~iwdwiw~

Salahkan! Salahkan saja Deidara yang menyalakan petasan yang paling besar pertama.

Nyawa Sasori hampir saja keluar dari tubuhnya saat Deidara dengan seenaknya melempar petasan berukuran besar tepat di samping Sasori berpijak. Bahkan saat Sasori berlari menjauh, gelombang ledakannya masih bisa menerpa punggung Sasori. Hingga Sasori kini tersungkur.

Yah, siapa yang menyangka, diantara kembang api yang harusnya meledak di udara, Deidara juga menyiapkan petasan seukuran botol air mineral hanya untuk mengerjai Sasori.

Sebenarnya bukan idenya sih untuk menyalakan petasan di tengah tengah lapangan basket Konoha Gakuen. Namun tidak ada tempat lain mengingat hampir seluruh penjuru festival dipakai untuk mendirikan stand. Dan dengan wujud orang dewasa tapi kapasitas otak bak anak SD, Deidara akhirnya berhasil mengusir beberapa anak-anak SMP yang tengah bermain 3 on 3 di lapangan.

.

"Nah kan.. itu baru namanya Seni!" ucap Deidara gembira.

"SENI PALA LU!"

"MWAHAHAHAHAHA.."

Sembari tertawa ngakak, tidak mempedulikan ratusan pasang mata yang memperhatikan dua orang ini dari luar lapangan basket (bahkan tidak mau mendekat barang seinchi untuk memeriksa keadaan tiga orang tak jelas ini), Deidara mengambil kotak kotak petasan yang lain dan menaruhnya di tengah lapangan.

Dengan satu gerakan. Dia menuang semua isi kardus ke tengah lapangan.

"Sekarang.. Kita coba semua satu persatu Hmm!" Ujar Deidara.

"Ok.. Senpai."

"Nggak ah!" Sasori protes. Yah, dia tidak mau ambil resiko menciderai seseorang dengan tumpukan benda maksiat ini.

"Ayolah Sasori.. Ini juga termasuk kepentingan festival." ujar Deidara lagi. Dia menyalakan sebatang korek api dan berniat menyulut petasan cabai yang ada di tangannya.

"NGGAK!"

Sasori dengan kasar berniat merebut korek api di tangan Deidara. Namun Deidara malah melempar korek api itu ke Tobi.

"Tobi!"

"Aye senpai!" Tobi menerima korek api itu dan membawanya lari. Sasori yang melihat korek api itu berpindah tangan, lantas langsung mengejar Tobi mengitari lapangan.

"Oi kemarikan Koreknya!"

"Nggak!"

.

.

Deidara tesenyum iblis saat Sasori terpancing dengan Tobi.

Sembari sembunyi-sembunyi, Dengan satu gerakan, dia mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya, dan menyalakannya dengan Lighter. Yah, dia punya korek yang lain.

UHUK UHUK UHUK.. Deidara terbatuk batuk karena menyedot rokoknya terlalu keras.

.

Sekarang dia bisa menyalakan setiap petasan ini dengan rokok.

.

Dia kembali menatap bernafsu petasan cabai dan ujung rokok yang ingin dia satukan. Dengan gerakan slow motion bak sedang mempersatukan kedua mempelai dalam ciuman. Deidara sangat fokus, dia bahkan tidak mempedulikan saat ada err..

.

"Woi kalian!" Seorang polisi datang mendekat dari kerumunan. Deidara menoleh. Dia sedikit kaget melihat polisi ini.

Yah kau tau siapa polisi ini.

Deidara berniat berkelah. Sebelumm..

"Ano.. Kami ini pak-"

BUKH!

Tobi menubruk Deidara dari belakang. Membuat rokok yang dipegangnya jatuh.

Jatuh...

.. Ke tumpukan petasan yang tergletak di tanah.

Deidara melotot.

.

"WAAA! LARIII!" teriak Deidara.

"HAH?"

"Ha?!"

Tanpa aba-aba Deidara pun berlari kocar kacir menjauhi petasan itu. Sasori dan Tobi yang kaget pun juga hanya membuntuti Deidara yang kini bersembunyi di balik tiang ring basket sembari berjongkok.

Sasori dan Tobi bahkan didorong tengkurap oleh Deidara saat mereka berdua bertanya kenapa.

Meninggalkan Darui yang menatap heran ketiga pemuda ini dari tengah lapangan. Darui menatap tumpukan petasan yang ada di dekatnya.

Sedangkan Deidara sudah siap tiarap di samping ring layaknya menunggu bom waktu meledak.

1 Detik.

.

3 Detik.

.

5 Detik.

.

.

Dan...

.

.

..Hening.

.

.

"Lah?" Deidara mendongak dari posisinya saat dia tidak melihat tanda tumpukan petasan itu akan meledak.

Darui menatap malas ketiga orang yang ada di bawah ring. Dengan sedikit emosi, Darui membentak.

"JANGAN MAIN PETASAN DISINI OYY!" bentak Darui. Bahkan Darui meluapkan emosinya dengan menendang tumpukan petasan itu sekali.

.

Sayangnya.. itu malah memicu..

.

TRATAK TRATAK!

JDUAR!

BLAM!

CIUIT!

DOR DORR!

WADAWWW!

TIARAP!

ALAMAK!

PIWIT PIWIT

IKEH IKEHH!

WOOSHH!

.

Tengkurap bak kura-kura laut, Darui menyesali perbuatannya barusan.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

| I Will Do What I Want © Hanzama |

Rating : T(+)

| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |

Warning : Gaje, Abal, Update tidak menentu, Typo's, Bahasa tidak baku, Etc

Pairing : FIX SasuSaku, Tanda-Tanda GaaMatsu, Tanda-Tanda NaruYuka, Tanda-Tanda NaruShion, Unknown Pairing, Another Coming Soon.

WARN! : HINATA RTN, YOUNG KAGUYA, BREAK THE CROSSOVER WALL

Relax and Enjoy Story.

.

chapter 71 : Mr Magic Show

Jam 1 siang adalah akhir dari acara anak-anak Uzushio. Dengan begitu, berakhir pula kiprah ketua OSIS Karakura di panggung anak Uzushio. Meninggalkan dia yang sudah kembali ke tujuan utamannya untuk mencari Neji, tanpa disangka pasangan paling 'sweet' malah jatuh ke Temujin dan sang anak SMP.

Namun ah,, tidak ada yang tertarik dengan kisah cinta Temujin. Karena semua orang yang kau tau kini sedang berbondong-bondong menuju gedung Theater. Ucapkan terimakasih kepada para anak Uzushio yang tadi sempat menginformasikan kepada para pengunjung tentang pertunjukan yang akan tampil beberapa menit lagi. Well, yah mumpung di festival sih, lagipula ini gratis.

Sama kasusnya dengan Naruto dan Hinata sekarang. Mereka berjalan berdua menuju ke gedung Theater. Mungkin sudah telat untuk ikut bantu-bantu persiapan, jadi yah.. Mungkin mereka akan menyaksikan dari kursi penonton saja. Err.. sebenarnya, mereka bukan berjalan berdua sih. Lebih tepatnya, Hinata berada di depan, dan Naruto membuntuti. Mereka bukan janjian bersama atau gimana.. mereka cuma kebetulan sama-sama kehabisan shift di cafe dan berjalan dengan kecepatan yang sama, tujuan yang sama, namun di jarak yang berbeda.

Naruto berjalan pelan untuk mencapai tujuan yang dia inginkan.. Dia memang tidak berjalan beriringan dengan Hinata, namun Hinata nampaknya terganggu dengan kehadiran Naruto, meski dia tau kalau Naruto terpaut lebih dari satu meter di belakangnya.

Hinata berhenti. Dia membalikkan badan.

"Berhenti mengikutiku pirang!" Bentak Hinata tiba tiba. Membuat Naruto menghentikan langkahnya dan menatap gadis di depannya.

Dia menatap Hinata setengah hati.

".. aku tidak... mengikutimu.." balas Naruto sedikit menggantung.

Hinata memutar bola matanya bosan. Namun akhirnya dia membalikkan badan dan kembali berjalan.

Naruto kembali berjalan di belakang Hinata saat dia yakin gadis yang ada di depannya ini tidak melontarkan apapun.

Tap.

Tap.

Tap.

Hinata berhenti lagi.

"Sudah kubilang... BERHENTI MENGIKUTIKU!" Hinata berhenti. Dia membentak namun tanpa membalikan badan.

Naruto ikut berhenti. DIa menatap Hinata bosan. Apa maunya sih gadis ini?! Batin Naruto. Ah betapa sialnya Naruto, sudah dari awal tadi diseret ke perang dingin.. diguyur air es.. bahkan sampai sekarang, dia masih disangka membuntuti.

Merasa malas menanggapi gadis yang GeEr, Naruto dengan langkah cepat mendahului Hinata dan berjalan di depannya.

.

~iwdwiw~

.

13.15 Gedung Theater

Saat Naruto memasuki gedung, entah kenapa dia bisa mendengar suara para pengunjung yang sudah duduk kini tengah bersorak sorai.

"cihyuu.."

"piwit piwit."

"kyaaa.."

Apakah jam pertunjukkannya di ajukan?

Naruto mengalihkan pandangannya ke atas panggung. Dan dia melihat..

.

sreep sreep.

wanjrit.. Sasuke sedang menyapu panggung.

Bak adegan dalam salah satu episode spongebob. Sasuke malah disoraki dan diberi tepuk tangan saat dia kini tengah menyapu di atas panggung. Kebanyakan yang bersorak adalah anak-anak gadis..

piwit piwit..

Kakak ganteng..

Minta NO HP..

.

Naruto bisa dengan jelas melihat Sasuke mulai gelisah dan menyapu dengan memunggungi penonton. Naruto masih memperhatikan Sasuke, bahkan sampai Sasuke keluar dari panggung.

"Oy.. Naruto.."

Naruto menoleh saat dia mendengar suara memanggilnya.

Shino. Kini sudah berada di salah satu kursi bersama teman-temannya. Merasa Naruto sepertinya tidak bisa menghampiri Sasuke di belakang panggung, Naruto akhirnya menghampiri Shino dan duduk di sebelahnya.

"Kau dari tadi?" tanya Naruto.

Shino menggeleng.

"Baru saja."

Disana juga ada Kiba. Chouji sepertinya tidak bisa bergabung karena dia adalah koki utama di cafe. Naruto juga tidak melihat badang hidung Shikamaru sejauh mata memandang.

Harusnya sih, Naruto ikut membantu di belakang panggung, namun melihat semua sudah terlihat kondusif dan tertata, Naruto akhirnya duduk menjadi penonton.

.

Naruto berbincang dengan Shino ringan sembari menunggu acara dimulai. 15 menit berlalu dan suasana disini menjadi semakin ramai. Bahkan saat..

Sreet.

Naruto menoleh ke kursi di sampingnya yang diduduki seseorang.

Dia melotot.

"H-Hinata?" tanya Naruto kaget.

Hinata yang sadar siapa yang duduk di sampingnya, malah berniat berdiri dan pindah. Itu sebelum Sakura yang datang bersama Hinata menarik Hinata kembali duduk. Mereka berjejer berurutan dari kanan ke kiri : Kiba, Orang tak dikenal, Shino, Naruto, Hinata lalu Sakura.

Shino menoleh heran kepada ketua kelasnya yang bukannya menjaga stand malah ikut duduk disini. Pakaian maid-nya masih melekat di badannya.

"Siapa yang menjaga stand?" tanya Shino kepada Sakura.

Sakura menoleh, tersenyum kepada Shino dan berucap.

"Ada Karin dan Ino disana.." Sakura mengedipkan mata licik.

Sedangkan Hinata yang duduk di samping Naruto, mulai risih. Bahunya saling bersentuhan Membuat Hinata tidak bisa mengontrol jantungnya yang berdegup kencang. Marah, emosi atau mungkin senang? ah tak ada yang tau. Karena sesaat kemudian, seorang masuk ke panggung dan memulai acaranya.

.

"Okee.. Terima kasih sudah datang.. Kami sangat mengapresiasi kedatangan hadirin sekalian dalam pertunjukan siang ini.." ucap Shion yang sudah ada di atas panggung.

Suara sorak sorai penonton memenuhi ruangan. Rombongan anak kecil yang sepertinya mengenali Shion malah berteriak teriak.

Shion tersenyum.

"Nah.. untuk siang ini.. Kami dari panitia festival akan menampilkan dua buah pertunjukkan diantaranya.. pertunjukkan Sulap dan drama.." lanjut Shion.

Shion sempat melirik Hinata dan Naruto yang kini malah berada di kursi penonton.

Penonton bersorak lagi. Sebagian besar yang bersorak adalah murid murid dari ketiga sekolah. Karena mereka tau, salah satu dari temannya akan tampil sekarang.

Menyebutkan kata 'sulap' gerombolan anak anak tadi. yang sepertinya anak SD. malah semakin riuh.

"Horee.."

"Yeyy.."

.

"Nah.. Tanpa basa basi lagi... Selamat menyaksikan."

prok prok prok prok.

Diiringi oleh suara tepuk tangan para penonton, tirai dututup. Lampu dimatikan.

.

Saat tirai dibuka lagi, Nampak seorang berjubah yang berdiri di atas panggung. Morino Idate.

.

.

Morino Idate / Pertunjukan pertama Festival

"Okreeee... Terimakasih atas sambutannya.. Shion-san.." Ucap Idate. Penonton mulai hening saat Idate mulai memeperkenalkan diri.

.

"Nah.. Mungkin sebagian dari kalian menyadari kalau sulap adalah hal yang umum dalam panggung hiburan.. Sebagian mengatakan itu tipuan, namun sebagian lagi menyebutnya keajaiban.."

Semua orang memeperhatikan. Tak terkecuali Naruto. Entah kenapa Naruto merasa pernah bertemu dengan orang ini.

Idate lalu melemparkan topinya ke udara. Dan tiba tiba topi itu berubah menjadi merpati.

wow... Semua penonton bertepuk riuh.

"Banyak yang bilang sih.. Trik Sulap hanya bisa dilakukan oleh pesulap.. Karena itu, disebut Trik."

"..."

"Dan Trik hanya bisa dilakukan oleh orang orang yang mengetahui rahasianya." lanjut Idate lagi.

"..."

"Tapi aku tidak setuju.."

"..."

.

.

".. Aku mempercayai, kalau semua orang disini bisa melakukan trik sulap."

Semua nampak terdiam mendengar ucapan Idate. Benarkah? Yah, itu akan hebat bila kau bisa mengeluarkan keajaiban dengan sendirinya tanpa harus tau triknya.

Idate tersenyum.

"Maka dari itu... Asistenn.."

Idate memanggil asistennya yang ada di belakang panggung.

.

Naruto melotot lagi saat dia melihat Sasuke kini sudah berpakaian rapi layaknya seorang asisten. Dia mendorong sebuah almari besar yang biasa kita lihat dalam pertunjukkan sulap amatir.

Naruto bahkan bisa tau saat Sasuke menatap Idate dengan arogan sembari mencibir pelan. Naruto tidak bisa menahan tawannya sekarang. Dia tertawa pelan diantara riuhnya penonton. Sakura juga nampak senyum senyum sendiri melihat Sasuke dijadikan pembantu.

Sedangkan sebagian penonton yang lain malah : Kyaa.. kakak ganteng yang tadi..

.

Dengan malas, Sasuke mendorong lemari (mungkin bisa kita sebut peti) tepat ke samping Idate.

"Terima kasih asisten." ucap idate lagi.

Sasuke pun beranjak pergi setelah dipersilahkan (diusir) dari panggung.

.

Kembali ke panggung.

"Nah.. Kalian tau sulap menusuk peti menggunakan pedang?" tanya Idate.

Semua penonton menjawab serempak dengan jawaban yang sama.

"tauuuuu..."

Idate tersenyum.

.

"Asal kalian tau... Aku tidak akan melakukan sulap itu untuk kalian.." Lanjut Idate

"..."

.

.

"...Namun, kalian yang akan melakukan sulap itu untukku." Idate menghampiri peti itu dan menepuknya.

Dia tersenyum.
.

"Maka dari itu.. aku butuh dua orang sukarelawan." jelas Idate lagi. Dia membuka peti itu dengan tangan kirinya.

Krieeet..

Tiba Tiba.

.

"NYAWWWWWW!" Seekor kucing keluar dari peti itu. Idate juga nampaknya kaget dengan kaberadaan kucing ini.

Naruto melotot melihat kucing yang dikenalinya. Tanpa sadar dia berteriak..

"FOXX!"

"O-Oranye?!"

.

.

"Ah.. Sepertinya ada yang bersedia menjadi sukarelawan."

Naruto menoleh ke Hinata yang juga ikut berteriak.

Dan.. Semua menoleh ke Naruto dan Hinata yang sudah berdiri dari posisinya. Tidak terkecuali Fox yang kebingungan dengan keadaan sekitar.

Bahkan Sakura, Shino dan Kiba melotot tidak percaya dengan kedua temannya ini.

Tidur siang di sebuah peti nampaknya bukan ide bagus Fox.

Naruto dan Hinata hanya menatap canggung orang-orang yang memandanginya. Yah, mereka hanya reflek berteriak saat mereka sadar melihat kucing kecil yang ada di atas panggung.

...Itu Kucingku...

...itu kucingku dattebayo!

.

.

~iwdwiw~

.

Skip

Err.. well, berdiri diatas sebuah panggung dengan orang ini adalah keinginan terakhir Hinata. Dia kini sudah berada di atas panggung bersama Naruto.

"Okee.. beri tepuk tangan dengan kedua orang ini." Suara tepuk tangan menyambut Hinata dan Naruto.

Naruto sepertinya tidak tertarik dengan hal lain selain Fox. Karena dia malah celingak celinguk mencari kucing kecil itu. Yah sial, Fox berlari ke belakang panggung tepat saat Naruto beranjak dari kursi penonton. Mungkin dia takut dengan sesuatu atau semacamnya, mengingat situasi ramai seperti ini memang bukan kesukaan kucing.

well, semoga saja Sasuke atau siapa akan menangkapkan Fox untuk Naruto di belakang panggung.

Di belakang tirai, Nampak Yukata, Matsuri dan yang lain, termasuk Sara dll kini menatap Naruto terkejut. Tidak ada yang menyangka kalau Naruto bersedia menjadi sukarelawan dalam pertunjukan sulap ini.

.

"Nah untuk singkatnya.. Bagaimana kalau kau segera masuk ke Peti." ucap Idate. Dia menunjuk Naruto.

"Ha?" Naruto malah celingak celinguk. Namun dengan paksaan Idate, Naruto didorong masuk ke dalam peti.

"Ap- Oii!"

Naruto bak seorang tahanan saat Idate dengan seenaknya menyegel peti itu dengan gembok dari luar.

"Oi.. Tunggu dulu-" Namun Narto masih bisa menjembulkan kepalanya dari sebuah lubang yang dikhususkan untuk kepala.

Idate tidak memperdulikan protes Naruto.

"Nahh.. Sedangkan untuk nona cantik disini.."

Hinata menatap Naruto dan menoleh ke Idate.

"... aku akan memberimu delapan bilah pedang.." Idate melepas jubahnya dan menutupi tangan kananya. Dengan sekali tarikan, delapan buah rapier di tangan Idate muncul entah darimana.

.

"... Kau tau apa yang harus dilakukan kan?" tanya Idate kepada Hinata.

Hinata mendecak.

.

"Tsk.. Bodoh, aku hanya tinggal menikamnya bertubi-tubikan?" tanya Hinata. Dia bahkan tidak menoleh ke Naruto.

Membuat Naruto melotot mendengar pernyataan Hinata.

"Watt? Hinata jangan.."

Idate sedikit ngeri mendengar hal semacam itu dikemukakan oleh seorang gadis.

"Err.. Secara tekhnis sih.. kau hanya harus menusuknya dengan setiap pedang ini sekali saja.. tapi ah,, terserah.."

Hinata menoleh ke Naruto.

"Jangan lakukan-Please." ucap Naruto lirih. Seakan memohon kepada gadis ini untuk tidak melakukan hal yang bisa menciderai tubuh Naruto.

Hinata malah menatap Naruto bosan. Tidak peduli.

"..." Hinata terdiam. Dia memegang salah satu rapier dengan tangan kanan, dan rapier yang lain dengan tangan kiri.

.

"Nah... Aturannya adalah-"

JLEB!

"HUWAAAAAAAAA!"

Idate menoleh saat dia tau Hinata sudah melakukan aksinya bahkan sebelum diberi aba-aba oleh Idate.

.

~i will do what i want~

.

FoREVer Street.

Ah.. Nagato. Berdiri di sebuah pintu rumah mungil yang seharusnya adalah tempat tinggal Naruto sekarang. Kata ketua Yamato sih, Ini adalah alamat yang benar.

Yang dia heran. Pintu rumah ini terbuka begitu saja. Nagato jelas mengasumsikan kalau ada orang di dalam. Jadi, tepat beberapa detik yang lalu, dia berucap "permisi"

Dan yang dia dengar adalah..

"Iyaa Sebentarr~~" Suara lembut seorang gadis.

"..."

Nagato cukup yakin kalau ini adalah alamat yang benar. Jadi dia sedikit penasaran siapa yang ada di dalam.

Saat dia berniat mendongak ke dalam untuk melihat. Nampak seorang wanita menampakkan diri.

"Anoo.. Cari siapa ya?" tanya Izumi.

Nagato terdiam.

Merasa ada gadis cantik di depannya, Nagato semakin tidak yakin dengan alamat yang dia cari. Bahkan seorang anak yang digendongnya membuat Nagato optimis ini bukan alamat Naruto.

"..."

"En... Apakah aku salah alamat?" Nagato malah bertanya ke Izumi persoalannya sendiri.

"Ha?"

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TBC

xxxxxxx

Author Note(s) : Lalalala~ Hanzama is back.. Maaf adegan sulapnya Hanzama potong wkwk.. Sebenarnya sih, adegan idate bukan adegan yang terlalu harus disoroti jadi.. Yah mungkin segitu ajah.. #didaprak

but sloww,, masih ada keseruan2 di chapter depan jadi.. still stay with hanzama,

Hanzama akan menyelesaikan apa yang sudah hanzama mulai jadi.. IWDWIW akan hanzama rampungkan sampai chapter terakhir *kalau nggak ada halangan*

nah, sekarang membahas soal darui.. mm, mungkin baru disini kali ya Sosok "Darui" berubah jadi biang komedi. Entah hantu apa yang menghantam hanzama. tapi sekarang setiap nonton Naruto trus lihat darui, bawaannya pengen ketawa.. Yahh.. mungkin salah satu pembangunan tensi yang hanzama coba di awal bisa dibilang berbuah manis di akhir.. hanzama juga seneng sih kalau orang orang yang biasanya kurang disoroti di anime bisa berperan penuh meskipun hanya di fanfic hanzama.. hiks.. hanzama bak seorang ayah sekarang.. hikss..

err. oke abaikan yang ini.. yang jelas, sekarang kita tau dimana Fox..

Okesip. hanzama sedih harus mengakhiri chapter ini tapi... Hope you enjoy! Meet again in chapter 72!

Byee!

.

.

Kembali ke Naruto.

Memang magic.. entah bagaimana caranya, setelah 8 kali tikaman. Tidak tampak darah setetespun dari tubuh Naruto saat dia sudah keluar dari peti (mati). Naruto bahkan tidak mau tau trik apa yang mendasari dirinya tidak terluka barang segores, intinya dia selamat.

"Cih.." Hinata malah nampak kecewa saat pedang pedang yang dia tusukkan tidak ada yang menembus badan naruto.

"Nah itu lah yang aku maksudkan dengan magic.." Diiringi dengan tepukan oleh para penonton, Idate membantu Naruto yang sempoyongan karena baru saja lolos melewati sakarotul maut.

Naruto melirik ngeri hinata yang terlihat sangat cuek bahkan terkesan kecewa. Saat pandangan mereka bertemu, naruto tanpa sadar melemparkan senyum kepada hinata

Namun Hinata malah melotot.

Idate lalu mempersilahkan duduk kembali kepada Hinata. Dengan anggukan pelan, Hinata pun kembali ke tempat duduknya.

Saat Naruto berniat membuntuti Hinata, tangannya dipegang oleh Idate.

"... Kami masih membutuhkan satu sukarelawan di trik berikutnya." balas Idate.

Naruto terdiam. Dia menatap Idate.. Bahkan saat Idate berucap lagi.

.

.

"Katakan padaku.. Naruto-kun..."

.

.

"...Apa kau pernah melihat trik melempar pisau dengan mata tertutup?"

"..."

.

.

KRITIK DAN SARAN

V

V

V