Chapter 81 : Minutes After

.

"... Dan kau tau? Saat Happy berhasil aku tangkap. Semua sudah terlambat karena seluruh pot yang ada di pekarangan sudah benar-benar hancur."

Sakura tertawa. Mendengarkan dengan antusias cerita Kucing sepupunya yang bernama Happy. Sakura dan Natsu kini tengah bersepeda berdua. Lebih tepatnya Natsu yang menyetir dan Sakura duduk di kursi belakang. Sesekali bercerita saling mengutarakan pengalaman satu sama lain.

Natsu sepertinya juga sudah tidak merasa mual. Dan lebih santai sekarang.

"Jadi.. Kenapa kau memutuskan datang ke Jepang dengan tiba-tiba?" tanya Sakura. Sepeda itu membelok pelan mengikuti panah di aspal yang dikhususkan untuk jalur sepeda.

"Tentu saja untuk menjenguk kalian. Lagipula, sepertinya kau sangat sibuk sampai pesan singkatku tidak kau balas." balas Natsu.

Sakura menjitak sepupunya untuk kesekian kalinya hari ini.

"Tentu saja karena kau adalah anggota keluarga pengkhianat. Bahkan saat kau bilang sekolahmu libur panjang, kau tidak ada niatan berkunjung ke jepang!"

Natsu tertawa.

"Mungkin karena aku lupa kalau aku punya sepupu pendiam di jepang." balas Natsu membuat Sakura tersinggung.

"Ih.. Aku tidak pendiam!"

Natsu semakin santai mengayuh sepeda saat mereka berdua melewati jalanan yang memotong persawahan. Dia sengaja mengambil rute yang dia kenali sewaktu kecil, meskipun sudah sangat berbeda. Namun suasananya tetap membuat Natsu bernostalgia.

"Kalau dipikir, kau memang tambah cerewet. Berbeda dengan dulu, dimana saking pendiam-nya sampai paman Kizashi mengira kau sakit tenggorokan."

"Heh! Itu kan dulu! umurku 6 tahun!" Sakura semakin kesal karena digoda terus.

"Jadi kau pikir kau sudah dewasa sekarang heh?" tanya Natsu.

"Tentu saja bodoh!"

"Heh.. Kalau begitu, aku sudah tidak sabar berkenalan dengan pacarmu." Lanjut Natsu lagi.

Sakura kini diam.

Natsu tertawa lagi.

.

"Kan.. sekarang malah diam. Sudah kuduga kau tidak berubah." Natsu berucap senang. Membuat Sakura kesal, dan mencubit pinggang Natsu setelahnya.

"Ouch."

.

Naruto ©Masashi Kishimoto | Fairy Tail © Hiro Mashima | I Will Do What I Want © Hanzama | Rating : T(+) | Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |

.

Prok Prok Prok.

Dan yap, drama hari ini ditutup dengan tepuk tangan dari para penonton. Terlepas dari lagi-lagi adegan yang melenceng naskah, namun sepertinya bisa dikatakan bahwa drama kali ini aman.

Sasuke menatap Hikari yang kini tengah duduk diatas kotak perlengkapan di belakang panggung. Tidak disangka, hanya butuh sogokan makanan agar sang pria kecil bisa diam ditempat, tentu saja harus dengan diamati secara intens. Dan Sasuke memastikan semuanya berjalan lancar dengan terus mengamati keponakan kesayangannya, tidak mengalihkan pandangan sedikitpun.

"Dasar pembuat onar." gerutu Sasuke.

Hikari hanya diam, masih sibuk mengunyah sebatang snickers yang diberi oleh Shion beberapa waktu lalu. Entah memang kebetulan, atau sepertinya Shion sangat sukarela memberikan sesuatu pada Hikari. Jangan lupakan bahwa donat yang dibawa Hikari saat datang kesini bersama Shikamaru adalah secara tidak langsung pemberian Shion.

"Ah.. Disitu kau rupanya!"

Sasuke sepenuhnya menoleh saat orang-tua-tidak-bertanggung-jawab akhirnya kelihatan juga.

Sasuke menatap kedua orang yang menghampiri pojok belakang panggung dengan pandangan bosan. Sasuke bahkan tidak berniat barang mengomeli atau sekedar menegur. Yang ada hanya tatapan 'Satsuga-Baka-Aniki' yang dilayangkan Sasuke kepada Itachi. Yang merasa direpotkan tentu saja Izumi, meminta maaf berkali-kali kepada Sasuke karena merepotkan.

Sasuke hanya mengiyakan, dan menanggapi santai. Yah tak masalah sih. Dia menoleh ke Hikari, yang mulutnya belepotan coklat karena snicker nya di emut-emut.

"Bilang ke papa dan mama-mu. Jangan pacaran terus." petuah Sasuke kepada Hikari, Hikari membalas Sasuke dengan menjulurkan tangan. Sasuke menanggapinya dengan tos.

Itachi dan Izumi hanya tersenyum paksa.

XxXxXx

Masih dibelakang panggung yang sama, Naruto dan Nagato juga tengah berbincang bincang membahas sesuatu. Nagato datang dengan Sara tepat di pertengahan drama. Menyimak sandiwara klub drama Konoha dari belakang panggung.

"Tapi, kau kan baru sampai kesini kemarin." ujar Naruto, mengutarakan kekecewaan yang mendalam.

"Haha.. Aku tau Naruto, niat awalku juga setidaknya ingin disini satu minggu, tapi ada sesuatu hal yang harus kuurus ." Jawab Nagato, dia melirik jam tangannya.

Benar kata Naruto. Nagato baru sampai ke Konoha kemarin, dan tidak disangka hari ini harus berpamitan pergi.

"Aku tau ini menyebalkan. Tapi mau bagaimana lagi.."

Naruto menghembuskan nafas panjang. yaudah.. mau bagaimana lagi..

Nagato kini merasa bersalah. Terakhir Nagato berada di jepang sebelum hari ini, adalah saat dimana Nagato berjanji kepada Naruto bahwa dia akan membawa Naruto di perjalanan berikutnya. Namun sepertinya, hal itu tidak bisa dilakukan hari ini.

"..."

Mereka berdua terdiam. Sebelum akhirnya Naruto berucap.

"Yah.. mau bagaimana lagi.. Lagipula, aku sudah tidak tertarik untuk iku denganmu." ujar Naruto. Mencoba menanggapi dengan ucapan yang tidak sesuai kata hatinya. Dengan sedikit nada gurauan.

Nagato tertawa.

"Janji adalah Janji Naruto. Bagaimanapun juga, aku sudah berjanji mengajakmu untuk pergi bersamaku, namun melihat semua hal yang kau lakukan disini.. kau tidak mungkin meninggalkan sekolahmu begitu saja kan?" Balas Nagato. Dia menekankan kepada Naruto tentang teman-teman yang dimilikinya saat ini. Dan begitu megahnya kegiatan yang diurus oleh Naruto.

Naruto mengangkat bahu.

".. Mungkin setelah kau lulus, kau bisa mempertimbangkan lagi ajakanku." Lanjut Nagato. Detik berikutnya, dia melepas kalung yang ia pakai dan menyodorkannya kepada Naruto.

Naruto dengan ragu menerima pemberian Nagato. Sebuah kalung anyam yang memiliki dua warna Hitam dan Hijau. Kalung berbandul taring yang kurang lebih berukuran seujung jari kelingking. Melihatnya pun Naruto tau, kalung ini tidak berharga di toko perhiasan. Namun, bila yang memberi Nagato, kalung ini sangat berharga bagi Naruto.

"Janji sesama lelaki oke?" ujar Nagato. Dia menjulurkan tangan kanannya, berniat menyalami Naruto.

Naruto menatapnya, sebelum akhirnya terseyum lebar.

"Janji lelaki."

XxXxXx

Di luar gedung theater, Itachi dan Izumi (dan Hikari) menyalami Nagato.

"Kau yakin tidak mau bertemu dengan teman-teman akatsuki dulu? kita bisa mencari mereka sekarang, aku yakin mereka ada di suatu tempat di festival ini." tanya Itachi untuk yang terakhir kali

Nagato tersenyum lebar.

"Tak usah. Kalau aku bertemu mereka sekarang, aku tidak yakin bisa berpamitan setelahnya." ucap Nagato jujur.

"Begitu ya." balas Itachi. Sayang sekali. Padahal mungkin Konan akan sangat girang bila melihat Nagato. Tapi ah, biarkan saja lah. Itachi juga yakin Pein dan Konan masih sibuk membantu pentas pertunjukan yang akan tampil besok. Yaaa, membantu ber-akting lebih tepatnya.

"Terima kasih Itachi." ucap Nagato. Memberi jabat tangan kepada Itachi.

"Kau tau.. Kalau kau butuh sesuatu selama ada di jepang, kau bisa menghubungiku."

Nagato mendengus.

"Jangan khawatir, itu tidak akan pernah terjadi."

Itachi hanya tersenyum dan menggeleng. Dasar.

Nagato lalu menoleh ke Izumi.

"Izumi-san.. Terima kasih atas semuanya. Masakan anda enak." puji Nagato jujur.

Izumi hanya tersenyum kikuk. Sembari menggaruk pipinya.

Nagato lalu menoleh kepada Hikari.

"Bye-bye.. Itachi kecil."

Hikari menatap Nagato. Dia menjulurkan tangan kecilnya kepada Nagato.

"Naga.. to."

Nagato tertawa.

Itachi dan Izumi hanya menggeleng, satu malam Nagato menginap di foREVer street. Dan Hikari sudah bisa menghafal nama Nagato. Itachi dan Izumi kalah telak

.

Sebelum Nagato sempat benar-benar pergi, Sara nampak keluar dari gedung theater. Dengan tampang polosnya, Sara berbasa-basi kepada Nagato untuk yang terakhir kali nya.

"Kau beneran pergi senpai?"

Nagato menoleh.

"Hm Yap.. Aku sudah dikejar waktu."

Sara mengangguk. Tepat tadi pagi, Nagato menemani Sara sewaktu di basement dan mengobrol santai tentang beberapa hal. Nagato juga menceritakan bahwa dia harus pergi hari juga.

Sara sendiri, meskipun hanya berinteraksi secara minim dengan orang yang bahkan baru pertama kali ia temui ini, merasa setidaknya harus berbasa-basi sebelum kepergiannya. yah kau tau? berjaga jaga bila entah kapan bertemu lagi.

"Hm. Yauda. Hati-Hati."

Nagato mengacungkan jempol.

Setelah benar-benar selesai dengan upacara pamitan, Nagato akhirnya beranjak pergi.

"Oh iya.. Aku lupa memberi tahu sesuatu..." sebelum dia berbalik dan menoleh ke empat orang yang ia pamiti. Ketiga orang yang ada di situ Heran, hanya Hikari yang yolo.

Yang paling heran adalah Sara, karena Nagato tiba tiba mendekati Sara dengan sangat dekat. Bahkan hingga tidak ada jarak lagi.

Sara diam mematung saat mengetahui apa yang dilakukan Nagato.

.

Nagato mendekatkan bibirnya ke telinga Sara. Dia berbisik...

"... ada sesuatu di Basement kalian."

.

~IWDWIW~

.

Shikamaru kini tengah berbincang dengan orangtua nya. Yoshino menatap dalam Shikamaru.

Sedangkan Shikamaru, dia hanya menelan ludah menunggu nyonya besar mengatakan sesuatu yang merepotkan. Mau bagaimana lagi, meskipun beberapa jam yang lalu Shikamaru berusaha menghindar dari keluarga Sabaku dan keluarganya sendiri. Tapi pada akhirnya, Shikamaru harus menghadapinya juga.

"Hahh... ya sudah. Kami menyerah untuk menjodohkanmu." ucap Yoshino

"Benarkah?" tanya Shikamaru.

"Benarkah?" Anehnya, Shikaku juga ikut bertanya. Membuat Yoshino melayangkan death-glare kepada sang suami.

Setelah menghela nafas pendek. Yoshino melanjutkan.

"Kau sudah membuktikan bahwa kau tidak semalas yang kami kira."

"A-"

"Mengisi kehidupan SMA mu dengan ikut dalam kegiatan klub adalah sesuatu yang positif."

"Err-"

"Aku yakin kalau kau masih bisa mengatur kehidupanmu di SMA sendiri, mencari pendamping hidup tak perlu terburu-buru." lanjut Yoshino. Bahkan tidak memberi kesempatan Shikamaru untuk menjawab.

Shikamaru hanya membatin. 'Harusnya kalian pikirkan juga perasaan putri sulung keluarga sabaku'

"Dan aku senang melihatmu ikut pentas hari ini." Yoshino sedikit melunak kepada Shikamaru.

"..."

"Maksudku, dulu sewaktu TK, saat Naruto dan Sasuke ikut bermain peran, kau malah kabur dan memanjat pohon."

"..."

"Hingga akhirnya kau kena masalah dengan penjaga UKS karena dihinggapi ulat bulu."

"Ano-" Shikamaru berniat memotong sebelum sang ibu menceritakan lebih jauh hal memalukan sewaktu Shikamaru TK. Shikamaru melirik keluarga Sabaku dan pak penghulu yang kini tengah berbincang tak jauh dari tempat mereka ngobrol.

Menyadari kegelisahan Shikamaru. Yoshino segera meluruskan.

"Jangan khawatir, aku yang akan berbicara kepada keluarga Sabaku nanti. Kau tenang saja."

Mendengarnya, Shikamaru pun lega. Dia melirik ke sang ayah, yang kini juga tersenyum senang kepadanya.

Yap. Sepertinya Shikamaru tidak jadi mendapat istri.

XxXxXx

Hyuuga Mansion.

Sandera perang. Itulah yang dirasakan Fox. Duduk termenung di dalam kamar seorang gadis. Disogok berbagai macam makanan agar diam di tempat. Apalah daya, fox hanyalah kucing yang tidak bisa membuka pintu kamar ruangan ini. Jangankan kamar, bahkan jendela yang ada di depan Fox adalah jendela geser, yang normalnya tidak kuasa untuk dibuka seekor kucing seorang diri.

Gadis bersusu-nyeww.. Maksud Fox, gadis yang memberinya susu sudah keluar kamar kurang lebih 75 menit. Asumsi Fox, gadis itu kini tengah keluar rumah. Dengan kata lain, Fox akan mati bosan dan tidak ada yang bisa Fox lakukan sampai nanti sore.

"Nyaw.." Fox mengeong pelan.

Fox sudah cukup lama disini sampai Fox tau kalau tidak kemana-mana itu semakin lama menimbulkan penyakit. Yap, penyakit malas.

Entah kenapa suasana sepi seperti ini mengingatkan Fox dengan sebuah lagu. Kalian tahu sebuah lagu berjudul A Cat (Seekor Kucing).. Err.. Gimana ya,, itu lho yang REFF nya seperti ini :

Bila nyanti saatnyaw telat tiba~

kuingin kau menyawdi istriku~

berjalan bersamiawmu dalam terik dan hujan,

Berlarian kesanyaw kemari dan tertawa~

..

Fox sering melihat penyanyinya tampil di TV saat Sara atau Fuu menonton acara musik. Fox yakin lagu itu bercerita tentang seekor kucing yang saling mencintai. Tapi tidak direstui majikannya.

Cklek.

Suara pintu kamar dibuka, membuat Fox sepenuhnya menoleh kepada seseorang yang melongok di pintu.

Dimata Fox, terlihat gadis lavender namun dengan versi yang lebih kecil. Hanabi.

Fox tidak melakukan gerakan apapun bahkan sampai sang gadis mendekati Fox dan menatap Fox sumringah.

"Puss.." Ujar gadis itu.

Fox hanya diam. Bahkan mengeong pun tidak. Hingga sang gadis menatap berbinar Fox dan memegang kedua kaki depan Fox.

"Mau jalan-jalan tidak puss?" tanya gadis itu.

Belum sempat menjawab, Fox sudah digendong keluar ruangan.

Ah well, serah deh serah, Fox tidak perduli lagi. 'Bawa aku kemanapun' Fox tidak akan berontak. Berontak capek.

.

~i will do what i want~

.

Matsuri menyalami Kaguya untuk yang terakhir kalinya hari ini. Yah, tidak ada yang menyangka kalau bantuan Kaguya nyatanya tidak mengacaukan drama Matsuri sama sekali. Padahal, tadi sempat meragukan mengingat kesialan apapun yang dialami oleh Klub drama Iwa-Art sedikit banyak berhubungan dengan klub Drama Konoha.

"Terima kasih banyak." ujar Matsuri, memberikan jabat tangan kepada Kaguya.

Namun gadis bersurai putih itu hanya menatap tangan Matsuri dan tidak menyalami sama sekali. Membuat Matsuri heran dan was was karena Kaguya terkesan tidak mau berdamai.

"Kumo University..."

"Ha-"

"Jurusan Seni Theater dan Drama.."

"..."

"Aku tunggu disana.."

JDEG! Darah Matsuri langsung berdesir cepat mendengar kalimat itu dari ketua Klub drama Iwa-Art. Kaguya kemudian berlalu pergi. Meninggalkan Matsuri yang diam mematung.

Matsuri tersenyum kemudian tertawa senang. Maksudmu kau menyuruh aku masuk ke Jurusan Seni Theater dan Drama di Universitas Kumo? heh. Baiklah.

.

"Matsuri-chan!"

Matsuri menoleh. Nampak Yukata dan Koyuki Kazahana mendekat.

Koyuki hanya tersenyum ke Matsuri dengan senang.

"Otsukare.." Ucapnya kepada Matsuri.

Matsuri tersenyum

.

"Arigato.."

Yap, anggap saja drama kali ini sukses.

XxXxXx

In other side.

Kalian tau? Hal yang paling aneh pasca drama, tentu saja dialami oleh Gaara Sabaku. Bagaimana tidak, semenjak dia melangkah keluar dari ruang make up. Dia entah kenapa dikejar banyak fansgirl dadakan berseragam Iwa-Art, Uzushio, dan bahkan Konoha sendiri.

Mereka bahkan memaksa Gaara untuk ganti baju lagi dan menyuruhnya memakai pakaian sang pangeran lalu diajak berfoto.

Mereka menanyakan satu hal yang hampir sama.

"Ajari kami berpedang!"

"Bagaimana kau melakukan jurus tebasan lalu berbalik dan meninju musuh?"

"Gaara-senpai! Kau keren sekali."

"Gaara, siapa yang mengajarimu?"

Gaara yang notabene nya di brondong dengan berbagai macam pertanyaan tentu saja hanya membalas dengan senyuman tidak ikhlas.

Merujuk ke adegan dimana dia bertarung pedang dengan Sasuke di panggung tadi. Sebenarnya dia dan Sasuke hanya berlatih kurang lebih 2x sebelum tampil. Kalau ditanya siapa yang mengajari, sebenarnya Gaara hanya menonton tutorial di Youtube dan Menonton film kolosal. Kalau disuruh mengajari orang lain, Gaara seepertinya pesimis kalau dia bisa.

Terlepas dari itu, tidak sedikit juga yang minta nomor HP Gaara. Dan sebagainya. Yang jelas, hari-hari mulai detik ini pasti tidak akan tenang bagi si bungsu keluarga Sabaku.

Ah Well, itung aja rezeki.

.

~IWDWIW~

.

Last

Kushina-Minato beserta Fugaku-Mikoto datang 20 menit kemudian setelah drama usai. Mereka menatap heran Shikamaru, Naruto dan Sasuke yang kini tengah berdiri di depan pintu gedung theater.

Mereka bertiga yang menyadari kedatangan keempat orang tua itu juga balas menatap balik. Menunggu keempat orang itu mendekat.

"He? bagaimana dramanya kok kalian ada disini?" tanya Mikoto. Keheranan karena pemerannya malah berdiri di depan gedung dengan pakaian santai.

Naruto, Sasuke dan Shikamaru saling toleh satu sama lain. Satu hal yang terbersit di otak Shikamaru yang berspekulasi tentang situasi sekarang.

"Err.."

"Dramanya sudah slesai 20 menit yang lalu bibi." jawab Shikamaru.

"..."

"..."

"..."

"..."

"UAPAA?!"

Mereka berempat datang dengan sia-sia.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TBC

xxxxxx

Author Note : wiuu Hanzama Is back! (Slogan ngawur salah grammar, but biarin lah wkw)

Seperti janji Hanzama, chapter 81 update. Err well, Meskipun pendek tapi seperti kata Hanzama di chapter lalu : mengejar next arc. Dan yaah.. gitu deh (ngeles)

Err yap... Tanpa mengurangi rasa hormat.. Terima kasih sudah membaca.

Hope you still enjoy.

Ini lanjutan chapter lalu btw..

Oke, mungkin itu.. see you in the next chap.

Kalau sahabat reader meninggalkan jejak. Hanzama usahakan upload chapter 82 besok (^.^)/

Salam Hangat dari Hanzama, semoga sukses selalu~

cya cya~

REVIEW

V

V

v