chapter 42 : Mari Bermain Drama!

.

Terjebak di ruangan klub drama adalah hal pertama yang dilakukan Naruto, Sasuke Shikamaru dan Gaara saat mereka sampai di sekolah. Tepat saat mereka masuk tadi, Naruto, Shikamaru dan Sasuke dicegat di tangga layaknya seorang anak kecil yang kepergok preman di perempatan.

Mereka tidak terlalu bodoh untuk tidak tau apa yang akan dibicarakan oleh Ketua Geng di ruangan ini. Mengingat Yukata juga ada disitu, Itu membuat semua anggota mereka lengkap untuk membahas agenda atau setidaknya mendengarkan apa yang akan Matsuri katakan untuk beberapa menit kedepan.

"Oke. Ini adalah tentang drama yang akan kita tampilkan." celoteh Matsuri.

Ruangan yang gelap seperti biasa membuat kelima anggota kesulitan melihat ekspresi ketua mereka.

".. Tidak.." gumam Naruto pelan. Ah, Sial. Hal yang paling Naruto benci dari Klub ini akhirnya tiba juga.

"Kalian tau kan kalau saingan kita dalam seleksi tampil adalah dari Iwa-Art dan Klub Theater Konoha." ucap Matsuri lagi.

Orang orang yang ada di depan Matsuri malah diam membisu. Berbeda dengan Gaara dan Yukata yang mendengarkan serius. Sasuke, dan Naruto merasa Kegelapan yang mereka rasakan di ruangan ini menambah kesan Horror tentang Drama.

Sedangkan Shikamaru. Dia seratus persen tidak bergerak. Yah, Semua orang juga tau, Kalau Shikamaru sudah tidak bergerak dari posisinya lebih dari 5 menit itu tandannya dia sedang sangat bersemangat.

.

Untuk tidur.

.

"Mengingat mereka adalah lawan yang berat. Aku ragu kita akan memiliki kesempatan untuk menyaingi." Lanjut Matsuri lagi tegas.

Naruto mengangguk. Itu dia! Kalau Matsuri sadar drama ini sia sia. Sebaiknya hentikan saja. Tidak menampilkan apapun kita tidak merugi juga kan?

.

"Maksudmu kita tidak jadi tampi?" Tanya Naruto senang.

"Aku tidak bilang begitu."

"..."

.

Gaara menatap Matsuri ragu. Yah, Matsuri tidak sepenuhnya salah. Gaara tau. Iwa-Art adalah sekolah seni.. ah bukan, Justru karena Iwa-Art adalah sekolah seni, standar ekskul mereka juga pasti diatas angin.

"Um? Lalu bagaimana?" tanya Gaara lagu.

.

.

"Aku sudah menyelesaikan naskahnya senpai." ucap Matsuri

Gaara menatap Matsuri bingung. Namun detik berikutnya dia mengerti.

"Hah?"

"Aku membuatnya sendiri." Lanjut Matsuri lagi.

Oke, Itu diluar perkiraan Gaara. Yang Gaara bayangkan saat Matsuri berkata akan memilihkan drama beberapa hari yang lalu adalah dimana Matsuri Gaara pikir akan mencari refrensi di internet atau beberapa karya sastra klasik.

Namun sepertinya Matsuri tidak ada niatan mengambil cerita dongeng.

"Um? Ceritanya seperti apa?" tanya Gaara ragu.

Yah, Selain membutuhkan cerita yang berkualitas, Klub Drama Konoha Gakuen sepertinya memang butuh banyak keberuntungan dan Keajaiban.

Sreek.

Pertanyaan Gaara terjawab saat Matsuri mengeluarkan sebuah buku cerita dari tasnya.

"Aku menggunakan itu sebagai refrensi. Untuk membuat cerita yang ideal untuk klub kita." ucap Matsuri senang.

.

"Huh?" Sasuke menatap buku itu dengan seksama.

Keempat pemuda yang ada di sana memperhatikan buku yang ada di meja.

"..." Mereka melongo tidak percaya.

Matsuri tersenyum iblis.

"Aku yakin ini akan menjadi drama terhebat sepanjang sejarah." Lanjutnya dengan percaya diri.

.

Sasuke mencoba mengambil buku cerita itu dan membaca judulnya.

Kelinci dan Kura-kur-

.

.

"NGGAK!" Gaara berniat protes.

"Aku yakin. Ini bisa menjadi langkah besar evolusi manusi-" Perkataan Matsuri harus dipotong oleh Gaara.

"A-APA? JANGAN BERCANDA IH?!" Bentak Gaara galak.

Matsuri terkaget dengan suara Gaara yang lantang.

"..."

.

"Kelinci dan kura kura adalah cerita anak anak. Kau tau?!" Gaara menambahkan.

Sedangkan Naruto hanya pura pura tidak tau tentang apa yang mereka bicarakan sekarang. Dan lebih memilih menghindari para dewan pejabat berargumen sendiri sendiri.

Naruto tidak mau menjadi pemeran. Apalagi di drama kelinci kura kura. Tak berbeda dengan Sasuke. Sasuke juga mulai ragu saat yang dibahas disini adalah Kelinci dan Kura-kura.

Yukata yang ada disana juga tidak berkata apa apa.

'Sudah kuduga mereka tidak setuju.'

.

Gaara mendecak tidak suka.

"Kau tau kan kita tidak bisa menggunakan drama seperti ini untuk kompetisi!" Bentak Gaara kepada Matsuri.

Matsuri sedikit tersinggung.

"Kenapa Sih? Ini juga tidak melanggar peraturan." bela Matsuri ngotot.

"Tapi ini sama saja bunuh diri Matsuri!" Bentak Gaara lagi.

"Kau tidak akan mati hanya karena menampilkan drama Sen-pa-i!" Lanjut Matsuri lagi.

Mendengarkan Gaara dan Matsuri sibuk berdebat. Sasuke malah menatap Yukata. Mencoba meminta penjelasan. Namun sama saja. Yukata juga tidak bisa berbuat apa apa, Melihat pertengkaran bak sepasang kekasih Gaara dan Matsuri.

.

"Lalu apa poin saat kau menyuruhku membeli Pedang, Topeng dan Arak di okinawa?!" Gaara menuding lagi. Wajahnya mendekat ke Matsuri.

Membuat Matsuri mundur beberapa langkah.

.

Err..Matsuri tidak bisa mengatakannya. Sebenarnya, pedang dan Topeng ingin Matsuri pasang di ruangan ini sebagai pajangan. Namun karena ada kemungkinan Gaara tidak mau membeliaknnya. Jadi Matsuri menggunakan alibi sebagai properti drama.

Uh, Dan soal Arak...

"W-Well.. A-Aku hanya berniat mengerjaimu.." bela Matsuri.

.

"..."

I Will Do What I Want © Hanzama

Yangre : Friendship, Family, Humor

Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Hinata RTN inside Etc.

IMPORTANT THINGS : Hinata Disini Akan muncul sebagai kolaborasi Hinata Origin dan Hinata RTN! Thx Be4

Pairing : Hm.. Leats See..

.

"NGGAK MAU AH!"

"Ayolah. Kau hanya perlu menghafal beberapa kalimat dan semuanya beres."

"Huh? Ini pemeran utama tau!"

"Ini tidak seburuk itu senpai."

Hah, walau dibilang begitu. Ini buruk. Sasuke tidak pernah membayangkan kalau dirinya akan menjadi pemeran utama.

Saat Sasuke sempat ingin menerima posisinya di klub drama. Kini dia harus mundur lagi, karena dia tau dia akan menjadi seekor kelinci.

Matsuri lalu menyodorkan satu kopian naskah kepada Sasuke.

"Dilihat dulu. Aku yakin kau menyukai perannya." ucap Matsuri kepada Sasuke.

Sasuke hanya menatap datar Matsuri sebelum dia menerima naskah itu.

Dia membaca salah satu kalimat di naskah.

'Prince Rabbit dan K-"

.

Sasuke menatap Matsuri tajam.

SREK. Sasuke meremas kertas itu.

.

"..Mana ada pangeran di cerita kelinci dan kura-kura!" Sasuke malah berteriak teriak sembari meremas remas naskahnya.

Matsuri menghela nafas.

Sedangkan Naruto malah tertawa terbahak saat melihat ekspresi Sasuke.

"bwaahahaha.. wajahmu.. wajahmu.. hahahaha-" Naruto malah ngakak sembari menunjuk nujuk ekspresi Sasuke.

Sasuke menatap jengkel Naruto.

Namun tawanya harus berhenti saat Matsuri menyodorkan naskah lain kepada Naruto.

"Err..?" Naruto menatap Matsuri heran.

.

.

".. dan Naruto senpai adalah Kura-Kura nya." ucap Matsuri.

"..."

.

"..ahaha..aha..aha.. haha. ha." Sasuke menyindir Naruto dengan tawa datar yang diputus putus.

"HAH?!"

.

Matsuri lalu menatap semua anggota nya.

"Kalian tau kan kalau Ini adalah persiapan yang singkat." ucap Matsuri lagi.

"O-Oi Tung-" Naruto berniat protes dengan perannya.

"Maka dari itu. Kita juga harus mempersiapkan semuanya dengan segera." Namun Matsuri sepertinya tidak menggubris.

"Woi!"

"Apa lagi sih?!" Matsuri kini sepenuhnya memperhatikan Naruto karena dia berteriak teriak.

"Kau- Apa- Kenapa aku jadi kura-kura?!" Naruto kini mengutarakan pendapatnya.

.

Matsuri menghela nafas.

"Karena hanya kau yang cocok senpai." jawab Matsuri.

"NO- Kenapa bukan Gaara atau Shikamaru!" Naruto menatap Gaara, Namun Gaara hanya mengangkat bahu. Sedangkan Sikamaru? Err.

Matsuri menatap Naruto dari atas sampai bawah. Dia lalu menteng tangan di pinggul.

.

.

"Kura kura itu keren tau."

Benar. Alasan Matsuri memang cukup 'logis'. Kura kura memang keren.

Naruto mencoba berpikir. Mencoba mengingat ingat dimana sisi keren Kura-Kura. Namun sama dengan Sasuke. Akhirnya dia meremas naskahnya.

.

"Ayolah Senpai. Ini adalah pengalaman yang bisa kau ceritakan kepada anak cucumu kelak." ucap Matsuri dengan bahasa yang sangat tinggi.

Sasuke dan Naruto malah saling tatap.

Hah! Mana mungkin alasan seperti itu akan merubah pendirian Naruto dan Sasuke.

Sasuke malah menatap Matsuri tajam.

"Kau sendiri! Apa peranmu di drama ini?!" Sasuke mencoba menuding Matsuri.

"Benar! Ini kan dramamu!" Naruto menambahi.

.

Namun Matsuri malah tersenyum bangga.

Pipinya merona merah.

.

.

"Tentu Saja aku adalah Tuan Putri."

.

Sasuke menepuk jidat. KAN SUDAH KU BILANG! MANA ADA PANGERAN DAN TUAN PUTRI DI DRAMA KELINCI DAN KURA KURA!

.

~IWDWIW~

.

Chapter : 42.5

Hope

.

Mereka berenam masih berada di ruangan klub drama. Bahkan saat bel masuk berbunyi. Tentu mereka risih. Karena beberapa detik yang lalu Matsuri malah mengunci pintunya dan tidak boleh membiarkan siapapun keluar sebelum Naruto dan Sasuke setuju dengan perannya.

Matsuri berada di belakang pintu. Dia menatap datar Naruto dan Sasuke. Seakan dia kecewa.

Ini seperti perang dingin.

Yah, Satu satunya orang yang merasa nyaman di ruangan ini adalah Shikamaru.

Naruto masih cemberut sembari membolak balik naskahnya, Yah dia tau. Pada akhirnya. Dia pasti akan terpaksa menerima permintaan Matsuri.

Sama seperti 'waktu itu.'

Naruto menatap Matsuri jengkel.

"Sudahlah senpai. Terima saja, Aku yakin kura-kura tidak seburuk itu." ujar Yukata kepada Naruto. Yukata sepertinya sudah menyelesaikan kegiatannya menulis sesuatu sedari tadi.

Hah. Mana ada.

Naruto lalu menatap Matsuri yang duduk meringkuk di belakang pintu. Mencegah semua orang keluar.

Dilihat dari manapun. Dia seperti orang depresi.

Sedangkan. Sasuke juga mengobrol dengan Gaara pelan. "Dia sudah memilihmu Sasuke.. Tandanya dia mempercayaimu."

.

Sasuke dan Naruto menatap Matsuri yang meringkuk.

Hiks

Mereka berdua terbelalak saat mereka melihat Matsuri terisak.

Dia menangis?

.

Yukata menatap Naruto. Yah, Dia mengharapkan sesuatu dari kedua senpainya ini. Dia sebagai teman Matsuri tau. Matsuri hanya tidak mau kalah dari Iwa-Art.

Dia hanya ingin dianggap sejajar dengan sekolah impiannya. Dia ingin menunjukkan kepada orang orang.

Kalau dia pun juga bisa.

.

Tak butuh kompetensi bagus untuk mengejar impian.

Tak butuk bakat hebat untuk mencapai keberhasilan.

Tak butuh pengalaman untuk mencoba hal yang besar.

.

Matsuri kemarin berkata pada Yukata.

"Um, Yah, Aku hanya ingin mencobanya. Tidak lolos pun tak masalah selama sudah mencoba kan?"

.

Yang dia butuhkan Hanya dukungan seorang Tema-

"ARGH!" Teriak Naruto frustasi.

"S-senpai?"

Yukata menatap Heran Naruto.

Naruto tanpa disangkan mendekati Matsuri.

PUK.

Dia lalu menepuk ubun ubun Matsuri.

Matsuri tentu saja kaget.

.

Naruto menghembuskan nafas panjang sebelum ia berucap ragu.

"..AKH sial.. Walaupun aku berkata tidak.. kau pasti akan mengikatku lagi kan?"

"..."

"Tapi asal kau tau. Hanya kali ini saja!"

Yah, Naruto tidak tau harus berbuat apa. Jadi mungkin hanya ini yang bisa dia lakukan.

Sasuke tersenyum. Sial. dia didahului Naruto.

.

Yah, Mereka bukan orang yang cukup jahat untuk membuat gadis menangis karena drama bodoh.

"Benarkah?" Matsuri mengusap ari matanya.

Walaupun Naruto ragu tapi.

"Ya!. Tapi Ingat.. Hanya kali ini."

Dia akhirnya berkata iya.

Matsuri tersenyum senang.

Naruto mengulurkan Tangan ke Matsuri. Membantunya berdiri dari posisinya.

.

.

"So? Jadi Kapan seleksinya?" Tanya Naruto kepada Matsuri.

Matsuri tersenyum.

.

.

".. Nanti Sore."

Seketika itu senyuman Naruto memudar.

.

~iwdwiw~

.

Sekali lagi murid kelas 2-1 harus dibuat heran saat melihat 'tiga sejoli' di kelas mereka kini tengah menata meja dengan menggesernya dan menatanya layaknya sebuah meja konfrensi. Pandangan mereka tak lepas dari kertas kertas yang menghiasi buku jari mereka.

Beberapa orang tau kalau mereka sedang membaca 'sesuatu.'

Kalau kau melihat dari judulnya kau akan tau kalau mereka sedang mempelajari naskah. Namun saat kau melihat ekspresinya. Kau akan mengira kalau mereka sedang membaca laporan hasil otopsi.

"Kau tau kalau hal seperti ini tidak akan berjalan baik kan?" tanya Naruto kepada kedua rekannya.

"Hm." Shikamaru mengangguk. Jujur, Shikamaru bahkan tidak tau apa yang terjadi sampai dia tiba tiba diseret kembali ke kelas, Dimana saat itu Naruto dan Sasuke menenteng nenteng sebuah kertas naskah lusuh yang katanya pemberian Matsuri.

"..." Sasuke hanya diam.

"Aku tau kapten kura-kura saat aku melihatnya." ucap Naruto lagi.

"..."

BRAK!

Naruto membanting maskahnya ke lantai.

"SIAPA PULA KAPTEN KURA-KURA HAH?!" Bentak Naruto galak.

Membuat para murid yang masih tersisa di kelas menatap aneh ketiga pemuda yang kini tengah mengadakan 'Rapat Kabinet' di barisan belakang.

Naruto sudah membaca naskahnya berulang kali. Dan sebanyak apapun dia membaca. Hasilnya akan tetap sama. Dia adalah Kapten Kura-Kura.

"Kau tau kan kalau ini adalah hal gila?!" celoteh Naruto.

Bah, Tadi saja bersikap keren di depan Matsuri. sekarang...

Yah itu relatif sih. Naruto memang berniat membantu Matsuri kali ini. Namun beda ceritanya kalau seleksinya nanti sore.. WHAT THE FU #$ #^$

"..."

"Woii dengar tidak sih?!" Naruto mulai kesal saat Shikamaru dan Sasuke tidak memperhatikannya.

.

"Kalau kau punya waktu untuk teriak teriak kenapa kau tidak menghafal naskahmu Kapten," balas Sasuke. Dia tidak mengalihkan pandangan dari kertasnya.

Naruto menatap Sasuke dingin.

"Cih. Bicaramu kasar sekali Pangeran Kelinci." Balas Naruto.

Muka Sasuke memerah. Iya! Sasuke tau. Dia berperan sebagai orang yang dinamai Prince Rabbit oleh Matsuri.

Namun mendengar Naruto mengatakannya keras keras di sini. Di depan teman sekelasnya, membuat urat nadi di kepala Sasuke mengeras.

"Berantem Hah?" tantang Sasuke.

Shikamaru menghela nafas. Dia menatap anak kelas 2-1 yang melihat mereka.

"Em. Kami hanya mencoba menghafal Naskah." bela Shikamaru kepada teman sekelasnya.

Sasuke dan Naruto hanya saling pandang sebelum mereka saling membuang muka.

"Hmph."

.

Mengabaikan muka kusut Naruto dan Sasuke. Tak lama datang seorang gadis dari luar kelas.

"Darling.." ucapnya. Dia menepuk pundak Naruto.

"Huh?" Naruto menoleh.

"Um. Bisa ikut aku sebentar?" tanya Shion kepada Naruto. Satu kalimat yang membuat seluruh murid yang masih ada di kelas melongo tidak percaya.

Sasuke dan Shikamaru menatap gadis itu heran. Kenapa Shion mencari Naruto?

Well, Ini adalah hal yang ditakutkan para fansboy Shion semenjak beberapa hari yang lalu. Setidaknya untuk para lelaki anak kelas 2-1 yang mengetahui kejadian saat Shion menembak Naruto secara terang terangan.

Mereka sama berpikir. Apa yang dilihat primadona seperti Shion dari Pemuda antahberantah seperti NARUTO?

Naruto menatap Shion seksama.

Namun pandangannya beralih ke naskah naskah yang ada di tangannya.

"Maaf aku sedang sibuk." jawab Naruto cepat.

Sasuke segera berucap.

"Pergi sana." ucap Sasuke.

"Huh?"

"Setidaknya tunjukkan sopan santunmu kepada seorang prempuan." lanjut Sasuke.

"Idih." umpat Naruto.

.

.

Melihat Naruto yang masih duduk terdiam. Sasuke segera melanjutkan kata katanya.

Masih dengan tidak menoleh dari kertasnya. Dia berucap lagi.

"Kalau kau sangat menyukai kursi yang kau duduki sekarang. Bawa saja kursinya bersamamu."

"..."

Sasuke sialan.

.

.

~iwdwiw~

.

Skip.

"Jadii? Kenapa kau memanggilku kesini?" tanya Naruto kepada gadis yang ada di depannya.

Shion menatap Naruto intens. Pipinya yang merona merah jelas tidak bisa disembunyikan dari pandangan Naruto.

Naruto menghembuskan nafas berat.

Mereka kini tengah berdiri di tangga diantara lantai dua dan tiga.

"Ini." Shion memberikan brosur kepada Naruto.

Naruto dengan heran menerima brosur dari Shion.

.

Open Recruitment. Konoha Theater Klub.

.

"Keluarlah dari klub drama... dan...Bergabunglah dengan klub Theater."

Dan itu membuat urat nadi di kepala Naruto mengeras.

Naruto menatap tidak percaya gadis yang ada di depannya. HAH? Apa gadis ini sudah gila? Mana mau Naruto masuk ke klub Theater.

Pertama, Gadis ini membuat Naruto muak karena dengan seenaknya telah menamparnya. Dia lalu kemarin tiba tiba menyuruh Naruto jadi pacarnya. Dan saat rapat kemarin Shion muncul dengan tak terduga sebagai perwakilan klub Baru.

Dan sekarang. Saat Audisi sudah tinggal menghitung jam. Shion menyuruh Naruto bergabung dengan klub Theater?

Sudah jelas kalau gadis ini mempunyai niatan tidak baik!

"Kenapa aku harus bergabung dengan klub mu?!" ucap Naruto sedikit kasar.

!

Namun Shion malah mendekati Naruto. Naruto tentu saja mundur beberapa langkah untuk menghindari gadis ini. Namun karena dia ada di tangga. Pergerakannya harus terhenti oleh tembok.

Wajah Shion yang sangat dekat semakin membuat Naruto risiih.

Shion lalu berbisik.

"..Bagaimana kalau aku bilang. Supaya kita dapat menampilkan drama bersama.."

Jantung Naruto berdebar kencang saat dia mendengar bisikan yang terdengar erotis dari Shion.

"Ee.."

".. Dimana Kau akan menjadi Pangeran dan aku Tuan Putri."

GLEK. Naruto menelan ludah.

.

Tapi tiba tiba.

Sreett DUAKH!

Jarak mereka harus dipisahkan oleh sepasang tangan tak terduga yang mendorong mereka menjauh.

"Tsk! Jangan dijalan ih!" ucap seorang gadis yang memisahkan mereka.

Naruto terkejut dengan siapa yang memisahkan mereka.

.

'H-Hinata?'

Naruto menatap gadis Hyuuga itu seksama. Di tangannya, Dia memegang sekotak jus dan sebuah roti isi.

Namun iris lavender itu hanya mengabaikan dan berjalan lewat di tengah mereka sembari bergumam.

"Tch. Kalau mau berciuman jangan ditangga. Kau pikir ini tangga nenekmu? cari tempat yang sepi kek. kalian tau kan tangga dibuat untuk orang yang ingin kembali ke kelasnya dengan tenang. Bukannya malah dihalangi oleh pasangan horny yang tidak tau sopan sa..."

Dan perkataan gadis lavender itu hilang seiring sosoknya yang menjauh dari Shion dan Naruto.

.

Shion menatap Gadis itu jengkel.

"Cih. Dasar pecundang." gumam Shion. Dia lalu kembali menatap Naruto.

.

"..Nee.. Jadi bagaimana?"

Tanya Shion lagi.

Namun Naruto hanya terdiam. Memang apa yang diharapkan Shion untuk Naruto katakan?

.

.

.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TBC

xxxxxxxxxxx

.

Hanzama Is Back : Yosha.. Author Note-eh kebalik. Oke. Hanzama Is Back! Kembali lagi dengan Trio Mario-Bros.

Tch Shionn! Bikin kzl klz. Er.. ehem.. Maksud Hanzama, kerja bagus Shion. Ntar honornya Hanzama Naikin.. *Shion : Yey!*

.

Um. Sebenarnya karena Hanzama akhir akhir ini jadi pikun. Mungkin Hanzama minta sedikit bantuan tentang beberapa detail dari chapter-chapter lama yang terlupakan, Bila berkenan.

Kira kira apa yang hanzama lupakan untuk ditampilkan yah?

Seperti orang atau kejadian penting yang harusnya muncul tetapi belum muncul?

Jujur, Itu sedikit menganggu Hanzama untuk menggarap chapter yang semakin jauh. -_- .. Mungkin ada yang mau mengingatkan?

But well, Hanzama akan mengecek kembali blue print Hanzama yang sudah berdebu.

.

Dan, maaf gk bisa bales ripiu chapter sebelumnya.. =.=

.

oke tanpa basa basi. Terimakasih sudah membaca. Salam hangat dari Hanzama. Semoga reader sukses selalu.

Jumpa lagi di chapter depan.

KRITIK DAN SARAN

v

v

v