chapter 66 : The First Day
Yah.. Sudah Darui duga. Dia kehilangan jejak, sialan. Darui tidak pernah menyangka bisa sesulit ini mengejar target yang tak lebih besar dari seekor anjing.
Darui berhenti sejenak sebelum dia mengalihkan pandangannya ke kiri dan kanan. Mencoba mencari peruntungan dari tak sengaja melirik targetnya tadi. Namun nihil, dia tidak bisa menemukan apapun.
Dia lalu mengeluarkan transchievernya dan melaporkan kabar ke 'regu patroli' yang ada di pintu depan.
"Lebah pembunuh. MASUK lebah pembunuh.." Ucap Darui ke radio militernya.
"Kreeekkk rekkekekk.."
"Lebah pembunuh?" Namun Darui tidak bisa mendapatkan percakapan apapun. Hanya suara kemresek ala radio hilang sinyal yang ia dengar.
Merasa usahanya tidak membuahkan hasil, Darui pun menyimpan kembali transchievernya. Hahh.. Dasar anak baru. Batin Darui.
Darui kembali mengamati area sekitar. Sebelum dia melihat dengan jelas sebuah obyek oranye yang sangat dia kenali. Takut mengejutkan siapapun, Darui dengan hati hati berjalan mendekati obyek oranye itu.
Saat dia sudah ada di depan obyek itu.. Darui menampakkan sifat asilnya. Seringai iblis yang seakan siap memakan obyek oranye itu.
Tanpa basa basi. Darui pun menoleh ke seorang perempuan penjaga stand yang ada di depannya. Dan berucap lantang.
.
"Jus jeruk satu mbak.."
.
.
Anjrit, Darui malah beli jus.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
| I Will Do What I Want © Hanzama |
Rating : T(+)
| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |
Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Etc
Pairing : FIX SasuSaku, Tanda-Tanda GaaMatsu, Tanda-Tanda NaruYuka, Tanda-Tanda NaruShion, Unknown Pairing, Another Coming Soon.
Relax and Enjoy Story.
.
"Bah!"
Tebak siapa. Yah, Naruto disini. Dia barusaja kabur dari dokter gila yang mau mencekoki dirinya dengan buah buahan. Dia berlari sekuat tenaga dari ruang paramedis saat dia tau orang yang mengaku dokter tadi ingin memberinya ransum sebuah 'Buah aneh' yang Sang Dokter sebut sebagai buah iblis.
Naruto tau apa itu buah. Dia juga paham apa itu iblis. Dua kata itu normalnya tidak seharusnya menjadi satu kalimat. Dilihat dari perawakan buah yang disodorkan Dokter tadi. Naruto cukup yakin kalau dokter itu mencoba meracuni Naruto.
Dan dengan sedikit trik. Dia barhasil melarikan diri.
"Hah! Sial! Siapa sih yang memanggil Dokter sialan itu kesini!" Naruto sempat meneliti tempatnya dirawat tadi. Ruangan itu tidak terlalu layak disebut ruangan perawatan. Maksudku, kau tidak akan pernah tau kalau dirimu berada di sebuah ruangan bersama seorang dokter aneh yang mencoba mengunci pintu keluar. Disana hanya ada satu ranjang, satu meja, satu kursi, dan bendera bajak laut.. YA! BENDERA BAJAK LAUT!
Sial!
Beberapa ruangan di lantai satu memang difungsikan untuk ruang perawatan dan markas petugas paramedis. Berjaga jaga kalau ada kecelakaan yang tidak diinginkan kepada para pengunjung Festival ini. Naruto melihat deretan ruangan lain terlihat seperti ruang perawatan biasa. Namun berbeda dengan tempat Naruto bangun tadi. Itu seperti ruang isolasi! HAH!
..
Well, Tidak ada yang lebih membuat stress saat kau tau.. Lantai tiga adalah markas hantu, dan lantai satu adalah markas Dokter gila! .. Naruto Bahkan tidak mau menebak apa yang terjadi di lantai dua, ataupun gedung gedung lain yang tersebar di sekolah ini.
.
Setelah mengatur nafas. Pandangan Naruto beralih ke halaman Konoha Gakuen, Yang mana kini sudah berubah seperti kota perayaan. Um, Setidaknya situasi di luar cukup 'Normal' di mata Naruto.
"Kau!"
"Huh?" Naruto menoleh saat dia mendengar suara tepat di sampingnya.
Um.. Anak kecil?
Di mata Naruto terlihat seorang gadis yang err.. Sepertinya masih SMP, mengamati Naruto dengan intens. Es, krim di tangannya seperti menegaskan kalau dia adalah salah satu pengunjung.
Naruto tidak kenal gadis ini. Namun jujur, Cara gadis ini memandang Naruto membuat Naruto terganggu.
"Apa?" tanya Naruto sedikit kasar. Iris Lavender gadis ini sungguh identik dengan seorang yang Naruto tau.
Naruto terus mengamati gadis ini, bahkan sampai gadis itu dengan sengaja melempar es krim yang ia pegang ke baju Naruto.
Puk.
"Wha-Apa yang- Hei!" Naruto berniat protes, namun sayang, gadis itu segera berlalu pergi, bersamaan dengan titik dingin yang menembus pakaian Naruto.
Huh.. Gadis yang aneh.
Saat Naruto berniat mengambil eskrim yang jatuh ke tanah itu dan membuangnya ke tempat sampah, dia dikagetkan oleh orang lain.
"Maafkan anakku pemuda.. Apa Hanabi mengatakan sesuatu yang kasar kepadamu?" tanya orang itu.
Naruto mendongak. Sosok bapak-bapak lah yang ia lihat. Ayahnya gadis tadi kah? Merasa kurang sopan karena berjongkok, Naruto pun berdiri.
Naruto menggeleng.
"Uhh.. Tidak kok paman, Sepertinya dia hanya terpleset." Balas Naruto. Dia menoleh ke arah yang dituju gadis itu. Namun gadis itu sudah hilang di kerumunan.
Diikuti oleh sahutan 'Oh' oleh lawan bicara. Naruto mengamati pria paruh baya ini dengan seksama,
ah.. memang serupa.
Iris Lavender yang sungguh identik dengan seorang yang Naruto tau.
.
~i will do what i want~
.
Walaupun tadi bilang kalau Sasuke ingin pulang, Nyatanya, Sasuke tidak berjalan menuju gerbang depan. Sasuke malah dengan santainya mengitari riuhnya festival. Well, Tidak ada yang bisa dilakukan dirumah juga.
Sasuke tadi sempat melirik jam di salah satu stand milik gadis iwa-art. Dan jam sudah menunjukkan pukul 10.03, itu kira kira lima menit yang lalu. Jadi Sasuke pikir tidak masalah kalau dia meninggalkan pos nya di cafe untuk sekedar jalan jalan. Lagipula, shift nya berakhir di jam 10.
Sasuke tadi juga sedikit melirik Sakura, namun sepertinya gadis itu tidak mempermasalahkan apapun jadi. Yah, Sasuke bebas dari pekerjaannya. (Setidaknya itu yang dia pikirkan)
.
Festival ini tidak berbeda dengan festival lainnya. Deretan stand mini games, stand makanan dan sebagainya. Panggung yang digunakan untuk pembukaan terlihat terbengkalai, atau mungkin memang belum dipakai lagi.
Deretan Stand yang Sasuke sebut tadi bahkan lebih banyak saat kau menginjakan halaman belakang gedung utama. Bermacam macam tenda yang berdiri. Dari tenda es krim bahkan sampai peramal. Sasuke bahkan bisa melihat lantai dua gedung utama penuh sesak dari bawah sini. Entah apa yang mereka antrikan.
.
Langkah ragu Sasuke membawanya ke sebuah bangunan yang Sasuke ingat. Yah, bangunan yang diingat Sasuke sebagai gedung Aula. Dimana sewaktu mereka akan berangkat ke Okinawa, Naruto menantang Tsunade secara terang terangan disini.
Bahkan gedung ini juga terpakai.
Sasuke yang sedikit penasaraan akhirnya melangkah masuk.
.
Aula / Galeri Pameran Konoha Fest
Wah.
Disini juga tak kalah ramai. Itu yang dipikirkan Sasuke saat dia sudah berada di dalam. Dinding yang dipenuhi lukisan, teatrikal. Berbagai obyek yang bahkan Sasuke tidak mengerti.
Saat kau masuk ke ruangan ini, kau akan disambut oleh sebuah patung tanah liat setinggi satu setengah meter yang berbentuk burung raksasa. Berdiri gagah diatas bebearpa tatami yang ditata sedemikian rupa.
Sasuke sedikit terkejut dengan patung itu. Mengira-ngira siapa yang dapat membuat patung seperti ini. Dari uzushio kah? Iwa-Art kah? Atau malahan anak Konoha sendiri?
Sasuke sempat maju beberapa langkah untuk membaca tulisan yang tertera di depan patung itu. Sebelum akhirnya dia mundur karena tau siapa yang membuat.
Yah, Sasuke lebih baik melihat-lihat yang lain. Sasuke tidak mau berurusan dengan patung itu. Karena terakhir kali dia berurusan dengan 'benda tanah liat yang sama dan pembuat yang sama'
Dia berakhir dengan meledakkan tong dan ditangkap oleh polisi.
[C3 By Deidara] Tulisan di patung itu.
Serius! Seseorang! Cepat pasang garis polisi di patung itu! errr..
.
Sasuke sudah sibuk mengamati obyek lain sewaktu dia dikagetkan oleh suara seorang gadis.
"Kau tidak berjaga di stand mu eh? Sasuke?"
Sasuke menoleh. Sosok Sara, lah yang terlihat.
"Hn. Shift ku sudah berakhir." jawab Sasuke enteng. Yah, Seharusnya jam 10 adalah giliran Naruto yang melayani pelanggan tapi, Sasuke bahkan tidak tau dimana dia sekarang.
Sara hanya ber oh ria.
Sasuke melirik ke gadis ini.
"Kau tidak melakukan gladi bersih? Bukankah pertunjukanmu yang akan tampil duluan besok?" tanya Sasuke. Mencoba membuka percakapan.
Gadis itu hanya menyahut enteng.
"Entah.. Ketua dan anggota yang lain malah asik jalan jalan." jawabnya.
Sasuke mendengus.
"Kalian cukup percaya diri untuk gerombolan gadis yang tidak melakukan persiapan." balas Sasuke.
Saara hanya tertawa.
"Eh.. Jangan salah.. Kami juga persiapan.. Kau pikir pengalaman yang kami dapat selama ini hanya isapan jempol?" Sahut Sara. Sedikit cemberut.
Sasuke cuma menjawab dengan mengangkat bahu.
Mereka berjalan beriringan sembari melihat lihat pameran dengan seksama, Sesekali mereka melontarkan pertanyaan kepada satu sama lain.
Setidaknya salah satu dari mereka menikmati ini, itu sebelum langkah mereka terhenti di sebuah tembok yang berisi kumpulan foto.
Mereka berdua berhenti mengamati kumpulan foto itu. Kumpulan Foto berbagai angle yang entah bagaimana sang fotografer memotretnya.
"Jadi.."
Sasuke menoleh, saat didengarnya Sara bersuara lagi.
"Ini pacarmu?" tanya Sara kepada Sasuke. Menunjuk sebuah foto yang menampikan Sasuke yang tengah tertidur di dalam bus bersama Sakura.
"..."
Ah, Oke, Sekarang Sasuke tau siapa fotografer dibalik foto-foto ini. Antara dua petugas buku tahunan tempo hari.. Naruto atau Shino.
"..."
.
~I WILL DO WHAT I WANT~
.
Pair of Fox
AH. Kembali ke kucing kita. Gerombolan geng fauna itu sepertinya malah sibuk mencari teman baru. Dilihat dari kucing biru milik Yugito yang kini lebih memilih berkumpul bersama Fox daripada menunggu Masternya yang tengah berada di sebuah ruangan bersama para pejabat festival.
Initinya, mereka sepertinya sedang mengobrol. Ah, Author bahkan tidak akan mengulas percakapan mereka lebih lanjut.
Oke, kita abaikan saja mereka -Skip-
.
~I WILL DO WHAT I WANT~
.
chapter 66.4.5 : NaratorBox
.
Well, Bagaimana bila Narator bilang kalau kejadian selanjutnya adalah kejadian membosankan dimana Shikamaru tau kalau dirinya akan dijodohkan dengan alasan 'Ibu Shikamaru dan Ibu Gaara adalah teman lama' dan mereka dulu bersekolah di Konoha Gakuen?
Atau Naruto yang detik selanjutnya ditraktir oleh Hiashi sebagai permintaan maaf karena bajunya telah di kotori oleh Hanabi. Dan mereka berdua berakhir dengan mengobrol tanpa ingat waktu, Sehingga Naruto melewatkan tugas yang bahkan 'tidak pernah' diketahui olehnya sendiri kalau dia harus bantu-bantu di 2-1 cafe.
Atau mungkin Sasuke yang kemudian mencoba menyopot paksa Fotonya bersama Sakura dari dinding namun dicegah dengan keras oleh seorang gadis bernama Sasame Fuuma yang akhirnya melaporkan Sasuke ke petugas keamanan dan berakhir dengan Sasuke yang dikurung di pos satpam oleh seorang Rapper yang Sasuke ingat sebagai Penjaga Kasir minimarket di Okinawa yang sekarang mengaku-ngaku sebagai polisi?
Sayang sekali kita tidak bisa menyorot mereka lebih lanjut, mengingat ada orang lain yang err.. memaksa ingin tampil di chapter ini.
Chapter 66.5
.
Ibiki Is Back
"Selamat datang Di lorong hantu Sensei! Silahkan nikmati waktu anda." Utakata mempersilahkan seorang pria bercondet untuk naik ke lantai tiga.
Pria yang beberapa detik lalu mengaku sebagai Guru BK Konoha Gakuen. Ibiki-Sensei.
Sebenarnya sih, wahana lorong hantu ini normalnya mengirim 3 sampai 5 orang untuk naik bersamaan. Untuk mencegah apabila ada yang pingsan di tengah jalan seperti Naruto tadi, Akan mudah ditolong. Lagipula anak muda cenderung berkurang rasa takutnya kalau berjalan bergerombol dengan teman-temannya.
Namun tidak untuk Ibiki-sensei. Dia secara pribadi meminta tolong kepada Anak Instalasi untuk memperbolehkannya naik sendiri. Ah satsuga Sensei!
Ibiki hanya sedikit penasaran dengan hasil karya klub Instalasi. Dan secara pribadi ingin mencobanya dan menjanjikan untuk memberi sedikit masukan nanti. Tentu itu disambut positif oleh Utakata Dkk.
.
"Hati hati Sensei."
"Hn."
Keadaan langsung berubah sunyi saat Ibiki sudah berdiri di lantai tiga. Bahkan suara riuh dari halaman depan tidak terdengar oleh Ibiki. Ditambah jendela yang ditutup oleh Fiber dan Tirai, membuat cahaya matahari tidak berhasil masuk barang setitik.
Tap. Satu langkah.
Tap Tap. Dua langkah.
Tap Tap Tap.
"HIHIHIHIHi.." Suara ala jeng-kunti langsung menyambut Ibiki. Namun Ibiki masih berjalan santai.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI.." Terdengar lagi. Ibiki masih santai.
Yang ketiga.
"IHIHIHIHIHIHIHIHI.. HAHAHAHAHA... HIHIHIH ... HAHAHAHA.. HAHAHAHAH.. IHIHIHIHIHIHIHHI.., AHAHAHAHAHA.. HIHIHIHIHIHHI..."
BRAK!
Ibiki malah Menggedor pintu geser yang terbuat dari kayu dengan keras.
.
"BERISIK WOOOYY!" Teriak Ibiki keras.
"... HIHIHIHI.. HAHAHA.. HI-UHUK UHUKK.. UHUK UHUKK.. EHEM..."
Suasana jadi sunyi kembali. Ibiki melanjutkan perjalanan. Beliau terus menapakkan kaki hingga langkahnya membawa ke kelas yang familiar, 2-2. Karena lorong di depan di sket menggunakan dinding palsu, Tidak ada pilihan lain selain Ibiki untuk masuk ke kelas tersebut.
Tanpa aba aba, Ibiki pun menggeser pintu itu dan melangkahkan kakinya masuk.
Suasana horror ala ruang kelas pun langsung menyambut Ibiki. Belasan Boneka manekin ditata layaknya murid yang sedang belajar, Namun boneka boneka itu tidak berbadan utuh. Ada yang tanpa kepala, tanpa tangan dan sebagainya, bahkan beberapa cairan merah yang menyiprat kemana mana membuat ruangan itu lebih realistik.
Ibiki hanya berdiri, mengamati sekitar sebelum pandangannya melirik kepada penampakan pemuda yang kepalanya penuh dengan paku menoleh kearahnya, sosok yang duduk di salah satu bangku di samping salah satu boneka manekin. Ibiki bahkan bisa merasakan sedikit bau busuk dari tempatnya berdiri.
Saat pandangan mereka bertemu. Sosok itu tersenyum. Giginya yang rontok dan mulut penuh darah seakan meyakinkan orang yang melihat kalau itu bukan tipuan. Ah, Satsuga klub Instalasi dan totalitasnya.
.
Namun bukannya takut, Ibiki malah melotot.
"APA LIHAT LIHAT HAH?!"
Mendengar itu, Sosok tersebut malah menurunkan senyumannya dan mengalihkan pandangan. Seakan tidak mau berurusan dengan orang ini.
Ibiki mendecak. 'Beh.. Stuntman yang payah!' Batin Ibiki. Dia pun melanjutkan perjalan dan keluar dari pintu lain kelas 2-2.
..
Beliau kini sudah berada di sisi lain lorong. Dan hanya berjalan mantap menuju sisi lain tanpa ada rasa takut sedikitpun. Bahkan saat sayup sayup terdengar suara seorang gadis menangis dari depan pintu yang seharusnya toilet.
Ibiki berjalan pelan mendekat sebelum pupilnya menangkap seorang gadis bergaun merah yang tengah terduduk di depan pintu toilet. Dia menyembunyikanwajahnya di tekukan lutut sehingga Ibiki tidak bisa melihatnya.
Tap.
Ibiki menghentikan langkahnya. Sedikit menunduk untuk menatap jelas sang gadis bergaun merah.
Tiba Tiba.
"HUWA!"
Gadis itu mendongak dan berteriak.
Perawakan yang menyeramkan, Wajah penuh darah dan senyum yang sangat Disturbing menyambut Ibiki.
.
Well, Setidaknya gadis itu telah berusaha. Kalian tau apa yang Ibiki lakukan?
Dia malah menatap Gadis itu bosan, mengarahkan jari telunjuknya ke bibir, Dan ber 'ssst' ria. Tak disangka, Ibiki sensei yang baik hati malah mengeluarkan sapu tangan dari saku jas intel nya. Memberikannya kepada sang gadis dan beranjak pergi setelah berucap "bersihkan wajahmu".
Gadis itu terdiam, menerima sapu tangan ibiki dan menatap siluet pria itu lalu tanpa sadar berucap
.
.
.
"T-Terima kasih." Sebelum tubuh gadis itu menghilang bak Hantu yang sesungguhnya.
.
Setelah itu, Ibiki hanya terus melangkah menuju pintu keluar, bahkan belasan trik yang disiapkan oleh klub instalasi sebagian besar tidak cukup bahkan untuk membuat Ibiki bersuara.
.
Skip
Lorong Lantai 2.
Karena janjinya dengan klub Instalasi untuk memberi masukan, Ibiki terpaksa harus berjalan menyusuri lantai dua untuk mencapai pintu masuk dari pintu keluar yang letaknya berlawanan arah dan masing masing di ujung lorong.
Ibiki segera disambut oleh Utakata setelahnya.
"Ah? Ibiki-sensei? Bagaimana perjalanan anda?" canda Utakata.
Ibiki tersenyum.
"Yah.. Lumayan, Kau tau saat terakhir dimana ada boneka tengkorak jatuh dari atas. Itu sedikit mengagetkan. Dan aku tidak sengaja menendangnya.. Maaf." ucap Ibiki jujur.
Ukataka tersenyum.
"Tak apa sensei. Kami akan memperbaikinya nanti." Yah, menempatkan tengkorak di ujung pintu keluar adalah salah satu Ide Utakata. Kalau kejutan itu berfungsi dengan baik. Syukurlah.
Ibiki mengangguk.
"Lalu? Apa yang anda sarankan untuk kami Sensei?" tanya Utakata, mengharapkan saran yang membangun dari salah satu Guru veteran Konoha Gakuen ini.
Ibiki mencoba memasang pose berpikir. Dia lalu menjawab.
"Well, menurutku.. Sebaiknya suara kunti di awal, sebaiknya kau copot saja.. itu sangat menganggu.." lanjut Ibiki.
"..." Utakata mendengarkan perkataan Ibiki.
"Ah.. Lalu, bocah paku di kelas 2-2. Senyumnya menggelikan.. Aku tidak suka.." Lanjut Ibiki lagi.
"..."
"Dan Oh.. Kau tau.. Sebaiknya kau hilangkan juga peran gadis bergaun merah yang berkeliaran di atas.. Menyuruh gadis kecil untuk bekerja di festival orang dewasa itu melanggar hukum kau tau? .. yah, bukan berarti aku menyalahkan kalian. Tapi, sebaiknya cari amannya saja mengingat polisi juga ikut menjaga keamanan festival ini." sambung Ibiki. Mengutarakan semua saran yang dapat dia sumbangkan ke Klub Instalasi, guna memperbaiki kinerja mereka.
Utakata masih memproses setiap perkataan Ibiki, Bahkan sampai Ibiki pamit karena ada urusan.
"Well, Karena aku harus menemui Tsunade-sama setelah ini. Aku harus pergi." Lanjut Ibiki, Melirik jam tangannya sendiri dan berlalu menjauhi pintu depan lorong hantu.
Meninggalkan Utakata yang diam.
.
Yah, Jujur. Utakata tidak mengerti. Dia ingat betul saat dia menyiapkan tengkorak di lantai atas. Tapi,
Suara kunti?
Bocah paku?
Gadis bergaun merah?
Namun Utakata yakin! seratus persen yakin! Klub Instalasi tidak ingat pernah menyiapkan Suara kunti, Bocah paku.. Maupun gadis bergaun merah.
"..."
.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
TBC
xxxxx
Author Note(s) : Tadaa! Apdet Kilat Versi Hanzama is back! bwahaha.. yah, itu sedikit gambaran festival yang akan berlangsung beberapa hari kedepan jadi.. Ini masih sangaaat panjang,
Dan Hanzama tidak yakin arc festival akan slesai dalam kurun 10 chapter jadi.. yah.. iwdwiw mungkin bisa tembus 80 an chapter (hanya kemungkinan) .. huft,, 66 chapter sudah terlewati, tapi menyenangkan kok nulis iwdwiw buat sahabat reader, walau kadang mumet sih.. hahaha..
Well.. satu pertanyaan membingungkan untuk diri sendiri.. Aliansi para biju punya rencana apaan? :'v
okesip mungkin itu.. sekian dari hanzama, semoga reader sukses selalu.
ciu in the next chapter..!
.
Yang terlupakan
Heran, itulah yang dirasakan Toneri, sedikit mengamati Yugito yang sedari tadi dia lihat bermain main di bawah meja.
Merasa kalau sebagai teman yang baik, Toneri pun bertanya sesaat setelah Ketua OSIS Iwa-Art Academy itu mulai semakin gusar di bawah meja bahkan sampai terdengar suara benturan kepalanya dengan meja.
"Anoo.. Kau kenapa Yugito-san?" tanya Toneri. Berharap perhatian Yugito bisa dialihkan.
Benar saja, sepertinya perhatian Yugito berhasil direbut tatkala gadis itu keluar dari kolong meja dan berdiri.
Dia lalu menatap Toneri Intens. Membuat Toneri sedikit takut kalau diterkam.
BRAK!
Toneri sedikit kaget. Bahkan saat Yugito menunjuk Toneri dengan curiga.
"Katakan dimana Matatabi!"
"H-Ha?"
.
.
KRITIK DAN SARAN
V
V
V
V
