chapter 68 :
Um, Mengulas ulang tentang beberapa orang yang sepertinya kehilangan sesuatu hari ini, err..
FoREVer Street 16.00
Ibu yang baik adalah lbu yang meluangkan waktu untuk anaknya. Itulah Izumi sekarang, dia baru saja slesai memandikan Hikari saat Sara dan Fuu baru saja pulang kerumah. Namun mereka tidak membawa teman-teman mereka pulang bersama kali ini. Sara bilang sih, mereka ikut menginap di sekolahan bersama yang lain. Izumi sedikit kecewa , mengingat rumah ini ramai seperti tadi malam, membuat Izumi sedikit senang. Sasuke juga sepertinya tidak terganggu dengan keberadaan teman teman Sara.. Namun Izumi tidak ambil pusing dengan keputusan anak remaja. Sehingga dirinya hanya mengangguk saja saat Sara menjelaskan apa yang terjadi kepada Izumi.
Hm, Izumi hanya sedikit heran. Setelah dia pulang dari Festival tadi. Dia sempat menaruh piring untuk Fox di dekat pintu. Biasanya sih, tanpa disuruh, piring itu sudah ludes saat Izumi mengeceknya kembali. Namun tidak untuk kali ini. Nampaknya si kucing kecil itu tidak menyentuhnya sama sekali.
Ini memang kebiasaan Izumi. Dia terkadang meluangkan waktunya untuk memberi makan Fox ditengah dirinya yang sedang mengurus Hikari. Namun itu tidak setiap hari, hanya hari dimana Naruto (yang biasanya menyediakan makan) lupa atau memang tidak sempat.
Izumi bahkan sudah terbiasa dengan kebiasaan Fox apabila Naruto lupa memberi makan. Yah, kucing kecil itu pasti akan tiduran tepat di depan pintu sembari menunggu jatah ransum datang. Dan apabila Fox tidak mendapatkan makanannya, dia akan berjalan mengikuti salah satu penghuni rumah sembari mengeong berkali kali.
Pernah disuatu ketika, dimana Fox mengeong ke Hikari saat pria kecil itu sedang makan, dan Hikari dengan polosnya menumplekkan buburnya ke lantai seakan ingin berbagi dengan Fox.
..
Err.. well jadi? Yah, Fox tidak terlihat.. Dimana dia?
"HUWAAAAAAA!"
Sayang rasa penasaran Hikari harus buyar tatkala dia dikagetkan oleh teriakan dari lantai dua. Fuu berteriak keras, membuat Sara yang ingin berniat mandi langsung keluar dari kamar mandi dengan segera. Bahkan tanpa mempedulikan kalau dirinya kini hanya menggenakan handuk.
.
.
Lantai 2
"Ada apa?!"
"Kenapa?! Apa yang terjadi?!"
Bak kakak beradik yang penasaran. Sara dan Izumi segera masuk ke kamar dan melihat Fuu.
"Choumei..."
Nampak di mata Sara dan Izumi, dimana Fuu kini tengah merenungi puing puing kaca rumah kumbangnya yang berserakan di lantai.
"CHOUMEI HILANG!"
"..."
Naruto © Masashi Kishimoto
| I Will Do What I Want © Hanzama |
Rating : T(+)
| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |
Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Etc
Pairing : FIX SasuSaku, Tanda-Tanda GaaMatsu, Tanda-Tanda NaruYuka, Tanda-Tanda NaruShion, Unknown Pairing, Another Coming Soon.
Relax and Enjoy Story.
.
"Jadi.. Kau kenapa?"
"Hn.. Tak apa, Kau sendiri?"
"Hahh.. Aku baik baik saja."
"..."
Dilihat dari segi manapun, Naruto yakin baik Shikamaru maupun Sasuke sepertinya tidak ada niatan memakan es krim yang mereka pegang. Berbeda dengan Naruto yang dengan asyiknya menjilati es di tangannya, Shikamaru dan Sasuke hanya menatap lurus ke depan, seakan es krim mereka hanyalah aksesoris yang tidak menarik.
Hari sudah menjelang sore di festival Konoha. Namun sayangnya para pengunjung disini volumenya bahkan tidak terlihat berkurang. Masih cukup ramai untuk beberapa jam kedepan sepertinya.
Dan, ditengah keramaian itu, disinilah Naruto, Sasuke dan Shikamaru yang tengah duduk melamun di sebuah anak tangga di pintu masuk gedung utama. Seperti kataku tadi, mereka hanya melamun dan menatap keramaian di depan mereka.
"Hahhhhh..."
Sesekali bisa kau dengar Shikamaru atau Sasuke akan menghela nafas dalam beberapa menit sekali. Membuat kadar manis yang ada di es krim Naruto menurun. Sebenarnya sih, ini adalah es krim yang dibelikan oleh Hiashi tadi. Entah kenapa Hiashi membelikan beberapa buah sekaligus, Naruto tentu hanya menerimanya karena secara dia ditraktir.
Naruto melirik ke Sasuke.
"Jadi.. Kenapa kau memakai pakaian seperti itu?" tanya Naruto.
Sasuke hanya melirik sebal. Kau juga akan memakai pakaian seperti ini jika kau tidak lari dari tanggung jawab bodoh.
Merasa pertanyaannya tidak dijawab, Naruto menatap bosan Sasuke sebelum menoleh ke Shikamaru.
"Kau sendiri? kenapa berwajah muram?"
Shikamaru menguap lebar.
.
"Aku dijodohkan." ujar Shikamaru jujur.
"Huh?"
.
Membuat Perhatian Sasuke dan Naruto tertuju sepenuhnya kepada Shikamaru. Yah, Shikamaru memang tidak pernah menyembunyikan apapun dari kedua sahabatnya.
"Serius?" tanya Sasuke tidak percaya.
Shikamaru mengangguk.
"Dijodohkan dengan...?" Naruto mencoba mencari tau.
Shikamaru hanya mengangkat bahu sebelum menjawab.
"Hn.. Anak keluarga Sabaku."
"Sabaku...?"
.
.
.
"K-Kau dijodohkan dengan Gaara?"
"..."
.
~iwdwiw~
.
Sementara itu
Nah, ini dia. Akhirnya! Setelah sepanjang hari terjebak dengan pakaian merepotkan di badannya, Gaara kini sudah kembali dengan outfitnya semalam. Sehabis mengendap endap masuk ke ruangan Klub dan memastikan Matsuri tidak ada di pos nya. Gaara akhirnya bisa mengambil kembari barang barangna. And, yahh.. seperti yang Gaara duga, HP nya pasti dibuat mainan oleh Matsuri, terlihat dari layarnya yang bahkan tidak mau menyala. Lowbat.
Sesudah merapikan pakaian fancynya dan berpakaian ala Gaara semalam, nyatanya dia belum berniat pergi dari ruangan klub. Dia mencari sesuatu..
sesuatu yang tidak ada di tas Gaara saat dia melihatnya.
.
Hm,, Dimana jaketnya?
~iwdwiw~
.
.
Matsuri
Melirik ke sisi lain Konoha Gakuen, dimana terlihat seorang gadis yang err.. dengan santainya memakai jaket orang lain, seakan berniat menakuti seluruh orang yang ada di dalam ruangan dengan gambar tengkorak yang ada di punggungnya.
Matsuri kini tengah berada di dalam musyawarah alot bersama,
Ketua klub Drama Iwa-Art Academy : Kaguya Otsusuki. dan
Ketua klub Theater Konoha Gakuen : Shion.
Sebenarnya sih, Matsuri diundang kemari beberapa menit yang lalu karena Kaguya ingin menawarkan sebuah perjanjian dengan Shion maupun Matsuri. Matsuri pun ditemani Yukata nampak hanya diam mendengarkan saat Kaguya memaparkan idenya dimana ketiga klub ini akan saling membantu dalam pementasan masing-masing.
Dengan ketentuan, barang siapa yang tampil maka kedua klub lain akan membantu dalam setting panggung dan tugas latar. Ini adalah ide yang awalnya diutarakan oleh beberapa panitia, yang mana panitia yang seharusnya mengurus latar supaya bisa membantu di divisi lain dalam festival.
Shion sepertinya nampak setuju dengan ide Kaguya.
Namun.. Matsuri malah sebaliknya.
BRAK!
Matsuri menggedor meja keras. Membuat Shion dan Kaguya kaget.
Matsuri lalu menunjuk Kaguya dengan tangannya.
"Jangan bilang kalau ini adalah akal-akalanmu supaya kau bisa menyabotase pentas orang lain?" tanya Matsuri suudzon.
"Apa y-"
.
Yah, itu tidak akan berjalan mulus.
.
~iwdwiw~
Ah, Festival hari pertama. Meskipun gerbang depan memang tidak akan ditutup tanda hari pertama berakhir, namun beberapa stand yang memang memiliki jadwal sendiri dengan jam kerjanya nyatanya memilih mulai beres beres.
Dan, jam 4 adalah tanda dimana sang maskot kita. Pika Inuzuka, akhirnya menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Hah.. Kiba tidak akan mengeluh lagi sekarang, setelah berjam-jam berdiri di depan gerbang bak patung, Kiba akhirnya kini bisa duduk.
"Kerja bagus." Sang pengawas menyodorkan sebotol minuman kepada Kiba. Kiba pun menerimanya dan meminumnya dalam sekali teguk.
"Uhuk-uhuk-uhukk." Kiba tersedak karena terlalu bersemangat.
Yah, untung hanya hari ini saja dia melakukan hal ini. Sebenarnya sih, saat diberi vonis kemarin, Neji Hyuuga mengusulkan Kiba untuk menjadi maskot selama lima hari penuh, namun karena Kiba mengutarakan alibi bahwa dia ada agenda mengisi pentas... jadi hukumanya diringankan.
Err..
Tunggu dulu-
.
"Kau sudah tau akibatnya kan.. Maka jangan lagi kau ulang-"
SRET!
Tenten tak berhasil menyelesaikan kalimatnya karena kiba sudah berdiri dari duduknya dan berlari.
"Oi tungg-"
Kiba sudah hilang bahkan saat Tenten mencoba mencegahnya.
um, sepertinya Kiba lupa sesuatu. Err..
.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
It's Not Over Yet!
xxxxxxx
Author Note(s) : Yoloo.. Hanzama is back.. ini penggalan chapter sebelumnya jadi err.. sebenarnya bukan pendek sih.. tapi, author notes nya sengaja hanzama munculin di tengah-tengah XD ..
Oke sebelum melanjutkan, hanzama akan mengulas sedikit pertanyaan dari sahabat repiyuwers.
xxx : chara pengen semua rata? n gak berat sebelah? mainchara tuh buat apa?
.
answer : Nah.. ini sebenarnya point yang bagus.. kenapa hanzama selalu tidak bisa terfokus ke masalah NSS saja? jawabannya adalah jenuh .. hanzama nggak tau sudah berapa waktu yang dihabiskan untuk cerita ini.. hanzama berpikir keras dalam ide cerita..
dan setiap karakter yang muncul di samping karakter utama, lebih memiliki potensi humor yang bervariasi.. karena produk utama yang hanzama tawarkan adalah humor.. hanzama selalu memutar otak untuk mencoba memasukkan hal hal baru. dan.. setelah mengalami asam garam lebih dari 60 chapter,, hanzama sadar, humor sejenis yang ditampilkan selama terus menerus, kadar nya akan berkurang..
maka dari itu, menguatkan setiap sisi karakter yang muncul adalah salah satu trik untuk mencurangi ke "monoton"an. well, walaupun sebenarnya semua penilaian ditangan pembaca pada akhirnya.
.
proyek panjang tanpa menyorot karakter sampingan, akan terlihat monoton.. itu jawaban hanzama,
yah mungkin itu., terimakasih atas pertanyaannya.. seperti biasa, hadiah hiburan akan kami kirim Via Mimpi.. ehem.
tapi ah.. daripada kebanyakan curhat.. mending lanjut.
.
~iwdwiw~
.
Hyuuga Mansion / Malam hari
Setelah mandi dan melepas lelah, Hinata tidak ada kegiatan apapun sekarang. Karena dia sudah terlalu malas untuk membolak balik naskah yang diberi Shion, Jadinya, dia hanya bermain main untuk membunuh waktu.
Well, yang dimaksud bermain main adalah um.. dia kini tengah bermain dart, ditemani dengan alunan musik yang sengaja dia putar keras-keras. Tidak mempedulikan Hanabi kemungkinan terganggu di kamar sebelah.
TAP
dart itu tertancap di papannya, bersamaan dengan berlubangnya foto yang menghalangi antara dart dan tempat pendaratannya. Asal kalian tau, foto itu adalah satu satunya foto Naruto yang Hinata punya, namun sekarang dia bahkan tidak ragu untuk merusaknya.
yah, hanya itu foto Naruto yang Hinata punya. Itu adalah foto yang cukup tua, mengingat Hinata mempunyainya semenjak SMP. Dan dia meninggalkannya selama kurang lebih dua tahun, bersama sosok figur yang ada di dalamnya.
Ah, mengingatnya malah membuat memory tentang dirinya yang dulu teringat kembali.
Dirinya yang lemah.
Uh.. You Know what? ,... Mari kita mulai dari awal.
.
.
iwdwiw
"A Cruel Angel Theory"
~Flashback~
.
Awal Hinata pindah ke Moscow adalah saat dimana semua tentang lingkungan ramah, teman teman yang baik, dan hidup yang menyenangkan tidak lagi berlaku.
Yah, kau tidak akan mengerti.
saat kau pikir sekolah di luar negri adalah hal yang hebat, nyatanya tidak juga. Tidak di kampung halamanmu, tidak di negri orang. Diskriminasi selalu datang kepada orang-orang yang asing.
Moscow State Highschool bukanlah sekolah berbasis internasional. Itu hanya sekolah negri biasa di russia. hanya saja, MSH terkenal dengan namanya karena berbagai piagam yang melatar belakangi standar kompetensi yang mereka ajarkan.
Itu adalah awal dimana Hiashi merekomendasikan Hinata untuk melanjutkan sekolah ke luar negri. Hiashi tau, Hinata itu lembut di luar, namun rapuh di dalam. Hiashi ingin Hinata menjadi gadis yang kuat, dan dengan jauh dari orang tua, Hiashi berharap Hinata bisa lebih tegar dalam menghadapi kehidupannya. Yah, itu adalah keputusan Hiashi sebelum beliau meminta Hinata pulang dan melanjutkan sekolah ke Konoha.
..
Di Moscow, Hinata sedikit banyak dibantu oleh sepupunya, Menma. Dalam menjalani kehidupannya. Bahkan saat Hinata dijahili orang lain di sekolah, Menma lah yang selalu membela Hinata.
..
"Ya ampun Hina! Aku tidak percaya kau hanya diam saja saat anak-anak itu membuang bukumu ke kolam renang!" Ujar Menma kala itu.
"..."
"Kau harus belajar membalas! Kalau kau tidak melayangkan serangan balasan kepada mereka, mereka malah akan semakin gencar menjahilimu!"
Yah, Hinata bisa apa? seumur hidup, dia tidak pernah berkelahi dengan siapapun. Bahkan, berucap kasar saja tidak pernah.
"Hahh.." Hinata menghela nafas dalam. Sekolah disini nyatanya lebih buruk dibanding di jepang.
..
6 bulan pertama adalah waktu yang cukup menyiksa di kehidupan Hinata, dimana dia setiap pagi menjadi korban jahil para bully(ers) di sekolahnya. Dari disinidir dengan terang terangan bahkan sampai memasukkan sampah ke tas Hinata. Alasannya simple, mereka tidak suka Orang asia yang sok pinter di kelas.
Ah, Mereka mungkin berpikir, kalau seorang gadis yang bukan orang russia, bersekolah di russia, namun nilai akademiknya melebihi orang orang russia adalah hal yang tidak bisa dimaafkan.
Entah sudah terhitung berapa kali Menma memukuli orang-orang jahil itu bahkan hampir akan dikeluarkan hanya untuk melindungi harga diri Hinata yang.. um selalu lari dari kenyataan.
..
Namun nyatanya, Tidak selamanya Hinata bersikap cuek dengan keadaannya. Karena pada suatu pagi, Hinata akhirnya melakukan serangan balasannya untuk yang pertama kali. Dan itu adalah satu satunya waktu dimana Menma terkejut dengan sesuatu.
Err.. Itu adalah saat dimana ...
.
"Yo.. asia,Tumben berangkat pagi." Sapa seseorang gadis saat Hinata memasuki gerbang MSH.
"..."
Menma yang berada di belakang Hinata tentu tau apa yang akan terjadi, Saat dua gadis dan dua lelaki ini mencegah Hinata berjalan aman ke kelas. Ini adalah saat dimana dosis harian mereka akan dimulai.
Normalnya sih, Hinata pasti akan pura pura tidak tau, berbelok dan memilih jalan lain untuk pergi ke kelas.
Namun tidak untuk sekarang, Bahkan Menma terkejut saat dia melihat Hinata dengan cuek menerobos masuk di tengah tengah mereka, dan tanpa sengaja menyenggol bahu salah seorang dari mereka.
tentu itu membuat yang bersangkutan tersinggung dengan perlakuan Hinata.
"HEI! Kau tidak sopan sekali asia!" Bentaknya kepada Hinata. Dia memegangi bahu Hinata dan mencegah Hinata untuk terus berjalan.
Hinata menoleh dan menatap mereka dengan tatapan arogan. Tatapan arogan yang dia berikan nyatanya membuat orang itu semakin marah.
Dia berniat menampar Hinata, sebelum
TAP!
Tangannya ditepis dengan kasar oleh Hinata.
Menma tidak berkutik bahkan sampai Hinata mencengkram kerah gadis di depannya.. Bahkan menariknya keras sehingga bajunya terbuka karena beberapa kancingnya putus.
Hinata menatap orang-orang itu marah, seakan sudah kesal sekali dengan perbuatan mereka.
Mereka yang melihat itu bahkan tidak berani berucap apa apa setelahnya. Membarkan Hinata menapaki jalannya.
.
yah, 6 bulan sepertinya waktu yang lebih dari cukup untuk Hinata menyadari semua kebodohannya.
Itu adalah awal Hinata baru, di mata Menma. Menma sih, lega saja melihat Hinata akhirnya berhasil membela dirinya sendiri. Menma pikir dengan kejadian itu, Hinata pasti akan mempertahankan dirinya saat dia di bully lagi.
Namun nyatanya tidak seperti itu..
Hal yang Menma tau selanjutnya adalah, saat yang dianggap enteng oleh Menma malah menjadi lebih parah dari perkiraanya.
Hinata menjadi lebih kasar, Dia bahkan tak segan memukul siapa saja yang bicara asal asalan soal dirinya. Pernah disuatu ketika Menma mengecek tas Hinata, dan Menma menemukan sebuah Stunt Gun yang sudah terisi penuh. Bak mengisyaratkan Menma kalau Hinata mulai menunjukkan gejala Yandere, Paranoia, dan Psycho secara bersamaan.
.
.
2 bulan kemudian, Hinata punya geng sendiri.
Err.. Mereka bukan geng sih, hanya beberapa gadis yang merupakan teman dekat Hinata. Namun Menma lebih suka menyebut mereka Komplotan.
Melihat itu, Menma pun berinisiatif untuk memberitahu pamannya Hiashi yang ada di jepang. Setelah menunjukkan bukti bukti yang relevan, Menma pun meminta saran kepada Hiashi untuk meminta tindakan apa yang harus dilakukan.
Di jepang, Keluarga Hyuuga kalang kabut mendengar kabar dari keponakannya, Bahwasanya Hinata sudah mulai kelewat batas. Nyatanya, keputusan Hiashi untuk membuat Putrinya mandiri malah berakhir dengan hal yang tidak disangka. Bahkan sempat membuat Ibu Hinata sakit selama beberapa minggu saat Menma mengirimkan foto Hinata yang tengah berada di sebuah klub malam.
.
Itulah awal Hiashi menyesali segala keputusannya, dengan rasa marah dan khawatir, Hiashi pun merencanakan penerbangan ke Moscow hari berikutnya.
Saat ayah dan anak itu bertemu.
Hiashi langsung menampar Hinata, Namun sayang..
.. Tamparannya mleset.
.
"Hahhhh~" Hinata diam mendengarkan ayahnya yang sedari tadi mengomel tak henti henti. Sesekali dia melirik Menma yang ada di sudut ruangan.
'Dasar tukang ngadu..' batin Hinata.
.
"Pokoknya.. Kau harus pulang ke jepang besok pagi!" Ucap Hiashi akhirnya.
Membuat Hinata terkejut.
"A-APA? NGGAK!" Hinata tentu menolak keras.
"Ini perintah!"
Hinata mendecak tidak suka. Ah, dia harus mencari akal supaya dia tidak ditarik kembali ke Jepang.
.
Setelah perdebatan yang alot antara sang ayah dan anak gadisnya, Hiashi akhirnya menyetujui perjanjian dari Hinata. Dimana dia mau pulang ke jepang namun di pertengahan semester tahun kedua.
Hinata lah yang sepertinya tidak puas dengan kesepakatann itu. Namun dia akhirnya menurut saat Hiashi bilang : 'Membantah lagi, dan kau bukan anakku.'
Dan dengan sedikit permintaan kepada Menma untuk mengawasi Hinata, Hiashi pun akhirnya pulang sendiri kala itu.
.
Karena permintaan dari pamannya, Menma tidak bisa berhenti mengawasi Hinata semenjak itu. Menma bak stalker yang selalu mengikuti Hinata kemana-mana saat dia pergi. Terkadang Hiashi akan menelpon Menma dan menanyai perihal Hinata dan info terbaru. Menma dan Hiashi layaknya seorang prajurit dan pusat komando.
Menma sebagai sepupu tentu khawatir, bahkan ke khawatirannya melebihi saat masa dimana Hinata masih di bully. Karena yang ini malah lebih parah, Hinata mulai mengenal apa itu 'berdandan', tak malu dengan pakaian terbuka. Bahkan cara bicara Hinata lebih kasar dari biasanya.
.
Sampai saat dimana hari dimana Hinata akan pulang ke Jepang. Menma memutuskan untuk ikut pindah sekolah dan ikut bersekolah ke jepang.
.
"Jadi? Kau akan kembali ke jepang besok?" Tanya Menma kala itu,
"Yup!"
Sepertinya Hinata sudah tak peduli lagi.
"Ayolah sepupu. Satu setengah tahun kau disini dan kau akan meninggalkanku begitu saja?" Tentu saja itu hanya basa-basi Menma saat Hinata akan pulang ke jepang.
"Hiashi menginginkanku kembali bersekolah di jepang, Menma!"
"Kau tau? aku akan merindukanmu! Teman temanmu di sekolah akan merindukanmu!" lanjut Menma (sebenarnya tidak juga sih, Menma malah senang saat Hinata akhirnya kembali ke rumahnya mengingat dia disini.. um, err.. Yah seperti kataku. Menma hanya basa basi)
"Aku tidak bisa menolak perintah Hiashi kan?" balas Hinata ketus.
"..."
"..."
"Tch. Kalau begitu aku ikut dengamu!" lanjut Menma. sedikit mengatur wajah takut-takut kalau dia kelepasan tertawa saat dia berbasa-basi.
"H-Hah?"
"Ya! Aku akan ikut bersekolah di jepang!"
"Nggak!"
"YA!"
"Tch. Kenapa pula kau mau ikut denganku?!" tanya Hinata tidak terima.
.
"Untuk melindungimu dari orang jahat tentu!"
.
Setelah meminta Izin kepada Kakeknya dan Hiashi, Menma pun akhirnya pindah ke jepang. Bahkan Hiashi dengan terbuka meminta Menma tinggal di mansion Hyuuga. Namun menma menolak, sehingga Hiashi mempersilahkan Menma tinggal di apartemen Hyuuga.
Dan detik berikutnya, kau tau apa yang terjadi di Okinawa.
F-back end.
.
~iwdwiw~
TOK TOK TOK
"Hinata-Nee?"
Kan, apa kubilang. Hanabi cepat atau lambat pasti akan terganggu dengan musik keras dari kamar Hinata.
Cklek.
Setelah mematikan musiknya, Hinata pun membuka pintu. Dia menatap Hanabi yang kini sudah membawa beberapa buku dan alat tulis.
"Kenapa?" tanya Hinata nampa basa basi.
Namun Hanabi malah tersenyum.
"Bantu aku mengerjakan PR!" Ujar Hanabi ceria.
Hinata menghela nafas.
"Kenapa kau tidak meminta bantuan Okaa-san atau Otou-san?" tanya Hinata. Yah, tidak biasanya Hanabi kesulitan mengerjakan tugas. Mengingat setau Hinata Hanabi juga termasuk gadis cerdas di sekolah.
Hinata malah melihat Hanabi yang memainkan jari jarinya. Sembari malu malu. Membuat Hinata kesal karena itu adalah kebiasaan Hinata dulu.
"A-Aku..." Hanabi berucap gugup.
"..."
.
.
"A-Aku ingin tidur bersama Hinata-nee malam ini.." lanjut Hanabi malu malu.
"..."
Membuat Hinata sedikit terkejut. Dia menatap Hanabi yang menunduk. Yah, kalau diingat, sudah lama sejak Hinata tidur bersama adiknya. Itu saja, saat Hinata masih SMP dan Hanabi masih SD.
Hinata cukup lama berpikir, sebelum ia menghebuskan nafasnya lagi.. Dan mempersilahkan Hanabi masuk ke kamarnya.
"Baiklah."
.
.
.
KRITIK DAN SARAN
See you in the next chap!
V
V
V
