.

chapter 54 : Simfoni Tujuh warna

FoREVer street. 06.00

Layaknya markas beruang yang belum slesai hibernasi. Keadaan rumah ini bahkan belum berubah saat matahari sudah keluar dari peraduannya. Kalau kita berkunjung di pagi hari seperti ini, Kita bisa melihat suasana aneh di ruang keluarga layaknya pengungsian korban Tsunami.

Naruto yang tengah tertidur di lantai beralaskan karpet. Sasuke yang tidur di sofa sembari memeluk Hikari bak panda di perut ibunya.

Bahkan Itachi juga terletak tak jauh dari sana. Shikamaru juga awalnya ada disana, Namun tepat beberapa detik yang lalu, dia pindah ke tempat yang 'lebih layak' saat disadarinya matahari sudah meninggi.

Penghuni yang lain? Mereka memilih tidur normal di kamar masing masing.

Salahkan saja Itachi yang dengan seenaknya menginap dan mengajak mereka semua ngobrol sampai larut. Tidak sampai disitu, 'Para pria tangguh' yang kini tergletak di depan TV adalah sisa sisa korban pendukung Portugal vs Austria yang ditayangkan tadi malam. Bahkan Hikari yang tadinya sudah tidur bersama Izumi harus terbangun dan menangis karena mendengar Itachi dan Naruto yang berteriak teriak saat Portugal mencetak Gol (yang di anulir wasit).

Dan pria kecil itu akhirnya berakhir disini juga.

.

.

Izumi turun dari lantai dua 15 menit kemudian. Merapikan rambutnya yang berantakan, Dari sudut matanya dia bisa melihat para 'Lelaki' masih tertidur layaknya bandeng presto di depen TV.

Izumi lalu mendekati mereka. Dia lalu membopong Hikari setelah membangunkan Sasuke.

"Psst.. Sasuke-kun, Bangun." ucap Izumi sembari menggoyangkan tubuh Sasuke.

Izumi lalu melirik ke Itachi. Dia menenteng satu tangannya di pinggul. Masih dengan memeluk Hikari.

"Oi.. Anata!" bentak Izumi.

Merasa dipanggil, Itachi malah semakin meringkuk layaknya ulat bulu.

".. Ngh..Lima menit.."

Hahh~ Izumi menghela nafas dalam.

".. Bukannya kau ada rapat dengan teman temanmu hari ini?" tanya Izumi kepada Itachi.

Masih dengan mata terpejam, Itachi mencoba meraih HPnya yang tergletak tak jauh dari situ dan melirik jam dari HPnya.

06.16

Seakan tau kalau ini masih 'pagi buta' dia malah kembali memposisikan diri senyaman mungkin.

Membuat urat nadi di kepala Izumi mengeras.

"ITACHI!"

DUAKH!

"Adaw!"

.

Naruto © Masashi Kishimoto | I Will Do What I Want © Hanzama | Rating : T(+) | Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe | Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Etc |

Pairing : TANDA-TANDA SASUSAKU, TANDA TANDA GAAMATSU | Relax and Enjoy Story.

WARN! : Hinata disini akan muncul sebagai kolaborasi hinata origin dan RTN!

.

Konoha Gakuen

"Taruh disitu saja Sasuke."

"Hn."

Kiba dan Sasuke akhirnya bernafas lega saat perintah sang ketua kelasnya sudah mereka lakukan dengan baik.

Tepat beberapa detik saat Sasuke melangkahkan masuk ke halaman konoha Gakuen. Kiba meninta bantuan Sasuke untu memindahkan beberapa barang.

"Hahh.. Disaat klub-ku sedang sibuk persiapan menampilkan sesuatu untuk pentas. Kita malah punya tugas menjaga barang barang ini." keluh kiba. Dia duduk di sebuah kursi kayu tak jauh dari tempat Sasuke berdiri.

"Ya."

"Jadi aktivis itu tidak mudah kau tau? selalu saja ada orang yang mengandalkanmu." lanjut Kiba.

Sasuke hanya mendengarkan. Sesekali dia melihat keadaan sekitar. Dia kini telah berada di sebuah stand outdor milik kelas 2-1. Sasuke bahkan bisa dengan jelas melihat sebuah pamflet yang bertuliskan. 2-1 Cafe.

Di sepanjang tempat ini. Berjejer pula stand stand milik kelas lain. Sasuke bahkan tidak menyangka deretan stand ini bisa sampai ke bagian belakang gedung utama.

Sasuke lalu beralih ke kiba. Hanya ada dia dan Kiba disini, dari seluruh anak kelas 2-1 yang Sasuke ketahui.

Bahkan Naruto dan Shikamaru belum terlihat batang hidungnya saat Sasuke memutuskan untuk berangkat duluan tadi.

"Lalu? Dimana yang lain?" tanya Sasuke kemudian.

Membuyarkan kiba dari aktivitasnya.

Kiba hanya mengangkat bahu.

"Mana kutahu.. Aku datang tadi, hanya ada para gadis. Tapi mereka hilang sekarang. Setelah dengan seenaknya menyuruhku mengangkat barang barang ini sendirian." celoteh kiba sembari menepuk nepuk tumpukan kardus.

"..."

"Hahh.. begitulah prempuan.. seenaknya sendiri!" Kiba malah mengomel.

Sasuke terdiam. Yah, yang mengomel biarlah mengomel.

.

"Maaf sudah menunggu,"

Penantian mereka berakhir saat sebuah suara yang Sasuke kenali masuk ke gendang telinganya.

Kiba dan Sasuke menoleh.

"S-Sakura?" gumam Sasuke pelan.

"Wiiiuuwwww!" Hanya itu suara yang keluar dari kiba saat,

Melihat para gadis yang seharusnya menjadi teman sekelas mereka kini telah memakai pakaian layaknya Maid.

Ino, Sakura dan Karin.

"Err.?"

"Bagaimana? Kau menyukainya Hm? Sasuke?" goda Ino sembari memutar tubuhnya.

"..." Sasuke terdiam.

"Pakaian macam apa itu?" Kiba mulai mengutarakan pertanyaannya.

"Ha? Kau belum pernah melihat gadis cantik berpakaian seperti ini?" Ino malah balik bertanya kepada Kiba.

"..."

.

.

Skip.

Sasuke masih duduk duduk tak jauh dari teman temannya saat Konoha Gakuen sudah mulai ramai. Sesekali dia mengamati teman teman perempuan sekelasnya yang 'katanya' sedang mencoba seragam dinas untuk festival besok. Saat pandangannya tertuju Sakura yang berpakaian seperti itu, entah kenapa sangat kontras dengan rambutnya yang berwarna mencolok.

"..."

'...Sudah kuduga dia kekanak kanakan.' Batin Sasuke saat dia mendapati Sakura memakai jepitan rambut berbentuk bunga sakura di kepalanya. Eh? kalau dipikir pikir sih. Memang normal seorang gadis memiliki rambut merah muda? Seingat Sasuke, Orang tua Sakura tidak ada yang berambut merah muda.

Lama mengamati Sakura, Sebersit ingatan tentang dirinya yang memberi bunga kepada gadis ini berlalu di kepala Sasuke.

.

Muka Sasuke memerah.

"Melihatnya saja tidak akan membuatnya mencintaimu Sasuke." ucap Ino tiba tiba.

"Hah?"

Sasuke menoleh ke Ino yang sudah duduk di dekatnya dan menatapnya intens.

"..."

Ino tersenyum penuh arti.

"Hm Hm.. Ku kira kau kenapa ada di pojokan. Ternyata sedang mengamati Sakura." lanjut Ino menggoda.

"..."

Sial. Sasuke bingung mau menjawab apa.

Sasuke menatap Ino yang masih cengar cengir sendiri.

".. Kalau kau suka dengannya, Tembak saja."

Dan itu sukses membuat Sasuke tertegun.

"Bodoh! Siapa yang suka dengannya!" Balas Sasuke cepat.

Ino malah semakin gencar menggoda Sasuke.

"Eleh.. Menatapnya kurang lebih 20 menit sedari tadi. Bahkan kau memberinya bunga kemarin. Akui Saja Sasuke!"

"..."

Hahh.. Menghadapi prempuan tukang gosip memang harus sabar.

.

.

Sasuke diam.

"Menurutmu..." Sasuke menggantungkan kalimatnya.

"Hm?"

"... Apa Sakura pernah mengecat rambutnya?" tanya Sasuke mencoba mengalihkan pembicaraan.

.

".. Hehe.. Sepertinya kau memang tertarik dengan Sakura."

Sasuke menepuk mukanya sendiri. Dia salah bicara.

.

"Rambutnya memang seperti itu kok. Dari lahir." jelas Ino kemudian.

Mendengar penjelasan Ino, Sasuke mengernyitkan dahi.

"Dari lahir?"

"Yap." Ino mengangguk.

"Tapi.."

".. Tidak ada yang berambut merah muda di keluarga Haruno selain Sakura?" Ino memotong mencoba menebak pertanyaan Sasuke.

Sasuke mengangguk.

.

Ino mencoba berpikir.

"Err.. Memang sih orangtuanya tidak ada yang berambut pink. Tapi sepertinya itu dari kakeknya.."

"...?"

"Sakura punya sepupu kok.. rambutnya juga pink."

"..."

".. Sepertinya Sakura entah darimananya adalah keturunan bule.. Karena sepupunya juga orang luar negri."

"Bule?" oke Sasuke merasa Ino kini semakin ngelantur.

"Yap. Kau tau.. Sakura mempunyai sepupu jauh bernama Natsu Dragneel. Dia adalah pemuda gila berambut merah muda yang sifatnya mirip seperti Naruto."

"..."

.

~i will do what i want~

.

Menurutmu?

Apa yang menyenangkan dalam sebuah festival?

makanan enak?

pertunjukan yang bagus?

keramaian yang menyenangkan?

atau. .

.

kesempatan bersama orang yang kau kasihi?

.

-LEADER SIDE-

Di depan gerbang Konoha Gakuen.

"Wah.. Sepertinya ramai sekali." Gumam seorang gadis yang memasuki halaman depan Konoha Gakuen dengan langkah pelan.

Di gendongannya, Nampak seekor kucing berwarna biru yang hanya bergeliat manja di tangan pemiliknya.

"Hm? Bagaimana menurutmu Matatabi? Apa kau suka festival?" tanya perempuan itu kepada sang kucing.

miaw~

Perempuan itu hanya tersenyum sebelum dia melangkahkan kakinya mantap ke gedung utama Konoha Gakuen.

.

"Sebaiknya kita temui para ketua OSIS bodoh itu segera." Gumam nya lagi.

.

-LORD STAGE SIDE-

.

Di sudut lain Konoha Gakuen.

Nampak seorang pemuda berseragam Uzushio yang tengah memainkan koin dengan tangannya. Pemuda itu terlihat sedang bersama Ibiki-sensei.

"... Lama tidak bertemu, wajahmu masih seram seperti biasanya.. Sensei." ucap pemuda itu kepada Ibiki.

"Tch.. Hanya itukah kata katamu kepada kakakmu?" balas Ibiki tidak senang.

"Mwahahaha... Maaf maaf." balas Pemuda itu. Dia menatap Intens kepada pria yang mengaku kakaknya itu.

Namun Ibiki malah memalingkan wajah.

"Hentikan." ucap Ibiki.

"Huh?" Pemuda itu bertanya tanya saat Ibiki malah memalingkan mata saat ditatap.

.

"Terakhir kali kau menatapku lama, Aku kehilangan dompetku." Balas Ibiki.

Pemuda itu malah tertawa lagi.

"Mwahahahaha..."

Ibiki mendecak tidak suka.

"Kau tau? Sudah ku bilang untuk meninggalkan hobi sialanmu itu kan?!" Protes Ibiki tidak suka.

"Hm? Kau tidak suka Magic? Hm Sensei?" tanya Pemuda itu lagi. Dia masih setia memainkan koin di tangannya.

urat nadi di kepala Ibiki semakin mengeras.

"Masih bicara seperti itu HAH?!" Bentak Ibiki.

Pemuda itu tersenyum, Dia lalu melempar koin yang ada di tangannya dan menangkapnya lagi.

Dan set,

Detik berikutnya dia menunjukan kedua telapak tangannya yang kosong kepada Ibiki. Menandakan kalau koin yang dia pegang tadi benar benar hilang.

Ibiki mendecih tidak suka.

.

"Awas saja kalau kau mengacau di Festival kali ini Idate."

.

Idate tersenyum penuh arti.

"Aku hanya akan tampil di panggung sebagai perwakilan klubku sendiri. Dengan gemilang tentunya!" Balas Idate senang,

.

.

... namun sembari menyilangkan jari.

.

-BELOVED SIDE-

.

Di sisi lain Konoha.

"Yo.. Kau tidak berubah ya.. Tayuya." ucap Hinata kepada teman lamanya.

Sedangkan sang gadis hanya menatap Hinata yang sangat berbeda semenjak dia terakhir bertemu di SMP.

"Err.. Kau berubah banyak.. Hinata.." balas Tayuya heran mendengar logat Hinata yang sudah tidak memanggilnya dengan sufiks -san

Hinata hanya tersenyum.

"Hee? jadi kau adalah murid Iwa-Art Academy sekarang?" tanya Hinata kagum.

Tayuya hanya tertawa.

"Hehe.. Iya."

"Jadi? Kau juga akan ikut pentas seninya?" tanya Hinata lagi.

Tayuya mengangguk.

"Aku bersama klub drama sih."

"Oh." Hanya Oh lah jawaban Hinata.

Tayuya melirik ragu salah satu temannya di Myubokuzan dulu ini. Pandangan kurang percaya dirinya kini sudah hilang, berganti dengan pandangan angkuh namun masih dengan keramahan yang tak berbeda jauh.

Dia bahkan Err... sudah berani memakai. . . Um, lipgloss. Dan. .

Tayuya melirik baju Hinata yang sengaja dikeluarkan

Errr.. Pakaian yang cukup. . .

"E-Err. Kau sendiri?" Tayuya mencoba mencari topik.

"Hah?"

"Kau akan berpartisipasi dalam pentas kan?" tanya Tayuya, mengingat dia melihat Hinata bersama klub Theater Konoha kemarin.

Hinata tersenyum penuh arti.

"Yah.. Itu tergantung..." Hinata menggantungkan kalimatnya.

"Tergantung...?"

Hinata mengangguk.

.

"... Tergantung Ketua klub Theater berani membayarku berapa."

"..."

Tayuya melongo.

.

Melihat Reaksi Tayuya, Hinata malah tertawa.

".. Hanya bercanda."

.

-JUSTICE SIDE-

.

Di sudut Nan jauh Okinawa.

"HAAA?! APA MAKSUDMU DIPINDAH TUGASKAN?!" Bentak Darui tidak percaya.

"Kau dengar sendiri apa kataku Opsir."

Opsir Darui hanya diam membisu mendengar titah Komandanya sekarang. Yah, ini adalah kesekian kalinya dia dipindah tugaskan.

Pertama Suna,

kemudian Harajuku.

Lalu ke Okinawa.

.

Sekarang dengan sangat terpaksa dia akan dipindah tugaskan ke Konoha.

"Kenapa?!" tanya Darui tidak terima.

Sang kepala polisi hanya menghela nafas kemudian.

"Kau tau, Kepolisian Konoha sedang butuh banyak bantuan menangani kasus Terror. Bahkan mereka tidak cukup personil untuk mengamankan festival besar yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Karena dari itu, Saat rapat dengan para jendral polisi. Resimen Okinawa. Aku mengajukan diri untuk memindahkan beberapa personil..."

"..." Darui hanya diam.

"Kasus Terror itu hal serius kau tau?" lanjut sang Kepala polisi.

Darui mencoba berpikir.

"Maksudmu? Aku akan ikut operasi meringkus Teroris?" ucap Darui senang. Yah, kalau ini sih.

Cepat lambat Opsir Darui pasti akan dipromosikan menjadi jendral. bwahaha-

"Tidak."

"Hah?" Darui heran.

"Kau yang akan mengamankan festival."

"..."

Darui menepuk jidatnya.

"Kau dan salah satu anggota baru akan berangkat besok." ucap Sang komandan.

"Anggota baru?" tanya Darui heran.

Sang kepala polisi hanya mengangguk. Dia menunjuk seseorang yang duduk tak jauh dari situ.

"Dia baru lolos Tes kemarin."

Darui pun menoleh kepada seorang pria besar berwajah garang berkulit hitam berambut putih dan memakai kacamata gelap.

Otot yang tumbuh kekar dan tato yang ada di wajahnya membuat Darui sedikit ngeri.

'Wah.. Perawakan yang menakutkan.'

"A-Apa dia hebat?" tanya Darui memastikan.

Sang kepala polisi mengangguk.

"Dia bilang dia sudah bekerja selama 27 tahun.." ucap Sang opsir.

Glek.

Darui menelan ludah.

.

.

"..Sebagai Kasir di minimarket." lanjut Sang kepala polisi.

"..."

Darui Speechless. Dia malah emosi.

Darui Menoleh ke orang itu lagi.

.

.

"Yow! Dasar Payah! Dasar Lemah!."

"..."

.

-MANOR SIDE-

.

Walikota Mansion.

"A-Ano Kushina.. Kau tidak perlu membelikanku setelan jas sebanyak itu kan?" tanya Minato kepada sang istri. Minato menatap Horror setelan jas berwarna hitam yang ditumpuk layaknya tumpukan pakaian yang menggunung.

"Apa maksudmu ttebane! Meresmikan Festival Sannin adalah kesempatan sekali seumur hidup selama masa jabatanmu! Kalau kau tidak tampil bagus. Orang orang pasti akan berpikir kalau Istrimu ini tidak pernah mengrusmu! Dattebane!" Bentak Kushina yang sedang memilih dasi.

Minato hanya sewatdroped.

"Psst.. Kita hanya perlu menjalaninya Minato-sama. Aku yakin cepat atau lambat ini akan segera berakhir." ucap Yamato yang ada di samping Minato.

Minato menghela nafas. Tapi tidak seperti ini juga.

.

Bila kalian yang tidak tau situasi disini. Pasti akan salah paham melihat kejadian saat sang walikota bersama para ajudannya sedang berdiri berjajar layaknya barisan militer.

Mereka hanya berkaos oblong dan bercelana kolor.

Menunggu perintah sang Komandan yang kini tengah memilihkan setelan jas untuk masing masing dari mereka.

Bahkan.

"KYAAA! AOBA YAMASHIRO! JANGAN KELUAR BARISAN!"

DUAKH!

Kushina tanpa ampun melempari salah satu personil pletonnya yang dengan sengaja mundur 1 langkah dengan sebuah asbak.

"S-Sumimasen."

.

"Yosh." Kushina lalu mengkomando para pelayan prempuan di rumah ini untuk memakaikan jas yang sudah dipilihnya kepada para 'obyek.'

.

Minato Sadar.

.

.

Kalau situasi ini tidak akan berakhir sampai makan malam.

.

-THE CORP SIDE-

.

Akatsuki Meeting

"Jadi?"

"Yah begitulah!"

"Benar!"

"Setuju!"

"Ngha? Apaan?"

"..."

"..."

"INI NGOMONGIN APAAN SIH?!" Hidan akhirnya mengutarakan pendapatnya saat sedari tadi dia dengar sang ketua rapat malah membicarakan hal yang nggak mutu.

Diluar topik.

Saat semua orang terlihat serius. Hanya Hidan sepertinya yang sadar kalau yang dia tangkap dalam rapat ini hanyalah. Nonton bareng The Conjuring 2 di bioskop.

.

"Oke.. Kalau begitu kita sudahi rapat kali ini.. Kita bertemu lagi di Festival Sannin."

"WOII! HASIL RAPATNYA APAAN NIH?" Hidan hanya bertariak teriak saat anggota yang lain sudah bubar.

Dia menoleh ke seorang pemuda yang menjadi notulen.

.

"Senpai.." ucap Pemuda itu di telinga Hidan.

"..." Hidan diam mendengarkan.

.

.

"... Hail Hydra."

DUAKH!

Dan pemuda itu berakhir dengan kena pukul oleh Hidan.

xxxxxxxxxxx

TBC

xxxx

Author Note(s) : Badumts! Hanzama Is Back! Okreee.. Chapter 54 coming up!

Spoiler For Natsu Dragneel : Fairy Tail © Hiro Mashima. Nah Jangan minta Natsu ditayangin di fanfic ini yaw.. Dia hanya cameo. Natsu muncul karena Penulis ketiban cicak(?)

Mungkin akan jadi bagian dalam IWDIWIW.. tapi di project selanjutnya.. IWDWIW + / IWDWIWX / IWDWIWAnother Chapter.. Dengan embel embel XOVER tentunya..

But well, Mari kita slesaikan cerita utama IWDWIW dulu, sebelum Hanzama masuk ke cerita sampingannya.

Yah.. Chapter besok sepertinya sudah mulai masuk ke PraFestival. Jadi, Moga moga aja lancar.

Fun Reviewer :

Souka 30 : Hahahahahha... Bersyukurla kau author... Karena kmu mendapat reader yg tampan yg membaca fanficmu dari chap1 sampai chap53.

Hanzama : Mungkin kamu yang paling tampan.. Tapi bisa jadi Hanzama yang paling cantik . *LGBT Detected

.

Eh Err.. Kau mungkin tampan.. Tapi reader yang lain tampan dan berani.

Oke.. Well.. Sekali lagi dan lagi... Hanzama mengucapkan terimakasih kepada para sahabat Reader yang sudah bersedia mensupport fanfic abal ini.

Hanzama ucapkan selamat yang sedang ulang tahun.

Hanzama ucapkan semangat untuk yang sedang puasa.

Hanzama doakan pula yang punya pacar semoga langgeng sampai pernikahan.

Hanzama aminkan orang orang yang berdoa meminta segera mendapat istri dengan suara seindah mentari(?)

Hanzama juga selalu berharap. Semoga para pembaca yang merespon positif sebuah fanfic dari author pemula di fanfiction akan mendapat kesuksesan di dunianya.

.

.

Well, Daripada banyak citchat. Mari kita segera masuk masa tunggu.

Salam Hangat dari Hanzama , semoga reader sukses selalu.

.

KRITIK DAN SARAN

V

V

V

V