UTS Telah usai bagi murid murid Konoha Gakuen. Namun sayangnya pihak sekolahan tidak menjanjikan libur panjang selain setelah UAS, jadi mereka akan tetap masuk seperti biasa setelah UTS.
Oke, anggap saja ada jeda libur 2 hari setelahnya. Jadi Naruto, Sasuke dan Shikamaru bisa menikmati beberapa hari itu untuk mengistirahatkan otak masing masing. Itulah mengapa mereka diam di rumah. Sibuk dengan urusannya masing masing.
Shikamaru di kamar,
Naruto di depan televisi
Dan Sasuke di dapur.
Kau tau apa yang ada di pikiran Sasuke saat melihat lemari es? aneh, yap. Mereka datang ke sini tanpa uang dengan bahan makan yang hanya bertahan selama 14 hari. Namun disinilah mereka, di hari yang ke 50 dan lemari es mereka tetap ada isinya.
Kalian tau kan tentang acara Gata-Lympic beberapa hari lalu? Nenek Koharu membawakan beberapa sayur,buah dan ikan beku untuk tiga pemuda ini dari acara tersebut.
Mungkin ini yang dinamakan Profit Sosial? kau tau, hidup tanpa mengandalkan materi, tetapi akan selalu ada orang lain yang membantumu? Ah Sasuke bahkan paham lagi. Dari kecil, dia besar dengan konsep 'ada uang ada barang' dan dia tidak pernah memperdulikan faktor lain seperti 'hubungan sosial' dsb. Kau tau kan, kalau bahasa anak kos. 'Selama masih ada kawan, pasti bisa makan'-uhuk uhuk.
Sasuke duduk di meja makan dengan sabar. Sembari menunggu air yang ia masak beberapa menit lalu matang, dia sibuk berkutat dengan lembar soal matematika yang jawabannya telah ia kumpulkan kemarin. Ia berharap mencoba menemukan jawaban yang benar pada satu soal yang tidak bisa ia kerjakan kemarin.
Itu sebelum Itachi mengiriminya pesan singkat (ke HP jadulnya) yang berisi :
'Sasuke. Kau bisa ke kantor Uchiha Corp siang ini? Kakek Madara memanggilmu.'
Membuat Sasuke mengernyitkan dahi heran.
.
DISCLAIMER : Naruto bukan punya Hanzama!
Naruto © Masashi Kishimoto
| I Will Do What I Want © Hanzama |
Rating : T(+)
| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |
.
Chapter 89 : Money Talks?
.
Setelah minta ditemani, Naruto dan Shikamaru akhirnya ikut Sasuke. Mereka bertiga berdiri di depan sebuah gedung tinggi dengan logo kipas bertuliskan Uchiha corp.
Mereka barusaja keluar dari Taxi yang menjemput mereka di foREVer street. Untung saja, Itachi bertanggung jawab penuh dengan panggilan ini. jika tidak Sasuke pasti enggan harus memikirkan cara sendiri untuk bisa sampai kesini. Dia tidak bisa membayangkan kalau dia harus berjalan kaki, hanya untuk menemui kakeknya di gedung ini.
Merasa siap jiwa dan raga, mereka kemudian berjalan santai masuk ke gedung tinggi itu. Sesampainya di dalam, Sasuke dengan santai berjalan menuju lift dan berniat Segera naik ke atas. Itu sebelum mereka dihalau oleh penjaga lift.
"Maaf, tamu silahkan melapor ke Lobby terlebih dahulu." Ujar penjaga lift itu kepada mereka bertiga. Tatapanya sedikit galak.
Naruto dan Shikamaru menatap Sasuke.
Sedangkan Sasuke yang ditatap malah risih. Ah tentu saja, apa yang ia harapkan. Mereka bertiga adalah pemuda yang salah tempat. Orang-orang selain mereka disini berpakaian jas dan berdasi sedangkan mereka bertiga, hanya berkaos. Shikamaru lebih parah. Dia malah bersendal jepit. Sasuke bahkan bisa melihat kombinasi huruf S-W-A-L-L-O-W yang terpampang jelas. Pegawai yang waras pasti akan tetap curiga dengan ketiga pemuda yang berpakaian seperti mereka.
Sasuke yang dulu, pasti akan segera memarahi penjaga lift ini, yang sepertinya orang baru. Dan kemungkinan bilang ke kakeknya kalau pria ini harus dipecat. Namun kali ini, Sasuke lebih memilih kembali ke lobby, dan mengisi daftar tamu atau apalah. Lagipula, sudah sangat lama semenjak Sasuke terakhir kesini.
Diikuti Naruto dan Shikamaru.
.
Di meja Resepsionis.
"Permisi." Ujar Sasuke kepada seorang resepsionis muda yang kini tengah menulis catatan di buku tamu.
Resepsionis muda ini membalas tatapan ketiga pemuda itu ramah. Dia berdiri dan menatap ketiga pemuda ini satu persatu. Saat dia menyadari pakaian ketiga pemuda ini yang tidak formal sama sekali, dia merasa yakin kalau ketiga pemuda ini salah gedung.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis itu.
"Hn. Aku ingin bertemu dengan Uchiha Madara." Jawab Sasuke.
Seketika itu Resepsionis ini tau bahwa ketiga pemuda ini adalah orang asing yang tengah mencari masalah. Maksudnya, tidak ada sepanjang kerjanya tiga orang berpakaian kaos oblong tiba tiba masuk ke gedung utama perusahaan dan bilang ingin bertemu pimpinan tertinggi. Bahkan tadi pagi, seseorang yang ingin bertemu Manajer HRD pun berpaiakan jas rapi.
"Maaf, saya tidak bisa mempertemukan anda dengan pimpinan tertinggi perusahaan. Beliau sangat sibuk dan tidak bisa diganggu. Kalau ada keperluan, silahkan melapor ke pihak keamanan di luar." Ujar Resepsionis itu.
Naruto yang mendengarnya sedikit tersinggung.
"Maksudmu? Kami diusir?" tanya Naruto. Nadanya sedikit meninggi.
"Oi. Nona, kau tidak tau siapa pemuda ini?" tanya Shikamaru, dia menunjuk Sasuke.
Resepsionis itu masih ngeyel untuk tidak mengizinkan mereka bertiga lebih lama di situ.
"Maaf, kalau tuan-tuan terlalu memaksa, saya harus memanggil pihak keamanan." Lanjut Resepsionis itu.
Untung.. Untung saja Itachi memergoki mereka bertiga sebelum keamanan benar-benar datang.
"Sasuke? malah disini! Kenapa tidak segera naik?" tanya Itachi. Dia nampak datang dari lift yang tadi. Papa muda itu berpakaian jas rapi dan bersepatu pantofel, dia bahkan berdasi. Sasuke menatap Itachi dan gadis resepsionist bergantian.
Gadis resepsionis itu mengangguk sopan kepada Itachi.
Karena masalah waktu, Itachi sepertinya harus menunda menjelaskan siapa mereka bertiga kepada gadis resepsionis. Dia lebih memilih menggiring ketiga pemuda itu menuju lift.
"Maklumi saja, orang baru." Ujar Itachi kepada mereka bertiga. Naruto hanya mengangkat bahu, dan Shikamaru mengangguk. Sedangkan Sasuke lebih memilih tidak berkomentar.
penjaga lift yang tadi juga mengangguk sopan kepada Itachi.
Sesampainya di atas, Mereka bertiga diarahkan Itachi ke sebuah ruangan santai yang cukup luas. Ruangan yang bersofa dan terdapat sebuah mini bar di pojok. TV flat, dan beberapa prabotan lain juga duduk manis di situ.
Disana, dia bertemu Hikari.
"Hikariii~~" Naruto lah yang berteriak minta disambut kepada pria kecil itu.
Sedangkan pria kecil yang bersangkutan hanya menoleh ke pintu sebelum melanjutkan kegiatannya bermain dengan krayon dan secarik kertas (Sepertinya sedang menggambar rencana gedung mewahnya sendiri di masa depan). Tatapannya masih arogan, seperti biasanya.
Sasuke menoleh sekitar, karena tidak melihat kakak iparnya. Dia lalu menoleh ke Itachi untuk bertanya.
"Izumi mana?" tanya Sasuke.
"Hm? Oh, dia di pantry bersama Okaa-san. Dia tiba-tiba mual saat aku bilang kalau kita ada di lantai 89. Sepertinya dia sedikit ngeri dengan ketinggiannya." Jawab Itachi, dia menunjuk sisi selatan ruangan yang pembatas antara dunia luar hanyalah kaca tanpa beton.
Sasuke yang mendengar ucapan Itachi malah semakin penasaran.
"Okaa-san?" Tunggu, Ibunya juga ada disini?
Namun Itachi tidak berniat menjelaskan. Dia malah melirik jam tangannya. Lalu beralih ke Sasuke dengan memegang pundak pemuda itu.
Pandangannya lurus langsung ke mata Sasuke. Membuat Sasuke sedikit risih.
"Dengar adikku, Apapun yang dikatakan kakek Madara nanti, hadapi saja." ujar Itachi.
Sasuke diam seribu bahasa. Namun pikirannya malah melayang kemana-mana.
"..."
.
~iwdwiw~
.
Sasuke dialihkan ke sebuah ruangan yang berbeda dari yang tadi. Ruangan ini sangat formal dan terasa sangat berat. Sasuke bisa menyadari keberadaan ayahnya disana saat dia masuk. Diikuti Itachi, dia lalu menghampiri ayahnya. Tak lama, Ibunya juga datang bersama Izumi. Di ruangan itu, ada pula kakak dari Ayah Sasuke atau paman Sasuke, Uchiha Kagami yang berpakaian jas rapi seperti Itachi.
Di pojok ruangan, nampaklah dia. Sosok pemimpin tertinggi perusahaan. CEO dari Uchiha Corp. Uchiha Madara itu sendiri. Dia duduk di meja kerjanya. Meja dengan kursi yang besar sekali. Di belakangnya adalah tembok bergambar kipas merah besar, yang membuat siapa saja yang berhadapan langsung dengan beliau di ruangan ini pasti bisa merasakan kehebatan seorang Uchiha Madara hanya dengan menatap logo kipas itu.
Dia kini tengah membaca laporan keuangan yang dibawa oleh sekertarisnya. Nampak sekertarisnya itu terlihat gugup karena dia berada di satu ruangan dengan keluarga besar Klan Uchiha.
Sasuke menelan ludah, semua keluarga besar ada disini, yah hampir semua. Terlepas dari Uchiha Hikari yang ada di luar bersama Naruto dan Shikamaru.
Shikamaru dan Naruto tidak diperbolehkan masuk, karena Itachi bilang ini rapat keluarga, dan karena itu kedua pemuda ini dititipi untuk menjaga Hikari sebentar. Anggap saja mereka kini ada di depan pintu, mencoba menempelkan telinga di pintu meskipun sepertinya mereka tidak akan bisa mendengarkan suara apapun dari dalam.
Madara menandatangani laporan keuangan itu dan menyuruh sekertarisnya pergi saat dirasa dia sudah melihat semua orang yang ia harapkan.
tidak perlu waktu lama hingga seisi ruangan itu akhirnya hanya ada 'orang-orang dari klan nya' saja
Tanpa repot-repot mempersilahkan setiap orang duduk, dia pun langsung angkat bicara.
"Hm.. Aku yakin kalian paham kenapa kalian aku panggil kesini."
Semua orang yang ada saling pandang, dari raut wajah mereka terlihat mereka paham apa yang terjadi. Kecuali Sasuke dan Izumi tentu saja.
.
.
Skip.
"A-APA?"
"Kau dengar apa yang ku katakan Sasuke."
Sasuke bisa merasakan tenggorokannya sangat kering sekarang. Jantungnya pun berdebar kencang seiring setiap kata yang keluar dari mulut seorang Uchiha Madara.
"T-Tunggu. Kenapa harus aku?" tanya Sasuke lagi.
"Karena tidak ada orang lain selain kau." balas Madara dengan penekanan di setiap kalimatnya.
Sasuke menoleh ke orang tuanya seakan minta penjelasan. Namun Mikoto dan Fugaku nampak hanya diam dan pasrah dengan keputusan Madara. Sasuke lalu beralih ke Itachi, itachi juga cuma menggeleng. Sasuke beralih ke pamannya Kagami, namun ekspresinya tak jauh beda dengan Ayahnya.
Melihat ekspresi bimbang di wajah Sasuke, Madara memutuskan untuk melanjutkan ucapannya.
"Sebelum hari pensiun ku datang, aku selalu menekankan kepada kalian bahwa aku hanya ingin memberikan jabatan penting ini kepada salah satu cucuku." Ujar Madara. Dia mengingatkan kembali ke setiap orang yang ada disana tentang sebuah Ultimatum yang selalu ia tekankan kepada seluruh anggota klan.
Mereka semua mendengarkan.
"Hanya ada tiga orang yang seharusnya layak menggantikanku sebagai CEO di perusahaan ini." lanjut Madara.
Sasuke diam mendengarkan.
"Pertama adalah Itachi..." Madara melirik Itachi "...jika seandainya, dia tidak main-main dengan perempuan dan membuang potensi nya begitu saja. Jujur, setelah mendengar kabar tentang Itachi, aku sudah enggan percaya dengannya. Dia sudah membohongi keluarga ini kurang lebih selama tiga tahun."
Itachi hanya diam. Dia bahkan tidak punya kata-kata untuk membalas ucapan Madara.
Sedangkan Izumi terlihat sangat tertekan, dia bersembunyi di balik punggung Itachi saat tatapan tajam Uchiha Madara menatapnya. Tangannya bergetar hebat. Jelas sekali kalau Uchiha Madara tidak menyukai keberadaannya.
"Aku sendiri yang bilang ke kalian bahwa perasaan sentimentil adalah hal yang bodoh." Lanjut Madara. Dia mengutarakan setiap kata yang ia ucapkan terkhusus hanya untuk Sasuke. Tidak memperdulikan orang lain di ruangan itu yang kemungkinan tersinggung.
"Yang kedua adalah Shisui.." Madara melirik Kagami, Ayah dari Uchiha Shisui ini nampak mendecak kecewa. ".. Namun pemuda tidak tau diuntung itu, sekarang malah hilang entah kemana. Dia bahkan mengabaikan kuliahnya dan lebih memilih kabur dari rumah. Jelas sekali dia tidak ada niatan untuk memegang tanggung jawab ini."
Madara menatap Sasuke lagi.
"Aku memang sudah tua. Dan perjuanganku memang sudah tiba di titik akhir. Dan tidak ada yang bisa diandalkan selain dirimu, Sasuke."
Sasuke terlihat mematung di tempat.
"Maka dari itu.." Madara menyerahkan sebuah berkas dengan map tebal yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari kepada 'cucu kesayangan' yang ada di depannya.
"Tanda tangani dokumen ini, dan Uchiha Corp. Jadi milikmu."
Glek.
~iwdwiw~
.
Oke, akhirnya Sasuke tau kenapa dia ditarik kesini. Dan alasannya adalah sebuah hal yang tidak diprediksi Sasuke sama sekali.
"Akh."
Sasuke kini berada di sebuah ruangan tertutup. Dia hanya sendirian. Ditemani oleh berkas yang diberi Madara tadi, dan sebuah pulpen.
Sedari kecil, Sasuke selalu menginginkan jadi orang terpandang. Mendapat pujian dan menghasilkan banyak uang. Itu adalah cita-citanya. Namun baru kali ini dia memikirkannya begitu dalam. Membeli ucapan Kakek Madara, artinya menjual dirinya kepada tanggung jawab keluarga.
Sasuke bukannya tidak mau, tapi ini semua terlalu mendadak!
Mana ada seorang pemuda yang lulus SMA saja belum, tiba tiba disuruh jadi CEO. Maksudku lihat Sasuke, ini adalah keputusan yang besar dan Sasuke bahkan belum mandi-Err, maksudnya. Setiap hal besar harus dipersiapkan dengan sesuatu yang sempurna juga kan?
Kontrak miliaran dolar normalnya diberikan kepada seorang yang berlatar belakang jenius, visioner, berpenampilan rapi dan meyakinkan. Bukannya ke seorang pemuda ber kaos oblong, belum mandi dan hampir diusir oleh resepsionis. Ayolah kakek, kau pasti bercanda.
Mengingat bahwa kakek Madara mengharapkan Sasuke menandatangani dokumen ini sekarang juga membuat Sasuke tambah pusing.
TOK TOK TOK.
Sasuke menoleh saat pintu ruangan itu diketuk. Nampak Itachi masuk ke dalam ruangan. Papa muda itu terlihat menghela nafas. Setelan jas nya kini sudah tidak serapi tadi.
Dia berjalan menghampiri dan duduk di depan Sasuke.
Sasuke Sasuke memperhatikan.
"Seharusnya ini adalah dokumen milikmu." Ujar Sasuke.
Ekspresi kakaknya ini terlihat datar. Kakaknya ini tidak kecewa, tapi hanya iba terhadap Sasuke.
Sasuke diam menatap Itachi. Dia hanya bisa menemukan ekspresi bersalah di raut wajah Itachi setelahnya. Bukan karena bersalah telah menikahi Izumi-dan mengecewakan kakek Madara, tapi bersalah karena tidak bisa membantu Sasuke lebih di kondisi yang serba mendadak ini.
"Maaf Sasuke. Aku tau kau kecewa." Ujar Itachi akhirnya.
Sasuke menghela nafas dalam. Tentu saja Sasuke tetap mengharapkan kalau Kakak bodohnya ini lah yang harus menjadi CEO. Toh, dia lebih terlihat meyakinkan dibanding Sasuke. Namun titah seorang Uchiha Madara adalah hal mutlak.
Yah. Mau bagaimana lagi? Yang sudah terjadi biarlah terjadi.
"Tak apa." Balas Sasuke.
Itachi diam mendengarkan.
beberapa detik diam, sebelum Sasuke melanjutkan.
"Aku akan lebih kecewa lagi jika seandainya tidak pernah bertemu Izumi dan Hikari."
Mendengar itu, Itachi malah terharu. Pria ini memang sudah tidak punya hak waris untuk Uchiha Corp. Tapi dia tidak sedih. Dia bahagia malah, Bahagia karena keluarga kecilnya. Bahagia juga karena adik bodohnya kini berubah menjadi adik bodoh yang berpikiran dewasa.
Sasuke nampak beranjak dari duduknya. Dia membawa dokumen itu dan berniat keluar dari ruangan. Dia masih belum mendandatanganinya.
"Kau mau kemana?" tanya Itachi.
Sasuke menoleh. Dia tersenyum.
"Mengambil alih perusahaan ini."
Ujar Sasuke dengan nada keren yang membuat wanita mana saja yang mendengarnya pasti akan pingsan ditempat.
.
~iwdwiw~
.
"HOEEK!"
Setelah bersikap keren di depan kakaknya, Sasuke kini malah muntah-muntah di toilet. Setelah dipikir ulang, dia tidak mau menandatangani dokumen ini. Tekanan ini, mengingatkan Sasuke kembali ke waktu pertama kali dia naik jet coaster. Tapi yang ini lebih parah.
"Sasuke?" kegiatannya di ganggu oleh Naruto dan Shikamaru.
Mereka nampak berdiri di depan pintu toilet.
"Kau tidak apa apa?" tanya Shikamaru.
Sasuke yang melihat kedua pemuda itu pun hanya menatap saja. Wajah Sasuke terlihat pucat.
"Oi.."
Kedua pemuda itu memperhatikan saat Sasuke akhirnya bersuara.
"Ayo kita kabur!" Lanjut Sasuke.
Shikamaru dan Naruto hanya saling pandang tidak mengerti.
.
Skip
Di lorong.
"Kau serius?" tanya Naruto.
Sasuke menjawab pertanyaan Naruto dengan mengibaskan dokumen yang harus dia tanda tangani kepada Naruto.
Sedangkan Shikamaru yang mendengar cerita Sasuke malah tenggelam ke pikirannya sendiri. Maksud Shikamaru, Lihatlah Uchiha Madara, dia punya 3 cucu dan akhirnya tetap Sasuke lah yang mendapat kewajiban menjadi CEO perusahaan. Apalagi kelak Shikamaru, yang notabene nya adalah 'harapan terakhir' keluarga Nara. Meskipun dia tau hal yang sama juga akan terjadi kepadanya. Namun Shikamaru tetap tidak akan siap jika hari merepotkan itu datang. Karena berbeda dengan Uchiha Corp. yang kepemilikan tunggal perusahaan ada di tangan keluarga besar, Nara Astrotech tidak begitu. Keputusan seperti ini harus melalui 9 dewan perusahaan dan rapat utama pemegang saham. Itu berjuta kali lebih merepotkan.
Naruto melirik Shikamaru yang bermuka pucat saat mendengar cerita Sasuke. Untung beribu Untung Naruto hanya anak walikota. Maksudnya adalah, jabatan walikota dipilih secara demoktratis dan tidak ada yang namanya 'pewaris gelar walikota'
Mereka bertiga berjalan masuk ke lift dengan perlahan. Mereka bahkan tidak repot-repot berpamitan kepada orang tua Sasuke, maupun Itachi, Izumi bahkan Hikari. Yang Sasuke tau hanyalah menjauh dari Kakeknya, dan Naruto serta Shikamaru hanya mengikuti.
"L-Lantai berapa Sasuke-sama?"
Sasuke terheran dan menatap aneh kepada penjaga lift yang kini berucap sopan kepada Sasuke.
"Lantai satu paman." Naruto lah yang menjawab pertanyaan orang itu.
"B-Baik!"
Dengan perlahan penjaga lift itu menekan tombol nomor satu untuk mengantar ketiga pemuda ini kembali ke lobby.
Turun dari lantai 89 adalah perjalanan yang cukup panjang. Ditemani lagu yang entah apa yang terdengar di lift, keempat orang yang ada di kotak berjalan itu hanya diam tak bersuara.
Cting.
Saat lift itu sampai di lantai satu. Penjaga lift tersebut berucap "Semoga hari anda menyenangkan Sasuke-sama." sebelum kembali ke pekerjaannya.
Ketiga pemuda itu tidak ambil pusing karena yang mereka tau sekarang adalah berjalan keluar dari gedung ini.
Sayangnya, saat mereka sampai area lobby, nampak Madara malah ada di sana. Pemimpin tertinggi perusahaan itu kini tengah berbicara kepada Resepsionis.
"Ah. Sasuke." Sapa Madara kepada Sasuke.
Sasuke otomatis menghentikan langkahnya. Ah, sial.
"S-Selamat Siang Sasuke-sama."
Sasuke bisa mendengar resepsionis yang ingin mengusir mereka tadi kini berubah sopan di depan Sasuke.
Sasuke masih saja tidak bergerak saat Madara kemudian berjalan mendekat. Bahkan di detik ini, Shikamaru dan Naruto bisa merasakan perasaan nervous yang dialami Sasuke. Turun menghindari orang ini, eh malah ketemu di lobby.
Madara menatap Sasuke tanpa ekspresi. Seperti biasa, raut wajahnya tajam tanpa senyum. Seakan membuat setiap pegawai yang ada di lobby merasakan tatapan dingin yang memotiviasi mereka mengecek dua kali apakah pekerjaan yang mereka kerjakan sudah benar di depan bos nya.
"Sudah kau tanda tangani?" tanya Madara.
Sasuke menelan ludahnya.
"Belum." Jawabnya pelan.
Garis bibir Madara sedikit turun saat mendengar ucapan Sasuke.
"Kau tidak mau menandatanganinya?" tanya Madara tajam.
Membuat Sasuke semakin tertekan. Dia bahkan mengalihkan pandangannya, dan tidak berani menatap secara langsung mata pria dewasa yang ada di depannya.
Glek.
Dia diam sebentar sebelum berucap.
"10 Hari.." Ucap Sasuke pelan.
"..."
"... beri waktu aku 10 hari. Akan ku tanda tangani." Jelas Sasuke. Dia tidak bisa memikirkan jawaban yang lebih baik untuk menghindari situasi ini. 10 Hari lagi, adalah selesainya kontrak mereka dengan Tsunade.
Namun Madara sepertinya sedikit tidak puas dengan penawaran Sasuke.
"Menandatangani berkas itu tidak lebih dari 5 menit. Kenapa kau harus menunggu 10 hari?" tanya Madara.
Naruto dan Shikamaru melihat Sasuke yang menunduk karena tidak kuasa melawan pertanyaan tajam Madara. Tensi yang sangat berat.
Itu sebelum Sasuke menghela nafas dalam dan menatap Madara mantap.
"Aku butuh waktu, kakek." Ujarnya mantap. Raut wajah Sasuke sedikit keras.
Madara masih tajam memperhatikan pemuda yang ada di depannya. Butuh waktu sekitar 30 detik dalam keheningan sampai akhirnya Madara menjawab permintaan Sasuke.
.
"..10 Hari. Dan kau akan kembali ke sini. Menyerahkan berkas itu kepadaku." ujar Madara akhirnya setuju.
Sasuke mengangguk.
"Ya."
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
TBC
xxxxxxxxxxxxxxx
Author Note(s) : Heyho. Beberapa chapter ke depan mungkin akan sedikit naik turun. Jadi, Hanzama tidak akan menjanjikan humor yang terlalu tinggi.
Okelah. Mungkin itu.
Tinggalkan review, dan mungkin (hanya mungkin) hanzama akan usahakan update kilat~~
Sekian dari Hanzama. Semoga sukses selalu!
CIAWW!
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
After
.
Malam hari di foREVer street terasa sangat hambar. Mungkin karena Sasuke kini tidak melakukan hal yang lain selain tiduran dan merenung.
Di perjalanan pulang tadi, Sasuke sempat berbincang kepada Itachi. Sedangkan Itachi hanya mengangguk setuju saat Sasuke bilang minta keringanan 10 hari.
.
"Kalau kau masih punya waktu 10 hari, mungkin aku bisa mengusahakan sesuatu." ujar Itachi sore tadi.
"Sesuatu?"
.
Namun Itachi enggan menjelaskan, dia hanya berpesan kepada Sasuke untuk istirahat cukup dan jangan banyak berpikir.
"Masih memikirkanya eh?"
Kegiatannya harus diinterupsi oleh Naruto yang kini berada di ambang pintu. Dia memegangi buah jeruk yang ia dapat dari dapur.
Sasuke hanya melirik, tapi tidak berniat beranjak dari posisinya.
"Uchiha Sasuke, CEO muda perusahaan Uchiha. Menurutku, gelar itu tidak terlalu buruk." Naruto mengutarakan opininya.
"..."
"Kalau aku jadi kau, akan ku tandatangani kontraknya, lalu dua hari setelahnya ku jual kantornya, setelah itu aku akan berbisnis ramen." Canda Naruto. Dia melemparkan jeruk yang sisa setengah itu kepada Sasuke.
Sasuke menangkapnya dengan satu tangan.
Dia mendengus mendengar candaan Naruto.
Sasuke akan megakui bahwa itu adalah ide yang paling jenius yang pernah ia dengar.
REVIEW
v
v
v
v
