Chapter 78 : The Bad Luck Still
Naruto © Masashi Kishimoto | I Will Do What I Want © Hanzama | Rating : T(+) | Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |
.
BIG WARNING FOR CHAPTER 78 : Chapter terakhir sebelum drama.
.
Gaara
Entah sejak kapan dia terpisah dari Shikamaru. Yang ia ingat, dia tadi sedang berbincang bincang di tenda peralatan klub pengembang game Uzushio sebelum akhirnya mereka diusir karena dikira ingin mencuri.
Sebenarnya sih, sedari pagi tadi dia mencari Matsuri karena Gaara ditelfon untuk segera ke sekolahan dan mempersiapkan drama nanti siang. Namun Gaara tidak bisa menemukan batang hidung gadis itu bahkan saat dia sudah mondar mandir dari ruangan klub sampai halaman sekolah berkali-kali. Yah, kau tidak bisa mengharapkan perempuan, mereka itu memang kadang susah dicari. (Dalam kasus ini, Hanzama tidak menyinggung perihal jomblo)
".. Take The Time. Just to listen..~"
Gaara memegangi celananya saat dia merasakan HP nya bergetar dan berbunyi. Saat dia berhasil mengeluarkan HP dari kantongnya,
Nah ini dia!
pucuk dicinta ulam tiba. Ternyata Yang menelfon adalah Matsuri. Gaara dengan segera mengangkat dan mendekatkan HP nya ke telinga.
"Halo..?"
"Halo.. Gaara senpai? Kau dimana? Aku sudah sampai di sekolah!" Ujar Matsuri dari sebrang.
"Uhh.. Aku ada.. di dekat stand Boneka milik Uzushio." Jawab Gaara. Sembari melangkahkan kakinya, dia masih tetap menempelkan HP itu di telinganya.
"Oh.. Kalau begitu dekat ya.." lanjut Matsuri.
Gaara mengernyitkan dahi. Dia celingak celinguk mencari Matsuri. Namun nyatanya orang yang ia cari tidak terlihat.
"Halau Gaara sen- aduh... aww.. awas.. permisi."
Gaara diam mendengarkan suara dari sebrang. Sebelum tiba tiba suara itu tidak tedengar lagi.
"Halo Matsuri? Kau disana? Haloo?"
Brukh!
"Aduh." Karena meleng, Gaara menabrak seseorang dari belakang.
Gaara menoleh, berniat meminta maaf.
"Maaf aku tid-"
Sebelum kata katanya berhenti karena dia melihat sosok itu lagi. Sosok yang ia lihat dikala malam itu.. Sosok Matsuri yang lain.
"Gaara senpai! Ya ampun aku kira siapa!" ucap Matsuri daat dia tau kalau Gaara lah yang barusaja menabraknya,
Sedangkan Gaara hanya terdiam mematung, Melihat Matsuri yang berpakaian ala bagsawan kerajaan, persis seperti malam kemarin.
"Gaara senpai?" tanya Matsuri saat melihat senpainya malah melamun menatap dirinya.
"..." Gaara terdiam.
"Halloo?" Matsuri mengibaskan tangannya di depan wajah sang senpai.
Hingga akhirnya Gaara sadar dari lamunannya.
"H-Hai.." Ujar Gaara sekenanya.
Matsuri tersenyum.
Sebelum dia menunjukkan paperbag yang ia bawa kepada Gaara.
"Saatnya mencoba kostum mu." ujar Matsuri.
Bak terhipnotis akan pesonanya, Gaara hanya mengangguk pasrah saat Matsuri menyeret dan memegang tangannya.
Tunggu? Bukankah Gaara sudah mencoba kostumnya kmarin?
.
~iwdwiw~
.
ItaIzu
"Mama.. Ayo kita ke festival lagi."
Izumi sedikit menajamkan pendengarannya saat dia mendengar ucapan Itachi. Tunggu, apa Itachi barusaja memanggilnya mama?
"Kau barusaja memanggilku apa?" tanya Izumi kepada Itachi. Oke, itu aneh, semenjak mereka menikah, baru kali ini Itachi memanggilnya mama.
Itachi malah menyeringai. Sebelum dia mendekat ke Izumi dan berbisik tepat di telinganya.
"Ayo kita ke festival lagi mama."
Izumi yang geli karena perlakuan Itachi malah dengan sengaja menyikut wajah sang suami dengan tangan kanannya.
"Jangan begitu disini ah itachi! Malu!" ucap Izumi. Yah, bisa gawat kalau tiba tiba Sara, atau Nagato yang masih dirumah tiba tiba melihat Itachi yang sedang menggila.
Meskipun yang lain sudah berangkat ke sekolah duluan karena sedang persiapan tampil, tapi membayangkan kalau Nagato yang kebetulan tamu tiba tiba melihat mereka, pasti Izumi akan malu sendiri. Apalagi Izumi dan Itachi kini tengah ada di ruang tamu.
Sedangkan Hikari yang tengah duduk disamping sang ibu, hanya menatap heran sang ayah yang kini tengah menerima KDRT.
"Hoamm.. Ohayo.." beberapa detik tiba tiba datang sosok yang menganggu kegiatan mereka berdua.. err bertiga.
"Oh.. Kau sudah bangun? Nagato." Sapa Itachi. Nagato hanya mengucek matanya yang belum sepenuhnya terbuka.
"A-Ah.. Selamat Pagi Nagato-san," Sapa Izumi juga melihat Nagato yang sudah bagun dari istirahatnya.
"Hn." Nagato hanya mengangguk pelan.
"..."
"..."
.
"Naga... to."
"..."
HA? Izumi dan Itachi menoleh ke anak semata wayangnya. Memastikan kalau mereka tidak salah dengar. Tunggu, Hikari bicara lagi?
"Hika-"
"Naga..to." ucap Hikari sembari menunjuk sang pemuda berambut merah. Memotong suara Izumi.
Nagato diam, dia menatap sang bocah dengan tatapan sok keren.
"O-Oh.. Hai." balas Nagato sembari mengangkat tangannya kepada Hikari.
Itachi melongo.
"H-Hikari?!"
WAT?! Sekarang anaknya bahkan bisa menyebut Nagato.
"..." Hikari menoleh ke sang ayah, menatap dengan tatapan arogan seperti biasanya.
"H-Hikari.. Ini Papa.." ucap Itachi sembari menunjuk wajahnya sendiri. Berharap sang pria kecil bisa berucap 'papa' barang sekali.
Hikari malah menggeleng. Tangan mungilnya mengacung ke Nagato.
"Nagato!"
Itachi menoleh ke Nagato sembari memberikan death glare.
"..."
"..."
"..."
Yah.. dua kata yang keluar dari Hikari.. Satu : Cacuke, Dua : Nagato ..
.
sebagai orang tua.. Izumi dan Itachi kalah telak.
Hanya perasaanku, atau mungkin Hikari memang seratus persen sadar atas apa yang ia lakukan? ah tapi biarlah.
.
~iwdwiw~
Fox
Entah merasa bersalah atau tidak. Namun Hinata sepertinya malah santai saja, saat dia mendapat telfon dari Shion karena tidak jadi ke apartemen Menma tadi malam.
"Iyaa.. Aku kan sudah bilang maaf, namanya orang lupa.." ucap Hinata santai.
Shion yang ada di sebrang sepertinya kurang puas dengan jawaban Hinata.
"Nee.. Kau tau Hina... bla bla blabla-"
Hinata kemudian me loud speaker HP nya dan meletakannya di kasur. Kemudian dia membuka lemari bajunya dan memilih baju.
Sembari mendengarkan Shion dan sesekail menjawab hn/yup/iya. Dia melirik Oranye yang kini tengah menggaruk garuk pintu kamarnya menggunakan Kuku.
Yah, Oranye sudah melakukan kegiatan itu sejak 10 menit lalu. Bahkan tadi pagi saat Hinata membuka pintu kamar, Oranye dengan tiba tiba berlari keluar kamar, berlari mengitari rumah sebelum akhirnya dia menabrak Hanabi dan menakuti gadis itu. Untung Hinata sigap mengejar Fox dan kembali memasukkannya ke kamar.
"Oranye?" ucap Hinata,
Kucing itu tidak menoleh.
.
.
Oke, kita akan narasikan percakapan mereka berdua.
"Oranye?" Ujar Hinata.
'Cih.. Aku bukan oranyew..' batin Fox Sombong.
Fox masih melanjutkan kegiatan, menggaruk garuk pintu itu.
Yah ini memalukan, Bahkan untuk seorang Fox sekalipun. Sebenarnya Fox sempat berharap untuk kabur lewat jendela atau semacamnya, seperti yang pernah Fox lakukan di FoREVer street. Namun sepertinya Fox tidak bisa mempraktekkan skill nya itu disini..
'Nyawww' (Hahh~ Merepotkan)
Detik berikutnya, Hinata menghampiri Fox.
"Kau kenapa Oranye? Lapar?" tanya Hinata. Dia berusaha membopong Fox, tapi Kucing itu berontak.
'Nyawwwww!' (Lepaskan Bodoh!)
Fox melompat turun dari tangan Hinata. Dia mengeong ke Hinata.
'Nyaw nayww!' (Jangan pikir kau bisa menyogokku dengan sarden lagi gadis!)
..
Hinata menatap Fox.
"Kau ingin susu?" tanya Hinata.
Nyakh! Fox tidak bisa berkata-kata.
.
"..."
Fox melirik Oppai
Dasar manusia, tidak sopan sama sekali. Bahkan Kucing ditawari susunya.
"..."
Fox diam menatap gerak gerik Hinata, Sampai gadis itu menghampiri tasnya dan mengeluarkan kantong plastik, dia lalu mengeluarkan sebotol susu frisian fla-e..ehem.. yang dia beli tadi malam.
.
Fox menatap lega apa yang dilakukan Hinata.
Oalahh.. ternyata susu yang ini bukan yang itu.
.
~iwdwiw~
Sara
Nagato yang baru saja slesai mandi terganggu oleh sebuah suara. Yah, entah suara apa. Karena dia memang kurang kerjaan dan tidak ada yang bisa dia lakukan. Naruto juga sepertinya sudah pergi.
Suara mengerang keras seperti suara iblis.
.
Suara itu tidak terdengar untuk beberapa saat, namun itu membawanya ke basement. Dimana nampak seorang gadis yang sedang menggunakan mesin cuci.
Oalah.. Tadi itu, suara mesin cuci..
"Kau sedang apa-"
"WHOA!" Sara terkaget saat dia mendengar orang bicara. Yah, dibawah sini memang cukup menyeramkan, bahkan kau tidak akan menyadari sinar matahari disini. Saat tiba tiba terdengar suara, suara itu akan menggema ke seluruh ruangan.
Suara Nagato seratus persen membuat Sara kaget, sehingga hampir saja dia menumpahkan satu kotak penuh deterjen hanya pada sebuah gaun.
Sara membalikkan badan.
"A-Apa yang-"
"Hahaha.. maaf, aku mengagetkanmu?" tanya Nagato. Nagato menggaruk-garuk rambutnya sendiri.
Sara menelan ludah.
Wah sialan. Dikagetkan seseorang memang hal terakhir yang Sara harapkan dipagi hari. Kalian tau? percaya atau tidak, setelah kemarin Sara memakai gaun yang dia pinjam di ruangan ini (yang tengah ia cuci sekarang), tadi malam dia mimpi buruk. Entah apa yang ia impikan, tapi yang bisa ia ingat hanya wajah buruk seorang gadis yang memakai gaun yang ia cuci sekarang.
Bagi Sara, itu tentu pertanda, bahwa Dia harus mengembalikan gaun ini ketempat semula. Dalam keadaan bersih.
Nagato menatap Sara, Gadis di depannya terlihat seperti orang tidak tidur semalam.
"Kau tak apa?" tanya Nagato.
Sara hanya menggeleng.
"A-Ah.. Aku tak apa senpai. Aku hanya, bermimpi buruk tadi malam." Ujar Sara jujur.
Yah, Sara melihat orang ini sejak dia pulang kemarin, tapi mereka belum sempat kenalan.
Nagato hanya mengangguk. Dia melirik ke seluruh penjuru ruangan ini. Ruangan lembab yang tidak menganggu Nagato sama sekali. Saat dia menoleh ke sebuah sofa tua yang ada di sana.
"..."
Nagato lalu menoleh Ke Sara.
"Kau butuh bantuan?" tanya Nagato.
"Eh? Emm.. Aku tidak.." balas Sara.
Nagato mengangkat bahu.. Sebelum dia berucap lagi.
.
"Baiklah.. Aku akan menemanimu disini... sampai gaun itu slesai kau cuci." ucap Nagato, dia duduk di anak tangga paling bawah.
"Err.."
Sara menatap Heran Nagato. Namun pada akhirnya dia hanya membiarkan.
.
.
~IWDWIW~
~Side Story~
~Break The Xover Wall~
~Flashback~
.
"Bunga Sakura, Seekor Naga dan Kakek Rubik."
.
Flashback.
Versi kecil dari Sakura dan sepupunya.
Haruno Sakura. 6 tahun.
Kala itu musim dingin melanda konoha, dan itu adalah saat dimana Sepupu Sakura masih bersekolah di jepang, err.. yah, setidaknya untuk beberapa minggu kedepan.
Sakura memang tipikal anak kecil pendiam diwaktu dirinya SD. Sekali-duakali dia bicara, namun itu tidak lebih banyak dari diamnya. Pemalu, mudah tersinggung, dan mood yang tidak konsisten. Mungkin itulah kenapa dia hanya memiliki teman sedikit sewaktu SD.
Tapi err.. sebenarnya bukan hanya itu.. Sebut saja ada seorang pemuda tempramental yang selalu membayangi hidup Sakura sehingga tidak ada yang berani dekat dekat dengan si pink ini.
Natsu Dragneel. 6 Tahun (-lebih dikit)
Tempramental, mudah tersinggung, ceroboh dan... terobsesi dengan api.
Yah, dia adalah bocah sableng yang saat upacara bendera membawa minyak tanah dan obor. lalu dengan sengaja berteriak : KARYUU NO HOKOUU! Sembari menyembur sang kepala sekolah dengan 'nafas api' miliknya.
Dia juga bocah yang sama yang membakar celana olah raga temannya yang mencuranginya saat bermain softball.
Percayalah, Natsu Dragneel adalah urutan teratas dalam daftar "Top 10 Anak nakal yang tersertifikasi, dalam Reverse Guiness World Record."
.
.
Disela angin dingin yang menghembus deadaunan foREVer street, memang tidak menghalangi beberapa orang untuk sekedar keluar dari rumah dan meluangkan waktu beraktivitas diluar ruangan.
Natsu Kecil dan Sakura kecil tengah bermain kejar kejaran kala itu. Mengejar dan tertawa satu sama lain di sepanjang trotoar yang berada tak jauh dari pekarangan rumah Sakura. Mereka memang seperti ini, lengket bak magnet sewaktu kecil. Bahkan kalau orang tidak teliti, pasti mengira kalau mereka adalah saudara kandung. Padahal bukan.
lama mereka bercanda satu sama lain, hingga kaki mereka terhenti oleh sebuah suara.
Natsu berhenti tepat di sebuah rumah sederhana yang masih berada di lingkungan foREVer street. Sakura yang tengah berlari di belakangnya pun terhenti menubruk pundak bocah yang ada di depannya.
".. aduh.. kenapa sii.." gumam Sakura yang menubruk Natsu dari belakang.
Sayangnya, Natsu tidak menjawab, karena dia kini tengah memperhatikan seorang kakek tua yang tengah duduk di depan rumahnya sendiri.
Kakek yang kini tengah bermanja di sebuah kursi goyang. Ditemani sebuah radio tua yang mengalunkan irama lagu barat 90 an.
Yang membuat Natsu tertarik adalah karena kakek itu kini tengah memainkan sebuah rubik 3x3 dengan memejamkan mata.
Yah, Natsu tau apa itu rubik. Dan itu adalah sebuah kubus teka teki mekanik dimana kau harus menyatukan kembali setiap warna satu dengan lainnya. Natsu pernah sekali mencobanya dulu, namun berakhir dengan membantingnya ke tanah karena tidak sabar dengan teka teki yang kompleks.
Sakura yang ada di situ berbeda dengan Natsu yang tertarik, dia malah menatap takut dengan sang kakek yang kini tengah memejamkan mata, bukan apa-apa, namun itulah Sakura, pemalu dan memang takut dengan orang asing.
Dengan isyarat mengajak Natsu untuk segera pergi, Sakura mencoba menarik narik syal putih Natsu dengan sedikit keras. Namun sayang, bukannya menuruti isyarat Sakura, Natsu malah mendekat dengan langkah pasti menuju sang kakek.
.
.
"Bunga Sakura, Seekor Naga dan Kakek Rubik."
.
di depan sang kakek itu, Natsu masih mengamati bagaimana tangan lincah orang tua itu memutar mutar rubik yang ada di tangannya. Natsu sempat terpana dengan kemampuan orang di depannya yang memutar rubik itu bak profesional.
Sakura. Dia hanya bersembunyi di balik pundak Natsu dan ikut memperhatikan.
sret
sret
sret
sret
Tap.
dan yap.. Rubik itu sudah slesai dipecahkan. Mempertemukan kembali warnanya satu sama lain.
PROK!
PROK PROK PROK PROK PROK PROK!
"WOWW!" Tanpa disadar. Natsu malah berteriak senang dan bertepuk tangan. Melihat orang tua yang ada di depannya berhasil memecahkan teka teki rumit itu.
Orang tua yang duduk di kursi goyang itu sedikit terkaget mendengar suara orang bertepuk tangan.
"WIHH! Anda hebat sekali kek!" ucap Natsu kegirangan.
Sang kakek hanya mendengarkan dan tersenyum setelahnya.
.
.
"Ara.. Jarang sekali aku mendapat tamu.. siapa kamu?" tanya sang kakek. Tidak beranjak dari kursi goyang nya. Dia menampakkan senyuman dibalik wajah kriputnya. Membuat Sakura sedikit melunak rasa takutnya saat melihat raut ramah sang kakek.
Natsu tersenyum lebar.
"Aku! Natsu! 6 Tahun!" ucap Natsu senang. Natsu menoleh ke Sakura.
"...dan ini Sakura.. Sepupuku!" lanjutnya.
Sakura mengangguk. "D-Domo." ucapnya.
.
.
Sang kakek tertawa. Yah, di usianya yang seperti ini memang jarang sekali untuknya berkomunikasi dengan orang lain. Keterbatasan yang ia miliki juga membuatnya sulit berhubungan dengan lingkungan sekitar. Entah kenapa rasa senang tiba tiba menyeruak di hati saat kegiatannya di pagi hari tiba tiba diganggu oleh suara orang lain.
Sang kakek membalas perkenalan kedua bocah ini dengan senyuman ramah.
.
.
"Aku.. Hagoromo.. salam kenal." ucapnya.
Natsu meringis. hehe..
.
"Kalian tinggal di dekat sini?" tanya sang kakek.
"Yup." jawab Natsu ".. Kami tadi tengah bermain dan melihat anda duduk di sini.. anda tau? menyelesaikan teka teki yang rumit itu dengan singkat.. anda Hebat sekali!" puji Natsu sembari melirik rubik dipegang sang kakek Hagoromo.
sang kakek tertawa. Pemuda lugu dan pemikirannya yang polos pikirnya.
.
Mengabaikan pernyataan sang pemuda, Kakek Hagoromo malah menawarkan sesuatu.
".. Ano.. Apa kalian haus?" tanya kakek itu kepada Natsu dan Sakura.
Natsu menatap sang kakek lalu menoleh ke Sakura.
Sakura membalas tatapan Natsu dengan jawaban pelan. "Emm.. Sedikit."
.
Kakek itu mengerti. Setelah mendengar jawaban Sakura, dia lalu berdiri dari duduknya.
"Tunggu disini. Sepertinya aku punya sedikit jus di dalam." ucap sang kakek.
Natsu hanya mengamati sang kakek. Sebelum sang kakek itu berdiri, mengambil tongkatnya dan berjalan mendekati pintu, Sembari mengetukkan ujung tongkatnya ke tanah.
Natsu langsung menyadari sesuatu.
.
.
.
'dia buta.'
.
.
Skip.
Semenjak saat itu, Natsu dan Sakura sering main ke rumah sang kakek tuna netra tersebut. Sesekali mengobrol dan bermain rubik bersama. Terkadang Natsu juga menceritakan harinya di sekolah, tentang dia yang mengerjai kepala sekolah, berbuat onar dan dihukum. Segala sesuatu tentang kenakalannya.
Pernah di satu hari Natsu menantang kakek Hagoromo untuk menyelesaikan rubik yang mana Natsu lah yang mengacak rubiknya. Dengan harapan sang kakek tidak bisa menyelesaikan rubik tersebut, Natsu memutar mutar benda kubus itu selama kurang lebih tiga jam.
Bahkan dengan percaya diri tingkat dewa, Natsu berucap : kalau kau tidak bisa menyelesaikannya, maka radio tape tua mu akan menjadi milikku' ucap Natsu kala itu. Dan Hagoromo dengan santai mengiyakan saja.
Saat dia pikir kalau hasil acakan-nya akan membingungkan sang kakek, dia harus dibuat kecewa karena kakek hagoromo berhasil memecahkan rubik itu dalam waktu tiga menit.
Sakura dan Kakek Hagoromo tertawa terbahak bahak kala itu karena Natsu kalah atas taruhannya sendiri.
.
Sang kakek Hagoromo juga membagi trik untuk menyelesaikan rubik tersebut kepada Sakura dan Natsu.
Sakura sepertinya mengerti sedikit karena saat praktik, dia bisa mengabungkan 2 warna. Namun Natsu tidak begitu, dia malah ribet tambah ribet, pusing tambah pusing.
.
Hingga suatu hari.
"Hagoromo Ojiisan!" teriak Natsu di depan pekarangan kakek Hagoromo.
Hagoromo yang tengah menyapu halaman pun dibuat menoleh ke sumber suara. Yah, suara yang familiar.
"Hm.. Ada apa?" tanya sang kakek.
Natsu berhenti tepat di depan sang kakek, Nampak juga Sakura yang membuntuti.
Sedikit mengatur nafas, Natsu akhirnya bersuara lagi.
"Pinjam rubik nya!" ucap Natsu semangat.
Hagoromo memiringkan kepala.
"Untuk apa? kau mau menantang ku lagi?" tanya Hagoromo dengan sedikit nada bercanda.
Natsu mengiyakan.
"Tentu saja! Tapi kali ini, rubik nya harus ku bawa pulang! Akan ku acak dengan sangat sangat sangaat rumit di rumah nanti." ucap Natsu.
Hagoromo diam sejenak sebelum akhirnya mengangkat bahu.
.
"Ya sudah bawa saja." ujar kakek tua itu mengiyakan permintaan Natsu.
Natsu menyeringai.
.
Yah, Natsu masih percaya kalau sebenarnya kakek Hagoromo tidak buta. Dia hanya mengerjai Natsu dan Sakura dengan tingkahnya, dan Natsu masih mencoba membuktikannya. Maksudku, tidak mungkin kan seorang tuna netra bisa menyelesaikan rubik kompleks dalam waktu 3-5 menit?!
.
.
.
Skip.
Hari terus berlalu, Hagoromo pun tetap menjalani aktivitasnya seperti biasa. Namun sudah terhitung 7 Hari dia tidak mendengar suara Natsu. Bahkan dia lebih sering mendengar suara Sakura yang berkunjung sendirian. Yah, bocah enerjik itu tidak 'kelihatan' selama beberapa hari.
Hingga datang hari ke delapan.
.
"Bunga Sakura, Seekor Naga dan Kakek Rubik."
.
"Konnichiwa."
Hagoromo bisa mendengar suara lembut Sakura dari gendang telinganya.
"Ah.. Sakura?" sapa kakek itu. Dia pun menghentikan kegiatannya mencabuti rumput dan berdiri.
"Kau sendirian?" tanya Hagoromo.
Sakura diam sebentar dan hanya mengiyakan.
Mendengar nada Sakura yang sedikit setengah hati, Hagoromo mengasumsikan kalau Sakura membawa berita buruk.
"Dimana sepupumu? Apa dia tidak berkunjung hari ini?" tanya Hagoromo.
Sakura menjawab pelan.
.
.
"Um.. Dia harus pindah ke luar negri hari ini." ucap Sakura.
Hagoromo terdiam. Entah kenapa dia merasa seperti kehilangan.
"Begitu ya?" tanya Hagoromo.
"..." Sakura diam.
Yah, Hagoromo memang bukan siapa-siapa. Namun mendengar kabar bahwa bocah berisik itu tiba tiba pergi jauh, entah kenapa membuat Hagoromo seperti kehilangan seorang cucu.
".. Heh.. Sayang sekali sepertinya tantangan yang dia janjikan tidak bisa terpenuhi." ujar Hagoromo mencoba menghibur diri.
"Umm.. Soal itu-"
"..."
"- Natsu menitipkan rubiknya padaku. Dia bilang untuk mengembalikannya lagi kepada anda." ujar Sakura, menyodorkan rubik familiar yang ia pegang kepada pemiliknya.
Mendengar itu, Hagoromo merasa senang. Yah, pada akhirnya, hanya rubik ini lah penghibur lara nya.
Namun saat dia menerima rubik itu dari Sakura, entah kenapa dia merasakan sesuatu yang berbeda dari rubik tersebut. Dia meraba-raba rubik itu berulang kali, dan dia tidak dapat merasakan tekstur kasar bekas tusukan jarum yang biasa ia raba untuk membedakan warna. Semuanya licin.
.
Yah, dimata normal, Kau akan melihat rubik itu kini setiap warnanya sudah tertutup oleh lakban hitam yang dibentuk kotak dan digunakan untuk menumpuk warna aslinya. Kau masih bisa memutarnya, namun sudut apapun yang kau belokkan, pasti hanya akan ada warna hitam. Rubik Hitam, hanya warna hitam, tanpa ada warna lain selain hitam.
Hagoromo meraba raba setiap sudut licin itu. Kemudian ia mendengar lagi Sakura bersuara.
"Oh iya... um, Ada pesan dari Natsu.." ucap Sakura.
"..." Hagoromo diam.
"Dia bilang : Silahkan Pecahkan puzzle nya." Lanjut Sakura.
.
Hagoromo malah tersenyum.
'Dasar bocah curang.'
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
TBC
xxxx
Author Note(s) : Oyoyoyoy~ Hanzama Is Back! Gomeeeeeeeeeeeeeeeen apdetnya lama~~ *didepak*
Oke, yang ini Hanzama benar benar minta maaf, hanzama memang akhir2 ini sulit membagi waktu. Kegiatan buanyaaak .
Padahal Iwdwiw masih puanjaaangg =.=
Oke lah sedikit membahas chapter ini. Yah ini adalah chapter yang menceritakan sedikit penggalan dari sejarah rumah tua yang ditempati NSS+ISF (NaruSasuShika+IzuSaraFuu) Kurang lebih seperti itu. Dan yap, sedikit menilik waktu ke awal dimana Rubik yang diceritakan sempat dilihat Naruto di chapter 4 (kalau gak salah) Rubik Hitam
Jujur, ini memang sedikit improvisasi yang sedikit ekstrim dari Hanzama, dimana hanzama mulai menyeret tokoh fandom lain untuk aktif berpengaruh lebih dalam ke cerita, namun hanzama pikir tidak ada masalah (sepertinya) mengingat memang banyak hal yang tidak masuk akal terjadi di fanfic ini.
Hanzama hanya mencoba melakukan ekspansi sudut pandang dan meramaikan fandom monoton yang karakternya hanya itu-itu saja. Dan bisa dibilang ini adalah eksperimen gila dari seorang author. But whatever.. fack it.. you know? orang bijak selalu berkata.
"Orang bodoh kalah dengan orang pintar.. orang pintar kalah dengan orang bejo.. dan orang bejo kalah dengan orang gila."
mungkin ini adalah awal dar revormasi dan revolusi mental dari sekian fanfic yang ada di ffnet. Semoga saja diluar sana semakin banyak author yang berani ambil resiko, berani berkarya murni atas asas 'imajinasi' dan terus menghibur tanpa kompromi. Author yang berani tampil 'beda'
Yah, semoga saja..
oh iya spoiler untuk :
Natsu Dragneel © Hiro Mashima
.
Okesip mungkin itu..
yang mau ngasih saran yang membangun silahkan tinggalkan komeng anda di review, yang mau mengkoreksi kesalahan apapun dari IWDWIW juga monggo. Hanzama setia menunggu,
Okey.. That's it.. Akhir kata..
Salam hangat dari Hanzama, semoga reader sukses selalu!
See you in the Next chap!
REVIEW
V
V
V
