..

Setelah sekian lama. Akhirnya Festival Arc sampai ke titik akhir juga. Tidak bisa dipungkiri bahwa Festival yang terlampau absurd ini sudah membuat tingkat kebosanan Hanzama mencapai titik max =3=

Err Well.. Mari kita slesaikan agar Hanzama bisa cepat tidur.

..

chapter 82 : The Last day.

Hari ketiga festival adalah hari yang cukup padat, semua panitia saling bahu membahu mengerjakan tugas dan memantau keberlangsungan festival secara menyeluruh.

Tak berbeda dengan hari ketiga, hari keempat juga sama ramainya. Sepertinya hari ke empat ini bahkan lebih ramai dari sebelumnya, Hanzama tidak bisa memastikan namun sepertinya ada juga pengunjung yang datang dari luar kota. Pertunjukan hari keempat adalah pertunjukan Uzushio Platformer club yang menampilkan stand up comedy kawakan. Dan Drama milik klub Theater Konoha. Banyak yang membantu pentas tersebut, termasuk Matsuri dkk. Yah, memastikan semua berjalan baik.

Di panggung Outdoor, tepat sebelum pentas gedung theater dimulai, anak-anak Iwa-Art dipimpin oleh sang ketua OSIS, Nii Yugito. Melaksanakan sebuah acara yang bernama "Model Kilat" acara ini basicnya adalah sebuah acara dimana panitia mempersilahkan para pengunjung festival (5-7 orang) untuk naik ke atas panggung, lalu mereka disediakan sebuah bak besar berisi kostum. Kemudian mereka harus berdandan secepat mungkin dengan berebut kostum yang sangat banyak di satu tempat. Acara ini cukup mengundang gelak tawa para penonton, bahkan sampai menarik perhatian Karin dan Chouji mendekat, yang kebetulan mereka tengah berjaga di stand milik kelas 2-1.

Yap, memperimbangkan banyak pengunjung yang terhibur. anggap saja di hari ke empat. Semuanya Lancar.

Setidaknya, melewati empat hari dengan hasil memuaskan sudah bisa membuat senyum sumringah di bibir Neji Hyuuga. Dan hari ke lima adalah hari yang mudah, karena hal penting yang harus dipikirkan tinggal api unggun (obon) dan kembang api. Err well, secara tekhnis, sudah ada orang yang bertanggung jawab terhadap kedua hal itu.

Maksudku. Siapa coba yang berani mengacau di hari terakhir festival?

.

Naruto ©Masashi Kishimoto | Fairy Tail © Hiro Mashima | I Will Do What I Want © Hanzama | Rating : T(+) | Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |

.

The Last day. 15.00. 2-1 Cafe.

Sasuke, Naruto, Shikamaru.

Setelah melewati hari yang berat dari kemarin, akhirnya mereka bisa merasakan santai juga. Tebak apa yang mereka lakukan, tentu saja bersantai di 2-1 Cafe. Duduk-duduk sembari mengamati pengunjung. Ditemani secangkir espresso masing-masing. Di hari ke lima atau hari terakhir Festival ini, mereka hanya mengobrol santai dipojok festival, tanpa berniat melakukan hal lain..

Tebak siapa yang menjadi waitress sore ini? Aburame Shino. Sebenarnya, Shino harusnya menjaga pos bersama Kiba dan Ino. Namun Kiba terlalu sibuk mempersiapkan Dimensional untuk mengisi band-band an nanti malam. Tau kan? Kiba dan senpai-senpainya yang galak dari klub musik itu adalah pengisi terakhir dari tujuh slot yang diloloskan dalam pentas. Kabarnya, panitia mendatangkan bintang tamu special yang akan tampil dengan Dimensional nanti malam. Dan kabar baiknya, alih-alih seperti yang lain, sepertinya Kiba akan tampil di panggung outdoor.

Naruto masih terus mengoceh tentang Fox disela santai mereka, Shikamau pun hanya mendengarkan dan menghibur Naruto, mengatakan bahwa mungkin Fox juga punya rumah sendiri Naruto. Sedangkan Sasuke, sedari tadi hanya mendongak sana sini. Mencari satu-satunya orang yang tidak kelihatan semenjak Kemarin. Yap, ketua kelas 2-1, Sakura. Sasuke pikir, dengan berada di 2-1 cafe, Sasuke akan lebih mudah menemukan Sakura, namun nyatanya tidak sama sekali.

Kau seharusnya menelponnya Sasuke.

.

"Hei, Tiga sejoli. Hmm!"

Naruto, Sasuke dan Shikamaru menoleh. Nampak seseorang yang menghampiri tempat duduk mereka. Sasuke langsung mengetahui bahwa dia adalah orang gila. Err.. Maksudku Deidara.

'Cuekin saja. Barangkali nanti dia pergi.' Isyarat Sasuke kepada Shikamaru dan Naruto.

Namun sepertinya orang itu malah tidak menyerah.

"Aku bicara dengan kalian oi! Dasar tidak berseni! Hmm!" Ujar orang itu,

Mereka bertiga akhirnya mengalah. Sasuke menghela nafas.

"Mau apa kau?" tanya Sasuke kepada orang itu. Mewakili Sasuke dan Shikamaru.

Deidara tersenyum.

"Melihat yang lain tengah sibuk, dan kalian malah duduk-duduk disini. Aku memprediksi bahwa kalian tidak ada kegiatan." Uja Deidara lagi.

Mereka bertiga tidak menyanggah. Yah, memang mereka nganggur.

"Yah.. daripada disini.. kenapa kalian tidak ikut denganku. Aku butuh bantuan."

Mereka bertiga saling pandang.

"Bantuan apa? kalau bantuan untuk meledakkan gedung sekolah ini, kami tidak mau." balas Naruto.

Deidara tertawa.

"Bukan gedung sekolah ini..." Deidara mengangkat jari telunjuknya ke atas "..tapi angkasa."

"..."

XxXxXx

"Eh Kalian bertiga mau kemana?" tanya Karin saat melihat Sasuke, Shikamaru dan Naruto mencoba naik ke atas mobil pick up. Gadis bersurai merah itu membawa beberapa kantung belanjaan. Sepertinya untuk keperluang Chouji memasak makanan di stand.

"Tak tau. Kau bisa tanya ke supirnya." jawab Shikamaru. Dia memposisikan dirinya tidur terlentang berbantal tangannya sendiri di atas pick up. Mencoba menyamankan diri.

Satu-satunya alasan Mereka bertiga mau diajak Deidara adalah, karena Deidara bilang dia ingin mengambil beberapa kotak kembang api yang akan dinyalakan nanti malam. Dan karena Sasuke, Shikamaru dan Naruto memang tidak ada kerjaan, mereka mengiyakan. Tumben-Tumben an.

"Kami ingin mengambil beberapa barang seni.. Hmm!" ucap Deidara. Dia keluar dari kursi kemudi setelah menyalakan mobil pick up dan membiarkan mesinnya panas. Itu adalah mobil pick up milik Konoha Gakuen.

Naruto memposisikan duduk di samping Shikamaru. Sedangkan Sasuke, dia memilih duduk di kursi penumpang di samping kemudi.

"Jadi.. sebenarnya dimana tempatnya kita akan mengambil barang mu itu?" tanya Naruto kepada Deidara. Deidara tersenyum.

"Di sebuah gudang di pinggiran lain kota. Disana sudah ada yang mengeluarkan kotak-kotaknya dari gudang. Tugas kita cuma tinggal mengangkutnya ke atas pick up dan kembali membawanya kemari."

Naruto mengangkat bahu. Oke deh, sepertinya bukan tugas yang sulit.

Setelah berpamitan dengan Karin, mereka berempat berangkat.

XxXxXx

20 menit perjalanan. Tidak banyak yang terjadi. Bahkan Shikamaru terlihat lelap dengan tidurnya. Meninggalkan Naruto yang duduk menatap suasana kota, atau Sasuke yang sesekali menanggapi saat diajak bicara oleh Deidara (sebagian banyak topiknya adalah tentang kejelekan Itachi).

Deidara tidak berbohong tatkala dia bilang tempat yang didatangi adalah sebuah gudang. Namun, ada satu yang membuat Naruto berteriak.

"I-INI?!"

"Yap." Deidara mengangguk, dia sudah turun dari mobilnya.

"INIIII?!" Naruto mengulangi pernyataannya. Suaranya semakin keras sampai membuat Shikamaru terbangun dari tidurnya.

Dimata Naruto. Kardus yang dikatakan Deidara dengan beberapa, nyatanya adalah segunung. Bahkan dilihat dari jumlahnya, petasan-petasan itu sepertinya sudah cukup untuk meledakan seluruh sekolahan.

"KAU MAU MEMBUMI HANGUSKAN KONOHA GAKUEN?!"

.

~IWDWIW~

Malam terakhir di festival. ditutup dengan musik dan api unggun. Kebanyakan panitia dan peserta berkumpul di halaman sekolah, dimana panggung outdoor kini dikuasai sepenuhnya oleh Dimensional dan beberapa band lokal yang menyumbangkan beberapa lagu.

Setelah bolak balik 2x, akhirnya seluruh barang laknat milik Dheidara berhasil diangkut. Sasuke, Naruto dan Shikamaru kini tengah berusaha menurunkan kotak-kotak berisi petasan itu sementara Deidara tengah berbicara kepada Neji Hyuuga dan Kakashi-sensei.

"Psst Sasuke.." Naruto berbisik ke Sasuke ditengah kegiatannya.

Sasuke menoleh.

"Sebaiknya kita segera pergi setelah selesai memindahkan kotak-kotak ini." ujar Naruto.

Sasuke hanya melirik Naruto.

"Kau tau, aku tidak mau terlibat dengan ini dan dia." Lanjut Naruto. Menunjuk tumpukan petasan yang tidak masuk akal kemudian menunjuk Deidara.

Sepertinya Sasuke setuju kali ini. Yap, tugas mereka bertiga hanya membantu mengangkut. Kalau ada sesuatu selain ini, nampaknya itu bukan tanggung jawab mereka lagi.

"Bagaimana menurutmu Shikamaru?" tanya Naruto. Dia menoleh ke Shikamaru yang kini malah berusaha membuka beberapa box.

"Naruto..." Shikamaru menoleh ke Naruto dan Sasuke, dia menyuruh mereka mendekat.

Sasuke dan Naruto heran.

"Ini mungkin akan terdengar gila... tapi sepertinya si Deidara itu memang berniat meledakkan sekolah ini." ujar Shikamaru, dia menunjukkan sebuah petasan super besar yang dirakit dengan timer. Seperti C4, tidak! ini lebih parah.

Naruto dan Sasuke melongo.

XxXxXx

"Ahahaha.. Tentu saja semuanya akan meriah. Tepat pukul 10, seluruh langit Konoha akan dipenuhi mahakarya yang luar biasa."

Neji mengangguk. Sepertinya Deidara sudah paham jadwal yang di rancang oleh panitia.

"Ahh.. Memang penutupan festival wajib pakai kembang api." Balas Kakashi, menyetujui ide Panitia.

"Tentu saja sensei! Hmm!" Deidara tertawa.

.

Tak jauh dari mereka. Sasuke, Shikamaru dan Naruto kini tengah berdiskusi. Mereka sudah sepenuhnya menurunkan kotak dari mobil Pick up.

"Bagaimana ini?" tanya Naruto kepada Sasuke dan Shikamaru.

"Yahh.. Kalau aku sih, terserah kalian saja. Lagipula, kembang api itu merepotkan." balas Shikamaru.

"Kita harus memikirkan hal ini secara matang. Aku juga tidak percaya dengan orang itu." sambung Sasuke.

Naruto mengangguk.

"Kau benar Sasuke. Ledakan kemarin di siang bolong juga sepertinya ulah orang itu." Balas Naruto. Dia melirik Deidara, menyinggung kejadian beberapa petasan yang di nyalakan di tengah lapangan basket tempo hari.

"..."

Yah.. Demi keamanan dan keselamatan orang banyak, mereka bertiga kini tengah berdiskusi untuk menyingkirkan Deidara.

"Ya sudah.. Yang penting, jangan biarkan dia menyalakan petasan-petasan ini."

"Baiklah."

"Hoamm.. Yaudah."

.

~IWDWIW~

.

Alunan lagu yang dinyanyikan oleh Dimensional Band meraung memenuhi halaman depan Konoha Gaken.

Diatas panggung, kini nampak Kiba dan Yakumo saling beradu nada untuk mengiring Shion yang tengah bernyanyi. Yap, Shion menyumbangkan sebuah lagu.

Di barisan pentonton, beberapa panitia sepertinya sudah mempersiapan diri untuk malam ini. Terlihat dari beberapa diantaranya yang membawa tikar.

Dari barisan kelas 2-1, kau bisa melihat beberapa orang seperti Shino, yang kini tengah sepenuhnya membaur dengan para gadis karena dia berpakaian terbuka. Sebenarnya, Shino tengah dikepung.

Ada Juga Hinata yang kini datang bersama Hanabi. Fox err.. Oranye tidak terlihat.

Sementara itu, Sakura, Ino dan Karin lebih memilih membantu Chouji beres-beres di cafe.

Diantara orang orang itu. Tak sedikit juga yang kini tengah duduk atau sekedar menikmati suasana dengan Pasangan.

seperti Toneri dan Yugito. Err.. Secara tekhnis mereka bukan pasangan tapi, mereka terjebak berdua mengawasi panggung dari jarak yang cukup jauh.

ada Fuu dan Yagura yang entah bagaimana ceritanya kini tengah mengobrol sembari makan permen kapas berdua.

Ada juga Gaara yang kini tengah duduk bersama Matsuri.. dan Yukata... dan Kankuro... dan Maki (Kakak Matsuri).. Dan Temari.. dan-plak

Meskipun begitu, tidak sedikit orang yang masih sibuk di malam penutupan.

Salah satunya adalah Klub Fotografi Iwa-Art. Alih alih menikmati lantunan musik, mereka kini tengah melakukan dokumentasi sembari beres-beres di tempat pameran.

Yang lainnya, mereka menyebar di seluruh penjuruh Konoha Gakuen untuk menikmati hari terakhir dan.. ehem.. Diskon besar-besaran, baik makanan maupun pernah pernik.

XxXxXx

Atap gedung utama Konoha Gakuen.

"HOII! LEPASKAN BODOH!"

Sasuke, Shikamaru dan Naruto kini sudah berada di atap. Bersama Deidara yang sudah mereka ikat ke sebuah kursi yang mereka pinjam dari anak-anak klub Instalasi di lantai 3 (err.. Secara tekhnis ini sekolah mereka sendiri tapi- ah well, tauk ah)

"Ssst diam." ujar Naruto.

Mereka bertiga membawa 5 kotak dari belasan kotak yang mereka angkut. Kotak-kotak berisi petasan yang lain, sudah mereka titipkan kepada orang yang dapat betanggung jawab. Opsir Darui. Yang mana tadi sempat membuat Darui jantungan saat Naruto dengan polosnya bilang "Pak! Mau titip petasan!" padahal posisi Darui sedang merokok.

"INI TIDAK KEREN! HMM!" teriak Deidara. Dia mencoba berontak dari tali yang mengikatnya kepada kursi.

"Maaf, tapi sepertinya kami yang akan menyalakan petasannya untukmu." balas Shikamaru.

"APA?! TIDAK! HMM! PETASAN PETASAN ITU HARUS DINYALAKAN OLEH ORANG YANG BER-SENI!"

Sementara itu Sasuke, mengikuti kenginan teman-temannya, dia mencoba membuka kotak yang ia bawa satu persatu. Berbagai ukuran dan berbagai bentuk petasan membuat Sasuke bingung untuk mengetahui bagaimana ledakannya.

"Ini petasan apa?" tanya Sasuke, dia menunjukkan ke Deidara sebuah petasan berbentuk spiral berwarna merah.

"HA? ITU PETASAN GASING! JANGAN COBA-COBA KAU NYALAKAN!"

"Berisik banget sih!" Naruto sepertinya mulai risih dengan teriakan Deidara.

Sementara itu, Shikamaru kini mulai mngeluarkan petasan roket yang akan diluncurkan ke udara (Setidaknya dia berpikir seperti itu, karena petasan yang ia pegang sekarang bentuknya mirip roket) . Semua kotak yang mereka bawa sudah dibuka oleh Shikamaru detik berikutnya.

Menatap Deidara yang sepertinya sangat ngotot melihat Shikamaru menata petasan dengan awur-awuran, membuat Sasuke ragu.

"Kau tau Naruto.. Sepertinya kita memang kurang berpengalaman dalam hal seperti ini. Maksudku, kita bahkan tidak paham jenis jenis petasan apa saja yang kita bawa." ujar Sasuke.

Naruto mengangkat bahu.

"Omong kosong, tujuan kita disini kan untuk mencegah orang itu meledakkan Konoha Gakuen." Balas Naruto, dia menunjuk Deidara.

"..."

"Lagipula, membedakan petasan tidak sesulit yang kau kira. Akan ku demonstrasikan.." lanjut Naruto.

Dia lalu mengambil sebuah petasan kecil dari kotak yang dibuka Sasuke.

"Contohnya ini.. Bahkan anak kelas 4 SD pun tau kalau ini adalah petasan cabai." lanjut Naruto lagi. Dia menyalakan petasan kecil itu (dengan korek yang ia ambil dari kantong saku Deidara) dan melemparnya cukup jauh dari tempatnya berdiri.

Membuat Deidara melotot.

Sasuke dan Naruto menatap petasan kecil itu, sebelum petasan itu mengeluarkan asap hitam pekat.

WOSSSSHHHHH!

Naruto dan Sasuke terkejut.

"HUAAAHH!"

Asap hitam itu tidak berhenti bahkan sampai hampir menutupi seluruh atap Konoha Gakuen.

.

"APA YANG-HMPPP UHUK UHUK.." Shikamaru terkejut saat asap hitam tiba-tiba datang entah dari mana.

XxXxXx

"BWAHAHAHAHA.." Naruto malah tertawa setelahnya, karena sekarang Shikamaru, Sasuke bahkan Deidara berwajah hitam.

"Jangan bercanda bodoh!" Sasuke yang emosi karena Naruto sok tau, akhirnya melayangkan jitakan kepada sang pemuda.

'Untuk apa bom asap di packing bersama petasan?!' batin Sasuke melirik beberapa kotak yang sepertinya bukan petasan berjenis kembang api.

"Jangan main main oi! Kalian tidak mengerti sama sekali tentang petasan!.. Lepaskan aku! aku yang akan menyalakannya! Hmm!" Omel Deidara. Suaranya sedikit memelan.

Sasuke menoleh, menatap Deidara.

Tapi, sebenarnya Deidara ada benarnya, meskipun kita mengikat Deidara untuk mencegah orang ini menghancurkan Konoha, tapi tetap saja. Dia yang paling paham apa isi kotak-kotak ini.

Sementara Naruto, Sasuke dan Shikamaru tetap saja. Bila tidak paham jenis-jenis petasan, yang ada malah bisa bisa melukai diri sendiri.

Menepis semua pikiran aneh di otaknya. Sasuke menghampiri Deidara setelahnya.

.

~iwdwiw~

.

Ino, Sakura dan Karin tengah menikmati lantunan lagu. Alunan musik yang dibawakan oleh Dimensional feat bintang tamu : Girl Dead Monster, diatas panggung sedikit banyak bisa melepas penat mereka selama 5 hari terakhir.

Sementara itu, sepupu Sakura kini masih berada di kediaman Haruno. Dia bilang ingin mengobrol dulu dengan paman Kizashi dan Mebuki. Bila sempat, dia akan menyusul Sakura untuk melihat kembang api. Err.. Berbicara soal kembang api...

"Ngomong-ngomong. Kata panitia akan ada kembang api juga kan?" tanya Sakura, kepada Ino dan Karin

"Benarkah?" Ino malah balik bertanya.

"Hmm.. Menurut jadwal. Kembang api sekitar jam 10 malam." Sahut Karin. Dia melihat jam tangannya sendiri. 21.40. Dua puluh menit lagi.

Ino menjadi sumringah. Jelas saja, terakhir kali dia melihat kembang api di festival adalah sewaktu dia SMP. Kau tau? banyak hal yang terjadi di kehidupan Ino. Dan yap, apa salahnya membayangkan kan? Andai saat seperti ini dihabiskan dengan pasangan pasti menyenangkan.

Tapi, kita tidak boleh terlalu berharap.

XxXxXx

22 Menit kemudian.

Neji melirik jam tangannya, dari bawah. Dia menerawang ujung atap gedung utama Konoha Gakuen, 10 lewat 2 menit. Dan belum ada tanda-tanda-

Cyuuuwwwtttt DUAR!

"Woah...!" Neji terperangah, karena baru saja di harapkan, kebang api yang diharapkan akhirnya meledak juga.

.

.

.

Malam itu, suasana langit Konoha berkilauan.

Sama dengan hati para pengunjung Festival.

(Entah apa yang terjadi di atas)

.

.

.

.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TBC

xxxxxxxx

Author Note : Yoloo~ Hanzama is back!~

Hahhh~ Akhirnya. Arc yang satu ini sudah sampai di ujung~.. Err.. Meskipun penutupnya seadanya =.= tapi... well, hope you enjoy! ^.^

Dan anggap saja kita sudah memenuhi standar untuk masuk ke Arc berikutnya... haduuhh~~~ iwdwiw masih panjang~ -3-

dan yap.. problematika dengan sang raja iblis akan dimunculkan lagi di arc depan... yeeyy~~ we miss susu-Err.. Tsunade!

Dan, oia~ Hanzama belum berterima kasih kepada para sahabat reader yang masih setia memantengi fanfic abal abal alakadarnya ini -_-)/

Mungkin itu, tak usah banyak cuap cuap..

seperti biasa.. Salam hangat dari Hanzama, semoga reader sukses selalu~~

Tinggalkan jejak, dan Hanzama pertimbangkan update kilat~

yuhuy!~

XxXxXx

At the end

"Bwah Begitu yang namanya petasan Hmm!"

"WOAHH.."

prok prok prok

Naruto dan Shikamaru yang awalnya meragukan Deidara. Pada akhirnya malah tepuk tangan saat Deidara menyalakan kembang api besar bersamaan dengan meledaknya gradasi warna di seluruh penjuru langit Konoha Gakuen.

Yap, Sasuke melepaskan orang ini. Dengan harapan orang ini tidak akan macam-macam dan tetap menyalakan petasan secara normal (setidaknya seluruh petasan yang ada di 5 kotak yang mereka bawa).

"..."

"Pelajaran untuk kalian hmm! Seni itu berasal dari hati, mesiu, dan ledakan! kalian harus memberikan seluruh perasaan dan cinta!"

Naruto manggut-manggut.

Secepat kilat melupakan apa yang barusaja terjadi. Deidara malah seperti seorang guru yang mengajari muridnya segala macam hal tentang petasan.

Sepertinya dia terbawa suasana.

.

.

.

REVIEW

V

V

V