Chapter 35 : Life Is Strange II

.

Naruto © Masashi Kishimoto

I Will Do What I Want © Hazama

Yangre : Friendship, Family, Humor

Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Hinata RTN inside Etc.

IMPORTANT THING : Hinata Disini Akan muncul sebagai kolaborasi Hinata Origin dan Hinata RTN! Thx Be4

Pairing : Hm.. Lets See..

.

Naruto, Sasuke dan Shikamaru kini tengah berada di atap Konoha Gakuen. Ini adalah atap yang sama yang digunakan Naruto untuk membolos beberapa waktu yang lalu.

Seakan Menghiraukan waktu yang hampir menunjukkan waktu masuk kelas. Mereka masih dengan santainya duduk duduk dan tiduran sembari menikmati angin lalu.

Yah, Sudah lama semenjak mereka bertiga membolos pelajaran bersama. Dulu di Uzushio, Gedung utamanya juga memiliki atap seperti ini. Namun karena atap itu terlihat jelas dari ruangan jiraya. Jadi memang jarang ada yang menggunakannya untuk membolos.

Sasuke yang berdiri di belakang pagar menatap lurus lapangan basket yang ada di bawah. Sepertinya kelas lain akan memulai pelajaran olah raga.

Sasuke menyipitkan mata melihat seorang murid yang mengenakan baju olahraga yang berbeda dari yang lain.

Sasuke mencoba menyipitkan mata. Membaca Tulisan yang tertulis di punggung kaos pemuda itu.

Moscow State Highschool.

MSH?

Tunggu dulu. Sepertinya itu adalah pemuda yang bersama Hinata? Sebenarnya siapa dia? Pacarnya?

"Oi Naruto." ucap Sasuke memanggil Naruto yang tengah terduduk tak jauh dari situ.

Naruto yang memejamkan mata dan sedang menikmati semilir angin hanya menyahut dan menoleh.

"Hm?"

Sasuke mengisyaratkan untuk mendekat.

Saat Naruto sudah ada di dekatnya. Sasuke menunjuk pemuda yang ada di bawah.

"Bukankah itu Adalah pemuda yang mirip denganmu?" tanya Sasuke.

Naruto mencoba mneyipitkan mata.

"Hmph. Mana ada pemuda yang mirip denganku Sasuke." ucap Naruto sembari tertawa.

"Aku serius." ucap Naruto.

Shikamaru yang mendengar perbincangan kedua sahabatnya akhirnya berdiri dan mendekat. Dia ikut memperhatikan orang yang ada di bawah.

.

Naruto menatap intens ke bawah.

"Huh.. Apa otakmu itu rusak Sasuke." ucap Naruto lagi.

Sialan di tanya baik-baik malah nyolot.

"Jelas jelas dia berambut hitam dan punyaku pirang." lanjut Naruto.

"Bukan itu bodoh. Aku hanya menyimpulkan dari bentuk wajah dan perawakannnya. dia sangat mirip denganmu. Bahkan goresan di pipimu." ucap Sasuke lagi.

"Ah. Jangan bercanda.. Ini adalah tanda lahir. Ibuku bilang. Ini adalah tanda lahir seorang pahlawan. jelas jelas berbeda!" ucap Naruto ngeyel. Dia menunjuk pipinya.

Sasuke memutar bola mata.

"Bedannya apa kalau kalian sama sama punya kumis kucing." balas Sasuke malas.

"Ini bukan kumis kucing teme. tanda lahir adalah simbol perjuangan seorang ibu! Dia mungkin punya. Tapi mungkin goresan itu.. Err.."

"Hn?"

"Err.. Didapat karena dicakar ibunya saat dia ketahuan mencuri mangga." ucap Naruto asal asalan.

Sasuke menghela nafas.

"Apa bedanya kalau kalian sama sama mendapatkannya dari ibu masing masing." ucap Sasuke lagi.

"Hm. Mungkin Dia adalah Doppelganger."sahut Shikamaru tiba tiba.

"Huh? Dobel ember?" tanya Naruto tidak mengerti.

"Doppelganger!" balas Sasuke membenarkan. ".. Kembaran Astral, Dimana saat kau melihatnya pertanda kalau ajalmu akan segera tiba." lanjut Sasuke.

"Hah?" Naruto menatap Sasuke.

"Maksudnya.. Roh. Wujud supranatural. Pertanda Kau akan mati." sahut Shikamaru lagi menjelaskan.

GLEK!

"J-Jangan bercanda bodoh.. Mana ada hantu yang bisa bermain basket!" ucap Naruto lagi. Dia menunjuk ke lapangan saat pemuda itu berhasil melakukan lay up sempurna.

Shikamaru hanya mengangkat bahu.

.

.

"Mengenai pemuda itu.. Sepertinya dia datang bersama Hinata." ucap Sasuke. Dia melirik Naruto mencoba melihat ekspresinya.

Namun Raut Naruto tidak menunjukkan perubahan.

"Lalu?" tanya Naruto enteng.

Sasuke berniat membuka mulut namun akhirnya dia tutup kembali.

"..Tidak ada.."

.

~IWDWIW~

.

Hinata kini tengah duduk di kantin dengan santai. Di depannya, Nampak Netbook kecilnya yang sering dia gunakan untuk mengerjakan tugas.

"Cih. Dasar sekolahan pelit." gumamnya saat dia menyadari kalau dia tidak bisa mendapat sinyal wifi di kantin.

"Hinata-sama." ucap Seseorang yang datang menghampiri Hinata.

"Oh Neji-Nii." ucap Hinata saat dia menyadari Kakak sepupunya Neji, Menghampirinya.

Menghiraukan tatapan heran para penjuru kantin kepada sang ketua OSIS.

Hinata lalu menutup Netbooknya.

"Kau tau kau tidak harus memanggilku dengan embel embel -sama Neji-Nii." ucap Hinata. Dia menopang dagu.

Neji masih berdiri. Dia hanya mengangkat bahu menganggapi Hinata.

"Aku akan dimarahi para tetua klan kalau tidak memangg-"

"Jangan hiraukan mereka.. Mereka bodoh dan kau tau itu." ucap Hinata enteng.

Neji hanya Sweatdroped. Jadi memang benar, Kalau sepupunya ini sudah berubah banyak.

Hinata lalu menatap Neji dari atas sampai bawah.

"Eh? Aku dengar Neji Nii adalah ketua OSIS ya?" tanya Hinata. Dia melipat tangan di dada.

Neji hanya mendengus.

.

"Pasti sulit ya jadi ketua OSIS." ucap Hinata lagi. Dia menatap tumpukan berkas yang dipegang Neji dengan tangan kanannya.

Neji sebenarnya berniat duduk. Namun itu adalah niatnya sebelum ada orang yang mengangetkannya dari belakang.

"Hoi! Pak Ketua! Bukannya Kerja malah nggodain cewek." ucap Seorang gadis bercepol dari belakang Neji.

"Oh Tenten?" tanya Neji ke Tenten. "Apa semuanya sudah siap?" tanya nya lagi.

"Huh? Apa maksudmu siap! bagaimana mungkin aku bisa mengcopy proposalnya saat berkasanya masih kau pegangi!" ucap Tenten.

Oh, Benar. Neji lalu memberikan kertas yang ada di tangannya setelah meminta maaf.

"Kita masih ada urusan di Ruang OSIS. Istirahat sebentar, Bukannya lekas kembali, Tau taunya malah ada di sini bersama-huh?" Tenten berhenti bicara sejenak mengamati gadis yang ada di depannya.

"Halo." ucap Hinata kepada Tenten.

Yah, Bahkan Seorang tenten pun pasti menyadari. Kalau Neji dan Gadis ini memiliki mata yang sama.

"H-halo." ucap Tenten lagi.

"Hn. Dia sepupuku. Hinata." ucap Neji lagi. Menjelaskan, Saat melihat raut muka aneh Tenten.

"Salam kenal." ucap Hinata lagi.

"Err.. S-salam kenal." Tenten hanya menjawab sembari mengangguk. Sebelum dia menyeret Neji pergi dari situ.

.

~IWDWIW~

.

Jam sudah menujukkan pukul 11.45, Dimana seharusnya jam pelajaran masih berlangsung. Di kelas 1-4 Dimana Para muridnya kini tengah kusyuk mendengarkan pelajaran Antropologi yang diampu oleh Kurenai-sensei. Sepertinya semua murid sangat fokus memperhatikan.

Oh, kecuali seseorang. Karena dia sedang menulis sesuatu. Namun sepertinya kegiatannya menulis tidak berjalan baik, Terlihat dari bertebarnya remasan kertas yang hampir berserakan dimana mana.

Sesekali dia terlihat mengigit pensil dan menampakkan raut tak lama dia akhirnya meremas kertasnya kembali.

Sayangnya kali ini. Kurenai-sensei menyadari ada yang aneh di barisan belakang.

".. Maka dari itu.. Kita- Matsuri-chan!" bentak Kurenai-sensei kepada Matsuri. Membuat Matsuri menghentikan kegiatannya.

"Y-YA!" Balasnya karena kaget.

Yukata yang duduknya ada di barisan dari depan. Menoleh ke belakang melihat Matsuri. Dia melotot tak percaya dengan keadaan bangku Matsuri yang penuh kertas.

"Apa pengertian umum dari Kepercayaan Animisme?!" tanya Kurenai kepada Matsuri.

"Err.. A-Ano.. Animisme adalah konsep kepercayaan terhadap roh-sensei!" ucap Matsuri tegas.

Kurenai mengangguk. Berarti gadis ini masih memperhatikan.

"Benar. Animisme adalah konsep dimana blablablablabla. . . ."

"Fyuh!" Matsuri mengelus dadanya sendiri. Untung ini pelajaran Antropologi. bila sekarang adalah Akuntansi dasar. Pasti Matsuri sudah kena serangan jantung.

.

Yukata masih belum memperhatikan ke depan saat Kurenai Sensei menuliskan sesuatu di papan tulis. Dia malah menatap heran Matsuri yang merapikan barang barangnya dan mengendap endap menuju pintu belakang sembari menenteng buku tulisnya.

Membuat Yukata melongo tidak percaya menatap bayangan Matsuri yang hilang keluar kelas.

.

.

.

"..Jangan lagi.." gumam Yukata.

.

~IWDWIW~

.

Yah Ini memang hari yang lamban. Semua orang berharap kalau jam segera menunjukkan waktu sore. Dengan begitu, Semua yang bersekolah bahkan bekerja. Bisa segera pulang untuk merebahkan badan atau bertemu dengan keluarga tercinta.

Waktu bahkan lebih lambat di kelas 2-1 dimana mereka sekarang tengah tidak melakukan apapun. Alias jam kosong. Ya? Apa yang akan kau lakukan bila jam kosong? Bercerita dengan temanmu? Tidur? Atau bahkan menghilang dari kelas dan minggat?

"Bisa bisanya kalian tidak masuk sewaktu jam pelajaran Matematika tadi!" bentak Sakura kepada ketiga pemuda yang ada di depannya.

"..." Namun ketiganya malah diam.

"Apa kalian tau kalau Anko-sensei sangat disiplin dengan waktu?!" ucap Sakura lagi.

"Kami hanya sedang banyak pikiran." ucap Shikamaru enteng.

"Omong kosong! Kau tau kan kalau aku bertanggung jawab penuh atas kelas ini!" bentak Sakura lagi.

Sasuke hanya menghela nafas.

"Kenapa?" Naruto malah bertanya pertanyaan yang aneh.

Sontak itu membuat urat nadi di kepala Sakura timbul.

"Ka-Re-Na! Aku ketua kelas kalian! Shanaro!" bentak Sakura lagi.

Yang Sasuke heran. Kenapa Sakura bahkan tumben tumbennya peduli dengan hal sepele seperti ini. Sepertinya dia sedang bad mood.

Yah, Sasuke sudah pernah mencoba. Berdebat dengan perempuan sama saja kalah sebelum dimulai. Jadi Sasuke tidak mau mencobanya.

Seperti kata orang. Lelaki hidup berdasarkan logika. Dan wanita hidup berdasarkan perasaan.

.

.

Tak jauh dari sana. Nampak Shion yang tengah menatap Naruto intens. Naruto tak lama menyadarinya. Dia sedikit merinding saat dilihatnya Shion tersenyum manis sembari menampakkan pipi memerah.

Membuat Naruto mengalihkan pandangannya. Namun pandangannya harus jatuh ke Hinata yang tengah diajak ngobrol Ino. Pandangan mereka bertemu. Naruto cukup lama menatap Sebelum pandangannya beralih ke Shion lagi.

Lalu Kembali ke Hinata.

Ke Shion.

Hinata.

Shion.

Hinata.

Karin.

"Hah?" Naruto harus menyipitkan mata saat dia mendapati Karin tengah menatapnya dengan deathglare. Sembari memegang botol minumnya yang sudah kosong. Karin menampakkan raut yang membuat Naruto bergidik ngeri.

Lalu pandangannya kembali ke Sakura.

"Oi. kau dengar tidak Sih Naruto." ucap Sakura.

Naruto menatap Keempat gadis ini bergantian.

Serius.

Sebenarnya apa yang salah dengan para gadis ini.

.

~IWDWIW~

.

Akhirnya. Bel pulang yang ditunggu berbunyi juga. Ini adalah saatnya semua murid pulang ke rumah masing masing.

Sama halnya dengan Naruto, Sasuke dan Shikamaru. Mereka kini sudah berjalan malas menyusuri lorong lantai 3. Dan mereka secepatnya ingin segera pulang. Mengingat sepertinya hari sedikit mendung. Well, Bukan hobi mereka untuk berlama lama di sekolah.

Mereka berjalan pelan, itu sebelum mereka melewati sebuah pintu dan mendengar suara barang jatuh.

Gdubrak!

Mereka lantas berhenti tepat di depan pintu itu.

"Hah? Kakashi-sensei?" tanya Naruto saat dia melihat Kakashi yang tengah terduduk di lantai ruangan itu.

"Oh. kalian." ucap Kakashi santai. Padahal jelas sekali kalau dia barusaja terjatuh.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Shikamaru.

Kakashi lantas berdiri dan tersenyum. Meski senyumannya tidak terlihat.

Naruto yang penasaran pun masuk mencoba melihat ruangan itu. Naruto sering melihat pintu ini. Namun dia baru bentuk di dalamnya sekarang.

Ruangan ini kecil. dimana di tengahnya terdapat meja persegi panjang besar dan dua rak di kanan dan kiri. Naruto juga melihat sebuah meja dan loker.

"Ini ruangan apa Sensei?" tanya Naruto. Yah Ruangan yang cukup kotor dan terlihat berdebu. dan ada beberapa box yang tertumpuk.

"Sebenarnya aku disuruh Tsunade untuk membersihkan ruangan ini karena akan digunakan untuk kepentingan festival." ucap Kakashi santai.

Shikamaru mengernyitkan dahi.

"Kenapa kau yang disuruh sensei?" tanya Shikamaru. Aneh saja melihat Kakashi membersihkan sesuatu.

Kakashi malah tertawa.

"Hahaha.. Sebenarnya Aku seharusnya bersama Azuma-sensei. Tapi karena dia ada urusan. Jadi aku harus terpaksa melakukannya sendiri." ucap Kakashi.

Entah kenapa Naruto menatap Kakashi dengan tatapan aneh.

"Ne.. Kakashi-sensei? Kau perlu bantuan?" tanya Naruto.

Shikamaru sekarang yang menatap Naruto aneh. Tumben.

"Ho? Kalian mau membantu?" tanya Kakashi senang.

"Baiklah." ucap Naruto lagi.

Oke itu aneh. Bahkan Bukan hanya Shikamaru dan Sasuke yang merasa aneh. Namun Kakashi juga demikian. Kakashi sudah membaca berkali kali ringkasan kepribadian Naruto sebelum masuk ke sekolah ini. Dan Kakashi cukup yakin kalau dia pernah membaca kalau Naruto memiliki masalah tentang kepeduilan terhadap lingkungan.

Sasuke dan Shikamaru saling tatap. Mengisyaratkan tatapan tanya kepada satu sama lain. Namun mereka akhirnya mengikuti Naruto juga.

Sasuke sebenarnya ingin ikut membantu. Namun itu sebelum dia dicegah Naruto.

"Sasuke.. Setidaknya salah satu dari kita harus pulang." ucap Naruto.

"Hn?"

"Kau tau sore yang mendung. Setidaknya ada yang harus memastikan rumah kita baik baik saja." ucap Naruto lagi.

Sasuke mengernyitkan dahi. Namun akhirnya dia menatap Kakashi.

Kakashi yang tau apa yang dimaksudkan Sasuke hanya mengangguk.

"Oh, Tentu.. Dua orang sudah lebih dari cukup." ucap Kakashi.

Well Sasuke tidak mengerti. Namun sepertinya dia bisa pulang sekarang. Walaupun sendiri. Tapi tak masalah.

.

"Oh, dan Sasuke." ucap Naruto lagi.

"Pastikan kalau Fox ada di rumah saat turun hujan." ucap Naruto.

Sasuke menatap Naruto. Jadi itu maksudnya?.

Sasuke hanya tersenyum sebelum dia melangkah turun menuju gerbang utama Konoha Gakuen.

.

.

"Ne.. Kakashi Sensei. Mau kita kemanakan Box Box besar ini?" Tanya Shikamaru kepada Kakashi.

"Oh kita taruh dulu di luar." ucap Kakashi.

"Baiklah."

Kakashi tersenyum.

Mereka sudah banyak berubah.

.

"Cara terbaik melupakan sesuatu adalah. Dengan cara mengisi waktu dengan sesuatu yang menurutmu benar."

.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TBC

xxxxxxxxxx

.

Author Note(s) : Hi.. Hanzama Is Back.. Gomen apdet lama. Hanzama baru saja slesai menjalani UAS. Jadi maap hilang tanpa jejak.

Okesip.. Ini chapter yang pendek. Sebenarnya Hanzama ingin mencoba kembali ke jalan cerita. jadi maaf kalau humornya tidak selalu muncul. Ini buntut chapter kemarin btw..

Oke.. Sebelum saya akhiri.

.

BONUS(+)

Malam hari di sebuah cafe.

"Maaf Merepotkanmu Tsunade-sama." ucap Seorang gadis berambut merah.

Tsunade kini tengah duduk di sebuah cafe bersama dua orang gadis.

"Hahaha.. Tidak apa apa.. Kalian Sudah jauh datang dari Iwa Art Academy untuk mengsukseskan festival ini. Tidak mungkin aku tidak membantu kalian bukan?" ucap Tsunade senang.

"Hehe.." salah satu gadis itu hanya tertawa.

"Jadi? Kalian akan berada di Konoha selama Tiga minggu kan?" tanya Tsunade. Dia melirik sebuah kotak kaca yang dibawa salah satu gadis itu.

"Ya. Dua atau tiga minggu mungkin. Saat semua sudah beres. Kami akan langsung pulang ke iwa. Sekali lagi maaf merepotkanmu." ucap gadis berambut merah itu lagi.

Tsuande mengibaskan tangannya.

"Alah jangan begitu. Tugasku hanya mencarikan kalian tempat tinggal sementara kan? Tugas kalian lebih sulit karena kalian harus mengurus festival ini. hahaha.." lanjut Tsunade.

Gadis itu tersenyum lagi.

"Terimakasih Banyak Tsunade-sama."

"Oh.. iya.. Omong-Omong. Bagaimana keadaan kepala sekolah kalian?" tanya Tsuande.

"Orochimaru-sama sehat walafiat kok hehe."

"Hahahaha.. Benar juga. Mana mungkin orang itu sakit."

.

"Aku harap festival ini berjalan lancar." ujar Tsunade lagi.

"Iwa-Art akan melakukan konstribusi yang terbaik."

.

.

Kritik dan Saran

v

v

v

v