PinKLabeL Proudly Present

"THIS IS HOME!"

ENJOY

Chanyeol sedang menunggu Baekhyun keluar dari gedung bimbingan belajarnya. Ini sudah jam sembilan malam dan adiknya itu benar-benar otak baja. Yah, memang diantara mereka berempat hanya Chanyeol dan Baekhyun yang memiliki kemampuan otak diatas rata-rata, meski Kai dan Kyungsoo memiliki alasan sendiri mengapa mereka sulit menyerap pelajaran.

"Ya! Hyung!"

Chanyeol menengok menuju balik punggungnya dan ia bisa menemukan remaja laki-laki berseragam sedang berlari menuju dirinya.

"Jangan lari-lari, Baek." Chanyeol lalu membawakan tas Baekhyun, ia tahu adiknya ini membawa hampir seluruh buku di perpustakaan. Ya, idealnya seperti itu untuk mengumpamakan si kutu buku. Tapi, mata Baekhyun tetap normal, tidak minus seperti Chanyeol yang masih saja bandel tidak memakai kacamatanya. "Kau bisa sakit, tahu."

Baekhyun menangkap kepalan tangan Chanyeol yang hendak menjitak kepalanya, "Aku bukan Kyungsoo, Hyung."

Keduanya sudah berada di mobil Audi milik Chanyeol, mobil ini adalah hadiah ulang tahun Chanyeol ke duapuluh satu tahun, beberapa bulan yang lalu.

"Apa Kai Hyung sudah pulang?"

Chanyeol mengedikkan bahu, "Selesai dari kampus aku langsung menjemputmu kesini, Baek. Aku belum pulang sejak pagi tadi." Ia lalu menyalakan mesin dan menyetir dalam lelah. "Baek, tidurlah. Nanti kalau sudah sampai biar Hyung bangunkan,"

"Aniyo, aku tidak mengantuk, Hyung." Tapi, setelah itu ia malah menguap dan Chanyeol tidak bisa menahan kekehannya. "Maksudku, aku sedikit mengantuk tapi aku masih bisa menemanimu menyetir, kok."

"Aku tidak butuh ditemani, Baekhyun. Tidurlah, Hyung tahu kau capek belajar." Chanyeol pun memaksa, karena bagaimana pun ia bisa melihat kantung mata yang tercipta dibawah mata sipit adiknya. "Oh ya, di rumah ada makanan tidak, ya?"

"Mollayo, Hyung." balas Baekhyun, sekenanya. "Kyungsoo biasanya memasak, kan?"

"Kau yakin? Hari ini jadwal Kyungsoo ke dokter, apa dia sudah kesana, ya?"

Mereka jadi sama-sama melempar pertanyaan dan tidak tahu siapa yang akan menjawabnya. Chanyeol melirik Baekhyun, ia bisa melihat gurat lelah di wajah itu, begitu pun dirinya. Ia sama dengan Baekhyun, sama-sama belajar untuk mengisi kekosongan hati mereka. Namun, jika memikirkan tentang si bungsu, rasanya akan sangat berbeda. Kyungsoo ingin melakukan banyak hal, tapi kondisi tubuhnya selalu menolak itu. Apalagi ia sebagai si sulung, kakak pertama yang di tuakan, sungguh ini seolah beban berat baginya karena ketiga adiknya memiliki keunikan karakter yang berbeda.

Lama tercenung di pikirannya, Chanyeol bahkan tersadar karena suara dengkuran halus di sebelahnya.

Baekhyun sudah pulas tertidur.

-ooo-

"Appa belum pulang?"

["Nde, sebentar lagi, Kyung. Ini tinggal sedikit."]

"Baiklah, Kyungsoo tunggu, ya."

["Kalau Kyungsoo mengantuk, tidur saja. Ingat, jangan tidur terlalu malam. Itu buruk bag—"]

"Arrayo, Kyungsoo tahu, Appa."

Setelah itu sambungan di putus sepihak oleh Kyungsoo. Ia benci setiap orang di rumah ini selalu meremehkan kesehatannya, meskipun itu memang harus diremehkan. Tapi, ketika semua kakak-kakaknya berhenti berbicara dengan Ayah mereka, Kyungsoo malah ingin terus-menerus membuat hubungan baik dengan Ayahnya.

Itu hal yang cukup menyenangkan bagi Kris, dan bagi Kyungsoo, ia tidak tahu seperti apa reaksi Hyungdeulnya jika tahu ia sedekat ini dengan sang Ayah. Sejujurnya, Kyungsoo tidak tahu mengapa mereka membenci Ayahnya.

"Kyung,"

Kyungsoo segera berjingkat kaget dari tempat tidurnya saat Kai muncul di ambang pintu.

"Whoa, santai saja. Kau sampai segitunya,"

Kyungsoo lalu tersenyum samar, "Ada apa, Hyung?"

"Kenapa belum tidur?" Kai masuk dan duduk sejajar dengan Kyungsoo di ranjangnya, "Nanti kau sak—"

"Kyungsoo tidak akan sakit jika hanya tidur tengah malam, Hyung." Kai cukup terkejut dengan reaksi yang diberikan Kyungsoo itu, seperti tidak terima. "Kyungsoo hanya sedang—" Kyungsoo juga tidak mungkin mengatakan kalau ia sedang menunggu Ayahnya. "—menunggu Baekhyun Hyung. Kyungsoo tidak bisa tidur kalau sendirian,"

Kai tidak percaya itu. Kyungsoo bukanlah tipikal anak manja dan menunggu Baekhyun baru bisa tidur, sungguh berlebihan. Kyungsoo sudah berumur enambelas tahun dan Kai cukup tahu seberapa besar pengaruh teman-temannya. Kai tahu Kyungsoo tidak bisa mengikuti pelajaran olahraga, ia juga tahu Kyungsoo tidak bisa makan di kantin sekolah, dan semua itu pasti membuatnya frustasi diperlakukan seolah anak kecil.

"Hyung?"

"Oh," Kai terperanjat, "Kalau begitu biar Hyung temani, ya. Sana masuk ke selimutmu,"

"Kenapa, Hyung?"

Kai hanya ingat mendiang Ibunya tidak pernah membiarkan mereka berempat bertengkar, sekecil apapun masalahnya, dan Kai takut jika suatu hari mereka akan mengalami perpecahan itu.

"Memang tidak boleh?" Kai lalu bersandar di kepala ranjang Kyungsoo sedangkan adiknya sudah menggelung diri disebelahnya. "Nafasmu masih sering sesak?"

Riwayat Kyungsoo sebagai pengidap kebocoran jantung membuat siapapun yang mengetahuinya takut jika sewaktu-waktu Kyungsoo berhenti bernafas. Jadi, wajar jika mereka semua mengkhawatirkan Kyungsoo dan melarang semua hal berbahaya itu sekadar untuk mengamankannya. Meski itu sangat membatasi Kyungsoo, bukankah lebih baik daripada kau kehilangan dirinya?

Kyungsoo menggeleng, "Kyungsoo tidak mau membahas itu, Hyung."

"Ya sudah. Uhm, PR-mu sudah selesai?"

Kyungsoo menggeleng lagi, "Kyungsoo tidak bisa mengerjakannya, Hyung."

Kai tidak perlu mengernyit heran untuk tanggapan Kyungsoo barusan, "PR apa? Bahasa Inggris lagi?" Jadi Kai bangkit berdiri dan berjalan menuju meja belajar Kyungsoo. "Ini, Kyung?" Ia mengacungkan buku tulis Kyungsoo.

Kyungsoo duduk dan mengangguk kecil, antara merasa malu dan bodoh. Malu karena ia masih saja tidak bisa mengerjakan PR-nya sendiri dan bodoh karena ia masih saja meminta bantuan secara tersirat seperti ini.

"Kalau tidak bisa, kenapa tidak minta tolong? Hyung kan sejak siang di rumah, Kyung. Oh ya, tidak masalah kalau kau tidak bisa. Itu pasti karena kau banyak absen jadi—"

"Hyung," Kyungsoo menyetop, "Kyungsoo tidak mau membahas itu,"

Kai jadi menelan ludahnya, "Baiklah. Biar Hyung kerjakan, ya. Kyungsoo tidur saja." Ia lalu mengambil pena dan membaca-baca sebentar soal-soal disana. Tapi, Kai masih merasakan tatapan lain itu terus memandanginya, "Ada apa lagi, Kyungsoo?"

"Memang Hyung bisa?"

Astaga. Kai memicing, "Kau—baru saja merendahkanku?"

"A—ah, bukan." Kyungsoo seolah baru sadar ia telah salah bicara, jadi ia menutupinya dengan gelak tawa. "Mian, Hyung. Biasanya kan, Baekhyun Hyung yang menyelesaikan PR Kyungsoo."

Kai hanya bisa menghela nafas, berat.

-ooo-

Kris tidak bisa menepati janjinya. Ternyata ia pulang terlalu malam sampai-sampai Kyungsoo sudah tertidur. Kris masuk ke kamar Baekhyun dan Kyungsoo, lampu tidur yang meremang itu sedikit membuat matanya jelas memandang dua anak laki-lakinya. Ia lalu mengelus rambut Baekhyun dan bergantian mengusap kepala Kyungsoo.

Namun, di hari ini seperti ada yang di lupakannya.

Sesaat setelah Kris berbalik, ia menemukan Chanyeol sedang menunggunya diluar kamar. Begitu Kris keluar, Chanyeol sudah bersedekap sambil menghembuskan nafas keras-keras.

"Kau belum tidur, Yeol?"

"Appa lupa, ya."

"Lupa apa?"

Kris pun semakin yakin bahwa ada hal yang ia lupakan hari ini. Mata Chanyeol berubah nyalang dan ia seolah-olah sangat jengkel sekarang, "Hari ini jadwal Kyungsoo kontrol ke Rumah Sakit, kan?"

Crap. Kris benar-benar lupa. Ia menepuk jidatnya dan menampilkan wajah semenyesal mungkin.

"Sungguh, Yeol. Appa benar-benar lupa."

"Kalau Kyungsoo sampai masuk Rumah Sakit lagi, itu tentu salah Appa."

"Besok juga tidak terlambat membawanya kesana, Yeol. Kau ini kenapa, sih, dengan Appa?"

Mereka jadi kembali sengit. Masih lupa kalau posisi keduanya ada di depan kamar Baekhyun dan Kyungsoo. Karena suara mereka yang saling bersahutan itu cukup keras, Kai yang berada di lantai bawah segera menyusul ke atas.

"Wae?" tanya Kai sambil memandangi kakaknya dan Ayahnya. "Kenapa kalian saling—"

"Apa kau juga lupa hari ini jadwal Kyungsoo ke Rumah Sakit?" Chanyeol beralih pada Kai dan sengaja menyetop kalimatnya, hingga si tertuduh itu mulai merutuki sendiri. Kai juga lupa. "Ya, melihat reaksimu, kau juga lupa."

Hari ini Chanyeol seperti memiliki hobi baru. Ia gemar marah-marah dan hebatnya memarahi semua orang karena hal sesepele ini.

"Hyung," panggil Kai, tapi Chanyeol tetap turun dan membanting pintu kamarnya, terdengar sampai ke telinga Kris dan Kai. "Astaga, aku juga lupa."

"Kai, tidak apa-apa. Kita akan membawanya besok, ya." Kris berujar lembut, seolah berniat baik memperbaiki kesalahannya di mata Chanyeol. "Tadi Kyungsoo tidur jam berapa? Baekhyun pulang jam berapa?"

Kai melirik Kris, "Memangnya aku babysitter mereka? Orang yang bisa ditanyai keadaan di rumah selama dirinya tidak ada? Ya, Appa seperti juragan itu?"

Kris menyatukan alisnya, "Apa-apaan, Kai. Appa hanya berta—"

"Maka, kalau Appa ingin tahu, lebih baik tidak perlu melalui orang lain."

"Ya! Kai!" Kai tetap berlalu melenggang dari sana, "Appa mau bicara!"

Kris lebih frustasi di banding siapapun semenjak ia pulang ke rumah ini dan bertemu anak-anaknya.

-ooo-

Baekhyun terbangun lebih dulu, ini jam lima pagi. Ia pun melipat selimutnya dan merapikan kembali bantalnya yang sudah berpindah tempat. Lalu Baekhyun melirik Kyungsoo yang masih mendengkur halus dan—tunggu. Baekhyun merasa ada yang janggal. Ketika ia mendekat menuju ranjang Kyungsoo, ia bisa melihat keringat dingin sebesar butir jagung membasahi wajah dan badan Kyungsoo. Baekhyun juga bisa mendeteksi suhu panas di kening adiknya ketika ia menyentuhnya.

"Appa! Hyung!" Baekhyun segera berlari dan mengetuk satu persatu pintu di lantai bawah, secara paksa meminta semuanya bangun. Namun, hanya Appanya yang terjaga dengan wajah masih mengantuk. "Kita harus membawa Kyungsoo ke Rumah Sakit, Appa!"

Kris segera sadar dan kantuknya begitu saja hilang saat Baekhyun menyebutkan kalimat mengejutkan itu. Sebenarnya tidak terlalu mengejutkan karena Kris terlampau sering mendapat kata-kata itu dan ia tak perlu bertanya mengapa lagi.

Ia menuju lantai dua dan kamar Kyungsoo dengan langkah cepat. Kris memeriksa Kyungsoo dan anak bungsunya itu tidak bergerak.

"Kyungsoo pingsan, Baek." Tentu saja mereka bingung dan panik. Kris dan Baekhyun sama-sama berusaha menyadarkan Kyungsoo dengan menepuk-nepuk pipinya, tapi tetap nihil. "Coba kau ambilkan air dingin dan handuk kecil untuk sementara agar panasnya tur—"

"Appa, kenapa tidak membawanya ke Rumah—"

"Sekarang, Baekhyun!"

Maka Baekhyun tidak membantah lagi. Lima menit kemudian ia kembali dengan baskom berisi air dingin dan handuk kecil seperti yang di perintah Kris. Dengan cekatan, Kris segera memeras handuk itu setelah merendamnya di air.

Kali ini bibir hati Kyungsoo gemetar, ada garis pucat disana. Sehingga tak pelak lagi, Baekhyun benar-benar tidak sabar untuk membawa adiknya ke Rumah Sakit. Tapi, sang Ayah masih saja bersikeras menggunakan cara kolot ini, dan itu benar-benar membuat Baekhyun tak habis pikir.

Tidak ada gumaman apapun dari Kyungsoo, si bungsu itu tetap bergeming ketika tangan besar Kris meletakkan perasan air dingin di handuk itu pada keningnya.

"Aku sudah bilang, Appa, ayo segera ke Rumah Sakit. Apa yang kita lakukan ini tidak akan membuahkan hasil,"

Kris menyadari perkataan Baekhyun seratus persen benar, ia begini hanya sebagai usaha atas kepanikannya.

"Bangunkan kakak-kakakmu, kita bawa Kyungsoo ke Rumah Sakit sekarang."

-ooo-

"Inilah yang terjadi, ini masalah yang akhirnya terjadi setelah semalam Appa mengatakan bahwa tidak membawa Kyungsoo ke Rumah Sakit kemarin itu tidak apa-apa," Chanyeol bersedekap dan berbicara lugas tanpa menatap mata Kris. "Seharusnya Appa tidak sembarangan meremehkan kesehatan Kyungsoo, dia bisa mati kapan saja."

Ini hari minggunya yang seharusnya tenang, tapi gedoran tak serantan Baekhyun tadi pagi telah menggagalkan semuanya. Tidak, Chanyeol bukannya membenci keadaan lemah Kyungsoo saat ini, tapi sembilanpuluh persen insiden pagi ini sebabnya adalah kelalaian Ayah mereka.

Dia bisa mati kapan saja. Kalimat Chanyeol itu terngiang di kepala Kris, enggan pergi. Ia jadi melamun dan mengusap wajahnya beberapa kali, ada banyak sesal yang menghinggapi dirinya setelah suntuk mengingat kebodohan semalam.

"Yeol, Appa tahu Appa salah. Tapi, bisakah kau mendukung Appa dan tidak memojokkan Appa seperti ini? Tolong, Appa mohon, bantu Appa. Sebagai anak pertama dan Hyung tertua dari adik-adikmu, seharusnya kau juga ikut mendukung Appa, Yeol."

Chanyeol mendengus, lalu melirik kamar inap Kyungsoo melalui jendela kecil di pintu. Adik bungsunya itu masih terbaring dengan selang infus yang menyuplai makanannya. Kedua matanya terpejam rapat, nafasnya masih tak beraturan.

"Apa yang Dokter bilang?" Chanyeol seolah menguarkan aura intimidasi terhadap Kris, "Kapan dia akan sadar?"

Kris menyandarkan punggung di pintu itu, sesekali memijit pelipisnya seraya mengingat ucapan Dokter yang telah menangani Kyungsoo sejak kecil itu.

"Seharusnya kita bisa membawa Kyungsoo sebelum jadwal kontrol yang di tetapkan, itu jauh lebih baik."

"Kita?" Chanyeol memicing, "Aku yang sudah berusaha sedemikian rupa menjaga adik-adikku setiap hari dan untuk masalah serius Kyungsoo—kau masih harus menyebut kita?"

Kris terperanjat dengan kalimat Chanyeol yang terkesan membangkang itu, maka ia segera menyorotkan tatapan tajam menuju mata Chanyeol—yang ternyata sedang mendelik kesal.

"Yeol! Jaga ucapanmu di depan Ayahmu!"

Gelegaran Kris barusan memenuhi lorong. Ada beberapa perawat dan pasien yang cukup terkejut dengan bentakan itu.

"Jangan buat Appa menamparmu disini."

Bisikan Kris di telinga Chanyeol itu malah membuat si sulung menyeringai, "Silahkan, aku tidak keberatan kalau kau mau melakukannya,"

"Panggil aku Appa, Wu Chanyeol!" Kris hilang kesabaran, bahkan ketika Kai dan Baekhyun datang tergopoh dan melihat persitegangan ini dari ujung lorong, Kris tetap hanya fokus pada Chanyeol. "Kau benar-benar kurang ajar, Appa sudah sabar mendiamkan perilaku keterlaluanmu ini, tapi—"

Baekhyun buru-buru menurunkan telunjuk Kris yang kini menuding wajah kakak pertamanya.

"Itu memang salah Appa! Appa saja yang berkelit tidak mau tahu!"

Kris menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir mengapa anak sulungnya menjadi monster semengerikan ini. Ia biarkan Chanyeol di tarik Kai menjauh sedangkan Baekhyun disini mengelus dadanya. Kris hanya tidak mau menambah beban pikirannya, memikirkan kondisi Kyungsoo saja sudah membuatnya mual, dan jika memikirkan ulah Chanyeol barusan, ia bisa terkena serangan jantung.

"Kau mau menyalahkan Appa juga, Baek?"

Baekhyun menggeleng sekali, lalu membawa Kris agar duduk sejajar dengannya. "Kai Hyung bilang sesuatu padaku sewaktu kami makan di kantin tadi,"

"Kai? Apa kata Hyungmu?"

Kris kini sepenuhnya memperhatikan Baekhyun, anak laki-laki ketiganya—yang sama-sama menguarkan kebencian seperti dua kakaknya.

"Bahwa ia juga ingin menjadi Kyungsoo," Baekhyun memandang dinding di depannya, tidak berani membalas tatapan mengejar Ayahnya. "Kai Hyung ingin menjadi Kyungsoo, Appa."

"Kenapa?" Kris masih belum mendapat poin dari pembicaraan mereka.

"Kalau ia menjadi Kyungsoo pasti menyenangkan. Kyungsoo memiliki hati yang tenang, tidak diliputi amarah seperti kita bertiga. Semalam Kai Hyung menguping pembicaraan Kyungsoo denganmu di telpon, Kai Hyung ingin seakrab itu denganmu tapi—"

"—Kai terlalu gengsi untuk melakukannya,"

Baekhyun pun membenarkan tebakan Kris.

"Menurutmu sendiri?" Kris bisa menemukan wajah lelah Baekhyun yang terus menerus belajar selama ini, hanya dengan mengamati guratnya sekilas. "Apa kau juga berpikiran seperti Hyungmu? Kenapa harus menjadi Kyungsoo dulu? Kenapa harus sesulit itu untuk seorang anak mengakrabkan dirinya dengan sang Ayah?"

Baekhyun tidak memiliki sanggahan, ia sepenuhnya diam.

"Kau tahu, Baek, sebesar apa kasih sayang Appa pada kalian berempat, dan Ibumu tentu saja."

Baekhyun kini mengangkat wajahnya, lalu menyipitkan mata ketika memandang iris Kris. "Oh. Benar. Appa memang sangat menyayangi kami, tapi waktu itu—aku tahu seberapa besar sakit yang Appa sebabkan pada kami dan—Umma."

Baru kali ini, Kris yang terdiam.

-ooo-

Chanyeol dan Kai kembali menuju kamar Kyungsoo. Di sela perjalanan mereka, Kai memberanikan diri untuk menyinggung masalah yang mungkin sudah tidak seharusnya dibahas. Ketika langkah-langkah mereka hampir berbelok menuju lorong kamar inap Kyungsoo, Kai pun menepuk bahu Chanyeol sehingga keduanya saling menatap.

"Ada ap—"

"Aku masih ingat ucapan Umma, Hyung." Entah mengapa, Kai bukan membahas hal itu.

"Umma?"

Chanyeol tampak berusaha mengalihkan diri, ia juga ingin mengalihkan pembicaraan adiknya ini.

"Aku tidak mau menanyakan masalahmu dengan Appa tadi, aku juga sudah tahu kalau kalian pasti saling menyalahkan seperti biasa." Kai menghela nafas, lalu mengajak Chanyeol meminggirkan diri agar tidak menghalangi jalan. "Umma pernah mengatakan hal semenyakitkan ini pada kita bertiga, tanpa sadar kata-kata itulah yang menumbuhkan kebencian diantara kita pada Appa."

Chanyeol melengos, lalu menarik tangan Kai agar kembali berjalan, "Lupakan masa lalu, kita harus memeriksa Kyung—"

"—Umma bilang, jangan menjadi seperti Ayahmu. Nantinya kalau menjadi seorang Ayah dan Suami, kita bertiga jangan sampai menjadi seperti Appa."

"Kai, cukup!"

Tanpa sadar, Chanyeol telah membentak Kai, dan di raut itu sama sekali tidak ada keterkejutan yang berarti. Pada akhirnya, mereka telah sampai di depan kamar Kyungsoo, tapi seperti adegan lambat—keduanya hanya termenung disana dengan pikiran kalut yang bercampur aduk.

"Hyung?" Baekhyun mendapati kedua kakaknya yang bagaikan patung itu tampak janggal. Ini aneh. "Kenapa tidak masuk?"

Baekhyun lalu menutup pintu kamar Kyungsoo sehingga dirinya benar-benar berada diluar sekarang.

"Kyungsoo sudah sadar."

Setelah kalimat Baekhyun itu, Chanyeol dan Kai segera masuk lalu menemukan wajah pucat Kyungsoo yang sangat-sangat memprihatinkan. Ada Kris disana, duduk disebelah Kyungsoo sambil menggenggam tangan adik bungsunya itu. Baekhyun juga kembali menyusul, semula ia akan mencari kedua kakaknya, tapi ternyata mereka sudah lebih dulu sampai disini, hanya saja dengan atmosfer yang tidak biasa.

"Halo, Hyung." Sebelah tangan Kyungsoo yang bebas—yang tidak digenggam Kris dan tidak sedang di infus—melambai lemah. "Maafkan, Kyungsoo. Karena Kyungsoo, hari Minggu yang sudah Hyung nanti-nantikan ini tidak terasa seperti hari Minggu."

Chanyeol yang lebih dulu mendekati Kyungsoo di ranjangnya, lalu mengelus rambut berkeringat itu.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya, dan buru-buru dibalas anggukan bersemangat oleh Kyungsoo. Chanyeol tersenyum samar, ia sengaja menghindari tatapan Kris didepannya. "Kalau begitu, cepat sembuh. Setelah kita pulang, Hyung janji akan mengajarimu naik motor."

"Jinjjayo?" Mata bulat Kyungsoo terlihat semakin bulat saat sedang berbinar seperti ini. "Nanti malam, Kyungsoo sudah diijinkan pulang. Ya, kan, Appa?"

Kai ikut merasakan kegirangan yang Kyungsoo ekspresikan. Ia berdiri di samping Chanyeol dan melihat adiknya sedekat ini—dengan kondisi selemah ini—membuatnya tak tega.

"Kalau Kyungsoo cepat sembuh, Hyung akan mengerjakan PR Bahasa Inggrismu selamanya. Bagaimana?" Kai terkekeh sendiri, tapi ia agak kecewa begitu melihat reaksi Kyungsoo yang meragu.

"Ya! Kai Hyung! Kyungsoo lebih memilih aku yang mengerjakan PR-nya tahu, dia lebih bisa menilai mana yang lebih pintar tanpa memandang umur, ya." Baekhyun menyahut sambil menyelipkan tubuh rampingnya ditengah Chanyeol dan Kai, lalu berjinjit sedikit untuk mencapai bahu keduanya dan merangkul mereka. "Ya, kan, Kyungsoo? Tidak perlu takut untuk mengatakannya,"

Seketika, mereka semua tertawa—sedikit melupakan banteng kokoh yang tercipta diantara hubungan Ayah dan Anak—demi Kyungsoo.

"Astaga, kau tega sekali, Kyung." Kai pura-pura mencebik, "Baiklah. Memang Baekhyun lebih pintar, tapi kau tahu siapa yang paling keren diantara kakak-kakakmu ini, kan? Kalau begitu biar Hyung ajari cara menggaet wanita saja. Ottokhe?"

"Mollayo, Hyung. Appa pasti tidak membolehkan kita berpacaran sebelum masa sekolah kita usai. Nde, Appa?"

Kris sadar saja bahwa sejak tadi Kyungsoo berusaha menuntunnya agar terlibat ditengah Chanyeol, Kai, dan Baekhyun. Tapi, perasaan bersalah yang disertai canggung itu membuatnya tak berani berkomentar selain hanya dengan tawa sambil sesekali membatin—inilah yang ia harapkan terjadi secara asli, bukan kepalsuan semata karena mereka sangat tampak bersandiwara didepan Kyungsoo.

"Akan lebih baik kalau kalian menunda hal itu sampai Pendidikan kalian beres,"

Ketika Kris mengucapkan itu, Chanyeol tak dapat menahan decihannya. "Makanya cepat sembuh lalu segera pulang, Kyungie-ya. Jangan sampai tidak masuk sekolah lagi,"

"Kyungsoo diperbolehkan pulang malam ini, Yeol."

Itu suara Kris, dan Chanyeol tidak mengharapkan kalimat itu. Situasi dingin ini tidak mungkin tidak disadari Kyungsoo, tapi ia lebih memilih menyembunyikan rasa ingin tahunya dengan alihan lain.

"Kyungsoo ingin tidur. Boleh?"

Hingga ia terpaksa berbohong.

-ooo-

Kyungsoo terisak, posisi tubuhnya dimiringkan dan sengaja memunggungi pintu masuk, siapa tahu ada yang memergokinya sedang menangis. Ia sungguh merindukan Ummanya. Keluarga yang hanya dipenuhi laki-laki ini memaksanya untuk menjadi wanita tanpa disadari siapapun. Kyungsoo jadi memiliki kepekaan berlebih seperti wanita, Kyungsoo jadi memikirkan semua hal tak peduli remeh atau berat seperti wanita. Bahkan keluarganya yang dipenuhi laki-laki ini begitu memanjakannya, seperti ia seorang wanita.

Kyungsoo memasak apapun yang ia ingat di memorinya, ketika dahulu Ibunya mengajaknya masak bersama. Kenapa harus Kyungsoo yang menanggung semua ini? Semua penyakit fisik yang dideritanya tak cukup baik dan masih harus ditambah dengan penyakit batin yang seakan tak akan usai. Kyungsoo melakukan semua tugas wanita di rumah, Kyungsoo mendedikasikan dirinya menjadi pengganti Ibunya, ia melakukannya dengan senang hati.

Setulus itu. Demi Ayahnya dan Kakak-kakaknya.

Kyungsoo tahu ia harusnya bersyukur. Ia masih bisa hidup mewah, ia masih memiliki perhatian dari Ayah dan Kakak-kakaknya. Kyungsoo adalah sinar temaram yang seolah dipaksa benderang. Tapi, ketika rindu ini melanda, ketika ia merasakan sesakit apa jantungnya, Kyungsoo mulai muak.

Ia masih berumur enambelas tahun. Ia bukan remaja yang dituntut menjadi dewasa, ia hanya tidak bisa.

"U—umma, hiks," Kyungsoo merasakan sakit itu lagi. Sakit yang menghujam dadanya, entah berasal dari jantungnya atau kerinduannya. "Kyungsoo sa—sakit, hiks,"

-ooo-

Author's Note :

Horraaaayyy!

Entah sudah berapa tahun terakhir kali FF ini terbit dan dengan rasa bersalah aku baru sempat melanjutkannya. Sebelumnya, aku mau minta maaf atas keterlambatan ini sekaligus dengan persepsi kalo aku harusnya ngelanjutin FF sebelah yang mau tamat. Tapi, malah lari kesini. Maafin, ya 😊

Nah, karena pengunjung ffn sekarang ini sedikit—yah, atau karena ngga ada yang baca ff-ffku, yak, lmao—maka, aku jadi agak malas dan seperti ngga ada tujuan yang negbikin aku cepet ngelanjutin gitu, kalo kalian pada ga review. Bukannya ngemis komen, sih, tapi itu kan bisa jadi penghargaan bagi penulis yang telah menghibur kalian dengan cerita yang juga dengan susah payah dibuat.

Jadi, yauda deh. Pokoknya ini adalah persembahan THIS IS HOME yang semoga sudah ngga hiatus.

SEE YA ON NEXT CHAPTER!