Naruto mengucek matanya. Dia bangun paling pagi hari ini. Dan sudah tugas orang yang bangun pagi untuk membuka gorden dan pintu depan (Ya, rumah ini ada gorden nya, kediaman mereka tidak se 'gubuk' yang kalian kira). Berjaga-jaga kalau ada yang ingin bertamu.

Dia berjalan malas mendekati ruang depan setelah dia mematikan lampu dapur yang menyala. Entah siapa yang terakhir ada di dapur semalam dan lupa mematikan lampunya. Naruto akan asumsikan itu adalah Shikamaru, karena pemuda berkuncir itu terkadang memang tidak peduli dengan sesuatu. Bahkan pernah suatu hari, dia meninggalkan keran air menyala semalaman, membuat seluruh lantai dapur basah kuyup dan Sasuke lah yang menjadi korban karena terpleset.

Naruto dengan cuek lalu membuka kunci pintu depan.

"Selamat pagi."

"Hn." Sembari sesekali menguap lebar, Naruto menjawab santai seorang pemuda yang kini tengah bertelanjang dada di depan rumahnya

Naruto berjalan kembali ke belakang dan berniat langsung ke kamar mandi, saat dirasanya pintu depan sudah terbuka sempurna.

Sesampainya kembali di dapur Naruto menghentikan langkahnya dan berputar balik. Karena menyadari hal yang janggal.

Yap, dia cukup yakin barusaja melihat seorang asing bertelanjang dada dan tengah berkeramas menggunakan selang air di beranda rumah nya.

Naruto pun langsung berjalan cepat kembali ke depan.

"Shelamhat pfaghi." Sapa pemuda itu lagi. Pemuda itu kini tengah sibuk dengan sikat gigi dan odol. Sepenuhnya mengabaikan sang penghuni rumah (sekaligus pemilik air) yang menatap dia dengan pandangan aneh.

mengikuti keheranan-nya, Naruto berteriak menuding orang asing itu.

"Siapa kau?!"

DISCLAIMER : Naruto bukan punya Hanzama!

Naruto © Masashi Kishimoto

| I Will Do What I Want © Hanzama |

Rating : T(+)

| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |

.

Chapter 90 : Money Talks? Not Really.

.

"Tehnya ndoro." ujar Naruto menyajikan dua gelas teh kepada Sasuke dan tamunya. Tamu yang tadi pagi dipergoki Naruto dengan cuek mandi di depan pekarangan rumah. Sasuke hanya mengangguk dan berucap terima kasih. Namun Naruto hanya membalas ucapan Sasuke dengan pandangan yang seakan berucap 'kenapa selalu Uchiha.'

Sasuke lah yang mengenali pemuda tidak jelas itu tadi. Dia adalah Uchiha Shisui, sepupu Sasuke. Yang Naruto sangat ingat betul, bahwa Sasuke kemarin berkata pemuda bernama Shisui ini sudah menghilang berminggu-minggu dari radar keluarga Uchiha. Tapi inilah dia sekarang. Sehari kemudian duduk di sofa bersama Sasuke, seakan apa yang di jelaskan Uchiha Madara kemarin tentang dirinya hanyalah omong kosong yang tidak terbukti kebenarannya.

.

"Hm.. Sudah kuduga."

Sasuke dan Shisui ada di ruang tamu. Ini adalah 'percakapan serius Uchiha, episode kedua' . Yang lagi lagi berlangsung di sofa ruang tamu.

Tentu saja itu merujuk kepada maksud tatapan Naruto kepada Sasuke tentang kenapa selalu Uchiha. Kenapa keluarga klan yang katanya terhormat ini nyatanya selalu datang ke sini dengan kejutan yang tidak jelas. Pertama Itachi yang datang ke sini membawa istri dan anaknya, kemudian orang ini, yang mandi tanpa dosa di depan rumah.

Itulah kenapa Naruto memutuskan meninggalkan kedua orang ini berbicara sendiri. Dan lebih memilih melakukan kegiatan lain.

.

Sasuke menerima kembali 'kontrak serah terima perusahaan' yang diperlihatkannya kepada Shisui.

"Minta keringanan 10 hari adalah langkah yang benar Sasuke, jabatan perusahaan tidak layak jika dengan tiba tiba dialihkan secara mendadak. Apalagi dengan kondisimu yang masih sekolah." Lanjut Shisui.

Sasuke hanya diam mendengarkan apa yang ingin dikatakan Shisui. Pemuda yang umurnya mendekati Itachi ini sudah menceritakan semuanya. Tentang kenapa dia ada disini dan dimana saja dia selama ini.

Shisui pergi dari rumah karena selama sebulan penuh dia didesak oleh ayahnya untuk meng klaim hak warisnya sebagai penerus Uchiha Madara sebagai CEO. Dia bahkan dijanjikan sebuah mansion oleh ayahnya apabila dia mau memperjuangkan hak nya itu. Shisui yang sangat tidak suka hidupnya diatur orang lain, akhinya memilih pergi dari rumah. Dia tinggal di tempat teman-temannya di Kumo.

Dan alasan Shisui tau rumah ini adalah, karena dia diberi tau oleh Itachi. Dia bergegas kembali ke Konoha tadi malam juga setelah Itachi menjelaskan semuanya via telfon. Tentu saja yang ia temui langsung adalah Sasuke.

"Jadi..?" tanya Sasuke menggantungkan kalimatnya.

Shisui memiringkan kepalanya.

"Jadi apa?" Shisui tidak mengerti pertanyaan Sasuke.

"Kau mencariku karena terkait dokumen ini kan? Kau yang akan menandatanganinya dan menggantikanku?" tanya Sasuke. Menarik kesimpulan tentang kedatangan Shisui kesini.

Shisui mendengus.

"Tentu saja tidak."

Sasuke yang mendegar ucapan pemuda di depannya malah semakin heran.

Sasuke diam. Dia malah semakin tidak mengerti. Shisui tetap melanjutkan.

"Meskipun kau bayar aku dengan semua uang yang ada di dunia ini, aku tetap tidak mau mengurus jabatan yang merepotkan itu."Jelas Shisui.

Sekelibat Sasuke menampakan pandangan 'lalu kenapa kau kemari' kepada Shisui. Sebelum akhirnya dia paham tatapan keras Shisui. Pemuda ini sepertinya tidak terlalu menyukai kakek Madara.

Sasuke menghela nafas. Benar juga, pada akhirnya tidak ada yang berubah. Tetap saja Sasuke yang harus berkorban menjadi CEO muda perusahaan Uchiha.

Shisui yang melihat tampang melas Sasuke akhirnya mengutarakan tujuan utamanya datang kesini.

"Namun. Jika kau tidak suka, sebenarnya aku punya solusi.."

Sasuke menoleh pelan menatap mata Shisui. Ada secercah harapan yang terpancar di mata pemuda itu.

"Solusi apa?"

"Solusi ini tergantung dari satu pertanyaan : Dari lubuk hatimu yang paling dalam, kau mau jadi CEO atau tidak?"

Sasuke diam. Dia mencerna pertanyaan Shisui dengan seksama. Jika ditanya dari lubuk hati Sasuke yang paling dalam.

Jawabannya tentu saja.

.

.

"Tidak."

Dia belum siap menjual masa mudanya untuk tanggung jawab keluarga.

Shisui mengangguk.

Sedetik kemudian dia lalu mengeluarkan sebuah foto dari saku jaketnya.

"Kalau begitu kita cari orang ini." Jelas Shisui.

Sasuke menerima secarik foto itu dan memperhatikannya dengan seksama.

"Kau tau siapa dia?" tanya Shisui.

Sasuke menggeleng, dia sama sekali tidak kenal.

.

"Uchiha Obito. Cucu dari Uchiha Izuna." Jelas Shisui.

Sasuke mencoba mengingat ingat. Dia mengenali Uchiha Izuna sebagai adik kandung Uchiha Madara. Sasuke pernah bertemu dengan nya (Uchiha Izuna) sekali. Itu waktu ulang tahun nya yang ke 4 atau 5. Sasuke lupa.

"Yakinkan dia untuk jadi CEO Uchiha Corp. Dan kau akan baik-baik saja." Shisui mengakhiri kalimatnya.

"Memang bisa?" tanya Sasuke.

"Secara tekhnis, dia adalah kandidat sah, Sasuke. Layaknya dirimu yang memanggil Uchiha Izuna Kakek, Madara juga memanggil Uchiha Obito cucu."

Sasuke diam.

usulan Shisui masih terdengar tidak mudah bagi Sasuke.

"Bagaimana jika kakek Madara tidak setuju?"

Shisui tersenyum yakin.

"Tentu saja kita yakinkan kakek tua kolot itu. Aku pernah menjelaskan usulan ini kepada Paman Fugaku dan bibi Mikoto, dan aku yakin mereka juga akan mendukung kita."

Sasuke diam. Dia masih tidak yakin.

"Dengar Sasuke. Kau mungkin tidak mengenal Obito. Namun dia adalah pemuda cerdas, dan dia sangat paham dengan kepemimpinan lebih dibanding aku, kau bahkan Itachi. Dan aku secara pribadi, lebih suka melihatmu menyelesaikan sekolahmu dengan tenang dulu, daripada mendadak harus mengurus perusahaan kakek tua itu." ujar Shisui pada akhirnya.

Sasuke menatap Shisui tidak yakin.

"Lalu? kau sendiri, Apa alasanmu tidak mau menggantikan Kakek Madara?" tanya Sasuke kepada Shisui.

Shisui membalas tatapan Sasuke dengan tatapan tak kalah tajam. Dia menggeleng.

"Aku tidak bisa mengatakan alasannya." Jawabnya.

"..."

"Aku datang padamu menawarkan solusi Sasuke, dan keberadaan orang ini sudah aku bicarakan kepada Itachi sejak lama. Ini penawaran dari kami berdua, Kalau kau tidak mau jadi CEO termuda sepanjang sejarah. Hanya ini jalan keluarnya Sasuke." lanjut Shisui.

Sasuke menatap Shisui dalam. Mencoba mencari 'udang dibalik batu' diantara kedua sorot mata Shisui. Sayang, dia tidak menemukan apapun.

Sasuke lalu menghembuskan nafas berat.

Yah, mau bagaimana lagi.

"Baiklah."

Shisui tersenyum.

.

.

"Jadi.. Dia dimana?" itulah pertanyaan akhir Sasuke. Memastikan sekali lai kalau pemuda ini paham apa yang ia lakukan.

Senyuman Shisui menghilang sebelum menjawab pertanyaan Sasuke.

"Nah itu dia masalahnya-"

"..."

"-Semua orang di keluarga Uchiha tidak ada yang tau keberadaan orang ini."

"..."

.

~iwdwiw~

.

"Tunggu. Biar aku luruskan. Kalian ingin mencari seorang pria yang keberadaannya tidak diketahui. Sudah bertahun-tahun tidak bisa dihubungi. Dan petunjuk kalian cuma secarik foto yang diambil lima tahun lalu?" Tanya Naruto setelah mendengar ide gila Sasuke.

"Hn." Sasuke mengangguk pasrah. Itu sama persis seperti respon Sasuke kepada Shisui saat pemuda itu bilang dia tidak tau Obito dimana.

"Secarik foto dan sebuah Nama." Koreksi Shisui kepada kesimpulan Naruto.

Naruto terlihat menepuk jidatnya.

"Kau ingin kita bagaimana? mencari nya dengan kekuatan magis?" tanya Naruto sarkatis.

Shikamaru juga nampak ada disana. Tapi dia sepertinya tidak memperhatikan. Dia rebahan sembari membaca buku.

"Ini memang terdengar tidak masuk akal, tapi aku yakin ada petunjuk yang bisa kita temukan jika kita mencarinya. Manusia tidak mungkin tiba-tiba hilang begitu saja dari muka bumi." Lanjut Shisui.

Ya, itulah alasan yang Sasuke cerna dengan masuk akal dari Shisui. Yang sayangnya, belum bisa meyakinkan Naruto.

"Asumsikan orang ini ketemu, lalu bagaimana cara kalian meyakinkan dia untuk menggantikanmu, Sasuke?" Naruto bertanya. Dia masih tidak paham dengan rencana tidak jelas ini.

Sasuke menggeleng.

"Belum tau." Jawaban Sasuke terdengar sangat tidak meyakinkan.

"Lah kan! Ini namanya menyelesaikan masalah tanpa solusi." Balas Naruto.

"Ini adalah satu-satunya jalan, Namikaze Naruto." Shisui nampak juga ikut dalam perdebatan.

"Kalau begitu pikirkanlah petunjuk yang lebih meyakinkan." balas Naruto lagi

"Aku yakin kita bisa menemukan pemuda ini jika-"

.

"Kantor catatan sipil." Ujar Shikamaru tiba-tiba.

Kali ini semua menoleh ke Shikamaru. Pemuda itu memposisikan dirinya duduk. Dia menguap lebar.

"Mereka pasti punya catatannya. Kita bisa mulai dari situ." Jelas pemuda kuncir itu. Setelah mengucapkan solusi yang super jenius barusan, dia beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju kamarnya.

Jika ini adalah film laga, Shikamaru ibarat pahlawan yang berjalan santai keluar dari medan perang. Backgroundnya adalah, ledakan besar, yang mana Shikamaru terlalu keren untuk menoleh.

.

~iwdwiw~

.

Siang Hari.

Lagi-lagi mereka dalam perjalanan ke pusat kota. Namun kali ini, mereka sudah menempuh berjalan kaki dari foREVer street sampai ke deretan pertokoan di Leaf Street. Mereka berjalan pelan karena memang mereka ragu. Ragu karena tidak punya kendaraan yang bisa mengantarkan ke pusat kota.

Shikamaru dan Naruto. Mereka berdua akhirnya setuju membantu kedua orang putus asa ini. Meskipun dalam hati, Naruto masih tidak mengerti kenapa Sasuke tidak memilih pilihan yang mudah dengan menandatangani dokumen itu sendiri.

Seperti Ide Shikamaru, tempat yang mereka tuju adalah kantor catatan sipil di pusat kota. Berharap mereka menemukan petunjuk dari buronan yang mereka cari. Jujur, ini ibarat mencari hantu. tidak ada petunjuk lain selain Nama dan foto usang.

Mereka berempat kini tengah berdiri di depan toko alat musik. Menunggu sesuatu yang entah apa.

"Kalau kalian meminta bantuan kami, setidaknya bayar ongkos taxi nya kek atau semacamnya. Agar kita bisa pergi dan pulang dengan kepastian." ujar Naruto. Dia mulai khawatir mereka akan benar benar berjalan kaki menuju kantor catatan sipil di pusat kota.

Sasuke menoleh ke Shisui. Berharap pemuda ini punya solusi.

Shisui yang menyadari tatapan Sasuke pun menjawab.

"Pf, Naruto. Jangan terlalu mengkawatirkan masa depan, atau kau tidak bisa menikmati hidup di masa kini." Jelas Shisui ber-Teori.

Naruto menatap pemuda ini bosan. Teori yang bodoh sekali. Oke, Naruto memang baru mengenal pemuda ini semenjak tadi pagi, dan sore harinya dia sudah diseret dengan suatu hal yang merepotkan seperti mencari orang hilang.

Disisi lain Shisui, berbuntut usaha untuk membuktikan teorinya, Shisui mengeluarkan smartphone dari tasnya dan menelfon seseorang.

Naruto, Sasuke dan Shikamaru bahkan tidak sempat bertanya karena dia sudah sibuk sendiri dengan nada tunggu. Bahkan sampai sepupu Sasuke itu bersuara.

"Halo, rumah sakit. Tolong kirim ambulans ke sini. Ada orang pingsan di jalan!"

"Dimana tempatnya?"

Shisui terlihat celingak-celinguk untuk mencari nama jalan.

"Deretan pertokoan, di Leaf Street."

"..."

.

20 Menit mereka menunggu, sebelum 'sesuatu' yang dipanggil Shishui nampak datang. Dan Shikamaru dengan tanpa beban pun mengikuti rencana Shisui, setelah dijelaskan apa yang harus ia lakukan.

Pemuda berkuncir itu kini sudah tiduran di trotoar. Pura-pura pingsan.

Sasuke dan Naruto hanya menjadi saksi drama murahan yang ajaibnya berhasil, karena beberapa saat kemudian. Ambulans itu nampak berhenti di dekat mereka berempat, dan hanya perlu 3 kalimat dari Shisui untuk meyakinkan petugas untuk langsung membawa Shikamaru ke rumah sakit tanpa perlu diberi CPR terlebih dahulu-dan mengikutsertakan mereka bertiga sebagai temannya untuk menemani.

Shikamaru bahkan langsung digotong menggunakan tandu.

Dan hal selanjutnya yang mereka tau, mereka sudah dalam perjalanan menuju pusat kota.

.

.

20 menit perjalanan hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit.

Di depan pintu IGD. Shikamaru mengerjapkan mata dan bangun. Setelah ditanya oleh petugas kenapa dia pingsan. Shikamaru berucap tidak yakin, namun ia berhasil meyakinkan orang-orang itu bahwa dia sudah tidak apa apa. Bahkan sebelum Shikamaru diperbolehkan pergi, dia diberi ransum roti dan sekotak susu.

.

~iwdwiw~

.

Masih mempertimbangkan apa yang barusaja terjadi. Naruto hanya berjalan pelan paling belakang. Dia menoleh bergantian kepada Shisui dan kemudian ke Shikamaru yang kini tengah sibuk meminum susu kotaknya.

Dia lalu menoleh ke Sasuke dengan pandangan seakan bertanya 'apa yang barusaja terjadi?'

Namun Sasuke hanya mengangkat bahu. Yang ia tau, mereka kini di pusat kota. Dan lebih dekat berjalan dari rumah sakit daripada dari Leaf Street. Sasuke membiarkan Shisui mempimpin di depan, karena setelah menjadi saksi kejadian barusan, Sasuke merasa kalau sepupunya ini paham apa yang ia lakukan.

Letak kantor catatan sipil tidak terlalu jauh dari rumah sakit Konoha. oleh karena itu tidak perlu waktu lama sehingga mereka sampai ke tempat ini.

Sesampainya di dalam, mereka bertanya ke resepsionis yang mana langsung mengarahkan mereka ke bagian arsip kependudukan.

Sasuke dan Shisui dihadapkan oleh seorang pria dewasa berbadan tambun yang sibuk dengan komputernya.

Sedangkan Naruto. Dia mencoba menunggu dengan membaca-baca papan informasi yang berada tak jauh dari sana, sembari masih sibuk mengingat-ingat tentang 'trik transportasi gratis' yang tadi didemonstrasikan oleh Shisui. Shikamaru, dia duduk di deretan bangku panjang dan sesekali menatap keadaan sekitar, mencoba untuk tidak tidur di tempat.

"Permisi, kami mau mencari informasi tentang keluarga kami yang hilang." Shisui lah yang bertanya.

Pria dewasa berbadan tambun itu pun menatap kedua pemuda yang ada di depannya.

"Keluarga kalian hilang?" tanya nya.

Shisui mengangguk.

"Informasi terakhir yang kami dapat, dia punya alamat di konoha."

Sasuke lebih banyak diam. Dan menyerahkan masalah bicara kepada Shisui.

Pria berbadan tambun itu mengangguk. Dia mengalihkan pandangannya ke komputer lain yang ada di sampingnya. Dia bersiap untuk mengetik.

"Namanya?" tanyanya kepada kedua pemuda yang ada di depannya.

"Hn. Uchiha Obito."

dia mengangguk.

"Usia?"

Sasuke dan Shisui saling pandang.

"21?" Sasuke menjawab dengan nada bertanya.

"25, sepertinya." Shisui terlihat mencoba membenarkan. Tapi dia juga nampak tidak yakin.

.

Tidak perlu waktu lama sebelum petugas catatan sipil itu memberikan Informasi yang mereka butuhkan. Dia memberi print out kecil kepada Sasuke dan Shisui.

"Bagaimana?" tanya Shikamaru. Naruto ikut mendekat saat melihat Shisui dan Sasuke selesai dengan urusannya.

"Kemungkinan besar, ia sudah tidak tinggal di konoha." ujar Shisui

Shikamaru dan Naruto saling toleh.

"Lalu?" tanya Naruto

Namun Sasuke menggeleng.

"Dia tidak menemukan alamat terkini Obito di Konoha.." Shisui melirik petugas tambun tadi. ".. tapi dia menyuruh kita untuk menghubungi orang ini."

Shisui memberikan secarik kertas berisi nomor telfon dan alamat orang yang diberikan oleh petugas kantor catatan sipil.

"Dia bilang, ini adalah kerabat paling dekat yang bisa dihubungi untuk menemukan Obito."

Naruto yang menerima kertas itu pun akhirnya memeriksanya, bersamaan dengan Shikamaru yang ikut melihat.

"Lahh.." Itulah respon Naruto saat dia melihat nomor dan alamat yang ada di secarik kertas itu.

.

.

08XXXXLKXXXX

Anbu Street. Blok 5. 480 D

Hatake Kakashi

.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TBC

xxxxxxxxxxxx

Author Note(s) : Buhu~ Hanzama is back.

Notes 001 : Di acara festival, Hanzama memperkenalkan Tobi sebagai anggota Akatsuki, jadi mari kita asumsikan saja bahwa Obito dan Tobi adalah dua orang yang berbeda :)

Oke sip.

Wah sepertinya Hanzama sedikit terlalu bersemangat untuk apdet kilat

Mungkin itu saja untuk chapter ini, otw chapter 100, kita bertemu lagi di chapter 91!

salam hangat, semoga sukses selalu!

Buhu~

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

- After -

.

Sore menjelang petang, dan mereka berempat kini terjebak di alun alun kota. Naruto lah yang paling khawatir mengingat mereka tadi datang dengan menipu rumah sakit dan entah apa yang bisa mereka lakukan kini untuk bisa kembali ke foREVer street. Shisui juga nampak tidak ada tanda-tanda ingin membayarkan ongkos taksi atau semacamnya.

"Katakan... Apa kalian lapar?" tanya Shisui tiba tiba.

Sasuke Shikamaru dan Naruto yang tengah duduk di bangku panjang menatap Shisui secara bersamaan. Tentu saja mereka lapar.

"Kau ingin mentraktir kami?" tanya Naruto. Oke setidaknya Shisui nampak ingin bertanggung jawab dengan urusan perut mereka bertiga.

Shisui yang mendengar pertanyaan Naruto pun hanya tersenyum dan beranjak dari posisinya. Naruto, Sasuke dan Shikamaru hanya menatap saat pemuda itu malah tiba-tiba mendekati beberapa anak geng motor yang kini tengah bersantai di depan stand hot dog.

Mereka bertiga terus memperhatikan bahkan sampai Shisui berbicara kepada salah satu dari anak geng motor itu.

"Yo kawan. Apakah itu Kawasaki 800?" tanya Shisui sok asik kepada anak geng motor itu.

Sedangkan anak geng motor yang bersangkutan hanya menoleh kepada Shisui. Dia menatap galak Shisui. Tangan kanannya memegangi hot dog dan tangan kirinya bermain-main dengan kunci motor.

Tatapan galak anak geng motor itu terlihat menyelidik kepada seorang asing yang baru saja menganggu aktivitasnya. Namun alih alih mengusir, anak geng motor itu malah menjawab pertanyaan Shisui.

"Kawasaki 800-R." Balasnya.

"Hoo.. Keluaran terbaru ya?" tanya Shisui lagi.

Anak geng motor itu nampak tidak menjawab. Dia hanya menatap motornya lama berharap pemuda asing yang menganggunya ini segera pergi.

Namun nampaknya Shisui tidak beranjak dari posisinya, Shisui malah terlihat menampakkan muka berpikir.

"Hmm.. Tapi menurutku knalpot yang kau pakai tidak cocok dengan body nya. Dan jika aku jadi kau, aku akan melapisi setiap sisinya dengan karbon. Kau tau.. Biar terlihat lebih gagah." Ujar Shisui.

Anak geng motor itu nampak mendengus. Dia baru saja berpikir untuk mengganti knalpot motornya karena dia juga berpikir kalau knalpotnya kurang cocok.

"Karbon akan menghilangkan stickernya." Balas anak geng motor itu. Sticker yang dimaksud adalah logo geng motor mereka.

"Kalau aku jadi kau, logo nya akan ku pindah ke jok. Kau tau, pesan custom jok. Dan tetap melapisi karbon di setiap sisinya. Karbon fiber akan menjaga body nya tahan lebih lama di terik matahari. " Lanjut Shisui lagi.

Anak geng motor itu nampak diam. Dia mencoba membayangkan rancangan motor yang diusulkan oleh Shisui. Kalau dipikir, mungkin bagus juga jika rancangannya dipakai.

Anak geng motor itu menoleh ke Shisui.

"Siapa kau. dan kenapa kau peduli sekali dengan motorku?"

Shisui hanya mengangkat bahu.

"Bukan siapa-siapa. Aku hanya pemuda yang butuh makan dan butuh tumpangan pulang." Jawab Shisui. Dia tersenyum polos.

"..."

Mendengar jawaban Shisui dipadu dengan wajah polosnya, anak geng motor ini malah tertawa keras.

.

.

.

Singkat cerita, Naruto Sasuke dan Shikamaru kini tengah memegang hot dog. Bagaimana mereka mendapatkannya? Jujur-sejujur-jujurnya, mereka benar benar tidak paham sama sekali.

Yang mereka tau, kini Shisui sudah mengobrol bak sahabat sendiri dengan gerombolan geng motor yang ia dekati 20 menit lalu.

"Oi bocah! Tambah lagi! Jangan khawatir! Kami yang bayar!"

"..."

.

REVIEW

V

V

V

V