Malam Hari. Apartemen Yagura.

Di sebuah kamar, nampak seorang pemuda dan pemudi yang tengah bergumul di dalam selimut.

"P-Pelan pelan ya."

Yagura mengangguk. Dia menatap penuh cinta gadis yang ada di bawahnya. Mereka kini tengah melakukan kegiatan yang tidak bisa dijelaskan oleh author fanfic ini karena akan seketika merubah fanfic ini menjadi rated M.

Detak Jantung Yagura sudah ada di puncaknya. Dan setelah dia memasukan 'ini' ke 'itu' maka dia sepenuhnya akan menjadi seorang lelaki sejati.

Yagura mencium kening gadis yang ada di bawahnya penuh dengan kasih sayang.

"Siap?" tanya Yagura pelan.

Gadis yang bersangkutan pun mengangguk. Dia memejamkan mata, membiarkan lelaki yang memandunya malam ini melakukan apa yang ia suka.

.

DOK DOK DOK!

"OI Yagura! Keran kamar mandi mu mati! Bisa kau perbaiki tidak?"

Sayangnya kegiatan erotis itu harus diganggu oleh ketukan pintu dari luar kamar yang ia kunci.

sialan, sudah numpang, banyak cingcong.

.

DISCLAIMER : Naruto bukan punya Hanzama!

Naruto © Masashi Kishimoto

| I Will Do What I Want © Hanzama |

Rating : T(+)

| Yangre : Friendship, Family (+) Romance maybe |

.

Chapter 93 : Money talks? we got him!

.

Pagi hari nya-ralat, agak siang.

Seorang lelaki nampak mengendarai motor nya. Sebuah motor trail berwarna biru dengan sticker bertulisan 'Shit Happen' yang tertempel manis di selebor belakang. Helm yang kini ia taruh di atas tangki motornya, nampak tidak ia kenakan. Mungkin karena dia melepasnya kala memasuki perkotaan daerah Uzushio tadi, setelah sebelumnya dia mampir di pom bensin untuk memberi minum motor nya. Dan hanya menyisakan google berwarna biru berkaca oranye yang kini ia pakai untuk menghalau hembusan angin ke matanya.

Alasan dia datang jauh jauh dari Iwa ke Uzushio tentu saja untuk menemui seorang gadis yang ia tinggal dengan semena-mena beberapa bulan lalu. Gadis yang menamparnya keras dan bilang tidak mau bicara dengannya lagi.

Berdasarkan sebuah pesan singkat yang ia terima kemarin, gadis yang bersangkutan ingin bertemu. Dan atas alasan itulah pemuda ini jauh-jauh mengendarai motor trailnya dan berangkat dari Iwa dipagi buta. Bahkan dia repot-repot izin dari tempat kerjanya hanya untuk kesini.

.

Motor yang ditunggangi nya berhenti di pekarangan parkir sebuah cafe. Cafe ini tepat berada di seberang sekolahan paling ternama di Uzushio. Uzushio International High.

Setelah memastikan motornya terparkir sempurna, pemuda ini pun berjalan masuk ke cafe tersebut. Cafe yang menjadi tempat janjian dia dan sang perempuan yang menghubunginya kemarin.

Dia duduk di salah satu meja. Dan memesan Kopi.

Jam 10. Itulah waktu yang ditunjukkan oleh jam tangan yang ia kenakan. Itu merupakan waktu janjian yang ditentukan oleh gadis yang bersangkutan. Sesekali memikirkan tentang gadis itu, dia tersenyum sendiri.

Sayangnya, senyumannya harus hilang saat 10 menit kemudian dia dihampiri oleh seorang pemuda yang ia kenali

.

~iwdwiw~

.

"Akhirnya aku menemukanmu. Obito." Ujar Shisui kepada pemuda yang ada di depannya. Dia duduk di seberang pemuda itu.

Obito sesegera mungkin menurunkan senyumannya.

"Kau."

"Lama tidak bertemu." Balas Shisui.

Obito mendongak lemas. Ya tuhan, dia tau apa yang terjadi. Jangan katakan kalau orang yang menghubunginya dari kemarin mengatas namakan Rin adalah Shisui.

Namun apa yang dipikirkan Obito terbukti. Karena setelahnya Shisui nampak meletakkan smartphone Rin di atas meja.

Dia menatap Shisui dengan pandangan tidak suka. Oke, dia terjebak kali ini. Obito tidak menyangka Shisui akan mencarinya sampai sejauh ini.

"Apa maumu?" tanya Obito.

Shisui menatap pria yang ada di depannya dengan pandangan tajam.

"Aku ingin kau kembali ke klan."

Obito mendengus.

"Tidak mau."

Shisui menghela nafas, sudah ia duga akan seperti ini.

"Kau harus mau, kali ini penting." Balas Shisui tak mau kalah.

Membuat Obito sedikit naik pitam.

"Dengar ya. Berapa kali pun kau memintanya. Aku tetap tidak mau kembali ke klan bodoh itu."

"Madara pensiun."

"Terus?"

"Kami ingin kau menggantikannya mengurus Uchiha Corp."

Obito memutar bola matanya. Oke, ini menyebalkan. Obito kira dengan datang ke Uzushio maka dia akan punya kesempatan untuk meminta maaf kepada Rin. Nyatanya, dia malah dipertemukan kepada Shisui. Pemuda yang paling ia hindari semenjak kematian kakek Izuna. Sekedar informasi bahwa, Obito sudah ganti nomor telfon sebanyak 15x dan memblokir belasan nomor karena Shisui dan Itachi selalu berusaha menghubunginya. Memintanya kembali ke klan.

"Itu seharusnya tugas Itachi." balas Obito. Dia menjauhkan kopi yang ia pesan. Pembicaraan ini membuatnya tidak mood lagi untuk meminum kopi.

"Itachi sudah kehilangan hak warisnya karena dia sudah beristri, Obito." balas Shisui.

Obito menuding Shisui.

"Lalu. Kenapa tidak kau saja!" Balas Obitu sedikit menekan.

"..."

.

~iwdwiw~

.

Di luar cafe.

Sementara itu Naruto, Sasuke dan Shikamaru.

Oke, aku akan menjelasakannya secara singkat, namun tolong. Jangan telfon polisi.

Shikamaru kini nampak sedang berusaha membobol kunci motor Obito. Bermodal cabang besi yang ia ambil dari payung bekas milik Yagura, dan beberapa trik yang ia baca dari internet.

"Sst cepat sedikit Shikamaru." Naruto lah yang sepertinya sangat gugup. Jelas saja, mereka kini sedang mendemonstrasikan praktek curanmor di depan umum.

"Diam, Naruto Aku butuh konsentrasi."

Sedangkan Sasuke menatap kedua sahabatnya yang kini tengah berkutat di sebuah motor yang bukan milik mereka. Sekedar catatan bahwa ini adalah ide Shisui. Untuk memastikan Obito tidak kabur saat diajak negosiasi, maka kendaraan nya harus dilenyapkan.

Sasuke yang bertugas sebagai 'pengamat sekitar' harus memastikan kedua pemuda ini tidak terlihat oleh orang melintas, atau yang lebih buruk, CCTV. Untungnya, sudut pandang mereka terhalang oleh mobil Box yang terparkir di samping motor tersebut, membuat CCTV cafe tidak bisa merekam aksi mereka.

.

~iwdwiw~

.

"...Kau tau apa yang akan terjadi, Obito. Ayahku adalah orang yang paling ambisius untuk menguasai Uchiha Corp. Jika aku jadi CEO. Dia juga akan punya kekuasaan untuk memonopoli setiap asset yang dimiliki keluarga!" balas Shisui. Dia menjelaskan alasannya kepada Obito.

Obito nampak tidak tertarik.

Shisui menatap dalam mata pemuda ini.

"Dengar, aku tau kau tidak menyukai klan atas sesuatu yang terjadi kepada kakek Izuna. Namun jika kau tidak mau, maka yang akan jadi CEO adalah Uchiha Sasuke!"

BRAK!

Obito menggebrak meja dengan sedikit emosi. Dia sepertinya sudah muak dengan arah pembicaraan ini.

Pria ini nampak beranjak dari duduknya. Setelah meninggalkan uang untuk membayar kopi di meja, dia berniat pergi.

Shisui pun ikut berdiri saat dilihatnya penjelasannya barusan tidak cukup untuk meyakinkan Obito.

Obito berjalan keluar cafe dalam diam.

.

'Tch bodoh sekali.' Batin Obito. Dia tidak menyangka dia jauh-jauh kesini hanya untuk ditarik dalam hal yang konyol.

.

Tepat saat Obito sepenuhnya keluar dari cafe, pandangan matanya menangkap tiga orang pemuda yang berniat membawa lari motornya.

"Ap-HEI!"

Naruto, Sasuke dan Shikamaru menoleh.

"Gawat!"

"Lari!"

Naruto lah yang menaiki motor tersebut. Motor yang berhasil Shikamaru bobol itu Naruto gas menjauh dari situ, meninggalkan Sasuke dan Shikamaru yang ikut berlari di belakang.

"BERHENTI!"

Obito yang menyadari satu-satunya kendaraan yang ia punya dibawa lari pun reflek mengejar. Dia bisa melihat orang yang mencuri motornya itu mengendarainya masuk ke Uzushio.

Sasuke dan Shikamaru bahkan bisa melihat Naruto yang sempat melakukan manuver drift dengan ban belakang sebentar, sebelum dia menjauh paling depan dan menghilang ke dalam area sekolah.

Shikamaru dan Sasuke yang melihat ke belakang, memutuskan untuk berpencar demi menghilangkan jejak. Namun tentu saja Obito lebih tertarik mengejar pemuda yang membawa lari motornya.

.

.

Skip.

Jiraya cengar-cengir sembari menatap senang sekolahannya yang damai dan tentram dari jendela ruangannya. dia meminum secangkir tehnya dengan hati yang riang gembira karena semenjak satu bulan lebih, sudah tidak ada kekacauan yang membuatnya pusing tujuh keliling. Tentu saja karena 'ketiga penyakit' di sekolah ini sudah ia pindahkan ke sekolah lain. Terlepas dari Jiraya yang barusaja memarahi beberapa murid yang tidak memakai kaus kaki, selebihnya ini tetap hari tanpa masalah.

Yap, ini adalah hari yang indah.

TRENG TENG TENG

Sayangnya perasaan aman dan tentram itu harus di kejutkan oleh suara knalpot motor trail yang didengarnya sangat jelas.

Jiraya mendongak ke bawah mencoba mencari sumber suara.

Tepat saat itulah jiraya melihat seorang pemuda jabrik berambut kuning sedang mengendarai motor trail tanpa dosa melintasi rerumputan hijau. Pemuda itu sepenuhnya mengabaikan area yang ia lewati, meskipun sudah diberi peringatan rumputnya tidak boleh diinjak.

wush.

Kejadian itu sangat cepat sehingga perlu waktu beberapa detik sampai Jiraya menyadari siapa yang baru saja merusak taman sekolahnya.

cengiran di bibirnya langsung turun seketika.

"TUNGGU PENCURII!" Jiraya bahkan bisa samar samar mendengar suara orang lain dari kejauhan.

.

.

Skip

"Hahh.. Hahh.." Obito tersengal berat memegangi dadanya. Dia tidak pernah berlari secepat ini semenjak lomba lari di SMA dulu.

Dia kini sudah berada di jalan setapak di sekitar komplek olahraga Uzushio International High. Tentu saja untuk mengejar pemuda yang membawa lari motornya.

Namun dia menghentikan langkahnya karena pemuda tersebut sudah tidak terlihat lagi. Bukan hanya tidak terlihat, tapi suara motornya juga sudah tidak terdengar.

Masih dengan tersengal-sengal, Obito menatap sekitar. Mengamati betapa luasnya area ini, tentu saja Obito langsung frustasi.

Obito akan mengasumsikan bawa pemuda pirang barusan adalah komplotan Shisui. Jika pemuda itu tidak ketemu, Obito akan menghajar Shisui sebagai gantinya.

"SIALAANNN!" Obito berteriak kesal.

Hampir saja dia menendang ember milik petugas kebersihan jika seandainya kegiatannya tidak diinterupsi oleh sebuah suara.

"Obito?"

Obito menoleh.

Seketika itu pandangannya membulat. Tentu saja karena suara merdu itu adalah milik seorang wanita yang sudah tidak ia lihat dua bulan lamanya.

"R-Rin?" tanya Obito sedikit gagap.

Sedangkan wanita yang bersangkutan nampak menatap marah Obito dan berjalan cepat mendekati pemuda itu.

Obito entah kenapa memejamkan mata. Mungkin karena dia merasa setelah ini dia akan ditampar.

BUAKH! PLAK!

Benar saja. Obito ditampar. Setelah sebelumya perutnya didengkul keras menggunakan kaki kiri.

Obito tersungkur di tanah.

"Kau! masih berani kesini?!" Teriak Rin menuding Obito yang menggeliat di bawah kakinya.

Lelaki itu bisa merasakan sakit sampai ke lambung. Bahkan jika seandainya tidak dia tahan, pasti isi perutnya akan ia muntahkan setelahnya.

Lama tidak bertemu, sekali bertemu, langsung didepak.

.

~iwdwiw~

.

Shisui, Shikamaru dan Sasuke berjalan pelan menyisir area Uzushio. Tujuannya tentu saja untuk mengejar pengendara motor ngawur yang dengan seenaknya membawa motor curian masuk area sekolah orang.

"Oi."

Ketiga pemuda itu menoleh. Dimata mereka, nampak seorang Nohara Rin lah yang berdiri menatap mereka sembari melipat tangan di dada.

.

.

Skip.

Shikamaru, Sasuke dan Shisui dibawa Rin untuk ikut ke UKS Uzushio. Dimana kini Obito dibaringkan di sebuah ranjang. Pemuda itu sepenuhnya sadar, namun bagian perutnya keram. Membuat dirinya sulit bergerak.

Mereka berempat menatap pemuda yang bersangkutan.

Shisui mencoba mendekati Obito.

"Obito." gumam Shisui.

DUAKH!

Tinjuan keras lah yang didapat Shisui kala dia mendekati ranjang Obito. Shisui bisa merasakan sedikit darah yang keluar dari dalam mulutnya.

Sasuke dan Shikamaru menatap kejadian itu dalam diam.

Sedangkan Rin juga ada di sana. Dia berdiri di pojokan ruangan, masih dengan melipat tangan di dada.

"Kalian.. akh-benar benar sangat menganggu." Ujar Obito. Dia mencoba duduk sembari menahan perutnya yang masih sakit.

Rin yang melihat Obito menggeliat di tanah tadi sedikit bersalah, dia meminta bantuan beberapa tukang kebun untuk membawa Obito ke UKS. Mau gimana lagi? dia keblabasan tadi.

Shisui diam mematung. Dia tentu paling paham bahwa 'kalian' yang dimaksud Obito adalah seluruh keluarga Uchiha.

"Sudah ku bilang berkali-kali. Kalau aku tidak mau kembali ke klan." Lanjut Obito.

Shisui menatap pemuda yang duduk di ranjang itu dengan tatapan tanpa ekspresi. Mencoba memahami apa yang ada di pikiran sepupu paling tua di silsilah keluarga Uchiha ini.

Shisui nampak menghela nafas. Dia lalu mundur dan menarik Sasuke mendekat kepada Obito.

"Sasuke, kau saja yang berbicara dengan si 'batu' ini." titah Shisui kepada Sasuke.

Sasuke yang ditarik oleh Shisui pun sedikit terkejut. Tunggu, Sasuke tentu saja tidak mempersiapkan untuk hal ini.

Saat mata bertemu mata, Obito dan Sasuke hanya menatap dalam diam. Mereka mencoba mengamati seorang yang satu keluarga namun asing di mata mereka masing-masing.

Obito menatap pemuda yang ada di depannya. Dia mengenali pemuda ini sebagai Sasuke, adik Itachi. Obito memang secara personal tidak pernah berhadapan secara langsung dengan pemuda ini. Namun dilihat dari foto yang pernah Obito lihat, pemuda ini nampak tidak jauh berbeda dari wujudnya kala SMP, Bahkan gaya rambut nya masih sama.

Sasuke disisi lain, menatap Obito. Lelaki itu nampak berwajah serius. Pandangan matanya keras, bahkan tatapan ini hampir setajam milik kakek Madara. Sasuke bahkan bisa merasakan samar-samar atmosfir yang hampir sama dikala dia menghadap kakek Madara tempo hari. Sorot mata tajam, menyelidik dan terlihat egois.

"Obito." Gumam Sasuke pelan.

"Apa?" tanya Obito. Suaranya dingin.

"Aku hanya akan bertanya satu kali..." Lanjut Sasuke, dia menggantungkan kalimatnya.

Obito diam mendengarkan. Tatapannya masih setajam tadi.

.

"Kau mau menggantikanku jadi CEO tidak?" tanya Sasuke pada akhirnya. Berharap pemuda yang ada di depannya mau mempertimbangkan.

"Tidak." Obito tetap menjawab mantap.

Mendengar itu, Sasuke pun menunduk pasrah. Dia menatap nanar ubin yang ada di bawah. Entah kenapa Sasuke tidak punya keberanian untuk mendesak pemuda ini, bahkan setelah jauh-jauh dari Konoha ke Uzushio dengan segala usaha yang telah ditempuhnya. Sasuke hanya membayangkan dirinya sendiri sekarang. Dia bukan Madara, dan tidak pernah bisa jadi Madara. Oleh karena itu, memaksakan kehendaknya kepada pemuda ini terasa sangat sulit. Bahkan Sasuke bisa tau hanya dari sorot matanya, ketidak sukaan orang ini kepada kepada klan, nampaknya melebihi ketidaksukaan Shisui kepada Madara.

"Begitu ya."

"..."

.

.

"Yasudah." Itulah kata terakhir Sasuke sebelum dia melangkah pelan meninggalkan ruangan itu.

"O-Oi? Sasuke?" Shisui yang menjadi Saksi Sasuke yang menyerah nampak tidak puas. Dia berjalan mengikuti pemuda itu. Mencoba meminta penjelasan dan membujuk kembali.

Shikamaru juga mengikuti setelah sebelumnya melirik Obito dengan ujung matanya.

blam.

Shikamaru menutup pintu ruang UKS Uzushio. Meninggalkan Obito bersama Rin yang ada di dalam.

Saat Obito menganggap semuanya telah hening dan damai. Rin tiba tiba mendekat dan menampar Obito lagi. Kali ini di pipi yang satunya.

PLAK!

Obito meringis.

"Hei!"

Rin menatap pemuda yang pernah menjadi kekasihnya ini tajam. Dia mencengkram kerah baju Obito erat.

"Aku tau kau bodoh. Tapi aku tidak menyangka kau akan sebodoh ini!"

Obito tidak merespon. Dia tau dia pasti akan diceramahi setelah ini.

.

~iwdwiw~

.

Di luar

Sasuke nampak berjalan menunduk. Disekitarnya nampak Shikamaru dan Shisui yang mengikuti.

"Aku tidak percaya kau menyerah begitu saja Sasuke!" ujar Shisui. Pemuda itu nampak sedikit kesal dengan Sasuke.

Namun Sasuke hanya diam tidak merespon. Dia terus berjalan menjauhi gedung UKS.

Sedangkan Shikamaru berjalan lebih pelan dari mereka berdua. Shikamaru memang tidak tau apa masalah yang dialami klan Uchiha. Namun sepertinya ia paham apa yang dirasakan Sasuke. Ya, Sasuke tentu tidak tega melemparkan tanggung jawab yang ditujukan kepadanya untuk orang lain, jika orang itu tidak ada niatan untuk membantu sama sekali.

Shikamaru bejalan lebih cepat. Dia dengan keras menepuk pundak Sasuke.

"Tak apa. Nanti ku bantu mengurus perusahaanmu." Ujar Shikamaru.

Sasuke melirik Shikamaru. Dia mendengus.

Setidaknya, itulah yang bisa ditawarkan Shikamaru untuk membantu.

Shisui yang melihat Shikamaru dan Sasuke terlihat menerima keadaan pun tidak bisa berbuat apa apa lagi. Dia menghentikan langkahnya dan menghembuskan nafas pasrah. Mau gimana lagi?

.

.

"TUNGGU!"

Tepat saat itulah ketiga pemuda ini dikagetkan oleh teriakan dari arah pintu gedung UKS.

Mereka bertiga menoleh.

"Aku akan mempertimbangkan tawaranmu!" Seru pemuda yang bersangkutan. Obito. Dia nampak masih memegangi perutnya yang keram.

"Apa katamu?" tanya Shisui memastikan apa yang ia dengar.

Obito menghela nafas dalam. Dia menelan ludahnya sendiri, seakan apa yang ia putuskan kali ini tidak sepenuhnya rela dari hati.

"Aku bilang.. Aku akan mempertimbangkan tawaranmu."

Sasuke menatap Obito tidak percaya.

"Benarkah?" gumam Sasuke.

"Benarkah?!" Shisui berucap lebih keras.

Obito berjalan mendekat.

"Aku akan mempertimbangkan... dengan satu syarat.." Lanjut Obito.

Sasuke menatap Obito dalam. Sorot matanya berubah.

"Syarat?" tanya Sasuke.

Oke, jika Syarat itu tidak aneh-aneh, Sasuke akan melakukannya.

Obito menghela nafas yang cukup panjang. Dia melirik ketiga pemuda yang ada di depannya dengan pandangan mantap. Setidaknya cukup mantap setelah diceramahi Rin di dalam tadi.

"..Kau.. Kalian.. Harus membantuku dengan pekerjaanku..Pekerjaanku yang terakhir.."

"Pekerjaanmu?" tanya Sasuke lagi.

"Pekerjaan. Maksudmu di Iwa?" Shisui bersuara.

Obito mengangguk. Dia diam sebentar.

"Pekerjaan apa?" Shikamaru lau yang mewakili pertanyaan Sasuke.

.

"Hn.. Mengurus orang sakit, di Rumah Sakit Iwa." jelas Obito.

Sasuke dan Shikamaru saling pandang. Shikamaru mengangguk ke Sasuke seakan mengiyakan.

Shisui juga menampakkan gelagat mendukung apapun keputusan Sasuke.

Sasuke diam sebentar. Butuh waktu mempertimbangkan sebelum dia mengangguk tanda setuju.

"Baiklah."

Obito tersenyum. Dia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Sasuke. Sasuke menerima uluran tangan itu dengan mantap.

Obito lalu mengeluarkan sebuah kunci dari kantongnya.

.

"..Dan.. Jangan lupa kembalikan motorku."

Obito melempar kunci motornya kepada Shikamaru.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

TBC

xxxxxxxxx

Author Note(s) : Hanzama is back! I Know-I Know.. chapter ini memang terlihat lempeng. Tapi, jangan terlalu diambil hati. Hanzama juga harus menempatkan jalan cerita agar fanfic ini benar-benar punya ending nanti. Jadi, maaf kalau humornya agak naik turun.

Hm, mau ngomong apa lagi ya.

mm.. Mungkin itu sih. Gak ada hal yang terlalu mendesak untuk disoroti. Kita jumpa di chapter depan aja yah!

Sekian dari Hanzama, semoga sukse selalu~

Cya cya~

.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

- After -

Tsunade tersenyum senang di ruangannya sendiri. Tentu saja alasannya karena tinggal satu minggu lagi ketiga pemuda yang dipindahkan ke sekolahnya akhirnya selesai melaksanakan masa karantina. Dan bertepatan dengan dua bulan masa tinggal mereka, maka berakhirlah taruhan yang dia lakukan bersama Jiraya. Tsunade cukup yakin ketiga pemuda itu sekarang sudah menjadi orang yang 'cukup baik' menurut standar Tsunade. Oke ini memang bukan judi, tapi Tsunade akan menghitung ini sebagai kemenangan pertamanya dalam bertaruh dengan Jiraya.

Tsunade bahkan tidak sabar untuk memaksa Jiraya menelan kembali kata-kata nya sendiri tentang Tsunade yang selalu dijuluki 'Legenda kalah Judi.'

Hah, memikirkannya saja membuat Tsunade cengar-cengir sendiri.

Sayangnya, kegiatannya harus diinterupsi oleh suara ketukan pintu.

TOK TOK.

"Masuk."

Ibiki lah yang nampak di depan pintu.

"Ada apa Ibiki?" tanya Tsunade.

Guru bercondet itu masuk. Ibiki menatap pemimpin tertingginya dengan pandangan serius.

"Hanya ingin melaporkan. Naruto, Sasuke dan Shikamaru mengajukan surat Izin meninggalkan pelajaran dengan alasan palsu kemarin, untuk keluar lingkungan sekolah di jam pelajaran." Jelas Ibiki. Itu adalah fakta yang ia simpulkan saat dia berbincang dengan Kakashi tadi.

"Hah?!" Tsunade menatap Ibiki tidak percaya.

Namun Ibiki masih melanjutkan.

.

"Mereka juga membolos pelajaran hari ini."

"APA?!"

Belum sempat Tsunade mengklarifikasi berita dari Ibiki, dia merasakan ponselnya berdering. Nampak nama Jiraya yang terpampang di layar hp nya.

Klik. Tsunade menyempatkan mengangkat panggilan itu disela rasa marahnya.

"Apa?" Tanya Tsunade tanpa basa basi kepada orang yang ada di seberang.

.

'Hoi Tsunade. Naruto baru saja menghancurkan rumput di taman Uzushio menggunakan motor trail.'

"APAAA?!"

REVIEW

v

v

v

v