu tangan itu dan mengucapkan.

"Hm. Terima kasih."

Ya, Dialog pertama yang diucapkan Naruto kepada gadis itu. Sangat pertama. Bahkan hanya dua kata itu yang pernah dia ucapkan kepada gadis itu selama ini. Tiga kalau 'Hm' dihitung.

.

A-Aku berhasil! Dia mengakui keberadaanku!

.

"Oi Naruto! Ayo cepat atau kau akan tertinggal bus!" Ucap seorang yang berlari dari belakang Naruto. Menepuk pundaknya dan berlalu.

"Oi tunggu Teme!" teriak Naruto sebelum dia mengikuti temannya dan meninggalkan Hinata sendiri.

.

.

Kenyataan.

"Hn? Apa itu dobe?" tanya Sasuke saat Naruto memegang kain berwarna pink. Sasuke duduk di bangku bus di samping Naruto.

"Hii~ Naruto mencuri celana dalam cewek!" ucap Seorang lain yang ada di bus yang sama.

"Kau pikir aku pencuri Huh?!" teriak Naruto tidak terima.

"Hahaha.. lalu apa yang kau lakukan dengan kancut pink itu?" teriak anak itu lagi.

"Tsk! Ini bukan punyaku tau!" balas Naruto.

"Hahahahahaha..." Mereka malah mentertawakan Naruto.

Yah, tim yang sama yang dibantai habis oleh Teiko beberapa jam yang lalu. Sepertinya cepat melupakan kekalahan.

.

"Cih."

Naruto yang merasa menjadi obyek tertawaan hanya mendecih lalu membuka jendela. Dia tanpa rasa bersalah melempar sapu tangan itu keluar jendela.

Sakit.

.

.

1 Januari.

Hm, Tahun baru. Tahun terakhirku di SMP sepertinya? Aku berharap aku bisa masuk ke SMA yang sama dengan-Nya setelah kelulusan.

Hinata kini tengah duduk di kantin dengan santai. Dia hanya menikmati istirahatnya dengan menulis buku harian. Sembar ditemani secangkir Latte dan sepotong Fruitcake yang dia pesan dari pantry.

"Oi Hinata!" Teriak seseorang tepat di depan Hinata. Ah! Hampir saja jantungnya copot!

"J-Jangan mengagetkanku Tayuya-san!" ucap Hinata sedikit marah.

"Hahaha... Maaf, Aku hanya tidak terbiasa melihatmu sewaktu jam istirahat di kantin. Biasanya kau ada di perpustakaan kan?" tanya Tayuya bingung.

Namun Hinata hanya tersenyum dan menggaruk pipinya yang tidak gatal.

"Hehe.."

Tayuya yang tidak puas dengan jawaban Hinata hanya mendecih. Dengan seenaknya dia mengambil latte hinata dan menyeruputnya. Saat dia melihat diary Hinata. Muncul ide jahil.

Srek!

Tayuya dengan seenaknya mengambil buku diary Hinata. dan membacanya keras.

"A-?!" Hinata yang kaget mencoba mengambil buku itu kembali.

"Hm Hm.. coba kita lihat.. Tahun terakhirku di SMP sepertinya? Aku berharap aku bisa masuk ke SMA yang sama dengan-Nya.. Err" Tayuya tidak melanjutkan perkataannya.

"..."

"YA AMPUN HINATA! KAU MASIH BELUM MENGUTARAKANNYA!" Teriak Tayuya heboh. Membuat Hinata harus membungkam mulut ember gadis ini dengan tangan kirinya.

Hampir saja mereka berdua menjadi sorotan mata seluruh menghuni kantin.

.

Oh Tuhan! Gadis ini pasti sudah gila kalau dia berniat membeberkannya di depan umum!

.

"Hmppp..Pfwah.. Hah..hah"

"..."

"Huh! Kau tau! Bukankah kau bilang kalau kau mencintainya sampai mati!" ucap Tayuya. Mencoba menceramahi Hinata.

"A-Aku tidak bilang begitu!" bantah Hinata karena Tayuya melebih lebihkan.

Tayuya hanya memutar bola mata.

"Kau! kau bilang kau mencintainya! Semenjak kelas 1 kau satu kelas dengan Naruto! tapi kau bahkan tidak berani menyapanya saat bertemu! aku heran sebenarnya cinta apa yang kau punya!" ucap Tayuya emosi.

"..." Hinata hanya diam. Terlalu sering dia diceramahi oleh temannya ini kalau masalah percintaan.

"Bahkan level cinta monyet pun belum sampai!" lanjut Tayuya masih dengan nada menggurui.

"U-Urusai!"

Hinata yang muak pun membereskan barang barangnya dan pergi dari situ.

Tayuya hanya menghela nafas. Huh, Sekian kali dalam hidupnya Hinata lari kalau diceramahi.

.

T-Tayuya-san bodoh! Apanya yang cinta monyet. Baka baka!

.

13 Februari

Hm, Aku bangun sangat pagi hari ini. Aku menghabiskan waktu berputar putar supermarket kemarin untuk membeli bahan membuat coklat. Aku harap Dia akan menyukai coklat yang aku buat.

Hinata berjalan santai di sepanjang lorong. Di tangannya kini telah dia pegang sekotak coklat yang dia buat sendiri. Ya, dia sengaja datang lebih awal dari siapapun karena dia ingin memberikan coklat ini kepada seseorang.

Sreeeek! Pintu kelas dibuka. Kepalanya mendongak ke dalam kelas.

Saat dia memastikan kalau dialah yang datang paling awal. Dia segera masuk.

Tap

Tap

Tap.

Dia melangkah ke bangku paling belakang untuk menuju bangku sang Pangeran nya. Dia menimang apa yang akan dia lakukan untuk beberapa saat.

Entah kenapa jantungnya selalu berdetak kencang saat dia melakukan hal yang berhubungan dengan Naruto.

Terlalu lama dia berdiri mematung sebelum akhirnya ada orang lain yang membuka pintu.

SREEEK!

Hinata yang kaget pun akhirnya tanpa pikir panjang menyorokkan sekotak coklat itu ke laci meja Naruto.

.

Sasuke yang berpikir kalau dia datang paling awal hanya terkejut melihat orang yang datang lebih awal darinya.

Hinata yang merasa ditatap hanya diam mematung tidak bergerak. Takut takut kalau pemuda di ambang pintu tau apa yang dia lakukan.

"Hn.. selamat pagi... Err.. Hyuuga?" ucap Sasuke kepada Hinata. Hinata yang mukannya semerah buah apel hanya bergumam dan berjalan menunduk keluar kelas.

Entah kenapa kepalaku pusing. Aku lalu ke UKS setelah itu. Fyuh! Hampir saja tadi!

.

.

Kenyataan.

Naruto duduk di bangkunya dengan malas hari ini. Yah, semenjak kemarin. Giginya sakit. bahkan untuk makan saja susah.

Sebenarnya dia berniat tidak berangkat hari ini. Namun Ibunya memaksanya berangkat dengan alasan 'Lelaki jantan tidak akan mati karena sakit gigi.'

Sial memang.

Naruto hanya membenamkan wajahnya di mejanya sendiri. Suasana kelas yang bising membuat Naruto semakin terganggu.

Saat dia merogoh lacinya. Dia merasakan benda kotak yang tertangkap indera perabanya.

.
"Huh?"

Naruto menarik kotak itu keluar.

"Coklat?" tanya Naruto kepada dirinya sendiri.

Naruto menatap kotak itu beberapa saat sebelum dia mendecih.

"Cih."

Dia lalu menutupnya kembali. Orang macam apa yang memberi orang sakit gigi sekotak coklat? Batin Naruto jengkel.

"Hoo? Kau punya makanan enak nih?" ucap seorang teman yang melihat Naruto memegangu sekotak coklat.

Naruto pun tanpa pikir panjang memberikan coklat itu kepadanya.

"Ambil saja. aku tidak butuh."

"He? Beneran?!"

"Hn." Balas Naruto.

Detik berikutnya. dia sudah membenamkan kepalanya lagi di meja dan jatuh tertidur.

.

.

11 Juni (Satu Minggu Sebelum Wisuda)

Ah satu minggu lagi kah? Akhirnya aku akan menjadi murid SMA! aku sudah tidak sabar!

"Nee.. Nee-chan.." ucap Seorang gadis kecil kepada kakak yang rambutnya kini tengah dia sisir.

"Hum?" Sang kakak yang tengah makan es krim sembari disisir adiknya hanya menyahut dan masih berkutat dengan es krim nya.

"Kakak benar tidak akan sekolah ke-luar negri kan?" tanya sang adik memastikan.

"Apa maksudmu Hanabi? tentu saja tidak!" ucap Sang kakak meyakinkan adikknya.

Sang adik menghentikan kegiatannya dan menatap punggung kakaknya.

"Habisnya. Otou-chan bilang kalau beliau merekomendasikanmu bersekolah di Eropa." ucap Hanabi kecil. Tersirat nada sedih yang sangat mendalam.

Tanpa sadar dia menangis.

Hinata lalu menoleh ke Hanabi.

"Aku akan bersekolah di jepang kok!" ucap Hinata tegas.

"H-hiks..B-benarkah?" tanya Hanabi. Dia menyeka air matanya.

Hinata lalu memeluk adiknya.

"Tentu."

Hanabi membalas pelukan kakaknya dengan erat. Ya, dia belum siap kalau disuruh berpisah dengan kakak kesayangannya.

"Hiks.. lalu? K-kakak mau bersekolah di mana?" tanya Hanabi.

Ah! Entah kenapa muka Hinata memerah kalau ditanya perihal itu. Ya, karena dia berniat bersekolah di sana karena, Pemuda itu juga akan disana.

.

.

"Umm.. Uzushio Gakuen."

Ya, Untuk bersama-sama dengannya! selamanya!

.

.

.

18 Juni - Hari kelulusan.

Hari ini adalah harinya! Aku harus mengatakannya! Hari ini!

Hinata bangun lebih bagi dari biasanya hari ini. Ya, karena ini adalah hari kelulusan. Padahal wisuda akan dimulai jam 11 siang. Namun bahkan jam 5 pagi Hinata sudah mandi. Wah! rajin sekali!

'A-aku harus mengatakannya hari ini!'

Batin Hinata tegas. Ya, dia sedari tadi hanya mondar mandir di depan kalender. Dia tak henti hentinya menatap tanggal hari ini. Tanggal yang ia lingkari.

Sebenarnya. Dia berniat menyatakan cintanya kepada Naruto hari ini. Ya, terkadang memang perasaan harus dikatakan daripada di tahan.

.

-06.30-

"Hm? Hinata." ujar sang ayah saat melihat putri sulungnya melamuni makanan yang ada di hadapannya.

"!..A-Ada apa Tou-sama?!" ucap Hinata kaget.

Hiashi Hyuuga yang melihat tingkah aneh putrinya tidak berniat menanyakan lebih jauh. Mungkin dia hanya gugup perihal wisuda.

Ya, kesimpulan standar seorang ayah.

"Hinata.. Apa kau yakin tidak mau bersekolah ke luar negri?" tanya Hiashi. Mencoba melakukan percakapan untuk membuat putrinya sedikit santai.

Hanabi yang ada di sana juga ikut mendengarkan.

"T-Tidak! A-Aku suka bersekolah di jepang!" jawab Hinata. Masih dengan nada gugup.

Yah, Bahkan untuk seorang Hiashi Hyuuga pun. Mempengaruhi putrinya pun terasa sangat sulit.

"Baiklah."

Namun Hiashi tidak ambil pusing.

.

.

-09.15-

Hinata kini tengah berdiam di gerbang sekolah sendirian. Bahkan ini terlalu pagi baginya. Mengingat belum ada siswa yang datang di jam segini.

Namun hanya menunggu di rumah malah membuat detak jantungnya tak karuan. Dia sudah memutuskan! akan menyatakan cintanya hari ini!

Dia hanya berdiam di gerbang kurang lebih 45 menit. Bahkan toga nya pun sudah hampir basah karena keringatnya sendiri. Mengingat ini adalah hari yang cukup panas.

Ya, 45 menit adalah waktu yang cukup untuk menunggu hampir 70 persen peserta wisuda untuk datang. Bahkan Sasuke dan Shikamaru yang biasanya bersama Naruto pun kini sudah duduk santai dan mengobrol di pekarangan Myobokuzan.

waktu hampir saja genap 60 menit Hinata menunggu sebelum mobil limosin milik keluarga Namikaze memasuki pekarangan Myobokuzan.

Hinata tentu mengenali limosin ini. Karena Minato-sama menggunakannya untuk Kampanye beberapa minggu yang lalu. Ya, Hinata dengar Minato Namikaze-sama akan menyalon menjadi walikota. Minato-sama adalah orang yang baik dan bijaksana. Itu sudah cukup untuk memberi Hinata alasan untuk memilihnya sewaktu pemilu nanti.

limosin itu berhenti sebelum seorang pemuda berambut kuning keluar dari bangku penumpang. Detik berikutnya dia sudah bergabung dengan peserta wisuda lain di lapangan.

.

.

-10.30-

Hinata kini tengah berdiri 2 meter jauhnya dari tempat Naruto berdiri. Kebanyakan para wisudawan sudah masuk ke aula untuk di beri pengarahan. Namun Naruto, Sasuke dan Shikamaru masih berada di luar. Mereka masih ngobrol dan tertawa tertawa. Sepertinya mengenang masa yang akan berlalu.

'Oh T-Tidak! H-Hinata! Beranikan dirimu!'

Yah, Kalau masalah waktu. Ini adalah waktu yang tepat bagi Hinata. 3 tahun dia memendam perasaan ini. dia tidak bisa berlama lama lagi. Mengingat sebentar lagi mereka SMA.

Dan SMA adalah saat akan banyak orang yang kau kenal. Hinata hanya tidak mau Naruto menjadi milik orang lain.

Hinata melangkah mendekati Naruto.

Tap.

'A-Aku harus mengatakannya!'

Tap.

'Kami-sama! Lindungilah aku!'

Tap.

'Oh! G-gawat! Jantungku berdegup kencang!

Tap.

'A-Apa aku menyerah saja?!'

Tap.

'S-sial! Aku harus lari!'

.

.

"N-N-N-N-Naruto-kun!" ucap Hinata tegas.

Membuat Naruto,Sikamaru dan Sasuke menoleh.

"Huh?"

Mereka bertiga menatap Hinata. Hinata hanya menatap gugup ketiga pemuda didepannya ini. Dia tidak punya keberanian untuk mengusir Shikamaru dan Sasuke pergi.

Gawat! Kenapa bibirnya terasa tercekat! Ini aneh! Dia merasa lupa dengan segala kosakata! A-apa yang terjadi?

"Hyuuga?" tanya Sasuke heran. Melihat Hinata hanya mematung dengan muka memerah. Sasuke hanya merasa heran dengan gadis pendiam ini.

Namun Sasuke lebih memilih menunggu apa yang gadis ini katakan.

.

.

"N-N-N-N-Naruto-kun!" ucap Hinata lagi.

Membuat Naruto yang hanya dipanggil namanya menatap gadis yang ada di depannya semakin heran.

"A-A-A-Aku S-S-s-s-udah mengagumimu sejak Kelas 1!" ucap Hinata. Dia hanya asal bicara. Mengatakan kosakata yang terlintas begitu saja di benaknya.

"..."

"A-Aku menyukaimu!"

"..."

Akhirnya Hinata mengatakannya!

Ya, sedikit sulit! Namun Hinata berhasil. 3 tahun dan akhirnya! Aku ikut senang Hinata!

Oh ya! Kalian tau? Jawaban Naruto saat itu, bahkan tidak bisa Hinata lupakan sampai sekarang.

.

.

.

.

"Siapa kau?!" ucap Naruto dengan wajah polos.

.

"Hah?"

DEG!

A-apa yang berusaja terjadi? Naruto tidak tau Hinata? Serius?!

.

.

"A-Apa...APA?!" tanya Hinata memastikan. Suaranya sedikit meninggi.

"Kau satu kelas denganku ya?" tanya Naruto kembali.

"..."

"Maaf, Tapi.. Aku tidak tau siapa kau.."

"BOHONG!" Hinata berteriak kini.

Naruto diam beberapa saat. Sebelum dia ikut membentak.

"Cih! Sudah ku bilang! Aku tidak kenal denganmu!"

Sasuke dan Shikamaru menatap tidak percaya kepada Naruto. Si bodoh ini bercanda saat ada gadis yang menyatakan cinta kepadanya? yang benar saja!

Naruto yang merasa ditatap hanya mengangkat bahu dan bertanya

"Apa lihat lihat?" ucapnya Marah kepada Sasuke dan Shikamaru. Merasa sedikit risih.

Jangan jangan Naruto memang tidak kenal?

Dia tidak mengenali teman sekelasnya sendiri? Apa Naruto ini sudah tidak waras? Dia sekelas denganmu semenjak kelas 1 IDIOT!

Apa otak sahabatnya ini tidak bisa mengingat bahkan untuk semua nama teman sekelasanya sendiri?

Sasuke melirik Hinata. Takut takut kalau dia marah.

.

.

Hening.

.

.

Saat terakhir mereka bertiga melihat Hinata waktu itu adalah saat dia menutupi wajahnya. Dan ia menangis.

.

Dia berlari keluar pekarangan Myobokuzan.

"..."

Naruto hanya menampakkan muka tanpa dosa.

Sasuke yang melihat muka tanpa dosa Naruto. Segera memukulnya keras.

BUAKH!

"O-OI! APA YANG KAU LAKUKAN TEME?!" Teriak Naruto tidak terima.

Namun Sasuke tidak mendengarkan. Dia malah menindih Naruto dan memukulinya bertubi tubi. Naruto yang terlanjur terkunci oleh Sasuke. Hanya mencoba menutupi wajahnya yang sudah memar karena dipukuli.

Muka yang sudah babak belur bahkan tidak menghentikan Sasuke memukuli Naruto. Sasuke terus memukuli Naruto. Seakan keidiotan sahabatnya ini bisa hancur kalau dipukuli terus menerus.

.

Yang mereka bertiga tau, Itu adalah hari terakhir mereka melihat Hyuuga Hinata.

.

Bahkan saat wisuda-

'Dan! Lulusan dengan nilai tertinggi! Peringkat 2 Ujian Nasional se-jepang!.. Hinata Hyuuga!'

ucap guru yang ada di atas mimbar. Meluapkan rasa bangganya. Gadis yang telah berhasil mengalahkan Shikamaru.

Mempersilahkan sang juara sekolah memasuki panggung.

.

.

Namun sebanyak apapun guru itu memanggil.

.

.

.

.

.

Dia tidak pernah datang.

.

.

.

.

Diary.

19 Juni.

Tidak ada yang tersisi kecuali coretan coretan absrak yang mengisi lembaran hari itu.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TBC

xxxxxxxxxx

Author Note(s) : Hola~ Hanzama Is Back! .. Hm, bagaimana ya?.. padahal kemarin mau masuk keseruan Naruto dkk di perkampungan Shinobi. Namun malah di ganggu oleh chapter busug ini. haha.. maaf .. Sebenarnya saya juga males buat flashback. Namun apa daya. Ini penting untuk mendukung cerita.

Bagamana tentang latar belakangnya? ada kekurangan? atau bahkan tidak memenuhi standar?.. akh, saya tau! sebenarnya saya mencoba membuat latar belakang yang tidak terlalu muluk dimana hanya menyertakan sifat Naruto yang tidak peka namun berefek besar bagi Hinata.

..

Oke satu pertanyaan..

Menurut reader? Penggambaran ke-tidak pekaan Naruto sudah..

Success / Fail?

jawab yang jujur di ripiu~

Supaya Hanzama bisa memahami kekurangan Hanzama sendiri.

Kasih koreksi juga boleh..

..

Okesip.. Thanks udah baca~

Salam Hangat dari Hanzama~

Semoga sukses selalu~

REVIEW

V

V

V