chapter 57 : Terror

"Jadi? Sebenarnya kau kenapa?" tanya Shikamaru heran saat Sasuke sudah sadar dari 'koma' nya.

Sasuke hanya menunduk, dia menggeleng tanda tak tau. Sesekali dia memegangi kepalanya. Entah kenapa kepalanya berdenyut denyut. Naruto bilang dia pingsan. Namun karena apa, Naruto tidak mau memberitahu.

Yah, Kalau Sasuke tau 'siapa' yang mendzalimi kepalanya dengan bola. Pasti Sasuke akan mengejar orang itu sekarang juga dan memukulinya.

.

Sasuke memang tidak ingat apa yang terjadi sampai dia kini tengah terbaring di UKS. Ditemani Sakura, Shino, Shikamaru dan Karin, Sasuke hanya duduk di salah satu kasur UKS sembari bertanya tanya.

Sedangkan Naruto kini tengah mencarikan air minum untuk Sasuke di pos panitia.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sasuke kepada Shino.

Shino menyahut ragu.

"Jangan tanya aku, Karena meskipun aku menemanimu semenjak kerasukan, tapi aku juga tidak mengerti." ucap Shino.

Sasuke mencoba mencerna perkataan Shino.

"Kerasukan?"

Yah, kerasukan adalah teori Shino.

"..." Shino hanya diam.

Sasuke lalu menoleh ke Karin. Namun gadis itu juga hanya menggeleng bahu tanda tidak punya jawaban.

Sasuke lalu menoleh ke Sakura yang malah menjauh dari mereka dan berdiri di sudut ruangan. Dia tampak melamun.

"Sakura-"

"E-E? A-APA! AKU TIDAK-" Sakura sadar dari lamunanya saat Sasuke memanggil namanya. Mukannya masih merah. Sasuke bisa dengan jelas melihat Sakura bertingkah gugup.

Melihat Sasuke yang malah menatapnya heran, Sakura berniat beranjak pergi.

'Sial, setelah apa yang dikatakannya kepadaku, Dia bilang dia tidak ingat apa apa?' Batin Sakura.

"A-Aku mau ke toilet!" Ucap Sakura sebelum dia keluar dari ruang UKS. Karin yang melihat Sakura pamit, reflek langsung mengikuti Sakura dari belakang.

.

Sekarang tinggal mereka bertiga yang ada di ruangan ini.

Shino dan Shikamaru malah menatap Sasuke intens.

"Kau benar benar tidak ingat apa apa?" tanya Shino lagi memastikan. Yah, kalau ini memang candaan Sasuke. Sepertinya memang sudah keterlaluan.

Sedangkan Sasuke hanya diam menatap Shino dengan pandangan tidak bisa dijelaskan. Berapa kali dia harus menjelaskannya sih?

Shino menimang reaksi Sasuke. Dia melirik Naruto sebentar sebelum dia kembali menatap Sasuke.

.

Dia lalu menjelaskan semuanya.

.

Skip

"Kau pasti bercanda!" Sasuke tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat Shino sudah menceritakan semuanya.

"Serius?" tanya Shikamaru juga tidak percaya. Yah, Dia memang tidak tau duduk perkaranya sampai dia berakhir disini.

"Tidak percaya terserah." balas Shino enteng.

Sasuke menutupi mukanya dengan kedua tangan. Dia tidak menyangka di baru saja melakukan hal yang memalukan seperti itu.

Yah, penjelasan Shino menjelaskan tingkah Sakura barusan, Namun tidak menjelaskan kenapa Sasuke tidak ingat apapun.

.

Melihat Sasuke yang diam seperti orang bodoh, Shino akhirnya melanjutkan.

"Yakin kau tidak bercanda tadi?" ucap Shino. Seakan memastikan dan memastikan kalau Sasuke melakukannya dengan sengaja.

"Tch. Mana ada!" Sasuke masih teguh dengan pendirian. Yah, Sasuke tau. Ada sesuatu yang terjadi disini.

Namun Sasuke tidak bisa menjelaskan apa itu.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

| I Will Do What I Want © Hanzama |

Rating : T(+)

| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |

Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Etc

Pairing : TANDA-TANDA SASUSAKU, TANDA TANDA GAAMATSU

Relax and Enjoy Story.

.

Naruto berlari sepanjang lorong sembari membawa segelas minuman. Sial, setelah kerusuhan yang terjadi di lapangan. Minuman kemasan ini bahkan hampir tidak ada sisanya, salahkan saja sebagian panitia yang menggunakan akwa gelas ini sebagai objek serangan balasan.

Dasar, tidak menghargai minuman sama sekali. Untung Naruto cukup tepat waktu sebelum air mineral ini keburu ludes.

.

Naruto bergegas menuju UKS tanpa mempedulikan pertandingan lain yang akan segera dimulai. Dia bahkan hanya berlari tanpa sadar sampai langkah kakinya menubruk seseorang.

BUAKH!

"Adawww!" Naruto terjungkal karena terlambat menyeimbangkan badan.

"Maaf. Itu salahku." Ucap orang yang ditabrak Naruto. Dia sama sama terjatuh.

Setelah mengumpat dengan pelan Naruto akhirnya berdiri. Dan mengulurkan tangan untuk membantu orang yang ditubruknya ikut berdiri.

Orang itu menerima uluran tangan Naruto. Sebelum berucap terima kasih.

Naruto menatap intens orang itu. Seorang pemuda berseragam Uzushio.

Melihat lorong ini bukanlah tempat yang umum untuk berkeliaran, mengingat ada pertandingan besar di lapangan belakang, Naruto dengan ragu bertanya.

"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah pertandingannya di belakang?" tanya Naruto kemudian.

Pemuda itu tersenyum. Dia tertawa kikuk.

"Hehe.. Aku sedang mencari sesuatu." ucap pemuda itu.

"Sesuatu?"

"Ne Naruto? Maukah kau membantuku mencarinya?"

"Hah?" Tunggu-darimana orang ini tau nama-

DEG!

.

.

Krincing..

.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

"Kau adalah seorang detektif, Kemampuanmu dalam memecahkan ribuan kasus tidak dapat diragukan lagi. Kasus kematian adalah sarapanmu, melihat darah tak ayal seperti membaca koran di pagi hari. Menyimpulkan tersangka adalah mutlak bagimu."

.

.

.

"Sherlock.."

.

"...Ada kasus lagi hari ini."

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Konoha Gakuen Murderer Case © Hanzama

Yangre : Mystery, Crime

Rated : M for Crime

.

Naruto-Holmes Pov

Aku sudah mengejarnya dari beberapa bulan yang lalu. Semua petunjuk yang aku temukan mengarahkanku ke tempat ini. Sebuah sekolah yang aku yakini menjadi tempat persembunyian Jack The Rapper. Seorang rapper gila yang membunuh lebih dari 20 orang dalam dua bulan terakhir. Korbannya rata-rata adalah remaja.

Mengingat ini adalah sekolah yang ramai. Aku takut akan ada korban lagi disini sebelum aku berhasil menemukan sang tersangka.

Yah, Aku sudah bersumpah atas namaku. Kalau aku akan membawa si keparat itu ke tiang gantungan dengan kedua tanganku.

.

Ruangan yang aku datangi ini cukup bersih. Bersih dalam artian tidak ada petujuk apapun yang bisa menuntunku kepada Jack The Rapper.

Aku tidak sendirian disini, Karena aku bersama orang yang memang pemilik ruangan. Dia hanya menatapku sedari tadi. Mungkin karena aku memang belum mengatakan sepatah katapun semenjak aku masuk ke ruangan ini.

"Haloo? Bocah? Apa yang kau cari?" Tanyanya kepadaku. Aku hanya mengabaikan ucapannya karena aku sibuk membaca dokumen yang tertata rapi di raknya.

"OI!"

Dia bahkan membentakku setelahnya.

Melihat tatapannya yang terlihat heran bercampur sedikit emosi, aku pun mulai menaruh harap kepada orang ini. Berharap dia tau sedikit petunjuk.

Dia tidak bergeming bahkan sampai aku memutuskan mendekatinya dan sedikit bersandar di meja kerjanya.

"Hm.. Kau kepala sekolah di sekolah ini kan?" tanyaku kepadanya.

Tersirat jelas pandangan bingung di matanya.

"Woi bocah! Kalau kau mau bercanda. diluar saja! aku sibuk!" ujarnya kepadaku.

Aku beranjak dari tempatku. Lalu aku mendekati jendelanya.

"Kau tau..."

"..." Dia nampak terdiam mendengarkan ucapanku.

"... Menjadi penegak hukum itu susah. Sekali salah kau mengambil keputusan, Mungkin orang yang ada di sampingmu yang akan mati." jelasku lagi kepadanya.

Dia memutar matanya tanda tidak setuju dengan argumenku.

"Sebenarnya apa maumu Naruto?!" tanyanya lagi.

Yah, aku juga tidak mau bertele tele.

"Informasi.." lanjutku to the point.

"Hah?"

"Informasi yang bisa menuntunku kepada pembunuh yang sudah lama aku cari."

"..."

wanita ini malah terdiam. Sepertinya dia belum mengerti situasinya sekarang.

"Andai kau bisa bekerja sa-"

SREEETT!

"KELUAR!"

BLAM!

.

.

Aku mendecak tidak suka.

Kepala sekolah yang kurang ramah.

.

Normal Pov

.

Lorong

".. Yah, aku bahkan tidak mengerti kenapa Sasuke-senpai memberiku bunga." ujar Matsuri menceritakan pengalamannya beberapa saat yang lalu kepada orang yang ada disampingnya. Gaara.

"Lalu? Apa yang dia katakan?" tanya orang yang berjalan disampingnya. Gaara sepertinya sedikit tertarik dengan pembahasan ini. Atau lebih tepatnya penasaran?

"Um.. Aku kurang begitu yakin.. Tapi sepertinya dia membicarakan tentang filosofi bunga." ujar Matsuri.

"..." Gaara terdiam.

"Err? Kenapa tuh?"

"Hah?" Gaara hanya merespon lambat saat dilihatnya pandangan Matsuri terarah kepada seseorang yang sedang meraba raba lantai.

"Naruto?" tanya Gaara entah pada siapa. Melirik Naruto yang bertingkah aneh jauh di depan mereka.

Matsuri dan Gaara yang penasaran segera saja mendekati Naruto yanga ada di ujung lain lorong.

.

"Apa yang kau lakukan senpai?" tanya Matsuri saat sudah ada di depan Naruto. Ternyata dia sedang mengamati Lantai menggunakan kaca pembesar.

"Ssst.." Naruto masih sibuk dengan kegiatannya.

"Kau kenapa?" Gaara mengulangi pertanyan Matsuri.

Naruto akhirnya berdiri setelah dia berhasil menemukan bungkus permen di kaca pembesarnya.

Tidak segera menjawab. Naruto malah mengamati langit di luar jendela.

Dia berucap.

"Diluar mendung ya? Seakan badai akan datang hari ini." ucap Naruto.

Gaara dan Matsuri memiringkan kepala melihat langit secara bersamaan. Ha? Mereka bisa tau sang raja siang masih bersinar cerah tepat diatas langit.

Matsuri melirik ke Gaara. Namun Gaara hanya mengangkat bahu.

"Pemuda.." ucap Naruto menuding Gaara.

Membuat Gaara sedikit terkejut.

.

"Kau punya tembakau?" tanya Naruto.

"..." Mereka berdua diam.

Oke itu pertanyaan aneh.

Sekarang Matsuri dan Gaara yakin kalau Naruto barusaja terbentur sesuatu.

Naru Holmes-Tbc

.

~I WILL DO WHAT I WANT~
.

Sakura berkaca di cermin di dalam toilet prempuan. Dia sesekali membasuh wajahnya dengan air. Dilihat dari dirinya yang tengah sendirian, sepertinya Karin tidak berhasil menemukannya.

"Tch. Dasar bodoh." umpat Sakura. Dia masih mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak tak karuan. Gara gara Sasuke tadi.

Yah, mengutarakan lamaran tapi bilang tidak ingat apa apa setelahnya. Lelaki macam apa itu.

Perkataan pemuda itu masih terngiang jelas di kepala Sakura.

.

'Gadis.. Menikahlah denganku.'

Sakura memerah lagi.

Sial! Hanya satu kalimat. Namun efeknya tidak terduga.

Sakura memegangi dadanya dan mencoba mengatur nafas pelan.

.

Yah, perasaan gadis itu memang tidak bisa dimengerti, Tidak suka dengan kebohongan. Namun saat mereka dirayu menggunakan embel-embel 'Merajut rumah tangga', Imajinasi mereka ngelantur kemana-mana.

.

Ekspektasi

.

"Nee. Sakura. I Love You."

"Love you too Sasuke~"

"Sakura..."

"Hmm?"

"Saat kita menikah nanti..."

.

"..Mari kita buat anak 30 atau lebih."

.

"KYAAAAAA!~" Sakura tanpa sadar berteriak keras atas imajinasinya sendiri. Dia terduduk

BRAK!

"Sakura!" Mendengar teriakan, dilihat Karin datang dari luar setelahnya.

"..."

"K-Kau kenapa?" Tanya Karin saat melihat Sakura terduduk di lantai sembari menutupi wajahnya malu. Dia melirik Karin. Wajahnya lebih merah dari yang tadi.

"E-EH.. T-TIDAK!"

.

~iwdwiw~

.

di Lapangan pertandingan

Hinata kini tengah duduk sendirian di sebuah bangku kosong di sekitar lapangan. Waktu istirahat yang tidak terlalu lama membuat dia hanya terdiam melihat gerombolan orang yang berlalu lalang dan melepas penat bersama teman temannya. Dia memang belum dekat dengan siapapun semenjak masuk ke sekolah ini. Berbeda dengan Menma yang cepat sekali mendapat teman disini, Hinata tidak terlalu giat memperkenalkan diri kepada orang lain.

Yah, orang dikelasnya yang cukup membuat Hinata tidak canggung hanyalah Sakura sang ketua kelas, Ino dan Karin. Yang lain, Hinata bahkan tidak pernah menegur mereka kalau mereka tidak membuka topik terlebih dahulu.

Namun melihat ketiga biang rumpi itu tidak kelihatan, berakhirlah Hinata disini sendirian. Bahkan Hinata yang sempat bersama Tayuya tadi, Sudah terpisah karena Tayuya bersama gerombolan lain dari Iwa-Art.

.

Hinata hanya duduk diam sembari berkutat dengan gadgetnya. Ditemani earphone di telinganya dia mulai mencoba membunuh waktu. Rambut yang sengaja dikuncir ponytail, dan baju olahraga Moscow State Highschool yang dia kenakan seakan memperlihatkan seseorang yang anggun dimata para lelaki yang melirik.

Yah.. Dia memang sedikit lebih santai akhir akhir ini. Memang mengejutkan saat kau masuk ke sekolah ini dan ada 'orang itu' disini. Tapi, pada akhirnya semua tidak seburuk yang Hinata kira pada awalnya.

Selama 'orang itu' terus mengabaikan Hinata sampai dua tahun kedepan. Hinata yakin kalau dirinya akan baik baik saja.

.

And I know you have a heavy heart; I can feel it when we kiss

So many men stronger than me have thrown their backs out trying to lift it

But me I'm not a gamble you can count on me to split

The love I sell you in the evening, by the morning won't exist-

-"Hinata!" Tengah asyik mendengarkan music. Hinata dikagetkan oleh tangan orang yang menepuk pundaknya pelan.

Hinata menoleh.

"Ino?" tanya Hinata heran. Melihat gadis ini tiba tiba duduk di sampingnya, Hinata melepas earphone di telinganya.

"Darimana?" tanya Hinata.

Ino malah memagang kedua pundak Hinata tiba tiba.

"AAH!" Ino mulai meninggikan suara. "Apapun yang kau lakukan! Kau tidak boleh bertemu dengan SASUKE!" Ino malah menakut nakuti.

"H-Ha?"

"Pokoknya jangan bertemu dengan SASUKE!" ulang Ino.

Hinata diam. Siapa juga yang mau bertemu dengan salah satu sahabat orang itu.

"Dia berubah menjadi MANIAC!"

.

Disisi lain.

Bulu kuduk Sasuke berdiri sesaat tiba tiba. Dia menghentikan langkahnya dan menoeh ruang UKS yang barusaja berniat ia tinggalkan.

"Kau kenapa lagi?" tanya Shino kepada Sasuke yang tiba tiba berhenti di depan pintu.

Sasuke menoleh ke Shino.

"Kau mendengarnya?" tanya Sasuke.

"Hah?"

Shino dan Shikamaru saling pandang.

"Mendengar apaan?" tanya Shikamaru. Dia mencoba menajamkan pendengarannya.

Sasuke terdiam. Dia melakukan hal yang sama seperti Shikamaru. Namun dia tidak mendengar apapun setelahnya.

Mungkin hanya perasannya.

"Hn. Mungkin hanya perasaanku." ucap Sasuke.

Entah kenapa Sasuke merasakan kalau dirinya tengah dibicarakan oleh seseorang.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TBC

xxxxxxxxx

Author Note(s) : Yo. Hanzama Is Back.. Um, sebenarnya ini adalah potongan chapter kemarin.

Jadi pendek sekali.

Bagi para sahabat reader yang minta dipanjangan dan apdet cepet.. Harap bersabar.. Karena Hanzama sedang menjalani masa UAS. Jadi Harap maklum. (padahal janjinya mau apdet cepet -_-)

Apalah daya. Hanzama hanya lelaki yang tidak mempunyai sosok figur yang setiap saat mau memberi semangat *ngenes

Review dari reviewnya reader(?)

DamarNugroho : kalo bisa sih gara gara cinta persahabatan mereka hampir hancur , (y) harus update cinta nya

Answer : Well, Itu sih.. gampang gampang susah ya.. kecuali kalau mereka memperebutkan cwe yang sama.. sebenarnya.. Hanzama punya gambaran lain mengenai ending. But, mungkin sarannya bisa dipakai.. (mungkin) .. kita lihat saja kedepannya.. hehe.. Thx. sarannya~

..

Spoiler penggalan lagu : Lua by Bright Eye

Spoiler SherlockHolmes : (The Great) Sir Arthur Conan Doyle

.


SURAT KETERANGAN REDAKSI

Setelah 57 Chapter telah diunggah dalam fanfic "I WILL DO WHAT I WANT", Penulis memutuskan dengan sangat terpaksa bahwa :

.

1. Chapter 58 akan penulis ubah genrenya menjadi Mystery/Crime

2. Tokoh Utama akan penulis pusatkan kepada sir Nicolas Naru-Holmes Arvid Ulf Kjellberg

3. Judul lama "Iwdwiw" akan Hanzama ubah menjadi "Naru-Holmes : A GAME OF PHANTOM"

4. Semua Humor abal abal dari chapter 1 Hanyalah sebuah pengalih perhatian supaya penulis dapat membuat sebuah fiksi Mystery di chapter 58.

5. Kemungkinan pengubahan jalan cerita ini telah disepakati oleh ketujuh Sichibukai

Dengan adanya surat keterangan redaksi ini, Penulis terbebas dari segala macam tuntutan yang berasal dari pihak internal maupun eksternal yang meminta kelanjutan serial IWDWIW, Karena cerita sudah sepenuhnya Penulis ubah menjadi fiksi detektif.

.

Penanggung jawab redaksi.

Hanzama


Errr..

KRITIK DAN SARAN

V

V

V