.
.
Natsu berhenti mengayuh sepeda saat dia benar-benar sudah sampai di tujuan. Benar-benar. Meskipun tampilan rumah keluarga Haruno sudah berubah 180 derajat, tapi suasanannya masih sama. Mungkin itu karena pohon sakura yang berdiri kokoh dan menjulan tinggi masih terlihat begitu megah. Natsu mengasumsikan, paman Kizashi pasti merawat sepenuhnya pohon ini dengan setulus hati.
Melihatnya saja, membuat Natsu mengingat hari pertama dimana dia memanjat cabang terendah pohon ini. Karena rasa penasaran, Natsu pun mendekati sang pohon dan membiarkan Sakura mengurus sepeda pinjamannya untuk diparkirkan ke tempat yang aman.
Menatap kemegahannya, Natsu menjulurkan tangan dan menyentuh kulit pohon itu dengan tangan kanannya.
"Gaki..."
"HUAHH!" Natsu terperanjat kaget saat dari atas pohon terdengar suara seseorang. Itu Kizashi.
Kizashi hanya tertawa. Membuat Sakura yang melihat kelakuan ayahnya hanya menenteng tangan di pinggul dan mengomel.
"Otou-san! Kenapa kau ada di atas pohon?"
Dengan satu gerakan, Kizashi melompat dan mendarat di tanah dengan sempurna.
Natsu menatap orang ini. Meskipun sudah mengenalnya lama, tetap saja Natsu tidak terlalu terbiasa dengan kelakuan nyentrik pamannya ini.
"Aahh! Natsu-kun! Kau sudah datang!"
Natsu menoleh ke pintu depan. Yang ia lihat kini adalah seorang wanita paruh baya. Natsu mengenalinya sebagai bibi Mebuki.
"Ah! Selamat sore bib-"
"KYAAHHH!" Sapaan sopan Natsu dibalas dengan lari dan pelukan spontan dari Mebuki. Membuat Natsu hampir terjatuh.
"Hahh~ Lihat dirimu! kau sudah dewasa sekarang!" ujar Mebuki. Dia menatap keponakan kesayangannya dengan wajah haru. Natsu hanya diam saat wajahnya kini dilihat secara teliti bahkan pipinya dicubit-cubit. Bahkan Sakura yang hanya melihat sampai menatap aneh kelakuan kedua orangtua nya.
"BWAHAHAHA.. Aku tidak menyangka kau bisa setinggi ini. Padahal terakhir kali aku melihatmu, tinggimu hanya sepinggul ku!" Ujar Kizashi, dia menepuk keras punggung Natsu.
BUG! BUG! BUG!
Membuat Natsu meringis kesakitan. Pemuda itu melirik ke Sakura, menampilkan wajah minta tolong, namun Sakura hanya tertawa kecil.
.
XxXxXx
.
Satu hal yang akan kau temui saat kau masuk ke kediaman Haruno. Mint. Yap, kalau kau masuk lebih dalam ke belakang (tidak seperti Sasuke yang hanya pernah berkunjung di ruang tamunya saja) kau akan menemukan sebuah rak besar berisi berbagai macam tanaman. Dan yang paling mencolok adalah peppermint yang berjajar di rak paling atas.
"Kau nekat sekali, bahkan tidak mengabari jauh-jauh hari kalau kau akan berkunjung." ucap Mebuki kepada Natsu. Pemuda itu kini tengah memperhatikan jajaran foto yang tertempel di sudut lain tembok. Fotonya semakin banyak, namun Natsu masih bisa melihat satu foto dimana dirinya dan Sakura berfoto di dermaga. Foto 2 bocah kurang lebih berumur 5 tahun yang tengah diajak memancing.
"Well.. Banyak yang terjadi. Dan kupikir, memberikan kejutan akan menjadi sesuatu yang special." Jawab Natsu. Dia menjawab sekenanya sebenarnya.
Mebuki tertawa dari dapur, dia kini tengah membuatkan minuman untuk Natsu.
"Gyahahaha.. Sayangnya, berbeda dengan bibimu. Aku tidak terkejut sama sekali." sahut Kizashi.
Natsu menoleh.
"Kau tau. Kalau kau benar benar ingin menjadikan kedatanganmu sebagai kejutan. Harusnya kau datang ke sini jam 12 malam. Dan lewat jendela." canda Kizashi.
Mebuki datang dengan satu teko Teh Mint.
Natsu berpikir, ya bila itu terjadi. Pastinya alih alih disambut dengan teh mint, Natsu pasti disambut dengan tinjuan karena dikira maling.
Sakura masuk ke rumah setelahnya. Dia baru saja slesai menghubungi dan bilang kepada teman-temannya yang ada di festival bahwa dia ada tamu dan harus segera pulang. Merasa dia bisa memasrahkan tanggung jawab cafe kepada Ino atau siapapun yang ada di sana, Sakura bisa sedikit santai.
.
Naruto ©Masashi Kishimoto | Fairy Tail © Hiro Mashima | I Will Do What I Want © Hanzama | Rating : T(+) | Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |
.
Chapter 82 :
"Another Story of Konoha"
.
Kadang kita berpikir, bahwa kita ini waras,
Tapi inilah kita sekarang, membaca fiksi dari sudut pandang seekor kucing.
.
Meskipun Nyawruto jarang memakai kata 'peliharaan' tapi kami dari kaum kucing sebenarnya lumrah saja bila disebut seperti itu. Kami tidak bisa memungkiri bahwa kami memang tidak bisa melakukan hal yang sama seperti manusia. Setidaknya untuk beberapa poin, kami lebih unggul dari manusia. Terutama dari segi tampang, kami adalah perwujudan ganteng yang sebenarnya. Maksudku, wanita mana yang tidak terbuai dengan tampang melas seekor kucing.
"Kau sudah makan pus?"
Fox bisa mendengar sang gadis yang sedari tadi menggendongnya bertanya.
"Nyaw." balas Fox.
Bukan apa-apa, tapi Fox sudah sangat kenyang bila ditawari makanan lagi. Fox sering mendengar Fuu dan Sara berbicara tentang diet di rumah. Itu artinya adalah membatasi pola makan untuk menjaga bentuk tubuh. Dan Fox belum mau menjadi kucing gendut.
Tanpa tau mau dibawa kemana, Fox terus digendong oleh sang gadis. Sesekali kepala mungil Fox dielus. Hingga akhirnya Fox sampai ke halaman belakang.
XxXxXx
Lapangan Golf, itulah kesan pertama saat kau melihat halaman belakang rumah keluarga Hyuuga. Bahkan bila dibandingkan dengan rumah Namikaze Minato selaku walikota, saat kau melihat halaman belakang rumah ini, kau akan sadar kalau Hyuuga Mansion lebih besar lagi.
Tapi, terlepas dari pemandangan yang sangat majestic. Yang menjadi perhatian adalah kegiatan yang terjadi di halaman yang luas itu.
"KYAAAAT!"
buakh! Tap! Jduk! Sreet!
Hinata kini nampak sedang berlatih bela diri dengan sang ayah. Sebenarnya bila dilihat dengan teliti, Hinata jelas sekali kewalahan dihajar dengan rotan.
Hinata memakai pakaian bela diri dengan lambang Hyuuga besar di punggungnya. Pakaian itu berwarna Biru Donker.
"Ada apa hm? Lama di Moscow dan kau lupa dengan Jyuuken?" ujar Hiashi. Tanpa ampun Hiashi melayangkan rotan ke kaki Hinata.
'Tsk.. Sial' yap, hanya itu yang ada di angan Hinata saat ini. Memang di Moscow, Hinata tidak pernah yang namanya menggunakan tekhnik bela diri. Apalagi menghajar orang, di bully secara psikologis saja Hinata diam.
Bukan apa-apa, Hinata selalu bilang bahwa "Dia tidak pernah berkelahi dengan siapapun." Karena seni bela diri keluarga Hyuuga memang lebih dianggap Hinata sebagai tarian. Dan Hinata tidak pernah menunjukannya selain kepada Hiashi. Yap, hanya sebuah warisan keluarga yang wajib diajarkan karena ini adalah ilmu turun-temurun. Hinata tidak pernah berpikir barang sekali untuk menggunakannya sebagai alat menghajar orang.
"LANJUTKAN!" Teriak Hiashi.
Membuat Hinata berdecak tidak suka. Yap, ini adalah pertama kalinya Hinata harus berlatih Jyuuken setelah sekian lama. Tentu saja Hinata kewalahan menghadapi Hiashi yang seriusnya tidak main-main.
Dengan Nafas yang sudah berat, Hinata maju. Mencoba menyerang dengan melayangkan telapak tangan kirinya ke perut Hiashi, namun Hiashi dengan cepat mundur dan menunduk, lalu membalas dengan sabetan rotan tepat ke pinggul. Hinata menahan dengan tangan kanannya. Lalu Hinata melayangkan tendangan, Hiashi menghindar ke kanan dan berputar berniat melayangkan pukulan balasan.
.
.
"Kau lihat itu Fox? Hinata-nee tengah berlatih dengan Otou-san." ujar Hanabi, dia menunjuk Hinata dan Hiashi yang kini tengah saling menghidari pukulan.
Hanabi lalu menurunkan Fox di rerumputan, seakan membiarkan Fox berkeliaran di halaman belakang sesuka hatinya. Hanabi lalu mengelus ubun ubun Fox lagi.
"Kau disini lah, nikmati pemandangan hijau. Tidak baik kucing ganteng berdiam diri di kamar." lanjut Hanabi.
Fox sepertinya setuju dengan perkataan gadis ini. Apalagi di kalimat 'kucing ganteng'.
XxXxXx
~IWDWIW~
XxXxXx
Malam hari.
Natsu dan Sakura kini tengah duduk di ayunan di taman di daerah Leaf-Street (abigu sekali). Setelah mereka slesai membereskan barang-barang Natsu tadi, dan makan malam tentu saja. Kedua saudara sepupu ini meluangkan waktu untuk sekedar berjalan-jalan di lingungan foREVer Street dan Leaf-Street.
Meskipun Sakura pernah menjelaskan tentang Kakek Hagoromo, namun Sakura menjelaskannya lagi ketika Natsu bertanya. Yap, rumah yang dulu milik kakek Hagoromo, kini ditinggali oleh beberapa remaja. Dan mereka adalah remaja yang baik, (itu jelas Sakura kepada Natsu)
"Syukurlah kalau begitu." balas Natsu yang terakhir kalinya.
Sakura mengangguk.
Sangat disayangkan memang, seorang kakek yang baik hati seperti kakek Hagoromomeninggal dunia bahkan sebelum Natsu mengucapkan selamat tinggal.
Maksud Natsu, siapa yang tidak kagum dengan seorang kakek tuna netra yang bisa menyelesaikan rubik dalam waktu kurang dari lima menit? Perlu berjam-jam hingga Natsu mengetahui rahasianya.
Natsu yakin, banyak rahasia yang tersimpan di rumah kakek Hagoromo
Entah seperti apa masa mudanya, namun Natsu yakin bahwa kakek Hagoromo pasti adalah sosok yang sangat berguna bagi masyarakat.
.
Sibuk degan pikirannya, perhatian Natsu dialihkan oleh Sakura yang tiba-tiba berdiri dari duduknya di ayunan.
"Oh iya! Bagaimana kalau kita mampir ke festival? kau tau, menengok cafe yang dijaga oleh kelasku!" ujar Sakura sumringah. Yap, itu adalah satu ide yang muncul pertama kali saat Natsu tiba di rumah tadi. Err.. Meskipun Sakura tidak yakin kalau jam segini suasanya akan seramai siang, tapi setidaknya pasti ada beberapa stand yang masih buka.
"Maksudmu festival yang kau celotehkan itu?" tanya Natsu heran.
Sakura mengangguk.
Natsu sih mengiyakan saja setelahnya. Mengingat dia adalah pengunjung dan sekarang Sakura adalah tuan rumah.
"Oke deh."
Tanpa basa basi lagi, Sakura langsung menarik Natsu meluncur menuju sekolahnya.
XxXxXx
Hanya perlu 20 menit berjalan kaki hingga akhirnya mereka sampai ke Konoha Gakuen. Seperti spekulasi Sakura, masih banyak panitia yang berlalu lalang, dan beberapa pengunjung yang sepertinya enggan untuk pulang. Di pintu gerbang, nampak pak satpam (yang menolak disebut namanya) dan Opsir err siapa ya.. Ah Darui yang kini tengah mengobrol santai. Tetap melaksanakan kewajibannya untuk menjaga ketertiban Festival.
Sesekali kau juga bisa melihat sosok-sosok OSIS seperti Neji Hyuuga, Toneri Otsusuki maupun
"Wuih!~"
Di mata Natsu, suasana festival ala jepang memang sangat khas. Bahkan tidak bisa dipungkiri, festival ini 2x lebih megah dibandingkan dengan Festival tahun baru yang sering Natsu datangi.
Natsu hanya mengikuti saat Sakura menarik tangannya ke suatu tempat.
.
2-1 Cafe.
"Choji!" ucap Sakura kepada Chouji yang kini tengah mencuci piring. Dia tersenyum bahkan sebelum Chouji menoleh.
"Ah Sakura. Darimana saja-Hah?" Dimata pemuda berbadan montok itu, kini nampak Sakura dan err Sakura versi laki-laki.
Dia menunjuk Sakura dan Sakura versi perempuan.
"N-Natsu?!" Yap. Hanya satu orang selain Sakura yang mengenali siapa itu.
"Hah?" Natsu menoleh. Namun yang ia lihat adalah seorang gadis yang tidak familiar sama sekali.
Dengan tampang polos, Natsu bertanya.
.
.
"Siapa kau?"
XxXxXx
"pff..hahahahahaa.."
"Jangan tertawa bodoh!" omel Ino saat sang pemuda berambut merah muda itu kini tengah menertawainya.
Sedangkan pemuda yang bersangkutan sudah tidak bisa menahan rasa gelinya. Jelas saja, karena Ino yang ia kenal dulu, adalah seorang perempuan tomboy yang menjadi satu geng dengan Natsu dikala SD. sSekarang menyadari gadis ini berambut panjang dan memakai make up. Natsu jelas tertawa.
Mereka berdua kini tengah duduk di salah satu meja di 2-1 Cafe, Sakura tengah mengambil cake dan Latte untuk Natsu, ino dan dirinya sendiri.
Sedikit cerita tentang Sepupu Sakura. Sebenarnya, Natsu memang bukan orang jepang. Dia lahir di sebuah kota bernama Magnolia. Dan bila dibilang Jepang adalah kampung halamannya, bisa iya bisa tidak.. Err. Jadi begini.
Dulu sewaktu umur Natsu 5 tahun. Natsu masih bersekolah di luar negri. Namun karena ngambek ingin bertemu sepupunya, dia dan sang kakek : Makarov, akhirnya mengunjungi Sakura. Kala itu libur musim panas dan Natsu sangat bahagia di jepang. Hingga tiba waktunya kembali ke kampung halaman, Natsu menolak pulang dan bilang ingin bersekolah di jepang, dan ingin satu kelas dengan Sakura.
Tentu saja itu menjadi hari yang sangat tidak terlupakan di sejarah keluarga Haruno. Karena kedua orang ini : Sakura dan Natsu bahkan sampai kabur dari rumah agar Natsu boleh sekolah di jepang. Tentu dari sudut pandang orang tua mengetahui bahwa bocah 5 tahun sampai seperti itu jelas saja membuat pusing tujuh keliling. Hingga akhirnya Kakek Makarov menyetujui dan membiarkan Natsu diurus oleh Kizashi dan Mebuki selama ada di sini.
Namun itu tidak bertahan lama, karena tepat saat Natsu genap 2 semester bersekolah disini, kakek Makarov sakit keras. Hingga mau tidak mau Natsu harus kembali. Dan melanjutkan bersekolah di kampung halamannya.
.
Di sela 2 semester di jepang, Natsu bertemu Ino. Yap, seperti yang Natsu katakan : Ino dulunya adalah cewek yang tomboy, dan rekan kriminal dari Natsu (Bersama Sakura yang cenderung melarang saat mereka berdua mencoba melakukan hal yang aneh aneh. Apalagi bila menyangkut dengan keselamatan orang lain)
"Kau tau? Saat dulu kau tiba tiba pindah ke luar Negeri, kau pergi secara tiba-tiba. Dan sekarang? Saat kau berkunjung ke jepang secara tiba-tiba pula. Dasar tidak jelas!" singgung Ino.
Natsu tertawa lagi.
"Banyak hal yang terjadi di sini. Apalagi saat Sakuragami bilang sekolah kalian mengadakan festival. Tentu saja aku harus datang!" canda Natsu. Menekankan kata Sakuragami.
"Jangan sok. baka. Aku bahkan tidak mengharapkan kedatanganmu sama sekali." balas Sakura tiba-tiba. Dia datang membawa Cake dan Latte. Lalu ikut duduk dengan Natsu dan Ino.
Ino cekikikan.
"Hahh.. Dasar, kalian berdua sama saja." ujar Ino.
Natsu tertawa pelan.
Sedangkan Sakura tersenyum.S
Saat mereka mengobrol, Sakura menyadari bahwa yang menjaga cafe hanya Ino dan Chouji. Meskipun malam hari bisa dikategorikan sepi pengunjung, namun seharusnya cafe ini dijaga paling tidak 3-4 orang. Dan apabila mengikuti jadwal yang Sakura buat, harusnya ada 2 orang lagi yang berjaga.
"Ino..."
"hmm?"
"...mana Naruto dan Shion?" tanya Sakura. Mencoba memastikan ke-absen-an dua orang yang diberi jatak jaga oleh Sakura.
Ino menoleh.
"Oh.. Naruto pulang. Dia bilang, kakinya pegal dan butuh istirahat. Kau tau kan dia habis drama habis-habisan siang tadi. Karena pengunjung sudah berkurang di malam hari, Chouji memperbolehkannya pulang duluan." ujar Ino. Dia melirik sang koki yang kini tengah mencuci piring sembari bernyanyi.
Memang sih. Manajemen stand 2-1 berat di Chouji, karena bagian memasak makanan sebagian besar di handle pemuda tersebut. Terkadang, kalau stand sangat ramai, Chouji harus dibantu asisten pribadi yang membuat siapa saja yang mendampinginya sampai dibuat repot karena Chouji memasak seperti mutan, cepat sekali.
Tapi kalau stand sedang sepi, kau bisa mendengar Chouji bersih bersih sembari bernyanyi. Yap, kebiasaan yang sangat dihafal Ino karena saking seringnya membantu disini, bahkan di luar jam kerjanya sendiri.
"..."
"Sedangkan Shion.. Dia sepertinya di gedung Theater. Kau tau kan? besok gilirannya yang akan tampil." Ino melanjutkan.
Sakura manggut manggut.
Ino menanggapi santai.
"Jangan khawatir. Ada Kiba yang membantu sedari tadi. Dia tengah istirahat sekarang, mungkin sedang mampir di stand lain."
Ya sudah sih. Seperti kata Ino, malam memang suasananya sepi, bahkan selain mereka bertiga yang duduk di salah satu meja. Hanya ada satu meja lain yang ditempati. Sakura bahkan mengenali orang yang duduk di meja lain itu sebagai Opsir Killer-Bee, salah satu rekan Opsir Darui. Sepertinya pria nyentrik berkacamata hitam itu kini tengah menulis sebuah sajak (ditemani secangkir kopi tentunya). Dia juga nampaknya tengah istirahat.
..
Hari yang indah. Ditutup dengan malam yang indah pula. Hanzama bahkan tidak perlu menjelaskan bahwa mereka bertiga mengobrol sampai larut malam. Mencoba saling berbagi pengalaman masing-masing. Dan menemani Chouji yang kini tengah mencuci piring sambil bernyanyi.
.
.
.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
TBC
xxxxxxx
.
Author Note : Yoloo~ Hanzama Is Back. Oke Di chapter kali ini, Hanzama mau sedikit membahas tentang pertanyaan seseorang yang special~ ehem.. yang menolak disebut namanya.
Jadi, kmarin sempet ada yang bertanya ke Hanzama kyk gini. Kyknya ini pertanyaan umum yang kadang ditanyain kepada beberapa Author selain Hanzama.
ASK : "Bang mzah, Cara dapet review nyampe 1000 gimana caranya sih?"
Answer : Jawaban Hanzama hanya satu.. Gag tau XD
Sebenarnya gini kawanku. Bisa dilihat, bahwa IWDWIW sebenarnya kan hanya fanfic umum, yang gak ada specialnya sama sekali =.= Maksud Hanzama, IWDWIW bukanlah fanfic yang pas upload pertama kali bisa dapet review sampai 70 an. Trus chapter 2 nya tembus 150, dan bla bla. Banyak Fanfic kyk gitu di fanfiction net. Tapi IWDWIW bukan salah satunya :)
Hanzama membangun pembaca benar-benar dari adegan-ke-adegan, chapter-ke-chapter, plot-ke-plot secara kontinyu.
Hanzama dulu inget, chapter 1 yang review pertama kali cuman 2 orang. Dan Justru karena yang review 2 orang, Hanzama harus cepet cepet aplot agar kita bisa membaca review lain di chapter selanjutnya.
Yap, Hanzama sadar itu karena anggap saja Hanzama udah hiatus kurang lebih 1 tahun jadi.. Banyak hal yang hilang selama jangka waktu tersebut.
Dan, Hanzama adalah orang yang sangat koplak dalam membuat cerita dulu, karena beberapa chapter di IWDWIW juga pasti ada yang salah. Entah setelah 81 chapter berlalu, perubahan gaya penulisan seperti apa yang Hanzama terima, kawan-kawan pembaca yang lebih tau :)
Intinya itu.. Jawabannyas Keep writing kawan. Mau 1 chapter gak ada yang review, keep writing. Mau setiap chapter selalu kena flame, keep writing. Nanti di akhir, kita akan tau siapa yang menang :)
.
Oke sip.. mungkin itu.
Hanzama akan cuap-cuap lagi di chapter depan jadi, see you di chapter 83.
Jangan lupa bahagia.
Salam Hangat dari Hanzama, semoga sukses selalu.~
Tinggalkan jejak, dan akan Hanzama pertimbangkan update kilat~
REVIEW
V
V
V
V
