Menyapu halaman adalah cara Naruto untuk mengawali hari. Setidaknya dibanding Shikamaru dan Sasuke, nyatanya Naruto lebih bijaksana untuk mengambil sapu lidi dan menyisir dedaunan yang ada di halaman rumah.
Sekali dua kali pemuda ini terdengar menjawab sapaan hangat orang yang kebetulan lewat. Entah dia kenal atau tidak.
"Hah dasar bodoh." gerutunya entah pada siapa. Siapapun yang ia gerutukan, yang jelas emosinya sedikit banyak dia lampiaskan kepada dedaunan kering yang kini ia garuk dengan terlampau keras.
Naruto memang bukan orang yang perfeksionis, terlihat dari belum sampai dia selesai menyapu setengah halaman, kegiatannya harus diinterupsi karena ada dua orang yang tidak biasanya lewat di depan pekarangannya melintas.
"Hoo.. Kau rajin sekali Naruto."
Naruto menoleh kepada kedua orang yang menganggu kegiatannya.
Kiba dan Ino.
"Heh.. asal kalian tau, aku tidak berdiri disini hanya untuk mengharapkan kalian melintas." cetus Naruto, masih sembari mengayunkan 'tongkat ajaibnya' untuk mengusir dedaunan kering.
"Heh, aku kenal kau kurang lebih empat puluh lima hari dan aku cukup yakin kau bukan orang yang terlalu memperhatikan penampilan. Dan sekarang aku melihatmu bersih bersih rumah? kau pasti sedang kesurupan." celoteh Kiba sembari menenteng kedua tangan di pinggul. Sesekali dia tertawa kecil.
Naruto sedikit tersulut.
"Berisik muka abstrak! kalau kalian tidak ada kerjaan, lebih baik menyingkir sana-"
Kiba tertawa keras. Namun Naruto masih melanjutkan kalimat setelahnya.
"-Lagipula, kenapa juga kalian ke sini. Kalau mau kencan, pergilah ke taman hiburan atau semacamnya. Jangan menganggu teman sekelas kalian yang tengah mencoba bersih bersih."
Ino yang mendengarnya memutar bola mata.
"Hah.. Kami bukannya mau mengunjungimu Naruto."
"Lalu?"
"Kami mau menjenguk Hinata, dia sakit. Tapi, kami mau menjemput Sakura dulu." Jelas ino.
Naruto diam beberapa saat sebelum dia menjawab singkat.
"...Oh." dia lalu melanjutkan menyapu tanpa berniat mengeluarkan suara lagi.
membuat Ino dan Kiba menatap Naruto tanpa ekspresi.
"..'Oh'..?" Ino yang merespon kembali. Naruto menoleh. "Udah gitu doang?" Tanya gadis itu.
Naruto yang menyadari ekspresi gadis pirang di depannya mulai risih.
"Apaan sih!"
"Tentu saja kalian bertiga harus ikut bodoh!" Lanjut Ino, dengan nada yang lebih tinggi.
"Gak mau." jawab Naruto singkat. Nadanya sedikit cuek.
"Hoy.. Jangan begitu Naruto. Hinata kan juga temanku, temanmu juga. Teman kita." Sambar Kiba.
Naruto kini menatap kedua orang yang ada di depannya dengan intens. Gesturnya berubah.
"Dengar ya. Hari ini, tidak ada orang di rumah. Sasuke sedang ikut Itachi untuk mengatar Hikari Imunisasi. Shikamaru, dia pergi menemui Kakashi untuk membahas soal olimpiade SAINS atau apalah itu. Sedangkan aku.. Aku sedang sibuk mempersiapkan rumah ini untuk mengikuti lomba rumah indah antar komplek, jadi.. kalau mau pergi, pergi saja sana.. huss.." celoteh Naruto panjang lebar.
Ino dan Kiba menatap Naruto bosan. Mereka berdua tentu tau, lomba rumah indah yang dikatakan Naruto tentu saja hanya omong kosong belaka. Tanpa ba bi bu, kedua orang ini pun langsung menyeret paksa Naruto untuk ikut dengan mereka.
.
.
.
"Oi.. Lepaskan bodoh. Aku belum mandi."
"Stt.. kau bisa mandi di rumah Sakura."
Ah, sialan.
.
Naruto ©Masashi Kishimoto
| I Will Do What I Want © Hanzama |
Rating : T(+)
| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |
.
Naruto berjalan dua langkah di belakang Sakura, Kiba dan Ino. Dia menatap malas ketiga orang yang tida- bisa-menerima-penolakan-sama-sekali ini. Bahkan saat dia bilang dia mending pulang saja karena dia tidak punya uang untuk membayar bus, Sakura dengan senang hati membayarnya untuk Naruto.
Mau tau yang lebih hebat? Naruto benar benar mandi di rumah Sakura tadi. Disana, dia bertemu sepupu Sakura yang dengan senang hati meminjamkan kaos dan celana kepada Naruto. Kaos merah tua bertuliskan Flame on yang sangat membuat Naruto risih karena dia tau warnanya sangat kontras dengan apa yang biasanya ia pakai.
"Hm, dimana tempatnya?" tanya Kiba memastikan.
Sakura yang kini tengah membaca history chatnya dengan Kakashi mencoba mencocokkan petunjuk arah yang diberikan gurunya itu kepadanya.
"Hmm, disini tertulis, kalau ada pohon mapple, kita ambil tikungan ke kiri, lalu berjalan sekitar 10 meter, rumahnya adalah rumah bergaya kuno dengan gerbang bertuliskan Hyuuga."
Kiba yang berperan sebagai pemimpin rombongan berjalan lebih dulu sembari menatap kanan dan kiri. Perlu kurang lebih 10 menit sebelum mereka menemukan rumah yang dimaksud.
Ino dan Sakura sedikit terperangah dengan rumah yang ada di depan mereka, mereka tidak menyangka gerbang yang dimaksud Kakashi adalah gerbang besar.. sangat besar.
"Keluarga Hyuuga pasti keluarga kaya." celoteh Ino, masih mengagumi gerbang.
Sakura mengangguk. Sebelum akhirnya dia memberanikan diri untuk maju dan menekan tombol bel rumah.
"Permisi."
~iwdwiw~
"Hah.. maaf membuat kalian repot-repot datang kesini."
"Halah.. tak apa bibi, lagipula. Menjenguk teman sekelas juga kewajiban kami."
Keempat remaja ini disambut dengan hangat oleh seorang wanita paruh baya yang sepertinya adalah ibu Hinata. Semua nampak nyaman, kecuali Naruto yang ingin sekali rasanya mendobrak pintu dan berlari pulang. Namun kewarasan mengalahkan ide gilanya.
"Akhir akhir ini Hinata sering tidak nafsu makan, aku takut dia semakin kurus." lanjut ibu rumah tangga itu dengan sedikit senyuman, namun nadanya tidak terdengar seperti candaan.
"Jangan kawatir bibi, kami membawakan beberapa buah dan roti untuk Hinata, aku yakin jika dia merasakan roti buatan Sakura, dia akan minta dibuatkan lagi." ujar Ino memberikan bingkisan yang ia tenteng kepada Ibu Hinata, sedikit melontarkan nada bercanda.
Mari jangan lupakan fakta bahwa orang tua Sakura memiliki bisnis di bidang kuliner.
"Aduhh.. kalan tidak perlu repot-repot." membuat wanita paruh baya itu merasa tak enah hati.
"Tak apa bibi, ini mandat dari ayah dan ibu. Anggap saja doa agar Hinata cepat sembuh." jawab Sakura sebelum bingkisan yang mereka bawa ditolak, meskipun itu tidak mungkin.
Pada akhirnya, Ibu Hinata menyerah dan menerimanya.
.
Mereka berlima berbincang sedikit (meskipun yang berbincang kurang lebih hanya Sakura dan Ino kepada ibu Hinata) sebelum mereka diantarkan ke kamar milik gadis yang menjadi tujuan keempat remaja itu kemari.
Tok Tok Tok,
"Hina.. Teman temanmu datang menjenguk." ucap ibu Hinata sebelum pintu dibuka dengan halus.
Keempat remaja itu menunggu dengan sabar untuk melihat keadaan orang yang ada di balik pintu. Terlepas dari Kiba yang sangat was-was karena dia akan melihat isi kamar seorang gadis, atau Naruto yang kini menatap pintu dengan pandangan aneh, entah kenapa dia berkeringat.
Saat pintu terbuka sempurna, keempat remaja beserta satu ibu rumah tangga itu terkejut.
.
.
.
Sakura, Ino dan Kiba melongoh melihat keadaan kamar yang seperti kapal pecah. Pakaian berserakan dimana-mana dan beberapa tumpukan barang yang tergeletak di setiap sudut.
Ibu Hinata hanya merespon dengan hembusan nafas dalam.
"Hahh.. bukankah kaa san barusaja membersihkan kamarmu 40 menit yang lalu?" tanya ibu-ibu itu kepada anak gadisnya ini.
"Maaf.. uhuk.. aku hanya sedang mencari HP-" dengan sedikit tenaga yang ia punya, gadis itu menyisakan respon untuk terkejut kepada beberapa orang yang datang. Terutama-
.
Naruto lah yang sangat terkejut, bukan dengan kondisi Hinata maupun kondisi kamar Hinata, melainkan Fox yang kini tengah tidur di samping gadis demam itu.
what-?
~iwdwiw~
Mencoba tidak melompat dan menduding gadis demam yang ada di depannya, Naruto bermain cool dengan mengikuti alur. Namun sepertinya ketiga orang yang ada di ruangan itu malah berniat mengintimidasi Naruto dengan pandangan 'apa yang telah kau lakukan.'
Alasannya adalah karena di sudut ruangan, terpasang papan dart yang kini tertempel foto Naruto yang sudah berlubang-lubang karena dijadikan sasaran. Naruto yang tidak kalah terkejut juga menatap Hinata untuk meminta penjelasan, namun sepertinya hanya pandangan tidak suka di wajah pucatnya yang ia dapat. Jelas sekali gadis itu tidak menerima kehadiran Naruto disini. Atas alasan 'itu masalah Naruto dan Hinata', Ino, Sakura dan Kiba memilih tidak menyinggung papan dart dan lebih fokus bertanya soal keadaan Hinata.
"Jadi.. Bagaimana keadaanmu?" tanya Sakura.
Hinata menghela nafas berat, sesekali terbatuk.
"Kalian tidak perlu kemari segala tau-uhuk uhuk."
"Halahh.. kami tidak apa-apa, lagipula, kami kan juga ingin memastikan kau baik baik saja." lanjut Ino.
"Aku-Uhuk.. baik baik saja." lanjut Hinata.
Sakura tertawa kecil. Dilihat darimanapun, gadis ini tidak terlihat baik baik saja. Wajahnya pucat, dia bahkan tidak sanggup duduk saat tadi mencoba bangkit dari posisinya.
detik berikutnya. Mereka mengobrol.
.
.
.
Keempat remaja itu disitu kurang lebih 40 menit an sebelum akhirnya Sakura mengajak untuk berpamitan, membiarkan Hinata untuk beristirahat.
Itu tepat setelah mereka berdiri dan beranjak meninggalkan pintu, Naruto malah mematung di tempat dan tidak ada gelagat yang menunjukkan dia ingin meninggalkan ruangan. Membuat Hinata menatap terkejut.
Ino yang melihat Naruto tidak mengikuti rombongan akhirnya bertanya.
"Hmm.. Kau kenapa Naruto?"
Kalimat yang diucapkan Naruto setelahnya membuat semua terkejut, terutama sang gadis demam.
"Kalian duluan saja. Aku ingin berbicara dengan Hinata sebentar,"
.
Sakura yang mendengarnya pun tanpa basa basi menyeret Kiba dan Ino untuk berpamitan dengan Ibu Hinata di bawah. Meninggalkan mereka berdua.. Bertiga bersama Fox yang sedari tadi tidur.
.
.
.
...
Canggung. Yap itu sangat terasa. Yang paling tidak suka adalah Hinata, karena pemuda yang paling membuatnya kesal kini tengah berdiri di kamarnya sembari memperhatikannya tanpa berucap apapun, tambah menyebalkan lagi mengetahui Hinata terlalu lemas untuk memukul pemuda ini dengan tekhnik bela diri apa bila pemuda ini macam macam.
Tapi setidaknya Hinata tau apa yang ada di dalam pikiran pemuda ini. Ini pasti soal kucing disampingnya-oranye.
Detik berikutnya, Naruto kembali bersimbah di lantai menghadap ranjang Hinata, kali ini posisinya lebih dekat, membuat Hinata semakin risih. Yang bisa ia lakukan hanya mengomel.
"Uhuk..Kalau kau tidak ada urusan sebaiknya kau pulan-"
Tanpa disangka, Naruto malah menyentuh tangan Kanan Hinata. Naruto bisa merasakan peningkatan suku tubuh Hinata dari telapak tangannya.
"APA YANG K-"
Dengan satu gerakan, dia mengarahkan tangan yang panas itu ke kepala Fox, meuntunnya untuk membelai bulu lembut kucing oranye itu. Fox hanya bergidik namun tidak terbangun dari tidurnya. Entah apa yang kucing itu impikan sampai tidak bangun bahkan saat tadi ada beberapa orang mengobrol disini dengan cukup lama.
Hinata terkejut dengan dua hal disini. Terkejut dengan Naruto yang menyentuh tangannya, terkejut pula karena di detik berikutnya pemuda itu melepasnya dan berdiri.
"Aku tidak akan membawa pulang kucingku hari ini, tapi kau harus berjanji untuk memberi makan dia secara teratur!" ucap Naruto. Dia menatap Hinata tajam dan menatap Fox secara bergantian.
Hinata mencoba memproses apa yang terjadi. Dia balas menatap Naruto tajam. Wajah pucatnya berkeringat dan memerah karena efek demam, pusing dan batuk yang ia rasakan secara bersamaan.
"tch.. iya iya." balasnya. Malas berdebat dengan pemuda pirang yang ada di kamarnya ini dan berharap dia segera pergi.
Mendengar jawaban gadis ini Naruto akhirnya merasa puas. Dia beranjak pergi dari hadapan gadis demam setelah berucap, 'cepat sembuh'
Saat Naruto pergi, Hinata mengelus Fox-Oranye lalu memejamkan mata, entah apa yang ada di pikirannya.
.
.
~TBC~
~Hanzama Is Back~
Author Note(s) : ya ya ya.. Silahkan marahi Hanzama, Hanzama adalah author yang tidak bertanggung jawab.
Katanya mau remake iwdwiw tapi tak kunjung di remake.
Meninggalkan sahabat reader, pas lagi cinta-cintanya.
Mengakhiri arc festival tanpa kejelasan kapan arc selanjutnya dimulai.
Ah dasar lelaki.
well.. banyak hal yang terjadi kepada Hanzama selama 8 bulan terakhir, dan hanzama butuh sesuatu. Hm, mari sebut saja Hanzama sedang mencari arti kehidupan-ah apalah.
dan yap, chapter ini pendek banget-
tau deh,
Oh iya.. Terima kasih kepada kemarin yang nge PC hanzama kemana-mana, mengingatkan Hanzama untuk update. Ini udah apdet hoho~
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
After
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
"S-SASUKE! P-PEGANG HIKARI ERAT! JANGAN DILEPAS LHO!"
"..."
"P-POKOKNYA JANGAN DILEPAS!"
"..."
"S-SASUKE!"
"BERISIK AH!" Sasuke yang merasa terganggu dengan Itachi yang begitu panik saat seorang suster yang menangani Hikari mengeluarkan suntikan.
Papa muda ini dengan ketidak jelasannya entah kenapa begitu panik, bahkan Hikari yang akan disuntik pun biasa-biasa saja. Dengan wajah polosnya, dia menatap Pamannya lalu ke Ayahnya secara bergantian.
"KALAU KAU TIDAK BERANI LIHAT, TUNGGU DI LUAR BODOH!" bentak Sasuke lagi.
"B-BODOH! KAU PIKIR AKU TIDAK BERANI?"
Sasuke bahkan tidak mau menjawab pertanyaan retorik itu.
Sekedar Informasi. Alasan Sasuke berakhir disini adalah karena Itachi terlalu sombong kepada Istrinya saat dia bilang, dia bisa mengantar Hikari imunisasi sendiri. Mungkin Izumi tidak tau, bahwa suaminya sangat anti dengan jarum suntik. Dan dengan mengemban misi karena termakan ucapannya sendiri, menghiraukan harga dirinya di depan adik kandungnya, Itachi akhirnya menculik Sasuke untuk menemaninya.
.
Melanjutkan kegiatannya, sang suster kini sudah sangat siap untuk menyuntikkan imunisasi kepada sang pria kecil di depannya.
Sedangkan Hikari yang duduk di pangkuan Sasuke membalas senyum kepada seorang suster yang berseragam putih putih di depannya.
.
.
.
Saat jarum suntik tertusuk dan terlepas dari Hikari. Dia tidak mengaduh, menangis pun tidak-
-sayangnya, Itachi pingsan di tempat.
.
.
TBC
REVIEW
V
V
V
V
V
