chapter 58,5 :Hidup Berlari Pada cinta.

Romeo POV

Aku masih disini setelahnya. Bersama Sakura, berdua di atap gedung utama Konoha Gakuen. Pemuda sialan itu sudah pergi.

Entah hanya aku, atau sudah rasanya 30 menit kita disini tanpa bicara. Jujur, Itu membuatku resah menunggu lama kata darinya.

Sakura tak bersuara. Dia hanya mengalihkan perhatian kepada lapangan yang ada di bawah. Seakan dia yang menungguku untuk bicara. Sialnya, Aku tidak punya kalimat apapun.

Bagiku, mungkin butuh kursus merangkai kata untuk bicara sekarang. Yah, aku benci harus jujur padanya tentang semua ini.

Aku yakin, jam dinding pun tertawa karna kuhanya diam dan membisu. ingin rasanya kumaki diriku sendiri yang tak berkutik di depannya

Namun aku laki laki. Ku paksakan untuk menggerakkan bibirku.

.

.

"Sakura.."

Dia menoleh. Menatapku Intens, Lalu tersenyum.

Senyumannya membuatku terdiam lagi. Ada hal manis disenyumnya yang membuat lidahku gugup tak bergerak.

Pandangannya, Ada pelangi di bola matanya yang memaksa diriku tuk bilang.

.

.

"Maaf." ujarku.

Mendengar pernyataanku, Senyumannya hilang seketika. PLAK! Bersamaan dengan datangnya rasa perih di pipiku.

Aku terbelalak.

Tamparan yang cukup lumayan.

"Maaf Hah?! Hanya itu?" ucapnya. Bisa kudengar nada sarkatis dari kalimatnya.

"..."Aku diam lagi.

Jujur, Aku hanya mengikuti Sakura dan Temujin kesini karena penasaran apa yang terjadi. Detik berikutnya, Instingku lah yang berbuat seenaknya.

sebuah naluri aneh yang tidak mau membiarkan gadis ini jadi milik orang lain.

"Jadi...?" tanyaku. Mencoba memancing respon apa yang akan dia berikan. Berharap dia mau memberi penjelasan.

Namun gadis itu malah menunduk. Bisa kulihat kalau tangannya sedikit gemetar.

"Bodoh." Gumamnya. Sepertinya dia tidak berniat untuk menjelaskan.

Yah, dia pasti berpikir kalau aku tidak peka sekarang. Namun aku juga tidak tau harus apa disaat seperti ini.

Ah! Apalah yang orang katakan saat berada dalam posisi seperti ini?

"..."

"Mengambil hatiku, Artinya kau harus menjaganya!" teriaknya lantang. Aku sedikit kaget.

Err..

"Baiklah." ucapku enteng. Terlalu enteng, membuat Sakura kurang yakin.

"Serius!"

"Iya."

Sakura terlihat sangat tidak puas. Terlihat dari ekspresinya.

"Apa coba?" tanyanya. Aish

Aku berpikir sejenak. Sebelum menjawab.

.

.

"Um.. Ini adalah saatnya kita saling panggil dengan Aku dan Kamu."

"..." Sakura hanya diam mendengar jawabanku.

.

.

Romeo POV end

Oke Mari kita abaikan roman picisan murahan diatas. Dan kembali ke dunia nyata.

..
Naruto © Masashi Kishimoto

| I Will Do What I Want © Hanzama |

Rating : T(+)

| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |

Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Etc

Pairing : FIX SasuSaku, TANDA TANDA GAAMATSU

Relax and Enjoy Story.

..

Chapter 59 : Orange Cider

"Yo Kiba." sapa Naruto saat dia sudah kembali ke tempat perlombaan.

"Kemana saja ka- Huh? kenapa dengan wajahmu?" tanya Kiba saat dia melihat hidung Naruto di plester.

Naruto menghela nafas.

Mengingat penyebab wajahnya yang babak dari penjelasan Gaara beberapa menit yang lalu, membuat Naruto malas untuk membahas apapun.

"Kau tidak akan tau rasanya punya ketua klub yang tidak menghargai anggotanya." ucap Naruto curhat.

Mendengar perkataan Naruto, kiba malah membayangkan Klubnya sendiri. Yah, Klub Music Konoha Gakuen tidak lebih baik dibanding Klub drama. Maksud Kiba, Anggotanya hanya berisi prempuan anak kelas tiga dan Kiba satu satunya lelaki. Saat kiba berpikir tentang kehidupan harem yang akan dijalani saat dia masuk ke klub musik, nyatanya dia hanya jadi babu. Jadi pesuruh para wanita barbar dari klub Music.

Dengan sedikit terharu. Kiba malah menepuk Naruto.

"Kita senasib."ucap Kiba.

Sebentar mereka mengobrol, pandangan mereka harus teralihkan kepada gerombolan anak-anak dari Uzushio, Iwa-Art dan Konoha yang kini tengah menggerombol di depan papan pengumuman yang ada di tenda panitia.

Merasa penasaran, Kiba dan Naruto pun ikut nimbrung kemudian.

.

.

"WAT?!"

Naruto dan Kiba terdiam. Di depan mereka kini tengah terpampang papan besar yang berisi setiap nama kelas dari ketiga sekolah, dan disampingnya tercantum perolehan skor. Yah, Ini adalah Ladderboard

Nomor satu adalah kelas 3-A Iwa-Art,

Nomor dua adalah kelas 2-D Iwa-Art,

Nomor tiga adalah kelas 3-C Iwa-Art,

Sialan, TOP TRI diduduki oleh Iwa-Art semua.

Namun bukan itu yang membuat Naruto dan Kiba tercengang. Yang parah adalah. kelas 2-1 Konoha ada di paling terakhir. Bahkan oleh panitia ditulis dengan spidol merah.

"APAAN NIH?!" Teriak Kiba. Menuding Tenten yang ada disana.

"Err.. Jangan salahkan aku.." Tenten malah menunjuk Neji yang kini ada di meja panitia.

"OI!" Kiba berbalik Menuding Neji.

Neji yang merasa tau duduk perkaranya akhirnya berdiri dan mendekat.

"AP-"

"SST!" Potong Neji atas perkataan Kiba. "Kelas 2-1 didiskualifikasi dalam pertandingan karena terlalu sering melakukan kecurangan." jelas Neji.

"H-Ha?" Naruto hanya melongo.

Yah berita bagus, Naruto tidak mengikuti pertandingan apapun semenjak tadi, dan saat dia kembali, kelasnya di vonis melakukan kecurangan.

"Kecurangan apaan?!" Suara Kiba meninggi.

Neji menatap Kiba bosan. Orang ini nggak ada rasa bersalahnya sama sekali ya?

Well, Mengingat Kiba menyenggol ember kelas lain dalam permainan memindahkan air menggunakan gelas.

Lalu, Sengaja menjegal pemain lain dalam lomba balapan kaki tiga.

dan yang paling parah. Menyalahi aturan dalam lomba estafet kelereng

"Pokoknya Kelas kalian didiskualifikasi!" Ujar Neji ngotot.

"..." Kiba dan Naruto terdiam.

Tak lama beberapa anak kelas 2-1 datang menghampiri.

"Kalian tidak diperbolehkan ikut di pertandingan berikutnya!"

.

.

Ah, sialan.

.

~i will do what i want~

.

Kiba mendecak tidak suka dari jauh saat dirinya dan teman teman kelas 2-1 tengah terduduk sekarang. Mereka hanya duduk diam sembari menatap orang orang yang tengah bersiap untuk permainan berikutnya.

mereka tengah membagikan ikat kepala. Yang mana ikat kepala tersebut terdiri dari tiga warna.

"Tchh! Kuso!" teriak Kiba frustasi.

Ino menghembuskan nafas dalam. Hahh.. Ini seperti saat classmeeting sewaktu kelas satu. Pada akhirnya, kelasnya didiskualifikasi juga. (Sekedar info. Ino satu kelas dengan Kiba sewaktu kelas satu)

"INI TIDAK ADIL WOOYY!" Kiba malah teriak teriak. Meneriaki tenda panitia dari jauh. Bletak!

Ino mencengkram kerah Kiba dan menatapnya dengan pandangan iblis.

"Innii Salahh Muu Bodohhh!" Ucap Ino Horror. Glek!

.

Neji yang mendengar teriakan Kiba malah menyeringai dan-

Kiba semakin tersinggung saat tulisan kelas 2-1 di Ladderboard, dicoret dengan efek slow motion oleh Neji. Seakan menghina.

Urat nadi di kepala Kiba mengeras.

"Hahh.. Lalu bagaimana sekarang?" Karin mulai mengutarakan kekecewannya.

Yah, sekarang mereka tidak diperbolehkan untuk ikut semua perlombaan yang tersisa. Secara tekhnis, mereka tidak ada alasan lagi untuk tetap tinggal disini.

Mending pulang.

"Tch. Sakura kemana sih?" kicau Ino tidak sabar. Ketua mereka malah menghilang disaat seperti ini.

Naruto menoleh. Dia juga tidak melihat Shikamaru dan Sasuke.

"Kalau begitu, Kita pulang saja." saran Shino. Well, membuang buang waktu bukan hobinya.

"Yah mungkin kau ben-"

"JANGAN-" Kiba memotong perkataan Ino. Membuat Ino sedikit tersinggung.

.

"-Apa kalian lapar?" tanya Kiba kepada para teman temannya. Dia menoleh, menatap teman temannya satu persatu.

Mereka semua berpikir.

Iya lah. Belum ada yang makan siang. Dan waktu sudah menunjukkan sore. Sebenarnya sih, beberapa anak membawa bekal namun memang sengaja belum dimakan karena panitia bilang mereka akan makan bersama setelah pertandingan slesai. Namun nyatanya kebijakan panitia membuat nafsu makan mereka hilang seketika.

"Kenapa bertanya? Kau mau traktir?" tanya Naruto. Melihat tampang Kiba, jangankan traktir, Naruto bahkan ragu kalau pemuda ini membawa bekal.

Kiba terseyum menuh arti.

.

"Sebelum pulang, Aku akan mencari Sakura. Kalian sebaiknya menunggu di gedung Theater, pastikan tidak ada orang disana. Kita akan mengadakan rapat evaluasi." ucap Kiba.

"Ha?" sebagian murid kelas 2-1 tidak mengerti.

"Sudah lakukan saja!" perintah Kiba.

Karin sedikit tidak suka.

"Hei aku tidak terima perintah darimu!" Diikuti anggukan oleh Ino.

"Please.. Nanti aku belikan makan siang untuk semua!" mohon Kiba.

Bohong. Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh Kiba.

"Kumohon.." Kiba memohon lagi.

Shino yang melihat Kiba memohon, mulai berpikir kalau berkumpul satu kelas sebelum pulang bukan hal buruk.

dengan Sedikit ragu, Shino membela Kiba.

"Mungkin Kiba benar. Karena, Berkumpul satu kelas sebelum pulang kan bukan hal buruk." bela Shino akhirnya.

Semua murid kelas 2-1 saling pandang.

Mereka terdiam beberapa menit sebelum akhirnya mengiyakan.

"Hahh.. Baiklah."

Tanpa ada pertimbangan lagi, mereka segera mengambil langkah seribu menuju gedung theater. Setidaknya mereka bisa beristirahat di kursi yang empuk disana.

Kiba tersenyum senang.

Yah, dia punya rencana.

.

.

Shino dan Naruto yang ingin mengikuti gerombolan teman temannya malah dicegat Kiba dan ditahan untuk tetap tinggal.

"Tunggu, Aku butuh bantuan kalian." ucap Kiba.

Shino dan Naruto saling pandang.

"Bantuan apaan?" tanya Naruto tidak mengerti.

Kiba menyeringai.

.

.

"Membalas panitia."

.

.

.

SKIP

"Ini beneran?" ucap Naruto tidak yakin.

"Tentu saja Naruto. Lihat mereka! Memang kau tidak peduli dengan keadilan?" balas Kiba yakin.

Shino, Kiba dan Naruto kini hanya berdiri berjajar sembari menatap tenda panitia.

Shino juga mulai ragu dengan perkataan Kiba.

"Kau tau. Mungkin mereka membelinya dengan uang mereka sendiri." ujar Shino.

"OMONG KOSONG!" Suara Kiba meninggi. "Kau tau. Dana pelaksanaan kegiatan ini datang dari Kepala sekolah!"

"..."

"Dan mereka jadi sombong padahal kerjaan mereka hanya duduk duduk di bawah tenda! Kita yang peserta malah tidak diberi apapun!" ucap Kiba lagi.

.

Naruto menoleh menatap iba tumpukan kardus yang tidak dijaga di samping tenda panitia. Yah, rencana gila Kiba adalah..

.

.

Mencuri jatah makan panitia.

.

Shino menoleh ke Kiba lagi.

"Kau tau ini kriminal kan?" tanya Shino.

"Kau tidak mengerti! Kita lebih membutuhkannya dibanding mereka!" ucap Kiba. Dia menunjuk dua orang panitia berseragam Iwa-Art dan Uzushio yang saling mengobrol. Sebelum akhirnya mereka berdua berpegangan tangan dan saling menggoda. Njirr. Pemandangan yang horor untuk seorang jomblo.

"Kau mengerti maksudku kan?" tanya Kiba.

Naruto dan Shino hanya menutupi mata dengan tangan saat sang lelaki dengan sengaja mencium pipi sang gadis.

Hasrat Kiba malah semakin menggebu gebu untuk merobohkan tendanya saat melihat adegan itu.

Dia menoleh ke Shino dan Naruto lagi.

"Kalian jga belum makan kan?" tanya Kiba.

Well, Jujur sih. Shino dan Naruto juga tidak membawa bekal.

"Kau tau. Coba bayangkan saja.." lanjut kiba.

.

Kiba mengisyaratkan dengan tangannya.

"Nasi hangat yang masih mengepul.."

"..."

"Ayam crispy yang terasa renyah dan lembut saat kalian gigit."

"..."

"Sambal pedas yang akan melengkapi hari kalian."

"..."

Nyam.

WAWW! Godaan yang sangat Mengerikan!

Kiba dan Naruto saling pandang. Sebelum mereka menelan ludah. Gila!

Naruto diam sebentar. Sebelum dia bertanya.

.

"Kau punya rencana?"

Kiba tersenyum senang.

.

~i will do what i want~

.

Petuah Narator : Ingat! Mencuri adalah perbuatan jahat! Jangan ditiru ya!

.

Bak penjahat kelas kakap Kiba, mengendap endap diantara kerumunan orang. Dia dengan perlahan mendekati tenda panitia.

Sesekali dia menoleh ke Naruto dan Shino yang mengamati dari jauh.

Yah Penjelasan Kiba memang tidak terlalu jelas tapi mereka tau rencana Kiba. Kiba mencoba mempraktekan strategi "Penarik dan pengumpan cacing ala spongebob."

Dengan kata lain, Kiba akan mencoba menarik perhatian seluruh panitia dimana Naruto dan Shino akan mencomot nasi kotak milik para panitia.

Yah, Strategi yang sempurna. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara Kiba mendapat perhatian seluruh panitia.

Mari kita lihat ke TKP.

Kiba Side.

Kiba masih berusaha mengendap endap mencoba mencari celah diantara 'markas musuh' yang dijaga ketat. Dia berpikir sejenak sebelum dia melihat sebuah kamera SLR yang tergletak manis di meja.

Sebuah ide gila muncul di otaknya.

GLEK!

Kiba menelan ludah.

'I-Ini Akan menjadi sebuah kejahatan tingkat tinggi!" Namun Kiba menepis semua pikiran 'bersih' di otaknya. Yah, sekarang dirinya adalah Robin Hood, dia punya rakyat yang harus diberi makan.

SREET.

Dengan sedikit tekhnik ala maling. Kiba merampas kamera panitia yang menganggur itu. Dan berjalan menjauh.

"Aku pinjam dulu ya~" gumam Kiba sepelan mungkin. membawa kabur kamera itu.

Saat panitia yang bertugas sebagai pubdekdok kembali. Dia hanya bertanya tanya saat kameranya hilang.

"Hei Dimana Kamera-"

"KYAAAAAAAAAA!"

CKREK!

"HUWAAA! HENTAII!"

CKREK!

"APA YANG KAU LAKUKAN BODOH!"

CKREK! CKREK! CKREK!

CKREK!

CKREK!

Semua panitia dan orang yang mendengar teriakan itu langsung menoleh ke sumber suara. Yang mereka lihat adalah seorang pemuda yang tengah bermain dengan kamera SLR milik panitia.

Dan dia memotret rok para gadis dari bawah. Dengan kata lain.. Um.. Yah, kau tau maksudku-

Berbeda dengan peserta, panitia tidak menggunakan pakaian olah raga jadi, kejahatan kiba didukung sempurna oleh keadaan.

"A-A-APA YANG KAU LAKUKAN BODOH?!" Teriak Yugito tidak terima saat salah satu anak buahnya menjadi model fotografi Kiba.

"Wiuuu.. Foto yang lumayan." ucap Kiba mencoba terlihat menikmatinya. Dalam hati, dia hampir jantungan melihat hasil jepretannya sendiri.

"AAA! Itu Kamera panitia!" teriak pemuda pubdekdok tadi menunjuk Kiba.

"APA?!" Neji kini menaruh perhatian penuh ke kamera panitia yang dijadikan mainan.

CKREKK!

Kiba bahkan masih sempat mendapat satu foto lagi. Dan korbannya adalah Assisten OSIS konoha. Tenten.

"OIII!" Tenten mencoba menutupi roknya.

"TUNGGU KAU BANGS4T!"

.

Yah Kiba tau. teriakan itu adalah pertanda kalau Kiba harus segera berlari.

.

Naruto and Shino Side.

"Wah. Nekat sekali si Kiba." ucap Naruto tercengang melihat Kiba yang sudah menjadi bulan bulanan hampir seluruh panitia. Dengan kata lain perannya sebagai pengumpan cacing berhasil.

Naruto lalu menoleh ke Shino.

"Sekarang bagaimana?"tanya Naruto ke Shino.

Shino melirik tenda panitia yang sebagian penjaganya sudah pergi. Markas yang rapuh untuk menerima serangan langsung.

Shino terdiam beberapa saat sebelum berucap.

"Kau tunggu disini saja." perintah Shino.

"Hah?" Naruto hanya menatap Shino heran dan takut saat Shino tiba tiba maju sendiri menuju tenda panitia.

di tenda panitia.

Sekarang Jarak Shino dan nasi kotak hanya terpaut satu langkah. Shino bahkan bisa mengambilnya langsung bila dia mau. Namun di tenda itu masih ada orang. Dua orang pemuda-pemudi yang tengah pacaran tadi.

Yah, Shino tau. Saat dia mengambil nasi kotak ini, maka dia akan menjadi pelaku kriminal. Dia menoleh ke lapangan ramai yang kini para peserta tengah berbincang, menunggu pertandingan selanjutnya dimulai. Peserta beratribut lengkap dengan ikat kepala yang dibagikan tadi.

Dia lalu menoleh ke Naruto. Naruto hanya mengisyaratkan dengan tangan kalau Shino harus kembali dan mengatur ulang strategi.

Shino lalu menoleh ke kedua orang yang pacaran tadi.

Dia dengan ragu berucap.

"Maaf, Apa ini boleh aku minta?" ucap Shino.

Naruto yang tau kalau Shino tengah meminta izin malah menepuk mukanya sendiri. Mana ada maling yang izin dahulu! tinggal comot-lari-udah.

Namun diluar dugaan. Pemuda yang tengah pecaran tadi menjawab tanpa menoleh.

"Heh.. ya terserah kau." ucapnya, Sembari mengibaskan tangan kirinya. Mengisyaratkan kepada Shino untuk segera pergi.

Detik berikutnya. Shino pun hanya menggotong santai nasi kotak itu-menempatkannya di samping Naruto-dan mengambil lagi.

Naruto melongo.

WHAT THE FU(*%(&$( ?!

Ah, Satsuga Shino dan Miss Direction.

.

Petuah Narator : Err.. Bukan mencuri namanya kalau kau meminta izin terlebih dahulu. Okesip Lanjut!

.

~I WILL DO WHAT I WANT~

.

Lorong

Sakura hanya berjalan sembari bersenandung ria. Di sampingnya, Sasuke hanya menatap Sakura sembari sesekali tersenyum tipis 'dasar kekanak kanakan.'

Setelah berbicara panjang dengan Sakura di atap, Sasuke merasa sangat lega sekarang. Eh. bukan lega sih. Ini terasa seperti- ah, dia tidak bisa mengartikannya.

Namun rasanya sangat nyaman, Terang, Hangat. Hal menyenangkan sejenisnya.

Yah Sasuke tau, Ini adalah yang pertama baginya. Dan melihat dari tingkah laku Sakura, Sasuke mengasumsikan ini juga sepertinya yang pertama bagi gadis ini.

Mereka berdua memang belum berpengalaman, tapi.. Setidaknya Sasuke akan mencoba untuk menjaga komitmen. Yah. Selalu ada yang pertama untuk setiap hal kan?

Semoga saja yang dikatakan orang benar.

.

Kalau cinta pertama akan bertahan selamanya.

"Ne Sasuke.. Kau sudah makan?" tanya Sakura tiba tiba.

"Belum."

"Aaa. Bagaimana kalau habis ini kita-"

Gruduk gruduk gruduk!

Obrolan 'dua sejoli' ini harus dikagetkan oleh suara belasan telapak kaki yang datang dari sisi lain lorong.

Sasuke terkejut. Jangan jangan ada yang berlari di lorong lagi?

Sepertinya kebijakan Ibiki Sensei untuk melarang lorong digunakan untuk berlarian tidak berlaku akhir akhir ini.

Sakura dan Sasuke menyipitkan mata melihat Kiba yang tengah dikejar oleh wajah wajah yang identik dengan para pengurus OSIS.

"Kiba?"

"WAAA! MINGGIRR!" Teriak Kiba.

"Berhenti OYY!"

Melihatnya pun tau. Kiba pasti tengah dilanda masalah. Ah, tidak pernah ada hari yang sepi di lorong ini.

"SASUKE TANGKAP!" Teriak Kiba. Dia dengan seenaknya melempar kamera SLR nya kepada Sasuke.

"Huh?" Sedikit takut dengan gerombolan orang yang semakin mendekat, Sasuke menangkap kamera itu. Kamera itu menyala.

Dia dan Sakura tanpa sengaja melirik layar yang terpampang.

Saat Sakura tau gambar apa yang terpampang. Dia malah berteriak.

"KYAAAAAA! HENTAIII!" Sakura dengan satu gerakan merebut kamera itu dan melemparnya kembali ke Kiba.

Ah! Gadis yang baru saja menyelamatkan kekasihmu dari bulan bulanan panitia.

"WOOII!" Kiba lah yang terkejut saat kamera 'haram' itu kembali kepadanya.

"BERHENTI KAUU!"

.

Kiba lalu berlari melewati kedua sejoli itu sembari mengisyaratkan untuk pergi ke gedung theater.

Sasuke dan Sakura hanya memiringkan kepala. Sayangnya mereka tidak mengerti isyarat Kiba.

Oke, kita tinggalkan mereka.

.

~I WILL DO WHAT I WANT~

.

Gedung Theater.

"Hm? Apa perintahmu pangeran?"

"Siapkanlah sebuah pesta dansa yang meriah.."

"..Karena dalam dongeng dikatakan demikian."

Suara terus menggema di gedung theater konoha yang sepi. Diselingi gelak tawa dari beberapa orang yang melihat Ino mempraktekan drama konyol yang diperankan Shikamaru dan Naruto tempo hari. Yah, Dia menontonnya dan dia terhibur.

"Hahaha.. Dasar bodoh. Mana ada raja yang seperti itu."

"Kalau ada pasti kerajaannya akan runtuh.."

"Hahahaha.."

Oke. Kini seluruh murid kelas 2-1 tengah terduduk tidak beraturan di atas panggung, sesekali mereka melemparkan candaan.

Seakan masalah mereka tadi tidak pernah terjadi.

"Eh tapi.. Shion-chan bermain lumayan kok sewaktu dramanya." ucap Ino.

Shion sedikit menyombong.

"Eh. Aku bermain perfect kau tau." balas Shion. Sembari memainkan rambutnya.

Ino hanya membalas dengan gerakan enteng.

Ino lalu melirik Shion dan Hinata yang duduk bersebelahan. Entah hanya dia atau Ino memang merasakan kemiripan antara kedua gadis ini.

"Kalau dipikir pikir kalian berdua mirip ya?" tanya Ino kepada Hinata dan Shion.

"Benarkah?" Shion menoleh ke Hinata dia mengamati setiap ini wajah Hinata. Pandangannya lalu beralih ke rambut Hinata yang diikat ponytail.

Saat Shion melihatnya. Dia mencoba menata rambutnya dan menyamakannya dengan Hinata.

"Sekarang bagaimana?" tanya Shion. Menunjukkan model rambutnya.

seluruh kelas 2-1 tertawa lagi. "Haha. Memang mirip."

Hinata hanya menanggapi santai. Sedangkan Karin yang dari awal kurang suka dengan Shion hanya ikut tertawa saat teman temannya tertawa. Yah, Shion bisa jadi teman yang menyenangkan kalau seandainya tidak memiliki sifat angkuh dan perkataan yang tajam.

.

Lama mereka berbincang. Nampak pintu depan terbuka. Bersamaan dengan masuknya tiga orang pemuda. Shino, Naruto dan Shikamaru.

Shino dan Naruto bertemu Shikamaru di jalan sebelum mereka menyuruh Shikamaru ikut membawa makan siang ini.

"Wih."

"Waaww."

"Mantap."

Kiranya itu respon orang orang yang melihat ketiga pemuda itu membawa makanan. Shino, Naruto dan Shikamaru mendekat dan meletakkan makanan itu.

Ino yang melihat isinya hanya menatap makanan itu takjub.

"Dapat darimana?" tanya Karin.

Shino dengan enteng menjawab.

"Kami memintanya dari panitia. Dan mereka memberinya dengan sukarela." ucap Shino. Yah, secara tekhnis dia tidak berbohong. Karena memang dia sudah izin.

Oke, lebih baik mereka tidak tau kebenarannya. Shino harap Kiba bisa kembali kesini dengan selamat.

"Y-Ya.. Kiba kini tengah berunding dengan sebagian panitia." ucap Naruto. Berharap teman temannya tidak curiga.

"Tumben si Kiba." Balas Karin.

"Y-Yah.. Dia melakukannya demi kita. hahaha.." lanjut Naruto. Dia sedikit tertawa renyah.

.

.

KLEK!

Tak lama, Sakura dan Sasuke datang dari pintu depan.

"Sakura!" teriak Ino.

baru masuk dan melihat teman temannya bagi bagi makanan hanya tersenyum.

"Wih.. Makan makan nih." ucapnya.

Yah, Untung Sakura sempat menerima SMS dari Ino beberapa menit yang lalu.

"OY Sasuke! Sini kita makan!" ucap Naruto.

"Hn."

.

.

Selama mereka bahagia. Biarlah Kiba, Naruto dan Shino yang menanggung dosanya. Eh.. Err..

.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TBC

xxxxxxxx

Author Note(s) : Yolo Hanzama Is BACKK! taramm.. persiapkan diri kalian untuk festival besok! Ya- eh.. secara tekhnis.. kalau nggak chapter depan ya chapter depannya lagi #dor.

Oke, Sebelum Hanzama melanjutkan.. Hanzama hanya mengingatkan.. HANZAMA tidak memperbolehkan jenis plagiasi dalam bentuk apapun. Apalagi dengan sengaja copy paste iwdwiw dan merubah karakternya sesuka kalian..

plis deh ya.. Hanzama hanya ingin menghibur.. kalau kalian ingin hiburan.. come here, and join the fun! kalau kalian ingin sekali share fun kepada orang lain.. cukup kasih link ke iwdwiw,, kita baca sama sama.. jangan sajikan konten iwdwiw diluar 'lembar imajinasi' milik hanzama..

jangan bikin repot diri kalian dengan mengubah 'seluruh' karakter dalam iwdwiw.. karena hanzama jamin.. ini adalah projek panjang dan butuh tenaga dan waktu bahkan hanya untuk mengganti nama.. jadi STOP PLAGIASI!

#err. oke itu sedikit cuap cuap.

.

Author Note(s)2 : Makasih bwat sarannya soal akses fanfiction kemarin.. Sangat membantu. Namun Hanzama masih akan menggunakan 'metode lama' hanzama sampai masa kehidupan modem hanzama berakhir pada tanggal 30 depan.. hikss.. #nangis

Yosh sebelum hanzama tutup-

.

Yang Terlupakan

"Hah sial! Dia tidak terkejar!" ucap Yugito kepada Neji. Neji sepertinya hanya mengiyakan. Namun dia tidak mempermasalahkannya lagi, Karena kamera SLR panitia kini sudah ada di tangannya.

Heh!

Maling tidak profesional yang terlalu takut dengan akibat dan meninggalkan barang bukti begitu saja di sudut lorong.

Dasar amatir.

Tap Tap Tap!

Suara seseorang berlari menarik perhatian Neji setelahnya.

"KETUA!" Teriak orang yang berlari itu.

"Hn. ada apa? Semua sudah berakhir." Ucap Neji. Dia menunjukkan kamera SLR yang ada ditangannya.

"Bukan itu! Makan siang kita dicuri!" teriaknya.

Neji melongo.

"A-Apa yang kau katakan?"

.

Disisi Lain,

BRAK!

Semua orang yang ada di gedung Theater hanya terkaget saat Kiba tiba tiba masuk dengan sedkit kasar. Dia lalu berjalan lemas ke kerumunan teman temannya.

"Darimana saja kau?" tanya Sakura melihat Kiba yang berkeringat eras.

Kiba hanya membalas dengan terduduk lemas di sampin Naruto.

"Hah.. Kau tau.. Para panitia itu terlalu bersemangat untuk mengajakku lomba lari." ucap Kiba.

Sakura hanya menatap Kiba bosan.

Yah. Ini pasti berhubugan dengan Fotografi CD yang Sakura lihat beberapa saat lalu.

Ehem.. Untung Sakura hanya paham sebatas itu. Dia tidak paham dengan rencana ironi diatas ironi yang disiasati Kiba.

"Psst? Kau tertangkap?" bisik Naruto kepada Kiba.

Kiba tersenyum sembari mengedipkan mata. Pertanda kalau dia aman.

Kiba lalu menatap makan siang nya dengan lapar. Mencari cari mana bagiannya.

"Mana jatahku?"

Karin menyodorkan dua buah nasi kotak kepada Kiba.

"Dua untukmu." ucap Karin.

Kiba tersenyum lega. Sebelum dia tertawa. Dia tidak pernah merasa sepuas ini mengerjai panitia.

.

Kiba pun dengan senang hati menerima nasi kotak itu.

'Yah.. Hal besok pikir saja besok!' batinnnya.

Saat dia memegang kotak itu. Dia melirik teman temannya.

"Anoo.. Soal sampahnya.. Sebaiknya kalian bawa pulang kerumah masing masing." ucap Kiba.

Semua orang yang ada di sana menatap bingung.

"Kenapa?"

Kiba hanya menjawab enteng.

"Yah kau tau.. Untuk mengurangi tugas panitia dalam bersih bersih." ucap Kiba.

Oke, Itu masuk akal. Mereka menajwab serentak.

"Baiklah."

.

Kiba tersenyum.

Kiba menyeringai.

Menghilangkan barang bukti.

Sebuah kejahatan yang sempurna.

MWAHAHAHAHAHAHAHA-HAHAHA-HAHAHA-HAHAHA-UHUK UHUK

.

.

Kiba tersedak karena menghayal berlebihan.

.

.

KRITIK DAN SARAN

V

V

V

V

V