chapter 70 : A Hunter(s)
.
Hari ke 2.
Oke, Narator tidak akan berbasa-basi memperkenalkan orang orang ini.
Sasori dan Deidara lah yang kini tengah berjalan-jalan menikmati festival. Bersama dengan sang kohainya Tobi. Mereka sepertinya tengah bebincang tentang sesuatu.
.
"Kau yakin, ingin meninggalkan stand Akatsuki di jaga oleh Kakuzu dan Hidan?"
Deidara menoleh saat dia mendengar Sasori bersuara.
"Biarkan mereka hmm! walaupun dari luar mereka tidak meyakinkan, aku cukup yakin kalau Kakuzu adalah pebisnis yang handal!" balas Deidara.
Sasori terlihat tidak yakin.
"Mereka bodoh. Dan kau tau itu."
Deidara berkelah lagi.
"Alah.. mereka tidak akan macam-macam selama mereka tau Pein ada di sekitar mereka."
Stand Akatsuki memang berbeda dari stand lain. Mereka menjual berbagai pernak-pernik dan Aksesoris yang bahkan tidak bisa kau temui dimanapun.
Kau akan langsung mengatahuinya saat kau masuk lebih dalam ke Festival. Sebuah tenda nyentrik yang kini tengah dijaga oleh lelaki bercadar yang tengah menambahi satu angka nol di setiap label harga dengan bolpoin. Ditemani oleh seorang lelaki berambut putih yang tengah duduk bersila di depan stand sembari membakar kemenyan, bahkan beberapa pengunjung yang lewat dengan santainya melempari pemuda itu dengan koin dan menunggu... Karena mengira pemuda itu akan melakukan atraksi makan paku.
.
Deidara melanjutkan kata-katanya.
"Yang lebih penting.. Tobi!" Deidara menoleh ke Tobi.
"Apa.. senpai?" Sang pemuda yang dipanggil terlihat kesulitan karena menggotong beberapa buah kotak sekaligus di tangannya.
"Bawa dengan hati hati!"
"Ok senpai!"
Deidara menoleh ke Sasori.
"Kita harus melakukan uji coba dengan barang barang ini." balas Deidara.
Sasori hanya menghela nafas.
Yah, alasan mereka bertiga menjauh dari stand mereka sendiri adalah. Karena Deidara ingin melakukan uji coba dengan petasan barunya. Bukan apa apa, sebenarnya petasan ini adalah sebagian kecil dari kembang api yang akan dinyalakan untuk penutupan Festival nanti.
Dan kebetulan, Deidara lah yang dimintai tolong para panitia untuk menyiapkannya.
"Jadi..? kita akan menyalakannya dimana?" tanya Sasori.
Deidara berpikir keras.
.
Hm? Dimana ya?
.
Naruto © Masashi Kishimoto
| I Will Do What I Want © Hanzama |
Rating : T(+)
| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |
Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Etc
Pairing : FIX SasuSaku, Tanda-Tanda GaaMatsu, Tanda-Tanda NaruYuka, Tanda-Tanda NaruShion, Unknown Pairing, Another Coming Soon.
WARN! : HINATA RTN, YOUNG KAGUYA, BREAK THE CROSSOVER WALL
Relax and Enjoy Story.
.
Di sebuah kedai di dalam Festival
Nampak Darui yang kini tengah menatap serius lawan bicaranya. Bahkan orang yang duduk di sampingnya merasa terintimidasi dengan empat buah pedang yang masih setia tersampir di punggungnya. Layaknya pasukan khusus Shinsengumi di jaman edo, Darui bahkan tidak mau sekiranya melepaskan 'para senjata utama'nya.
Namun kita tidak akan membahas pedang pedang itu, dan bagaimana dia bisa mendapatkannya. Karena opsir polisi itu kini tengah menanyakan pertanyaan serius kepada penjaga kedai.
Dari raut wajahnya, Darui sepertinya tengah melakukan interogasi.
BRAK!
"JANGAN BOHONG!" Bentak Darui. Dia menggebrak meja dengan keras. Nampak keringat bercucuran turun dari dahinya.
"A-Aku serius pak!" Jawab pemuda itu. Sedikit takut dengan orang yang ada di depannya. Takut-Takut kalau polisi ini mengayunkan salah satu pedangnya tanpa peringatan.
Darui mengatur nafasnya. Hahh.. Hahh..
Seakan mengisyaratkan dirinya sendiri untuk tidak hilang kontrol.
Darui meneguk satu gelas penuh air putih yang ada di depannya.
Sreet!
Tanpa aba-aba. Darui bangkit dari posisinya.
.
.
Dengan kasar, Darui mengeluarkan uang pecahan dan menyodorkannya ke pemuda penjaga kedai.
"LAIN KALI! SAMBALNYA JANGAN BANYAK BANYAK!" Teriak Darui keras.
Sebelum dia pamit dan berlalu pergi.
.
.
Anjrit jajan melulu Darui.
.
~iwdwiw~
.
Bahkan sampai akhir. Naruto tidak bisa melayangkan pertanyaan barang satu-sampai-dua kata kepada gadis Hyuuga ini. Tak tau apa yang merasuki Naruto, namun semakin gadis ini menghindar, semakin tumbuh pula rasa penasaran di benak Naruto.
Dia menatap dari tempatnya duduk gadis bersurai biru itu sedikit lama. Raut yang tanpa ekspresi menandakan kalau Naruto memang tidak puas dengan kegundahan di benaknya.
PUK.
Naruto menoleh saat Sakura menepuk pundaknya dari belakang.
"Hoi.." ujar Sakura.
"Kenapa?" Sahut Naruto. Dia mengusap wajahnya dengan tangan kiri mencoba menghilangkan bayangan lavender yang tergambar jelas dari rautnya beberapa detik lalu.
Sakura ikut duduk di krat disamping Naruto.
.
"Kalau tidak salah kau tadi ingin mencari sesuatu?" tanya Sakura.
"Ha?"
Naruto memiringkan kepala mendengar pertanyaan Sakura. Tidak mengerti arah pertanyaan Sakura.
"Alah.. yang tadi sebelum aku menyeretmu kesini. bukankah kau bilang kau ingin mencari sesuatu?" lanjut Sakura lagi.
Oh.. Benar. Naruto malah baru ingat.
"Hahhh..."
Naruto menghela nafas saat Sakura kembali mengingatkannya.
Tentu saja ini soal Fox. Dia kabur (lagi) dan Naruto tidak punya gambaran apapun dimana kucing itu sekarang. Naruto hanya berasumsi mengingat Fox pernah ke sekolah ini sekali, Mungkin juga kucing itu tengah ada di keramaian konoha gakuen sekarang.
.
"..Kucingku Hilang.."
ujar Naruto menjelaskan. Naruto berbicara cukup keras sehingga Sakura dapat mendengarnya. Hinata yang kini tengah menuangkan air es ke dalam gelas juga sedikit terkejut dengan pernyataan Naruto. Namun dia hanya menguping, dia bahkan tidak berbalik dari posisinya.
well, gadis lavender ini tau siapa yang dimaksud kucing. Dan itu adalah kucing manis yang seharusnya menjadi milik Hinata.. yaitu Oranye.
.
"Apa maksudmu hilang?"
"Yahh.. Bukan hilang sih, lebih ke kabur.. kau tau, Fox bisa membobol jendela yang terkunci, entah bagaimana caranya."
.
Hinata masih bisa mendengar percakapan kedua orang ini setelahnya. Dia malah emosi sendiri saat tau Oranye tidak dirawat dengan baik oleh Naruto. Sampai-sampai dia kabur.
Hinata memang sudah menduga, pemuda seperti Naruto pasti tidak tau cara merawat kucing.
.
"Lalu?" tanya Sakura lagi.
Naruto malah menggaruk pipinya sembari tertawa renyah.
"Hehe.. Mungkin karena aku yang lupa memberinya makan." Jawab Naruto.
"..."
Tap.
Naruto dan Sakura terkejut saat dilihatnya Hinata tiba tiba berjalan menghampiri mereka dan berdiri tepat di depan Naruto.
Naruto bisa dengan jelas melihat raut datar yang diberikan gadis Hyuuga ini. Dia menatap Naruto dengan tatapan dingin. Di tangannya, segelas air es yang seharusnya milik pelanggan dia tenteng dengan sedikit urat marah.
Naruto yang paling terkejut.
"H-Hinata?" tanya Sakura yang tau kelanjutannya, saat dia melihat Hinata mulai mengangkat perlahan gelas yang ia pegang ke udara.
.
"Ap-"
BYUR!
Saat jatuhnya debit air itu dari wadahnya. Bersamaan pula dengan datangnya sensasi dingin yang menjalar ke seluruh badan Naruto.
.
Naruto mandi untuk kedua kalinya pagi ini.
.
~I WILL DO WHAT I WANT~
.
"OI.. KAU.. UCHIHA SASUKE! KAU HARUS MENURUNKAN BACKGROUNDNYA DENGAN BENAR!"
Di gedung Theater, kau bisa melihat Sasuke yang kini tengah jadi bulan-bulanan orang orang diatas panggung. Dilihat dari rautnya, kau bisa tau kalau Sasuke sudah mulai muak berada disini.
Err.. Ah, Namun sepertinya tidak semua orang ikut bekerja keras dalam persiapan. Melihat Gaara dan Shikamaru yang kini malah duduk-duduk santai di kursi penonton dengan sesekali mengobrol.
Gaara sedang menjelaskan tentang sosok gadis dari OSIS konoha yang kini tengah ikut memberi komando kepada klub yang akan tampil. Dia adalah Temari.
Shikamaru pun nampak tidak tertarik dengan obrolan Gaara, karena ini menyangkut 'perjodohan' yang dibicarakan kemarin.
Ah.. Merepotkan sekali. Batin Shikamaru.
.
Tsh.. Kalau kau tidak mengerti. Aku ucapkan selamat datang di kehidupan Shikamaru.
Shikamaru memang orangnya cuek dari lahir. Sedikit hal yang membuatnya tertarik, dan terlalu banyak hal yang membuatnya cepat bosan.
Orang tua Shikamaru mungkin yang paling mengerti. Bagaimana sifat Shikamaru jika pemuda ini sudah disangkut pautkan dengan agenda jangka panjang. Shikamaru cenderung meninggalkan hal yang menurutnya merepotkan.
Mungkin Nara Shikaku dan Nara Yoshino tidak yakin dengan kemampuan Shikamaru dalam mencari istri sendiri (mungkin). Mengingat Shikamaru yang tidak mau kenal dengan gadis-gadis, dan lebih memilih menghindari hal-hal yang bisa membuat kehidupannya menjadi teramat sangat merepotkan sekali.
.
Shikamaru sendiri sih, tidak pernah punya yang namanya kriteria gadis idaman. Dia hidup berdasarkan logika. Dan menurutnya, wanita adalah musuh alami sebuah logika. Maksudku,
kau tau.. Mereka terkadang menyuruh kita untuk saling percaya, tapi mereka yang emosi saat tidak diberi kabar barang sehari.
Merekaselalu mengutarakan tentang 'aku dan kamu'.. padahal saat membahas hal yang disukai, Mereka memaksa kita untuk ikut menyukai apa yang mereka suka.
Mereka juga mengumbar pernyataan 'aku suka kamu apa adanya'.. tapi saat melihat orang lain yang lebih menawan.. mereka bilang 'kenapa kau gak bisa seperti dia'
.
Ahh.. Perlu lebih dari jutaan lembar bagi Shikamaru untuk menyampaikan ribuan alasan kenapa Shikamaru tidak pernah suka konsep : perempuan itu selalu benar.
Kalau soal Istri sih, Shikamaru memang tidak pernah mengharapkan istri yang aneh-aneh. Diantara logikanya yang selalu menganggap perempuan itu merepotkan, hati kecil Shikamaru meyakini.. perempuan itu cantik, saat mereka menyadari kekurangan diri sendiri.
Ah. aku terharu Shikamaru-sensei.
.
"... Jadi? Bagaimana menurutmu?" Ujar Gaara.
"..." Shikamaru diam.
Jujur, dia melamun barusan. Dan dia tidak mendengarkan ucapan Gaara.
Shikamaru menghembuskan nafas dan... berucap santai.
.
.
"Jika memang dirinya-lah.. tulang rusukku.."
.
"...Dia akan kembali pada tubuh ini."
"..."
.
~iwdwiw~
.
Panggung 'Kontes katakan cinta'
Karena memang tidak mendaftar secara resmi. Dan seharusnya dirinya adalah pembawa acara, Temujin hanya menggerutu sumpah serapah kepada oknum yang mengambil posisinya sekarang.
Dia kini tengah terjebak di sebuah games memasak (lebih tepatnya membuat sandwich) dengan seorang gadis SMP yang um.,. yah cukup manis sih.. tapi ah! bukan itu masalahnya.
Temujin, sang gadis SMP dan kesembilan pasangan lain kini tengah meracik bersama sebuah sandwich yang akan dinilai kemudian untuk dipilih yang terbaik. Penonton tampak bersorak senang saat kesepuluh kontestan itu mulai mesra-mesraan membuat roti isi bersama-sama. Aciee..
Yah. Temujin tau, roti yang tengah dia buat ini, selanjutnya akan dinilai oleh pembawa acara. Dan, berhubung Temujin memang niat sekali ingin meracuni sang pengetes rasa, dia dengan sengaja menumpahkan lada diatas sandwich buatan tim nya. Pasangan Temujin sempat protes dengan Temujin, namun saat Temujin sedikit melakukan rayuan plus kata-kata maut ala playboy cap daun bawang, sang gadis sepertinya hanya mendiamkan setelahnya.
Temujin sih,, tidak peduli dengan hadiah bonus yang ditawarkan. Yang dia ingin sekarang adalah, membalas ketua OSIS SMA lain ini dengan sangat bernafsu.
"...3...2..1 dan yap.. waktunya habis! Silahkan angkat tangan diatas!"
Bersamaan dengan aba aba dari pembawa acara, Kesepuluh pasang itu mengangkat tangan mereka masing masing. Temujin bahkan masih sempat menjatuhkan sandwichnya ke lantai, menggosek-gosekkannya ke lantai panggung, menginjaknya ringan sebelum dia pungut dan dia letakkan kembali ke piring.
Temujin tersenyum senang saat sandwich cap telapak sepatu yang dia buat sudah terhidang manis kembali diatas piring.
.
"Okehh.. saatnya mencicipi hidangan para kontestan!" ucap pembawa acara.
Temujin tersenyum makin lebar.
'Makan tuh'
.
"Tapii.."
.
"Berhubung saya sudah makan.. Saya akan menyerahkan penilaian kepada salah satu penonton."
Temujin menurunkan senyumannya.
waduh.
Toshiro nampak mendongak diantara riuh penonton untuk memilih salah satu penonton yang beruntung untuk naik ke atas panggung.
Sebagian penonton mengangkat tangannya berharap dia bisa mencicipi makan gratis.
Pandangan Toshiro melirik ke seorang pria berseragam dinas yang kebetulan melintas.
.
"Pak polisi..." ucapnya.
Orang yang dipanggil menoleh.
".. Iya. anda.. yang bersenjata pedang.."
"..."
.
"...bisa naik ke atas panggung?"
"..."
.
Nah loh.
.
Skip
Oke oke.. Darui mengerti sistemnya. Setelah dijelaskan oleh panitia, dia hanya harus mencicipi setiap makanan dari para pasangan ini dan berkomentar. Lalu memilih siapa yang terbaik. ah, bukan perkara sulit untuk seorang Darui.
Sedangkan,
Temujin mulai berkeringat dingin saat dia tau yang menilai adalah sosok polisi.
"Kalau begitu silahkan.. Opsir Darui.."
Setelah dipersilahkan, Darui pun segera menuju meja yang paling ujung.
Meja 1 : "Asin."
Meja 2 : "Pahit."
Meja 3 : "Pedas."
Meja 4 : "Keras." (dagingnya diganti papan)
wah satsuga Darui-sensei. Selalu expert dalam sesuatu. Bahkan kalau menyangkut soal makanan sekalipun.
Saat Darui sampai di meja Temujin.
"..." Temujin terdiam saat melihat polisi ini.
Cukup lama dia diam sebelum.
"I-I-I-I-INI Sandwich k-kami pak!" Temujin sedikit terbata-bata. Mengetahui kalau petugas yang didepannya ini akan segera keracunan. Sedikit berharap tidak ada siapapun yang sengaja menumpahkan sianida di atas panggung tadi pagi, atau semacamnya.
Darui menatap sandwich yang ada di depannya. Tedapat motif seperti telapak sepatu yang terlihat di mata Darui.
Darui lalu menatap Pemuda dan pemudi yang ada di depannya.
"Kalian kreatif sekali.." ucap Darui.
"H-Hah?"
"Kalian bahkan memberi motif di makanan kalian." lanjut Darui.
"..." Temujin diam. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Shit. Sandwich telapak sepatunya akan berakhir di lambung petugas kepolisian.
Ah biarlah. Lagipula belum ada sejarahnya telapak sepatu bisa membunuh orang.
Temujin mulai pasrah. Dengan ragu dia mempersilahkan Darui menyantap Sandwich Haram itu.
"S-Silahkan dimakan pak!" pinta Temujin.
Darui yang tau kalau kalau Temujin terlihat sangat tegang, malah menghembuskan nafas. Dengan sekali tarikan, dia menarik salah satu pedangnya dan mengeluarkan dari sarungnya.
Membuat Temujin hampir saja pipis dicelana saking kagetnya.
Penonton dan pembawa acara sepertinya juga bertanya-tanya apa yang akan dilakukan oleh petugas ini.
SREET!
Dengan satu gerakan. Darui memotong seonggok Sandwich itu jadi dua bagian.
"..."
Dia lalu menyodorkan satu bagian lagi kepada Temujin.
"Aku tak tega memakannya sendiri..." ucap Darui Melirik raut tegang dan melas yang ditunjukan Temujin sedari tadi.
"..."
"...Kau setengah, aku setengah."
Temujin melongo. Dia menoleh ke gadis SMP yang ada di sampingnya, gadis itu malah menutup mulutnya dengan tangan.
..
~RESTORAN IWDWIW~
Menu hari ini : Sandwich Telapak sepatu
Chef : Temujin
Pelanggan : Darui
Harga : Gratis
...
GLEK!
sialan.
Temujin menatap ngeri Sandwich nya yang masih teronggok di atas meja. Dia bahkan tidak mau mengangkatnya. Kalau dipikir pikir sih.. Iya kalau hanya debu yang ada di sepatu Temujin. Kalau seandainya dia menginjak eeq tadi gimana? njir.
"Ayo makan.." ajak Darui.
Shit. Temujin tak tau harus menjawab apa dan bereaksi apa.
Dengan tangan gemetar, Temujin mengambil sandwich itu dan mengangkatnya ke wajah. Berbarengan dengan Darui.
.
30 cm.
.
.
25 cm.
.
.
15 cm.
.
.
10 cm.
.
.
5 cm.
itu sebelum
.
.
JDUARRRRRRRRR!
Suara ledakan dari jauh menyelamatkan nyawa Temujin.
.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
TBC
xxxxxxxxx
Author Note(s) : Hanzama is backk.. Yah yah yah.. kesekian kalinya hanzama aplot chapter basa basi .. sebenarnya sih.. hanzama mau langsung skip ke Drama Iwa-Art. Tapi kayaknya nggak pas gitu.. jadi hanzama luangkan untuk mengetik satu chapter lagi. Yah.. hanya sekedar untuk menselaraskan antara chapter kemarin dan chapter depan..
maap kalau jelek. Hanzama optimis kalau ini jelek -_- .. tapi ah, biarlah.. akan selalu datang kesempatan di 'next chapter'
maaf juga karena telat.. entah kenapa hanzama jadi gak bisa mentuin jadwal antara ngetik, buat tugas dan agenda kegiatan.. -_- semua waktu hanzama tersita karena um.. 'sesuatu' .. ehem.
dan ah,, reviewnya gak hanzama balas.. (_ _") sekali lagi maaf..
Hanzama selalu menerima kritik, saran, koreksi dari para sahabat reader sekalian. jangan bosan-bosan ngingetin hanzama yang rada sableng ini perihal kesalahan di iwdwiw..
okesip.. sebelum um- mengakhiri.
...
Yang terlupakan
Namikaze mansion terlihat ramai bahkan saat dipagi hari. Jelas saja, mengingat walikota, sang istri, beserta para ajudan memang sudah siap sedia di setiap sudut rumah untuk melakukan pekerjaan masing-masing.
Namun di pagi ini, nampak ada yang berbeda dari jumlah orang yang biasanya berkeliaran.
Karena ada seorang tamu yang barusaja datang, yang sepertinya sangat..sangat...sangaaat disambut hangat oleh Kushina.
.
.
"Kyaa! Kau sudah besar!" ucap Kushina girang saat melihat keponakannya yang sudah tidak dia lihat selama beberapa tahun kini sudah tumbuh dewasa.
"Ahh.. Aku masih sama kok bibi.." balas pemuda itu.
"Kenapa kau tidak memberi kabar dulu? Aku kan jadi tidak menyiapkan apapun." Lanjut Kushina.
Pemuda itu malah tertawa.
"Hehe.. Anggap saja sebagai kejutan." balasnya.
Kushina mengangguk.
.
"Jadi? Kau akan menginap disini kan?" tanya Kushina penuh harap. Melirik dari deretan koper yang dibawa pemuda ini.
Pemuda itu tersenyum.
"Justru karena itu aku kesini. Selama aku di jepang, aku ingin menginap di rumah bibi.. yah, ada banyak hal yang harus aku ceritakan kepada Naruto." Lanjutnya.
Kushina sedikit kecewa.
"Lahhh.. sayangnya, Naruto sudah tidak tinggal disini." jawab Kushina jujur.
Pemuda itu sedikit kaget.
.
"Err.. Bibi mengusirnya?" tanya pemuda itu asal.
Kushina menggeleng.
"eh.. enggak kok.. dia sekarang tinggal di dekat sekolahnya yang baru, bersama Sasuke dan Shikamaru." lanjut Kushina.
Pemuda itu memperhatikan dengan seksama.
"... Well, dia hidup mandiri sekarang."
"Serius?" tanya pemuda itu tidak percaya. Naruto? hidup mandiri? seperti sebuah takhayul di telinga pemuda ini.
Kushina mengangguk.
.
Lama mereka mengobrol, sebelum Minato datang.
"Ahh.. Paman." sapa pemuda itu.
Minato pun langsung menyalami keponakannya dengan senang.
.
.
"Lama tidak bertemu..."
.
.
"...Nagato."
.
KRITIK DAN SARAN
V
V
V
V
