Sekali lagi, Shikamaru diseprot menggunakan selang pemadam, namun kali ini karena dia tengah dibersihkan dari lumpur.

Dia menyerah, karena nyatanya sangat sulit untuk mencari ikan di dalam kubangan lumpur yang sangat tidak bisa dilihat kedalamannya. Terlepas dari IQ nya yang jenius, sepertinya ada juga hal-hal yang tidak bisa Shikamaru pikirkan solusinya.

Setelah selesai membersihkan diri, dia menyingkir dari kerumunan orang yang tengah disemproti air dan menunggu, hingga akhirnya, dia mendapati Naruto keluar dari kubangan lumpur dengan cengar-cengir tidak jelas. tangannya menggengam sesuatu. Dia mengatupkan tangannya satu sama lain. Dia terlihat masuk ke gerombolan orang yang disemproti air untuk dibersihkan. Setelah dirasa cukup bersih, dia berjalan mendekati Shikamaru.

"Kau dapat apa Shika?" tanya Naruto.

Shikamaru menggeleng,

"Tak ada."

Naruto tersenyum kemenangan mendengar Shikamaru tak dapat apapun. Melihat cengiran itu, Shikamaru bertanya.

"Kau dapat sesuatu?"

Naruto tertawa.

"Mwahahahaha.."

Dia lalu menunjukkan apa yang ada di tangannya.

Seekor ikan kecil seukuran jari kelingking yang kini sudah tidak bergerak. Kecil sekali.

Shikamaru melirik Naruto, tidak mengerti kenapa pemuda ini tertawa bangga.

Tak lama setelah itu Nampak Sasuke yang berjalan mendekati semprotan air. Kaos yang ia kenakan kini sudah ia lepas, karena ia gunakan untuk membungkus sesuatu. Sesuatu yang ia tenteng dengan tangan kirinya. Sesuatu itu terlihat banyak.

Naruto dan Shikamaru tidak tertarik dengan Sasuke, tapi melirik antusias kepada sesuatu yang dibawa pemuda itu.

Setelah Sasuke merasa cukup bersih, dia mendekati Shikamaru dan Naruto.

"Wuih.. Kau mendapat ikan banyak Sasuke?" tanya Naruto.

"Aku tidak menyangka kau hebat." puji Shikamaru.

Sasuke hanya menatap kedua pemuda yang ada di depannya. Dia kemudian menjatuhkan begitu saja benda-benda dibalik kaosnya.

Naruto dan Shikamaru yang menyadari sesuatu tersebut bukan ikan. Menatap Sasuke bodoh.

"Sandal?" tanya Shikamaru. Dia berjongkok untuk melihat lebih dekat sandal yang Sasuke dapat

Naruto menatap Sasuke bosan.

"Selama ini kau hanya mencari Sandal?!" tanya Naruto mulai menyadari kalau Sasuke ternyata bodoh.

Sasuke tidak menjawab. Bukan salahnya kan kalau sedari tadi dia mencoba meraba sesuatu tapi yang ia dapat hanya sandal. Apalagi mengingat ini sandal orang lain dan Sasuke tidak bisa meninggalkan sandal-sandal ini begitu saja.

"Hah.. ternyata kita tidak bisa mengandalkanmu Sasuke." ujar Naruto. Dia lalu memperlihatkan ikan kecil di tangannya.

"Lihat.. Setidaknya aku mendapat satu ikan." Ujar Naruto bangga. Melihat ikan yang dimaksud Naruto, Sasuke hanya membalas Naruto dengan pandangan 'dasar bodoh'

..

"Tapi kau hebat juga Sasuke."

Sasuke menoleh untuk melihat Shikamaru. Pemuda kuncir itu kini tengah menghitung sandal yang didapat Sasuke.

"14 Sandal, dan mereka ada tujuh pasang." Ujar Shikamaru.

Dia menatap Sasuke.

"Maksudku.. benar benar pasangannya. Kau menemukan 7 sandal beserta pasangannya."

Sasuke mengernytikan dahi. Tunggu-

"Benarkah?"

.

Detik berikutnya, kegiatan mereka diinterupsi oleh beberapa orang yang berteriak-

"Haa! Itu sandalku!"

DISCLAIMER : Naruto bukan punya Hanzama!

Naruto © Masashi Kishimoto

| I Will Do What I Want © Hanzama |

Rating : T(+)

| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |

.

Chapter 87: Gata-Lympic Bagian 2

.

Nenek Koharu menatap takjub ketiga pemuda yang ia andalkan kini pulang dengan membawa dua ember sedang berisi ikan.

"Kalian berhasil menangkap ikan-ikannya?" tanya Nenek Koharu.

"T-Tentu saja kami berhasil nek!" Balas Naruto semangat.

"Kalian ternyata hebat juga!" lanjut Nenek Koharu lalu tertawa.

"A-Ahahahaha.. ini sih mudah nek! A-haha A-Ahaha." Naruto juga tertawa canggung.

Terimakasih kepada 'Sandal Hunter' kita. Sasuke yang kebetulan menemukan beberapa sandal milik orang lain dan lima pasang diantaranya di klaim oleh pemiliknya.

Sebagai ucapan terima kasih, Sandal-sandal itu ditukar dengan ikan. Dan pada akhirnya, Sasuke lah yang menyelamatkan hari.

.

~iwdwiw~

.

1.5 Kg. Itulah syarat minimal yang dibutuhkan untuk dapat mengikuti acara memasak nanti sore. Yap, 1.5 Kg ikan itu sebenarnya angka yang sedikit untuk dicari mengingat banyaknya ikan yang seharusnya disebar di kolam lumpur yang difungsikan.

Namun jika bukan karena Sasuke, Tim Koharu pasti tidak bisa berpartisipasi dalam kegiatan nanti sore.

34 Keluarga, itulah total tim yang mendaftarkan diri untuk lomba memasak nanti sore. Maka dari itulah panitia harus mempersiapkan buffet dan 34 meja beserta alat masak untuk digunakan dalam lomba.

Memang sih, lebih dari 50 kepala keluarga yang berpartisipasi dalam kegiatan hari ini, tapi sepertinya tidak semua yang memiliki niat untuk ikut kegiatan sampai sore hari, sebagian mungkin harus membuka toko dikala siang, atau mungkin berangkat kerja atau semacamnya.

Yang jelas, 34 keluarga yang berlomba termasuk Keluarga Haruno dan Yamanaka. Ada pula Pasangan Azuma dan Kurenai yang dengan sengaja memanggil kolega mereka : Kakashi dan Anko untuk membatu mereka dalam lomba masak nanti sore.

Itulah kenapa Naruto kini tengah berbincang dengan Kakashi.

Kegilaan sudah berakhir dan kubangan lumpur yang riuh itu kini sedikit lenggang. Hanya ada beberapa anak kecil yang bermain di pinggiran sembari mengoleskan lumpur satu sama lain. Regu pemadam yang sedari tadi menyemprot orang-orang juga kini nampak beristirahat di stand makanan.

Kakashi yang barusaja datang bersama Anko pun tadi berbincang dengan Kurenai dan Azuma sebelum akhirnya mata guru bermasker itu menangkap kehadiran Naruto yang tengah duduk di tanah miring.

"Jadi.. Apa kabarmu Naruto?" tanya Kakashi basa-basi. Dia duduk di samping Naruto sembari menyodorkan minuman yang ia dapat dari stand makanan.

Naruto menoleh mendapati Kakashi yang duduk di sampingnya.

"Ho? Kakashi sensei? Aku tidak melihatmu sedari tadi." ujar Naruto. Dia menerima gelas plastik yang diberikan Kakashi.

"Hm.. Aku baru saja datang."

Naruto mengangguk. Dia menyeruput air minumnya. Lalu kembali menatap jauh ke depan. Yang mana kini Shikamaru dan Sasuke tengah membantu Nenek Koharu membersihkan perut ikan di sebuah meja kecil dibawah pohon pisang.

"Bagaimana UTS mu?" tanya Kakashi.

Naruto mendengus mendengar pertanyaan Kakashi. Naruto tau bahwa Kakashi adalah seorang guru, tapi membawa pertanyaan UTS ke acara seperti ini adalah upaya pemecah keheningan yang kurang elit.

"Aku masih ingat dulu kau menjanjikan nilai bagus untuk kami jika kami berhasil menjadi anak baik selama dua bulan." ujar Naruto.

Kakashi mengernyitkan dahi.

"Benarkah?"

Naruto mengangkat bahu.

"Yah, jangan pikirkan hal itu. Kami sudah tidak apa apa."

Hening. Itulah yang terjadi selanjutnya. Karena kedua lelaki ini hanya diam dan lebih memilih sibuk dengan minuman masing masing. Meskipun di kasus Kakashi, dia hanya memegangi minumannya dan tidak terlihat gerik ingin meminumnya. Mungkin karena maskernya menghalangi atau-ah lupakan.

Lamunan kedua lelaki ini dibuyarkan ketika speaker yang sedari tadi tidak digunakan terdengar berbunyi lagi.

"Tes-tess.. oke, terima kasih-"

Mereka berdua beralih mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh panitia.

.

~iwdwiw~

.

Naruto pikir, setelah berbecek ria di kolam lumpur, mereka hanya tinggal menunggu panitia menyiapkan perlengkapan untuk lomba memasak. Tapi nyatanya tidak karena para keluarga yang ada di sini kini digiring untuk mengikuti acara yang ke dua.

Berburu Sayur.

Yap, setelah selesai dengan ikan, kini sayur lah yang diburu.

Perkebunan yang ada di seberang jalan lah yang akan menjadi medan perburuan. Dimana setiap orang diperbolehkan mengambil sayur dan buah sesuai keperluan yang mereka butuhkan untuk lomba memasak nanti sore.

Area yang boleh diambil adalah sama seperti tadi, yaitu dibatasi oleh tambang berwarna kuning. Namun tambang berwarna kuning yang ini di ulur sangat jauh sehingga kebun yang dimaksud adalah perkebunan yang cukup luas.

setiap orang boleh memetik apa saja asal kan tidak merusak ekosistem dan tetap menjaga lingkungan.

Naruto menatap gunting berbentuk tak biasa yang ia dapat dari Nenek Koharu. Dia bilang, gunting ini berfungsi sebagai alat pemotong buah. Sedangkan Sasuke dan Shikamaru diberi masing-masing sebuah keranjang.

"Jadi apa yang akan kita cari?" tanya Sasuke kepada Nenek Koharu.

Nenek tua itu tersenyum lalu memberikan secarik kertas kepada Sasuke.

"Ini daftarnya. Kita akan berpencar menjadi dua kubu." Ujar Nenek Koharu.

Sasuke menerima kertas itu dan membacanya sekilas.

"Kalian berdua cari barang-barang dari daftar itu.. Aku dan nak-Shika, akan mencari daftar yang lain." Ujar nenek Koharu sembari memperlihatkan secarik kertas lain yang ia pegang.

Sasuke dan Naruto mengangguk.

"Baiklah."

.

.

Skip

Sasuke dan Naruto kini telah masuk ke perkebunan. Mereka berpencar dan kini sudah siap berburu.

"Sasuke?"

"Hm?"

"Laos? Apa itu laos?" tanya Naruto saat dia membaca tulisan Nenek Koharu.

Sasuke tidak menoleh.

"Hn. Negara." jawab Sasuke.

Naruto menatap Sasuke bosan.

"Aku serius bodoh!" balas Naruto.

Sasuke kini menoleh. Dia baru sadar kalau Naruto ternyata membicarakan 'daftar belanja' Nenek Koharu.

Sasuke mau menjelaskan, tapi dia juga bingung bagai mana menjelaskannya.

"Cari yang mudah dulu. Yang sulit belakangan." jawab Sasuke akhirnya.

Naruto mengangguk dan mencoba tetap membaca daftar yang ia pegang.

1. Laos

2. Asparagus

3. Cabai Jalapeno

.

.

.

9. Jeruk.

Naruto melirik nomor sembilan dengan yakin.

"Oke kalau begitu, kita cari jeruk."

.

~iwdwiw~

.

Shikamaru hanya mengikuti saat Nenek Koharu membawanya ke arah yang dia sendiri tidak mengerti. Keranjang yang ia bawa sudah ada isinya. Shikamaru melirik lagi 'daftar belanja' yang kini beralih ke tangannya. Lalu mengamati apa yang dilakukan Nenek Koharu. Dia sedang memetik cabai.

"Err.. Sepertinya tidak ada cabai di daftar ini nek." ujar Shikamaru. Koharu menoleh. Dia tersenyum.

"Hm. Tak apa. Untuk berjaga-jaga."

Shikamaru mengangguk.

Dia lalu menyadari cabai berbentuk mengerikan yang barusaja dipetik Nenek Koharu. Ada yang berwarna merah, ada juga yang berwarna hijau muda.

"Itu cabai jalapeno. Orang bilang itu cabai paling pedas yang ditanam disini." jelas Nenek Koharu.

Shikamaru mengangguk.

"Ayo. Kita pergi ke tempat selanjutnya."

Shikamaru hanya mengiyakan lalu mengikuti Nenek Koharu. Mereka berdua tiba di deretan kebun kentang. Disana Shikamaru bertemu Shino.

Pemuda itu nampak tengah menggali gundukan tanah.

"Shino?"

"Ho? Shikamaru?" Shino yang menyadari Shikamaru memanggilnya segera menghentikan kegiatannya.

"Kau juga ikut kegiatan ini? Aku tidak melihatmu sedari tadi." tanya Shikamaru.

Shino diam menatap Shikamaru. Dia lalu berdiri.

"Kau sangat jahat, karena aku tadi pagi baris di belakang kalian bertiga. Aku bahkan ada di dekat kalian saat kalian disemprot oleh selang pemadam." jelas Shino.

Shikamaru mengernyitkan dahi.

"Benarkah?" Shikamaru tidak menyadari keberadaan pemuda ini sama sekali tadi. Mungkin dia memang ada disana. Lagipula, ini adalah Shino yang kita bicarakan. Yap-Shino yang itu.

Shino menoleh ke seorang nenek-nenek yang tak jauh dari sana tengah menggali kentang sembari mengobrol dengan ibu-ibu.

"Jadi.. Kau datang dengan nenekmu?" tanya Shino.

Shikamaru menggeleng.

"Nenek Koharu, tetangga kami."

Shino mengangguk.

"Kau sendiri?" tanya Shikamaru.

Shino menunjuk keluarga Yamanaka yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.

"Aku dipaksa Ino ikut, karena dia bilang lomba memasak butuh empat orang untuk berpartisipasi."

.

"Oi.. Shino-kun Kemari.. aku mendapat kentang yang besar."

Dimata Shikamaru nampak sepertinya Ayah Ino yang kini berteriak memanggil Shino.

Shikamaru menoleh ke Shino yang nampak gugup.

"Ini gawat kau tau Shikamaru.." ujar Shino tiba-tiba.

"Hah?"

"Orang tua Ino berpikir kalau aku dan Ino pacaran."

"..."

"..."

.

~iwdwiw~

.

Meanwhile

"Oi Naruto."

"Apa?"

"Kita sebaiknya kembali."

Naruto menoleh ke Sasuke.

"Apa maksudmu kembali? Kita butuh jeruk dan pohon jeruk tepat di depan mata kita Sasuke." ujar Naruto. Dia menunjuk pohon besar yang kini sangat berbuah. Dia bisa melihat beberapa buah berwarna oranye itu bergelantungan menunggu untuk dipetik.

"Tapi pohon ini ada di luar garis kuning." balas Sasuke.

Naruto menatap bosan Sasuke. Dia lalu menggunakan jengkal tangannya untuk mengukur jarak antara pohon dan garis kuning.

"Satu jengkal diluar garis kuning Sasuke. Itu tidak masalah." Balas Naruto.

Naruto tidak bohong. Pohon jeruk ini ada satu jengkal diluar tambang kuning yang digunakan untuk membatasi area. Bahkan, cabang pohon ini ada yang masuk ke area kuning.

Sasuke menghela nafas.

"Terserah saja."

Naruto terlihat akan mencoba memanjat. Sasuke akhirnya hanya mengamati Naruto dan tidak berniat untuk membantu.

Saat disadarinya pohon itu sangat susah untuk dipanjat, Naruto akhirnya mengurungkan niatnya. Dia menatap cabang yang menjulang diatasnya. ada beberapa jeruk disana. Sebenarnya sangat mudah dijangkau kalau kau mempunyai tongkat atau semacamnya.

Naruto melirik sekitar.

"Ah begini saja." Naruto tanpa aba-aba langsung memungut beberapa batu yang kebetulan ada di sekitarnya.

Sasuke memperhatikan.

"Aku akan melempar jatuh beberapa jeruk, kau harus menangkapnya dengan keranjangmu Sasuke." Jelas Naruto.

Sasuke memiringkan kepalanya.

"Memang kau bisa?" tanya Sasuke tidak yakin.

"Tch.. Tentu saja bisa!" balas Naruto sombong.

Sasuke mengangkat bahu. Baiklah.

Sasuke memposisikan diri tepat dibawah jeruk yang bergelantungan. Naruto mengambil Posisi sedikit jauh untuk memberi jarak kepada lemparannya.

"Siap?"

Sasuke mengangguk.

Lemparan 1 - SWUUSH! Batu itu mengenai dahannya, tapi tidak cukup untuk membuat buahnya jatuh.

"Sedikit lagi Naruto."

Lemparan 2 -WUSSS! Lemparan kedua adalah lemparan telak, satu jeruk jatuh. Dan Sasuke berhasil menangkapnya.

"Dapat satu!" Teriak Sasuke. Naruto tertawa. Naruto berniat mencobanya lagi.

Lemparan 3 - WUSSHH! KRAK! batu itu melesat terlalu tinggi. Namun berhasil mengenai sesuatu. Sesuatu itu jatuh.

Sasuke yang melihat nya jatuh pun dengan sigap menangkapnya dengan keranjangnya.

Namun saat dia tau apa yang jatuh, Matanya melotot.

Sebuah pecahan sarang lebah berukuran besar yang kini bercampur dengan jeruk di dalam keranjang. Sasuke bisa dengan jelas melihat belasan lebah yang keluar dari situ.

"AKHH!"

Pemuda raven ini pun dengan reflek menjatuhkan keranjangnya ke tanah dan berlari menjauh dari situ.

.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TBC

xxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

Author Note(s) : Hanzama Is Back with chapter 87. Hm, sebenarnya ada beberapa yang perlu dibahas di author notes kali ini. Hanzama juga ingin menyapa sahabat reader sekalian.

Pojok Ulasan Reviewer.

Dari Ah Uh Ih Oh : "Jangan buru buru beres, masalah 'kehamilan' bakal dibikin ribet gak nih."

Answer : Nah, inilah yang menjadi masalah kawan. Seperti yang dilihat, pada dasarnya, Yangre Humor itu potensinya sangat tinggi. Dan apabila ditata dengan benar, Hanzama yakin pasti akan menjadi sebuah karya yang bagus. Hanya saja di iwdwiw, karena terlalu banyak humor yang harus digarap dan minimnya catatan Hanzama, terkadang beberapa benang cerita putus begitu saja. Mungkin beberapa masalah akan ditinggalkan begitu saja, karena kemungkinan tidak pas dengan jalan cerita jika diungkit lagi. Kurang lebih seperti itu-Tapi mungkin beberapa akan Hanzama masukkan lagi ke after story.

Oke, mungkin itu. Terima kasih sudah review chapter lalu.. chapter selanjutnya besok.

Salam hangat dari Hanzama, semoga sukses selalu.

xxxxxxxxxxxxxxx

.

.

-Shino Mini Story-

"Ganteng Dari Lahir"

-000-

Shino sangat suka berjalan kaki mengitari daerah pertokoan. Baginya, melihat suasana senja di sore hari memang paling enak dihabiskan untuk jalan-jalan.

Dari toko roti yang menjual berbagai macam kue. Sampai tempat percetakan foto yang memajang berbagai macam panorama. 'R-Konoha photo studio' itulah tempat yang barusaja didatangi Shino. Mencetak beberapa lembar foto yang dia ambil dari kameranya, Shino berniat memajang gambar-gambar ini di kamarnya.

.

"Ha? Apa maksudnya kita tidak bisa ikut gata-lympic besok?"

"Kita masih bisa ikut. Tapi kalau hanya aku, kau dan ibumu, kita tidak bisa ikut lomba memasaknya."

"Keluarga Haruno ikut tahun ini ayah! Sakura mengajak sepupunya! kita juga harus mengusahakan sesuatu."

"Kau mau aku bagaimana?"

"Aku sudah mengajak pamanmu. Tapi dia bilang dia tidak bisa mampir ke konoha."

"..."

.

Langkah Shino terhenti di depan toko bunga yang dilihatnya ada seorang gadis keluar. Gadis yang ia kenali sebagai Ino Yamanaka.

Shino yang tidak sengaja mendengar perdebatan ayah dan anak barusan merasa malu dengan dirinya sendiri. Dia tidak bermaksud menguping.

"Shino." sapa Ino.

Shino hanya mengangguk. Raut wajahnya tidak terlihat karena tertutup kaca mata hitam dan jaket yang ia kenakan.

Shino yang merasa dipandangi hampir saja pergi dari situ jika Ino tidak menghampirinya dan memegang pundaknya.

Membuat Shino sedikit merasa aneh.

"Yosh!"

Tanpa aba-aba Shino ditarik masuk ke dalam toko bunga yamanaka.

"Ayah! Aku menemukan orang keempat nya!" Ujar Ino girang.

Inoichi menatap anak gadisnya yang tiba-tiba membawa orang lewat masuk ke dalam tokonya. Dia mencibir gadis itu setelahnya.

"Hah.. Mana ada! Kau tidak bisa dengan seenaknya menarik orang yang kebetulan lewat di depan toko kita dan tiba tiba kau ajak dia ikut gata-lympic!" ujar Inoichi.

Ino yang mendengarnya pun hanya cemberut. Dia menggengam erat pergelangan tangan Shino.

"Apa yang kau maksud orang lewat! Dia adalah pacarku Ayah!" ujar Ino.

Inoichi mengernyitkan dahi.

"Ha-?"

"Dia Aburame Shino." lanjut Ino

"H-HA?" Shino mematung di tempat. Dia tidak paham apa yang terjadi. Dan lebih tidak paham lagi karena tiba-tiba jaket dan kacamata hitam yang ia kenakan tiba tiba dilepas paksa oleh Ino.

"Lihat kan? Dia lebih ganteng dari Daniel Radcliff!" Ujar Ino. Dia merapikan rambut Shino yang berantakan menggunakan jari-jarinya.

Inoichi masih memproses perkataan anak gadisnya. Dia lalu melirik Shino dengan kedua bola matanya. Dia bisa merasakan tatapan tajam seorang pemuda tampan yang sangat mengintimidasi nya. Bahkan sebagai seorang pria dewasa, dia tidak bisa menolak pesona seorang Aburame Shino yang sudah ganteng dari lahir.

Saat dia paham sepenuhnya. Dia berlari naik ke lantai dua sembari berteriak.

"WHOAA! SAYANG! KAU DIMANA! INO MEMBAWA PACARNYA PULANG!"

.

REVIEW

v

v

v

v

v