xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Naruto © Masashi Kishimoto
| I Will Do What I Want © Hanzama |
Rating : T(+)
| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |
Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Etc
Pairing : FIX SasuSaku, Tanda-Tanda GaaMatsu, Tanda-Tanda NaruYuka, Tanda-Tanda NaruShion, Unknown Pairing, Another Coming Soon.
Relax and Enjoy Story.
.
chapter 67 : My Sweet Revenger
.
Beberapa Jam lalu
Ah, Kembali ke jam, dimana semua orang masih belum bangun dari peraduannya. Kediaman keluarga Hyuuga nampaknya sudah sibuk dengan kegiatannya. Berbeda dengan Hanabi yang terlihat semangat karena ingin segera berkunjung ke festival, lain halnya Hinata, dimana dia kini masih bergulat malas di dalam selimut.
DOK DOK DOK DOK
"Hinata-nee!~"
"Ngh.."
DOK DOK DOK DOK!
"Hinata-nee Bangun! Sudah pagi!"
Hinata membuka matanya yang masih berat karena ketukan keras di pintu. Yah, mengunci pintu tidak bisa menyangkal kenyataan kalau dirinya masih bisa tergangu dengan suara keras dari luar kamarnya sendiri.
Dengan berat hati, Hinata pun beranjak dari tempat tidurnya dan memungut satu set piyama yang tergletak di lantai. Uh, well yahh.. Jangan lihat author, Author hanya menggambarkan, Bukan salah Author kan kalau kebiasaan Hinata melepas piyama sew-err lanjut
Dengan langkah gontai, Hinata berjalan mendekati pintu dan berniat membuka pintu.
CKLEK! Hinata membuka..
"Hinata-ne-"
BLAM! Dan ditutup lagi..
W-Well setidaknya Hanabi tau kalau Hinata sudah bangun.
Kau tau, ini bukan pagi yang mudah bagi Hinata untuk bangun. Karena beberapa alasan, Hinata dimintai tolong Shion untuk melakukan sesuatu, dan sesuatu yang dia minta bukanlah hal mudah. Kalau seandainya dia tidak didesak Menma, pasti Hinata tidak akan menyetujuinya.
.
Tanpa mempedulikan kamarnya yang bak kapal pecah, Terlihat dari hamparan kertas yang berserakan di lantai, tumpukan baju yang tidak terlipat, dan barang lain yang tak ingin kau cari tau. Hinata segera menuju kamar mandi.
.
Skip.
Ruang makan.
"Ohayou! Hinata-nee!" Suara khas adiknya langsung menyambut Hinata tatkala dia sudah ada di meja makan.
Tanpa menanggapi lebih lanjut, Hinata segera duduk bersama, Hanabi, Ayah Hinata, Ibu Hinata dan.. Errr.. Neji?
Hinata menatap malas pemuda yang ada di depannya.
"Oi? Kenapa kau ada disini?" tanya Hinata, sedikit nada tidak suka terdengar dari suara lembutnya.
Neji malah tersenyum.
"Ahahahaha.. Aku hanya tidak bisa menolak ajakan Hiashi-sama untuk sarapan disini." balas Neji. Mencoba menanggapi sedikit ramah pertanyaan Hinata.
"Tch.." Hinata malah mendecak tidak suka ".. Kau seharusnya sarapan dirumahmu sendiri!"
"..."
"Dasar, Apa kau tidak mengerti konsep dari Bersama keluarga?" tuding Hinata. Membuat Neji sedikit sweatdroped. Yah, ini adalah sekian kalinya dia 'disindir' oleh Hinata yang baru, dan Neji masih belum cukup terbiasa.
"Hei! Hinata! Bagaimanapun Neji adalah tamu kita! Sopanlah sedikit!" Hiashi mencoba menengahi. Namun nampaknya tidak berhasil, karena Hinata malah meledek ayahnya sendiri dengan menguap lebar.
Hiashi menghela nafas berat.
"Maa.. Maa.. Neji-kun kan juga keluarga kita.. Kaa-chan bahkan sudah menganggap Neji sebagai anak sendiri.." Sepertinya, Ibu Hinata lebih perngertian dalam menghadapi masalah.
Hinata tidak berniat menanggapi.
"Sayang sekali Menma tidak bisa ikut sarapan bersama kita.." Lanjut Ibu Hinata.
"Heh.. Dia memang kurang pandai.. Tapi aku yakin IQ nya cukup kalau hanya untuk bertahan hidup di apartemen menyeramkan itu sendiri." balas Hinata lagi.
"Jaga bahasamu Hinata!" Bentak Hiashi lagi.
Namun Hinata hanya menanggapi dengan mengangkat bahu.
Hiashi yang sedari tadi memegangi sumpit tanpa sengaja mematahkannya dengan sekali tekaman. Ia hendak memarahi putrinya. Namun huhhhhhh.. Sabar-sabar..
Ini juga termasuk salah satu Hal yang menghantui pria paruh baya ini akhir akhir ini. Putrinya yang dulu manis dan penurut, kini berubah menjadi pembangkang.
.
Setelah itu, tak ada suara yang terdengar dari meja makan itu. Karena mereka memilih untuk segera menyelesaikan sarapan mereka masing masing.
Yahh, itu sebelum Hanabi tiba tiba membuka percakapan.
"Hinata-nee.."
Hinata melirik sebentar Hanabi sebelum bertanya.
"Kenapa?" tanyanya halus.
Hanabi menoleh ke Hinata dan menatapnya, Menatap surai lavender itu sebelum mengutarakan pertanyaan yang mengganjal di benaknya.
"Hinata-nee.." Ulangnya lagi.
.
.
.
"... Apa kau memakai BH hari ini?"
"..."
.
~I WILL DO WHAT I WANT~
.
Festival DAY 1
Datang pagi ke sekolah memang bukan keinginan Hinata. Namun dia terlanjur menyetujui janji dengan Shion hari ini jadi.. Maaahh.. Apa boleh buat.
Dia kini sudah menginjakkan kaki di pekarangan Konoha yang sudah cukup ramai. Terdengar dari sambutan walikota yang barusaja dimulai. Namun Hinata tidak disini untuk mendengar ocehan Namikaze Minato tentang perayaan.
Karena dia berangkat nebeng Otou-san dan Hanabi yang ingin melihat Festival, Hinata berpamit ada urusan dan membiarkan sepasang ayah dan anak itu membaur ke festival. Sedangkan Hinata sedikit menjauh dari kerumunan dan mengeluarkan HPnya. Mencoba menghubungi Shion.
.
To : Shion
Kau dimana? Aku sudah sampai di sekolah.
-Hina
.
Hinata bersadar di luar tembok gedung utama untuk menunggu balasan SMS nya. Dia lalu mengeluarkan headsetnya dari tas dan menancapkannya ke HPnya sendiri. Berjaga-jaga kalau Shion membalas SMS Hinata lebih dari 10 menit kedepan.
Namun nyatanya tidak, karena belum slesai Hinata memilih lagu, SMS balasan sudah masuk mendahului Hinata.
.
From : Sakura
Hinata. Kami butuh bantuan untuk menjaga stand hari ini? Apa kau bisa bantu-bantu menjaga dari jam 10 nanti?
.
Hinata terdiam, malah Sakura yang membalas SMS Hinata. Hinata tak ingin, tapi dia juga tidak mau mengecewakan teman-temannya, dia bersedia sebenarnya. Namun sayang, dia ada urusan lain yang harus diurus hari ini.
.
To : Sakura
Aku tidak bisa. Aku ada urusan sekarang.
.
Send! Hinata mengirim pernyataan penolakan itu kemudian. Dia lalu melanjutkan aktifitasnya memilih lagu. Namun diganggu lagi oleh SMS lain. Ah sialan
.
From : Shion
Ok. Kami ada di gedung B di lantai dua. Ruang B-12. Cepat.. Aku tunggu ^^
.
Hinata menurunkan HPnya.
"Gedung B?"
Gadis itu mendongak melihat gedung Utama yang ada di belakangnya. Sudah pasti bukan ini. Yah, Hinata tidak mengerti. Sejauh dia bersekolah disini, hanya gedung ini dan gedung theater lah yang baru Hinata masuki.
Hinata bahkan tidak tau dimana letak gedung B.
"Sialan."
.
.
.
~iwdwiw~
.
Gedung B Konoha Gakuen
Yah Akhirnya. Setelah berputar beberapa kali dan bertanya. Hinata akhirnya berada di tempat yang tepat. Well, sebenarnya tidak terlalu sulit, karena gedung B adalah gedung yang berada di sisi kiri Gedung utama Konoha. Sayangnya Ini baru pertama kalinya Hinata disini. Yah mengingat kesehariannya hanya masuk ke pintu depan gedung utama, belajar, trus pulang. Hinata pernah melihat beberapa kali gedung ini, yang Hinata kira adalah gedung multimedia.
Gedung ini adalah gedung yang tidak lebih besar dibanding gedung Theater. Hanya sebuah bangunan tua yang memiliki dua lantai. Hinata lebih suka menganggap gedung ini sebagai klinik,jikahanya dilihat dari luar. Mengingat corak putih lah yang menghiasi tembok gedung ini. Dan bangunan yang berbentuk memanjang itu bak tak berujung saat kau melihat pintu masuknya dari luar.
.
Nampak banyak orang yang berlalu lalang memasuki gedung ini. Namun sepertinya mereka bukan pengunjung.
Dengan ragu, Hinata pun melangkahkan kakinya masuk.
Di dalam, suasanya jauh berbeda dengan di halaman luar. Hinata bisa melihat beberapa ruang digunakan sebagai Inventory barang. Dan beberapa murid yang sepertinya mempersiapkan sesuatu. Hinata selalu berasumsi, dimana markas Klub-Klub lain dari Konoha. Dan sepertinya dia telah menemukan jawabannya.
.
Saat sampai di lantai dua. Lantunan musik pun terdengar sangat keras dari salah satu ruangan yang tertutup rapat. Hinata hanya terus berjalan untuk mencoba menemukan ruangan yang Shion maksud.
Itu sebelum indra penglihatannya melihat orang yang Hinata kenali betul.
"Menma?" Tanya Hinata sembari mendekati pria berambut hitam itu.
"Oh Hina?" Menma menoleh,
Sepertinya Hinata sudah menemukan ruangan yang dimaksud. Karena Menma kini sudah berdiri di depan ruangan tersebut.
.
Skip
Gedung B / ruangan B-12
"Oh.. Selamat datang."
Indra pendengaran Hinata langsung disambut oleh Suara Shion setelahnya. Dirinya kini sudah berada di sebuah ruangan kosong. Hanya ada beberapa kardus di sudut dan Shion yang kini tengah duduk bersila di tengah ruangan.
Hinata dan Menma saling berpandangan, kemudian mereka mendekati Shion yang ada di tengah ruangan.
"Masuklah.. Anggap rumah sendiri. Yang lain juga akan segera datang." lanjut Shion.
Menurut Hinata, Anggap rumah sendiri adalah kata yang kurang tepat jikalau ini bukan rumahmu sendiri. Yah, Hinata pikir saat dia masuk, dia akan disambut oleh beberapa anak klub Theater yang sudah siap-siap, Namun nyatanya hanya ada Shion disini.
Namun Hinata tetap menurut, dan berjalan masuk setelah menyuruh Menma menutup pintu.
"Jadi?..."
"..."
"Gedung apa ini?" Hinata langsung menanyakan pertanyaan yang mengganjal dari tadi, semenjak dia sampai disini.
Shion tersenyum. Dia menjawab pertanyaan Hinata.
"Gedung B adalah gedung tak terpakai. Awalnya untuk ruang kelas, Namun dikosongkan dan dipindah ke gedung utama. Sekarang, menjadi markas sebagian organisasi di Konoha Gakuen."
"..."
"Hampir semua Klub, ruangannya berada di gedung ini. Kecuali Klub Drama, Klub Radio, dan Klub musik yang bermarkas di gedung utama."
Yah, Itu masuk akal.
Err, ada yang penasaran kenapa Hinata dan Menma menemui Shion? Sebenarnya, beberapa waktu lalu, Shion berusaha mencari orang untuk ambil bagian dalam drama yang akan dia tampilkan. Shion juga meminta Menma masuk ke klub Theater untuk membantu dalam pementasan. Well, karena Menma tau Hinata pernah aktif di organisasi seni di Moscow State Highschool, Menma pun menyeret Hinata untuk ikut bergabung.
Hinata awalnya menolak, Namun itu sebelum Shion meminta secara langsung kepada Hinata. Melihat teman sekelasnya kesulitan, dan.. Dengan berbagai pertimbangan, Hinata akhirnya setuju.. Dengan ketentuan dia adalah seorang Sket.
Sket adalah sebutan orang yang membantu kegiatan suatu klub di sekolah, tanpa harus bergabung dengan klub tersebut.
Dan, begitulah dia bisa berakhir disini.
"Jadi.. Dimana yang lain?" tanya Menma, melihat hanya ada mereka bertiga yang ada di ruangan itu.
Yah, Shion menjanjikan kalau mereka akan bertemu dengan anggota yang lain hari ini. Hahh.. Hinata sadar. Klub Theater akan melakukan pementasan di hari ke 4 festival. Dan mereka bahkan belum bertemu satu sama lain. Hinata bisa menebak, seperti dirinya, pasti yang lain juga hanya diberi setumpuk kertas oleh Shion dan disuruh menghafal dialog.
Hinata ingin sebenarnya memarahi "ketidak profesional" an Shion sebagai ketua. Namun setiap dia berpapasan dengan gadis ini, wajah yang terlihat "sangat percaya diri" membuat Hinata mengurungkan niatnya.
Shion melirik jam tangannya.
"Tunggu saja, mereka akan datang beberapa menit lagi."
.
~iwdwiw~
.
Sekilas tentang gedung B, tidak hanya Klub Theater dan beberapa organisasi yang memakai gedung ini sekarang. Nyatanya, Klub music Konoha juga menggunakan gedung Ini sebagai tempat latihan. Dan.. itulah sumber bising yang didengar oleh Hinata tadi.
Sebenarnya mereka terpaksa pindah ke gedung ini karena diminta (Diusir) oleh panitia Festival jauh jauh hari karena gedung utama kemungkinan akan sesak. Butuh usaha keras untuk memindahkan perlengkapan klub mereka kesini kau tau?
"Tch.. Dimana sih si Kiba sialan itu?!"
Err. Nampak para gadis Band ini mengidolakan Kiba. Err.. Maksudku, mereka sepertinya mengharapkan Kiba untuk ada disini.
"Maa.. Yakumo-chan.. Nanti juga datang, lagipula. Kiba juga butuh waktu berduaan dengan pacarnya kan? mengingat ini adalag festival." Ucap salah satu anggota band itu menenangkan 'sang pencari Kiba'.
"Pacaran huh?! Ini adalah hari pertama tau?! Kita ada tampil tak lama lagi. Dan dia malah keluyuran dengan pacarnya?!" Yakumo malah semakin Emosi.
"Err.. Aku hanya mengarang soal pacar, Aku yakin Kiba punya alasan yang baik kenapa dia tidak datang."
Yakumo mendecak.
"Tch.. Generasi penerus yang tidak bisa diandalkan!" Gadis Yakumo itu mulai mondar mandir dan mengomel.
"Kau tau kan kalau ini adalah tahun terakhir kita di SMA, dan Pemuda itu adalah satu satunya yang tersisa dari Band ini apabila nantinya kita lulus?!"
"..."
"Mana bisa kita menyerahkan tanggung jawab kemudian.. kepada orang yang tidak bertanggung jawab?"
"..."
"Tenangg.. Jangan banting gitarnya.. Itu mahal!"
"Akh!"
.
Membayangkannya saja membuat kita kasihan dengan Kiba. Maksudku, nggak pandai-pandai amat di kelas, dikelilingi oleh senpai bawel di klubnya sendiri, Bahkan tau kenyataan bahwa.. Kiba akan menjadi spesimen terakhir saat senpainya di klub musik lulus.
Mungkin mereka tak tau, karena Kiba sekarang tengah mendapat kehormatan menghibur para orang dewasa dan anak-anak dibawah umur di depan gerbang menggunakan kostum Pokemon.
.
~iwdwiw~
Back To Klub Theater.
Sebenarnya sih, berbeda dari yang Hinata perkirakan dimana dia akan menunggu cukup lama. Namun nyatanya tidak juga, karena beberapa menit dia mengobrol dengan Shion, batang hidung Seseorang sudah muncul di ambang pintu.
Yang membuat Hinata terkejut adalah. Orang itu-
.
.
"N-NEJI-NII?!"
"Yohh.. Hinata-sama."
Wat. Hinata melongo, menoleh ke Neji kemudian ke Shion. Meminta penjelasan.
"D-Diakah yang...?" tanya Hinata.
Shion tersenyum.
"Yap, Ketua OSIS akan membantu klub theater dalam pertunjukan lusa." balas Shion jujur.
Tunggu, bukankah itu melanggar peraturan? Maksudku, Ketua OSIS-er Ketua Panitia FESTIVAL? Ikut ke dalam agenda diluar job disk nya sendiri?
"Kau bercanda!" Hinata mencoba tidak percaya.
Namun sekeras apapun dia membantah. Neji akhirnya mendekat dan ikut duduk.
"Aku serius.. Super serius.. 100 persen serius." balas Shion.
Hinata menoleh ke Menma, meminta penjelasan, Namun pemuda itu hanya menggeleng mengisyaratkan kalau dirinya tidak tau apapun.
Hinata menoleh ke Neji.
.
"Jujur.. Kenapa kau ada disini?" tuding Hinata.
Neji tertawa.
"Aku hanya mempertimbangkan penawaran dari Shion, mengingat kalian berdua ada disini." ujar Neji. Membahas Hinata dan Menma.
"Satsuga Neji." Balas Menma.
Hinata masih belum bisa menerimanya.
"Maa.. Jangan pikirkan detailnya. Yang penting drama kita sukses, itu yang penting." Sambung Shion.
Yah, ada benarnya sih. Setelah apa yang terlewati, ini akhirnya hanya menjadi sebuah pertunjukan. Pertunjukan yang tidak bisa diikat oleh peraturan apapun, mengingat penilaian terakhir berasal dari kualitas penampilan dan sorak sorai penonton.
"Benar.. Jangan perdulikan aku,, Aku hanya seorang Sket. Sama sepertimu." ucap Neji. Mencoba mendapat kepercayaan dari Hinata atas tindakannya.
Hinata menghela nafas.
"Terserah kau."
Shion tersenyum.
"Kan? Kita hanya tinggal menunggu dua orang lagi dan kita akan mulai." lanjt Shion.
Ah, Hinata tak perduli lagi. Hinata yakin siapapun yang muncul kemudian. Tidak akan bisa membuat Hinata lebih terkejut dari kedatangan Ketua Panitia Festival.
Setidaknya itu yang Hinata pikirkan.
Sebelum...
.
.
.
.
SREET!
"Maaf kami terlambat."
"Ojamashimasu.."
Hinata menoleh, nampak dua orang pemuda dan pemudi dewasa. Dilihat dari perawakannya, mereka tidak seperti Murid SMA.
.
"Selamat datang..." Sapa Shion.
.
.
"Konan-senpai, dan Yahiko-senpai."
.
~i will do what i want~
.
Break The Xover Wall
Hahh Hahh..
Hari tidak bisa berjalan lebih lambat lagi di pagi milik Inuzuka Kiba. Dia menghitung dengan sabar sudah sekiranya 5 jam-an dia berdiri di sini. Berpakaian ala badut sembari memegang papan bertuliskan Enterance.
Nampak gadis bercepol yang mengawasi Kiba juga tak terlihat lelah barang sebentar. Gadis itu sudah tidak mengobrol dengan polisi, karena polisi yang berkatana itu sudah hilang entah kemana, dan polisi yang satunya kini tengah mengintrogasi Sasuke di dalam pos satpam.
Ah, entah apa yang dilakukan Sasuke. Namun Kiba menganggap itu biasa, mengingat Sasuke memang terkadang terlibat masalah, seperti kata Kiba 'Di festival sebesar ini, bukan hanya dirinya yang akan terlibat masalah' .. Jujur, Kiba sedikit senang punya teman pembuat onar. Namun Kiba akan diam saja sekarang . Lagipula, Kiba tidak mau prempuan yang mengawasinya mengomel gara gara Kiba tidak melakukan tugasnya dengan benar. Kiba hanya ingin hari ini cepat slesai.
sebuah suara mengagetkan Kiba.
"Nee.. Pika-chan."
"Hah?"
Kiba sedikit terkejut saat dirinya dipanggil Pika-chan. Oke, Kiba sadar kalau dirinya adalah Pikachu sekarang, tapi dipanggil Pika-chan, Itu sedikit menganggu.
Kiba menatap seorang gadis yang err.. sepertinya SMP.
"Jangan panggil aku Pika-chan bocah.." bantah Kiba.
Gadis itu memiringkan kepala.
"Tapi? Kau Pikachu kan?"
"Memang benar aku Pikachu tapi-"
".. Kalau begitu benar kau adalah Pika-chan!"
Kiba menghela nafas. Sabar, bicara dengan anak kecil harus sabar. Kiba harus menghadapi segala situasi yang membuat setress dengan lapang dada.
"Dengar bocah.. Aku punya nama asli yang keren lebih dari yang kau tau.. Jadi berhenti panggil aku Pika-chan!" Balas Kiba sedikit keras.
"Pika-chan keren kok."
Urat nadi di kepala Kiba mulai mengeras.
"AKU BUKAN PIKA-CHAN!" balas Kiba keras. Sedikit menarik perhatian orang yang lewat. Membuat anak SD yang datang dengan orang tuanya ke Festival mewek melihat tampang preman Kiba.
Gadis yang ada di depan Kiba menurunkan senyumannya. Menatap Kiba bingung.
"Jadi? Kalau bukan Pika-chan? Kau siapa?" tanya Gadis itu.
Kiba menghela nafas lagi. Yah, gadis seperti ini harus diberi perhatian Khusus.
"Kau punya bolpoin dan kertas?" tanya Kiba.
Gadis itu masih menatap Kiba bingung. Namun akhirnya dia mengeluarkan kertas dan bolpoin dari tasnya. Lalu menyodorkannya ke Kiba.
Dengan sedikit kesal, Kiba menuliskan beberapa kalimat di Kertas gadis itu. Dan mengembalikannya ke sang gadis. Kiba dengan sengaja menuliskan kalimat berbahasa inggris berharap sang gadis tidak mengerti.
.
sang gadis pun menerima kertas itu dan membacanya. Gadis itu tersenyum, sebelum dia ikut menulis di kertasnya.
Membuat Kiba semakin heran.
Kiba masih mengamati gadis itu, bahkan setelah gadis itu melipat kertasnya dan menyodorkannya kembali ke Kiba.
Kiba pun menerima kertas itu dengan Heran.
Namun gadis itu malah berpamit.
"BYE BYE.. PIKA-CHAN." ucap gadis itu untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke pekarangan Konoha Gakuen, dan berbaur di Festival.
Kiba semakin kesal bahkan sampai akhir, Kiba masih dipanggil Pika-chan. Dengan sedikit emosi Kiba membuka kertas yang diberikan gadis itu.
.
.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
'MY NAME IS PIKA INUZUKA'
.
'Hoi, Nice To Meet You Pika-chan. My Name is Mavis Vermilion'
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Kiba melongo.
Anjrit, dia salah tulis nama.
.
.
.
End Of Break the Xover Wall
xxxxxxxxxxxxxxx
TBC
xxxxx
Author Note(s) : Yoshaa.. Apdet Kilat 2.0 versi HanzamaIs back! Oke, untuk cuap cuap.. Sepertinya trio NSS tidak muncul banyak chapter ini? nyahahaha.. Itu disengaja #plak
Sebenarnya, mengingat Klub Theater juga penting dalam konstribusi Festival. Jadi memang harus dijelaskan lebih lanjut strukturnya.. Ini bukan adegan yang sengaja diselipkan karena gak ada ide.. tapi ini termasuk elemen penting jadi.. yah, begitu deh.. Hanzama nggak mau setiap karakter berat sebelah.. jadi harus rata semua..
Spoiler : for Mavis Vermilion (Fairy Tail) © Hiro Mashima
Dan maaf kalau chap sebelumnya review tidak dibalas,hanzama baru pindah metode dari : akses pake Anonymox jadi Tor-Browser. Jadi kadang error kalau buka review box. dan setiap tor-browser di exit. fanfiction harus relogin.. dan pas login pale akun fb.. harus verifikasi akun segala.. #ngenes.
Ah tapi apa daya.. hanzama harap chapter ini masih nikmat..
Oke, sekian dari Hanzama, semoga reader sukses selalu.
.
Yang Terlupakan
At The end of Hinata..
Hinata berjalan gontai di kerumunan festival. Yah, berdebat dengan Shion nyatanya cukup membuat energi Hinata habis.
Berdebat tentang? Tentu saja dua orang kenalan Shion yang bahkan bukan murid Konoha Gakuen. Kalian tau? Mereka adalah kakak-kakak dari Akatsuki Corp, perusahaan yang mensponsori Festival ini. Dan lelaki yang mengaku Yahiko A.k.a Pein tadi, dia adalah Direktur utama/ CEO / alias Pimpinan terginggi dari perusahaan yang cukup terkenal di Konoha itu.
Tidak tidak.. Hinata bukan terkejut karena Direktur Utama Akatsuki Corp adalah pria berpiercing yang masih muda.. Tidak.
Hinata terkejut karena, saat Hinata bilang kalau "memasukkan orang orang yang tidak ada hubungannya dengan Konoha Gakuen adalah hal gila. Dan itu melanggar peraturan Festival." Hinata lupa kalau Sang Petinnggi festival ini "Neji Hyuuga" adalah salah satu sekutu Shion sekarang. Hah sialan.
Hinata bukannya senang karena di kubu nya sekarang didukung oleh orang orang kuat. Dia sedikit Shock saja, takut takut kalau pertunjukkannya nanti akan berakhir dengan bencana.
.
Itu lah yang terus menghantui Hinata selama dia berjalan di kerumunan Festival. Bahkan yang membuatnya semakin setress adalah saat dia.. Err.. Melihat ayahnya um, Hiashi Hyuuga kini tengah err.. Berbincang dengan Naruto.
"..."
Hinata mengucek matanya sendiri.
.
.
Naruto Side.
"Ah? Begitu ya paman?"
"Hahahahahaha.. Kau tau, aku bahkan masih ingat saat dia mengompol di pakaianku. Seakan itu baru kemarin."
Naruto hanya menanggapi dengan tersenyum. Seperti yang Naruto duga saat dia melihat pria ini tadi. Dia adalah Ayah Hinata.
Dan Naruto kini sedang ditraktir eskrim oleh Hiashi sembari mendengarkan pria ini membicarakan Hinata sewaktu bayi. Bukan apa apa, awalnya Pembicaraan mereka cukup canggung, Namun Hiashi mulai bercerita lepas saat Naruto bilang kalau dia adalah teman sekelas Hinata dari SMP.
Naruto pun nampaknya tidak terlalu terganggu dengan ocehan pria ini. Malahan, Naruto sedikit tertarik mendengarkan lebih lanjut. Paman ini mudah diajak mengobrol pikir Naruto. Bahkan sepertinya dia sudah membiarkan saja Hanabi yang keluyuran dan lebih memilih mengobrol dengan Naruto.
.
Obrolan mereka cukup menyenangkan, itu sebelum Seorang gadis datang dengan wajah memerah dan menarik lengan baju Hiashi kasar.
Naruto sedikit terkejut melihat gadis ini.
.
"O-Otou-san! Ayo kita pulang!"
Naruto tersenyum. Rona merah yang masih sama seperti saat Naruto terakhir melihatnya dulu...
.
.
KRITIK DAN SARAN
V
V
V
V
