.
.
Chapter 84 : Conclusion
.
Festival 5 Hari itu akhirnya selesai Juga. Diakhiri dengan cool oleh sang penanggung jawab kembang api, tidak bisa dipungkiri bahwa rangkaian acara yang telah diselenggarakan benar-benar meraup keuntungan berkali-kali lipat. Maksudku, bayangkanlah sekarang Para Pejabat OSIS kini tengah duduk di singgasana emas murni, dengan pakaian berlapis permata dan suasana Fancy karena bertebaran uang dimana-mana-Err, oke itu berlebihan. Eits! Tapi aku tidak bohong soal keuntungan lho ya!
1 Hari setelah festival. Ruang OSIS lebih penuh dari biasanya, jelas saja karena Kini tengah berlangsung rapat evaluasi.
Tsunade, Jiraya dan Orochimaru selaku pejabat tertinggi yang ada di ruangan itu pun sepertinya sangat puas dengan kinerja anak-anak didiknya.
Tunggu- Agar tidak terjadi kesalah pahaman. Akan ku jelaskan keadaan hari ini secara detail.
Pertama, kembang api adalah malam sebelum kemarin. Jadi bisa dikatakan bahwa sebelum hari ini. Sudah lewat 24 jam setelah penutupan Festival.
Kedua, semua peserta rapat dibagi menjadi beberapa perwakilan. Seperti perwakilan penanggung jawab stand, perwakilan Panitia umum (meliputi dekorasi, dokumentasi, sie acara, perlengkapan, konsumsi), koordinator pengunjung (yang dimaksud adalah beberapa siswa yang membantu tugas Opsir kepolisian dan Satpam 'yang menolak disebut namanya'), dan Hiburan.
Ketiga, Detail tidak penting tidak akan dijelaskan Author.
.
".. Jadi seperti itu lah. Sesuai penjelasan yang kami cantumkan dalam proposal. 60 Persen penghasilan dari festival ini akan disumbangkan ke beberapa panti asuhan. 30 persen akan dibagi rata ke tiap sekolah, dengan pihak sekolah masing-masing yang akan mengkoordinasi. Dan 10 persen lagi, kami kembalikan ke Akatsuki Corp sebagai timbal-balik sponsorship." Ujar Neji, mengakhiri kalimatnya.
Semua audien yang ada di situ mendengarkan. Yap, sebuah niatan yang mulia dari Aliansi OSIS Kono-Uzu-Iwa. Karena bersedia merelakan sebagian besar penghasilan untuk disumbangkan ke panti asuhan.
Tsunade manggut-manggut mendengarkan Neji. Ya sudah sih. Menurutnya, pembagian seperti ini sudah sangat adil. Apalagi dilihat dari ketua OSIS lain yang sepertinya satu suara, Tsunade tidak akan protes. Mungkin Tsunade akan berpikir untuk merencanakan penambahan infrastruktur bagi klub-klub aktif di Konoha Gakuen.
Semua diam, saling berdiskusi satu sama lain. Sebelum Pein, dari pihak Akatsuki Corp mengalihkan perhatian dengan mengangkat tangan. Semua menoleh.
"10 Persen milik Akatsuki buat kalian saja." ujar Pein tiba-tiba.
Semua menoleh tidak percaya. Membuat Neji, Yugito dan Toneri melayangkan pandangan yang sama kepada CEO muda tersebut.
"Maksud anda?" tanya Toneri memastikan.
Pein menghela nafas.
"Kami dari Akatsuki menawarkan Sponsor tanpa syarat di awal perjanjian. Dan kami tidak bermaksud untuk mengambil keuntungan apapun dari kerja keras kalian sebagai panitia.. Jadi 10 persen buat kalian saja." Ujar Pein. Membuat Sasori yang duduk di sampingnya tertawa kecil.
Yap untung saja Pein mengajak Sasori kali ini, coba kalau dia mengajak Kakuzu. Pasti orang itu akan mempertanyakan kewarasan Pein. Dikasih uang kok tidak mau.
"..."
"..."
Semua orang yang ada di ruangan itu terdiam. Sementara Pein, dia melirik jam tangannya.
".. Dan karena kami masih ada perlu. Kami minta Izin untuk pamit dari rapat terlebih dahulu. Terima Kasih atas kerja-samanya."
Detik berikutnya, setelah mengkomandokan Sasori untuk pergi. Pein pun beranjak pergi dari ruangan itu. Dengan keren.
.
.
.
Dasar, Orang terlanjur Kaya.
Naruto ©Masashi Kishimoto
| I Will Do What I Want © Hanzama |
Rating : T(+)
| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |
..
2 Hari setelah penutupan Festival
"Kalian yakin mau pergi secepat ini?" tanya Sasuke kepada Sara dan Fuu yang kini tengah selesai berkemas. Sasuke dan Sara duduk di meja makan. Sementara Fuu, dia masih sibuk mondar-mandir kesana kemari.
"Yap, meskipun ketiga sekolah menerapkan kebijakan yang sama dengan meliburkan muridnya selama seminggu setelah festival, kami tetap harus kembali bersekolah setelahnya jadi. Kami tidak bisa berlama-lama." Balas Sara kepada pertanyaan Sasuke.
"Fuu juga harus pulang ke rumah-desu." Sambung Fuu. Dia kini tengah membawa kotak kaca yang berisi kumbang miliknya.
Well, Sasuke tidak bisa berbuat apa-apa kalau mereka memang benar-benar harus segera pargi.
Sasuke menatap kedua pemudi yang ada di depannya secara bergantian.
"Hahh~ Sayang sekali kalian harus pergi secepat ini, padahal Hikari sangat senang bermain dengan kalian." Sambung Izumi yang datang dari dapur. Dia membawakan sedikit bekal untuk dibawa Sara dan Fuu sepanjang perjalanan nanti. Sara pun menerimanya dengan senang hati.
"Hehe.. Jangan khawatir, kami masih bisa berkunjung ke konoha kapan saja. Dan tentu saja kami akan mampir melihat Hikari setelahnya." Balas Sara.
Izumi tertawa, senang mendengarnya.
Izumi kembali ke dapur dan berniat mencuci piring. Meninggalkan Sasuke dan Sara yang kini tengah menikmati teh masing-masing.
"Kau ingat kan kami masih punya hutang uang padamu?" ujar Sasuke. Mengungkit kejadian tempo hari dimana Sara meminjamkan uangnya untuk membeli bahan makanan.
Namun Sara sepertinya tidak terlalu mempermasalahkan itu.
"Halah.. Jangan terlalu khawatir dengan itu Sasuke, jujur. Kalau kau tidak menyinggungnya tadi, aku bahkan sudah lupa." balas Sara.
"..." Sasuke malah diam.
Melihat ekspresi Sasuke yang tidak bisa dijelaskan oleh Sara, gadis itu malah bercanda setelahnya..
"Yaa.. Tapi kalau kau bersikeras untuk mengembalikan uangku.. Mungkin kalian bisa berkunjung ke Iwa kapan-kapan. Aku akan meyambut kalian dengan senang hati." Ujar Sara.
Sasuke mendengus pelan.
.
.
.
20 menit kemudian. Halaman rumah.
"Kalian yakin tidak mau berpamitan dengan Naruto dan Shikamaru?" Tanya Izumi, dia barusaja selesai memandikan Hikari, pria kecil itu kini sudah digendong dengan pakaian rapi. Baunya harum, bahkan wajahnya yang belepotan bedak bayi masih sagat ketara, membuat Sara tertawa.
"Biar lah. Lagian mereka sepertinya tidak akan bangun sebelum jam 10." Balas Sara.
Sasuke yang ada di sana menyetujui. Yap, itu karena tadi malam saat Fuu bilang ke Naruto dan Shikamaru mereka akan pulang besok pagi, Naruto bersikeras untuk melakukan sedikit ritual perpisahan. Dan tebak apa yang mereka lakukan? Bermain kartu sampai jam 3 pagi, dengan kartu milik Klub Instalasi Uzushio yang kala itu dipinjam sewaktu Naruto, Gaara dan Shikamaru (dan Utakata, meski hanya sebentar) nongkrong di atap gedung utama Konoha Gakuen sampai pagi. Dan sampai detik ini tidak ada niatan mengembalikan.
BLAM. Kegiatan mereka terusik dengan suara Fuu yang menutup bagasi Taksi dengan mantap. Memastikan tidak ada yang tertinggal, dia ikut menghampiri Sasuke, Sara dan Izumi (dan Hikari).
"Na.. Naa..." Seakan tau kalau ini saatnya berpisah, Hikari menjulurkan kedua tangannya kepada Fuu, berharap akan diajak.
Sara tertawa.
"Bye bye.." Ucap Fuu, dia mencubit kedua pipi tembem Hikari.
.
.
Yap, tidak ada yang bilang bahwa perpisahan itu mudah. Apalagi untuk Hikari.
...
~IWDWIW~
Setelah kepergian Sara dan Fuu, rumah kecil itu semakin sepi. Bahkan bertambah sepi lagi karena hari berikutnya Izumi dan Hikari juga berpamitan.
Karena Itachi sudah menjelaskan duduk permasalahannya tempo hari dengan seluruh keluarga, Mikoto meminta (dalam kasus ini ngotot) bahwa cucu dan menantunya harus tinggal bersama keluarga besar di kediaman Uchiha. Yap, untung saja Mikoto adalah mertua yang perhatian. Karena Fugaku juga merekomendasikan Hal yang sama, juga menghindari omongan-omongan yang tidak enak dari seluruh keluarga besar, sebaiknya Hikari dan Izumi tinggal di Uchiha mansion.
Izumi sih, yang paling deg-degan. Karena secara langsung, dia sudah diterima di keluarga Itachi, tapi.. tetap saja, menghadapi Mikoto tempo hari memang berjalan lancar, tapi menghadapi kakek Madara (yang Izumi kenal sebagai orang-tua yang sangat over protektif kepada Itachi) mungkin tidak akan sesuai harapan Izumi. Meskipun Madara tidak tinggal di Uchiha Mansion, tapi tetap saja.. Di sana tetap merupakan salah satu tempat paling potensial dalam berpapasan dengan Madara. Yap.. bukan apa-apa, tapi Izumi sedikit ngeri dengan orang itu.
Jujur, Izumi sangat nyaman disini. Apalagi Hikari sangat senang bisa bermain dengan Sasuke ataupun Naruto dikala senggang. Tapi mau bagaimana lagi, Itachi sudah meyakinkan bahwa "Untuk memenuhi kemauan Otou-san dan Okaa-san sebaiknya kita turuti untuk sekarang, besok kita pertimbangkan untuk beli rumah sendiri." Yaa Izumi tidak punya alasan lagi untuk menolak.
Dan gitu deh..
.
.
Dan yap, seperti itulah. Sangat cepat orang-orang datang, sangat cepat pula orang-orang pergi. Tanpa sadar, hari baru datang.
Naruto, Sasuke dan Shikamaru kembali dengan diri mereka sendiri..
Tak menyadari hal merepotkan akan menghampiri mereka tanpa diduga.
.
.
.
.
"Seburuk apapun dunia yang kau hadapi. Teman baik akan selalu mengajarimu cara untuk bersyukur." -Hanzama
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
~FESTIVAL ARC END~
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
Author Note : YOSHAAAA! *Menendang keras batu Nisan Hanzama* ARC SUPER PANJANG AKHIRNYA SLESAI! HUFT! *teriak pake TOA*
Oke, karena ini chapter konlusi. Alias Chapter kesimpulan. Dan Hanzama 100 persen buntu ide maka dengan terpaksa Hanzama akhiri sampai disini. But don't worry. Semua aman, semua clear. Besok kita akan memasuki babak baru~ Yeeeyy~~ ( ' . ')/
Bisa jadi Arc depan adalah arc yang menjadi masterpiece Hanzama *ditabok*
Dan dengan kembalinya Naruto dkk ke kondisi sedia kala, maka Hanzama sudah mempersiapkan musuh lain di chapter depan. Yap, mungkin ada yang mau nebak kira-kira apa yang akan terjadi di arc depan.
Oke Hanzama simpen buat kejutan aja.. *Plak*
Dan yap, niatnya mau menjelaskan soal latar belakang Izumi, tapi kayaknya kapan-kapan aja deh.
Okesip~ mungkin itu, tak usah basa basi~ Hanzama akhiri sampai disini.
Salam hangat dari Hanzama, semoga sukses selalu~~
Buhuu~
.
.
.
"NEXT ARC : Money Talks"
.
.
REVIEW
v
v
v
