chapter 65 : The Story of My Life

"Woi!"

Hahh.. Hahh. Hahh.. Yah, Darui lengah! Dia lengah beberapa detik dan penjagaanya barusaja diterobos oleh beberapa obyek yang entah datang darimana. yang dia tau, obyek itu bukanlah manusia.

Obyek besar dan gendut, namun bukan beruang. Yang satunya adalah obyek berwarna oranye namun bukan jeruk.

"HAH Hahh! SIAL!"

Darui berhenti saat melihat dua makhluk itu berpencar. Dengan penuh pertimbangan, Darui akhirnya membuntuti si oranye sebelum dia mengkomandokan pak satpam untuk membuntuti yang satunya. Mereka berpencar di persimpangan deretan para stand.

"Tunggu!"

"NYawww!"

fack.. Darui sepertinya salah saat dia berpikir untuk membawa pedang hari ini.

.

.

Yah, Dia harusnya membawa jaring ubur ubur.

Naruto © Masashi Kishimoto

| I Will Do What I Want © Hanzama |

Rating : T(+)

| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |

Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Etc

Pairing : FIX SasuSaku, Tanda-Tanda GaaMatsu, Tanda-Tanda NaruYuka, Tanda-Tanda NaruShion, Unknown Pairing, Another Coming Soon.

Relax and Enjoy Story.

.

Butuh lebih dari 30 menit untuk Sasuke, dimana dia akhirnya berhasil melewati hujanan pertanyaan dari nyonya besar Mikoto. Berawal dari pertanyaan "Apa kabar?" sampai "Kapan Menikah?" barusaja Sasuke jawab dengan badan tegang. Ini bahkan lebih berat dari Interogasi yang diingat Sasuke sewaktu di Okinawa.

Untung Papa Fugaku berhasil menyetop racau mama Mikoto sesaat setelah Sasuke merasa tidak kuat menjalani Interogasi ala ibu-ibu tersebut lebih lanjut.

Bersamaan dengan datangnya Walikota yang menjemput istrinya. Kini dua pasutri merepotkan itu sudah tidak ada di mejanya. Hanya meninggalkan Sasuke, Itachi, Izumi dan Hikari.

"Bwahahahahaha.." Suara ricuh ala ibu-ibu itu sudah terganti dengan Itachi yang kini tengah tertawa meledek Sasuke.

Sekedar info. Pasangan MinaKushi harus berpamit karena walikota Minato ada pertemuan dengan perdana menteri setelah ini. Sayang (untung) bibi Kushina belum bertemu dengan Naruto.

Sedangkan pasangan FugaMiko juga berpamit dengan alasan ada sesuatu yang harus diurus di rumah. Butuh waktu lebih dari 5 menit untuk Fugaku akhirnya berhasil memisahkan istrinya dari Sang cucu, Hingga akhirnya kedua orang tua itu sudah hilang bersamaan dengan kembalinya Hikari ke pelukan sang mama.

Sial karena sial, Sasuke tadi keceplosan memberitahu kalau dirinya tengah bergabung dengan klub drama. Yang mana lusa akan menampilkan sebuah pentas untuk festival. Dan itu berhasil membuat wajah girang sang ibu naik ke level 10.

Yah Sasuke tau. Dia pasti akan menjadi tontonan orang banyak di pentas nanti. Namun dia tidak berharap dia akan ditonton oleh orang tuanya.

Dan... Itu adalah sebab itachi tertawa sekarang.

".. Kau.. Masuk klub drama? bwahahaha-"

"Diam berisik!" Sasuke bahkan mulai terganggu saat Itachi sudah mulai tidak mengontrol tawanya.

"Haha.. Maaf, aku hanya tidak menyangkan pemuda sepertimu masuk ke organisasi berbasis sandiwara." balas Itachi lagi.

"Horaa.. Itachi, jangan begitu kau tau.. Aku yakin Sasuke juga punya alasan tersendiri kenapa dia masuk klub drama.. kan?" Izumi menimpali.

Sasuke sedikit melirik Hikari yang kini berada di pangkuan Izumi. Pria kecil itu dengan sengaja mengubek-ubek jus jeruk Itachi dengan tangannya.

'Yeah.. Terus Hikari. Kau adalah temanku.' Batin Sasuke. Hikari membuat Sasuke semakin senang saat dia menumpahkan jus jeruk itu, dan airnya mengenai HP Itachi yang kini tengah tergletak di meja.

Good Job Kid!

"Whoaa.. Hei.. " Itachi pun langsung mengamankan HPnya, Dan menoleh ke Hikari yang malah memberikan wajah polos.

"Nyamnyam."

"Umm.. Kau lapar ya?" tanya Itachi. Dia mengangkat Hikari dari pangkuan Izumi dan menggendongnya.

"Hikari-chan kan belum sarapan." Balas Izumi. Mengingat tadi pagi Tou-chan dan Kaa-chan datang berkunjung, Izumi tidak sempat menyiapkan makan untuk Hikari.

Sasuke terdiam mengamati kedua kakaknya ini. Itu sebelum Itachi menoleh ke Sasuke.

"Sasuke... Kami pesan makanan bayi." ucap Itachi seenak jidat.

Sasuke sedikit tersinggung.

"Kami tidak menjual makanan bayi bodoh!" balas Sasuke. Entah Itachi bercanda atau serius. namun apapun motif di balik niat Itachi, Sasuke malah emosi.

"Kalau begitu pesan ASI!"

Sialan, malah makin ngawur.

"Mau kau kupukul pake nampan?"

.

Itachi menghela nafas berat.

"Hahh.. Dasar adik yang tidak bisa diandalkan."

"..."

.

~I WILL DO WHAT I WANT~

.

Oke mari abaikan gerombolan uchiha diatas. Disisi lain, Shikamaru dan Gaara kini tengah menjelajahi Festival. Setelah membawa Naruto ke tempat paramedis, dibantu oleh beberapa anak Klub Instalasi Uzushio, Shikamaru dan Gaara akhirnya ikut membaur ke Festival.

Dikarenakan petugas Paramedis yang menangani Naruto bilang kalau untuk membiarkan Naruto istirahat terlebih dahulu, dan Shikamaru tau kalau itu adalah tanda dimana mereka (Dia dan Gaara) diusir dengan halus dari pos paramedis.

Namun apalah, Shikamaru memang yakin mereka adalah para ahli di bidang kesehatan jasmani. Namun Shikamaru tak yakin kalau mereka ahli di bidang kesehatan rohani. Yah, berjaga jaga kalau Naruto bangun dengan berteriak, berakhir dengan trauma karena hantu. Semoga saja mereka punya psikiatris handal untuk menangani Naruto kalau itu benar terjadi.

"Kau yakin tidak mau mengambil tas-mu terlebih dahulu?" tanya Shikamaru kepada Gaara. Melihat Gaara yang masih menggunakan tuxedo.

"Nanti saja." balas Gaara enteng. Sepertinya pemuda ini sudah tak terganggu lagi dengan penampilannya. Malahan, tadi sempat ada beberapa gadis SMP yang minta berfoto dengan Gaara karena mengira Gaara adalah regu Cosplay.

.

Dimata Shikamaru, festival ini terlihat sangat lancar. Sebut saja tidak ada sosok penganggu yang terlihat di mata Shikamaru. Um yah kau tau:

Toneri dan Temujin. Yang biasanya terlibat masalah dengan Sasuke dan berakhir dengan menyeret Shikamaru ke hal merepotkan. Atau..

Klub Drama Iwa-Art. Yang biasanya terlibat masalah dengan Klub drama kita dan berakhir dengan menyeret Shikamaru ke hal merepotkan (2). ada lagi..

Shion. yang terkadang mengusik Naruto dan-eh tunggu dulu. Shikamaru belum pernah benar benar tenganggu dengan Shion jadi.. yah -coret-

yang paling melegakan adalah.

SosokIbiki-senseiyang akhir akhir ini tidak kelihatan. Shikamaru tidak bisa lebih bersyuku-

"Okaa-sama?"

"Hah?" Shikamaru terbangun dari khayalannya saat Gaara tiba tiba berucap. Merujuk ke dua orang yang kini tengah berdiri tak jauh dari tempatnya dan Gaara berdiri.

Shikamaru bahkan lebih kaget saat Gaara tiba tiba berjalan mendekati kedua orang itu. Siapa? Orang tua Gaara?

Rasa penasaran berhasil menggerakan kaki Shikamaru untuk ikut mendekat.

.

"Oh Gaara?" Shikamaru bisa mendengar suara baritone seorang pria dewasa berperawakan layaknya Kazekage Ke empat yan-uhuk uhuk

"A-Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Gaara akhirnya.

Yah, sudah sekian lama semenjak dia melihat kedua orang tuanya.

Gaara adalah anak bungsu dari keluarga Sabaku. Dia tinggal di Konoha bersama Kankuro dan Temari, kakak Gaara. Sedangkan Kedua orang tua Gaara selama ini tinggal di Suna. Alasan Gaara berada di Konoha adalah karena tuntutan Sang ibu untuk menyekolahkan ketiga anaknya di Konoha Gakuen. Sayang Sabaku Rasa (Ayah Gaara) tidak bisa ikut hijrah ke Konoha karena memiliki bisnis di suna. Hingga akhirnya, pasangan suami istri itu tetap menetap di Suna sementara ketiga anaknya merampungkan sekolah di Konoha. Hm, keluarga aneh kalau dilihat dari sebelah mata.

.

Gaara tentu terheran melihat sosok sang Ibu dan Ayah ada di depannya. Dia tidak ingat kalau Kedua orang tuanya memberitahu kalau ingin berkunjung.

"Hoo.. Gaara!" Sapa sang ibu senang melihat anak lelakinya. Sabaku Karura segera mengelus ubun ubun Gaara dengan tangannya.

"Kau semakin tampan." ucap Karura. Membuat Gaara malah tersipu malu.

Sedangkan sang ayah. Sabaku Rasa yang melihat anak bungsunya menggenakan pakaian ala pengantin lelaki malah tersenyum tidak jelas.

"Kauu..." Ucap Rasa.

Gaara menoleh ke sang ayah.

"... Juga ingin segera kawin?" tanyanya.

"Hah?"

"Ahahahahahaha-" Pria paruh baya itu tertawa dan menepuk pundak Gaara.

Meninggalkan Shikamaru yang hanya menatap ketiga orang ini dan memilih diam. Yah, Shikamaru pernah menginap di rumah Gaara. Itu adalah sebuah rumah mungil yang terletak beberapa blok dari apartemen Matsuri (yang pernah Shikamaru kunjungi bersama Naruto dan Sasuke).

Sekali Shikamaru kesana, dia tidak melihat seorangpun kecuali Gaara yang ada di rumah. Gaara bilang kalau kedua kakaknya sedang mengurus Festival waktu itu, dan mereka tidak sempat pulang ke rumah. Shikamaru jadi tidak kenal siapapun anggota dari keluarga Gaara. Well, tapi Gaara bilang dia punya dua orang kakak.

"Kenapa kalian datang ke konoha?"

Shikamaru bisa mendengar lagi Gaara menanyakan pertanyaan yang tak jauh beda dengan pertanyaan pertama.

"Hn. Kami ada janji dengan teman lama." ucap Rasa menjelaskan.

Gaara terdiam. Dia menoleh ke sang ibu yang tersenyum.

"Sebenarnya kami mencoba menghubungi Temari dari tadi. Namun Tidak diangkat." lanjut Karura.

"Temari-nee?" Yah, bukan hal baru bagi Gaara. Temari jarang pulang ke rumah akhir akhir ini. Katanya sih, dia sementara menginap di rumah temannya yang tak jauh dari sekolah karena mengurus festival.

"Yah. Kankuro juga sama saja. Nomornya tidak bisa dihubungi." sahut Rasa tak jauh beda.

"..."

Yah, soal itu. Gaara tidak bisa menyalahkan. Sebenarnya HP kankuro jatuh ke akuarium beberapa hari lalu saat dirinya diseruduk oleh Shukaku karena menganggu rakun itu dengan flash kamera.

"Yah.. Kare-"

"Eh.. Hal yang menganggu Kaa-chan adalah..." Karura tiba tiba memotong ucapan Gaara.

"Ha?"

"Aku mencoba menghubungimu beberapa menit yang lalu. Saat di angkat, yang ku dengar adalah suara seorang gadis.." Ucap Karura jujur.

"A-Ap-?"

Yah. HP Gaara ia tinggal di tas. Dan tasnya sekarang berada di ruang klub. Sudah bisa ditebak kalau HPnya kini tengah diutak-atik oleh Matsuri atau Yukata.

"Umm.. Itu.."

"Maa.. Maa.. Aku cukup yakin kalau Gaara punya alasan tersendiri kenapa HPnya kini tengah dipegang oleh seorang perempuan kan?" Balas Rasa menengahi. Dia mengedipkan Sebelah matanya ke Gaara.

"..."

"Yang lebih penting lagi.. Siapa temanmu?" Lanjut Rasa,, Menoleh ke Shikamaru yang hanya berdiri diam.

"Hn.. Shikamaru." balas Gaara. sedikit senang sang ayah mengalihkan pembicaraan yang akan berakhir dengan siapa gadis yang membawa hp mu bila dilanjutkan.

"Hoo? Shikamaru-kun ya? Senang bertemu denganmu."

Shikamaru hanya menurut saat dia diajak berjabat tangan dengan pria paruh baya ini.

.

"Lalu? siapa yang kalian tunggu sebenarnya?" Gaara mulai melontarkan pertanyaan lagi.

"Hn.. Teman lama ibumu dari Konoha. Kami akan membicarakan perjodohan." jawab Rasa jujur.

Gaara terkejut.

"P-Perjodohan?"

"Yap."

Gaara dan Shikamaru saling pandang. Sebelum Shikamaru tersenyum.

"Yang sabar ya..." balas Shikamaru. Menyimpulkan sepihak kalau Gaara lah yang akan dijodohkan.

Ayah Gaara malah tertawa.

Gaara mencoba berpikir. Tunggu, Tidak mungkin kalau dirinya yang akan dijodohkan kan? Normalnya adalah, biasanya kakak tertua lah yang seharusnya menikah terlebih dahulu. Err.. tapi, bisa juga lelaki tertua lah yang akan dijodohkan terlebih dahulu..

Tapi ah, Gaara akan mengetahui jawabannya saat dia melihat siapa orang-orang yang ingin ditemui kedua orang tuanya,

..

Sebentar mereka berbincang sebelum,

"Ah itu dia mereka." kalimat Karura menyadarkan Gaara dan Shikamaru dari kegiatannya. Diikuti dengan siluet dua orang yang mendekat.

Saat kedua orang yang ditunggu mendekat. Shikamaru menelan ludah.

"..."

"Huwa.. Lama tidak bertemu, Karura."

"Hm.. Lama tidak bertemu Yoshino."

"..."

"..."

"..."

"..."

Glek. Oke, Otak cerdas Shikamaru tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Bila yang orang tua Gaara tunggu adalah err.. kedua orang ini.

"Um.. Gaara.. Aku pamit dulu ada urusan." elak Shikamaru mencoba kabur.

Gaara menoleh ke Shikamaru heran.

"Eh? begitu ya-"

TAP!

Naas. Usaha Shikamaru sia-sia karena tangannya sudah dicengkram erat oleh seseorang. Shikamaru menoleh, tampang horror yang familiar lah yang terlihat di mata Shikamaru.

.

"Kau-mau-kemana... PE-MU-DA." ucap Yoshino kepada Shikamaru. Dengan nada yang dibuat buat.

Membuat Shikamaru berkeringat dingin.

Mencoba mencairkan ketegangan dengan menyapa sang ibu.

.

"Y-Yo.. Lama tidak bertemu Yoshino-"

BLETAK,

.

~i will do what i want~

.

Break the Xover wall

"HUWAAAAAAA!"

Pos paramedis dibuat keget saat tiba tiba seorang yang beberapa detik yang lalu pingsan, kini sudah bangun dengan teriakan.

Sontak sebagian petugas paramedis yang mendengar teriakan Naruto bergegas mengecek apa yang terjadi.

.

"Kau baik baik saja?" tanya salah satu petugas paramedis.

Naruto menoleh ke kanan dan kiri. Mencoba mengetahui tempatnya berada.

"I-Ini dimana?" tanya Naruto kepada petugas paramedis itu.

"Kau di pos paramedis. Lantai satu Konoha Gakuen. Jangan panik.. Aku Dokter." jawab petugas itu jujur. Dia tidak terlihat seperti dokter.

Naruto mencoba mengingat kenapa dia bisa tak sadarkan diri.

"Relax saja.. Kau pingsan beberapa menit lalu.. Teman temanmu yang membawamu kemari." lanjutnya.

"..."

"Melihat dari raut wajahmu.. kau sepertinya trauma dengan sesuatu.. Apa ada yang mengganggumu sebelum kau pingsan?" tanya sang Dokter.

Naruto mencoba mengingat ingat saat dia berada di lantai tiga. Dimana sebuah sosok yang-

"HIIYY!"

Naruto bergidik ngeri.

"Kau sudah sarapan?" tanya sang Dokter.

Naruto menggeleng. Mana ada sarapan.. Pulang kerumah aja kagak.

Dokter itu menghela nafas.

"Hah.. Tunggu disini.. Akan ku ambilkan ransum untukmu."

Naruto hanya mengangguk.

Dia sempat melirik nametag sang dokter sebelum dokter itu pergi.

.

.

[Dr. Trafalgar Law]

.

.

Hm.. Nama yang terlalu bagus untuk seorang Dokter Jenggotan.

.

End Of Break The Xover Wall

.

~i will do what i want~

.

2-1 Cafe

Akhirnya, kedua pasangan suami istri tidak jelas itu pergi juga. Terimakasih kepada Izumi yang berhasil membujuk Itachi pulang karena Hikari lapar, kalau tidak Itachi pasti akan dengan suka rela berada di sini sampai sore hari. Mengingat dia paling semangat kalau melihat adiknya 'bekerja keras' dalam hidupnya.

.

Baru sebentar Sasuke mengelap gelas yang ada di depannya sebelum-

"Sasuke! Layani meja nomor tujuh!"

Sasuke memberikan death glare kepada Ino yang dengan seenak jidat memerintahnya. Lagi. Sasuke bahkan tidak diberi waktu untuk bernafas barang beberapa menit.

.

Dengan terpaksa, Sasuke melangkah ke meja yang dimaksudkan. Hah.. Hari yang sial.

"Selamat datang di 2-1 ca-"

Sasuke bahkan tidak berniat melanjutkan kata katanya saat dia tau siapa yang menempati meja nomor tujuh.

.

Shikamaru sekeluarga.. dan.. err.. Gaara.. Sekeluarga?

"..." Sasuke malah diam, melayangkan pandangan tanya kepada Shikamaru yang sedari tadi dicengkram erat oleh sang ibu, seakan Shikamaru akan kabur kalau tidak dipegangi.

"Sasu.. ke?"

"Sasukee?!"

"Hoya? bukankah kau Sasuke kun?" Nara Shikaku bisa dengan jelas mengenali Sasuke, bahkan dengan pakaian pelayan sekalipun.

Tch! Sasuke sudah kenyang melayani para orang tua.

Shikamaru hampir saja tertawa kalau dia tidak menahan mulutnya dengan tangan.

Membuat urat nadi di kepala Sasuke mengeras.

.

Tanpa aba aba. Sasuke menarik Ino yang sedang melayani meja nomor delapan, ke hadapan pasangan keluarga itu.

Sasuke berbisik "layani mereka" kepada Inosebelum dirinya beranjak pergi. Menjatuhkan nampan stainless yang ia pegang dan melempar bowtie yang dia pakai ke sembarang arah.

"S-Sasuke?! Kau mau kemana?" cegah Ino yang melihat Sasuke beranjak pergi.

"PULANG!" Sahut Sasuke mantap.

Meninggalkan semua pelayan cafe 2-1, keluarga Sabaku dan keluarga Nara yang melongo.

"Oi!" Shikamaru malah tersinggung.

Namun Sasuke tidak menggubris sahutan apapun.

Dasar, pelayan kolot.

.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TBC

xxxxxxxxxxx

Author Note(s) : Finally! Hanzama is back.. Huft.. setelah sekian lama.. Akhirnya hanzama bisa lanjut juga.. hehe.. maaf lama.. biasa, orang penting-uhuk uhuk..

Okree.. seperti janji hanzama.. hanzama mengurangi porsi humor-#plak..

Spoiler : Trafalgar law (One Piece) © Eiichiro Oda

Balasan Repiew :

Yolo.. maaf yang nunggu lama.. Ini udah apdet kok.. welcome back juga sahabat reader yang kembali baca iwdwiw setelah sekian lama pensiun (?) .. Terimakasih atas dukungannya.. Hanzama selalu menerima segala macam kritik, saran dan sumbangan dalam bentuk materi maupun non materi.. hiks..

Yang nunggu kisah cinta Naruto.. sabar, masih proses (proses melulu) ..

oh dan menanggapi repiew sahabat pembaca Nama tanpa akun.

= Sebenarnya arc okinawa memang masih banyak salah sana sini. Dan itu aslinya arc yang gak pernah hanzama konsepkan jadi. well, anggap saja itu arc improvisasi(?) .. jadi tidak dipersiapkan dengan cukup baik. Tapi disini lain, Arc Okinawa lah yang ngasih semangat Hanzama nulis bisa sampai di chapter ini.. Sedikit banyak mendorong hanzama ke ide ide yang lebih nyaman difikirkan..

..

Oke mungkin itu.. seperti biasa.. salam hangat dari hanzama, semoga reader sukses selalu ^^

See you in the next chap!

.

© Hyuuga Diary © I will do what i want ©

Namaku Hanabi, aku memiliki seorang kakak perempuan bernama Hinata. Hinata-nee adalah kakak yang baik pada awalnya. Namun akhir akhir ini dia berubah. Dia menjadi lebih 'wanita' dari biasanya.

Yah, setidaknya itu yang sepertinya ingin dia tunjukkan kepada orang disekitarnya. Menma-Nii pernah bilang kalau Hinata-nee pernah bercerita bahwa dia punya seekor kucing namun kucing itu direbut oleh seorang pemuda.

Pernah sekali aku masuk ke kamarnya. Karena, kamar Hinata-Nee biasanya dikunci rapat. Aku mencoba membobolnya menggunakan penjepit rambut.

Saat aku berada di kamarnya. Kamarnya ternyata sangat berantakan. Berbeda dengan Hinata-nee yang dulu, yang selalu rapi. Hinata-nee yang sekarang bahkan dengan santainya menghamburkan bra dan celana dalam kemana mana. Buku pelajaran yang dulu selalu dia tata rapi sewaktu SMP, Sekarang dia jadikan sebagai tatakan lampu kamar.

Aku juga melihat Laptopnya tergletak manis di atas kasur. Kucoba nyalakan laptop itu.

Dulu, saat aku meminjam laptop Hinata-Nee, pasti akan terpampang wallpaper mendamaikan hati, gambar beberapa bunga dan animasi lucu. Sekarang, gambarnya digantikan dengan tengkorak dan gambar gambar yang menyeramkan.

Di kamar Hinata-nee. Obyek yang paling menarik perhatian adalah foto seorang pemuda berambut pirang dengan senyum lima jari. Dulu, waktu SMP, foto itu tertata rapi di dalam sebuah bingkai buatan tangan yang dibuat sendiri oleh Hinata-nee. Sekarang, Foto itu terpampang manis di tengah sebuah papan dart. Yang mana secarik kertas itu sudah berlubang-lubang karena terlalu banyak tertusuk oleh dart.

.

Pernah suatu ketika saat Hinata-nee masih SMP. Aku bertanya "Siapa pemuda berambut pirang itu?" Hinata-nee dengan lembut menjawab. "Matahari."

Itu dulu..

Beberapa hari lalu.. Aku mencoba menanyakan pertanyaan yang sama. Berharap Hinata-nee masih mengingatnya. Namun Hinata-nee dengan kasar menjawab. "Otak Udang."

.

Hinata-nee yang dulu.. Anggun, lemah lembut, Baik Hati, selalu terbuka kepada siapa saja.

Hinata-nee yang sekarang.. Kasar, cuek, tak peduli, lebih cenderung menyimpan masalah sendiri.

Hinata-nee sudah berubah.

Aku mengerti.. benar benar mengerti. Manusia memang akan berubah seiring bertambahnya usia. Semua itu dinamakan pubertas, Neji-nii juga berubah banyak semenjak SMP, Menma-Nii juga sudah jauh berbeda semenjak terakhir bertemu.

Aku hanya tidak paham dengan satu poin. Point yang mengangguku lebih bahkan dari PR fisika yang diberikan guru.

.

.

Akhir akhir ini Hinata-nee jarang pakai BH kalau dirumah.

.

KRITIK DAN SARAN

V

V

V

V