chapter 41 : Miracle.
.
xxxxxxxxxxxxxx
Wkwkwk, Seperti apa yang dicelotehkan oleh salah satu sahabat reviewer, Hanzama juga menunggu epic moment diantara chapter-chapter ini. But, well. Mungkin satu lagi chapter slow sebelum kita kembali ke crazy daily lives of trio Kickass.
And still, Take a deep breath and relax..
Happy reading
v
xxxxxxx
"Oi.." panggil Sasuke pelan.
Dirinya kini tengah mencuci piring bersama Matsuri.
"Hm?" Matsuri bahkan tidak mengalihkan pandangan dari piring kotornya.
"Kau tak apa?" tanya Sasuke. Oke itu pertanyaan aneh Sasuke.
"Hah?"
"Maksudku kau terlihat gugup di rapat tadi." lanjut Sasuke lagi.
"Um. Yup. Aku baik. Aku hanya sedikit khawatir. itu saja." balas Matsuri.
"..." Sasuke tidak berniat membalas.
"Kita hanya perlu melewati seleksi dan semuanya akan baik baik saja." Lanjut Matsuri lagi.
"..."
"Yah, saingan kita hanya Klub drama Iwa-Art, Yang selalu mendapat penghargaan sana sini. Dan Klub Theater Shion-senpai, yang jelas jelas akan benar benar lolos seleksi bahkan apabila seandainya dia tidak hadir. Dan beberapa Klub seni yang pengalamannya diatas rata rata dari klub kita." ucap Matsuri santai.
Sasuke terdiam.
Itu tidak terlihat 'baik' di mata Sasuke. Kini Sasuke merasa bingung. Sebenarnya dia tidak mau kalau disuruh ikut dengan drama bodoh dimana dia akan dilihat oleh banyak orang. Namun disisi lain, entah kenapa Sasuke merasa tidak mau kalah dengan gadis berambut merah dari Iwa-Art itu.
"Kau punya rencana?" tanya Sasuke. Mengikuti alur mungkin lebih baik untuk Sasuke. Cepat atau lambat dia pasti akan menghadapinya.
.
.
.
"Yup, Kita hanya perlu mengendap endap di belakang gadis Iwa-Art dan Shion-senpai. Mengikat mereka. Mendorong mereka ke jurang dan semuanya akan baik baik saja." jawab Matsuri enteng.
'What the-'
"Hanya bercanda senpai."
.
Naruto © Masashi Kishimoto
I Will Do What I Want © Hanzama
Yangre : Friendship, Family, Humor
Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Hinata RTN inside Etc.
IMPORTANT THINGS : Hinata Disini Akan muncul sebagai kolaborasi Hinata Origin dan Hinata RTN! Thx Be4
Pairing : Hm.. Leats See..
.
Malam hari. foREVer Street.
Sasuke keluar dari kamarnya sembari membawa handuk. Dia berniat mandi. Dia bahkan tidak peduli tentang jam sekarang. Entah kenapa akhir akhir ini malah jadi kebiasaan, Sasuke mandi lewat dari jam 7 malam.
saat dia melewati ruang TV. Dia melirik aneh Naruto dan Fuu yang kini tengah menonton Box Office bersama Fox. Dilihat dari manapun itu adalah film Iron Man.
Sedikit aneh melihat mereka jadi akrab begitu cepat.
"Boom!"
"Bukan Boom. Ledakan itu seperti Duarr.. Dan Blamm!"
Yah, Bahkan Sasuke tidak berniat mendengarkan apa yang mereka diskusikan sekarang.
Saat melewati dapur. Lagi lagi dia menatap Aneh Sara yang tengah mencari sesuatu dari kulkas. Namun Sasuke pura pura tidak melihat dan terus berjalan menuju pintu kamar mandi.
"Woi. Apa makanan kalian habis?" Tanya Sara kepada Sasuke. Tepat sepersekian detik Sasuke hampir saja menutup sempurna pintu kamar mandi.
"Hm. Habis." balas Sasuke enteng, Dia lalu menutup pintu kamar mandi dari dalam.
"Hah? Serius? Lalu bagaimana kalian.. ah kita sarapan besok?" tanya Sara lagi. Membuat Sasuke membuka kembali pintu kamar mandinya.
.
"Mana kutahu. Mungkin karena tadi pagi ada orang yang memasak banyak sekali sehingga persediaan makanan habis." balas Sasuke sedikit ketus.
Muka Sara memerah. Jelas tadi pagi dia yang memasak. Oke, Dia hanya berniat baik memasakkan tuan rumah karena dia sadar dia hanya gadis 'menumpang'.
Namun Sepertinya sang tuan rumah tidak menyambut dengan baik.
"Hei! Apa kalian tidak berbelanja bulanan atau semacamnya?!" Sekarang Sara yang suaranya mengeras.
"Hn. Kami miskin." Balas Sasuke dingin. Sepertinya gadis ini memang tidak mengerti situasi. Sasuke benci sekali dengan tipe gadis seperti ini.
Sasuke lalu dengan satu gerakan menutup pintu kamar mandi.
Meninggalkan Saara yang kesal dengan Sasuke.
.
Skip.
Sasuke keluar dari kamar mandi, Ah, Rasanya menyegarkan.
Sial bagi Sasuke, karena di rumah ini tidak pernah ada air panas. Yah sebenarnya ada kalau Sasuke meluangkan tenaga untuk memasaknya sebentar. Namun Sasuke tidak penah melakukannya.
Sasuke bahkan sudah tidak peduli lagi dengan bathub nyamannya di Uchiha Mansion. sebenarnya kalau sudah terbiasa, Semua tidak terlalu buruk.
"Hei." ucap Sara dari kursi meja makan kepada Sasuke.
Sasuke menatap heran gadis ini yang masih disitu.
Karena Sasuke sepertinya dipanggil. Dia berhenti sejenak untuk menatap gadis itu.
"Hn?"
"Um. Maaf soal persediaan makanannya." ucap Sara.
Sasuke menatap intens gadis ini. Sebenarnya, itu memang bukan seratus persen kesalahan gadis ini sih. Mengingat gadis ini memang tidak tau apa apa.
Well, Sasuke hanya khawatir. Itu saja. Maksudku. Dengan adanya banyak penghuni di rumah ini. Dan persediaan makanan yang memang sedikit. Itu sedikit menganggu Sasuke.
"Hm. Tak apa." Yah, Sasuke mungkin akan mulai belajar memaklumi.
Sara menatap Sasuke.
"Anoo. Kalau kalian tinggal disini sendiri. Apa orang tua kalian tidak pernah mengirimi uang?" tanya Sara ragu kepada Sasuke.
Sasuke menatap gadis ini bingung. Oke itu aneh. Sasuke pikir Tsunade menjelaskan keadaan mereka bertiga disini kepada para gadis ini. Namun dari perketaan gadis ini. Sepertinya dia tidak tau apa apa tentang 'masa hukuman' yang mereka jalani.
"Tidak pernah. Kami hanya bertiga." balas Sasuke lagi.
Sara menatap Sasuke dengan pandangan iba. Oke, entah kenapa Sara mulai merasa kasihan dengan orang orang ini.
"Lalu?.. Apa kalian tidak punya pekerjaan atau semacamnya?" tanya Sara lagi.
Yah, itu adalah hal yang sama persis yang dipikirkan Sasuke kemarin.
Sasuke menggeleng.
Sara menghela nafas.
"Kenapa kalian tidak mencoba menjadi kerja paruh waktu?" tanya Sara lagi.
"..."
Sasuke kini terdiam.
Sara tau, dari ekspresi Sasuke, Pemuda ini sepertinya merasa ragu untuk melakukannya.
.
Sara mencoba menimang sesuatu. Sebelum dia mulai bicara dengan Sasuke.
".. Hei.." ucap Sara pelan.
"...?"
.
.
"Kalau kau mau. Kau bisa menggunakan uangku dahulu untuk berbelanja." lanjut Sara.
Sasuke menatap Sara tidak percaya.
"Benarkah?"
Sara mengangguk.
"Yup. Dengan syarat kau harus mencari kerja paruh waktu. Dan saat kau sudah gajian, Kau bisa mengembalikan uangnya padaku." lanjut Sara lagi.
Oke, Sasuke kini mulai bingung. Dia tidak tau harus menjawab apa. Menurut Sasuke, itu cukup masuk akal. Karena Setidaknya itu bisa membantu selagi Sasuke, Shikamaru atau Naruto mencari paruh waktu. Mungkin.
Sebenarnya, Sasuke sempat berpikir untuk menelpon Ayahnya atau setidaknya Itachi untuk meminta uang. Namun entah kenapa Akhir akhir ini ide itu dirasa bukan ide yang bagus.
Entah bagi Shikamaru dan Naruto. Namun Sasuke hanya berpikir. Menelpon keluarga untuk hal seperti ini adalah hal yang cukup memalukan.
.
Melihat Sasuke yang terdiam cukup lama. Sara segera melanjutkan.
"Setidaknya itu bisa dihitung sebagai permintaan maaf dan rasa terima kasihku karena kami sudah boleh tinggal disini." lanjut Sara lagi.
Sasuke menatap Sara lagi.
Yah, Itu terdengar cukup adil bagi Sasuke.
"Baiklah."
.
Pagi hari.
Libur. Shikamaru kini tengah membawa keranjang sampah yang penuh ke depan. Tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain membuang sampah di pagi hari. Dia harus memindahkan sampah ini ke tempat sampah yang lebih besar di depan rumah. Sehingga Truk sampah dan petugas sampah bisa memindahkannya ke pembuangan sampah yang lebih besar lagi.
Shikamaru yakin kalau Naruto juga tengah sibuk berkutat dengan mesin cuci di basement. Naruto sepertinya tengah menunjukan mesin cuci kepada Sara dan Fuu sehingga mereka bisa menggunakannya.
.
Tak lama. Sasuke keluar dari rumah menggenakan setelan jeans dan jaketnya nya. Shikamaru menatap heran Sasuke yang berniat pergi.
"Mau kemana?" tanya Shikamaru heran.
"Hn. Belanja." ucap Sasuke santai.
Shikamaru heran.
"Belanja?" tanya Shikamaru lagi.
Sasuke mengangguk. Sasuke berjalan menjauh.
"Memang kau pernah berbelanja?" tanya Shikamaru.
Dan itu sukses membuat Sasuke menghentikan langkahnya.
.
Melihat reaksi Sasuke, jelas sekali kalau ini adalah pertama kalinya bagi Sasuke.
Shikamaru menghela nafas.
"Kau tau. Akan lebih aman bila mengajak perempuan saat berbelanja." saran Shikamaru kepada Sasuke.
Sasuke lalu menatap pintu rumah. Dia tidak yakin menganggu ritual kedua perempuan yang ada di basement merupakan ide bagus.
Pandangannya lalu beralih ke ujung jalan.
"Hm. Mungkin kau benar." kata Sasuke akhirnya sebelum dia berjalan menjauhi rumah menyusuri jalanan foREVer street.
Meninggalkan Shikamaru yang mengangkat bahu.
Sasuke lalu mengeluarkan HPnya. Dia lalu mengetik sesuatu.
.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
To : Haruno Sakura
No : 08IAFQWADWA
Sakura. Bisa temani aku berbelanja?
-Sasuke-
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Perlu beberapa detik sebelum SMS nya dibalas oleh nomor yang bersangkutan.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Dari : Haruno Sakura
No : 08IAFQWADWA
Ok.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
~iwdwiw~
.
Tok! Tok! Tok!
Sasuke mengetuk pintu rumah keluarga Haruno dengan sabar. Beberapa menit dia berdiri di depan rumah. Sembari ditemani sebuah pohon Sakura besar yang ada di halaman rumah ini.
Sasuke menatap helaian daun sakura yang bertebaran di halaman. Eh, Kalau dipikir pikir. Sepertinya pohon Sakura ini mekar tidak di musimnya. Um Apa iya? Ah Sasuke juga tidak tau. Dia hanya menebak.
Cklek.
Pandangan Sasuke teralihkan saat dilihatnya pintu dibuka.
"Oh? Sasuke-kun?" Ucap Kizashi. Dia membuka pintu sembari membawa pengki dan sapu lidi.
"Sakuranya ada paman?" tanya Sasuke halus.
Namun Kizashi hanya tertawa.
"Apa maksudmu. Aku berniat mau membersihkannya." balas Kizashi. Dilanjut dengan tertawa keras.
"Hah?" Oke, Sasuke benar benar tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Kizashi sekarang.
Sasuke malah diam.
"Oh? Maksudmu Sakura anakku? Hahaha.. dia sedang mandi." lajut Kizashi lagi.
Sasuke hanya terdiam ditempat saat Kizashi mendekati pohon sakura besar di halaman rumahnya dan mulai menyapu.
"Kalau kau berniat mengajaknya kencan. Kau bisa menunggu di ruang tamu." ucap Kizashi lagi.
Namun Sasuke tidak bergerak dari tempat nya berdiri. Dia malah berdiri di depan pintu sebari menatap Kizashi dan pohon sakura itu.
"Huh? Sasuke-kun?" ucap sebuah suara dari dalam rumah. Sasuke menoleh.
"Hm. Selamat pagi bibi." Sapa sakura kepada Mebuki.
"Mencari Sakura?" tanya Mebuki kepada Sasuke.
Sasuke mengangguk.
"Iya bibi."
"Ah. Masuklah. Akan ku buatkan minum. Sakura sedang mandi."
Namun Sasuke hanya menatap bayangan Mebuki yang masuk kembali ke dalam. Dia tidak masuk ke dalam rumah. Dia malah mendongak ke atas untuk melihat lebih jelas daun Sakura yang bergelantungan.
.
"Kalau kau lebih memilih berdiri disitu. Lebih baik kau bantu aku membersihkan daun daun ini Sasuke-kun." kata Kizashi lagi.
Sasuke sedikit kaget. Sebelum dia akhirnya mendekat ke pohon sakura itu.
.
.
"Huh. Kau tau? Aku tidak pernah berhenti membersihkan dedaunan ini saat hari libur." celoteh Kizashi kepada Sasuke.
Sasuke hanya mendegarkan sembari ikut memunguti daun sakura kering yang ada di halaman.
"Namun, Yah.. Aku akui ini cukup menyenangkan. Maksudku.. Ini seperti olahraga rutin di minggu pagi.. hahaha.." Lanjut Kizashi.
"..."
"Namun bagaimanapun. Aku sangat menyukai pohon ini."
Well, Sasuke tidak bisa memungkiri kalau ini adalah pohon yang cantik.
"Kau tau?.. Karena pohon ini adalah pohon ajaib." lajut Kizashi lagi.
.
Sasuke tidak mengerti.
"Ajaib?" tanya Sasuke heran.
Kizashi mengiyakan.
"Kau tau kan apa yang ku maksud ini adalah kegiatan rutin?" tanya Kizashi lagi.
Sasuke menatap Kizashi. Dia tidak mengerti sejujurnya.
.
.
"Pohon ini mekar sepanjang tahun."
Sasuke menatap heran.
Itu tidak mungkin. Sasuke tidak tau dengan pohon sakura. Yang Sasuke tau. biasanya bunga akan mekar pada musimnya kan?
Itu seperti..
"... Seperti hal bohong kan?" seakan tau apa yang dipikirkan Sasuke. Kizashi menatap Sasuke intens.
Yah. Itu persis seperti apa yang Sasuke pikirkan.
"Asal kau tau Sasuke-kun. Ini adalah tanah keluargaku. Aku bahkan tidak tau kenapa pohon ini mekar sepanjang tahun. Namun yang aku tau. Di setiap kehidupan seseorang, Pasti ada keajaiban yang tersisipkan, sekecil apapun itu."
"..."
"Kau percaya keajaiban Sasuke-kun?" Kizashi kini memberikan senyuman ke Sasuke.
Yah, Keajaiban. Itu adalah konsep buta di kehidupan Sasuke.
Sasuke sedikit bingung menjabarkan maknanya.
.
Kizashi tertawa.
"Kau tau? Sebenarnya dulu pernah ada yang berniat membeli rumah ini berserta tanahnya. Dan aku akui, tawarannya sangat menggiurkan. Mungkin karena mereka tau dengan pohon ini."
"..."
"Namun aku tidak pernah menjualnya..."
"..."
"..Karena yang aku tau, Keajaiban tidak pernah bisa dibeli dengan uang."
Well, Itu sedikit menggangu Sasuke. Karena konsep yang Sasuke terapkan dulu adalah. Uang itu segalanya. Maksudku, Sasuke cukup bahagia hidup kaya dulu.
Namun kembali ke konsep yang tadi. Sasuke buta akan konsep keajaiban.
.
"Mungkin kau benar paman." ucap Sasuke akhirnya.
Kizashi menampakkan pose berpikir.
"Dan yah, Aku sudah cukup tua. Kehidupanku sudah melewati jutaan asam garam. Dan aku cukup bahagia menyadari kalau Sakura adalah keajaiban di keluarga kecilku." Lanjut Kizashi lagi.
Sasuke masih sibuk dengan dedaunan di tangannya.
".. Kalau kau Sasuke-kun? Apa kau punya keajaiban di kehidupanmu?" tanya Kizashi lagi ke Sasuke.
Sasuke menghentikan kegiatannya untuk sejenak. Dia menatap Kizashi.
Oke itu pertanyaan yang sulit.
Keajaiban? Di bagian kehidupan Sasuke yang mana yang mengandung keajaiban?
.
.
"Hn. Aku belum menemukannya paman."
Kizashi tertawa lagi.
"Hahaha.. Cepat atau lambat kau pasti akan menemukannya."
Tepat saat mereka mengobrol. terlihat Kepala Sakura yang menjembul dari balik pintu depan.
"Sasuke.." ucap Sakura pelan.
Sasuke menoleh.
"Masuk dulu.. Minum teh mu. Dan kita akan berangkat." lajut Sakura.
Sasuke hanya menurut dan mendekati Sakura.
Meninggalkan Kizashi yang menatap kedua remaja itu dengan tatapan senang.
.
~iwdwiw~
.
"Yah seperti itu. Kalian bisa mengoperasikannya kan?" tanya Naruto kepada kedua gadis yang ada di dekatnya.
entah kenapa Sara merasa pertanyaan Naruto seakan meremehkannya.
"Ini hanya mesin cuci Naruto-kun bukan perkara sulit." balas Sara kepada Naruto.
"Fuu bisa melakukannya!"
Naruto mengangkat bahu.
"Baguslah."
Mereka bertiga masih berada di basement. Dan tidak bisa dipungkiri. Basement di rumah ini sedikit menarik perhatian Sara dan Fuu.
Dan mereka sedikit merasa aneh dengan banyak barang disini.
Sara meluangkan waktu untukmelihat lihat saat menyadari Naruto dan Fuu masih berkutat dengan mesin cuci.
Sara melihat jejeran rak yang ada di tembok. Beberapa peralatan dan benda benda yang sara tidak mengerti.
Pandangannya lalu beralih ke sebuah lemari di sebelahnya. Entah kenapa tangannya tergerak untuk membuka lemari itu.
Krieeett.
Gaun?
Sara menatap gaun indah yang tergantung manis disana. Sara tentu sedikit tau tentang design. Yah, Dia pernah memakai gaun seperti ini beberapa kali. Disaat melakukan drama tentu.
Namun gaun ini terlihat lebih indah. Dilihat dari bahannya Sara cukup yakin kalau gaun ini adalah gaun otentik.
"Nee.. Kenapa kalian menyimpan gaun di basement?" tanya Sara kepada Naruto.
Naruto menoleh.
"Huh? Oh. Kami tidak menyimpannya. Gaun itu sudah ada disini saat kami pindah." balas Naruto.
Sara kembali menatap gaun indah itu. Dia menatapnya dengan takjub.
Indah sekali.
Entah kenapa, ada perasaan aneh yang membuat Sara ingin mencoba memakainya.
.
Akh tidak!
Sara menggeleng. Ah apa yang dia lakukan. Ini bukan waktunya untuk melakukan hal aneh. Sesaat dia merasa kehilangan kontrol.
.
Sara lalu menutup kembali lemari itu.
"Kau kenapa?" Tanya Naruto yang melihat Sara mendekatinya dengan muka yang terlihat kecewa.
"Huh? Tidak apa apa."
Naruto mengangkat bahu. Dia lalu menatap ke anak tangga.
"Well, Sebaiknya kita naik. Memastikan Shikamaru tidak tertidur di tempat sampah atau semacamnya." canda Naruto kepada kedua gadis yang ada di depannya.
"Hah? Dia bisa melakukannya?" ucap Fuu terkejut.
Sara menatap Fuu bosan.
"Itu hanya candaan Fuu." balas Sara malas.
.
.
.
"Well, Kalau Shikamaru sih. Sebaiknya kita benar benar pastikan untuk amannya." lanjut Naruto lagi.
"..."
.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
TBC
xxxxxxxxxx
Author Note(s) : Avakadavra.. Hanzama Is Back. Oke then. Ketemu lagi bersama Hanzama di fanfic abal yang alurnya menyesuaikan mood author.
Dan.. sepertinya chapter ini mereka masih aman. Tapi Hanzama tidak bisa memungkiri kalau dipikir dalam, Fanfic ini ternyata membuat Hanzama terharu.
Yah, sebenarnya Hanzama hanya selalu berpikir tentang menulis dan menulis. Dan saat sadar. Fanfic ini sudah tembus 40 chapter. Bah, Hanzama bahkan tidak bisa memperkirakan lagi di chapter berapa fanfic ini akan slesai. um, Walaupun dari sudut pandang lain, word per chapter nya akhir2 ini kurang memuaskan.. tapi, sebenarnya memang ada beberapa alasan di balik itu.
dan.
Padahal kalau diingat. Hanzama memulai fanfic ini dengan sebuah simple plan. Dimana Hanzama berpikir, ah mungkin belasan chapter dan Hanzama akan memulai project baru. Tapi tetap saja. Hanzama masih belum bisa melepaskan project ini.
Hanzama cukup suka dengan sifat orang orang gila disini-uhuk uhuk. Dan kalau dipikir jelas ini berasal dari Imajinasi Author. Bisa dipastikan kalau author fanfic ini sepertinya orang yang kurang waras-hahaha.. oke itu tidak penting.
Ah, daripada kebanyakan basa basi. Mari kita segera akhiri dan langsung masuk ke masa tunggu. #dor
But, Masih ada satu bagian sebelum Hanzama tutup chapter ini.
.
Bonus(+)
Matsuri menggoreskan penanya dengan kasar saat dia sudah menyelesaikan tulisannya.
"Ahh! Akhirnya SLESAI JUGAAA!" Teriaknya gembira.
Dia menatap tulisan tangannya dengan gembira. Dia tidak bisa memungkiri kalau dirinya menghabiskan seharian penuh untuk menulis ini.
Namun dia cukup yakin, Naskah yang ia tulis ini akan menjadi jalannya untuk ikut dalam pertunjukan.
Setelah meregangkan ototnya yang sedikit pegal. Dia mematikan lampu belajarnya dan mengambil HP kecilnya di meja.
Dia lalu menelpon seseorang.
'Halo..?' ucap Seseorang dari sebrang.
"Yukata! Aku sudah menyelesaikannya!" teriak Matsuri sumringah.
'Matsuri-chan? Serius?'
"Yup!"
'Um. Apa Kau yakin akan menggunakan cerita itu?' Tanya Yukata ragu.
"Sudah ku bilang kan kalau aku tidak mau menampilkan cerita membosankan seperti Snow white atau cinderella! Ini cerita yang bagus tau."
'Errr.. Tapi.. Well, Yahh.. Kau tau kan kalau itu adalah cerita yang sedikit um- kau tau-'
"Ah, Jangan terlalu dipikirkan detailnya."
'Tapi Matsuri-chan~ Sebaiknya kita mengabari Gaara senpai dan yang lain sebelum memutuskan sepihak.' balas Yukata lagi.
.
.
Matsuri mengeluarkan ekspresi malas saat Yukata mengatakan hal itu lagi.
"Apa Maksudmu?! Kelinci dan Kura-kuracerita yang bagus tau! Aku yakin kalau mereka pasti setuju!" Balas Matsuri ngotot.
'...' Yukata nampak terdiam.
.
.
Sial dia tidak tau harus menjawab apa.
.
.
KRITIK DAN SARAN
v
v
v
v
v
