chapter 32 : E.N.D
Shikamaru dan Sasuke menatap tidak percaya siapa yang ada di hadapannya sekarang. Ya, sudah lama semenjak mereka melihatnya..
Surai biru tua.
Mata lavender.
Dan, Sportbra-Tunggu dulu..
Err.. Dia memang sedikit berbeda. Namun mereka tau. Perasaan nostalgia yang tidak asing ini.
"..K-kau.."
.
.
.
.
"...Hyuuga?!" ucap Shikamaru dan Sasuke hampir bersamaan.
"K-Kalian?" ucap Hinata tak kalah Shock.
.
Jalanan perkampungan Shinobi yang sempit. Menjadi Saksi pertemuan antara keenam pemuda ini, Err,, maksudku 5 pemuda dan 1 pemudi. Dengan katana terkutuk di tangan empat orang diantara mereka. Mereka tau, Ini adalah nostalgia.
Hinata menatap keempat orang yang ada di depannya kini. Mencoba memastikan kalau ini bukanlah halusinasi.
Ya, jelas saja. Ini di jepang. Dan orang orang itu memang tinggal di jepang. Hinata tidak bisa menyalahkan siapapun.
Yang dia heran, kenapa jepang bisa se-sempit ini.
Tiga diantara mereka terasa tidak asing.
Dan satu diantara tiga itu, yang tengah tersungkur di tanah, Menarik perhatian Hinata.
Sudah lama sejak dia terakhir melihatnya. Namun tetap saja, menatapnya lebih dari 5 detik membuat Hinata sangat bergairah. Wajahnya tidak berubah. Masih tampan seperti biasanya.
Tenang.
Hinata kau harus tenang.
.
Hinata lalu tersenyum manis.
"Hai. Lama tidak berjumpa? Sasuke? Shikamaru dan... Naruto-kun." ucap Hinata manis.
Naruto menatap tidak percaya gadis ini. Dia tau.
Ya, Naruto memang tidak terlalu mengingat gadis ini sewaktu SMP. Karena sifatnya yang pendiam. Namun, hari yang tidak bisa dia lupakan adalah saat Sasuke memukulinya dengan membabi buta gara gara gadis ini. Naruto harus menginap di rumah sakit selama 2 minggu.
"A-Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sasuke. Ya, melihat gadis ini di sini memang membuat Sasuke sedikit shock. Apalagi dengan penampilan.. Err.. Ecchi.
Penampilannya memang berbeda. Namun Sasuke tau. Kalau ini dia. Gadis yang dulu pernah ditolak secara kasar oleh Dobe Naruto. Dan gadis yang membuat persahabatan Naruto dan Sasuke sempat retak-Ah tidak hanya retak. Tapi pecah selama 2 bulan lebih.
Gaara yang tidak tau menau apa yang terjadi hanya mendengarkan.
.
"Oya? Apa yang kau lakukan Hinata?" ucap sebuah suara yang datang dari belakang Hinata. Seseorang mendekat dari jauh.
.
.
"Hah?"
"Naru...to?" ucap Shikamaru, Sasuke dan Gaara saat melihat seorang pemuda berambut hitam yang berdiri di samping Hinata. Mereka menatap Naruto dan pemuda itu bergantian.
Bagai pinang dibelah dua!
Menma menatap empat orang pemuda yang ada di depannya. Masing-masing dari mereka membawa pedang.
Sepertinya Sepupunya ini sedang dalam masalah.
'Apa mereka orang jahat?' Batin Menma.
Kalau para pemuda ini benar- benar orang jahat. Berarti kita harus segera pergi dari sini.
"Apa yang kalian inginkan dari Hinata eh?" tanya Menma. Dia mencoba bertanya.
"..."
Namun keempat pemuda itu hanya diam.
Melihat mereka diam. Menma hanya menghela nafas.
Sepertinya mereka memang orang aneh. Ya, lebih baik menjauhi orang-orang aneh.
Pemuda itu tersenyum sebelum dia menjulurkan lidah kepada Mereka bertiga.
"Kalian,, IDIOT! TOLOL! TIDAK BERGUNA! BAKA BAKA! WEEEKSS!" Teriak pemuda itu. Mencoba mengejek tiga orang yang ada di depannya. Sepertinya dia tidak menghiraukan Naruto yang tengah tersungkur.
"A-Apa..?!"
"O-Oi? Kau ngajak berantem HAH?!" Ucap Gaara. Dia menghunuskan pedangnya. Yah, di depanmu ada pemuda sialan. Beruntung ada pedang di tangan.
"AWWW!" Pemuda berambut hitam itu menyeret Sepupunya pergi dari tempat itu segera. Berlari sekuat tenaga untuk menghindari Angry Mob yang terpancing ledekan kecil.
.
."Cih." umpat Gaara. Saat dua orang itu sudah menghilang menjauh ke ujung jalan.
.
"Oi.. Dia mirip Naruto ya..?" tanya Shikamaru. Entah kepada siapa.
Ya, Naruto hanya diam.
Sasuke tentu tau. Naruto sedikit shock melihat 'teman' lama mungkin. terlihat dari mukanya yang terus ia tundukkan.
.
"Sasuke." ucap Naruto.
"Huh?"
"Bisa kau antar aku ke kamar kecil?" ucap Naruto. Dia masih senantiasa menunduk. Dia sepertinya memang sedikit sedih. Ya, Yang Sasuke tau. Bila Naruto memang ingin menangis. Dia akan menemaninya. Itu gunanya sahabat kan?
"Tentu." Ya, tidak ada salahnya kalau laki-laki menangis.
Naruto hanya ingin menenangkan diri. Tidak mau menampakkan perasaannya di depan umum kan?
"A-Aku.." ucap Naruto terbata bata.
Bila Sasuke diajak curhat. Sasuke pasti akan mendengarkan.
Ah, Akhirnya Naruto peka juga dengan perasaan gadis.
.
.
.
.
.
"Aku menduduki kotoran kucing-dattebayo." ucap Naruto kemudian.
"..."
.
Hiiy~.. Shikamaru dan Gaara entah kenapa menjauh beberapa langkah dari Naruto.
Sedangkan Sasuke masih mematung. Mencoba memproses apa yang dikatakan Naruto.
Dia sadar.
Sepertinya pukulan bertubi tubi yang ia berikan satu setengah tahun yang lalu kurang banyak.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
I Will Do What I Want © Hazama
Yangre : Friendship, Family, Humor
Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Etc.
Pairing : Hm.. Lets See..
.
Menma dan Hinata kini tengah terengah engah di depan sebuah toko mainan. Salahkan Menma yang menyeret Hinata begitu saja saat dia bernostalgia.
"Hah.. Sudah kubilang kan.. Di jepang banyak orang jahat.." ucap Menma.
"..." Hinata hanya diam.
"Hah.. Orang orang itu pasti tidak waras! Dilihat dari pedang yang mereka bawa!" oceh Menma lagi.
Sedangkan Hinata hanya diam. Wajah tampan Naruto masih terbayang bayang di angan-angannya.
Sial! Dia semakin tampan.
Dia bahkan tidak bisa berpikir jernih. Yang ada di pikirannya sekarang adalah Naruto.
Naruto.
Naruto.
Naruto.
NARUTO-KUUNN!
.
"Huh? Kau kenapa sepupu?" tanya Menma saat dia melihat Hinata terhuyung menabrak tembok toko. Dia dengan bersusah payah berdiri.
Sembari memegangi dadanya yang berdetak tak karuan. Hinata mencoba mengatur nafas. Ya, mukannya yang memerah membuat Menma yakin kalau Hinata sakit.
'Tsk sial!' umpat Hinata dalam hati.
Ya. Hinata bersumpah kalau dia tidak akan mencintai Naruto lagi. Sumpah yang susah susah dia bangun selama 2 tahun, bersaksi di depan udara dingin Moskow.
Harus hilang karena bertatapan beberapa detik dengan pemuda itu.
"AKH!"
DUAK! Hinata meluapkan emosinya dengan menendang sebuah tangga bambu yang berdiri di depan toko. membuat tangga yang ada di depan itu bergerak tidak semimbang.
Sebelum.
BRUKH!
Lalu disertai suara orang jatuh.
"Err.." Menma hanya diam tidak tau harus berbuat apa. Dia hanya melihat saja saat orang jatuh di depannya menggeliat memegangi punggungnya.
"OI KAU GILAA?!" Teriak orang itu. Dia menatap Menma geram. Namun Menma hanya mengangkat bahu. Dia lalu menunjuk sepupunya.
Hilang.
Menma hanya terkejut saat dia menunjuk udara kosong karena sang sepupu sudah tidak berada di tempatnya.
sialan kau.
"Err..Anda tidak apa apa?" tanya Menma ragu.
"AKU JATUH DARI UJUNG TANGGA BODOH! DAN KAU MASIH BERTANYA?! APA OTAKMU TIDAK ADA ISINYA?" Teriak orang itu lagi.
Sial memang bagi Menma. Ya, ini bukan pertama kali Menma menerima omel atas kesalahan sepupunya. Salahkan saja gadis itu yang selalu lari dari kenyataan.
Ckling.
Pintu toko dibuka dari dalam. Nampak dua orang yang keluar. Mereka melongo melihat temannya sudah terkapar di tanah.
Mereka berdua lalu menatap orang asing yang ada di depan temannya. Hampir saja terkejut mereka menatapnya.
"Naruto?!"
Bukan! Huh. mereka pikir itu Naruto. Namun kalau dilihat baik baik. Ternyata bukan.
Melirik Menma ragu. Itachi dan Sasori pun lalu menoleh ke Hidan.
"Kau kenapa Hidan? Tidur?" tanya Itachi melihat Hidan yang malah rebahan santai di tanah yang kotor.
"Cih. Orang ini menendang tanggaku!" ucap Hidan. Dia sudah berdiri dari posisinya sekarang.
"..."
"Untung saja pekerjaanku sudah slesai!" ucap Hidan bangga. Ya, Sebenarnya memperbarui pamplet nama toko memang bukan tugasnya. Namun Hidan melakukannya dengan sukarela.
Padahal mereka bisa membayar orang kan? Tapi biarlah. Pemilik tau apa yang mereka lakukan dengan tokonya sendiri. 1 dari sekian cabang. Tidak masalah.
.
Sasori mendongak mencoba melihat pekerjaan Hidan.
"WHAT?!" Sasori tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya melihat mahakarya Hidan.
"Err.." Oke sekarang Menma malah dicuekin.
Pamplet yang semula bertuliskan Branch Of Akatsuki Toy Shop kini telah berubah menjadi Lord Jashin Toy Shop. Bahkan ada gambar Leader mereka Pein kini tengah tersenyum manis mengacungkan jempol. Ditambah efek gemerling di sekitar muka Pain.
Sial. Bahkan di pamplet ini Pain lebih tampan dari aslinya.
"KAU GILA HAH?!" Ucap Sasori emosi. Itachi hanya bisa menepuk jidatnya sendiri.
"MWAHAHAHAHAHA!" Hidan malah tertawa girang.
Membuat Deidara ikut keluar untuk melihat.
"Ada apaan sih? Hmm!"
Yah, Inilah yang terjadi saat lebih dari 3 anggota Akatsuki berkumpul. Mereka diberi tugas untuk menarik kembali pelanggan di Okinawa. karena cabang di sini merupakan cabang yang pendapatannya paling lemah. Maka dari itu. Mereka meliburkan para pekerja dan mengurus cabang Okinawa sendiri. Untuk sementara tentunya.
Maka dari itu. Mereka mencoba merombak ulang tempat ini.
.
"BWAHAHAHAHAHAHA!" Deidara yang melihat muka pain digambar dengan efek 'Tamvan' Malah tertawa girang.
"Ini seni super! Bwahahahaha!" ucap Deidara. Dia berguling guling di tanah. Dan terus tertawa. Deidara tidak bisa membayangkan muka pein yang asli kalau melihat kekacauan ini. Dia pasti akan memukuli Hidan dan berkata 'Ingatlah rasa sakit ini.'
Itachi dan Sasori hanya menatap bosan Deidara dan Hidan yang kini tengah tertawa sembari merangkul satu sama lain.
"Dasar bodoh."
.
"Err.." Menma yang melihat kesempatan untuk kabur. Ia pun berjalan pelan menjauh dari tempat itu. Mungkin Menma harus belajar membiasakan diri dengan orang orang tidak waras di Jepang..
.
~I WILL DO WHAT I WANT~
.
Naruto keluar dari WC umum dengan santai. Dia telah slesai membersihkan celananya.
"Huh. sial. Err.." umpat Naruto. Di depannya Sasuke masih berdiri menatap Naruto. Naruto balas menatapnya sebelum pandangannya beralih ke Shikamaru dan Gaara yang mengambil jarak sedikit jauh.
"Huh? Kalian kenapa?" tanya Naruto kepada Shikamaru dan Gaara.
Shikamaru dan Gaara hanya bergidik ngeri. Jelas saja. Naruto menduduki eeq kucing beberapa menit yang lalu.
Sasuke masih belum bisa membaca raut muka Naruto. Karena Naruto bersikap seakan tidak pernah terjadi apa apa.
Apa Naruto memang sangat tidak peka sebegitunya?
"AKH!" seru Naruto tiba tiba.
"H-Hah?" Jujur, itu mengagetkan Sasuke.
"AKU MENINGGALKAN FOX SENDIRIAN!" ucap Naruto kemudian. Benar juga! kenapa dia baru ingat sekarang. Akh! Bagaimana kalau dia mati? Naruto tidak memberinya makan selama kurang lebih 5 hari!
Cklek.
Pintu WC umum si samping Naruto terbuka. Menyita perhatian empat orang pemuda itu.
Nampaklah orang yang keluar.
"!"
.
.
Ah. Lagi lagi orang ini.
"Kalian?" ucap Opsir Darui. Ia baru saja slesai buang air kecil.
"Err.."
Naruto heran. Kenapa orang ini ada dimana mana sih? Apa WC ini adalah pintu kemana saja?! Atau Ini adalah pintu rahasia menuju kantor polisi? Jujur Aku muak denganmu petugas!
Darui menatap keempat pemuda itu dengan seksama. Entah kenapa dia memasang kuda kuda. Dia memegangi sarung pistolnya. Tanda siaga.
"A-Aku sudah tau..." ucap Darui.
"Huh?"
"Kalian memang sepertinya bukan Terroris..." lanjut Darui.
"..."
"..Atau sekte aliran sesat..." lanjutnya lagi..
"Err.."
.
.
"..Namun melihat Ini, Aku sekarang benar benar tau..."
Sebenarnya apa yang mau Opsir tukang fitnah ini katakan?
.
.
"..Katana di tangan kalian sudah membuktikan kalau kalian adalah pengedar senjata gelap!" ucap Darui.
"APAAAN?!"
.
~I WILL DO WHAT I WANT~
.
Chapter 32.5 : Goodbye Okinawa.
.
Sekali lagi mereka duduk di kursi panas di kepolisian Okinawa. Mereka hanya mengangguk Saat Ibiki. Bukan hanya ibiki. Melainkan Kakashi, Anko-sensei, Azuma-sensei, Bahkan wakil kepala sekolah Shizune-sensei ada di sana.
"Aku heran kenapa kalian tidak bisa menjaga sikap bahkan barang 5 hari." ucap Shizune marah.
"..." Mereka berempat hanya menunduk. Seharian disini membuat mereka tidak bisa menikmati hari terakhir liburan. Walau mereka cukup yakin kalau ini adalah liburan terburuk sepanjang hidup mereka.
"Lagipula.. Darimana pula kalian mendapat pedang pedang ini?!" ucap Ibiki.
"E-eto.." Mereka tidak ada yang berani menjawab. Karena ibiki kini malah melepas Maken kurikara dari sarungnya dan menampakkan raut psycopath. Dia mengarahkan ujung pedang itu kepada Naruto.
GLEK!
Darui pun dengan kasar merebut pedang itu dari tangan Ibiki. Takut takut kalau guru ini menebas murid muridnya disini.
"Pokoknya.. Akan aku sita pedang ini.." ucap Darui.
Sebenarnya Gaara mau membantah. Namun Dia mengurungkan niatnya karena Anko dan Ibiki menatapnya dengan pandangan 'Bilang sepatah kata dan kau akan pulang naik tandu'
"Err.."
.
.
Skip.
.
Sunset di Okinawa. Mengantar para murid konoha pulang ke peraduan. Kembali ke habitat asli dan bersiap untuk melakukan kegiatan belajar mengajar beberapa hari ke depan.
Naruto kini tengah sibuk mengambil gambar dengan kamera Tsunade. Dia tentu tidak lupa dengan tugasnya sebagai paparazi.
Setelah slesai memotret anak anak gadis kelas 2-4, Dia berjalan menuju pagar pembatas tebing.
Ah. Matahari yang indah. Akhirnya liburan anehnya ini akan segera berakhir. Mengabaikan apa yang akan ia dapat saat kembali ke konoha Nanti. Baik dari Ibiki, Tsunade maupun Matsuri.
Sudah lama semenjak dia menikmati deburan ombak.
Masih teringat di benakknya. Kejadian tadi siang. Sebenarnya dia sepenuhnya sadar. Dia juga tau siapa Gadis yang ia temui tadi. Namun Naruto mencoba tidak membahas gadis itu di depan Sasuke.
Gadis itu ya?
Yah, Naruto tidak tau apa sikapnya tadi menimbulkan kecurigaan dari para sahabatnya.
Naruto tersenyum miris.
.
Jujur, Gadis itu adalah gadis yang kontroversial di kehidupan Naruto.
Karena gadis itulah. Sasuke dan Naruto menjadi musuh dulu.
Karena gadis itulah. Naruto merasa bersalah dengan sesuatu yang tidak ia mengerti dulu.
Karena gadis itulah. Naruto terus mencoba menghargai perasaan perempuan.
Seperti tempo hari di Theater Hall. Dimana dia emosi sendiri saat melihat seorang pemuda mencoba berbuat mesum.
.
.
.
Meskipun dia tidak pernah punya kesempatan mengenalnya.
.
Ya, Dulu Naruto tidak mengenal gadis itu secara langsung. Melainkan lebih ke cerita dari Sasuke yang mengatakan 'Ada seorang gadis yang mencintaimu semenjak kau kelas 1 smp TOLOL!'
Dan semenjak Sasuke dan Naruto masuk SMA. Naruto sering mencari tau identitas gadis itu. Naruto mencari tau Gadis yang sempat menyukainya sewaktu SMP. Gadis yang ia tolak waktu kelulusan.
Jujur, dia sedikit banyak berubah sekarang. Dari penampilannya tentu.
Semenjak hari kelulusan dulu. Naruto memang sadar. Kalau menolak cinta gadis itu adalah kesalahan yang dilakukan Naruto.
Bukan hanya karena Naruto tidak terlalu mengenal gadis pendiam itu. Tapi mungkin karena dulu dia yang terlalu kasar menolaknya.
Naruto memang tidak perduli. Meskipun dia dipukuli bertub tubi oleh Sasuke. Atau bahkan dia akan dibantai sekalipun.
Naruto tetap tidak akan menerima cinta gadis itu.
Karena dia memang belum siap.
Dan dia tidak akan pernah siap.
.
untuk memikirkan hal yang namanya Pacaran.
.
.
"Tch." Naruto mendecih. Dia mengingat bayang bayang kenangannya waktu SMP.
.
'Aktingku memang buruk ya..?'
.
.
xxxxxxxxxxxxxxx
FIN
xxxxxxx
Author Note(s) : H-Hanzama i-is Back! .. Okee,, sudah 9 jam semenjak chapter lalu di publish. Dan ini adalah penghujung dari stage 2.
Tsk sial! sepertinya sense saya semakin menurun ya? terlihat sekali saya mati langkah di chapter-chapter kritis?
Mungkin ini memang saat yang tepat dimana saya harus meminta bantuan pengkoreksian dari para reader. Ya, Hanzama minta bantuan (_ _")
Bagaimana dengan chapter ini?
..
Mungkin ini resiko saya karena terlalu menonjolkan humor. Jadi chapter seriusnya kurang ngena.. sekali lagi maaf..
Ya, Saya sadar kalau saya memang masih newbie. Jadi segala kesalahan disini memang berasal dari saya pribadi.. Dan fanfic ini tidak akan terus berlanjut kalau bukan semangat dari para reader sekalian..
.
.
Kemungkinan besar kita akan berjumpa lagi di stage 3. Jadi, Maap merepotkan tapi, Hanzama masih harus meminta bantuan para sobat sekalian. Setidaknya sampai tiga sahabat kita mendapat kebahagiaan.
.
.
BONUS
Darui kini tengah duduk santai di kantornya. Jam sudah menunjukkan pukul 23.30 hampir tengah malam. Dia masih asik saja membaca koran sembari menyeruput kopi hangatnya.
Ruangannya memang sudah kosong karena hanya ada dirinya. Mengingat memang tidak banyak petugas yang mau berlama lama disini. Kecuali yang sedang menjalankan sip malam tentunya.
KLANG!
"Huh?" Darui merasa mendengar sesuatu.
KLANG! KLANG!
Suara itu terdengar lagi. Darui mencoba menajamkan pendengarannya.
.
KLANG! KLANG! KLANG!
Suara itu semakin keras. Darui berdiri dari duduknya. Mencoba mencari sumber suara tersebut.
KLANG! KLANG!
Suara itu berasal dari balik pintu.
Tik Tak.
Darui mendekati asal suara itu. Namun suaranya sudah tidak terdengar. Hanya suara jam diding yang terdengar keras.
.
Saat Darui melihat obyek dengan matanya. Yang dia lihat hanya empat buah pedang yang ia sita dari keempat pemuda Konoha Gakuen tadi. Pedang yang ia taruh di keranjang sapu.
Darui mengamati pedang itu dengan seksama.
Tiba tiba..
Sret.
Err.. Darui mencoba mengucek matanya. Memastikan kalau dia tidak melihat pedang itu bergerak.
KLANG! KLANG! KLANG!
DEG!
"AKH!" Darui pun tanpa pikir panjang lari saat melihat pedang itu bergemrutuk satu sama lain.
.
.
Nah loh.
.
.
.
REVIEW
v
v
v
