"Kau? bagaimana kau melakukannya?! Kau harus menjelaskan apa yang terjadi!" Naruto berekspresi gemas sembari menatap Shisui.

Coba tebak, yap. Anak geng motor yang dengan-entah-bagaimana mentraktir mereka tadi, barusaja dengan-entah-bagaimana mengantar mereka pulang. Yang lebih Naruto tidak percaya adalah, kenyataan bahwa ketua geng motor tadi meninggalkan nomornya kepada Shisui dengan alasan 'hubungi jika kau mau ikut nongkrong'

Mengabaikan pertanyaan Naruto, Shisui terlihat tersenyum bodoh sembari mengacungkan jempol. Seakan dia sudah pro dengan hal yang baru saja ia lakukan.

"Aku sempat mengira mereka-teman temanmu." Ujar Sasuke.

Shisui hanya menoleh dan tertawa.

"Tentu saja tidak! Aku baru saja berkenalan dengan mereka tadi sore." balas Shisui jujur.

"Kan! itu yang ku maksud! mana ada orang yang barusaja kau kenal tiba tiba mengantar kita pulang! kau pasti menggunakan hipnotis atau semacamnya!" tuding Naruto. Otaknya tidak bisa menerima fakta bahwa mereka berempat barusaja berpergian ke pusat kota tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Bahkan makan gratis.

Shisui lalu kembali ke Naruto. Dia dengan pelan menepuk pundak Naruto. Dia tersenyum.

"Naruto-yo, Kau masih harus belajar banyak tentang kehidupan." Nasehat Shisui bak kakek tua yang memberi petuah kepada cucunya.

"H-Ha?"

Melihat Shisui yang tanpa penjelasan lebih lanjut malah berjalan memasuki rumah, Membuat Naruto semakin tidak puas.

"Aku menginap disini ya." Ujar Shisui sebelum dia sepenuhnya masuk ke dalam rumah.

Meninggalkan Naruto dan Sasuke yang hanya menatap punggung pemuda itu.

"Oi!" teriakan Naruto bahkan tidak digubris lagi oleh pemuda yang bersangkutan.

Saat hanya ada mereka bertiga. Naruto menoleh ke Sasuke. Menatap Sasuke dengan tatapan 'sepupumu adalah Uchiha paling gila yang pernah aku temui'

Sasuke hanya mengangkat bahu dan beranjak masuk. Naruto pun menghela nafas sebentar dan mengikuti pelan.

"Oi, Shikamaru. kau mau masuk tidak?" tanya Naruto yang menyadari Shikamaru ternyata sedari tadi sedang mendongak ke langit dan memejamkan mata.

.

.

"Jangan terlalu mengkawatirkan masa depan, atau kau tidak bisa menikmati hidup di masa kini"gumam Shikamaru pelan, dia tersenyum. Naruto yang menyadari gumaman Shikamaru adalah perkataan Shisui tadi siang, hanya memutar bola mata dan mengomentari dalam hati dengan kalimat yang persis ia pikirkan tadi untuk meresponnya.

'Teori yang bodoh sekali'

DISCLAIMER : Naruto bukan punya Hanzama!

Naruto © Masashi Kishimoto

| I Will Do What I Want © Hanzama |

Rating : T(+)

| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |

.

Chapter 91 : Money talks? Lets find him

.

Besoknya.

Jarang sekali seorang guru dihampiri secara mendadak di pagi hari. Namun nyatanya itulah yang terjadi sekarang. Dimana seorang guru tengah dihampiri oleh beberapa muridnya yang terlihat penasaran dengan sesuatu.

Guru yang dimaksud adalah Hatake Kakashi, yang mana kini dia tengah diajak bicara (dinterogasi) oleh Naruto, Sasuke dan Shikamaru di ruang guru. Dia dipaksa untuk menjawab beberapa pertanyaan dari mereka bertiga.

.

"Tentu saja aku kenal. Obito adalah temanku sejak SD." Ujar Kakashi kepada tiga orang pemuda yang ada di depannya.

"Kalau begitu? kau tau dimana dia tinggal?" tanya Sasuke antusias. Oke, sepertinya ini akan menjadi pencarian orang yang mudah.

Kakashi terlihat berpikir cukup lama, sehingga cukup untuk membuat Sasuke menatap gusar.

"Hmm.. dia masih tinggal di Konoha, sampai tiga bulan yang lalu. Tapi untuk sekarang..." Kakashi mencoba menjelaskan

Mereka menungu Kakashi menyelesaikan kalimatnya.

Sasuke terlihat memiringkan kepalanya.

Meskpun mengenakan masker, Sasuke menyadari Kakashi tersenyum kikuk setelahnya.

"..Nggak tau." Kakashi menggeleng. Dia bahkan mengangkat bahu

Membuat Naruto yang mendengarnya hanya menatap Kakashi dengan raut wajah yang persis seperti kala Captain Jack Sparrow menatap kapalnya yang di geret oleh kepiting.

"Sensei. Bukankah kau seharusnya adalah kerabat dekat dia atau semacamnya?" tanya Shikamaru. Dia kini tengah terduduk malas di kursi milik Maito Gai. Guru nyentrik itu sepertinya sudah berangkat mengajar.

Kakashi menoleh ke Shikamaru.

"Seharusnya kalimat itu kau tujukan ke Sasuke. Aku pikir kalian tau kalau marga Obito adalah Uchiha." Jelas Kakashi.

Tentu saja Sasuke tau. Tapi permasalahan disini adalah orang ini hilang, dan info kerabat yang diberikan pada Sasuke kemarin adalah nomor Kakashi. Itulah kenapa mereka mencari Kakashi. Meskipun itu memang aneh, tapi Sasuke hanya mencoba menghubungkan benang disini.

Pria bermasker itu terlihat berpikir lagi.

"Tentu saja dulu aku sering membantu Obito dengan ini dan itu. Namun setelah tiga bulan yang lalu, aku tidak pernah mendengar kabar darinya lagi. Dia bahkan menghilang begitu saja tanpa berpamitan." Lanjut Kakashi. Dia mengingat pertemuan terakhirnya dengan kawannya itu adalah kala mereka mengobrol santai di bar.

Naruto yang mulai bosan karena Kakashi menampakkan gelagat tidak tau akhirnya langsung bersuara.

"Intinya sensei, kau tau dia dimana atau tidak?" tanya Naruto.

Kakashi malah tertawa.

"Tentu saja tidak." Balasnya.

Naruto yang mendengarnya ingin rasanya mengambil asbak milik Azuma sensei dan melemparnya kepada Kakashi. Basa-basi nya buang-buang waktu.

Hampir saja mereka bertiga pergi dari situ saat sadar mereka tidak dapat Informasi apa-apa. Namun itu sebelum Kakashi berucap lagi.

.

"Kalian tau, Obito adalah kekasih Nohara Rin." Lanjut Kakashi. Ketiga pemuda itu berbailk badan.

"Nohara Rin?" tanya Sasuke. Dia sangat familiar dengan nama itu.

Kakashi mengangguk.

"Ya, Nohara Rin. Guru BK kalian di Uzushio."

.

~iwdwiw~

.

Di luar.

Mereka sepenuhnya mengabaikan bel masuk dan pelajaran, karena mereka kini malah asyik mengobrol di lorong. Menepis kemungkinan Ibiki-sensei mungkin akan tiba tiba menghampiri mereka menggunakan penggaris papan tulis atau bahkan pemukul Baseball.

"Sekarang bagaimana?" tanya Shikamaru malas. Jujur dia tidak terlalu terlalu tertarik dengan rencana Sasuke untuk mencari Obito. Namun dia tetap mengikuti kesana-kemari karena Sasuke adalah sahabatnya.

Naruto menghela nafas dan menatap Sasuke.

"Mau bagaimana lagi? Ayo kita cari Nohara Rin di Uzushio." ujar Naruto.

Sasuke menoleh.

"Kau serius?" tanya Sasuke.

Naruto mendengus. Dia menepuk pundak Sasuke. Dia manggut-manggut.

"Dengar ya Uchiha Keparat. Aku tau ini adalah masalah keluargamu. Namun kita disini ingin membantu. Lagipula, kau tidak akan pernah cocok memakai setelan jas, apalagi berdasi." ucap Naruto santai. Dia lalu berjalan mendahului Shikamaru dan Sasuke. Shikamaru sedikit tersenyum saat dia mendengar kalimat Naruto, dia lalu menyusul pemuda jabrik itu dari belakang.

Sasuke menatap punggung Naruto. Terlepas dari mulut ngawurnya barusan. Sasuke tau kalau Naruto sangat bisa diandalkan. Yah, itulah gunanya sahabat.

Detik berikutnya, Sasuke sudah menyusul Naruto dan Shikamaru.

.

.

.

~iwdwiw~

.

Mereka bertiga kini berjalan santai mendekati pos satpam. Mereka bahkan sudah membawa tas masing-masing. Tentu saja karena mereka belum masuk kelas sama sekali, jadi tas mereka masih mereka bawa -bawa sedari tadi.

Saat Sasuke mendengar Naruto ingin membantu mencari Nohara Rin. Sasuke tidak tau kalau yang dimaksudkan adalah mencarinya sekarang juga.

.

"Permisi pak! Kami mau izin pulang!" Ujar Naruto kepada pak satpam.

Pak satpam (yang menolak disebut namanya) yang kala itu tengah membaca koran, menoleh ke jam dindingnya dan beralih ke tiga pemuda sinting yang menganggu kegiatannya.

Jam 9.

"6 jam lagi kau boleh pulang." Balas pak satpam cuek. Dia lalu kembali membaca koran yang ia pegang. Dia kini tengah membaca berita kriminal yang berjudul 'gerombolan pemuda dipukuli satpam sampai mati karena melompati gerbang'

"Kami ada kunjungan ke sekolah lain." Balas Shikamaru mengkoreksi kalimat Naruto.

Pak satpam itu lalu kembali menatap ketiga pemuda.

"Kalau begitu, kalian harus minta 'surat izin meninggalkan pelajaran' dari guru." jelas pak satpam

"Surat izin?" tanya Sasuke tidak mengerti. Di Uzushio mereka tidak pernah minta surat Izin. Oke abaikan pikiran Sasuke ini, kita tau kalau mereka bertiga dulu adalah berandalan.

"Iya bocah. Aku tidak bisa dengan seenaknya membukakan gerbang kepada kalian tanpa surat pengantar dari guru. Ini bukan gerbang milik nenek ku." Lanjut Pak satpam cuek.

Ketiga pemuda itu saling pandang.

"Mintanya kepada siapa?" tanya Sasuke.

Pak satpam menatap Sasuke. Jelas sekali pemuda ini tidak paham prosedural yang berlaku.

.

"Tentu saja kepada guru BK! Ibiki-sensei!"

"..."

.

~iwdwiw~

.

Mereka bertiga hampir saja menyerah saat mereka tau harus meminta Izin kepada siapa. Namnun entah mengapa kaki mereka sepertinya mengantar mereka sampai di depan pintu ruangan BK.

Karena sudah sampai sejauh ini, mereka memutuskan untuk tidak mundur-setidaknya itulah yang mereka niatkan. Namun pada kenyataannya, mereka bertiga bahkan tidak ada yang berani mengetuk pintu.

Sasuke, Naruto dan Shikamaru kini malah saling dorong di depan pintu ruang BK, untuk mengorbankan siapa saja yang akan melangkah duluan untuk menemui seorang Morino Ibiki.

Karena tenaga Naruto dan Sasuke yang terlampau kuat, Shikamaru lah yang paling tidak bisa mempertahankan posisinya. Dia didorong maju terlebih dahulu untuk mengetuk pintu. Namun karena dorongan Naruto dan Sasuke ke punggung Shikamaru terlampau kuat, Shikamaru malah tersandung dan mengadu jidatnya ke pintu ruang BK.

Dari dalam. Alih-alih mendengar tiga ketukan halus seperti tamu-tamu pada umumnya, yang didengar ibiki dari dalam malah satu hantaman keras yang membuat guru itu langsung beranjak dari kursinya.

JDUAK!

Shikamaru menoleh marah kepada Naruto dan Sasuke sembari memegang jidatnya yang nyut-nyutan.

SREEK! Pintu geser dibuka. Ibiki mendapati dua orang pemuda yang berdiri, dan seorang pemuda yang tersungkur di depan pintunya.

.

.

Skip.

"... Itulah kenapa kami mau minta surat izin meninggalkan pelajaran, sensei." jelas Sasuke. Mereka bertiga kini sudah duduk di hadapan Ibiki, bahkan mereka dijamu dengan secangkir teh Oolong. Sasuke sudah menjelaskan sebisanya kepada guru BK yang ada di depannya.

"Tunggu.. Biar aku lurusan sekali lagi. Kalian bertiga minta surat Izin dari guru BK sekolah ini, agar kalian bisa ke Uzushio, dan berkonsultasi dengan guru BK disana?" tanya Ibiki tidak mengerti.

Dilihat dari kalimat itu, entah kenapa Ibiki merasa ini seperti pengkhianatan dari seorang murid kepada Guru BK. Seakan saking tidak percayanya dengan guru BK di sekolahnya, mereka malah repot-repot konseling ke guru BK sekolah lain.

"b-bukan seperti itu sensei." Naruto lama kelamaan capek karena pria bercondet yang ada di depannya ini tidak mengerti apa yang barusaja mereka jelaskan.

BRAK! Ibiki menggebrak meja.

"Kalau begitu jelaskan alasan kenapa kalian harus menemui Nohara Rin di Uzushio dengan jelas!"

Naruto menghembuskan nafas lemas.

Naruto menoleh ke Sasuke. Namun Sasuke terlihat menggeleng pelan. Yap, dia tidak bisa menjelaskan soal Sasuke yang akan diangkat jadi CEO. Itu terlalu jauh jika informasi seperti itu dibeberkan dengan mudah kepada publik-pasti berbuntut hal yang tidak-tidak.

Sasuke dan Naruto sudah tidak bisa menjawab lagi. Tidak tau harus menjelaskan bagaimana. Shikamaru pun juga nampak diam saja.

.

"Sebenarnya Naruto dan Sasuke akan mengantarku untuk mengirimkan berkas di Uzushio, sensei." ujar Shikamaru tiba-tiba.

Naruto dan Sasuke menoleh.

Ibiki terlihat mengernyitkan dahi.

"Berkas apa?"

"Hn. Pendaftaran Olimpiade SAINS tingkat nasional. Dua bulan lagi." jelas Shikamaru. Dia nampak masih sesekali memegangi jidatnya yang masih sakit.

Ibiki menatap Shikamaru ragu. Wajah pemuda pemalas itu nampak tidak meyakinkan.

"Benarkah?" tanya Ibiki.

Naruto dan Sasuke tampak bingung dengan apa yang dikatakan Shikamaru, mereka hanya diam dan menatap Shikamaru dan Ibiki secara bergantian.

Ibiki yang sangat-tidak-percaya kepada Shikamaru pun hanya menatap pemuda itu dalam. Sebelum dia menyentuh gagang telfon dan menghubungi seseorang.

Tuuut Tuut.

Naruto dan Sasuke juga Shikamaru menunggu dengan gusar ditemani tatapan tajam Ibiki yang sesekali menyelidik gestur mereka.

Saat saluran telfon itu tersambung, dia akhirnya berbicara.

"Ah halo. Kakashi."

'Ya?'

"Hanya memastikan, apa benar ada murid-mu yang ikut Olimpiade Sains dua bulan lagi?" tanya Ibiki

'Olimpiade? Oh, maksudmu Shikamaru? Tentu saja. Seperti yang diperintahkan Tsunade-sama, aku sudah memberi bimbingan rutin sebelum perlombaan nya berlangsung di Uzushio dua bulan lagi.'

Ibiki nampak diam mendengarkan perkataan orang yang ada di sebrang.

"Begitu ya?" respon Ibiki kepada orang yang ada di sebrang.

'Memang ada ap-TUUT TUUT.'

Bak bos mafia yang menerima kabar bagus dari anak buahnya. Ibiki langsung menutup telfon nya. Lalu beralih kepada ketiga pemuda yang ada di depannya.

Ketiga pemuda itu menelan ludah gugup.

Selanjutnya yang mereka tau, Ibiki sudah mengambil lembar disposisi dari lacinya dan menulis sesuatu.

Setelah selesai menulis dan menandatanganinya. Dia menyerahkannya kepada ketiga pemuda yang ada di depannya.

Sasuke lah yang menerima lembar itu.

Ibiki lalu menoleh ke Shikamaru.

"Berjuanglah dalam perlombaannya." Itulah kalimat terakhir Ibiki sebelum akhirnya mereka pergi (diusir) dari situ.

.

~iwdwiw~

.

Yak mereka berhasil, berhasil keluar dari pekarangan luas Konoha Gakuen. Mereka berniat pulang dan menemui Shisui. Berharap pemuda yang menumpang tidur di tempat mereka itu punya ide bagus tentang bagaimana cara mereka pergi ke Uzushio. Kalian tau kan, mengingat apa yang diajarkan pemuda itu kemarin. Dia pasti punya ide cemerlang lain untuk mengantar mereka ke Uzushio tanpa mengeluarkan uang.

Sesampainya mereka di foREVer street, mereka mendapati Shisui kini tengah berdiri di depan pintu sembari menyeruput kopi yang entah dia dapat dari mana, karena seingat Sasuke mereka tidak punya kopi di dapur.

Tanpa repot-repot masuk ke dalam rumah, Sasuke pun menjelaskan tentang petunjuk baru yang ia dapat. Shisui hanya manggut-manggut mendengarkan.

"Jadi bagaimana? aku yakin kau punya ide cemerlang tentang cara kita ke Uzushio tanpa mengeluarkan uang." Ujar Naruto to the point, dia menyilangkan kedua tangannya di belakang kepalanya. Dia sepertinya sudah sedikit menerima teori Shisui kemarin dan dia akan mengikuti saja apapun yang terjadi setelah ini.

Shisui memandang langit-langit. Sesekali dia menyeruput kopinya. Dia bahkan berekspresi seperti seorang bintang iklan kopi yang tengah melakukan adegan.

Ketiga pemuda itu menatap wajah berpikir Shisui. Mereka sudah siap mendengarkan ide jenius dari dari pemuda itu. Berharap ide nya lebih hebat dari yang kemarin.

Pemuda yang diharapkan itu pun akhirnya tersenyum dan menoleh.

.

"Kita telfon Itachi. Minta ongkos Taxi."

"..."

.

~iwdwiw~

.

Mengecewakan! yap mengecewakan. Setelah apa yang terjadi kemarin di pusat kota, Naruto kira Shisui akan muncul dengan ide-ide cemerlang seperti, tiba-tiba akan datang mobil sejenis Lamborghini yang menjemput, atau mungkin mereka akan diantar menggunakan konvoy militer atau bahkan mereka akan menaiki helikopter presiden atau semacamnya.

Nyatanya, mereka hanya naik taksi.

Oke, memang benar kalau mereka berempat sama sekali tidak mengeluarkan uang. Tapi yang dimaksud Naruto adalah, ide seperti ini mah biasa-biasa saja. Sasuke sendiri pun juga bisa kalau hanya minta ongkos Taxi ke Itachi. Kalau boleh jujur, bahkan akting murahan Shikamaru yang pura pura pingsan kemarin lebih keren dibanding ini.

Kalau ini mah, daripada hanya minta ongkos Taxi, bahkan lebih waras lagi jika seandainya kita pinjam mobil!

Naruto menatap Shisui yang kini duduk di kursi depan di samping driver. Dia duduk santai sedangkan Naruto, Sasuke dan Shikamaru nampak duduk di belakang, sedikit sempit. Disepanjang perjalananan, Shisui mengobrol santai kepada sang supir taxi.

Karena jarak yang cukup jauh, perlu memakan waktu untuk sampai di gerbang depan Uzushio International High. Jam 11.45 itulah waktu terakhir yang mereka lihat di jam yang ada di taksi tersebut.

Setelah mereka sampai, perasaan nostalgia lah yang menghampiri ketiga pemuda ini. Bahkan Shisui, karena dia juga merupakan alumni sekolah ini.

"Wahh.. masih tidak berubah ya." ujar Shisui, dia turun pertama dan memandangi gerbang besar dan patung rajawali yang berdiri gagah diantara kedua jalan utama masuk dan keluar pekarangan sekolah. Patung rajawali besar itu adalah Taka, dan itu adalah simbol kebanggaan sekolah yang melambangkan bahwa ilmu itu bersifat bebas dan tidak terbatas.

Saat taxi yang mereka tumpangi sudah sepenuhnya pergi, Shisui masih saja mengagumi gerbang depan sekolahan ini.

"Sekarang bagaimana? Kita mau masuk santai begitu saja?" tanya Naruto kepada Sasuke.

Sasuke menatap punggung Shisui. Pemuda itu tanpa aba aba langsung berlari pelan menuju pos keamanan. Dia tanpa ragu-ragu langsung menyalami ketiga satpam yang sedang bertugas. Mengabaikan, ekspresi heran ketiga satpam itu karena tidak mengenali Shisui. Saat Shisui bilang dia adalah alumni disini, para satpam itu akhirnya malah tertawa keras. Dia menepuk punggung Shisui dan akhirnya menyadari samar-samar ingatan tentang pemuda ini.

Naruto, Sasuke dan Shikamaru saling pandang sebelum akhirnya ikut mendekat mengikuti pemuda itu.

"Woh! Lihat ini, Anak walikota dan kawan-kawannya." Sapa salah satu satpam yang bertugas kepada Naruto. Kedua satpam lain menoleh.

"Y-Yoh paman. lama tidak bertemu." Sapa Naruto pelan. Naruto ingat ketiga orang ini sering membiarkan mobil Sasuke masuk dikala telat jika mereka diberi beberapa kaleng cola.

"Apa yang kalian lakukan disini? ku dengar kalian pindah ke Konoha." ujar satpam yang lain.

"Hn. Hanya berkunjung." Sasuke menjawab.

"Hahaha.. Setelah kalian pindah, sekolahan ini sangat damai tau. Tidak ada berandalan seperti kalian yang melengkapi hari-hari kami lagi." ujar seorang satpam yang lain.

Sedangkan ketiga pemuda yang bersangkutan hanya mendengarkan, tidak bisa menentukan itu sebuah pujian atau sindiran.

.

Shisui lah yang menjelaskan secara runtut tentang tujuan mereka kemari. Ketiga orang itu memperbolehkan mereka berempat masuk. Tentu saja itu berkat Shisui yang menjelaskan dengan sangat meyakinkan.

.

Seiring memasuki area Sekolah. Memori tentang keberadaan mereka bertiga pun terngiang jelas di otak masing-masing.

Shikamaru menatap sebuah bangku panjang dibawah pohon tak jauh dari tempatnya sekarang. Dia ingat sekali dia sering tiduran disitu dikala pelajaran olahraga, membolos dan membaca komik.

"Oi mau kemana? Gedung konseling sebelah sini." Lamunan Shikamaru harus diinterupsi oleh ucapan Naruto. Pertanyaan itu ditujukan kepada Shisui yang malah melengos berjalan ke arah yang benar benar berlawanan dari tempat yang mereka tuju.

"Hei. Mumpung disini, ayo ke kantin dulu. Kita melihat-lihat keadaan sekolah yang sekarang." Balas Shisui.

Ketiga pemuda yang mendengar ide itu, merasa sangat tidak yakin. Mari jangan lupakan fakta bahwa Naruto, Sasuke dan Shikamaru adalah siswa drop-out dari sekolah ini, dan mereka berempat kini sedang berkeliaran di sekolah lain, dengan mengenakan seragam Konoha Gakuen. Maaf ralat, Shisui tidak mengenakan seragam konoha Gakuen. Dia berkaos hitam dan jeans, dan bersandal jepit.

Oke, itu bahkan bukan sandal jepit milik Shisui. itu adalah milik Shikamaru. Dan Shikamaru mendapat sandal itu dari basement rumah mereka.

.

.

"Whoo! Ayame-san. Lama tidak bertemu."

Itulah cara Shisui untuk menganggu kedamaian kantin Uzushio.

"Hm? Lho? Kalian?!"

Ayame hanya menatap tidak percaya keempat pemuda yang terlihat tidak asing.

Yah, pada akhirnya Naruto, Sasuke dan Shikamaru mengikuti juga sepupu Sasuke ini. Bukan karena mereka bertiga setuju dengan ide nya, tapi hanya untuk memastikan pemuda yang tidak bisa diprediksi ini tidak melakukan hal yang tidak-tidak.

Detik beriktutnya, mereka sudah mengobrol di salah satu meja.

.

.

"Hah! Aku tidak menyangka bisa bertemu kalian disini! Sungguh hal yang tidak terduga." ujar Ayame. Dia menyajikan kentang goreng berukuran besar kepada mereka berempat. Lalu ikut duduk. Di meja tersebut juga terdapat beberapa minuman yang disajikan.

"Kami mencari Nohara Rin. Ada beberapa hal yang ingin kami bicarakan." Ujar Shisui.

Ayame yang mendengar kalimat Shisui dengan gemas merangkul pemuda itu dan menjitakinya .

"Lama tidak bertemu, ucapanmu masih tidak sopan seperti biasanya." Balas Ayame. Merujuk ke perkataan Shisui yang menyebut Nohara Rin tanpa embel embel sensei.

Sedikit menjelaskan. Bahwa Ayame dan Rin adalah wanita yang seumur. Dan umur Shisui ada beberapa tahun dibawah mereka. Kala dia sekolah disini dulu, Rin adalah seorang 'fresh graduate' yang barusaja lulus kuliah sarjana, dan Ayame juga barusaja mulai bekerja disini.

Ayame lalu menatap ketiga pemuda yang ada di depannya. Mereka menatap mereka satu persatu. Mereka lebih pendiam dari semenjak terakhir dia bertemu.

"Kalian sudah berubah ya?" tanya Ayame.

Shikamaru yang tengah memakan kentang cuek menoleh. Begitu juga Sasuke yang kini tengah sibuk dengan minumannya. Sedangkan Naruto, dia malah menoleh was-was ke sekitar. Membuat Ayame menatap dia heran.

"Kau kenapa Naruto? Jangan khawatir, makan saja. Gratis kok, Aku yang traktir." Ujar Ayame.

Namun Naruto hanya menatap Ayame sebentar lalu masih sibuk dengan apa yang dia pikirkan.

Ya, ini adalah jam 12 siang. Dan itu artinya adalah-Istirahat kedua. Naruto bisa melihat beberapa anak yang berdatangan memasuki kantin.

Naruto was-was karena takut ada seorang/beberapa orang yang tidak diharapkan bisa saja mendatangi mereka. Mengingat setelah semuanya, ini tetap saja wilayah Uzushio.

.

Dan benar saja. Karena beberapa menit kemudian. Segerombolan besar anak datang dari arah pintu. Dan mereka kemudian duduk di salah satu sudut. Mereka menyatukan beberapa meja menjadi satu.

Mereka adalah OSIS Uzushio. Dilihat dari gelagatnya, mereka sepertinya ingin rapat. Dan sudah kebiasaan dari dulu Toneri selalu mengajak para anggotanya rapat di kantin. Selain nyaman, urusan perut juga mudah dijangkau.

Naruto bisa melihat sosok Toneri Otsutsuki dan Wakilnya Temujin yang ada disana. Naruto menoleh ke Sasuke dan Shikamaru yang hanya menatap malas kepada gerombolan orang orang itu.

"Jadi? Bagaimana sekolah kalian yang baru?" tanya Ayame kepada mereka bertiga. Membuyarkan lamunan Naruto.

"Baik." Ujar Shikamaru.

Ayame mendengus.

"Mungkin yang kau maksud baik adalah, tempatnya nyaman untuk tidur kan?" gurau Ayame.

Shikamaru balas mendengus.

"Kau sendiri? Masih saja bekerja disini. Aku kira kau sudah menikah." Ujar Shisui kepada Ayame. Membuat Ayame menjitak kepala Shisui lagi.

"Menikah juga butuh biaya kau tau." Balas Ayame.

"-dan calon." sambar Shikamaru.

Membuat Shisui tertawa mendengarnya.

Ayame menoleh ke Shikamaru.

"Well, terima kasih untuk nasehatnya, tuan jenius." balas Ayame sarkatis.

Disela obrolan Ayame dan Shisui, Naruto sempat bertatap pandangn dengan Temujin. Awalnya, Naruto kira pemuda itu akan tersenyum sinis atau menampakkan muka menyebalkan saat melihat mereka bertiga. Namun nyatanya tidak, pemuda itu malah mengangguk sebentar sebelum akhirnya kembali mendengarkan Toneri yang tengah berbicara.

3 Menit Naruto memperhatikan, sembari mendengarkan Shisui dan Ayame yang mengobrol entah apa, Naruto sedikit was-was saat temujin terlihat bangkit dari kursinya.

Bahkan setik berikutnya, Naruto bisa melihat Temujin yang berjalan santai menuju meja yang Naruto tempati. Naruto pikir, wakil ketua OSIS itu akan memulai masalah dengan mereka bertiga, namun nyatanya tidak, karena dia hanya berlalu. Bahkan menyapa pun tidak.

Temujin sepertinya hanya mau mengambil segelas air minum dari dispenser yang ada di belakang punggung Naruto.

Oke, ternyata tidak ada apa-apa.

Tepat setelah Naruto pikir mereka bertiga aman. Tiba tiba.

Cplash.

Naruto Sasuke dan Shikamaru bisa merasakan beberapa cipratan air mineral yang menumpahi bagian punggung mereka.

"Akh! Maaf aku tidak sengaja!" Ujar Temujin, dia nampak 'terlihat' terpeleset.

"Hei! OSIS! Hati hati dong!" Ayame lah yang memarahi pemuda itu.

"Haha.. Maaf maaf. Aku terpleset" Pemuda OSIS itu tersenyum kikuk lalu kembali mengambil air minum yang ia inginkan.

Naruto bisa menyadari seringaian tipis yang diberikan oleh Temujin saat dia berjalan kembali ke kursinya.

"Kalian tidak apa apa?" tanya Ayame. Naruto, Sasuke dan Shikamaru merasakan sensasi basah di baju mereka masing masing. Kan, sudah Naruto duga. Orang-orang ini memang sepertinya suka mencari masalah.

Sasuke lah yang terlihat paling basah dari yang lain.

"Tak apa." Jawab Sasuke. Sasuke nampak tenang.

Naruto pun hanya terlihat mengangkat bahu dan pasrah. Yasudah lah.

Shikamaru pun hanya menghela nafas.

Ayame menatap ketiga pemuda itu takjub. Baru kali ini mereka bertiga menerima perlakuan semena-mena dengan sangat lapang dada.

Mereka benar benar sudah berubah.

"Itu hanya air, nanti akan kering sendiri." Ujar Shisui. Dia tengah asyik dengan kentang goreng. Yang sekali lagi, didapat nya secara gratis.

Mereka terlihat mengangguk. Mengiyakan.

Ayame tersenyum. Dasar, tiga pemuda berandal ini sudah berubah menjadi pemuda-pemuda dewasa.

.

.

.

"Kalau begitu sebaiknya kita segera pergi. Kita harus menemu Nohara-sensei sebelum sore." Ujar Naruto.

Sasuke, Shikamaru dan Shisui nampak setuju.

"Baiklah." Respon Shisui.

Setelah basa-basi beberapa kalimat, mereka pun mengucapkan terima kasih kepada Ayame. Ayame mengangguk.

"Kalian harus sering mampir kesini, sekolah ini sangat sepi tanpa kalian tau." Ujar Ayame.

"Tentu. Asalkan kau sering-sering traktir minuman." Ujar Naruto. Dia membawa sisa minumannya sendiri dan sepertinya berniat menghabiskannya sembari berjalan. Dia beranjak terlebih dahulu.

"..dan kentang goreng." Lanjut Shikamaru. Sama seperti Naruto. Dia membawa dua buah kentang goreng di tangannya, bahkan sausnya dia bawa semua. Dia menyusul Naruto.

Sasuke hanya mengangguk kepada Ayame, dan ayame membalas anggukan Sasuke dengan mengibaskan tangannya.

Mereka bertiga berjalan duluan meninggalkan Shisui yang kini menyempatkan sebentar untuk membuang sampah sisa makan mereka ke tempat sampah.

"Mereka benar-benar berubah ya?" tanya Ayame kepada Shisui.

"Berubah?" Shisui malah balik bertanya.

Ayame mengangguk. Dia menatap punggung ketiga pemuda itu dari tempatnya duduk. Entah kenapa dia sangat bangga dulu pernah beberapa kali menasehati mereka disini.

Yap, dia benar benar kagum dengan mereka bertiga yang sekarang.

.

.

.

Itu sebelum mata Ayame melirik Shikamaru terlihat sedikit melambatkan langkahnya saat melewati meja OSIS. Dengan sedikit 'memelesetkan diri', dia menjatuhkan saus tomat yang ada di tangannya ke baju Temujin. Beberapa bagian terciprat ke baju Toneri juga.

"Ah maaf aku terpleset." Ujar Shikamaru.

Bahkan untuk yang kedua kalinya, Naruto dengan sengaja menjatuhkan (sedikit mendorong) minuman yang ia pegang ke tumpukan Berkas milik OSIS yang ada di atas meja. Membuat berkas itu tertumpahi air minum Naruto.

"Hei!"

"Ah maaf aku juga terpeleset. kau benar Shikamaru, lantainya sangat licin." Balas Naruto. Dia pura-pura menatap sepatunya sendiri.

Saat Temujin dan Toneri terkaget dengan bercak di baju mereka, dan OSIS yang lain tengah panik melihat berkas mereka basah kuyup, Naruto dan Shikamaru sudah berlalu dari pandangan mereka semua.

.

Sasuke, karena dia tidak membawa 'senjata' apapun di tangannya, namun karena ada gejolak ingin membalas perbuatan Temujin, dia pun dengan terang-terangan (dan terlihat sangat sengaja) menendang salah satu kaki kursi yang diduduki Temujin. Kursi plastik pemuda itu pun langsung patah satu kakinya, dan hilang keseimbangannya, membuat Temujin jatuh tersungkur.

Yap, Sasuke barusaja merusak properti sekolah.

Temujin mendongak ke Sasuke marah.

"HEI! APA MASALA-"

"Maaf.. terpleset."

"-MANA ADA!"

.

Ayame yang menjadi saksi kejadian barusan pun menyesali setiap pikiran positif yang ia berikan kepada ketiga pemuda itu.

.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TBC

xxxxxxxxxxx

Author Note(s) : Buhuu~ Hanzama Is Back~

Sedikit mengingat kembali orang-orang yang pernah tampil di chapter-chapter sebelumnya. Okeh chapter ini lumayan panjang lah~ Satsuga Hanzama~ *Nulis sendiri, Bangga sendiri*

Hanzama sedang memikirkan sebuah ending yang 'wah' dan tidak bisa dilupakan. Dan mungkin kita akan kesana pelan pelan.

Oh iya. Menjawab pertanyaan dari Anonim18

ASK : apakah shisui ini satu komplotan dengan pain ?

ANSWER : Jawabannya adalah tidak. Anggota Akatsuki mungkin akan hanzama gambarkan beranggotakan orang-orang center nya saja. Dan karena kemarin Hanzama bilang Tobi dan Obito adalah dua orang yang berbeda, mari asumsikan saja Obito juga tidak satu komplotan dengan Pain dkk.

Mau ngomong apa lagi ya?

Oh iya, untuk chapter depan. Hanzama kyknya nggak janji bakal apdet besok. Karena kemungkinan internet disini bakal mati lagi. Tapi nggak tau juga kepastiannya sih. Yang jelas, Hanzama akan mengusahakan yang Hanzama bisa.

Okesip mungkin itu. Akhir kata,

sekian dari Hanzama

salam hangat dan semoga reader sukse selalu~

Buhuu~

See you in the next chap!

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

-After-

Toneri meratapi berkas proposal dan rancangan kegiatan clasmeeting yang sudah mereka tumpuk rapi diatas meja. Berkas itu sudah tidak bisa digunakan karena basah terguyur es teh manis.

Terlihat di mata Toneri, bahwa sekertarisnya juga ikut panik melihat proposal nya sudah tidak berbentuk.

Beberapa anak OSIS yang lain kini tengah berlari mengejar ketiga pemuda yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi.

"Toneri-senpai. Bagaimana ini?!"

Toneri mengadu kepalanya ke meja beberapa kali.

.

Sepertinya dia harus lembur lagi malam ini.

REVIEW

V

V

V

V

V