chapter 63 : The Ceremony Town

DAY1 Festival

"Ne. Sasuke-Kun, Apa kau sudah punya pacar?"

"Sudah."

Sasuke hanya menjawab singkat tatkala teman teman Sara melemparinya dengan pertanyaan.

"Heee.. Sudah punya toh." Jawab salah satu dari mereka, Terlihat kalau raut kecewa tergambar dari para gadis itu. Berbeda dengan teman temannya, Sara malah terkesat terkaget dengan jawaban Sasuke. Yah, dia tidak menyangka.

Dan,, Fuu hanya diam sepertinya.

Hahh~

Yah, disinilah Sasuke, berjalan pelan diantara para gadis untuk menuju sekolah. Sebenarnya dia duluan berangkat tadi, namun entah karena faktor x, Gadis gadis ini jadi secepat Sonic menyusul Sasuke. Hingga mereka berakhir disini berjalan beriringan.

Hahhhh (2)

Sasuke hanya terkejut bahkan Shikamaru dan Naruto tidak pulang kerumah. Kemungkinan besar mereka berakhir di suatu tempat dan bermalam disana. Tapi, well itu hanya tebakan Sasuke.

"Nee.. Kau lihat pemuda itu.."

"Huh?"

"Iya pemuda itu! yang bercosplay pokemon!"

"Ah benar.. dia yang bermain dengan kamera kemarin.."

"Ihh.. Dasar Hentai."

Sasuke menoleh saat para gadis ini membicarakan seseorang, yang menggunakan kostum pikachu besar dan tengah berdiri di depan pintu masuk sembari membawa sebuah papan bertuliskan 'Enterance '

Sasuke berhenti melangkah saat dia sadar kalau dia mengenali orang itu.

"Are? Kau kenapa Sasuke kun?"

"Hn. Kalian duluan saja." Usir Sasuke kepada para gadis ini. Sebelum akhirnya para gadis itu menyahut dan melangkah duluan.

Sasuke lalu mendekati sang maskot.

.

.

"Kiba?" tanya Sasuke kepada orang itu. Orang itu menoleh.

"Oh? Sasuke! Kau datang pagi sekali!" Balas Kiba dari dalam pakaian itu.

"Kau..." Sasuke menggantungkan kalimatnya, bingung harus bertanya bagaimana.

"Bwahahaha.." Kiba malah tertawa. ".. Kau tau.. Aku ditangkap OSIS kemarin, dan mereka memaksaku untuk.. yah." Kiba menunjuk dirinya sendiri, menjelaskan akhir dari kalimatnya.

Sasuke memiringkan kepala.

"Memang kau kenapa?" tanya Sasuke.

Kiba diam.

Err..Oh Benar! Sasuke tidak tau duduk perkara kriminal yang dilakukannya bersama Shino dan Naruto.

"Er... Ahahahahaha.." Kiba hanya tertawa garing.

Seakan tidak puas dengan jawaban Kiba, dia bertanya lagi.

"Lalu.. kenapa pipimu lebam?" tanya Sasuke lagi, menunjuk beberapa titik di wajah kiba yang mengalami luka. Apa OSIS yang melakukannya?

tidak sempat Kiba menjawab, tiba tiba datang seorang gadis dan berdiri di hadapan Kiba.

Kiba tersenyum kepada gadis itu.

"Selamat datang di festival Konoh-"

PLAK!

"DASAR HENTAI!" Gadis itu berteriak sebelum dia berlalu pergi.

"..."

.

Naruto © Masashi Kishimoto

| I Will Do What I Want © Hanzama |

Rating : T(+)

| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |

Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Etc

Pairing : FIX SasuSaku, Tanda-Tanda GaaMatsu, Tanda-Tanda NaruYuka, Tanda-Tanda NaruShion, Unknown Pairing, Another Coming Soon.

Relax and Enjoy Story.

.

Festival Day 1 / Konoha Gakuen Situation.

Wahh.. Memang sudah dikira, bahkan pukul 8 pagi sudah banyak orang berdatangan. Sebagian besar mungkin datang karena memang tidak ada kerjaan. Namun juga, beberapa dari orang orang ini datang dengan suka cita untuk mendengarkan pidato pembukaan dari walikota.

Um, membahas soal walikota-

"KYAA! Festival-dattebane!" Kushina berteriak kelewat senang saat dirinya sudah keluar dari mobil Caddilac Xts yang ditumpanginya.

BLAM

Dia bahkan menutup pintu mobil dengan keras tanpa mempedulikan sang pejabat kota yang hampir saja terjedot pintu mobilnya sendiri gara gara ulah Kushina.

Sang walikota sepertinya hanya menghela nafas dalam atas kelakuan sang istri. Yah, menjadi suami dari seorang Uzumaki Kushina adalah sebuah kebahagiaan dan cobaan untuk Namikaze Minato. Kau tau : disatu sisi, Sifat keibuan Kushina selalu bisa meluluhkan hati Minato. Namun disisi lain, Kushina terkadang kelewat girang atas sesuatu yang disukainya, dan itu menjadi boomerang yang selalu menghantam Minato. Err.. Menghantam baik dalam ungkapan maupun arti sebenarnya.

.

Begitu keluar mobil, Sang walikota langsung disambut hangat oleh panitia dan para penanggung jawab.

"Selamat datang. Namikaze Minato-sama." Sambut ketua panitia dengan sapaan hangat.

"Ahh.. Hyuuga Neji kan? Terima kasih sudah menyambut kami." Minato membalas hangat sambutan Neji dengan menjabat tangan pemuda ini.

"Silahkan lewat sini.. Kami akan mengantar anda ke para kepala sekolah." Neji lalu mempersilahkan Minato untuk mengikutinya.

Minato pun hanya menurut. Diikuti oleh sang istri dan para ajudan. Dia berjalan menyusuri deretan stand di festival. Sambutan hangat selalu terdengar dari orang orang yang ia kenali maupun tidak ia kenali.

Bahkan stand disini ditata- Err.. tunggu dulu.

.

Yah, beberapa detik pandangannya teralihkan, dan istrinya kini sudah berakhir di stand takoyaki.

Neji yang melihat sang walikota malah berhenti, bertanya heran.

"Ano? Apa ada masalah Minato-sama?" tanya Neji.

"Eh err.." Pandangan Minato beralih ke Neji lalu ke Kushina. Sial, Sepertinya sang istri tidak mengerti konsep dari 'prosedur penyambutan'

"Tunggu sebentar-" Izin Minato kepada para panitia sebelum dia menghampiri sang istri yang tengah asyik jajan.

.

Pandangan Neji tidak beralih dari sang walikota bahkan sampai beliau menghampiri sang istri.

Minato tersenyum kepada pemuda penjual takoyaki tersebut saat pemuda itu menyapanya. Dia lalu berbisik kepada sang istri yang tengah menatap berbinar takoyaki yang ada di penggorengan.

"Psst.. Kushina.. Kau tau. Kita tidak punya watu seharian kan?" Bisik Minato. Sedikit mengabaikan tatapan heran orang orang yang ada di sana.

"Ih.. Ini festival kau tau.. Apa gunanya berkunjung ke festival kalau kau tidak menikmatinya dattebane!" balas Kushina tanpa menoleh. Dia menerima satu porsi takoyaki dari sang pemuda.

Tingkah sang istri yang seperti inilah yang Minato maksud. Minato bahkan semakin tertekan saat Yamato dengan sengaja berdehem dan menunjuk jam tangannya sendiri.

Hahhh.. Minato menghembuskan nafas dalam untuk yang kedua kalinya.

Kushina tanpa dosa menelan bulat bulat sebuah takoyaki yang disunduknya,

"Hmmm~" Di memegangi pipinya sendiri tatkala dia bisa merasakan cita rasa khas takoyaki di mulutnya. "Nghm Enak."

Sang pemuda penjual takoyaki tersenyum.

Berbeda dengan Minato yang menatap Kushina tobat, Kushina malah menoleh ke Minato sebelum-

.

"Aaa~"

"Huh?"

Minato menatap semakin aneh istrinya yang menyodorkan takoyaki ke mulutnya. Ini bukan waktunya suap-suapan mama. Batin Minato.

"Mi..na..to." ucap Kushina dengan sengaja. Yah, Minato tau. Nada ini adalah nada yang 'harus dituruti'. Kalau tidak, bisa bahaya.

Minato menoleh ke orang orang yang ada disana. Mereka menatap dengan seksama kedua sejoli ini. Bahkan Minato bisa dengan jelas melihat para panitia yang melongo melihat adegan roman kedua orang tua ini.

Saat dia kembali menatap Kushina-Deg!

Tatapan Kushina sudah berubah menakutkan. Dia berniat menurunkan tangannya karena Minato tak kunjung meneripa suapannya.

"Kalau tak mau ya-"

SRET!

Tanpa aba aba. Minato malah memegangi tangan istrinya dan mengarahkan langsung takoyaki tadi ke mulutnya.

Dia lalu mengunyahnya cepat.

Kushina sedikit terkejut, sebelum dia akhirnya tersenyum senang. Love you papa.

.

.

Meninggalkan orang orang disana yang tersipu dan menatap semakin-semakin-semakin aneh kedua pasangan ini.

.

Petuah Narator : Pejabat yang baik adalah pejabat yang tidak terima suap.

Okesip lanjut!

.

Festival Day 1 / FoREVer Street Situation.

Disisi lain Konoha, nampak pasangan lain yang Err..

.

.

Izumi bertingkah gugup tatkala dia ditatap sedari tadi oleh sang ibu mertua. Yah, asal kalian tau. Tepat beberapa menit setelah Sasuke, Fuu dll berangkat ke Konoha Gakuen, sebuah mobil yang familiar di penglihatan Izumi berhenti di pekarangan rumah.

Izumi tentu reflek keluar rumah melihat mobil suaminya datang. Namun hal yang tidak diduga olehnya, Yang dilihat oleh Izumi tak hanya Itachi, tapi nampak juga sang ayah mertua dan... nyonya besar Mikoto. Mengetahui kalau ini akan menjadi pertemuan pertama Izumi dengan sang ibu mertua, pikirannya langsung blank.

Dan berakhirlah istri muda itu disini, Di ruang tamu depan bersama Fugaku dan Mikoto. Sedangkan Itachi menghampiri sang 'pria kecil' yang kini masih tertidur pulas. Izumi bisa dengan jelas mengetahui maksud dari perbuatan Itachi. 'Membiarkan Izumi menyelesaikan masalah ini sendirian' hahh..

"Jadi.."

Izumi terkaget dari lamunanya saat sang ibu mertua angkat bicara. Yah, Izumi tau. Ini akan menjadi pertanyaan panjang ala introgasi polisi dimana dia akan ditanyai tentang tetek-bengek bibit bebet bobot.

"Y-Yes Mam!" Izumi menjawab kelewat kaget, karena ini adalah pertama kalinya dia mendengar suara Mikoto secara langsung. Izumi tidak tau tipe ibu mertua apa yang ada di depannya sekarang. Yang ia tau, Sepertinya Fugaku tidak mau ikut campur atas percakapan yang akan Mikoto mulai kepada Izumi.

Mikoto terdiam sedikit lama.

.

.

"... Apa kau makan secara teratur?"

Itu adalah pertanyaan pertama yang terdegar di telinga Izumi.

"H-Ha?" Izumi mulai bingung saat pertanyaan yang diimajinasikan tidak terlontar.

Mikoto menghela nafas dalam.

.

"Huhh.. Menjaga pola makan adalah hal penting bagi seorang ibu kau tau. Selain untuk nutrisi bayi yang kau susui, kau juga harus mempertimbangkan nutrisi untuk dirimu sendiri."

"..."

"Menjadi ibu adalah hal berat, apalagi diawal-awal usia anakmu, Segala pertimbangan bisa berdampak pada dirimu sendiri kalau kau tidak memikirkannya dengan matang."

"A-Ano-"

Grap.

Mikoto malah memeluk Izumi setelahnya. Izumi tentu saja terkejut.

"Senang bertemu denganmu.. Menantuku."

Izum bisa mendengar bisikan pelan sang ibu mertua disela pelukan mereka. Oke itu diluar perkiraan Izumi. Izumi pikir dia akan dimarahi atau semacamnya karena merahasiakan hubungan gelap dengan Itachi. Namun nyatanya-

Mikoto lalu melepas pelukannya, dia menatap Izumi langsung ke mata. Sebelum sang-ibu-dari-suaminya ini menitikan air mata haru.

"..Aku selalu bermimpi bisa memiliki anak prempuan." ucap Mikoto.

Izumi terbelalak. Dia tidak bisa mendeskripsikan perasannya. Antara senang, haru... dan aneh.

Saat Izumi menoleh ke Fugaku, dia bisa melihat sang pria paruh baya itu tertawa kecil. Mungkin ini artinya Izumi diterima oleh keluarga ini?

Izumi malah ikut menangis haru.

.

"Terima kasih."

.

Direct.

"Hueeeeeeeee~"

Izumi bisa mendengar teriakan khas setelahnya. Bersamaan dengan datangnya Itachi menggendong sang pria kecil yang sepertinya tidak puas karena tidurnya diganggu.

Ketiga orang yang ada di ruang tamu tentu langsung menoleh tatkala Itachi menggendong seorang bocah yang belum sepenuhnya membuka mata dari tidurnya.

"Sssstt.. Hikari lihat.. Siapa yang datang berkunjung." Ujar Itachi. Hikari menghentikan tangisannya dan menatap sang ibu dan beberapa orang yang asing di penglihatannya.

.

Mereka bertiga terdiam.

Sebelum suara kekehan pelan Mikoto pecah melihat sang bocah. Yah, bocah kecil berpipi tembem, dengan rambut hitam khas Uchiha.

.

~I WILL DO WHAT I WANT~

.

"... Dan dengan Ini.. Festival Konoha Gakuen resmi dibuka."

Prok Prok Prok

Suara riuh pengunjung langsung menyambut akhir dari Pidato sang walikota. Dengan itu juga, resmi sudah dibukanya festival yang akan berlangsung sampai 5 hari kedepan.

Yah, festival yang akan menjadi sebuah hiburan yang menyenangkan.

.

In Other Side

Sasuke sudah siap sedia di counter cafe 2-1 bersama dengan Sakura, dan beberapa anak 2-1 yang lain. Yah, menurut jadwal piket jaga counter, Sasuke akan disini sampai jam 10 hingga digantikan nanti oleh orang yang jaga selanjutnya.

Karena ini adalah hari yang sibuk dan Sasuke harus menjadi waitress selama beberapa jam kedepan, maka dia tidak akan bertanya tanya dimanakah Naruto dan Shikamaru. Dia hanya berharap Naruto bisa terlihat sebelum jam 10 karena itu adalah giliran Naruto untuk memakai seragam kerja persis seperti yang dipakai Sasuke sekarang.

Hah, sial Memakai bowtie tidak pernah terasa aneh bagi Sasuke. Namun tidak untuk hari ini, ini adalah pengalaman pertamanya menjadi seorang pelayan.

"Kau tau apa yang menarik Sasuke?"

Sasuke menoleh ke Chouji yang tengah menyiapkan kompor.

"Hn?" Dia menyahut tanpa menoleh, masih mengelap gelas dan piring seperti yang diinstruksikan Sakura beberapa menit yang lalu.

Pemuda bertubuh besar itu melanjutkan.

"Saat aku datang tadi pagi, aku melewati sebuah stand aksesoris dimana seorang pemuda menawariku sebuah boneka figure bernama gedo mazo. Dia bilang boneka itu bisa mendatangkan keberuntungan.. menurutmu, apa boneka seperti itu bisa menjadi jimat?"

Sasuke diam. Dia bahkan tidak mau membahas lebih lanjut apa yang dimaksudkan pemuda ini. Yah Sasuke tau apa itu gedo mazo, dia punya satu dulu, dan Sasuke yakin Boneka jenglot tidak mendatangkan keberuntungan.

Mendengar penjelasan Chouji, Sasuke bisa mengasumsikan kalau stand yang dimaksudkan pasti berhubungan dengan'akatsuki.

"Boneka itu pembawa sial." Jawab Sasuke jujur.

"Begitukah? Padahal menurutku itu karya seni yang lumayan."

"..."

.

.

"Sasuke-kun! Layani meja nomor 5!" Sasuke menoleh ke Sakura tatkala namanya dipanggil. Ah, padahal Sasuke mengira dia akan berdiri nyaman disini dan membersihkan piring tanpa melakukan yang lain, Namun nyatanya dia harus berhadapan dengan pengunjung.

well, segala sesuatu pasti ada awalnya kan?

Sasuke menatap jauh meja yang dimaksud, sebelum dia membawa sebuah nampan dan daftar menu mendekat. Sembari memikirkan kalimat apa yang digunakan untuk menawari pelanggan. Yah, setelah semua ini adalah pengalaman pertama Sasuke.

Meja no 5

"Pe-"

"Huh? Kau Sasuke-chan?"

"Hah?" Sasuke tidak bisa menutupi keterkejutannya saat dia sadar siapa orang yang ada di meja nomor 5. Dialek familiar, dan rambut merah yang tidak asing.

"..."

"Err. Hai." jawab Sasuke. Sasuke lupa tujuan awalnya menghampiri meja ini.

.

"Kyaa. Kau keren sekali!" Jawab orang itu, mengamati Sasuke yang mengenakan pakaian ala waitress.

Sasuke diam. Yah, dia tidak terkejut, mengingat sang walikota melakukan pidato beberapa menit lalu, tidak heran kalau istrinya juga ada di sekitar.

"Jadi? Kau bekerja di stand ini?" tanya Kushina. Dia mendongak ke counter, berharap dia juga melihat rambut pirang jabrik yang dikenalinya.

"Iya."

"Lalu? Dimana Naruto-chan?"

"..." Sasuke diam.

Ah, dia tidak berani menjawab. Sasuke tau kalau dia bilang Naruto belum pulang sejak kemarin, pasti kejadian tempo hari akan terulang. Dimana Yamato dan pasukannya akan melakukan operasi pencarian yang Sasuke yakin akan berdampak buruk bagi festival ini.

"Em. Naruto dan Shikamaru sedang ada tugas di tempat lain." jawab Sasuke asal, berharap Kushina tidak bertanya lebih lanjut.

Kushina mengangguk. Dia mengamati setiap sudut cafe outdor ini dengan matanya. Yah, tempat strategis untuk membu-

"Jadi?"

"Hah?" Kushina harus terkaget oleh suara Sasuke.

"Um... tante mau pesan apa?" tanya Sasuke.

Kushina tersenyum lagi mendengar ucapan Sasuke.

"Jus apel ada?"

.

~iwidwiw~

.

"Huwaa.. Hikari-chan~ Lihat, festival."

Ketiga orang ini menatap pasrah saat dilihatnya Hikari kini tengah digendong oleh sang nenek. Yah, dengan berapa alasan. Keluarga besar Uchiha ada di festival sekarang, tentu saja ini kemauan nyonya besar Mikoto dengan alasan membawa cucunya jalan jalan.

Izumi sedikit terkejut saat dia melihat Hikari tidak sungkan sama sekali dengan sang nenek. Hikari bahkan terlihat tenang saat dia digendong kemana mana. Tidak ada tanda tanda bocah itu akan menangis atau semacamnya.

"Kalian boleh jalan-jalan sendiri kalau kalian mau."

Ucapan Fugaku menarik perhatian Itachi dan Izumi.

"Otou-san? Kau yakin?" tanya Itachi memastikan. Melirik sang ibu dan Hikari yang kini tengah asyik sendiri.

Fugaku tersenyum.

"Yah, aku yang akan mengawasi mereka. Lagipula..." Fugaku menggantungkan kalimatnya, Dia melirik Izumi. ".. Kalian berdua juga butuh kencan kan?"

.

Pipi Izumi memerah mendengar pernyataan sang ayah.

Itachi menggaruk pipinya yang tidak gatal.

"Kalau begitu.. Baiklah.." Itachi menjawab sepihak.

"E-EH?" Izumi hanya menatap bergantian sang ayah dan sang suami bahkan sampai Itachi menyeret tangannya beserta tubuhnya menjauh.

Meninggalkan Fugaku yang tersenyum melihat bayangan kedua anaknya yang berbaur dengan ramainya festival.

.

'Nah sekarang...'

Fugaku kembali menoleh kepada Mikoto dan Hikari.

"..."

Pria paruh baya itu melotot saat dia sadar, Nenek dan cucu itu sudah tidak ada di tempatnya berdiri. Ditinggal menengok beberapa detik dan mereka...

Hilang entah kemana.

'.. waduh.'

.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TBC

xxxxx

Author Note(s) : Yolo.. Hanzama is back.. Yo,, sebelumnya minta maaf, mungkin di chapter chapter depan nggak bisa nunjukin humor terlalu sering.. Hanzama sedang mulai menyambung benang benang konflik dari masalah masalah di masa lampau jadi.. humor mungkin datang kalau memang tiba saatnya humor..

hanzama juga sadar, keseringan humor, akan menjadikan konflik tidak produktif.. sebaliknya. terlalu serius, juga nggak bagus bwat fanfic friendship.. jadi, hanzama akan mencoba nahan rasio imbangnya di tengah tengah. karena humor sudah terlalu sering chapter lalu, mungkin di awal festival ini. hanzama mulai dengan adegan yang santai.

...

okesip, perhaps that's it.. hanzama tau ini pendek karen idenya mentok jadi bwahaha-uhuk uhuk.

.

Another.

Nara Shikaku tengah menyetir mobilnya tenang saat wanita yang ada di belakangnya kini tengah mengobrol dengan orang di sebrang telpon.

.

"Ya.. Tentu saja Karura.. Tepat sesuai janji, kita akan membahas itu saat kita bertemu nanti."

.

Hahh.. Shikaku bahkan tidak sempat sarapan karena sang istri terlalu bersemangat untuk pergi ke sekolah Shikamaru.

.

"Ya ya.. Aku yakin anakku juga ada disana..Kita akan mencari mereka saat kita sudah sampai."

.

Bahkan saat naik mobil tadi, sang istri dengan seenak jidat duduk di belakang dan membuat Shikaku menyetir sendiri di depan layaknya seorang supir.

Yah, salahkan saja karena sang supir yang asli : Ensui, meminta cuti. Sehingga membuat Shikaku berakhir disini, menyetir layaknya supir dimana sang istri duduk di belakang bak seorang bangsawan.

"Hahhh~" Shikaku menghela nafas berat.

Ah, Padahal ini adalah hari yang cukup sibuk dimana mereka berdua harus menemui keluarga Sabaku membahas perihal perjodohan.

Er.. Bicara tentang perjodohan, Shikaku bisa dengan yakin mengetahui respon Shikamaru saat dia tau rencana jahat sang ibu nanti. Kurang lebih seperti : "Ah takdir, selalu menjebakku dengan hal yang merepotkan."

Meskipun Shikaku bilang ke sang istri kalau ini terlalu terburu buru, mengingat Shikamaru masih kelas 2 SMA, namun Yoshino sangat ngotot ingin segera jadi besan dengan Keluarga Sabaku.

Well, semoga saja. Tidak ada hal merepotkan yang akan terjadi nanti.

.

.

.

KRITIK DAN SARAN

v

v

v